Kamis, 04 Juni 2015

Koing (9)



Serial Detektif Cilik
KOING (9)
Balak di Tengah Jalan …
Oleh Wak Amin

          “ Kami siswa sekolah dasar
                Tak boleh berkata kasar
                  Pantang marah pantang lapar
                    Siap sedia bela yang benar
                   
                                             Kami harus rajin sekolah             
                                                       Biar hidup tidak susah                                                      
                                                             Banyak ilmu harta berlimpah ….”

BEGITU bersemangatnya siswa kelas lima ketika melakukan kunjungan wisata ke museum purbakala. Sejak berangkat dari sekolah pukul tujuh pagi, tampil gagah berseragam putih merah. Di tengah jalan mereka bernyanyi, bersorak sorai dan menari bersama.
Koing dan Brendo tampil beda. Keduanya membawa serta kaleng bekas. Kaleng itu dipukul dengan kayu  menyerupai gendang. Tabuhannya mengiringi irama lagu gembira dan bersemangat, sampai-sampai ada yang, saking bersemangatnya, nyanyi keluar iler membuat basah pakaian seragam sekolah.
Dikomandoi Bu Guru Linda, wali kelas Koing dan Brendo, siswa tampak senang dan gembira. Selain enak dalam mendidik dan mengajar, bu guru yang masih lajang ini ramah dan tak pernah marah, sekalipun siswanya berbuat salah. 
Makanya, ketika Bu Guru Linda mau dipindahkan mengajar ke kelas yang lain, Koing dan teman-teman protes. Mereka rame-rame menghadap kepala sekolah dan meminta Bu Linda jangan dipindahkan. Syu kurlah, berkat kekompakan siswa  dan pantang menyerah, usaha mereka akhirnya nmembuahkan hasil. 
“Nah .. sudah sampai anak-anak. Ayo turun yang rapi. Jangan keluar dan berpencar dari barisannya,” kata Bu Guru Linda mempersilakan satu persatu siswa anak didiknya turun dari mobil bus khusus angkutan wisata.
Setelah semua siswa turun, Bu Guru Linda turun dari bus. Dia meminta Koing dan Brendo memimpin ba risan ketika memasuki gedung museum purbakala. Museum bersejarah yang sarat dengn peninggalan budaya bersejarah, baik sebelum dan setelah Indonesia merdeka.
“Berhenti …!” Ucap Koing dengan suara lantang.
Bu Guru Linda masih berbicara empat mata dengan kepala museum yang juga seorang wanita dengan usia lebih tua darinya. Tak lama, karena setelah itu keduanya menghampiri para siswa, menanyakan kesehatan dan meminta tenang, tidak berbuat onar dan tetap sopan saat berada dalam museum.
“Belok kanan … geraaak!”
“Istirahat di tempat, geraaak!”
Tanpa disuruh lagi, siswa mengeluarkan pulpen dan buku tulis dari dalam tas. Dipandu dua karyawan museum, Koing dan teman-teman berbars rapi memasuki ruang pameran. Di sana ada kapal layar, prasasti, keris pusaka dan lokomotif.
Setengah jam mereka mencatat penjelasan  yang disampaikan pemandu. Tak ada rasa lelah. Tak lupa juga mencatat keterangan yang tersaji di etalase.
“Bagus sekali ya Bu, rumah itu,” puji Koing, mengingatkan Brendo, di belakangnya berdiri Bu Guru Linda.
“Itu namanya rumah limas, Ing,” jelas Bu Linda.
“Kalau yang itu, Bu, Di sebelah kanannya?” Tanya Brendo.
“Itu rumah OKU. Rumah jolma kumoring,” jawab Bu Linda.
“Sebelah kanannya lagi, Bu?” Gantian Koing yang bertanya.
“Kalau itu, Ing. Rumah Gadang namanya. Bagus kan bentuknya?”
“Iya Bu. Bagus …”
Puas melihat-lihat etalase peninggalan bersejarah, para siswa diajak ke taman tempat bermain. Rupanya di muse mini ada juga temat bermain. Disediakan khusus buat anak-anak.
Tentu saja Koing dan kawan-kawan senang bukan kepalang.  Mereka bersorak sorai dan berlari riang kesana kemari. Ada main ayunan, menaiki patung gajah, foto-foto dekat kembang setaman, bahkan juga ada komedi putar tempo dulu. Lucu dan bentuknya sangat berbeda dengan komedi putar zaman sekarang.
Lepas itu, para siswa makan siang bersama di tanah lapang. Sebelum pulang, mereka berbaris lagi dan mendengarkan nasihat serta weyangan dari kepala museum. Tentu saja harus dicatat, karena sepulangnya mereka dari museum, diwajibkan bikin tulisan.
Siswa pun bersiap menuju mobil. Tapi alangkah terkejutnya mereka setelah mlihat Pak Sopir dan kon dek tur dalam posisi duduk terikat di kursi dengan mulut disempal kain pembersih kaca. Keduanya nyaris kehabisan nafas.
“Mereka belum jauh dari sini. Ayo, Jon kita kejar mereka,” kata si sopir tak terima dengan perlakuan penjahat barusan.
“Aku ikut … aku ikut,” teriak Koing.
“Aku juga ikut …” Timpal Brendo tak mau kalah.
Dengan berat hati Bu Buru Linda melepas dua anak didiknya itu. Lantas, kemana mereka mencari penja hat barusan. Sedangkan areal di sekitar musem amat luas. Padat penduduk, dipenuhi rumah bertingkat dan ruko berbagai bentuk dan gaya. Belum lagi jalannya tak terlalu lebar. Jarang opelet keluar masuk.
Mau jalan kaki?
Alamaak. Capek deh. Itu kata siswa yang gampang capek. Tapi bagi Koing dan Brendo tak ada kamusnya gampang capek. Apalagi ini menyangkut rasa aman dan keselamatan banyak orang.
Masalahnya, hampir setengah jam belum ada titik terang. Sementara Bu Guru Linda dan siswa yang lain menunggu harap-harap cemas. Iya kalau penjahatnya tertangkap. Kalau tidak, pada menggerutu semuanya.
“Kita pulang sajalah. Kasihan anak-anak. Lagi pula yang diambil cuma jam soderan,” ucap Pak Sopir.
Sepertinya Bang Sopir sudah bisa melupakan peristiwa barusan. Sedangkan kondekturnya belum sama sekali. Untuk itulah Koing dan teman satu kelasnya datang menghibur, memberi semangat. Ada yang ngasih permen karet, duit seribuan dan kue bekal yang tersisa dari museum.
Di tengah perjalanan pulang, ban bus pecah kena puluhan paku di jalan. Mobil terpaksa berhenti dekat sebuah warung makan. Sepi memang. Hanya satu dua orang yang lalu lalang. Selebihnya sepeda motor berbagai merek dan sedikit kendaraan pribadi.
Kondisi seperti ini dimanfaatkan kawanan penjahat untuk beraksi. Mereka mendatangi Pak Sopir dan kondekturnya yang lagi asyik memasang ban baru. Menodongkan senjata tajam.
“Dompetnya, Bung! Sergah si potong poni pada Pak Sopir.
“Enggak ada Bang. Bokek nih,” jawab Pak Sopir sekenanya.
“Bosan hidup ya, Bung?” Tanya si gondrong.
“Tidaklah Bang. Anak istri saya gimana?”
Tak perlu berlama-lama, kawanan penjahat menarik paksa tangan Pak Sopir dan kondektur dari bawah mobil. Dipaksanya berdiri, lalu dihujani pukulan bertubi-tubi. Mulanya sempat melakukan perlawanan. Tapi karena penjahat jumlahnya lebih dari lima dengan perawakan tubuh lumayan besar, hanya jadi bulan-bulanan, benjol sana sini.
Koing dan Brendo tak tinggal diam. Keduanya mengarahkan betetan ke kawanan penjahat yang membabi buta memukuli Pak Spir dan kondekturnya.
Huuuup …
Satu dua .. tiga … empat … Peluru kerikil mengenai kepala penjahat. Jatuh terkapar, bahkan ada yang mengeluarkan darah, meraung kesakitan.
“Sikat saja, Ing!” Teriak teman-teman sekelas Koing dan Brendo. Keduanya secara bergantian melepas kan anak betetan, tepat mengenai badan dan bodi motor kawanan penjahat yang terparkir di pinggir jalan raya.
 Tak tahan dan takut ketahuan, kawanan penjahat melarikan diri ke tengah hutan. Sedangkan Koing,  Brendo beserta temannya yang lain membawa Pak Sopir dan kondektur yang banyak mengeluarkan darah segar itu ke tempat yang aman. Sebelum akhirnya dilarikan warga ke rumah sakit cabang ter dekat.
   

  

  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar