Cerbung ALBUM MAMA
(5)
Oleh aminuddin
ESOKNYA kubermimpi membaca kisah isteri yang berkhianat.
Dikisahkan, pada zaman Nabi Isa diutus menjadi seorang Rasul, orang-orang
Yahudi sedang tergila-gla dengan ilmu ketabiban. Maka oleh Allah SWT, Nabi Isa
dibekali mukjizat yang sanggup menundukkan mereka, yaitu kemampuan menyembuh kan
penyakit, parah sekalipun. Bahkan ia bisa
menghidupkan kembali orang yang sudah mati.
Suatu ketika Isa Al-Masih sedang berkelana. Ketika melewati
sebuah kuburan, ia melihat ada seorang lelaki menelungkupi sebuah makam yang
masih merah tanahnya. Laki-laki itu menangis terguguk-guguk sambil meratap.
Nabi Isa mendekat pelan-pelan dan menyapa. Laki-laki itu
menengok, memperhatikan siapa yang datang. Ia tidk dikenal. Maka kembali ia
tertelungkup dan makin hebat saja tangisnya.
“Kenapa kau tangisi kuburan itu, wahai saudara?” Tanya Nabi
Isa.
Sambil terisak-isak orang itu berkata , “yang berada dalam
kuburan ini adalah isteriku.”
“Dia sudah meninggal, mengapa masih kau ratapi juga? Apa
tidak ada perempuan lain?”
Laki-laki itu mendongak. “Perempuan memang banyak. Tapi yang
seperti dia tidak ada. Coba bayangkan, dia begitu setia pada suami. Mana
parasnya cantik, pipinya merah seperti apel, dan selalu hangat kepadaku. Baru
dua bulan kami kawin. Kami sedang saling mengasihi satu sama lain. Teryata harus
menanggung derita kehiduan semacam ini, coba.”
Nabi Isa tertunduk. Lalu dengan penuh keyakinan serta kasih
sayag ia berkata, “Bagaimana kira-kira kalau isterimu bisa hidup lagi?”
Laki-laki itu terperanjat. Ia berteriak, “Aku akan bersujud
kepada Allah lebih khusyuk dari pada sebelumnya.”
Nabi Isa pun menyuruh orang itu minggir. Berkatalah Nabi Isa
kepada sang kuburan. “Ya ahlal qubur, qumi bi idznillah! Hai penghun kubur,
bangkitlah dengan izin Allah!”
Serentak bumi terbelah, dan muncullah seorang laki-laki
tinggi besar, kuitnya hitam legam.
Begitu berdiri dihadapan Nabi
Isa, laki-laki itu pun berikrar: “Asyhadu alla ilahaillallah, wa asyhadu anna
isa rasulullah.”
Nabi Isa bertanya kepada suami yang ditinggal mati isterinya
itu. “Apakah dia isterimu?”
Laki-laki itu menjawab, “Bukan, demi Alllah, dia bukan isteriku.”
“Jadi siapa kamu?” Tanya Nabi Isa kepada orang yang baru
bangun dari kubur itu.
“Saya adalah seorang pembunuh dan pemerkosa yang mati
kafr,” jawab bekas mayat tersebut. “Tapi sekarang saya beriman kepadamu.”
Karena bukan orang itu yang dimaksud, dia pun mati kembali.
Namun keuntungannya, sekarang yang bersangkutan mati dalam keadaan beriman.
“Yang mana kuburan isterimu?” Bertanyalah Nabi Isa kepada
sang duda itu.
“Tadi rupanya keliru. Pastilah yang ini. Tidak salah lagi,”
jawabnya sambil menunjuk kuburan yang berada di sebelahnya.
Dengan sabar Nabi Isa berdiri menghadap kuburan itu dan berkata:
“Ya ahlal qubur, qumi biidznillah!”
Kuburan itupun terbelah, lalu keluarlah seorang perempuan
yang sangat cantik sambil tersenyum manis. Begitu melihat suaminya, isteri yang
telah terpisah oleh maut itu langsung memelukny a dengan mesra. Lantas, sambil
bergandengan tangan, mereka pulang ke rumah setelah mngucapkan terima kasih
kepada Nabi Isa as.
Setibanya di rumah, mereka duduk-duduk di depan rumah. Si
suami tiduran berbantalkan paha isterinya. Saking kesyikan, akhirnya si suami
terlelap.
Ketika sang suami terlelap, tidur mendengkur, lewatlah
seorang pengendara kuda yang gagah dan tampan. Dia adalah sang pangeran, putra
raja. Pangeran itu melirik kea rah kedua suami isteri yang sedang bermesraan
tersebut.
Alangkah cantiknya perempuan itu, pikir pangeran seraya
mengedipkan mata dan tersenyum kepada isteri laki-laki itu. Perempuan ini pun
berpikir yang sama. Betapa gagah dan kukuhnya pangeran. Begitu jantan di atas
punggung kuda putihnya. Beda benar dengan suamiku yang penyakitan.
Melihat sambutan yang hangat dari perempuan itu, pangeran
melambaikan tangan. Bergoyang langit di atas perempuan itu, terlupakan olehnya
daratan tempatya berpijak. Tanpa berpikir lebih jauh lagi, disingkirkannya
kepala suaminya dengan kasar.
Lelaki itu pun kaget dan terbangun. Dilihatnya sang isteri
dibawa kabur oleh seorang laki-laki. Buru-buru ia mengambil kudanya dan
mengejar sambil berteriak-teriak, “Penculik,
penculik. Ia melarikan isteriku!”
Pangeran, begitu mendengar terikan itu, menghentikan
kudanya. Ia menunggu. Sampailah suami perem puan tadi di situ. Terjadilah pertengkaran yang
hebat di antara mereka. Memperebutkan steri yang kini berubah cintanya itu.
Akhirnya pangeran menyerahkn keputusannya kepada si
perempuan. “Aku bukan isterinya. Aku
masih perawan,” ucap perempuan itu membantah keterangan suaminya.
Hancur hati suami yang tadinya begitu meluap-luap cinta dan
kasih sayangnya kepada si isteri. Dalam kondisi berputus asa semacam itu,
datanglah Nabi Isa. Dengan raut muka gembira, sang suami menengok ke arah Nabi Isa dan berkata:
“Tuan, dia adalah isteriku yang tadinya sudah meninggal
dunia. Namun, setelah tuan hidupkan lagi, dia mengaku bukan isteriku, karena
tergoda oleh pangeran yang tampan ini.”
Si isteri kembali
berteriak lantang. “Bukan, aku bukan isterinya! Aku tidak punya suami yang
ceking seperti itu.”
Nabi Isa as dengan tenang menjawab. “Baiklah, akan kita
buktikan nanti. Kalau kau betul-betul bukan
isterinya, maka engkau pasti akan hidup senang dengan sang pangeran,” katanya kepada
perempuan tersebut.
“Tapi kalau ternyata kau memang isteriya, maka kau pasti
akan mati kembali. Mati seperti semula, sebelum kuhidupkan tadi.”
Begitu selesai Nabi Isa berkata demikian, lepaslah nyawa
perempuan durhaka itu. Sekarang dia mati dalam keadaan ingkar kepada suami dan
maksiat kepada Allah SWT. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar