Cerbung ALBUM MAMA (6)
Oleh aminuddin
LUSANYA ….
Aku membaca kisah berikutnya. Inilah kisahnya …
PADA zaman Rasulullah SAW masih hidup, karena kesal dan baru
saja bertengkar, seorang laki-laki menghardik isterinya sambil keluar dari
rumahnya.
“Kamu tidak boleh keluar kamar sebelum aku pulang.” Laki-laki itu pun berangkat meninggalkan
isterinya unuk melakukan perjalanan ke luar daerah.
Sedangkan sang isteri, karena menaati perintah suaminya,
selama kepergian laki-laki itu tidak berani keluar dari rumahnya. Semua
keperluan sehari-hari dia beli dari dalam rumah. Untuk ke pasar saja ia
terhalang oleh perintah suaminya sebelum berangkat .
Sudah dua hari laki-laki itu belum pulang. Isteri yang patuh
itu hanya bisa menunggu dari balik pintu saja. Tiba-tiba, ketika hari hampirrr
sore dan perempuan tersebut sedang termangu-mangu mengharap kan kedatangan
suaminya, muncullah bayangan laki-laki dari jauh. Ia tengah berjalan
cepat-cepat dan dengan tergopoh-gopoh menuju ke tempat perempuan tadi, dan
ternyata adalah familinya yang tinggal di kampung tempat dia dilahirkan dan
dibesarkan.
Karena bukan muhrim, meskipun laki-laki itu masih termasuk
keluarganya, perempuan tersebut tidak berani membukakan pintu. Pantang bagi
seorang isteri yang taat menerima tamu pria sendirian ketika suaminya tidak ada
di rumah.
“Saya lihat engkau tergesa-gesa sekali. Ada kabar apa dari
rumah?” Begitu tanya perempuan tadi setelah menjawab salam laki-laki yang baru
datang itu.
“Bapakmu sakit payah,” kata laki-laki tersebut. “Engkau
diharapkan segera datang karena ada pesan bapak yang akan disampaikan
kepadamu.”
“Innalillah …,” pekik perempuan itu kaget.
Dia bingung bapaknya sakit payah. Satu-satunya orang tua
baginya setelah sang bunda meninggal dunia beberapa waktu yang lewat. Dan orang tua ini agaknya ingin bertemu
dengan si anak sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun ia terikat
oleh larangan suaminya agar jangan keluar rumah.
Manakah yang harus diberatkan? Perintah suamikah atau
harapan bapaknya?
Karena ia tida bisa memutuskan dengan ceroboh, maka
ia minta tolong kepada utusan bapaknya itu.
“Coba kau tanyakan kepada Rasulullah, bapak sakit payah,
sedangkan suamiku, sebelum berangkat, berpesan agar saya jangan keluar rumah.
Apa perkataan Rasulullah, itulah yang akan saya kerjakan.”
Kemudian pergilan si utusan adi kepada Rasulullah SAW.
Setelah diceritakan masalah itu, Nabi SAW berkata, “Sampaikanlah kepada fulanah
agar dia taati perintah suami.”
Kembalilah si utusan kepada perempuan itu menyampaikan
amanat Nabi. Maka pulanglah si utusan ke kampugnya dengan tangan hampa.
Malam itu fulanah tidur denga gelisah. Terbayang wajah
bapaknya yang kurus dan ceking. Terngiang perintah suaminya yang harus dia
taati. Ketika pagi-pagi ia terbangun, dengan harap-harap cemas menantikan kedatangan suaminya, agar bisa berangkat ke kampung setelah mendapat izin, sia-sia.
Karena yang tampak muncul adalah laki-laki yang kemarin. Makin pucat fulanah.
“Jangan- jangan …”
Betul. Apa yang dikhawatirkan terjadi.
“Bapakmu meninggal dunia dengan tenang tadi malam,” demikianlah
berita yang didengarnya dari utusan itu.
Menetes air mata fulanah sambil mulutnya menggumam,
“Innalillah wa inna ilaihi roji’un …”
“Dan kalau kau ingin berjumpa, sekaranglah waktunya,”
sambung si utusan.
“Tapi suamiku belum pulang,” jawab fulanah dengan sedih. “Coba
tolong tanyakan kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat beliau.”
Maka pergilah laki-laki itu menemui Rasulullah SAW. Begitu tiba kembali, fulanah
buru-buru bertanya.
“Bagaimana?”
“Beliau berpesan agar engkau taat kepada perintah suami,”
jawab utusan tersebut.
Sekali lagi si utusan pulang ke kampung dengan sia-sia.
Sehabis Zuhur, ketika fulanah tengah berdiri di balik pintu
mengharap-harap kepulangan suaminya, si utusan datang kembali. Dari luar dia
berkata, “ Bapakmu akan segera dimakamkan. Apakah kau tidak ingin melihatnya
buat terakhir kali?”
Fulanah hanya meneteskan air mata sambil menggeleng.
“Pulanglah engkau, tanamkanlah jenazah bapak baik-baik. Aku
tidak bisa hadir karena suamiku belum pulang juga.”
Hingga pagi esoknya suami fulanah belum juga pulang. Baru
setelah menjelang sore tampak bayangan tubuh yng dinanti-nantikan itu dari
kejauhan. Fulanah segera bersiap-siap. Badan rambutnya dia rapikan sementara
masakan buru-buru dipanaskan kembali.
Begitu suaminya masuk, fulanah menyambut dengan tawa. Dibiarkan suami membersihkan
badan, istirahat dan makan malam. Setelah itu barulah fulanah berkata:
“Bang, bapak saya kemarin meninggal dunia.”
Laki-laki itu tampak terkejut sekali.
“Innalillah …,” serunya.
“Dan kau sudah melawat?”
Fulanah menggeleng.
“Tidak Bang, karena engkau berpesan sebelum pergi agar saya
tidak keluar rumah sebelum engkau datang,” jawab isteri yang taat itu dengan
sabar.
“Astaghfirullah ..” seru si suami menyesal.
Dia merasa bersalah telah menghamburkan larangan dengan
gegabah karena menuruti ajakan hawa marah. Maka pada kesempatan lain dia
menghadap Rasulullah SAW menyampaikan penyesalannya.
Nabi berkata:
“Kali ini engkau tidak berdosa,karen tidak sengaja dan sudah
menyesal. Itu adalah pelajaran bagimu agar dalam keadaan marah sekali pun
jangan kau patuhi dorongan hawa nafsu. Sedangkan isterimu, dia betul-betul
calon penghuni surga karena taatnya kepada suami.” (bersambung)
Cerbung ALBUM MAMA (7)
Oleh aminuddin
USAI salat Magrib dan santap malam, pintu kamarku diketuk
dari luar. Kudekati pintu dengan penuh rasa ingin tahu, dan ….
“Mama?!”
Bermimpikah aku. Wanita yang berdiri di depanku saat ini
adalah ibuku, yang telah meninggal
dunia dua tahun yang lalu. Kupeluk erat dia. Ada sesuatu
yang dia bisikkan di telingaku.
“Teman-teman mama sudah menunggmu, Nak.” Katanya.
Aku tercenung. Tak lama. Hanya beberapa menit. Lepas itu,
setelah mengenakan busana muslimah kesukaanku, kami berdua menuju ruang depan
samping kanan gedung tempatku bermalam.
Tepuk tangan riuh terdengar. Kusalami satu-satu wanita teman
ibuku. Aku kenal mereka sebenarnya, tapi
cuma lewat buku sejarah dan cerita.
Siapa mereka?
Banyak. Tak bisa kusebutkan satu persatu. Yang kuingat cuma
RA Kartini, Fatmawati, Ainun Habibie, Cut Nya’ Dien, Cut Mutia, Maria Walanda
Maramis, Dew Sartika, Kristina Martha Tiahahu. Ny Siti Walidah Ahmad Dahlan,
Nyi Ageng Serang dan Hajjah Rasuna Said.
Kemudian juga kuingat Indira Gandhi, Benazir Butho, Ratu Elizabeth 1, Irene Juliot- Curie,
Margaret Mead, Barbara Mc Clintock,
Grace Brewster Murray Hopper, Mari Gaeppeat-Mayor, Ratu Makare
Hatshepsut, Debora, Sappho, Aspasia,
Cleopatra VII, BUnda Maria, Boadicea, St. Helena, Zenobia, Hypatia, Theodora,
Eleanor dari Aquitaine, Ratu Tamara,
Ratu Margaret, Joan dari ARC, Isabella I, Ratu Jinga, Emilie Du Chatelet
dan Caroline Herschel.
Menyusul Elizabeth Fry, Sacajawea, Maria Agustin, Charlotte
Bronte, Emily Bronte, Ratu Victoria, Flo rence Nightingale, Lakshmi Bai, Jane
Addams, Marie Curie, Alce Hamilton, Rosa Luxemburg, Julia Mor gan, Eleanor
Roosevelt, Agatha Christie, Golda Meir, Mother Teresa, Anne Frank, Anna Freud,
Suster Elizabeth Keny, Mary Kingslay, Clara Barton dan Louisa May Alcot.
Kudipersilakan naik ke podium untuk menyampaikan sepatah dua
patah kata, tentunya diawali tepk tangan yang meriah dan tiada henti selama kurang lebih lima menit.
Inilah petikan uneg-unegku …
“Lima ratus tahun sebelum masehi, Cariolan, seorang prajurit
Romawi, memberontak kepada peme rintah masa itu. Cariolan adalah seorang prajurit
yang besar sekali jasanya kepada Negara. Tetapi ia merasa kurang mendapat
penghargaan dari pemerintah.
Cariolan pernah memita suatu kedudukan dalam pemerintahan, namun
permintaannya itu tidak dika bulkan, sebab tidak sesuai dengan kecakapan yang dimilikinya. Penolakan
itu dianggapnya sebagai tind akan yang tidak menghargai dirinya yang telah cukup
berjasa itu. Oleh karena itu ia memberontak.
Pemberontakan yang dilakukan Cariolan sungguh menggelisahkan
masyarakat dan pemerintah. Rakyat tidak tentram dan senantiasa merasa terancam
oleh keganasannya. Pemerintah sudah kehabisan akal untuk menumpas pemberontakan
itu. Tentara dan polisi sudah dikerahkan semuanya, tetapi Cariolan belum juga
dapat ditaklukkan.
Kemudian digelarlah musyawarah guna mencari akal untuk
menangkap Cariolan. Akhirnya dalam musya warah itu timbul pikiran untuk meminta
ibu Cariolan menasihati anaknya agar menghentikan perbua tan buruknya itu,
sebab eah mengganggu ketentraman masyarakat dan negara.
Ibu Cariolan meluluskan perminaan itu. Ia pergi menemui
putranya. Cariolan dinasihatinya baik-baik, dan akhirnya dengan mudah Cariolan
menyadari kesalahan dan keburukan perbuatannya itu. Cariolan kembali ke jalan
yang benar, dan sejak itu ia meninggalkan jalan sesat yang telah ditempuhnya
itu.
Alangkah mudahnya mengamankan negara dari ancaman seorang
pemberontak, dengan cukup me ngirimkan ibunya untuk menasihati si pemberontak.
Betapa sukarnya kita memercayai peristiwa Cari olan ini bila kita lihat keadaan
zaman yang telah kita alami sekarang ini. Sungguh banyak Cariolan abad ini di
msyarakat kita sehingga pemerintah dengan segala daya dan usahanya tak dapat menghentikan
perbuatan jahat mereka.
Telah dicoba oleh pemerintah kita untuk menundukkan mereka
dengan jalan menggunting rambut gon drong di tempat-tempat umum, menggunting celana-celana
sempit di jalan umum, menggunting rok ke tat serta macam-macam hukuman lainnya.
Tetapi ternyata setelah berubah malah semakin parah. Main ngebut terus
berlangsung, pakaian mini tak berhenti dipakai, pelanggaran dan kejahatan
susila tak kunjung lenyap.
Sudahkah pemerintah kita meminta bantuan ibu para Cariolan
itu?
Telah berhati-hati pemerintah meminta bantuan para ibu,
tetapi ternyata si ibu tidak mendapatkan telinga anaknya. Kata dan nasihat si
ibu keluar bagaikan angin yang lalu, tanpa kesan perubahan. Maka lihatlah apa rahasia
yang terjadi pada Cariolan dahulu.
Cariolan adalah seorag yang masih mau menyediakan telinganya
untuk mendengarkan kata-kata ibunya. Ia masih menaruh hormat dan khidmat kepada
ibunya. Ibunya masih memliki wibawa teradap anaknya. Dan dengan wibawanya itu,
Cariolan dapat kembali disadarkannya.
Sesungguhnya kebejatan akhlak, keruntuhan moral dan budi,
meningkatnya kejahatan di kalangan pemudapemuda tanggung, pelanggaran
kesusilaan lainnya yang merupakan kemesuman-kemesuman dalam masyarakat kita ini
berpokok pangkal pada ilangnya wibawa sang ibu.
Akibatnya tidak ada lagi yang disegani sang Cariolan; tidak ada lagi
yang ditaati dan dikhidmati, dan karenanya ia bebs berbuat segala macam
keburukan.
Bila wibawa sang ibu hilang, akan hilang rasa hormat dan
khidmat si anak terhadap orang tuanya. Kata-kata dan nasihatnya tidak
mendapatkan telinga, perintah serta larangannya tidak dihiraukan atau dira sakan
anaknya sebagai penghalang untuk kemajuan dirinya, sebab bertentangan dengan
nafsunya.
Memang tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang menyatakan
bahwa akan kiamat, akan hancur dunia, bila ibu-ibu telah melahirkan majikannya.
Ibu bapak yang telah memelihara dan mengasuhnya sejak ke cil telah dirasakan
oleh anaknya sebagai bantuan atau perlakuan yang semestinya wajar sebagaimana
halnya seorang khadam atau pelayan kepada majikannya. Tidak perlu lagi majikannya
berterima kasih, justru memandangnya sebagai risiko dan kewajiban “seorang manusia yang mau menyediakan dirinya
menjadi ibu atau bapak.”
Bila demikian, apakah maksud dari kata-kata “surga di bawah
telapak kaki ibu “ dan hadist yang me nyatakan “’uququl walidain’ atau
durhaka kepada ibu bapak itu, yang pasti akan dibuktikan dengan siksaan sebagai
akibatnya selama masih hidup di dunia alam fana ini?
Penghormatan dan kedudukan yang diberikan kepada seseorang,
sesungguhnya bersangkutan dengan tanggung jawabnya. Tanggung jawab itulah yang
menentukan kedudukan dan penghormatan yang di berikan. Bila tanggung jawab
tidak ada maka penghormatan dan kedudukan itu akan hilang dengan sendirinya.
Demikian pula halnya kedudukan dan penghormatn yang telah
diberikan Allah SWT dan Rasul-Nya ke pada sang ibu berdasarkan tanggung jawabnya
, yang berkemampuan untuk meyahudikan, menasra nikannya, memajuzikannya, dan
bahkan meng-cross-boy-kannya dan meng-cross-girl-kannya.
Bila tanggung jawab itu sudah tidak dipikul lagi dengan jalan memberi contoh
dan teladan kepada sang anak dan bimbingan yang wajar, maka kedudukan dan
penghormatan yang diberikan itu dengan sendirinya i akan hilang.
Gandhi, seorang pemimpin India yang terkenal, kala menyatakan penghormatan kepada ibunya
per nah berkata, “ dari ibu saya yang
buta huruf dan tidak pernah duduk di pergruan tinggi, saya mendapat pendidikan
dan pengajaran untuk menjadi seorang warga negara yang baik.”
Untuk para ibu yang bertanggung jawab atas kehormatan
anak-anaknya, Islam memberikan
kedudukan dan penghormatan yang tinggi.” (TAMAT)
Sumber Bacaan:
1.
Risalah Wanita oleh KHE Abdurrahman
CV Sinar Baru Bandung, Cetakan I, 1988
2.
Kisah-kisah Teladan oleh MB Rohimsyh AR
Karya Agung Surabaya, Cetakan I, 2003
3.
Petunjuk Membangun dan Membina Keluargs menurut
Ajaran Islam oleh Sukamto Nuri, BA
Al-Ikhlas Surabaya, 1981
4.
Panduan Ibu Muslim oleh Sim Mikhbar
Zahra Publishing House, Cetakan 2, 2008
5.
Ibu, Dengarkan Aku Oley Dra V. Dwiyani
6.
Elex Media Komputindo 2002
7.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar