Cerita Fiksi Lepas
Doger
By Bang Amin
I
GUK … guk … guk …
Guk … guk … guk …
Doger, anjing kesayangan Tuan Rahmat, malam it uterus
menyalak di teras rumah mewah bertingkat tiga.
Tuan Rahmat adalah pengusaha perkebunan yang sukses. Dia
memiliki berhektar-hektar areal perke bunan sawit, karet, tebu, teh, cabai dan
kopi. Selain pabrik pengolahan minyak sawit, karet dan padi.
Hingga mala mini Tuan
Rahmat belum pulang dari rumah sakit mengantar isterinya berobat. Sudah
seminggu ini, teman hidupnya itu merasa tak enak badan. Rutin berobat dan
check-up akhir-akhir ini.
Entah apa gerangan yang dilihat Doger, sehingga
terus-terusan menyalak. Beberapa warga yang mele wati depan rumah Tuan Rahmat
heran karena tak biasanya Doger menyalak dan menggonggong. Selain memang ada
orang yang baru ia kenal bertamu ke rumah paling besar di pinggiran kota itu.
“Ngeri aku Sis,” bisik
temannya Monica kala keduanya hendak ke warung membeli gula dan kopi.
“Aku juga Ca. Kenapa tiba-tiba merinding aku.” Siska sempat
menoleh ke pintu pagar tinggi itu dengan penuh tanda tanya. Sebelumnya teduh dan sejuk ketika melihatnya, kini
terkesan angker dan mena kutkan.
“Udah … Yuk cepat sedikit …” Kata Monica, mempercepat
langkahnya. Pasalnya, dari warung nanti bakal lewat jalan yang sama. Mumpung
belum terlalu malam, dan warung belum banyak pembelinya, cepat sampai. Dapat
yang dibeli, langsung pulang ke rumah lagi.
Sementara di rumah sakit, Tuan Rahmat, setelah membayar
ongkos perawatan dan obat isterinya, ber dua keluar dari rumah sakit. Dengan
senyumnya yang khas, dia peluk hangat isterinya sebelum memper silakannya lebih
dulu masuk ke dalam mobil.
Chaaar …
Lampu mobil menyala. Mobil pun melaju meninggalkan rumah
sakit. Melewati tikungan, memasuki jalan raya besar.
Lampu-lampu jalan bercahaya terang. Kepada isterinya, Tuan
Rahmat melontarkan canda yang saking lucunya, membuat sang isteri tak bisa
tertawa lagi. Hanya menunduk sambil mengusap perutnya yang terasa sakit karena
menahan ketawa.
“Aku ingat saat kita pacaran dulu yang,” ucap Tuan Rahmat,
sesaat setelah mobil melewati tempat yang sepi dengan kiri dan kanan banyak
orang berjalan di pinggir jalan.
“Malas ah …” Jawab isterinya bergelayut manja di pundak Tuan
Rahmat.
“Lha, jangan begitu sayang. Tanpa pacaran mungkin kita tidak
saling kenal. Betul tidak?” Pancing sang suami yang membunyikan klakson ketika
ada orang menyeberang jalan di kawasan traffic light.
“Oh ya?”
“Iya dong Ma. Apa mama kurang suka papa cerita soal pacaran
kita dulu?” Tuan Rahmat menyalakan radio. Terdengar tembang lawas Widuri-nya
Bob Tutupoli.
“Sukalah dong yang. Masa enggak suka. Cuma kenapa papa
tiba-tiba ngomongin soal … “Nurbaya mem
perkecil volume suara radio, agar alunan lembut suara penyanyi kenamaan tanah
air itu lebih enak kede ngarannya di telinga.
“Papa hanya ingin kamu senang sayang. Papa tak ingin kamu
sedih terus-terusan sakit. Papa ingin hibur kamu. Salah satu caranya, ya itu.
Cerita-cerita yang lucu dan mengenang masa pacaran kita dulu. Tentu yang
indah-indah agar mama senang,” kata Tuan Rahmat dengan suara yang sedikit
melemah tapi men desah lembut. Matanya berkaca-kaca. Entah dengan cara
bagaimana nantinya bisa lebih enjoy. Dia tak ingin orang yang paling disayang
ini selalu merenungi diri divonis kena penyakit jantung.
Makanya, saat tembang Widuri berlalu, berganti tembang
‘Angin Malam’ nya Broery Pesolima, sang is teri
tertawa kecil sembari menepuk pelan pundak suami tercinta.
“Mama lalu ingat sesuatu, Pa.” Kata Nurbaya. Dia meminta
suaminya menepikan sejenak mobil, agar enak bercerita.
Syiiiiit …
Resh …
Mobil berhenti tak jauh dari deretan gerobak makanan
gorengan dan bakso.
“Papa ingat eggak waktu datang ke rumah, mama tutup pintu,
dan papa langsung pulang, tak pamit lagi?”
Tuan Rahmat mengingat-ingat sebentar. Dia tepuk-tepuk
jidatnya supaya cepat ingat.
“Malam kejadiannya. Ingat kan Pa?”
Tuan Rahmat terdiam. Lalu …
“Ooo .. itu .. Ingat Ma … Eeeem … “
“Marah enggak papa waktu itu sama mama?”
Tuan Rahmat menggelengkan kepala.
“Biasa ajalah Ma. Ya, ditolak enggak apa-apa. Buktinya,
besoknya aku kan datang lagi. Mama akhirnya mau buka pintu dan papa masuk …”
“Naaa .. itu dong Pa. Papa enggak marah, tapi mama keki amat
sama papa. Tahu enggak kenapa?”
“Ya mungkin karena papa langsung pulang aja gitu,
barangkali.”
“Bukan Pa …”
“Lalu apa dong Ma?”
“Karena menurut mama waktu itu, papa itu banci …”
“Haaa …!”
Piiiiiin …
Saking kagetnya, Tuan Rahmat kepencet klakson. Sebagian
pedagang mendekat, menanyakan mau apa, biar diantar saja. Tak usah turun dari
mobil.
Pasutri ini akhirnya memesan
dua porsi bakso daging dengan dua gelas air teh manis hangat. Sambil
menunggu pesanan, Nurbaya melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu mama bertanya pada diri sendiri. Orang ini cowok
apa cewek. Udah pendiam, loyo pula.”
Kata sang isteri tertawa geli.
“Tapi terbukti kan cowok tulen?”
“Iya sekarang. Dulunya enggak kan Pa. Ayo .. takut kan.
Ngaku ajalah Pa,” ledek isterinya.
Tuan Rahmat hanya tertawa. Tapi cuma sesaat. Setelah itu dia
peluk isterinya. Kecup bibir dan kening nya. Mesra nian …
“Mama … Papa cinta mama,” ucap Tuan Rahmat. Membuka jendela
mobil, mengambil pesanan bakso dan air teh manis.
“Hati-hati dong Pa. Panas …” Nurbaya mengingatkan. Dia
melihat suaminya buru-buru menyendok mie bakso dengan pentolnya.
Lahap nian makan bakso di pinggir jalan. Berduaan pula.
Ingat kala pacaran dulu, Tuan Rahmat dan isteri nya ingin menikmatinya mala
mini dalam suasana yang hangat dan khidmat.
Alunan tembang lawas terdengar sahdu. Dari Bob Tutupoli,
Broery Pesolima, Teti Kadi, kini Edi Silitonga dengan tembangnya ‘Mama’.
Suasana tempat jajanan mulai ramah. Terus menerus didatangi
pembeli, yang datang silih berganti. Ada yang memesan dan dibawa pulang. Juga
ada yang makan di tempat bersama pacar, teman, anak dan is teri.
“Papa serasa belum kenal beberapa lama …”
“Gombal …”
“Auuw … sakit ..” Ringis Tuan Rahmat. Perutnya dicubit sang isteri. Walau hanya cubit sayang, karena
dilakukan tiba-tiba, sakit juga.
“Mau tambah lagi tuan?” Tanya pedagang bakso. Dia
menghampiri karena dikira kedua suami isteri itu memanggilnya, padahal tidak.
Suara menyerupai panggilan itu memang berasal dari Tuan
Rahmat dan isteri. Satu menjerit tak kencang karena kesakitan dicubit, satunya
lagi ketawa sambil meminta jangan terlalu keras berteriaknya.
“Mama sih enggak bilang-bilang kalau mau cubit …”
“Papa juga enggak bilang-bilang sama mama kalau belum kenal
beberapa lama dengan mama. Jadi sela ma ini mama ini enggak ada dong di mata
papa …”
“Bukan itu maksud papa, Ma. Saking cintanya papa sama mama,
sepertinya papa tetap muda. Hangat dan
memesona. Tul kan Ma?”
Nurbaya senang mendengarnya. Tapi dia tak menjawabnya.
Karena sejak mereka menikah, sang suami memang sangat sayang kepadanya. Apalagi
setelah Nurbaya jatuh sakit. Tetap setia mendampingi, pa dahal banyak agenda
acara yang harus dihadiri.
Sang isteri sudah mengingatkan agar jangan lupa dengan
pekerjaan. Tak usah berlebihan memperlaku kan isteri dengan mengabaikan tugas
sehari-hari di tengah sibuknya mencari rezeki.
“Papa enggak boleh abaikan pekerjaan papa. Kasihan mereka …”
Kata Nurbaya. Luasnya areal perkebu nan mengharuskan Tuan Rahmat rutin
mengawasi. Sebab kalau tidak, rentan
terjadi korupsi di sana sini.
Namanya juga karyawan. Karena sulit menahan godaan, tidak
korupsi uang, korupsi waktu. Merasa tidak diawasi, seenaknya bekerja tanpa
memikirkan maju tidaknya perusahaan. Timbul pikiran kotor. Perusa haan boleh
bangkrut, asalkan diri kenyang perut.
Nurbaya ingin suaminya tetap eksis. Sakit dan sehat, itu
adalah perjalanan hidup. Tak selamanya kita sehat wal afiat, sesekali jatuh
sakit dan menghadapinya dengan sabar dan tidak berlebihan.
Nurbaya dikaruniai
seorang anak. Usianya kini sudah mendekati dua puluh tahun. Dia masih kuliah di Fakultas
Pertanian di salah satu perguruan tinggi negeri di luar kota.
Candra ikut neneknya. Selain karena sudah dekat dengan sang
nenek sejak masih bayi, kuliah di luar tempat tinggal memang menyenangkan.
Di antaranya bisa tahu keadaan kota lain, perilaku warga dan
saat pulang liburan, amboi sungguh me nyenangkan. Seperti baru pertama kali datang, semua berubah tanpa mengorbankan
lingkungan.
Candra sangat menyayangi ibunya. Tentu juga ayahnya. Dia
seringkali, jika ada waktu luang, menelepon Sang Mama. Bercerita apa saja,
curhat soal kuliah, teman dan semuanya yang terjadi pada hari itu dan
sebelumnya.
Bagi Candra, kehadiran Sang Mama di hatinya, menambah
semangat hidupnya. Tak terasa capek kendati harus pulang malam dari kampus.
Hidup terasa lebih terarah. Mau kemana dan berhentinya dimana. Doa ibu
sangatlah mustajab. Dia mengalahkan segala rintangan yang dihadapi sang anak.
Sekeras apapun
rintangan itu, Candra tahu doa dan kehadiran ibu sangat ia perlukan. Hal ini
dikarena kan dapat ‘mempermuda’ usia, serta apa yang dikerjakan, selalu
dilandasi rasa tulus, ikhlas, niat yang suci, demi mendapat ridha-Nya semata.
II
“MAS. Kok sepi ya. Kemana Doger?” Nurbaya turun dari mobil.
Pintu pagar dia buka. Ditutup lagi setelah mobil masuk pelataran teras sebelum
dikunci dalam garasi.
“Dogeeer … Dogeeeer …!”
Tak ada sahutan. Merasa takut, Nurbaya menunggu suaminya
turun dari mobil. Keluar dari pintu garasi.
“Mas Rahmat …”
“Mas …”
Belum ada sahutan. Namun saat hendak menoleh ke belakang,
suami tercinta sudah ada. Bikin kaget tapi tidak sampat terkejut.
“Doger Mas …”
“Di dalam mungkin,” jawab Tuan Rahmat. Mendekati pintu.
Membukanya sambil memanggil Doger.
Ke setiap sudut pasutri ini memanggil-manggil anjing
kesayangan mereka. Tetapi tetap tak diketemukan juga.
Kemana gerangan dia?
Heeeegh … zzzz..
Heeeeg … zzz ..
Tuan Rahmat tertawa.
Dia panggil isterinya. Saat tahu Doger tertidur pulas, juga ikut tertawa.
“Bangunin ajalah Yang,” saran Sang Suami.
“Dogeeer …!”
“Dogeeer …!”
“Dogeeer …!”
Sampai harus dibelai-belai kepalanya berulangkali, Doger
baru terjaga dari tidurnya.
Uuuuukh …
Uuuuukh …
Uuuuuukh …
Menggeliat manja di pangkuan Sang Nyonya, tertawa lalu
dibawanya masuk ke sofa ruang tamu. Di tem pat inilah Doger biasa tidur,
bermain sendirian jika majikannya sedang tidak berada di rumah.
“Kenapa aku bisa tertidur ya?” Tanya Doger dalam hati.
Siapakah yang telah membuatku tertidur pulas. Padahal tadinya tidak makan
sesuatu apa pun.
Uuuukkh …
Doger melompat ke sofa empuk. Lalu tidur melingkar. Matanya
sesekali terbuka, lalu terpejam. Kemu dian terbuka dan terpejam lagi.
Malam semakin larut. Di luar rumah tampak sepi. Lengang. Seekor
anjing berjalan mencari makan. Men dekati tempat sampah. Lalu dibukanya penutup kaleng besar
itu. Ditariknya kantong berisi aneka ma kanan yang tersisa, lalu dimakannya yang dia suka, seperti daging dan
tulang ayam.
Beberapa kendaraan roda dua dan empat masih beseliweran. Ada
yang membawa barang, juga berbon cengan. Bahkan ada juga bermotor sendirian.
Menembus dinginnya udara malam demi
mencari sesuap nasi buat menafkahi anak bini.
Cuaca tidak terlalu dingin
dan tidak juga panas. Angin berhembus tidak terlalu kencang. Pos ronda su
dah didatangi penjaganya. Ada yang bermain gaple, juga ada yang sekadar
tidur-tiduran. Sebagian mu lai mengelilingi kampung dan kompleks perumahan
mengawasi rumah warga.
Di atas pukul sepuluh, warga pinggiran kota ini mulai tak
terlihat lagi di depan rumah mereka. Kelayapan ke sana kemari. Mereka sudah
tertidur pulas. Mengistirahatkan badan dan pikiran untuk bersiap diri me
nyambut datangnya hari esok.
Demikian pula halnya Tuan Rahmat dan isteri. Selaku pelaku
bisnis yang sibuk, dia harus bisa dan pandai membagi waktu. Jarang berada di
rumah. Lebih banyak keluar rumah untuk urusan bisnis.
Setibanya di rumah, jika tidak melanjutkan pekerjaan yang
belum terselesaikan, Tuan Rahmat selalu me nyempatkan diri mengajak Nurbaya
santap malam di luar rumah. Mulai dari pusat
kuliner di kaki lima hingga restoran ternama.
Sesekali dia ‘berkurung’ diri di rumah. Menanam bunga
mencangkul tanah dan mengajak isterinya ber santai di belakang rumah. Sambil duduk berdua di
ayunan, keduanya leluasa menyaksikan burung pipit hinggap di ranting pepohonan
sebelum terbang ke atap rumah.
Bagaimana dengan Doger?
Malam ini Doger merasa lebih nyaman. Ia tak mendengar
suara-suara yang dapat mengganggu istirahat nya. Hanya yang mengusik pikirannya
saat ini, siapa gerangan yang menyebabkan dirinya tertidur pulas di samping teras rumah.
“Untung tuan tidak marah. Coba kalau marah, bakal terusir
gue,” kata Doger. Dia berpindah tempat ti dur. Semula di atas sofa, kini
beralih ke atas karpet permadani.
Kletek …
Doger terjaga. Lalu mencari tahu asal suara itu. Dia
perkirakan di teras depan. Dia belum menyalak. Ha nya ingin memastikan suara
apa gerangan.
Kletek …
Suara itu berpindah ke samping. Saat Doger mendekati jendela
kaca samping, suara aneh itu pun hilang. Doger mulai kesal. Lidahnya menjulur
liar keluar. Nafasnya turun naik teramat kencang.
Kletek …
Gresek …
Kali ini suara mirip benda jatuh itu terdengar lagi. Jika
tadi di samping, kini di belakang.
Uuuuukh …
Doger melompat ke lemari dekat jendela belakang. Dari sini ia
leluasa melihat keluar. Tak ada siapa-sia pa. Orang atau hewan misalnya.
“Siapa ya?” Tanyanya dalam hati. Penasaran, ia turun dengan
melompat dari lemari besi itu.
Dia kembali ke ruang tamu. Suara itu tak terdengar lagi.
Namun, saat keesokan harinya, Tuan Rahmat menemukan satu ekor ayam jagonya
mati. Diketemukan tak bernyawa lagi di teras belakang rumah.
Nurbaya ikut berduka. Soalnya, ayam yang mati itu adalah
ayam jago kesayangan suaminya. Suara kokok nya sangat merdu. Selalu berkokok
menjelang subuh.
Kokoknya itulah yang membikin Tuan Rahmat jatuh cinta. Jinak
dan tidak suka mengganggu ayam yang lain. Makan apa saja dia mau. Tidak suka
berkeliaran jauh. Hanya di sekitar rumah.
Tapi soal berkelahi, si jago memang jagonya. Dia siap
mengawal ayam lain dari gangguan sesama jenis termasuk Doger. Namun, ketika
teman bisnis Tuan Rahmat bermaksud ingin membelinya, dia tolak ha lus.
Bukan perkara uang. Tapi hobi dan kesenangan. Jika kita
senang, maka kita akan terpuaskan. Itulah kira-kira jalan pikiran Tuan Rahmat.
Tak heran, ketika diajak duel sesama ayam jago, pebisnis tanggung ini juga
menolaknya.
Namun pagi ini, tuannya Doger tak bisa berbuat banyak. Dia
harus rela ayam jagonya mati. Tidak ada darah, apalagi bercak di lantai. Bau
busuk dan anyir pun tidak.
Doger juga merasa
kehilangan teman setianya di rumah. Ikut menemani Tuan Rahmat membuang bang kai
ayam jago ke dalam kotak sampah sebelum diangkut menggunakan mobil pengangkut
sampah ke tempat akhir pembuangan sampah.
Tak banyak yang bisa dikomentari Doger. Dia hanya duduk
termenung di dekat ayunan. Sementara Tuan Rahmat dan isteri baru saja pergi
berbelanja ke pasar. Dia kini hanya ditemani cicit burung pipit dan sua ra
berisik dari beberapa ekor ayam di dalam sangkar.
“Melamunkan apa Dog?” Tanya seekor burung pipit pada Doger
dari atas ranting pepohonan.
“Ah mau tau aja lu,” jawab Doger sewot.
“Aku ini kan temanmu juga. Walau badanku ini kecil, soal
kesetiakawanan aku barangkali nomor satu ..”
“Gombal ah.”
“Lha, kalau aku tak setia kawan, kenapa aku sekarang ini
berada di dekatmu yang sedang melamun seorang diri.”
Doger diam.
“Ceritakanlah kepadaku Ger, apa yang kau lamunkan.
Berbagilah sesama aku. Jangan kau simpan sen diri. Tak baik itu buat
kesehatanmu.”
Doger masih diam.
Burung pipit mulai gerah.
“Sudah,” katanya.
“Kalau begitu aku terbang dulu ai.”
“Tunggu Pit!” Teriak Doger.
Burung pipit mengurungkan niatnya untuk terbang.
“Baiklah,” kata Doger, “Aku bersedia membagi kisahku ini
kepadamu …”
“Nah, begitu dong, Ger. Itu baru namanya teman. Cepat
ceritakanlah kepadaku. Aku sudah tidak sabar mendengarnya,” pinta si burung
pipit. Meminta teman-temannya sesama burung pipit menunda terba ng. Sama-sama
mendengar kisah seru dari Doger.
“Semalam,” ujar Doger memulai kisahnya,” Aku tiba-tiba
tertidur pulas. Apa sebabnya, aku sendiri tidak tahu. Tapi sebelumnya aku
melihat sesuatu yang sulit aku lukiskan. Karena gelap, jadi tidak jelas ku
lihat.”
“Setelah tuan dan nyonya pulang,” lanjut Doger, “Kemudian
istirahat di kamar, aku mendengar suara, en tah dari mana suara itu. Selalu
berpindah-pindah. Awalnya di teras depan, aku dekati. Hilanglah suara itu.
Namun berlanjut di samping rumah. Terakhir, suara itu terdengar di belakang
rumah.”
“Setelah itu,” kata Doger, “aku tidur dan bangun keesokan
harinya. Ternyata ayam jago kesayangan tuan telah mati.”
“Itulah kawanku,” jelas Doger, “Sekelumit kisah dariku.
Sekarang terserah kau dan teman-temanmu yang lain, mau menanggapinya atau
tidak. Tugasku selesai. Permintaanmu telah kupenuhi,” terang Doger. Lega
rasanya telah berbagi kisah dengan si burung pipit.
Menurutku, kata si burung pipit,” Kamu harus hati-hati Ger.
Karena sekarang bahaya besar mengancam mu dan majikan kamu …”
“Ah yang benar Pit?” Tak percaya Doger. Karena seringkali
burung pipit membesar-besarkan masalah ya ng sebenarnya tidak bermasalah.
“Tapi tenang saja Ger. Kan ada aku. Aku siap membantumu bila
kau butuhkan. Tapi jika tidak, ya tidak apa-apa,” kata pipit.
Doger cuma tersenyum.
“Gerrr!”
“Ya Pit.”
“Dengar omonganku tadi?”
“Dengarlah …”
“Bagaimana menurut kamu?”
“Siplah. Nanti aku beritahu ketika aku perlu kamu, kawan.”
“Siiip. Aku terbang dulu ah. Biasa, cari makan.”
Klepek …
Klepek …
Cit … cit …
Cit .. cit …
Doger kemudian mendekati sangkar ayam yang terbikin dari
kayu. Dia tengok ke dalam sangkar empat persegi panjang itu. Ayam pada
istirahat. Ada yang mengeram, sekadar duduk, bahkan ada yang pejam kan mata.
Mereka tak hiraukan kehadiran Doger. Bukan karena tidak
berteman. Ibarat satpam, Doger mengawasi
sudah biasa. Diam dan istirahat di tempat.
Doger kembali tidur di ayunan.
III
ATAS permintaan Doger, burung pipit bersedia mengintai dari
balik pepohonan dan atap rumah. Siapa gerangan yang sering berbuat aneh di
malam hari. Juga ayam Tuan Rahmat yang mati mendadak, apa ada kaitannya dengan
suara-suara aneh itu.
Tuk … tuk .. tuk …
Ada suara sepatu. Tapi siapa, itulah yang bikin penasaran
burung pipit. Mereka yang jumlahnya lebih dari lima ini turun dari pepohonan.
Mendekati ayunan dan bertengger di tiang besi penyangganya.
“Eeem … sepertinya pintu itu akan dibuka,” kata Pipit.
Gagang pintunya bergerak-gerak.
Celetek …
Celetek …
Pintu terbuka setelah teralis pintu dibuka. Tapi siapa yang
membukanya. Sesuai kesepakatan dengan
Doger, jika suasananya sudah membahayakan, burung pipit bersiul.
Doger mendengarnya.
Tapi tidak menyalak.
Doger justru berjalan mendekati pintu belakang. Dilihatnya
pintu terbuka. Dia dekati pintu itu. Kemu dian dia keluar …
“Tutuplah kau pintu itu,” kata Pipit dari tiang ayunan.
Doger menarik gagang kunci pintu pelan-pelan. Pintu pun
tertutup, disusul teralis. Meski tidak terkunci, paling tidak bisa tahu siapa
yang masuk rumah. Karena setelah masuk, dia akan keluar lewat pintu.
Pintu manakah?
“Sementara ini kita menunggu saja di sini,” kata si Pipit,
terbang rendah ke tempat duduk ayunan.
“Aku mau keliling-keliling dulu ya Pit.” Doger penasaran.
Dia ingin mengontrol rumah dengan cara berke liling dari luar. Mengintip ke
dalam. Mencari tahu apa ada sesuatu yang aneh di dalam rumah.
Agak lama juga Doger berkeliling. Karena tak menemukan
sesuatu yang mencurigakan di sekitar kedia man majikannya, dia kembali lagi
menemui si Pipit.
“Sudah kubilang tunggulah disini. Sebentar dia keluar,” ujar
Pipit. Matanya mengantuk. Ingin tidur rasa nya. Karena seharian terbang dari satu tempat ke
tempat yang lain. Dari satu ranting pepohonan ke ran ting pepohonan yang lain.
“Janganlah kau pergi dulu, Pit.” Pinta Doger. Sebelum pintu
terbuka lagi, kita bakal tahu kerjaan siapa. “Barulah terbang ke mana kau
sukalah.”
“Oke,” jawab Pipit.
Belum semenit mereka menunggu, sudah ketiduran. Sementara
sang misterius sudah keluar dari rumah. Nurbaya, menengok Doger tak ada di
ruang tamu, bergegas mencarinya. Dari
balik jendela ia mengintip ke teras rumah. Sepi. Tak ada siapapun di sana.
Ingin rasanya dia keluar. Tapi, karena sendirian sementara
suami tercinta masih tertidur pulas, Nurbaya urungkan niatnya.
“Mungkin tidur di tempat lain,” bisiknya dalam hati.
Mulutnya menguap. Nurbaya masuk ke kamar lagi, tidur di samping suaminya.
“Ger .. Doger …” Bisik Pipit membangunkan Doger yang ketiduran.
“Mana … Mana Pit?” Doger siap mendekati pintu belakang.
“Nanti dulu …” Cegah Pipit. Setelah Doger tenang, barulah
Pipit mempersilakannya mendekati pintu.
Doger mencium sisa-sisa jejak dekat pintu. Tak ada. Namun
dia berkesimpulan makhluk misterius yang
masuk lewat pintu belakang tadi itu sudah keluar. Ini bisa dilihat dari tidak
tertutup rapatnya pintu te rali. Padahal
tadinya tertutup rapat bersama pintu.
Pipit menunggu di luar pintu saat Doger masuk ke dalam
rumah. Supaya tak bosa menunggu, burung pipit terbang rendah. Ia berjalan melenggang mengelilingi rumah.
Pipit tak merasakan hal yang aneh. Meski tadinya dia melihat
pintu terbuka dan suara orang berjalan. Dari jendela depan ia mengintip ke
dalam. Lalu ke belakang. Doger baru saja membuka pintu, keluar menemuinya.
Doger menggelengkan kepalanya.
“Nihil,” katanya pada burung pipit. Disepakati tengah malam
menjelang pagi ini keduanya berpisah. Buat sementara tugas mereka sudah selesai, walaupun belum membuahkan hasil
apapun.
Seperti biasa, setelah mengunci pintu dengan kedua tangan
dan mulutnya, Doger beristirahat di ruang tamu. Bukan di sofa, tapi dekat pintu
agar mudah terlihat Tuan Rahmat dan isterinya.
Ketika bangun keesokan harinya, Tuan Rahmat menemukan ayam betinanya
mati. Dia beritahu isterinya di dapur yang tengah menyiapkan sarapan pagi,
bergegaslah ia melihatnya.
Tak ada darah sedikitpun. Bekas luka atau gigitan apalagi.
“Kerjaan siapa ya Mas?” Sang Isteri menduga ayam betinanya
sengaja dimatikan, tapi oleh siapa, itu yang masih meraba-raba.
“Doger!” Panggil Tuan Rahmat.
Doger yang tampak lesu mendekati tuannya, lalu duduk sopan
dan lebih banyak diam.
Sehatkah ia?
“Doger …!”
Doger belum bisa memastikan siapa pelakunya. Boleh jadi ayam
mati karena salah makan. Diracun mung kin, atau bisa saja dipatuk ular dan
binatang berbisa lainnya sampai mati.
Tak ingin berlama-lama berspekulasi, bangkai ayam dibuang ke kotak sampah. Ayam
betina yang sehat dengan bulu-bulu yang indah, hati siapa yang tak terenyuh
dibuatnya.
Nurbaya amat menyayangi ayam betinanya itu. Setiap pagi ia beri
makan beras ayam yang dibeli di toko penjual pakan ayam.
Saking sayangnya Nurbaya pada si betina, setiap kali ada
teman-temannya yang datang berkunjung ke rumah, selalu ia perlihatkan dan
perkenalkan ayam peliharaannya itu. Banyak yang memujinya sebagai ayam yang
pertumbuhannya luar biasa. Sayang, ia menolak ikut kontes ayam sehat.
Dia hanya ingin, meski cuma ditemani Doger dan suami
tercinta, keh diran hewan yang dagingnya
em puk bila dimakan, bersama kokok khasnya si ayam jantan yang telah tiada,
menghibur hatinya yang ter kadang merasa sepi dan sunyi.
“Aku sayang mereka, Mas. Apa mungkin karena kita tak punya
…” Kata Nurbaya pada suaminya saat minum teh berdua di kamar. Menemani Tuan
Rahmat menyelesaikan pekerjaan kantornya.
“Kan sudah ada Candra. Mama rindu ya?” Ledek sang suami.
“Kalau rindu, kenapa enggak telepon aja mama.”
Nurbaya tertawa.
“Oh iya Mas. Mama kelupaan. Belum tua sungguhan sudah
pelupa. Gimana kalau sudah tua beneran …”
“Balik muda lagi, Ma.” Jawab Tuan Rahmat, melanjutkan
pekerjaannya yang sempat terhenti karena sang isteri menertawai diri sendiri.
Sembari ditemani Doger dekat meja telepon ruang tam, Nurbaya
menelepon sang buah hati belahan jan tung, Candra. Kebetulan tidak ada perkuliahan di kampus,
sang anak berkenan menyambut telepon ma manya.
“Enggak rindu mama ya!.” Desah manja suara Nurbaya. Bak
gadis remaja yang lagi jatuh cinta, Candra ha nya bisa ketawa tanpa bisa
mengomentari sepatah kata.
“Can …!”
“Candra di sini Ma.”
“Belum dijawab dong pertanyaan mama tadi.”
“Sekarang Candra jawab. Candra rindu mama.”
“Nah gitu dong. Lantas, kenapa enggak pulang sayang?”
Nurbaya menurunkan volume suaranya.
Lebih halus dan tidak mendesah manja lagi.
“Bentar pulang Ma,” kata Candra. Sambil menelepon, dia
menyantap mie goreng campur telur ceplok karena belum sarapan sejak pagi.
“Kapan sayang?”
“Libur semesteran Ma.”
“Ya mama tahu. Tapi kapan libur semesternya Yang?”
“Eeeem … seminggu lagilah Ma.”
“Enggak bisa dipercepat aja Yang?”
Ha ha ha ha …
“Enggak bisalah Ma. Kan masih ujian sekarang. Nanti setelah ujian
baru Candra pulang. Mama harus sa bar dong ya. Kan dulu mama udah bilang ke
Candra, mama akan sabar menunggu
kepulangan Candra. Masih ingat enggak Ma?”
“Apanya?”
“Omongan mama yang dulu itu.”
“Udah lupa say …”
“Aduh mama. Gimana sih lupa terus. Nanti dengan anaknya juga
lupa …”
“Enggak bakalan. Buktinya, sekarang mama telepon kamu.
Enggak lupa kan? Malah menurut mama, kamu yang sengaja ngelupain mama.”
“Enggak dong Ma.”
“Buktinya, kalau enggak mama telepon, kamu enggak telepon
mama. Itu berarti kamu udah lupa sama mama.”
“Maafkan Candra ya Ma. Candra bukan enggak ingat. Tapi sibuk
dengan kuliah. Soalnya, Candra ingin cepat selesain kuliah ini, biar cepat
pulangnya. Gitu lho Ma.”
“Pacar gimana? Udah dapat belum?”
“Kalau itu belum Ma. Belum kepikiran sama Candra. Candra
pinginnya tuntas studi dulu. Baru mikirin cewek. Enggak salah kan Ma?”
“Enggak juga sih. Mama cuma nanya aja say. Sudah pa belum.
Kalau sudah ya bagus. Kalau belum …”
“Kenapa Ma?”
“Siap-siap jadi perjaka tua.”
Ha ha ha ha …
“Mama gitu sih sama anak.’Ntar beneran perjaka tua gimana
Ma. Mama juga kan yang rugi.”
“Kok mama yang rugi. Yang perjaka kan kamu sayang.”
“Maksud Candra Ma. Kalau Candra tak sampai kawin, kan sampai
mati mama enggak bakalan menimang cucu …”
Nurbaya diam.
“Ma …!”
“Papamu mau bicara say …” Telepon beralih tangan ke Tuan
Rahmat.
“Pulanglah kalau udah libur. Hibur mama yang lagi sedih …”
“Sedih kenapa Pa? Mama enggak bilang-bilang tadi sama Candra
…”
“Tidak maulah mamamu cerita. Malulah dia …”
Telepon terputus.
Karena terlepas dari tangan Tuan Rahmat. Karena harus
berkali-kali menghindari cubitan keki dari sang isteri. Enggak terima disebut
suaminya malu hati pada Candra, anak semata wayangnya.
Kriiiing …
Kriiiing …
Nurbayalah yang mengangkatnya. Tuan Rahmat senyum-senyum di
sebelah kanannya.
“Ayam mama baru aja mati pagi tadi Yang. Mama sedih …”
“Oooo gitu. Candra kira apa Ma.”
IV
“AKU sedih Pit. Aku merasa tak berguna,” aku Doger pada
burung pipit kala keduanya beristirahat di bawah pohon.
“Jangan begitulah kau, Ger. Tak baiklah kau berkata seperti
itu,” kata pipit. Melompat naik ke ranting pepohonan. Sedangkan Doger duduk bersandar di batang
pohon.
“Seperti kau lihat Pit. Sampai saat ini aku belum bisa
berbuat apa-apa sejak sepasang ayam majikanku mati mendadak.”
“Itu namanya putus asa. Tak baik berputus asa itu kawan.
Yang baik adalah teruslah berbuat …”
“Berbuat apa yang kau maksudkan itu Pit?” Tanya Doger
menggerak-gerakkan kepalanya memandang teduh ke sekitar, lalu rebahan di
rerumputan.
“Banyak kawan. Sungguh beruntung kau punya majikan yang baik
hati kepadamu. Menurutku, kau harus berbuat sesuatu yang dapat menyenangkan
hati mereka.”
“Apa misalnya Pit?”
“Saat Nyonya mengantar tuanmu kerja, kau jangan diam saja.
Kau harus ikut juga mengantar sampai ke teras. Tak usah malu. Kau harus kreatiflah.
Jangan pasif …”
“Lantas, apa yang harus kulakukan?”
“Mudah saja Pit. Kau bukakan pintu pagar. Atau membantu
tuanmu membuka pintu garasi. Walau itu tak seberapa, bila kau lakukan terus
menerus, jadi luar biasa. Majikanmu pasti akan senang …”
Doger tersenyum.
“Atau misalnya Ger, saat ada tamu Tuan dan Nyonya mu, jangan
kau marahi. Jangan kau usir mereka. Tapi terimalah dengan baik dan ramah,”
terang Pipit.
“Bagaimana caranya Pit?”
“Gampang saja Ger. Kau berdiri dekat Tuan dan Nyonya mu.
Sebagai penyambut tamulah, atau bisa juga kau bukakan pintu pagar dan pintu
rumah bersama-sama dengan majikanmu. Dengan begitu mereka kenal kau. Kau juga
kenal dengan mereka.”
Doger mengangguk. Perasaannya mulai tenang. Tidak merasa
kuatir lagi bakal ‘terusir’ dari kediaman Tu an Rahmat. Karen bukan tidak
mungkin, melihat Doger tak bisa bersikap ramah dan mengamankan ru mah dari
segala macam gangguan, majikannya justru mencari hewan peliharaan lain yang
lebih pintar dan berdaya guna.
“Itulah yang sebelumnya
aku kuatirkan Pit,” kata Doger membagi kegundahannya, yang walapun tak
suka, ia terpaksa bagikan kepada sahabat karibnya itu.
“Tak usah kuatirlah kau, Ger. Yang penting ingatlah selalu
pesanku tadi. Mudah-mudahan kamu betah
dan disenangi majikanmu.”
“Sepertinya kamu mau pergi Pit?”
“Betul katamu Ger. Enggak kemana-mana. Aku cuma mau cari makan saja.”
“Kalau cuma cari makan, gampanglah itu Pit.”
Doger bangun dari rebahannyal. Dia pergi menuju gudang. Di
sana ada beras dan padi. Makanan ini bia sa dimakan ayam peliharaan Tuan
Rahmat.
“Tapi sekali-sekali tak apalah kuambil sedikit buat si
pipit,” bisik Doger.
Dia menjepit dengan mulutnya cedok berisi beras dan padi.
Diambilnya kira-kira setengah cedok, lalu dibawanya pergi ke bawah pohon
mangga.
“Pipit …”
Tak ada sahutan.
Tiba-tiba …
“Braaaa ba ba …”
Doger terperanjat setelah burung pipit mengagetkannya dari
belakang. Bertambah kaget ketika si pipit melompat di atas kepalanya.
Celetak …
Begeeees …
“Terima kasih Ger. Kamu baik sekali,” ucap pipit dengan
lahapnya ia memakan padi dan beras itu. Dia memang lapar. Jadi tak heran bila
ia makan dengan lahapnya.
“Kamu tidak makan Ger?”
“Aku masih kenyang Pit. Makanlah kau. Bila kau kenyang,
senanglah hatiku. Tapi bila kau lapar susahlah hatiku …”
Pipit ketawa mendengarnya.
Sementara dari airport, Candra yang dijemput Sang Mama,
sempat singgah sejenak ke pusat jajanan se belum menuju rumah. Ia senang
melihat mamanya ceria. Ia kuatir ibunda tercinta masih berat hati me lepas
kepergian ayam kesayangannya.
Dalam perjalanan pulang, Candra tak henti-hentinya melucu.
Apa saja dia lucukan. Yang penting mama nya senang hati dan girang.
“Mama tahu tidak kenapa bumi enggak segi empat?”
Sang Mama menggelengkan kepala.
“Kalau segi empat ya Ma, muka kita ini juga segi empat …”
Hi hi hi hi …
“Ada-ada saja kamu Can,” kata Sang Mama. Hatinya sedikit
tenang saat duduk berdekatan dengan Can
dra, anaknya. Tak terasa sudah dewasa. Dulu, saat masih bayi, dia selalu
menggendongnya. Mengajak pergi kemana yang Candra ingini.
“Sekarang Canda yang ngajakin mama jalan-jalan ya sayang. “
Nurbaya mencium hangat pipi Candra.
Walau tak sehangat saat masih bayi dulu, ia merasa rindu bertemu sudah
terlampiaskan. Naluri keibuan nya muncul lagi. Ia ingin sekali menggendong sang
buah hati.
“Jangan mama. Kalau Candra jatuh gimana?”
“Paling ke bawah. Mana ada jatuh ke atas. Ya kan say?”
Candra hanya diam. Ia tersenyum. Tanpa terasa sudah sampai
di rumah. Keduanya turun dari mobil, di sambut
Doger dengan tatapan ceria.
“Doger …”
Candra memberikan makanan kesukaan Doger. Ciki keju.
Terbungkus dalam plastik besar. Doger ke sulitan membukanya. Candra membantunya
dengan merobek sedikit bagian atas plastik itu.
Pek .. pek .. pek …
Creees … creees … creees ..
Keluarlah dari plastik berwarna hitam itu bulatan berwarna kecoklat-coklatan. Baru saja
menggelinding di lantai teras, Doger
mengejarnya dan melahapnya.
“Taruhlah lagi say!” kata sang mama.
Candra menumpahkan lagi makanan kesukaan Doger itu sebelum
berdua mamanya masuk ke dalam rumah. Tak
ada yang berubah di rumah ini selain hati dan perasaan ini, bisik Candra, lebih
tenang dan sejuk dekat sang mama.
Malam tiba.
Karena Tuan Rahmat baru kembali dari luar kota esok pagi,
Candra mengajak mamanya menonton per tunjukan anjing berbakat di gedung seni
pusat kota. Informasi ini ia dapatkan setelah menonton acara televisi beberapa saat
sebelum berganti pakaian di kamarnya.
Doger yang mulanya ragu, akhirnya memutuskan ikut bersama
Candra dan mamanya. Rumah jadi tak berpenghuni. Dititipkan pada petugas jaga
yang sering meronda setiap malam sampai tubuh tiba.
Senangkah Doger?
“Tentu dong,” katanya dalam hati seraya masuk mobil, duduk
sendirian di jok belakang.
Gedung pertunjukan seni sudah dipadati pengunjung. Tua dan
muda berbaur bersama. Antrean mem beli tiket masuk, tak terkecuali Doger. Dia bersama
pengantre yang lain harus sabar berdiri menunggu giliran membeli tiket.
Ketika pertunjukan belum dimulai, pintu masuk gedung masih
tertutup rapat. Para pengunjung yang su dah membeli tiket masuk memilih tempat
duduk yang telah disediakan. Deretan kursi panjang dekat pintu masuk, kursi
taman dan beberapa tempat duduk yang terbikin dari batuan marmer semen bercorak.
Doger sendiri menemani Candra dan ibunya membeli makanan dan
minuman untuk dibawa masuk. Sem bari menyaksikan atraksi pertunjukan anjing dan
kucing, menikmati kudapan akan menambah nikmat mengarahkan pandangan ke atas
panggung pertujukan.
Mereka memilih duduk
di bangku taman. Dikitari aneka bunga berwarna warni, ibu dan anak ini tampak
mesra nian bagaikan sepasang kekasih yang lagi kasmaran.
“Baya!
Sampai akhirnya Nurbaya dikagetkan oleh sapaan dan colekan
seorang ibu muda dengan suami dan anak gadisnya.
“Ini aku … Yuli.
Ingat kagak?”
Tanpa basa basi lagi, Yuli memeluknya. Karena masih antara ingat dengan tidak, Nurbaya
balas meme luk Yulis tapi terkesan biasa-biasa saja.
“Ingat kan?”
Nurbaya belum juga berhasil mengingatnya. Namun setelah Yuli
memberitahu nama teman-temannya semasa es em a dulu, sedikit demi sedikit
ingatan Nurbaya kembali pulih.
“Yuli yang tomboy itu kan?” Nurbaya coba menebak-nebak.
“Betul sekali …”
“Yang pernah nutup pintu toilet waktu aku buang air kecil
itu kan?”
“Betul …”
“Yang paling suka berantem dengan cowok kan?”
“Betul …”
“Yang hobi makan gado-gado kan?”
“Betul …”
“Yang hobi …”
“Udah .. udah. Cukup,” kata Yuli. Ia kemudian memperkenalkan
suami dan anak perempuannya.
Yuli pun tak sungkan bercerita. Katanya, baru seminggu ini
dia menetap di kota ini. Ia pindah tugas me ngikuti suami yang ditempatkan di
kota yang warganya amat ramah ini.
Awalnya memang berat. Karena selain harus dimulai dari awal
lagi, terutama teman sekerja yang baru, juga harus membina hubungan baik dengan
tetangga sebelah menyebelah.
“Alhamdulillah sudah ada teman. Jadi enggak kesepian saat
pertama kali pindah kerja tempo hari,” terang Yuli. Mempersilakan Candra dan
Nurbaya mencicipi keripik pisang terenak di kota ini.
Candra yang ikut mencicipi keripik pisang bersama Doger,
ketawa geli melihat tingkah anjing peliharaan orang tuanya itu kala mendekati
Anita. Tak henti mengibas-ibaskan ekornya, membuat puteri
sahabat karib mamanya ini ketakutan karena tak terbiasa dengan kehadiran
anjing.
“Doger … sini ….. sini …!”
Doger menurut. Dia kembali duduk dekat Candra. Menawarinya
keripik pisang, disantap malu-malu ka rena diperhatikan Anita dan ayahnya
Darwin.
“Aduh kelupaan. Maaf ya.” Tiba-tiba Yuli menghentikan
oborolannya, menyilakan suami dan anaknya saling berjabatan tangan dengan
Candra, Nurbaya dan juga Doger tentunya.
Sebab, kata Yuli, perkenalan itu tak cukup dengan menyebut
nama dan melepas senyum saja. Dengan saling berjabat tangan, keakraban masing-masing pihak semakin
kentara. Tak ada sekat lagi. Tak ada yang tertutupi, berpura-pura apalagi.
Ha ha ha ha …
“Saya minta maaf atas keterlambatan berjabat tangan ini,”
kata Pak Darwin sembari mengunyah keripik pisang.
“Tak apa-apa Pak. Saya juga minta maaf. Seharusnya yang muda
dulu menyapa dan memperkenalkan diri, bukan sebaliknya orang yang lebih tua
usianya,” ucap Candra. Sangat senang ia bisa berkenalan dengan Pak Darwin dan
isterinya, terutama Anita, gadis manis tinggi semampai.
V
ADA sebuah piring di tengah panggung. Di dalam piring ada
ayam dan nasi kuning. Seekor anjing duduk melamun. Dia melamun bukan karena tak
mau makan. Tapi belum tahu kepunyaan siapa gerangan maka nan super lezat dan
nikmat itu.
“Udah Jing. Sikat aja. Malu amat sih lu,” kata penonton yang
menempati deretan kursi paling depan dalam Gedung Seni.
“Sikat aja deh,” bisik pemuda berkacamata minus pada rekan
wanitanya yang tampak gemas tengok anjing pura-pura alim.
Si anjing mendekat. Lalu diciumnya itu piring, ayam goreng
dan nasi kuning.
“Eeeem … lezaaat,” katanya. Perutnya yang lapar semakin
lapar. Tapi dia tak jua memakan hidangan
yang tersaji di atas piring itu.
“Anjing bego ah. Sebel gue,” gerutu cewek tomboy berambut
pirang.
“Tonton aja kenapa sih,” saran teman di sebelahnya. Ia tak
ingin penonton lain terganggu karena men dengar komentar yang enggak-enggak.
Dari balik pot bunga besar, seekor kucing berbulu indah
mengintip kelakuan anjing yang menurutnya bikin aneh dan di luar kebiasaan.
“Biasanya langsung dibadok,” kata si kucing sembari
memainkan ekornya yang panjang, bergerak ke atas, bawah, kiri dan kanan.
“Ayo Cing, sikat aja,” celetuk ibu muda yang menonton
pertunjukan kucing dan anjing bersama dua anaknya yang sudah menginjak remaja.
“Takut kali Ma,” kata si anak bermata sipit.
“Masa takut. Ajak aja berantem,” jawab si ibu sekenanya.
Mata tertuju ke depan panggung. Mulut tak henti-hentinya mengunyah kacang dan
jagung.
Saat anjing duduk di tempatnya semula, kucing mulai hilang
kesabaran. Dia tak ingin sekadar menunggu dan melihat perilaku si anjing.
“Gue sikat aja deh,” tekad si kucing. Mengendap-endap,
beberapa sentimeter di belakang anjing yang tak bereaksi, si kucing sambil
berlari kencang membawa sepotong ayam panggang paha yang telah dibumbui.
Guk … guk … guk …
“Rasain lu,” kata penonton di barisan tengah. Mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat si
anjing pontang-panting mengejar kucing yang turun naik panggung, lalu
menghilang di balik pintu arena pertunjukan.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Penonton bertepuk tangan.
Lampu panggung padam sesaat.
Biyaaar …
Menyala dan terang kembali.
Di atas panggung, seorang kakek yang sudah uzur duduk
lesehan sambil melihat cucu-cucunya bermain kejar-kejaran di teras rumah.
Kadang tertawa, lain waktu menitikkan air mata, tanpa sebab musabab.
Melihat kelakuan sang kakek yang di luar kebiasaan ini,
biasanya kalau sudah uzur lebih suka tidur-tidur an di kamar. Kucing dan anjing sepakat bikin kaget si
kakek.
“Mau ngapain mereka ya,” kata si bapak yang rambutnya penuh
uban.
“Mau bikin kakek tertawa barangkali Yah,” jawab anaknya. Dia
meminta sang ayah jangan berisik karena mengganggu ketenangan dan kenyamanan
penonton yang lain.
Benar saja. Kucing dan anjing ingin bikin kakek tertawa.
Bagaimana caranya?
Mereka bawa kaset dangdut. Kumpulan tembang berirama gembira
itu dimasukkan si anjing dalam DVD Player.
Tak lama kemudian terlihat layar hijau di pesawat televisi.
Lalu ada beberapa tulisan judul tembang. Dipilihlah lagi ‘Begadang.’
Flaaash …
Si kakek bereaksi. Dia mendekati kucing dan anjing yang bersiap
menonton video tembang ‘Begadang.’
“Goyang Kek …!” Teriak beberapa penonton. Suasana dalam
gedung berubah riuh ketika si kakek ter tawa terpingkal-pingkal melihat kucing
dan anjing berjoget.
Mulanya biasa saja. Tapi, si kakek akhirnya tergoda juga melihat
anjing dan kucing asyik berjoget. Dari pa da bengong sendirian melamun cuma
tengok cucu bermain, menggerak-gerakkan badan menambah se hat badan.
“Ayo Kek. Goyang yang kuat,” teriak cucunya yang berhenti
bermain setelah melihat kakek mereka
berjoget bertiga dengan kucing dan anjing.
Bukan hanya cucu yang tertawa melihat kakek mereka berjoget.
Para penonton yang sudah berkepala empat pun ikut-ikutan tertawa. Tak sedikit
dari mereka yang menyayangkan kelakuan si kakek.
“Udah tua, masih bergaya aja kakek kita ini,” kata ibu
berusia lanjut sambil nginang.
“Masa kecil yang tak bahagia ya Ma,” kata dara yang masih
duduk di bangku sekolah menengah atas.
“Husssy … tak boleh
begitu Yang,” tegur Sang Mama, lembut keibuan.
“Abis. Udah celana pendek, baju kelihatan kelek, belum mandi
pula. Iya kalau masih muda … ini kan udah tua dong Ma.”
“Ya sudah,” kata Sang Mama, “Kita tonton saja sampai habis.”
Karena kecapekan, si kakek sempoyongan. Kucing dan anjing
menarik kursi kayu dekat pintu kamar. Kursi itu diletakkan di depan si kakek.
Ngeoong ..
Uuukh …
Si kakek berhasil duduk. Saat bersamaan si anjing
mengecilkan volume suara televisi. Bersama kucing, dan cucu tercinta
mengelilingi kakek yang tertidur pulas.
Penonton bertepuk tangan.
Lampu panggung padam kembali.
Lama juga baru menyala. Hampir lima menit. Agar tak gelap
gulita, pihak panitia memasang beberapa lampu kecil di kanan dan kiri kursi
penonton.Ketika lampu menyala kembali, seorang dara tengah duduk di sofa ruang
tamu.
Kenapa dia?
Si dara tengah menunggu kekasih hati, apel di rumah malam
ini. Berpakaian serba bagus, minyak wangi disemprotkan ke seluruh pakaian,
sengaja dipersiapkan buat pujaan hati yang sudah lama tak bertan dang ke rumah.
“Kamu suka Anita?” Tanya Candra mengalihkan perhatian Anita
yang duduk di sebelahnya bersama Sang Mama.
“Suka yang mananya Kak?”
“Itu … yang di atas panggung itu …”
“Cewek itu maksudnya?”
“Bukan. Yang dilakoninya sekarang ini ..” Pancing Candra.
Dia menginginkan ada reaksi bagus dari Anita.
“Oooo … ya sukalah Kak. Kan cuma duduk dan berpakaian bagus.
Wangi lagi sambil menunggu pujaan hati …”
“Benar suka?”
Anita mengangguk.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Penonton bertepuk tangan setelah sang pujaan hati datang
untuk ngapelin sang pacar. Berpakain rapi, bawa oleh-oleh lagi.
Apaan sih oleh-olehnya?
“Gula pasir satu kilo, tomat seperempat, cabe dan gandum.
Itu oleh-oleh diteria si dara dengan lapang dada. Dia taruh di atas meja.
“Masih sibuk Mas?” Tanya si dara yang mulai salah tingkah
melihat si cowok kedip-kedip mata.
Cacingan barangkali.
Tak lama kemudian keluarlah seekor anjing. Duduk sopan di
tengah sofa antara si dara dan perjaka. Supa ya si dara enggak stres, anjing
pura-pura tidur. Saat itulah rayuan maut si pemuda muncul.
“Kamu sangat cantik malam ini Yang,” puji si perjaka
tersenyum penuh arti.
Buuuut …
Anjing kentut …
Penonton tertawa.
Sang pemuda menggeser sedikit posisi duduknya, agar tak
terlalu dekat dengan si anjing.
Si anjing pejamkan mati lagi.
“Yang … Kita nonton yuk …!” Ajak si pemuda malu-malu ayam.
“Sekarang Mas?”
“Ya ialah. Masa besok …”
Huuup …
Klebeeek …
Si pemuda terkejut saat anjing melompat melewati pangkuannya
menuju pesawat televisi.
Pesawat televisi menyala.
Si dara tersenyum.
Ada pertandingan sepakbola. Si pemuda yan tadinya mau mengajak si doi nonton di
luar rumah, duduk lesehan di depan pesawat televisi.
“Ayo say!” Ajaknya.
Berdua menonton pertandingan sepakbola.
Keduanya lupa dengan makanan yang tersaji di atas meja.
Satu-satu dimakan anjing. Habis seketika.
Eeeeegh ..
Anjing kekenyangan. Duduk sambil menjulurkan kedua kakinya
di atas meja.
Penonton kembali bertepuk tangan.
Hening seketika.
Lampu panggung tidak dipadamkan.
Kenapa?
Seorang pemuda memasuki arena panggung pertunjukan. Tak lama
kemudian muncullah empat ekor kucing dan empat ekor anjing.
Yang membuat penonton terpingkal-pingkal, ke delapan hewan
ini mengenakan pakaian mirip manusia. Tentu sesuai dengan jenisnya. Jenis
betina pakai rok, jantan mengenakan celana.
Topinya juga. Kucing dan anjing betina bertopi segi lima
dengan motif bunga. Sedangkan kelamin jantan bertopi segi empat tanpa motif.
Mereka berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Ada empat
warna musik. Lambat, sedang, cepat dan sangat cepat.
Ketika musik pengiring beralur lambat, kucing dan anjing
saling berangkulan. Mirip berdansa.
Tapi bila musik berpindah iramanya ke sedang, mereka
berpegangan tangan. Berjalan ke depan dan bela kang sambil mengangkat kedua
kaki secara bergantian.
Saat musik bergerak cepat lain pula penampilan mereka.
Mereka berguling-gulingan, mengelilingi pang gung sambil tak henti-hentinya
saling melompat melewati posisi badan teman mereka yang menggele tak di lantai.
Penonton dibikin takjub ketika musik pengiring beralur lebih
cepat, para kucing dan anjing ini memben tuk barisan untuk saling melewati satu
sama lain.
Misalnya, ketika empat ekor kucing berada di depan, empat
ekor anjing yang di belakangnya melompat, disusul kucing yang gantian melompat.
Begitulah seterusnya dalam posisi maju dan mundur ke belakang.
VI
PENONTON kembali bertepuk tangan setelah sekawanan kucing
bermain sepakbola. Dibantu dua lelaki muda usia, kucing yang berjumlah delapan
ekor itu dibagi dua. Empat lawan empat.
Ada tiang gawang. Menempati sebelah kiri dan kanan. Dua
penjaga gawang, satu wasit memimpin per tandingan, dan satu wasit lagi berada
di luar lapangan. Tugasnya membantu wasit pertama. Mulai dari pelanggaran
hingga keluar tidaknya bola dari garis ‘in’ arena pertandingan.
Pertama-tama kedua kesebelasan kucing ini memberi hormat
kepaa penonton. Setelah itu menyalami wasit dan sesama pemain. Bola yang
digunakan adalah bola lembut yang bisa ditiup dan bisa melayang ke udara dan
enak ditendang ke mana suka.
Tim A dipimpin kucing Meong sebagai kiper dan tiga pemain
masing-masing Miing, Meeng dan Meing. Sedangkan Tim B diketuai Moung, juga
sebagai penjaga gawang. Dibantu ketiga temannya masing-ma sing Maung, Maing dan
Maeng.
Mereka kini sudah berada di lapangan. Wasit sudah mengundi
mereka dengan melemparkan koin uang ke udara. Ketika jatuh di lantai pilihan
Tim A berupa burung berada di atas. Jadi Tim A lah yang memulai
pertandingan.
Priiit …
Meong membagi bola ke rekannya Meeng. Bola disundul
melambung. Pemain kedua tim sama berkum pul menunggu bola turun.
Duuup …
Belum sempat menyentuh lantai, Maung berhasil merebutnya
dengan menyundul bola ke arena per mainan Tim A. Karena sangat kuat
menyundulnya, bola melayang-layang mendekati lampu pentas, sebelum akhirnya
nyangkut.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Penonton tertawa melihat para kucing saling melompat.
Bingung bagaimana mengambil bola yang nyangkut itu untuk kemudian dimasukkan ke
gawang lawan.
Priiit …
Wasit meminta para kucing berada dalam posisi masing-masing.
Panitia akan mengambil lebih dulu bola yang nyangkut itu. Karena tinggi harus
menggunakan kursi dan kayu panjang (julukan).
Ha ha ha ha …
Sambil menunggu bola diambil panitia, kedua tim kompak
rebahan dulu di lantai. Enak juga karena sela in lantai yang memang dingin,
juga sejuk dihembus kipas angin dan pendingin ruangan.
Priiiit …
Wasit mengambil bola yang diserahkan panitia. Lalu
dilemparnya ke atas. Pemain kedua tim harus bere butan mengambil itu bola.
Karena berebutan, bola akhirnya menggelinding ke lantai. Berhasil diambil
Maeng. Dia bawa dengan mulutnya. Setengah meter di depan gawang lawan, bola itu
ditaruhnya dan …
Huuup …
Bola ditendang Maeng dengan tangannya. Kena mistar gawang. Memantul kembali mengenai
kepala Maeng.
Ha ha ha …
Maeng terpental. Bola itu berusaha direbutnya, padahal sudah
berada dalam dekapan penjaga gawang Tim A yang dijaga Meong.
Priiit …
Wasit terpaksa memberi peringatan kepada Maeng karena jika
bola sudah berada di tangan kiper, tak boleh lagi diambil paksa.
“Mengerti kan?”
Ngeoooong …
Pertandingan dilanjutkan kembali. Meong menendang bola.
Melambung tinggi. Jatuh di pelukan penjaga gawang Tim B, Moung.
Moung membalasnya dengan tendangan melambung. Karena kuat
ditendang, bola sukses diamankan Meing
dengan kepalanya. Melihat sejenak ke teman-temannya.
Ngeooong …
Dia tak mau memberi bola karena teman-temannya ditempel
ketat tim lawan. Dia putuskan untuk me nendang sekuat mungkin itu bola ke
gawang lawan. Hampir saja masuk kalau tidak ditepis Meong.
Priiit …
Wasit memanggil kedua penjaga gawang. Ada apa? Diberitahukan
bahwasanya bola harus diberikan kepada pemain, boleh dengan melambung atau
menyusur lantai.
“Kalau anda berdua begitu-begitu terus, saling tendang dan
tangkap, teman-teman kalian mau main apa, coba.”
Ngeooong …
Kedua kiper tidak mengajukan protes. Masuk akal juga, kata
keduanya serempak. Tidak seru kalau bola tidak ‘dikelit’ , diover dan ditendang
kea rah gawang.
Meeng mengambil tendangan penjuru. Ditendang, sayang tak
sampai ke depan penjaga gawang. Bola memutar sebelum dinyatakan wasit ke luar
lapangan.
Bola ditendang Moung.
Tidak kuat. Seadanya saja. Lalu digiring Maung dan Maing. Saling mengover bola.
Keduanya berhasil melewati tiga pemain lawan. Tepat di depan gawang, bola
ditendang Maung dan …
Masuuuuuuk …
Satu nol untuk Tim B. Maung dan kawan-kawan merayakan
kemenangan mereka dengan joget kucing. Mengeong sambil menggoyangkan pantat dan
ekornya.
Tertinggal satu nol, Tim A ngotot membalasnya. Bola ditaruh
di tengah lapangan. Diover Miing ke Meeng, langsung ditendang keras ke gawang
lawan.
Moung santai saja. Dia tak bereaksi apa-apa. Hampir
menyentuh lantai, dia gerakkan ekornya, menyen tuh bola sebelum membalikkan
badan, menangkap itu bola dengan cepat.
Penonton bertepuk tangan.
“Gimana Ing. Kalau begini terus bisa kalah kita,” kata Meeng
kuatir timnya bakal kalah dengan kebobolan banyak gol.
“Tenang saja Eng. Serahkan sajalah ke aku,”ujar Miing yang
merasa yakin bisa memasukkan gol ke gawang lawan sebelum babak pertama
berakhir.
Bagaimana caranya?
Miing berpura-pura jatuh. Saat berhadap-hadapan dengan
Maeng, salah seorang pemain Tim B. Dia sengaja membenturkan badannya ke badan
Maeng, lalu menjatuhkan diri.
Priiit …
Wasit yang memimpin pertandingan menunjuk titik putih.
Pemain Tim B mengajukan protes. Karena menurut penuturan Maeng, dia tidak
menjatuhkan Miing, justru Miinglah yang menabraknya sebelum menjatuhkan diri.
Sayang wasit tetap pada keputusannya.
“Bola di sini …” Kata wasit meminta Maeng menyerahkan bola,
lalu diletakkan wasit di titik putih.
Siapa yang mengeksekusinya?
“Kamu aja Eng,” kata Miing.
“Kamu ajalah,” jawab Meeng.
“Udah kalau gitu kamu aja Meing.”
“Enggak ah. Aku tak mau …” Kata Meing. Dia takut bola tak
masuk dia kena sasaran kemarahan rekan-rekannya.
Priiit …
Wasit mendekati ketiganya. Dia menunjuk Miing, menggelengkan
kepala. Meeng sama juga. Meing apalagi.
“Meong …” panggil wast.
Meong pun berlari. Dia mendengarkan saran dan masukan dari
wasit. Kalau tak ada yang mau menen dang, finalty digugurkan. Jadi sebaiknya jangan berpikir yang
macam-macam dulu. Tentukan siapa pe nendangnya. Lalu cepat tendang ke gawang
lawan.
Ngeooong …
Akhirnya Meong, sang kiper bersedia menjadi eksekutor. Bola
siap ditendang. Harus beberapa kali ia menendang. Tendangan pertama tak jadi
karena bola tidak kena saat ditendang.
Ngeooong …
Pada tendangan kedua, Meong terpeleset. Tendangan ketiga,
saat maju ingin menendang, itu bola terbang melayang, jatuh di atas tiang
gawang.
Tendangan keempat, Meong berpikir sejenak. Bagaimana caranya
agar bola benar-benar ditendang dan
tentu menghasilkan gol.
Ngeooong …
Bola ditendang amat kuat. Melambung tinggi. Moung yang
semula berdiri di depan gawang harus memi cingkan matanya untuk melihat arah
jatuhnya bola.
Dia terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Dia
mengira bola akan jatuh dan tepat dia tangkap manakala dia mundur beberapa
langkah mendekati mistar gawang.
Kini posisinya sejajar tiang gawang.
Huuup …
Bola yang sempat melayang ke kiri, berhasil ia tangkap.
Namun badannya sudah masuk sedikit melewati garis gawang. Dengan demikian bola
tangkapan Moung dinyatakan masuk.
Ngeooong …
Meong merayakan gol yang ia lesakkan dengan melompat-lompat,
bergoyang ala kucing. Mereka bergu ling-gulingan. Setelah itu berdiri pelan dan
berjalan mengitari lapangan pertandingan.
“Benar-benar hebat ya Kak,” kata Anita sembari melirik
penonton di depannya yang sedari tadi tak henti-hentinya ketawa.
“Doger!” Sapa Candra. Usai melepas senyum pada Anita, anak
satu-satunya Tuan Rahmat ni mengusap lembut kepala Doger yang cuma diam sejak
tadi. Soalnya, kalau sampai dia menyalak, ramailah penon ton di dalam gedung
pertunjukan.
Priiit …
Babak pertama berakhir.
Sambil menunggu pertandingan babak kedua, pihak panitia sudah menyiapkan
tari anjing.
Kok bisa?
Tentu. Penonton dibuat geleng-geleng kepala ketika sepuluh
ekor anjing masuk panggung lewat pintu samping. Mereka membentuk berbagai
huruf. Mulai dari O sampai Z dengan figurasi yang berubah-ubah sesuai huruf.
Pelatih mereka, seorang lelaki tua kurus kerempeng tapi
tinggi melebihi satu setengah meter, dengan menggunakan tali
memukul-mukulkannya ke lantai berulangkali.
Uniknya, kesepuluh ekor anak anjing itu sangat kompak kala
membawakan tarian baris berbaris. Penon ton bertepuk tangan setelah lima anjing
pertama berjalan rapi sambil menggoyangkan kepala, ekor dan mengangkat tangan
serta kaki mereka secara bergantian.
Lepas itu mereka duduk. Lima ekor kedua jalan mundur sambil
berpegangan. Sementara yang di belaka ng, karena tak ada teman yang memegang
badannya, menggoyang-goyangkan ekornya membentuk huruf S, P dan L.
Penonton kembali
bertepuk tangan.
Penonton, walau tak lebih dari lima menit menyaksikan pertunjukan,
terpuaskan saat kesepuluh ekor anak anjing itu satu persatu berhasil melewati bola api, gawang besi dan kursi
segitiga setinggi satu meter.
VII
PADA babak kedua,kedua tim sama-sama ingin menang. Tak heran
jika pertandingan baru berjalan dua menit, wasit sudah mengeluarkan enam kartu
kuning karena melakukan pelanggaran keras kepada sesa ma pemain.
Meing misalnya. Dia terpaksa menggigit ekor Maung saat
menggiring bola di depan kotak finalti. Walau pun tak mengalami cedera, bola
gagal dilesakkan Maung. Meing mendapat peringatan keras.
“Meing. Sekali lagi kamu melakukan pelanggaran, kamu kena
kartu merah,” kata wasit dengan raut muka marah.
Ngeooong …
Setelah Meing, giliran Maung yang dapat mendapat kartu
kuning setelah dia dengan sengaja, saat be re but bola di udara, mencakar
kepala Meeng sampai berdarah. Sempat mengalami perawatan dari tim me dis, Meeng
yang masih emosi karena dilanggar dengan sengaja oleh pemain lawan, balas
mencederai dagu Maeng dengan kakinya. Jatuh terkapar.
Pertandingan sempat terhenti beberapa menit. Belum dia menit
pertandingan berlansung, giliran Maing mendorong Miing. Jatuh tersungkur.
“Maing. Sini kau!” Wasit marah dan mengeluarkan kartu
kuning. Kartu itu didekatkan ke kumis kucing.
Ngeooong …
Tak lama setelah itu, pertandingan berjalan normal kembali.
Kedua pemain Tim A dan Tim B tampak bermain lepas. Enak ditonton. Sesekali
penonton memberikan tepuk tangan meriah karena atraksi mereka yang memesona dan sungguh luar biasa
Penjaga gawang Meong misalnya. Terpaksa keluar dari
sarangnya saat mengambil bola sepakan Maung yang mengenai mistar gawang.
Bola memantul ke sisi lapangan. Meong berebut bola dengan
Maung. Perebutan bola ini dimenangkan Meong setelah berhasil menendang bola itu
pelan ke kanan. Mengecoh Maung yang terpeleset.
Meing kemudian menggiring bola ke tengah lapangan. Saat itu
ia dihadang Maing dan Maeng. Sesaat ia menghentikan bola. Lalu memandang kedua
pemain lawan sambil tersenyum.
“Ayo Maeng. “Pancing Meing bersemangat.
Maing dan Meng serempak maju. Bola ditaruh Meing di mulutnya. Berhasil mengecoh keduanya lewat jalan tengah
yang terbuka sedikit di antara dua pemain lawan.
Merasa dipermainkan, Maing dan Maeng marah. Saat keduanya
marah, bola sudah berpindah ke kaki Meeng yang menendang bola sambil salto di
udara ke gawang Tim B yang dijaga Moung.
Tidak membuahkan gol memang. Karena Moung berhasil melompat
ke kanan, tepat di pelukannya. Se mentara Meong yang tadinya bertengger di atas tiang gawang sambil
mengeong , menggerak-gerakkan ekornya, sudah turun dan berdiri di depan
gawangnya.
Begitu juga misalnya kala Maeng berhasil melewati Miing.
Membuat deg-degan penonton. Dia meliuk-liukkan badannya, melewati satu persatu
pemain lawan. Nyaris jatuh karena ditekel Meeng, Maeng tinggal berhadapan dengan penjaga gawang.
Ketika satu lawan satu itulah, mungkin karena kelelahan,
Maeng kehabisan nafas. Lalu jatuh, menggele par-gelepar dan tidur.
Priiit …
Wasit menanyai Meong.
“Anda memukulnya Meong?” Tanya wasit.
Meong menggelengkan kepala sebagai isyarat dia tidak melakukan
pelanggaran apapun terhadap Maeng.
Permainan terhenti sesaat.
Wasit mengelus-elus badan Maeng. Lalu menggeliat dan bangun.
Sudah berdiri dan siap melanjutkan pertandingan.
Wasit memutuskan bola dilempar ke atas. Pemain kedua tim
saling berebutan untuk mendapatkan bola. Karena terlalu banyak yang ingin
menyundul bola, secara bersamaan jatuh
bergulingan sementara bola yang sempat terhimpit badan beberapa pemain, kempes
seketika.
Bola ditukar dengan yang baru. Tapi keributan pun terjadi
setelah Miing meninju kepala Maung. Merasa tak terima, Maung balas meninju,
tapi bukan Miing yang dia tinju, tapi Meing.
Sejak itulah mereka saling melayangkan tinju, cakar-cakaran
dan menendang satu sama lain. Wasit yang memimpin pertandingan tanpa ampun
memberikan kartu merah.
Ngeooong …
Pemain kedua tim sama memandang kea rah wasit. Mereka diam
dan mengharapkan wasit mau bermu rah hati menganulir kartu merah kepada pemain.
Apalagi kartu merah bukan untuk satu dua orang pemain. Tapi
keseluruhan tim. Seluruh pemain dinilai wasit sama-sama melakukan pelanggaran.
Ngeooong …
Karena tetap diprotes, akhirnya wasit memperlihatkan kartu
merah kepada enam pemain. Mereka me nunduk dan tidak mau melihatnya. Setelah
itu mereka mencium kaki wasit sebelum berbaris rapi ke luar lapangan.
Pertandingan tetap dilanjutkan, meski hanya dua penjaga
gawang tanpa pemain di lapangan. Awalnya
saling menendang bola yang diarahkan ke gawang masing-masing.
Namun tak lama kemudian, gawang kecil yang bisa dilipat dan
bisa dibawa kemana-mana itu dilepas ol eh penjaga gawang. Diikatkan di bagian
belakang Moung dan Meong. Wasit cuma tersenyum melihat keduanya bermain
bola tanpa penjaga gawang.
Priiiit …
Pertandingan berakhir. Skor 1-1 tetap tidak berubah. Dua
penjaga gawang saling berpelukan, lalu meng hampiri kedua wasit. Mencium tangan
keduanya sebelum keluar panggung bersama keenam teman me reka yang lain.
Layar panggung bergerak menutup sementara arena pementasan.
Memberikan penonton kesempatan untuk beristirahat sambil menikmati bekal yang
mereka bawa dan beli tadinya.
“Panas ya Yul?” Kata Nurbaya menawari rekannya itu es
cendol.
“Mungkin karena kita menontonnya terlalu sinis dan terbawa
emosi,” kata Yuli. Dua gelas es cendol. Sa tu gelas ia berikan kepada suami
tercinta, Darwin.
“Ah, masa?”
“Buktinya kedua anak kita tenang-tenang saja,” jelas Yuli.
Keduanya tak percaya begitu akrabnya Candra dan Anita.
Padahal baru di Gedung Seni inilah keduanya bertemu pandang.
Kok bisa ya?
VIII
“KEJAR Ger …!” Teriak Candra setelah melempar bola ke depan,
jatuh dekat parit.
Doger dengan gagahnya mengejar bola karet berwarna hitam putih yang masuk ke
dalam parit itu. Dia bingung bagaimana mau mengambilnya.
Dia berputar-putar sebentar. Lalu turun ke dalam parit.
Huuup …
Bola berhasil ia ambil dengan tangannya. Setelah bersila
sejenak di atas lapangan rumput, bola itu ia giring dengan tangan dan kakinya.
Tanpa terasa sudah berada di dekat Candra.
“Bagus. Doger sudah pintar,” puji Candra. Kemudian dia
mengajak Doger ke bawah pohon mangga.
Di bawah pohon itu ia pasang besi bulat yang tidak terlalu
tinggi. Besi menyerupai lingkaran bulat itu sengaja dibuat Candra untuk melatih
Doger melompat.
“Doger … sini .. sini.!”
Doger yang sempat tercenung melihat besi terpasang di batang
pohon mangga itu, menghampiri Candra.
“Sekarang Doger melompat. Mau ya.” Candra mengusap lembut bulu yang menutupi
badan Doger yang indah itu.
Doger beraksi dengan berlari ke samping pohon mangga. Seolah
dia tahu bakalan diminta Candra untuk melompat.
Candra ketawa.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Terdengar suara orang bertepuk tangan. Ternyata berasal dari
Tuan Rahmat dan isteri. Keduanya baru pulang dari berbelanja berbagai keperluan
dapur.
Setelah memeluk bergantian kedua orangtuanya, Candra
meneruskan melatih Doger melompat dengan baik dan benar.
“Kesana yuk Pa!” Ajak Nurbaya sembari menarik lembut lengan
suami tercinta. Masih capek, karena ba ru semalam tiba dari luar kota, demi
menyenangkan hati sang isteri, tak apalah sesekali, bisik Tuan Rah mat dalam hati.
“Okeee …”
“Lompat Ger …!”
Doger berlari kencang. Lantaran tak sempat melihat lagi besi
yang harus dilompati, tak jadi melompat
karena terlalu dekat.
Ha ha ha ha …
Tuan Rahmat ketawa.
“Pandai melucu juga Doger ini ya Ma,” kata Tuan Rahmat,
mencium hangat pipi isterinya.
“Okeee … Lari .. lompat.”
Doger tak ingin mengulangi lagi kesalahannya. Makanya dia
kali ini sudah tahu kapan berlari kencang dan kapan pula melompat.
Huuup …
Breeesh …
Plak pak plak pak …
Doger puas karena kali ini dia sukses melompati lingkaran
besi yang tertancap di batang pohon mangga.
Sayang …
“Nyonya … Nyonya!” Teriak Mpok Yeni yang memberi tahu
Nurbaya ada telepon barusan dari Nona Anita.
“Bilang tunggu sebentar,” kata Nurbaya. Saat memberi makan
Doger dengan ciki anjing, ia mendekati Candra. Lalu dengan setengah berbisik
memberitahu Anita telah menunggunya di telepon.
“Tolong Ma, Pa, Dogernya,” kata Candra. Doger yang semula
hendak menyusul Candra, keburu dicegah Nurbaya dan suaminya.
“Sama Nyonya kan bisa,” ucap Nurbaya. Seketika itu juga
Doger mengurungkan niatnya mengikuti
Candra ke ruang tamu. Ia malah keenakan dipeluk dan dibelai-belai
majikannya itu.
“Pa!” Sapa Nurbaya mengisyaratkan pada suaminya agar
meneruskan latihan khusus buat Doger.
Di ruang tamu …
“Lagi ngapain Kak Candra?” Anita membetulkan letak duduknya.
Setelah itu dia memilih untuk duduk menghadap ke jendela kamar.
“Enggak ngapa-ngapain Ta. Cuma ngelatih Doger ajalah.” Kata Candra sambil menyeka peluh di
seputar lehernya dengan handuk kecil.
“Udahan lum ngelatihnya?”
“Belum kayaknya. Tapi tadi sudah mama dan papa yang nerusin.
Beres. Mudah-mudahan lancar dan Doger sudah bisa mengejar, mencari dan membawa
bola serta melompati lingkaran besi …”
Anita berdiri sebentar.
“Kak Can. Ada waktu kagak ya?”
“Selalu ada kalau buat Anita.”
“Bukan. Maksud Nita, bisa enggak ya Kak Candra main gitu ke
rumah sore nanti?”
“Oooo bisa. Emangnya, maaf ya Nita, ada keperluan apa ya?”
“Enggak. Mau ya kakak sore nanti?”
“Mauuu ...”
“Alhamdulillah.” Anita mendekap dadanya. Telepon genggam
lupa dimatikan. Saking gembiranya, dia melompat ke atas tempat tidur.
Berguling-gulingan sebelum akhirnya, seperti ada suara orang mema nggil lewat
telepon genggam, Anita bangun dan …
He he he he …
“Maaf ya Kak Candra. Lupa dimatiin hapenya,” kata Anita.
Malu juga untuk terus terang, akhirnya bilang begini …
“Mata ngantuk setelah makan siang. Ngantuk banget,” jawab
Anita tersipu malu.
“Jam sepuluh gini udah makan Nita. Cepat banget.”
Anita jadi salah tingkah.
“Sori Kak Candra. Salah sebut. Maksud Anita, disuruh mama
ngehabisin sisa sarapan pagi tadi gitu …”
“Oooo begitu. Kakak kira apa. Setahu Kak Candra, jam segini
ibu-ibu baru pulang dari belanja di pasar dan baru akan masak untuk makan
siang.”
Anita ketawa geli. Tapi dia tahan agar tidak kedengaran.
“Nita!”
“Ya kak.”
“Jam berapa ya kira-kira kakak ke rumah nanti? Biar enggak
kesorean gitu.”
“Eeem .. jam limalah kak. Jangan lebih, kurang boleh.”
“Oke … Udahan dulu ya.”
“Ya …”
Celetek.
Telepon genggam dimatikan.
Sore harinya …
Piiiin …
Piiiin …
Piiiin …
Seorang wanita paruh baya bergegas menuju pintu pagar. Belum
sempat kunci pintu pagar dibuka, Candra sudah menyapanya dengan ramah.
“Mbak. Sore!”
“Dik Candra kan?”
“Betul Mbak.”
“Mbak Leni …”
“Oh ya Mbak Leni.”
Dreeeng …
Pintu pagar terbuka lebar.
“Mobilnya juga jangan lupa Dik Candra. Biar lebih aman.”
Mbak Leni mengingatkan.
Dari balik jendela kamarnya, Anita tersenyum bahagia melihat
Candra dengan mobilnya memasuki pela taran rumah. Dia turun dari mobil dengan
berpakaian serba putih.
Candra disambut hangat ibundanya Anita, Yuli. Anita menyusul
dari belakang. Dia taruh sebentar tas jinjingan, menyalami Candra, lalu duduk
dengan membawa tasnya ke dekat sang bunda.
Tak perlu berlama-lama. Usai Nyonya Yuli pamit ke belakang
karena harus ada pekerjaan yang segera dituntaskan, Candra tercenung sesaat
melihat pakaian yang dikenakan Anita.
Baju kaos abu-abu tapi berdasi, celana levis warna biru dengan tas pinggang
kulit melilit di pinggang sebelah kanannya.
“Jadi kita …”
“Ke rumah saki ya Kak Candra.”
Candra mengangguk. Tadinya dia mengira bakal jalan-jalan,
bukan urusan kuliah. Barangkali Anita se ngaja bikin surprise kepadanya sore
hari ini.
Selama dalam perjalanan Anita lebih banyak bercerita tentang
dirinya dan studi akhirnya di fakultas ke dokteran. Bagaimana dia harus
praktik, pengabdian ke masyarakat dengan mengunjungi desa yang teri solir dan
membutuhkan pengobatan dengan cuma-cuma.
“Kak Candra gitu juga kan?”
Canda ketawa.
“Kok ketawa sih Kak. Eggak lucu ah,” kata Anita. Dia
mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Sejauh mata memandang jalan
beraspal mulus dengan kiri kanan areal persawahan yang indah serba hijau
membentang.
“Sibuk juga Nita. Tapi Alhamdulillah bisa teratasilah.
Sebentar lagi ujian dan tak lama setelah itu wisuda.”
“Terus …”
“Melamar kamu.”
Hek hek hek
hek …
Syiiiiit …
Dreeep …
Candra menghentikan laju mobilnya dekat trotoar setelah
melihat Anita terbatuk-batuk.
“Nita. Kamu tak apa-apa kan?”
“Enggak. Cuma batuk biasa saja.”
Dari balik tempat duduknya , Candra mengambil sebotol air
minuman.
“Minum ya!”
Candra tak segan menuangkan air mineral itu ke mulutnya
Anita. Mulanya keberatan. Tapi, melihat ke lembutan dan keikhlasan hati cowok di dekatnya ini, tak sampai hati dia
menolaknya.
Apalagi sayup-sayup terdengar dari radio senandung ‘I Love
How You Love Me’ nya Kohier/Monn …
“I love how your eyes close
Whenever you kiss me
And when I’m away from you
I love how you miss me
I love the way you aways
Treatme tenderly
But darling most of all
I love how you love me
I love how your heart
Beats whenever I hold yu
I love how you think of me
Without being told to
I love the way your touch
Is always heavenly
But darling most of all
I love how you love me
I love how you hug me
I love how you squeeze
me
Tease me
Please me love
How you love me
I love how you
love me …”
IX
“DOGER … Doger …!” Teriak si Pipit. Dia sudah lama singgah
di kediaman Tuan Rahmat. Dia kini harus terbang berpindah-pindah tempat.
“Aku belum lihat dari tadi,” kata teman si Pipit yang sudah
lebih dulu bertengger di pohon mangga.
Sudah beberapa hari ini dia belum melihat Doger.
“Tapi aku yakin dia masih di rumah ini,” kata teman si
Pipit.
“Mudah-mudahan saja.”
Tak lama kemudian keluarlah Doger dari pintu belakang.
Berlari-lari ke sana kemari. Tak peduli ada Pipit di pohon mangga. Bukan
sombong tapi dia tidak tahu temannya itu datang dan singgah lagi ke tempat di
mana ia sering bertengger.
“Doger …”
Doger mendongak ke atas. Lama dia memandang. Lalu tersenyum
lega setelah tahu yang memanggil na manya barusan adalah si Pipit, teman
curhatnya.
“Apa kabar Ger,” kata si Pipit terbang rendah ke atas tiang
ayunan.
“Baik, kabarku Pit. Kamu sendiri gimana. Sudah lama aku tak
melihat kamu.”
Si Pipit ketawa.
“Aku sedih Pit. Aku cari kamu. Aku kira kamu sudah pindah
jauh.”
“Maafkan aku Ger. Aku tak memberitahumu karena beberapa hari
ini aku memang berpindah-pindah tempat untuk mencari makanan. Untunglah kemarin
aku baru ingat kamu Ger. Aku ingin melihat keada anmu. Bukankah kau cerita
kepadaku soal keluh kesahmu. Mumpung aku singgah di sini, bagaimana ke lanjutan
curhatmu dulu, Ger?”
“Alhamdulillah,” jawab Doger. Ketawa ceria. Tampak sekali di
mata Pipit, Doger lebih segar, sehat dan gemuk. Bulunya semakin indah dan
berkilau. Badannya bersih, sangat terawatt.
“Kamu kelihatan lebih segar, Ger. Coba ceritakan kepadaku
apa yang membuatmu lebih senang dan lebih bugar hari ini …”
Mulanya Doger enggan bercerita soal kehidupannya kini
bersama Tuan Rahmat. Tapi dia tak tega juga melihat sohibnya yang sudah
jauh-jauh datang menjenguk hanya bisa memendam rasa kecewa.
“Boleh Pit,” kata Doger. Pipit lega. Dia siap menjadi
pendengar yang baik buat Doger.
“Sejak kehadiran tuan muda Candra, aku sekarang sudah bisa
mengejar dan menangkap bola, Pit.”
“Oh ya? Baguslah itu Ger. Senang sekali aku mendengarnya.
Teruskanlah ceritamu …”
“Tuan muda mengajariku bagaimana mengejar bola, mencari dan
sampai menemukannya. Aku senang Pit. Karena lambat laun aku sekarang sudah
terbiasa menangkap bola.”
“Yang lain ada Ger?”
“Aku juga diajari melompati lingkaran. Jadi ada besi yang
berbentuk bulat. Besi itu tuan muda pakukan ke batang pohon. Nah, oleh tuan
muda aku disuruh berlari lebih dulu. Setelah dekat lingkaran besi tadi aku
melompat masuk dan melewati lingkaran bulat itu.”
“Kamu suka Ger?”
“Suka Pit. Dengan aku bisa melompat berarti aku tak perlu
berpayah-payah lagi mengejar.”
“Maling maksudmu?”
“Betul Pit.”
Pipit pun tiba-tiba ingat dengan rencana mereka dulu
menemukan siapa pelaku yang menyebabkan matinya ayam Tuan Rahmat.”
“Kamu masih ingat kan Ger?”
“Masih Pit. Aku masih ingat suara langkah kaki dan pintu
yang tiba-tiba terbuka. Lalu tertutup lagi.”
“Apa rencanamu selanjutnya Ger?”
“Belum ada Pit,” jawab Doger seadanya.
“Kenapa Ger? Apa kamu takut?”
“Tidak Pit. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bersemangat lagi
untuk mencari tahu penyebab matinya se pasang ayam milik Tuan Rahmat. Mungkin
karena aku sekarang punya kesibukan baru. Belajar berbagai kepandaian hewan
anjing seperti aku.”
“Menurutku, kamu tak boleh begitu Ger. Itu artinya kamu
sombong, congkak dan memandang remeh suatu urusan.”
“Tidaklah Pit. Sifat-sifat buruk seperti itu tak pernah ada
dalam hidupku.”
“Itu katamu Ger. Tidak demikian kataku dan teman-teman yang
lain. Jadi menurutku, sambil kau berla tih, tetaplah kau cari tahu masalah yang
dihadapi tuan dan nyonya dulu. Gunakanlah keahlianmu untuk menemukan siapa
pelakunya. Kalau kau butuh bantuanku, aku siap membantumu kapan saja.”
“Tapi bagaimana aku meminta bantuanmu sementara kau sekarang
sudah jarang kemari?”
Si Pipit ketawa.
“Mudah itu Ger. Tak usah kau pikirkan itu. Yang penting
sekarang, sebelum aku pergi, kau katakanlah du lu, kapan aku datang lagi.
Setelah itu, sesuai hari yang telah ditentukan, aku siap datang kemari. Mudah
bukan?”
Doger ketawa lebar.
Dia setuju dengan masukn Pipit barusan. Dia dan Pipit
sepakat malam ini juga keduanya bertemu kem bali, untuk sama-sama menyelidiki kasus yang sempat bikin keki
Doger dan burung pipit yang baik hati.
Malam cerah.
Bulan bersinar terang.
Tuan dan Nyonya Rahmat barusan masuk ke kamarnya. Mpok Yeni
masih menyeterika pakaian di kamar belakang, sedangkan Candra sibuk di depan
komputer selepas Magrib tadi.
Diam-diam Doger menuju pintu belakang. Dia buka pintu yang
sudah terkunci itu dengan mulut dan ta ngannya. Sebelum duduk di ayunan dia
tutup rapat lagi.
Sambil menunggu Pipit, Doger tertidur. Dalam tidurnya ia
bermimpi bertemu orang yang membunuh ayam majikannya.
Pertemuan itu sangat sederhana. Si pelaku menghadang Doger.
Ia mengaku telah mencekik mati ayam Tuan Rahmat dan mengganggu ketentraman
pengusaha besar itu.
Dia menantang Doger untuk menangkapnya. Lepas itu, Doger pun
terbangun.
“Doger …”
“Doger …”
“Doger …”
Si Pipit menyadarkannya.
X
“NAH, itu dia Ger. Hati-hati.!” Bisik Pipit. Dia melihat
sesuatu bergerak dekat pohon mangga. Doger yang diberitahu Pipit hendak
mendekatinya. Namun dicegah Pipit karena belum tahu apakah itu hanya dedau nan
yang bergerak ditiup angin, ataukah memang makhluk asing yang tidak kelihatan.
Jreeesh …
Doger dan Pipit mengikuti arah tapak kaki yang layaknya
orang berjalan menuju pintu belakang. Sesaat senyap, lalu …
Kletek …
Greeeg …
Ceuuuuth …
Pintu terbuka. Lalu ditutup lagi. Doger dan Pipit belum
beranjak dari balik tiang belakang rumah. Kedua nya baru masuk setelah
benar-benar dirasa aman.
“Kayaknya kesana Pit.” Bisik Doger menunjuk ke kanan. Dapur.
“Hati-hati,” pesan Pipit.
“Siap Bos.”
Mereka tidak lagi melihat tapak kaki, tapi ada seperti
tangan yang mengutak-atik piring dan gelas.
“Mau makan kayaknya.” Pipit mengamati penuh selidik.
Tak lama kemudian tutup panci wadah nasi terbuka. Terdengar
suara orang mengambil nasi. Tak lama.
Karena setelah itu tutupnya panci ditutup lagi. Suara itu kemudian beralih ke
meja makan.
Cuuuur …
Gleeeg … gek …
“Minum dia, Pit.” Kata Doger. Herannya Doger tak terlihat
wujud makhluk apa gerangan yang sedang makan malam di meja makan itu.
Keduanya hanya bisa melongo ketika penutup hidangan yang
menyerupai payung itu terbuka. Lauk di piring seperti ikan, ayam dan sayur
mayur ludes seketika.
Setelah hidangan di atas meja makan ditutup lagi dengan
‘songkok’, si makhluk tak kasat mata itu menu angkan air dari termos ke dalam
gelas berukuran besar.
Glek gek …
Akkkh ..
Eeeekh …
Kekenyangan.
Doger dan Pipit yang bersembunyi di balik lemari dekat
kompor gas bengong. Tak tahu harus berbuat apa. Keduanya malah tak berani
bertindak. Karena yang akan ditindak juga tidak kelihatan. Makhluk halus atau
manusia jadi-jadian kah?
“Sebaiknya kita tunggu saja,” saran Doger. Keduanya menunggu
reaksi berikutnya si makhluk aneh itu.
Klik …
Deeep …
Lampu dapur dimatikan. Doger dan Pipit mulai mendekati pintu
dapur setelah si makhluk menutup pintu menuju ruang keluarga.
Di sana ada Candra sedang tertidur pulas. Sedangkan pesawat
televisi masih menyala. Kemudian kursi Candra bergerak dan bergeser ke samping
kiri dekat jendela. Begitu juga dengan meja. Jadi ruangan ba gian tengah tampak
lebih luas. Hanya hambal permadani yang terhampar.
Ada beberapa buah bantal berjejer di kursi sofa. Dua di antara enam bantal itu
bergerak seperti ada yang menggerakkannya. Melayang rendah, lalu berhenti dan
turun tak jauh dari pesawat televisi.
Bersamaan dengan agak mengerasnya volume suara televisi,
sehingga kita yang menonton jadi tahu apa yang diomongi penyiar, suara langkah kaki yang semula
hilang, kini terdengar lagi.
“Kelihatan enggak Ger?”
“Enggak …”
Doger menggelengkan kepala. Belum sempat mencari tahu asal
suara tapak kaki itu, terdengar suara
orang mengorok. Tidur lelap.
Doger dan Pipit mendekati Candra. Keduanya tampak lemas
setelah tahu tuan muda yang ganteng itu juga tidur pulas. Tak ada cara lain
selain menunggu Candra terjaga dari tidurnya.
“Sampai kapan Ger?”
“Kita tunggulah dulu.”
“Aku mengantuk Ger. Aku tidur duluan ya,” kata Pipit.
Kini, setelah Pipit tertidur pulas, Doger berusaha untuk
tetap terjaga. Dia penasaran. Dia ingin
melihat kejadian berikutnya. Maka itu, dia berjaga-jaga di bawah kursi tak jauh
dari makhluk tak bersuara itu tidur.
Heeerg h…
Heeergh …
Heeergh …
Doger hanya mendengar suara dengkur Candra dan makhluk tak
nyata itu. Sedangkan Pipit bergerak-gerak . Tidurnya lucu. Pejam melek. Mata
terpejam, melek lagi. Begitulah berulangkali.
Fleesh …
Leeep …
Pesawat televisi mati seketika. Disusul lampu ruang
keluarga. Doger yang semula bersikukuh hendak berjaga-jaga sampai tuan muda
terbangun dari tidurnya, tak kesampaian.
Dia tertidur juga. Nyenyak nian tidurnya malam ini. Bangun
menjelang pagi. Ketika bangun, makhluk incaran mereka sudah tidak ada lagi di
ruangan keluarga.
“Doger …”
Doger membiarkan badannya dipeluk Tuan Candra.
Mengusap-usapnya penuh kasih sayang. Sedangkan Pipit sudah tidak ada lagi. Dia
sudah terbang mencari makan.
Doger tahu tuan mudanya tak tahu kejadian semalam. Bagaimana
serunya makhluk tak berwujud masuk rumah lewat pintu belakang.
Si makhluk memang tidak mencuri. Mengambil satu pun benda
berharga di dalam rumah. Namun yang membuat kaget Candra, saat dia ke dapur,
lauk pauk yang masih tersisa banyak semalam di atas meja makan sudah tak
bersisa lagi.
Siapa yang menyantapnya?
Dia tanya Mpok Yeni yang sedang mencuci pakaian di kamar
mandi. Tidak ada jawaban selain mengge lengkan kepala.
Karena kedua orang tuanya masih tertidur pulas di kamar,
Candra tak berani membangunkan mereka. Lagi pula hari masih pagi. Belum pukul
enam. Orang salat subuh di masjid baru saja pulang ke rumah masing-masing.
“Doger.”
Candra bertanya pada Doger. Walau sekadar iseng saja, Doger
kemudian mengajak tuan mudanya itu ke belakang rumah. Di sana masih ada jejak
telapak kaki.
Tapi kaki siapakah?
Doger kemudian mengajak Candra ke dapur. Dia melompat ke
atas rak piring. Lalu mengotak-atik piring dan gelas.
Heeep …
Doger melompat ke meja makan. Piring lauk yang kosong ia
jejerkan. Juga gelas air minum. Kemudian dia duduk santai di kursi,
menghadapkan mukanya ke piring dan gelas.
“Terima kasih Ger,” ucap Candra. Dia tersenyum dan terus
mengiringi ke mana Doger pergi.
Rupanya Doger menuju ke ruang tamu. Lalu menekan tombol
penyala pesawat televisi. Dan meminta tuannya memindahkan channel.
“Ini Ger?”
Doger menggelengkan kepala.
“Ini Ger?”
Doger masih menggelengkan kepala ketika Candra
memperlihatkan channel olah raga sepakbola.
Candra berpikir sejenak.
“Mungkin yang ini,” kata Candra dalam hati.
Dia alihkan channel
ke tempat yang tidak ada sinyal kecuali warna biru langit.
Doger mengangguk.
“Yah, inilah …”
Mulai ada titik terang. Setelah Doger mengangguk, Candra
menuju pintu belakang. Dari luar keduaya antri memasuki pintu.
Doger meminta tuannya terlebih dulu yang masuk. Pintu
ditutup tapi tidak dikunci. Kemudian Doger membukanya, lalu ditutup lagi.
“Doger.”
Doger mencium kedua belah pipi Candra. Ia lalu mengajak
Candra duduk di ayunan. Ada seekor burung pipit
terbang dan singgah bertengger dekat ayunan.
Karena sudah saling kenal mengenal, burung pipit itu pun
hinggap di kaki Candra. Lalu mengitari Doger.
Si Pipit hanya diam saat kepalanya dielus-elus Candra. Dipegangnya
dengan penuh kelembutan, lalu diajaknya bersiul.
Walau siulan burung pipit tak seindah burung kutilang, bagi
Candra lebih dari cukup setelah tahu dia Pipit sangat akrab dengan Doger
yang sendirian di rumah.
Candra memang tak hendak berlama-lama dengan Doger dan
Pipit. Kehadirannya justru akan menggang gu keakraban mereka berdua. Buktinya,
ketika Candra berlalu pergi, Doger tidak menyusulnya.
Kemana gerangan perginya Candra?
Tak kemana-mana. Dia berada di ruang tamu sebentar. Lalu
menelepon Anita. Memberitahu kekasihnya itu
kalau dia ingin bertemu dengannya.
Lepas itu dia mandi. Setelah sarapan pagi, dia ikut
mengantar ayahnya berangkat kerja. Dengan isterinya dia pamitan. Baru setelah
itu, keluarlah sebuah mobil sedan warna putih dari garasi.
Guk … guk … guk …
Doger mengejarnya. Dari balik kaca spion dia melihat Doger
berlari –lari kecil menghampiri Tuan Rah mat.
Cuuup … cuuup …
Mencium pipi. Dia tak ikut naik, masuk ke mobil. Padahal
sudah ditawari Candra. Doger justru kembali ke belakang, menemui si Pipit yang
setia menunggunya.
XI
ATAS saran Anita, sore harinya mereka berdua berkunjung ke
kediaman Bang Husin. Orang pandai di kota ini. Selain berceramah, dia juga
punya usaha kecil-kecilan, di antaranya warung sembako dan cucian mobil.
Tapi sebagian besar orang banyak yang belum tahu. Ternyata
ustad yang masih muda usia ini punya ke ahlian khusus di bidang supranatural.
Mereka yang kemasukan jin, diguna-gunai, dan rumah berhan tu, seringkali
meminta bantuan pada lelaki yang sudah bergelar haji dan beberapa kali menunaikan ibadah umrah
ini.
Bang Husin yang sudah banyak menolong orang ini, dalam
praktiknya tidak pernah memungut bayaran sepeser pun. Hanya sukarela dan
seikhlas pasiennya saja. Mau kasih banyak diterima. Sedikit tidak dito lak, tak
dikasih juga tak apa-apa.
Ketika Candra dan Anita berkunjung ke kediaman Bang Husin,
banyak pasien yang berobat. Pelataran yang luas itu disesaki warga yang sejak
pagi tadi sudah antri menunggu panggilan untuk dilakukan pemeriksaan dan
pengobatan.
Anita dan Candra menempati kursi dekat pohon belimbing
setelah mencatatkan nama lengkap mereka dengan nomor urutnya di buku ‘Daftar Pasien yang Berobat.’
“Enggak apa-apa kan Anita?” Tanya Candra, memberikan tissue
untuk menyeka peluh di seputar leher Anita.
“Enggak,” jawab Anita, mengambil sebotol air minum dari
dalam tasnya.
“Maksud Kak Candra, supaya kamu enggak capek atau ada
kerjaan lain, antar pulang ya?”
Anita menggelengkan kepala.
“Benar enggak?”
“Benar Kak. Masa Anita bohong.”
“Enggak nyesel?”
“Enggak. Kenapa Kak Candra usil banget sih?”
“Bukan usil. Ini kayaknya lama dong Nita. Mungkin sampai
malam. Maksud Kak Candra, kamu pulang duluan. Kakak antar kamu. Kemudian biar
Kak Candra sendirian saja kemari lagi. Begitu …”
“Enggak usah Kak Can. Lagian enak kok di sini. Hati ini Nita
lagi kagak ada kegiatan di rumah sakit. Gan tian teman Nita yang masuk. Besok giliran Nita yang masuk,” terang Anita.
Tatapan matanya menari-nari di sela kaki pasien yang duduk mengantri di sebelahnya.
“Kak,” bisiknya pada Candra. Dia lihat sandal yang dikenakan
Candra terbalik. Kiri ke kanan, kanan di kiri. Luput dari perhatian pasien yang
menunggu panggilan.
“Kok bisa ya?”
“Kakak enggak lihat apa?”
“Lihat. Tapi sepintas saja,” bisik Candra. Tukar posisi
sandal, lalu …
“Terima kasih ya Nit atas perhatiannya.”
“Gitu aja?”
“Iyalah. Emangnya Nita mau …”
“Ada deh …”
“Malu ah ditengokin orang …”
Anita tertawa.
“Kok ketawa?”
“Kak Canda pikirannya
jorok selalu. Bukan yang itu …”
“Lalu yang mana?”
“Traktir makan.”
Anita tersenyum lebar. Sekadar senda gurau. Candra yang
semula ingin mengajaknya ke warteg tak jauh dari kediaman Bang Husin, ketawa
juga akhirnya. Dia tak menyangka Anita punya selera humor yang ting gi.
“Candraaaa …!” Panggil salah seorang karyawan Bang Husin
lewat pengeras suara menjelang Magrib.
Candra yang semula tak menduga namanya dipanggil, sambil
membungkukkan badan, berjalan beriri ngan dengan Anita melewati puluhan pasien
yang masih antri menunggu.
Keduanya disambut ramah Bang Husin yang lesehan di atas
hambal tebal berwarna merah bermotifkan bunga di tengah ruangan. Luas, mampu
menampung lebih dari lima puluh orang. Tempat ini sering dija dikan temu
majelis taklim ibu-ibu dengan mengundang penceramah yang juga wanita.
“Abang sudah tahu, Dik ..”
“Candra Bang,” kata Candra sambil menundukkan kepalanya.
“Ya Dik Candra. Nanti abang kesana entar malam,” janji Bang
Husin.
“Sekalian kami …”
“Tak usahlah Dik Candra,” kata Bang Husin ketawa lebar.
“Capek kalian menunggu. Abang punya sopir. Nanti beliau yang antar abang.
Pokoknya Dik Candra tunggu saja di rumah. Bagaimana?”
“Apa Bang Husin yang kira-kira harus dipersiapkan?”
“Enggak ada untuk sementara …”
Candra dan Anita berbincang sejenak.
“Kalau begitu kami pamit dulu Bang Husin,” ucap Anita.
“Baiklah.”
Anita tampak lega. Lain halnya dengan Candra. Di benaknya
masih menyimpan tanda tanya besar.
“Udah Kak Candra.
Nanti rontok semua rambut kakak berpikir terus. Apalagi yang dipikirin
yang enggak-enggak …”
“Yang enggak-enggak gimana?”
“Soal Bang Husin tadi kan? Udah. Udah Anita omongin semuanya
dari A sampai Z. Pokoknya tenang aja lah Kak Candra. Abang husin datang, Kak
Canda sambut dan turuti saja apa yang dia omongin. Unders tand?”
Syiiiit …
Mobil berhenti.
“Apa Nita perlu juga datang wahai kakak ter …”
“Ter … ter apa. Ayo …”
Canda dengan sengaja memeluk Anita sebelum kekasihnya itu
menjawab kalimat yang terputus darinya. Pelukan itu begitu lembut dan penuh
kasih sayang bagaikan antara seorang kakak kepada adiknya.
“Kakak antar pulang ya?”
Anita yang tadinya
begitu bersemangat dan riang kala berbicara, berubah lembut setelah
dipeluk Can dra, orang terdekatnya saat ini.
Ia tak juga menjawab pertanyaan Candra barusan. Ia hanya
menjawabnya dengan pelukan yang untuk sementara jangan dilepaskan dulu. Biar
terasa lebih indah dan semakin mendekatkan hati yang sering kali masih
menduga-duga ini.
“Nita …”
Anita mengangkat mukanya.
“Kakak antar pulang ya?”
Anita mengangguk.
Mobil pun melaju. Yang ada di benak Anita adalah sesuatu yang berbeda ia rasakan malam
ini. Demikian pula halnya dengan Candra. Bedanya, Candra lega karena Bang Husin
telah tahu semua kejadiannya.
Maka itu, ketika menyambut lelaki tinggi semampai itu,
Candra tampak lebih rileks dan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Terutama ketika kedua orang tuanya asyik bertanya
sesuatu yang mereka belum mengerti duduk soalnya.
“Kita mulai saja ya,” kata Bang Husin. Ditemani Candra, dia
pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Bang Husin memang sengaja mengajak Candra dan orang tuanya,
termasuk Mpok Yeni untuk menunai kan salat Isya berjamaah di ruang tamu yang
lumayan besar dan luas.
Seusai salat, Bang Husin memanjatkan doa agar dijauhkan
bala’, dimudahkan segala urusan dan mendapat perlindungan dari-Nya.
“Dik Candra. Tolong ambilkan air putih segelas,” pinta Bang
Husin. Dia berdiri kembali, menunaikan salat sunnat dua rakaat.
Kepada Candra, dia berpesan agar tetap berada di
belakangnya. Menunggu sambil berdoa tanpa bersua ra, meminta supaya hajat bisa
dikabulkan.
Bang Husin mulai berzikir dengan mata terpejam. Lalu zikir
itu pun terhenti sejenak. Mulutnya terkatup rapat. Dia kini tanpa ekspresi.
Diam mematung.
Tak lama kemudian, mulut itu berzikir lagi. Lalu
bergerak-gerak seperti sedang berbicara dengan sese orang, entah siapa. Sayang,
Candra tak mendengar sepatah katapun selain jari jemari memegang tasbih itu
bergerak-gerak mengikuti gerakan mulut yang bergerak lambat.
Hening seketika. Badan Candra tiba-tiba dingin padahal
AC di ruang tamu baru saja dimatikan.
Doger tak berani mendekat. Dia duduk dekat pintu belakang rumah. Sedangkan si
Pipit baru saja terbang menuju tempat lain yang ia tinggalkan bersama anaknya
sejak pagi di sungai seberang.
Tuan Rahmat dan Nurbaya hanya menunduk. Begitu juga dengan
Mpok Yeni. Bang Husin masih dalam zikirnya. Candra berharap semua berjalan
lancar.
“Alhamdulillah,” ucap Bang Husin setengah jam kemudian. Dia
menyalami Candra, disusul Tuan Rahmat, Nurbaya dan Mpok Yeni.
Berempat duduk lesehan menghadap ke Bang Husin yang juga
lesehan. Ibarat guru dan murid, satu memberitahu, yang lain tekun mendengarkan.
“Jadi Dik Candra, Pak
Rahmat dan semuanya. Saya baru saja mengajak beliau itu berbicara,” kata Bang
Husin.
“Beliau itu siapa Bang, kalau boleh tahu?” Tanya Candra
ingin tahu.
“Beliau itu adalah penunggu rumah ini. Baik dan tidak mengganggu.
Mau dia diajak berteman …”
Semua khusyuk menyimak.
“Soal beberapa kejadian yang dialami seperti ayam mati dan
lain-lain, semuanya itu biasa-biasa saja. Tak usah terlalu dipikirkan. Beliau
berjanji, insya Allah tidak akan terjadi lagi di hari-hari berikutnya. Cuma
beliau juga minta tolong …” Bang Husin minum sebentar, lalu memuji kebesaran
Allah SWT.
“Minta apa Bang Husin?” Candra sudah tak sabar mendengarnya.
Mudah-mudahan saja tidak sulit dan mudah dipenuhi permintaan itu.
XII
“JAGALAH salat dan perhatikanlah anjing kalian yang bernama
Doger itu,” jelas Bang Husin dengan suara lantang dan enak didengarkan.
Tuan Rahmat, Nurbaya dan Candra merasa malu karena selama
ini mereka jarang menunaikan salat lima waktu dengan alasan sibuk urusan
masing-masing.
“Apapun sibuknya kalian, salat tetap harus dikerjakan.
Karena itu wajib dan perintah Allah SWT itu wajib ditaati. Bagi yang
melanggarnya akan mendapatkan hukuman kelak di akherat,” terang Bang Husin.
Terkait soal Doger, kata Bang Husin, harus dicarikan tempat
lain. “Jangan di dalam rumah,” katanya. Di tempatkan di kebun, misalnya.
Tugasnya untuk menjaga tanaman atau kebun agar bisa terhindar dari orang yang
bermaksud jahat.
“Adanya anjing dalam rumah seorang muslim memungkinkan
terdapatnya najis pada bejana dan seba gainya karena jilatan anjing itu,” kata
Bang Husin dengan nada lemah lembut.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila anjing itu menjilat
dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan
tanah,” jelas Bang Husin.
Hikmah dilarangnya memelihara anjing di rumah, kata Bang
Husin, kalau anjing menyalak dapat mena kutkan tamu yang datang. Orang akan
enggan datang bertandang, tentu saja dapat mengganggu kenya manan orang yang
sedang berjalan.
Baginda Rasulullah SAW pernah mengatakan:
“Malaikat Jibril datang kepadaku. Kemudian dia berkata
kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun
menghalang-halangi aku untuk masuk kecuali pintu di rumahmu itu ada patung dan
di dalamnya ada gorden yang bergambar, dan di dalam rumah itu juga ada anjing.
Oleh karena itu, perintahanlah supaya kepala patung itu
dipotong untuk dijadikan seperti keadaan po hon dan perintahkanlah pula supaya
gorden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan perintahkanlah
anjing itu supaya dikeluarkan.”
“Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, An-Nasa’I,
Tarmidzi dan Ibnu Hibban,” terang Bang Husin.
“Seperti yang saya katakana tadi, anjing yang dilarang dalam
hadist ini hanyalah anjing yang dipelihara tanpa ada keperluan,” jelas Bang
Husin. Dia meminta Tuan Rahmat untuk rileks dan tenang menghadapi masalah ini.
“Tapi Bang Husin, sepertinya sayang sekali melepas si Doger
ini. Bukan apa-apa. Tapi sudah begitu akrab sama kita di rumah ini,” ungkap
Candra, meminta Bang Husin mempertimbangkan faktor kedekatan Do ger dengannya
dan kedua orang tuanya.
Ha ha ha ha …
“Betul Bang Husin,”
sahut Nurbaya. “Rasanya berat sekali melepas Doger ini. Sudah seperti keluarga
sendiri. Lagian dia tidak mengganggu siapapun, termasuk pembantu saya, ayahnya
Candra dan juga Candra.”
Ha ha ha ha …
“Eeeem … Bagaimana dengan Pak Rahmat sendiri. Mungkin ada
usul?”
Tuan Rahmat kini sudah bisa tertawa. Kenapa? Di benaknya
kini sudah ada solusi. Anjing dilepas, sebagai penggantinya kucing.
“Bagaimana Pak Rahmat?”
“Saya sudah putuskan Bang Husin. Si Doger kita tempatkan di
kebun kami, dan sebagai penggantinya kami akan datangkan seekor kucing yang
bagus.”
“Alhamdulillah,” ucap Bang Husin lega.
Dia mengingatkan sekali lagi, dilarangnya kita memelihara
anjing di dalam rumah, bukan berarti kita bersikap keras terhadap anjing atau
kita diperintahkan untuk membunuhnya. Sebab, Rasulullah SAW sendiri pernah
bersabda:
“Andaikata anjing-anjing itu bukan umat seperti umat-umat
yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” Hadist ini, terang Bang
Husin, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan At-Tarmidzi.
Rasulullah SAW juga pernah mengisahkan kepada para
sahabatnya tentang seorang laki-laki yang men jumpai anjing di padang pasir.
Anjing itu menyalak-nyalak sambil makan debu karena kehausan. Lantas orang laki-laki tadi menuju sebuah
sumur dan melepas sepatunya, kemudian dipenuhi air. Lantas minum lah anjing
tersebut dengan puasnya.
Setelah itu Nabi SAW pun bersabda:
“Karena itu Allah SWT berterima kasih kepada orang yang
memberi pertolongan itu dan mengampuni dosanya.”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar