Minggu, 05 Februari 2017

Ki Saleh (6)





Novel  Lepas

Ki Saleh (6)
Edisi Keenam
By  Pak Amin


XX
“HALO semuanya.  Maaf terlambat,” kata Mang Jaiz setelah menyandarkan sepedanya dekat tugu.
Mang Kur Cs terkejut.
“Kemano bae kau Mang?” Tanya Mang Kur sambil mengusap keringat yang membasahi  mukanya dengan tangan.
“Pecah ban sepeda aku. Jadi kudorongla. Kadang-kadang kupikul supayo gancang,” ujar Mang Jaiz.
“Tadi kami sempat ke rumah kau. Kau dak katik,” kata Mang Dul. Masih sempat merokok padahal badan lemah berkeringat.
Mereka sepakat beristirahat lebih dulu di dekat tugu. Ad ataman.  Taman ni ditumbuhi rerumputan. Bersih. Jadi bisa duduk berleha.
“Pas nian,” kata Mang Jaiz kegirangan.
“Pas apanya Mang Jaiz?” Ki Saleh mengingatkannya untuk tidak berlari karena salah kaki menginjak bisa terluka.
“Tenang saja Ki Saleh,” jawab Mang Jaiz dengan raut muka ceria.
Ada apa dengan Mang Jaiz?
Ternyata dia membawa bekal air kopi dan sedikit gorengan. Air kopi dalam gelas besar dan beberapa ca ngkir plastik bersama gorengan ubi dimasukkan ke dalam sangkek rotan yang digantungkan di stang se peda.
Teman-temannya, terutama Sakul dan anak buahnya pada melongo menyaksikan betapa riangnya Mang Jaiz membawa sangkek besar. Kedua kakinya diangkat silih berganti. Sementara mulutnya tak henti bersi ul.
“Ahaaa … Aku sengaja bawakan ini untuk kalian,” ucap Mang Jaiz.
Sangkek itu ia taruh di atas semen bawah Tugu Falah. Gelas ia rapikan, berikut air kopi manis dan gore ngan.
“Silakan teman-teman …!” Mang Jaiz mempersilakan Mang Kur dan kawan-kawan mencicipi gorengan sambil menyeruput air kopi hangat.
“Kebetulan sekali. Aku duluan ya.” Mang Kur menuangkan air kopi ke cangkir, lalu diminumnya. Sedang kan rekannya yang lain berebutan mengambil gorengan ubi kayu dan ubi selo.
Essssst …
Cep  cep cep …
Tik tik tik …
“Enak juga kopimu ini Mang Jaiz. Kau yang bikin apa isterimu?” Tanya Ki Saleh penasaran. Baru kali ini dia merasakan betapa enaknya minum air kopi manis.
“Akulah Ki.”
“Kenapa enggak isterimu, Mang?”
“Kasihan Ki. Soalnya, tidurnya pulas nian. Jadi, akulah yang bikin dan siapkan semuanya ini. Sengaja dan khusus untuk kalian lah.”
“Jadi kamu memang sengaja tak datang lebih cepat ya Mang?” Sindir Mang Dul. Sebelum minum, ia bau asap air kopi. Sedaaaap sekali.
“Bukan begitu Mang. Aku sudah cepat datangnya. Tapi karena ban sepedaku kempis, apa kurang angin  atau bocor, terpaksa aku jalan kaki. Sepeda kudorong, sesekali kupikul biar cepat sampai di sini.”
“Ya sudah Mang Jaiz. Terima kasih kopi dan gorengannya,” kata Ki Saleh.
“Sama-sama Ki.”
“Aku juga,” sahut Sakul yang sejak tadi lebih banyak diam karena ingin menikmati air kopi dan gorengan buatan Mang Jaiz.
Sampai Subuh mereka mengaso di bawah tugu. Menunggu hari terang. Sebelum pulang, mereka menye mpatkan diri menunaikan salat di masjid terdekat. Ada kelapangan, kenyamanan dan untuk berbuat ya ng terbaik. Berusaha sungguh-sungguh dan menyayangi sesama.
Keesokan harinya …
Hanya Ki Saleh yang berjualan di Pasar Falah. Sedangkan Mang Kur, Mang Dul, Mang  Sen dan Mang Jaiz tak kelihatan batang hidung mereka.
“Mamang yang lain pada kemana Ki ya?” Mpok Leni yang datang agak siang hanya menemukan Ki Saleh berjualan seorang diri.
“Masih tidur Mpok,” jawab Ki Saleh, merapikan botol minyak wangi dan buku-buku agama seperti buku Iqra’ dan doa musjatab.
“Siang begini masih tidur? Ah, yang benar saja Ki. Enggak percaya ah!” Kata Mpok Leni memasukkan ma nisan kedondong ke dalam plastik berikut airnya sebelum diserahkan kepada ibu yang sejak tadi me nunggu di tenda jualannya.
“Kalau Mpok enggak percaya, ‘ntar datangi saja rumah mereka satu persatu …”
“Eggak mau ah. Ngapain Ki. Aku kan betina, apa kata jantan-jantan.”
Ha ha ha ha …
Beberapa pedagang lain yang ikut ‘nguping’ pada ketawa, bahkan ada di antaranya yang ‘ngeledekin’ Mpok Leni.
“Nanti aku temani Mpok,” kata pedagang mie sambil berjoget mendengar lagu dangdut dari radio rumah warga dekat pasar.
“Goyang Mpok …” Ajak si pedagang.  Joget ala ngebor.
Pedagang yang belum didatangi pembeli, ikut berjoget. Sedangkan Mpok Leni sibuk melayani  para ibu ibu remaja putri. Juga Ki Saleh. Ketika teman-temannya sesama pedagang sibuk berjoget ria,  dia malah kebanjiran orang yang mau belanja.
Pembeli yang datang silih berganti, Tua, muda. Laki-laki dan wanita. Remaja putri ibu rumah tangga. Se muanya mampir dan belanja di pelataran Pasar Falah. Rela berpanas-panas, sedikit tak mengapa. Yang penting barang yang dicari ada dan tersedia.
Ki Saleh dan Mpok Leni benar-benar  senang hari ini.  Keduanya sampai kelelahan meladeni pembeli. Untung yang diperoleh lumayan banyak. Besarnya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ke duanya bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahi rezeki yang halal dan thayyibah. Keduanya juga ber syukur tidak turun hujan karena warga tak sungkan menginjakkan kaki mereka ke pasar yang masih da lam perbaikan menyeluruh ini.
Sebaliknya, Mang Kur dan ketiga rekannya belum juga bangun dari tidur mereka. Padahal hari sudah menjelang tengah hari.  Jarum jam sudah menunjukkan ke angka setengah dua belas lebih sedikit. Anak dan isteri mereka pada gelisah, mau makan apa mereka hari ini.
“Tenang saja Bu. Nich masih ada uang.” Kata Mang Kur pada isterinya yang sedari tadi cemberut karena tak punya uang buat belanja ke warung dan mpok penjual sayur keliling.
He he he he …
“Bapak memang baik. Tahu kalau isterinya mau belanja tapi tak punya uang,” puji sang isteri. Tersipu malu menerima dua lembar uang kertas limpa puluh ribu. Masih anyar pula.
“Ya sudah. Yang ini simpan buat besok,” kata Mang Kur, memberi isterinya lagi uang kertas lima puluh ribu sebanyak dua lembar.
“Bapak enggak berjualan?”
“Jualan. Sebentar lagilah Bu,” jawab Mang Kur beranjak dari tempat tidurnya, bersiap ke kamar mandi.
“Kopi dan gorengan sudah di meja makan ya Pak. Ibu belanja dulu.”
“Jangan lama-lama Bu.”
“Iyalah Pak. Ngapain juga lama-lama. Perut lapar, capek pula.”
Bagaimana dengan Mang Dul?
Terjadi adu mulut. Tapi tak sampai berkelahi. Sempat pelotot-pelototan sambil berkacak pinggang.
“Bapak gimana sih. Sudah enggak ada uang, malas pula berdagang.” Sergah sang isteri.
“Pinjam dululah ke tetangga Bu. Besok-besok kita bayar,” ucap Mang Dul, mengibas-ibaskan kain saru ngnya yang sudah lebih dari seminggu tidak dicuci, apalagi diseterika.
“Tetangga mana Pak. Malu ibu pinjam sama mereka,” jawab sang isteri. Kesal sudah mencapai ubun-ubun.
“Malu kenapa? Apa kira mereka ibu pencuri. Kan tidak …”
“Sudah rata. Semua tetangga sudah kasih pinjaman semua Pak.”
“Pinjam lagilah Bu.”
“Yang kemarin  belum dibayar Pak,” kata sang isteri ketus.
“Kalau begitu ngutang di warung sajalah Bu.”
“Sudah penuh bonnya Pak.”
Mang Dul mengernyitkan dahinya. Di tetangga belum bayar, di warung masih nunggak. Lantas mau pinjam kemana?     
“Ke tukang kredit yang suka keliling saja Bu.”

                           “Kredit …. Kredit lunak … kredit lunak.
                            Pinjam berapa, silakan saja.
                           Bayar gampang,
                           tak bayar berarti nantang ….”

Karena panas, si tukang kredit mampir di kediaman Mang Dul. Dia hanya menumpang duduk di tangga. Membuka topinya. Lalu dikipas-kipaskannya di muka dan lehernya.
“Bu … tuh orangnya.” Bisik Mang Dul. Sang isteri yang menengok tulisan di belakang baju tukang kredit ‘Boleh Kreditan’, buru-buru membuka pintu.
Karena bersamaan membuka pintu, pasutri ini nyaris tersungkur karena sama-sama ingin keluar semen tara kaki saling menginjak satu sama lain.
“Maaf Pak,” kata isteri Mang Dul.
“Saya Bu yang minta maaf. Duduk tak ngomong lagi,” kata si tukang kredit.
“Ya sudah …”
Mang Dul dan tukang kredit duduk berdekatan.
“Ngomong-ngomong,” kata isteri Mang Dul membuka omongan, “Bapak ini tukang kredit ya. Mana barangnya?”
Ha ha ha ha …
“Saya tak bawa barang. Soalnya saya tak kreditkan barang, tapi hanya uang. Tak banyak. Ibu kalau berminat saya kasih juga pinjaman.”
Isteri Mang Dul bermain mata dengan suaminya.
“Ibu saja.”
“Bapak sajalah.”
“Ibu saja.”
“Bapak sajalah.”
Saling dorong bahu, pasutri ini tak ada yang mau memulai. Setelah tukang kredit mengeluarkan sejum lah uang dari saku celananya, barulah isteri Mang Dul berkata …
“Dua ratus ribu saja Pak.”
“Enggak lima ratus ribu Bu?”
“Jadilah dua ratus ribu saja Pak. Nanti enggak kebayaran kami. Kan bapak juga yang repot nantinya. Nagih terus …”
“Kalau pinjam dua ratus ribu, berapa baliknya ya Pak?” Tanya Mang Dul sekadar ingin tahu.
“Terserah bapak lah. Mana suka, bayar saja. Gampang kan Pak.”
Ha ha ha ha …
Dari kejauhan Mang Sen dan Mang Jaiz melihat Mang Dul dan istrinya asyik berbincang-bincang dengan tukang kredit. Keduanya tergopoh-gopoh menghampiri Mang Dul.
“Tolong Mang,” kata Mang Sen.
“Aku juga Mang,” ujar Mang Sen dengan nafas tersengal-sengal.
“Tolong apa. Duduk .. duduk  dulu…”
Mang Dul meminta isterinya  mengambilkan dua gelas air putih hangat di dapur.
“Isteriku marah habis,” jelas Mang Sen.
“Istriku juga Mang,” kata Mang Jaiz.
“Marah kenapa?”
“Duit belanja tak ada …”
Ha ha ha ha …
“Mang Dul, kenapa tertawa. Lucu apa? “
“Tuh baca itu …!” Mang Dul menunjuk tulisan yang tertera di belakang pakaian yang dikenakan tukang kredit. Mang Sen dan Mang Jaiz serempak membacanya.
“Bapak berdua kalau mau pinjam boleh. Bapak ini baru saja pinjam uang sama saya,” jelas si tukang kredit keliling yang asyik menghitung lembaran uang lima puluh ribuan.

XXI
ENAM bulan kemudian …
MERASA tak puas karena tidak mendapat jatah tempat berjualan di Pasar Falah yang baru selesai dire hab dan dipercantik sana sini, Mang Kur Cs turun berdemo ke kantor walikota. Mereka ditemani Ki Sa leh.
Para pedagang yang berdemo ini terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan jenis usaha, dagangan yang berbeda. Mulai dari pedagang kain, manisan, ikan dan daging hingga pedagang kerupuk kempelang serta sayur-sayuran.
Mereka sebelumnya mendapat tempat berjualan di dalam Pasar Falah. Namun, setelah pasar selesai di perbaiki,  ‘jatah’ mereka beralih ke tangan pihak lain. Mereka sudah mengadu kepada Pak Sakil, bos keamanan pasar. Tapi yang bersangkutan angkat tangan. Tak tahu menahu soal pembagian jatah tempat berjualan.
Mereka juga sempat mengadukan hal ini pada Pak Lurah, Pak Camat dan pihak Dinas Pasar, tapi jawaban yang didapat belum memuaskan. Tak ada solusi. Padahal yang diinginkan pedagang adalah solusi bukan basa-basi.
Akhirnya disepakati mereka mengadu ke Pak Walikota. Mereka turun ke jalan sambil membawa span duk yang bertuliskan antara lain … “Pedagang Terbuang, Kios Kami Digohet Orang ..” , “Pak Wali, Perha tikan Nasib Kami …”, “Lapak Hilang, Rezeki Melayang …”
Mang Kur Cs dan puluhan pedagang lain antusias memenuhi sebagian badan jalan. Mereka bergerak mu lai pukul tujuh pagi dari Pasar Falah. Mereka berbaris rapi  dan jadi pusat perhatian para pejalan kaki, pengendara motor dan kendaraan roda empat.
Sejak meninggalkan Pasar Falah,  Maskur Cs bernyanyi bersama-sama. Mereka menyuarakan hati yang galau karena tak bisa lagi mengais rezeki di tempat mereka berdagang. Nyanyian yang mereka bawakan, syairnya antara antara lain begini …

       “Kami para pedagang
       Tak boleh hidup senang
       Dari dulu suka ditendang
       Sekarang kena kempelang

              Kami para pedagang
              Selalu tampil riang
              Walau tak sepeser pun uang
              Yang ada terselip di pinggang

                  Hu hu hu  hu hu  hu
                   Plak pak pak …
                   Hu hu hu hu  hu
                   Plak pak pak 
                   Hi hi hi hi hi
                   Plak pak pak …
                   Hu hu hu  hu
                   Plak pak pak …

                         Tolonglah kami Pak Wali
                         Beri tempat mengais rezeki
                         Biar hidup lebih berarti
                         Beri makan anak bini

                               Tolonglah kami Pak Polisi
                                Beri kesempatan suarakan hati
                                Jangan kami dibawa pergi
                               Pasti susah hidup kami

                                  Hidup ini sudah susah
                                  Duit saja tak lagi punya
                                   Bagaimana hati tak resah
                                   Besok pagi mau makan apa

                                        Hu hu  hu hu hu
                                        Plak pak pak pak
                                        He he he he he
                                        Plak pak pak 
                                         Ha ha ha ha ha
                                         Plak pak pak
                                         Hi hi hi hi hi
                                         Plik pik pik ….”             
 

Priiiit …
Karena lampu merah macet, Pak Polantas yang bertugas sibuk mengatur kendaraan. Termasuk meminta kelompok pendemo sabar . Menunggu giliran berikutnya, saat petugas menyila kan untuk melanjutkan perjalanan.
“Sudah macet berlagak pula sopir itu,” gerutu Mang Sen. Dia tak suka dengan sikap sopir opelet yang menganggap mereka menjadi biang kemacetan.
“Tinju saja Mang,” kata pedagang lain memanas-manasi Mang Sen.
“Sabar …!” Untung Ki Saleh segera menengahi. Kalau tidak, emosi Mang Sen sudah memuncrat karena ocehan teman-teman pedagang lain yang juga merasa tersinggung dituduh penyebab macetnya lalu-lintas di perempatan lampu merah.
Memang jumlah pendemo mencapai tiga puluhan. Tapi mereka berbaris rapi, teratur. Memanjang dan tidak sampai mengganggu kendaraan lain yang ada di belakang, depan dan samping kiri kanan mereka.
Malah ada beberapa pedagang yang terpaksa menepi karena hampir kesenggol mobil opelet dan priba di.  Tapi pedagang tak ambil perduli. Mereka ikhlas menepi.  Padahal masih ada tempat untuk kendaraan berhenti  sejenak di perempatan lampu merah.
Priiiit …
Seusai lepas kemacetan dari lampu merah tadi, Mang Kur dan teman-teman sesama pedagang mema suki kawasan jalan protokol. Agar tak terasa capek, mereka meneruskan nyanyian yang didendangkan secara bersama-sama …

                   “Jalan-jalan ke Palembang
                   Beli udang, udang satang
                   Alangke lemak kalu bedagang
                    Banyak duit hidup senang …

                           Pagi-pagi lari pagi
                           Sorenya bermain kasti
                           Kalu kito punyo piti
                           Pasti senang anak bini

                               Malam-malam kito begadang
                               Minum banyu kopi samo ubi
                               Kalu hidup kito lapang
                               Banyak kawan yang endeketi

                                     Tak tak tak
                                     Brem bem bem
                                     Trik tik tik
                                     Brim bim bim
                                     Truk tuk tuk
                                      Bram bam bam …

                                              Bangun pagi langsung mandi
                                              Sudah mandi langsung makan
                                              Idak teraso berjalan kaki
                                              Asal besok biso bejualan

                                                       Makan nasi lauknyo teri
                                                       Jangan lup sambal terasi
                                                       Kalu pejabat senang dengan kami
                                                       Payu perhatikan nasib kami

                                                        Trek  tek tek
                                                        Bram bam bam
                                                        Truk tuk tuk
                                                        Brem bem bem
                                                        Trek tek tek
                                                        Brim bim bim

                                                             Sore-sore main perahu
                                                             Baliknyo main layangan
                                                             Kito tahu sama tahu
                                                             Jangan sampai nak segocohan

                                                                     Perut lapar pingin makan
                                                                     Sudah makan nak minum pulo
                                                                     Kalu idup jangan cak keiyoan
                                                                     Sudah kayo lupo kito

                                                                         Abis jualan abisla duit
                                                                         Balik ke rumh bini marah
                                                                         Sudah balik badan sakit
                                                                         Kapan ditanyo kurang darah

                                                                                 Truk tuk tuk
                                                                                 Bram bam bam
                                                                                 Trek tek tek
                                                                                 Brem bem bem
                                                                                 Trik  tik tik ….”

Setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam, Mang Kur Cs akhirnya sampai di pintu gerba ng kediaman Pak Wali. Rupanya pintu belum dibuka. Seorang petugas jaga adu mulut dengan Ki Saleh sebelum pintu besi berterali itu dibuka lebar-lebar.
Mereka, karena capek dan kehausan, memilih istirahat di padang rumput mini, taman rumah dinas Pak Wali. Bersih dan rapi, pedagang tak sungkan untuk merebahkan tubuh mereka di sana. Ada yang terlen tang dengan mata terpejam, asyik bermain hape, juga ada yang sekadar duduk-duduk sambil bercanda dengan pedagang yang lain.
“Mang Kur … ha ha ha ,” Tegur Mang Dul ketawa lebar. Mang Kur, sambil tengkurap, mengaku seluruh persendian tubuhnya terasa sakit.  Pegal-pegal dan maunya segera diurut.
“Itu tandanya Mang Kur jarang berolahraga,” celetuk Mang Sen.
“Bukan lagi jarang, tapi memang tak pernah olah raga,” sahut Mang Jaiz.
Tak berapa lama kemudian Ki Saleh kembali menemui pedagang setelah berdialog dengan petugas ru mah dinas walikota.  Diberitahukan bahwa Pak Wali baru bersedia menemui mereka siang hari nanti, habis salat Zuhur.
“Waaaa … Piye toh.”  Celetuk pedagang serempak.
“Apes.   Benar-benar apes. Sudah buntu, harus lama menunggu,” kata Mpok Leni. Dia menghitung uang recehan di punjin yang ia bawa dan taruh di saku celananya.
“Ada Mpok?”
“Ada apa Mang Sen?”
“Buat beli nasi …”
“Ada toh. Tenang. Tapi cukup buat aku seorang,” ujar Mpok Leni.
Ha ha ha ha …
“Rasain kamu Mang Sen.  Mati kelaparan,” kata Mang Dul sekadar bercanda.
“Tenang saja,” jawab Mang Sen.
“Tenang gimana toh? Perut lapar, kalau tak diisi, bisa mati tau …”
“Mang Dul .. Mang Dul,” teriak Mang Sen. “Itu, Ki Saleh, coba ngapain dia?”
Ki Saleh menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada seorang pedagang buat beli nasi bungkus jatah makan siang nanti.

 XXII                          
“OI bangun … oi bangun … cepaaat … diberi duiiiit …!” Colek Ki saleh. Yang dicolek Mang Kur, Mang Jaiz, dan Mang Sen.  Bangun serempak.
“Mana duitnya? Mana duitnya?”
Ha ha ha ha …
“Duit apa Mang Sen. Kertas ada,” ledek  pedagang kerupuk kempelang.
Mang Sen memang ketiduran. Setelah makan siang dia tidur. Ki Saleh membangunkannya untuk shalat Zuhur. Ki Saleh memang mengatakan bakal dapat uang, padahal tidak sama sekali.  Maksudnya, rekan-rekannya jangan lupa mengingat-Nya.
“Ki Saleh mana?” Tanya Mang Kur. Dari tadi dia hanya mendengar suaranya, tapi orangnya tak tahu di mana dan ke mana.
“Ki, shalat Zuhur,” kata Mpok Leni, sempat ketiduran juga tadinya. Tapi cuma sebentar.
Mang Kur Cs akhirnya menyusul Ki Saleh menunaikan shalat Zuhur di masjid dekat kediaman Pak Wali kota. Masjid itu cukup megah. Banyak warga menunaikan shalat Zuhur berjamaah di sana. Mereka ada lah warga yang sengaja datang ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat. Rumah mereka berada di sekitar kediaman Pak Wali.
Ketika Ki Saleh tiba di masjid, masih ada beberapa jamaah yang mengerjakan shalat sunnat, berzikir dan berdoa. Ada juga yang membaca kitab suci Al-Quranulkarim. Bahkan ada yang sekadar tidur-tiduran, sambil ‘mengutak-atik’ hape android.
Karena berpapasan dengan Mang Kur Cs, ketika mau salat selepas mengambil air wudhu di samping mas jid, Ki Saleh hanya menunaikan shalat sunnat tahiyatul masjid. Lepas itu, dia berzikir, tentu sambil me nunggu teman-temannya shalat.
Saat satu-satu pulang, satu-satu datang menyinggahi masjid, Ki Saleh mengimami salat Zuhur. Di bela kangnya Mang Dul, Man Kur, Mang Sen dan beberapa pedagang lainnya.
Mereka baru beranjak meninggalkan masjid lima belas menit kemudian. Tampak beberapa pedagang menghampiri Ki Saleh. Mereka kecewa karena Pak Wali belum mau menerima kedatangan mereka.
“Kita sudah kepanasan. Mana haus lagi,” celetuk pedagang tempe tahu kegerahan. Rambutnya basah karena barusan dibasahi air keran yang mengalir di samping rumah dinas Pak Wali. Lumayan sejuk, ken dati tak sampai menghilangkan dahaga.
Ki Saleh bermaksud menemui ajudan Pak Wali yang baru saja datang.   Ki Saleh mengejarnya, namun dihalangi petugas keamanan.
“Maaf Pak. Tak boleh masuk,” kata si petugas sambil melotot dengan raut muka kurang senang.
“Saya hanya ingin menanyakan saja, kenapa Pak Wali belum menemui kami. Itu saja.”
“Tidak bisa Pak.”
“Apakah itu berarti kami harus menunggu di sini terus sampai malam dan bertemu pagi lagi?”
“Betul …”
“Baik. Kami akan tetap menunggu di sini. Tapi apakah Pak Wali ada di dalam sekarang?”
“Tidak tahu.”
Kraaak …
“Bapak mau beri saya jalan atau tidak. Atau saya patahkan tangan bapak sekarang.” Ancam Ki Saleh. Dia lepaskan cengkraman tangannya.
Si petugas akhirnya mempersilakan Ki Saleh masuk bersama Mang Dul dan Mang Kur. Mereka menemui ajudan Pak Wali. Anehnya, saat melihat kedatangan Ki Saleh, si ajudan justru terkejut. Mukanya berubah pucat.
“Kenapa bapak masuk. Kan tidak boleh sembarang orang bisa masuk,” uja si ajudan sedikit gugup.
“Kami hanya ingin mencari tahu dari anda, mana Pak Wali?”
Pertanyaan Ki Saleh tak dijawab. Mang Kur naik darah. Die elus-elus pipi  si ajudan.
“Anda mau saya tampar kagak?”
“Enggak. Enggak maulah Pak. Sakit kalau ditampar,” jawab ajudan, bertambah gugup.
“Kalau enggak mau, jawab yang jelas, di mana Pak Wali?”
“Di … di …”
“Dimana?” Hardik Mang Kur. Beberapa petugas keamanan segera menghampiri dan bermaksud melerai cekcok mulut itu.
“Di kantornya Pak,” ujar ajudan nyaris terkencing di celana saking gugupnya.
Astaghfirullah …
“Kenapa enggak bilang dari tadi Pak,” kata Mang Kur kesal bercampur kasihan.
“Cepat beritahu Pak Wali sekarang. Kami ingin bertemu,” pinta Ki Saleh. Dia kuatir para pedagang bakal marah dan mengamuk serta berbuat anarkis.
Sang Ajudan mengambil posisi  mendekati jendela. Lalu dia menghubungi Pak Wali lewat telepon selu ler. Memberitahu ada sejumlah pedagang yang berdemo di kediamannya saat ini.
Diperoleh jawaban, Pak Wali bersedia menemui pedagang sekarang.  Bukan di rumah, tapi di kantornya.
“Itu pesan beliau,” terang ajudan.  Gemetaran saat Mang Dul menarik kerah bajunya.
“Mang Dul … sudah. Ayo cepat!” Kata Ki Saleh segera menemui pedagang lainnya yang masih menunggu di luar rumah.
Mayoritas pedagang kecewa karena Pak Wali tidak ada di rumah. Padahal sebelumnya beliau ada dan bersedia menemui mereka.
Pedagang wajar kecewa. Selain capek, haus dan lapar, tuntutan mereka agar diberi tempat berdagang di dalam Pasar Falah bakal tertunda penyelesaiannya.
Beberapa di antara mereka melampiaskannya dengan menendang  pot bunga di taman. Pot besar itu tidak rusak. Cuma terguling sehingga tanah dalam pot berserakan di rerumputan dan jalan aspal.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor walikota. Selama dalam perjalanan, mereka bersenan dung …

                 Beginilah nasib rakyat kecil
                 Sudah jatuh tertimpa tangga
                 Hidup seperti orang kerdil
                 Kemana pergi harus mengiba

                          Alamak  nasib kami
                          Hari ke hari terus begini
                          Mau makan harus nahan hati
                          Perut kenyang dilecehi

                                    Kami ingin mengubah nasib
                                    Apa daya tangan tak sampai
                                    Hidup boleh senasib
                                    Jangan lupa berandai-andai

                                        Ke warung beli rokok
                                        Beli sebatang dibagi dua
                                        Maksud hati bukan nak mogok
                                        Ingin solusi secepatnya

                                              Trang treng trung treng
                                               Nasib pedagang
                                               Trung tring trang
                                               Tak punya uang
                                              Tring trung treng
                                              Setiap malam mesti begadang
                                              Tring teng tring teng
                                              Nyiapkan bekal untuk bedagang ..”

“Sampai …”
“Lambai …”
“Andai …”
“Pak Waliii …” Teriak pedagang.
Para pedagang, tanpa dikomando lagi, menghampiri Pak Wali yang baru saja selesai menggelar rapat bersama bawahannya. Pak Wali bersedia menerima jabat tangan mereka. Foto bersama sebelum me masuki ruangan kerja pria ramah dan bersahaja itu.

                   “Selamat siang Pak Wali
                    Kami ingin solusi
                    Atas nasib kami ini
                    Biar besok ngais rezeki

                             Selamat siang Pak Wali
                             Beri kami harapan
                             Agar bisa dapat rezeki
                             Buat anak bini makan

                                Terima kami dengan ikhlas
                                Biar kami juga ikhlas
                                Tak lagi suka memelas
                                 Karena kami sudah bebas

                                      Bebas kami berdagang
                                      Tak seorang pun bakal menghadang
                                       Apalagi sampai ditendang
                                       Sehingga lari tunggan langgang ….”

Di depan pintu masuk ruangan kerja Pak Wali, para pedagang masih menyempatkan diri bernyanyi, tapi lebih sopan dengan volume suara yang tidak terlalu kencang.
Beberapa pegawai pemkot tampak senyum-senyum melihat ulah pedagang Pasar Falah. Mereka tampak akrab dan saling menyapa, bersalaman. Malah ada di antaranya  yang bergurau soal status, apakah ma sih sendiri atau sudah ada yang punya.
“Ayo semuanya, silakan masuk,” kata Pak Wali. Dia menyilakan pedagang menempati tempat duduk  yang telah disediakan.
Di meja Pak Wali ada air putih botolan. Dingin dan biasa. Juga ada buah-buahan seperti  jeruk, rambutan dan duku.
Juga ada tekwan, model, siomay, termasuk pempek dan lontong ketupat. Piring kecil dan sedang tersu sun rapi. Di sebelahnya tersaji sendok dan garpu serta kerupuk kempelang.
“Kita minum dulu. Saya haus, dari rapat tadinya,” kata Pak Wali. Mengambil sebotol air putih, lalu ditu angkannya ke dalam gelas.
Belum selesai Pak Wali menuangkan air dari botol plastik berwarna-warni, sebagian pedagang serta me rta menyerbu meja konsumsi. Untung saja, beberapa pegawai pemkot yang ikut menata meja dan jamu an konsumsi itu,sigap mengatur dan meminta  mereka untuk tetap sopan di depan Pak Wali.
“Biarkan saja,” ujar Pak Wali. “Mereka haus dan lapar. Ayo semuanya … kita sikat.”
Ajakan Pak Wali disambut lega para pedagang. Beberapa di antaranya mengucapkan rasa syukur dan me mbaca hamdalah karena hidangan yang tersaji bisa disantap sehingga pertemuan berlangsung lancar, ti dak tegang dan penuh dengan kekeluargaan.

XXIII
“KI Saleh, silakan!” Kata Pak Rauf, Jubir Walikota.
Selain Pak Wali, pertemuan siang hari ini dihadiri juga kepala dinas pasar, Pak Sofyan, kepala keamanan Pasar Falah, Pak Sakil, camat dan beberapa pejabat pemkot.
“Assalamualaikum warohamtullohi wabarokatuh,” ucap Ki Saleh. Walau tengah hari,  berapi-api.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab hadirin serempak.
“Saya,” kata Ki Saleh, mewakili para pedagang Pasar Falah, ingin curhat kepada Pak Wali.
“Boleh, asal jangan soal walikota,” kata Pak Wali yang disambut tawa para hadirin.
“Begini Pak ceritanya. Dulu kami berdagang di Pasar Falah. Suatu ketika, pasar terbakar dan kami pun pindah berjualan  di depan pasar. Sebab, kalau kami berjualan di tempat lain, sepi pembeli …”
Ki Saleh mengatur nafas sejenak.
“Ternyata, meski berjualan di luar Pasar Falah, pembeli ramai. Kami bersyukur, karena walau tak ada tempat untuk berdagang, dagangan kami laris manis. Namun setelah pasar selesai direhab dan diperin dah, tiba-tiba nama kami tidak tercatat lagi dalam papan pengumuman sebagai penyewa lapak dan kios tempat berdagang …”
Pak Wali serius mencatat.
“Nama-nama kami sudah digantikan oleh orang lain. Anehnya lagi, penunjukan itu tanpa sepengetahuan kami. Padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan bahwa pedagang yang lama, maksudnya pedagang ya ng berdagang sebelum peristiwa kebakaran terjadi, tetap diperioritaskan. Kami tagih kesepakatan itu Pak Wali.”
“Tolong Pak, lebih diperjelaskan lagi,” pinta Pak Sofyan.
“Jadi intinya Pak. Kami minta tempat berdagang dengan harga sewa yang tidak mencekik leher. Terjang kau kantong kami para pedagang,” jelas Ki Saleh.
Pak Wali berdiskusi sejenak dengan kepala dinas pasar dan pejabat terkait lainnya. Pertemuan diskors sebentar.
“Ki, jangan lama-lama,” bisik Mang Dul.
“Kenapa?”
“Ngantuk nih.”
Pedagang di dekat Mang Dul ketawa sambil menutup mulutnya agar tidak kedengaran orang lain.
“Harus ada keputusan Ki,” ucap Mang Sen dengan raut muka tegang.
“Kalau tak ada keputusan dari beliau, jangan dulu pulang,” ujar Mpok Leni.
“Bila perlu kita menginap saja disini sampai beberapa hari,” kata Mang Jaiz.
Tok tok tok …
Pak Rauf membuka kembali dialog antara pedagang Pasar Falah dengan Pak Walikota. Pedagang tekun menyimak, karena yang akan berbicara ini adalah kepala dinas pasar.
Apa solusi dari beliau?
“Terima kasih. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab pedagang sembari berbisik satu sama lain.
“Yang saya hormati Pak Walikota, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.  Menjawab keluhan dari bapak-ba pak dan ibu-ibu, perlu saya jelaskan disini bahwanya untuk tempat berdagang, kami tentukan nama-nama itu sesuai hasil laporan yang masuk. Begitu juga dengan harga sewa. Pada pokoknya kami me ngambil keputusan ini tidak sepihak. Kami mengajak pihak terkait untuk berdiskusi, dan inilah hasilnya.”
“Tidak bisa Pak,” potong Mang Dul dengan suara lantang. Dia berdiri sambil menunjuk-nunjuk Pak Sof yan dengan muka yang memerah.
“Tenang Mang Dul. Biar saya yang ngomong,” kata Ki Saleh. Setelah menenangkan Mang Dul, Ki Saleh angkat bicara.
“Maafkan teman saya ini Pak Sofyan. Terus terang kami keberatan dengan apa yang disampaikan bapak barusan …”
Pak Rauf mengintrupsi sebentar. Dia berbincang sejenak dengan Pak Sofyan. Atas instruksi Pak Wali, Ki Saleh dipersilakan melanjutkan ucapannya.
“Terima kasih. Kami ingin mendapat lapak dan tempat berdagang di Pasar Falah. Karena selama ini kami berdagang di sana dan tidak ada masalah. Kemudian mohon tinjau kembali harga sewa. Kami juga harus membayar tetek bengek lainnya. Padahal untung yang kami peroleh tak seberapa,” terang Ki Saleh.
Melihat Pak Sofyan tetap ngotot dengan ucapannya, dan tidak memberikan jalan keluar terbaik, Pak Wali akhirnya menengahi.
“Pak Sofyan. Saya minta tinjau ulang nama-nama pedagang yang dapat jatah sewa lapak dan kios,” pinta Pak Wali.
“Siap Pak.”
“Turunkan harga sewanya.”
“Siap Pak.”
“Terakhir, ajak pedagang bicara. Libatkan mereka ini semua …”
“Baik Pak.”
“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” kata Pak Wali, “Jika dalam beberapa hari ke depan ini, masalahnya belum juga selesai, temui saya di kantor. Bagaimana, setuju?”
“Setujuuu,” jawab pedagang serempak.
“Pak Sofyan!”
“Saya Pak Wali.”
“Ingat pesan saya tadi?”
“Ingat Pak.”
Para pedagang yang semula tegang, kini sudah bisa tersenyum lega setelah Pak Wali menjamin bakal ada tempat  berdagang bagi semua pedagang Pasar Falah yang sengaja  datang menemuinya siang menjelang sore hari ini.
Acara dialog dan pertemuan itu diakhiri dengan doa dan bersalam-salaman. Pak Wali berkenan me ngantar para pedagang sampai pelataran kantor pemkot.
Bagaimana dengan Pak Sofyan?
Sesampainya ia di ruang kerjanya, kebetulan berkantor dekat kantor Pak Wali, marah. Dia panggil anak buahnya. Dia omeli satu persatu. Dia minta pertanggung jawaban.
“Anda semua ini goblok,” bentak Pak Sofyan dengan nada tinggi.
“Anda semua kan tahu, gara-gara ini saya dimarahi habis-habisan oleh Pak Wali.” Diduga kuat nama-nama pedagang yang tertera dalam pengumuman sebagai penerima jasa sewa lapak dan kios hanya fiktif.
Anak buah Pak Sofyan hanya diam, tertunduk lesu.
“Anda tahu jika ini benar, maka saya bisa dipenjara. Tahu tidak?”
Belum ada yang menanggapi.
“Dari siapa nama-nama itu masuk ke kita?” Tanya Pak Sofyan. Membanting buku dan pulpen. Amarah nya berhasil diredakan beberapa anak buahnya yang dengan sigap membawanya  ke ruangan ber AC .
Di ruangan itulah Pak Sofyan, karena sudah sedikit tenang, meminta anak buahnya masuk dan membica rakan masalah pedagang Pasar Falah ini.
Dia meminta bawahannya itu menelusuri keberadaan nama-nama pedagang. Apa benar ada nama-nama itu. Sebab, dugaan kuat menunjukkan nama-nama itu tidak ada sama sekali.
“Mereka bukan pedagang. Mereka adalah nama-nama yang sengaja dimasukkan ke dalam daftar penye wa lapak dan kios untuk bermain mata dengan para pedagang sebenarnya,” kata Pak Sofyan.
“Jadi, kalau itu benar, maka ada dua tugas berat yang harus kita tuntaskan secepatnya. Pertama, siapa dalangnya. Kedua, siapa dari kita yang ikut bermain.”
“Tapi menurut saya tidak ada, Pak.” Ujar anak buahnya berkumis tebal.
“Itu kata kamu. Belum tentu kata yang lain. Dan saya ingin kita harus transparan dalam masalah ini. Ter
buka dan tak usah takut sekiranya kalian semua sudah tahu siapa dalangnya. Katakanlah dari sekarang sebelum terlambat. Karena Pak Wali sudah mengultimatum saya dan kita semua untuk menuntaskan kasus memalukan ini. Paham maksud saya?”
“Paham Pak, cuma …”
“Cuma apa?”
“Apa nantinya justru menambah rumit masalahnya Pak.”
“Maksudnya?”
“Begini Pak. Misalkan kita sudah tahu. Katakanlah A dalangnya. Lantas, karena ini masalah kita, Pak Wali justru meminta tanggung jawab penuh dari kita, sementara pekerjaan lain menumpuk.”
“Tak usah kuatir. Kalau sudah tahu siapa dalangnya, kita laporkan saja ke Pak Wali. Biar Pak Wali yang menuntaskannya. Kan beres.”
“Saya Pak.” Anak buah Pak Sofyan bermata sipit menanyakan ikhwal si dalang. Andaikata tidak ada, atau berhasil diketemukan dalangnya, apa yang harus kita lakukan, sementara setiap tindakan yang salah pas ti ada dalangnya.”
Ha ha ha ha …
“Jangan takut Pak Romi. Bekerjalah seperti biasa. Kalau ternyata tidak ada, ya tidak apa-apa. Yang pen ting kita sudah bekerja maksimal. Soal hasil, itu urusan lain,” terang Pak Sofyan.
“Susahnya …” Tiba-tiba Pak Sofyan mengernyitkan dahinya, seolah sedang berpikir keras.
Anak buahnya saling pandang, tapi tak berani bicara. Hanya menunggu apa yang akan dikatakan si ata san.
“Kalau dalangnya itu melibatkan orang dalam …”
Ucapan ini membuat ketar-ketir sang bawahan. Malah, kini mereka bukan lagi ketar-ketir, tapi sudah saling curiga satu sama lain.
“Tapi mudah-mudahan tidak ada,” lanjut Pak Sofyan.
Hua ha ha ha …
Hua ha ha ha …
“Mulai sekarang jujurlah kepada saya. Walau itu pahit, demi kebaikan instansi kita, akan berbuah manis nantinya …”
Entahlah …
XXIV
MENGETAHUI namanya disebut-sebut dalam kasus lapak dan kios fiktif Pasar Falah, Aguan mencak-men cak. Apalagi yang bersangkutan diduga kuat mendalangi aksi illegal itu. Dia mengajukan protes kepada kepala dinas pasar, Pak Sofyan. Tapi protes itu tidak ditanggapi.
Karena tidak ditanggapi, dengan alasan penyelidikan masih berlanjut, Aguan dan anak buahnya menda tangi kantor walikota. Mereka bermaksud mengajukan protes atas informasi yang beredar bahwa Aguan lah dalang kekisruhan pembagian lapak dan kios Pasar Falah.
Pak Wako tak berhasil ditemui. Dia sangat sibuk. Jadwal kerjanya amat padat. Dari pagi hingga malam ha ri. Tak jarang dia baru beristirahat setelah larut malam. Ajudannya pernah dihubungi, jawabannya ‘Pak Wako sangat sibuk.’    
 Aguan boleh saja mencak-mencak. Tapi orang dalam dinas pasar menyebutkan keterlibatannya dalam kasus lapak dan kios Pasar Falah. Kendati tidak terang-terangan menyebut nama Aguan, sumber yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan keterlibatan pihak luar dinas pasar itu adalah sosok yang ber pengaruh dalam dunia usaha. Dia adalah pengusaha sukses dan dikenal semua kalangan.
Merasa kemajuan dunia usahanya mulai terusik pasca mencuatnya kasus Pasar Falah, Aguan menyuruh anak buahnya mendatangi para pedagang yang melakukan aksi demo beberapa waktu lalu. Meminta mereka mengurung kan niat  menuntut hak pakai dan sewa kios serta lapak Pasar Falah.
Mang Kur dan kawan-kawan menolak ajakan Aguan untuk berdamai. “Kami tetap pada tuntutan kami. Ingin tempat berdagang di Pasar Falah,” jelas Mang Dul saat ditemui beberapa orang suruhan Aguan.
Mang Dul tidak sendirian. Dia ditemani Mang Kur, Mang Sen dan Mang Jaiz. Mereka tidak gentar meng hadapi  empat pria bertampang seram yang bertandang ke kediaman Mang Dul.
“Tapi sekali lagi kami minta bapak berempat memikirkan kembali permintaan bos kami,” kata pria ber jambang  lebat dengan sedikit memaksa.
“Maafkan kami bapak-bapak,” kata Mang Sen, “Bukan kami melawan kehendak bapak-bapak. Kami se karang tinggal menunggu harinya saja. Besok atau lusa kami akan menempati lapak dan kios kami.”
“Katakan saja kepada bos kalian. Jangan ganggu kami,” pinta Mang Kur.
Lobi anak buah Aguan tak membawakan hasil. Mereka pulang dengan tangan hampa. Saat menuruni anak tangga, sempat terjadi cekcok. Diawali dari saling pelotot-pelototan antara Mang Dul dan pria bertato di dagu.
Pelotot-pelototan itu berlanjut saling adu kening dan hidung. Saling dorong, si tato nyaris jatuh dari tangga. Mau melepaskan pukulan, ditahan teman-temannya.
Semua kejadian ini, termasuk lobi yang gagal dilaporkan ke Bos Aguan. Sikapnya mudah ditebak. Dia marah besar.
“Bodoh kalian ini.  Kenapa tak kalian ajak makan-makan dulu …”
“Tak mau Bos,” jawab si tato.
“Tak mau kenapa?”
“Sudah kenyang dan tak biasa makan di luar rumah,” jelas si tato.
“Lalu, kalian diam saja, begitu. Dasar bodoh. Pikir … pikir.” Aguan menunjuk kening tato.
“Kamu, apa yang kamu lakukan?” Aguan menggeser kursinya. Persis berhadapan dengan si jambang lebat.
“Sudah Bos. Kami sudah berusaha membujuknya. Tapi mereka tetap tak mau. Mereka bilang sudah deal. Tinggal menunggu hari saja,” terang si jambang.
“Kalian terima saja?”
“Mulanya tidak Bos. Kami tetap berusaha membujuk mereka, agar menerima keputusan pertama. Imbal annya, diberi uang dan tempat berdagang di pasar lain. Tapi, ya itulah Bos hasilnya. Mereka tetap tidak mau …”
Bos Aguan beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil telepon genggamnya, lalu menelepon sese orang. Entah siapa.
Tapi intinya dia meminta bantuan koleganya itu untuk bertemu di tempat tertentu. Pertemuan itu mem bahas kelanjutan dari lobi yang gagal. Aguan sangat berharap pertemuan itu nanti membuahkan hasil.
Sebelum menutup teleponnya, Aguan berpesan agar pertemuan itu dilangsungkan secara tertutup dan rahasia.
“Saya akan membawa beberapa anak buah saya untuk sekadar berjaga-jaga,” jelas Aguan.
Siapa gerangan dia?
Namanya Aliong, seorang preman besar. Dia sudah terbiasa membunuh, memenjarakan orang, bahkan membuat orang lain mengalami cacat seumur hidupnya.
Aliong adalah preman bayaran. Dia tidak bekerja sendirian. Dia memiliki beberapa anak buah terlatih. Sudah terbiasa menculik dan menghilangkan nyawa orang yang tak bersalah.
Kendati sudah bergelimang dengan dunia kejahatan, Aliong suka menolong sesama. Beberapa anak buahnya yang mengalami kesulitan keuangan, dia bantu. Juga orang lain. Tak segan-segan ia turun tangan membantu mengatasinya.
Aliong memiliki usaha sampingan. Dia adalah toke beras terbesar. Dia menguasai pasar beras, termasuk petani yang bertanam padi. Kehidupan petani terangkat karena padi yang dihasilkan bisa dibeli dengan
harga mahal oleh Aliong.
 Aliong bertanggung jawab penuh dengan bisnis yang dia lakoni. Sekecil apapun kendala yang ia temui di lapangan dengan cepat diatasi, dicarikan solusi.
Aliong dikagumi anak buahnya dan segelintir orang. Dia dianggap dewa penyelamat. Dewa penolong dan pemberi harapan yang besar. Kehadirannya mampu menyulut semangat untuk tetap hidup meski dalam serba keterbatasan ekonomi.
Pertemanannya dengan Aguan sudah berlangsung sejak lama. Sama-sama bergerak di bidang dunia usa ha, satu toke beras dan satunya lagi toke sembako, keduanya sama-sama sukses dan berpengaruh.
Pertemuannya kali ini dilangsungkan di kafe sudut kota. Kafe megah itu memang hanya dikunjungi kala ngan tertentu. Hanya ramai pada hari-hari tertentu saja. Buka mulai pagi hingga malam hari.
Tempat parkirnya luas. Berbagai merek mobil produk terbaru berderet rapi dari pangkal ke ujung. Tak satu pun motor yang terlihat. Karena memang tempatnya di samping gedung kafe. Tidak banyak jumlah nya. Sebagian besar kepunyaan pegawai kafe.
Aliong dan Aguan bertemu di malam hari. Sama-sama dikawal beberapa anak buah. Keduanya menem pati ruangan paling ujung. Di ruangan ini tersedia meja panjang dengan jumlah kursi belasan.
Diterangi sinar lampu berwarna kuning emas dan alunan musik instrumentalia tiupan saxophone dan petikan gitar, membuat suasana semakin teduh dan nyaman. Enggan rasanya beranjak pergi  ketika sudah menempati tempat duduk yang telah disediakan.
Pelayannya yang sebagian besar perempuan muda berparas cantik dan berkulit hitam manis sangat ra mah kepada setiap pengunjung. Mereka tak segan menghampiri setiap meja panjang kafe. Menanyakan pesanan, rasanya dan keluhan yang ingin disampaikan  jika memang ada.
Kepada Aguan dan Aliong beserta pengawalnya, para pegawai terlatih Kafe ‘Bersemi Lagi’ ini tak cang gung menyapa, melayani dan mempromosikan beragam kudapan dan minuman teranyar.
Di beberapa meja terlihat aneka rasa kopi, es krim, mie goreng rasa menendang, juice buah-buahan, nasi goreng, ayam pan ggang, sate dan kudapan dari luar negeri seperti pizza dari Italia, Korea, Jepang dan tentu saja berbagai belahan negara Erofa.
Sebelum memulai pembicaraan, Aliong dan Aguan menyempatkan diri terlebih dulu menikmati penam pilan artis ibu kota mendendangkan beberapa tembang berbahasa Mandarin, Korea, Jepang, dan Indo nesia.         
Tembang-tembang yang didendangkan itu sangat sentimental dan enak terdengar, menghanyutkan para para penikmatnya, membawa mereka jauh melanglang buana ke negara asalnya. Pantulan suaranya seo lah mengikuti sepi dan senyapnya ruangan, indahnya malam. Walau di dalam dan luar ruangan, cukup banyak orang dengan berbagai kesibukan.
XXV
MANG Kur  dan kawan-kawan, pasca terkabulnya tuntutan mereka atas hak pakai dan hak sewa lapak dan kios Pasar Falah, menggelar acara syukuran. Syukuran yang berlangsung di kediaman Ki Saleh bakda shalat magrib berjamaah itu diawali dengan pembacaan surat yasin, tahlilan bersama dan siraman roha ni.
Acara syukuran dihadiri banyak orang, warga Kampung Falah. Mulai dari kepala keamanan Pasar Falah, Sakil, Sakul dan anak buahnya, Ki Badrun dan Aryati, Pak Erte dan isteri,  Ki Duren dan Ki Semangka, Ki Baut, pengurus masjid Bu Kandar, hingga siswa Taman Pendidikan Nurul Falah.
Acara syukuran berlangsung khidmat, terutama ketika Sri Hapsari mendapat kesempatan membacakan ayat suci Al-Quranulkarim. Setiap hadirin mendapat satu buah kitab surat yasin yang bisa dibawa pulang setelah selesai acara syukuran.
Karena dibacakan bersama-sama, pembacaan surat yasin menjadi lebih khyusuk. Rerumputan di luar ru mah seolah berhenti bergoyang, padahal angin berhembus lumayan kencang, dan malam sangat cerah dihiasi sinar rembulan yang bersinar terang.
Segenap wajah  hadirin menunduk. Buku yasin yang dibagikan sebagian besar tidak dibaca, dibiarkan ter geletak di atas meja dan hambal. Karena mereka sudah hafa di luar kepala. Cukup dengan mengingatnya sambil  memejamkan mata.
Luar dan dalam rumah Ki Saleh, sama ramainya. Hanya berbeda posisi. Kalau di dalam rumah, hadirin du duk bersila. Sedangkan mereka yang berada di luar duduk di kursi plastik yang telah disediakan tuan ru mah.
Tak seorang pun yang berkelakar saat pembacaan surat yasin bersama-sama. Semua tertunduk khusyuk, bahkan ada yang mencucurkan air mata. Tidak sampai menangis, karena bukan sedih yang terlihat. Tapi tanda syukur atas nikmat dan pertolongan yang telah Dia berikan.
Segenap hadirin semakin khusyuk ketika Ki Saleh berkenan memimpin tahlilan. Suaranya merdu, tapi me resap sahdu di lubuk hati yang dalam. Apalagi saat Ki Saleh membaca …  Adhaludz dzikri fa’lam an nahu laa ilaha illallah hayyum maujuuud. Laa ilaha illallah hayyum ma’buduud. Laa ilaha illallahu hayyum baa qi .
Kalimat  laa ilaha illallah, walau dibaca seratus kali, tak terasa karena nikmatnya setiap kata dan huruf ya ng dilantunkan, dibaca bersama-sama. Turun naik nada membikin merinding kita yang mendengarnya.
Rasulullah SAW seakan hadir ikut syukuran setelah para jamaah membaca ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad,allahumma shalli ‘alaihi wasallam …’ yang dilanjutkan dengan bacaan ‘Subhanallahu  wabihamdihi ..’ sebanyak tiga puluh kali.
Dilanjutkan dengan bacaan …’Subhanallahil adhiim ..’ Juga tiga puluh tiga kali. Kemudian ‘Allahumma shalli ‘ala habiibika sayyidina Mhammadin wa’alaa aalihi wa shahbihi wasallim.’ Tiga puluh tiga kali yang diakhiri dengan membaca …’ajmaiiin.’
“Al-Fatihah,” ucap Ki Saleh. Bersama-sama membaca surat Al-Fatihah.
Kemudian dia membaca doa tahlil, diaminkan para jamaah di dalam dan luar rumah. Inilah doa yang beliau baca …

“Audzubillahi minasy syaithanirrajim, bismillahirrohamnirrohim. Alhamdulillahi robbil alamin hamdan (sy) syaakirin, hamdan naa’imiin. Hamdan (day) yu’afi ni’amahu wa yukafii maziidah. Ya robbana lakal hamdu kama yanbagii lijalaali wajhika wa ‘adziimi sulthaanik …
Allahumma shalli wasallim ‘alaa sayyidina muhammadin (diw) wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad. Allahumma taqabbal wa aushil tsawaaba maa qoro’naahu minal quraanil ‘adhiim …
Wa  maa hallalna wa maa sabbahnaa  huwa mastaghtahgfarnaa wa maa shallaina ‘alaa sayyidinaa muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam hadiyayyatan waa shilatan (w)  warahmatan naazilatan w) wabarokatan syaamilatan ilaa hadroti habiibina wa syaii’inaa wa qurrata a’yuninaa sayyidi\Wanaa wa maulaa naa muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam …
Wa ilaa jamii-‘I ikhwaanihi minal anbiyaa’I wal mursaliina wal auliyaa-i  wasy syuhada-i  iwash shaalihiina wash shahabaati wat taabi’iina wal ulamaa’I wal ‘aamiliina wal  mushannifiina wal mukhlishiinaa …
Wa jamii-‘il mujaahidiina  fi sabilillahi robbil ‘aalamiina wal malaa-‘ikati muqorrobiina khushuushan ilaa sayyidinasy Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani tsumma ilaa jamii-‘I ahlil qubuuri minal muslimiina wal musli maati wal mu’miniina wal mu’minaati min masyaa riqil ardhi wa maghaaribiinan barrihaa wa barrihaa khushuushan ilaa aabaainaa wa ummahaatinaa wa ajdaa dinaa wa jaddaatinaa wa nakhushshu khushuushan ilaa manijtama’na haahunaa bisababihi wali ajlih …
Allahummagh firlahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum
Allahumma anzillir rahmata wal maghfirota ‘alaa ahlil qubuuri min ahli laa ilaaha illallaahu muhammadur
Rasulullahi …
Robbanaa arinal haqqa haqqan war zuqnattibaa’ahu wa arinal baathila baathilan (w) war zuqnaj tinaabah …
Robbanaa atinaa fid dunya hasanah wafil aakhirati hasanah wa qinaa ‘azaaban naar…
Subhaana robbika robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuuna wa salaamu ‘alal mursaliina wal hamdulillahi robbil alamin.”

Usai menyampaikan doa tahlil, Mang Dul menghampiri Ki Saleh. Dia membisikkan sesuatu. Ki Saleh belum  memutuskan. Dia kemudian menyampaikan bisikan Mang Dul ke beberapa pendekar untuk dimintai pendapat.
Ki Badrun setuju jika Aguan dan Aliong dipersilakan masuk. Hal senada juga disampaikan Ki Duren, Ki Baut dan Ki Semangka.
“Bagaimana Ki?” Mang Dul sudah tak sabar mengetahui   apa boleh Aguan dan Aliong masuk. Sebab, sebagai tamu, tak mungkin keduanya dibiarkan duduk di luar, sementara Ki Saleh dan beberapa pen dekar lain justru ada di dalam rumah.
Kehadiran Aguan dan Aliong ikut mencairkan ketegangan antara pedagang Pasar Falah dengan keduanya terkait  ‘penyerobotan’ lapak dan kios yang menyebabkan Ki Saleh dan para pedagang lain kehilangan tempat berdagang.
Kepada yang hadir, Aguan dan Aliong diminta Ki Semangka memperkenalkan diri, maksud dan tujuan hadir dalam acara syukuran pada malam hari ini. Dengan demikian tidak ada lagi rasa curiga dan syak wa sangka yang justru menimbulkan keresahan dan permusuhan yang berujung pada munculnya dendam kesumat dari masing-masing pihak.              
Baik Aguan maupun Aliong, mereka berdua terus terang meminta maaf atas kelancangan telah memak sa diri untuk datang di acara syukuran ini. Soalnya, mereka tidak masuk dalam undangan dan tentunya membuat kaget segenap warga yang hadir memenuhi undangan.
Keduanya menginginkan benang-benang persaudaraan yang selama in belum tersambung dengan kuat, lebih dikuatkan lagi. Sebab, sesama kita, walau berbeda agama, tetap dianjurkan untuk saling bersilatu rahmi, berbagi, membantu dan mempererat kesetiakawanan, bahu membahu membangun negeri ini.
Aguan dan Aliong meminta para pendekar dan pedagang Pasar Falah untuk melupakan kejadian yang baru lalu.
“Biarlah ia terkubur dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mari kita saling memaafkan. Dan kami berdua ingin bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian yang hadir disini bisa memaafkan kami,” kata Aguan.
“Begitu juga dengan saya,” ujar Aliong. “Saya ingin kita sama-sama membangun pertemanan, saling membantu satu sama lain, dan satu tujuan  demi majunya negeri kita ini …”
Sebab, kata Aliong, negeri ini juga adalah negeri kita bersama. Semua kita berhak dan ikut memajukan negeri ini. Izinkanlah kami berdua juga ikut bersama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian membangun Kampung Falah, kampung-kampung yang lain agar tidak jauh tertinggal dari daerah lain.
Syukuran itu diakhiri siraman rohani dari Ustad Mansur dengan tema ‘Membangun Silaturahmi, Mem bangun Bersama Negeri ini’ mendapat sambutan luar biasa dari para hadirin. Diselingi tawa dan canda, nasehat yang disampaikan ustad muda usia ini sangat mengena karena lazim terjadi dan dialami dalam kehidupan sehari-hari.
TAMAT        
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar