Jumat, 24 Februari 2017

Kota Baru (2-TAMAT)





Cerita Fiksi

Kota Baru (2)
Ditulis oleh  aminuddin

7
KARENA sudah kehabisan daya upaya, kata Kolonel Madi meneruskan ceritanya, akhirnya Nabi Luth mengangkat kedua tangan, mengadu kehadirat Allah SWT.
“Ya Tuhan, tunjukilah kaum kami yang sesat ini. Andaikata petunjuk itu ditolak juga, turunkanlah kepada mereka nasihat yang bukan berupa kata-kata atau ancaman saja. Datangkanlah azab yang dahsyat agar mereka mau kembali. Kalau tidak mempan juga nasihat itu, musnahkanlah mereka sama sekali. Sebab tidak ada gunanya lagi hidup mereka, cuma menambah sengsara dan kerusakan atas prikemanusiaan belaka.”
Doa itu diperhatikan Allah SWT. Turunlah para malaikat dari langit. Mereka singgah di tempat Nabi Ibra him, menyaru sebagai manusia. Setelah dihormati seperti layaknya tamu-tamu biasa, barulah mereka menerangkan bahwa sebenarnya mereka adalah malaikat-malaikat-Nya.
Alangkah ngerinya Nabi Ibrahim mendengar penuturan mereka tentang azab yang bakal diturunkan atas orang-orang Sadum, kaumnya Nabi Luth itu.
Para malaikat itu kemudian berangkat meninggalkan rumah Nabi Ibrahim menuju ke Sadum yang pendu duknya  amat durhaka itu. Dengan menyamar sebagai pemuda-pemuda yang halus dan menarik, akhir nya tibalah mereka di batas Desa Sadum.
Di tengah jalan terlihat ada seorang gadis sedang mengambil air minum. Para malaikat tersebut meng hampiri, lalu minta agar diterima sebagai tamu-tamu di rumahnya.
Gadis itu dengan ketakutan menceritakan perangai penduduk kampung Sadum yang suka berbunuh-bu nuhan karena memperebutkan anak-anak muda yang ganteng. Diberitahukannya betapa mereka senang sekali memperkosa laki-laki belia dengan cara yang amat kotor dan mesum.
Namun mereka tetap berkeinginan ingin bertamu. Gadis itu belum berani menerimanya kalau tidak men dapat izin bapaknya, yaitu Nabi Luth.  Maka pulanglah ia dan berkata kepada bapaknya:
“Ayah, di balai desa ada dua orang laki-laki muda yang sangat tampan. Belum ada laki-laki yang lebih tampan dari keduanya. Mereka ingin menumpang tidur di rumah kita.
“Bagaimana ayah? Apakah akan kita terima?”
Nabi Luth terperanjat dan bingung. Bila diterimanya permintaan kedua laki-laki itu, ia kuatir bakal terjadi bencana besar atas mereka. Dapat dibayangkannya bagaimana orang-orang kampung akan berebutan untuk memperkosa mereka. Tapi kalau ditolak, kepada siapa lagi mereka bisa menumpang?
Akhirnya, dengan sembunyi-sembunyi Nabi Luth berangkat menemui mereka. Betul, alangkah cakapnya pemuda-pemuda itu. Setelah bersalaman dan bertutur kata sebentar, lalu Nabi Luth memberitahukan cara-caranya agar kedatangan mereka tidak diketahui penduduk kampung. Mereka harus hati-hati benar. Jangan sampai terbuka rahasia iu.
Ketika hari telah berubah gelap, dengan mengendap-endap mereka seorang demi seorang memasuki Sadum, dan buru-buru ke rumah Nabi Luth. Tapi alangkah kagetnya Nabi Luth, begitu tiba di rumahnya orang-orang kampung sudah berkerumun dengan wajah yang beringas. Ternyata isteri Nabi Luth sendiri yang telah membocorkan rahasia itu.
Mereka berteriak-teriak :
“Hai Luth, serahkan kedua pemuda itu kepada kami. Jangan kau habisi sendiri makanan yang lezat itu.”
Merinding bulu kuduk Nabi Luth mendengar teriakan-teriakan histeris itu. Dengan keberanian yang membaja selaku Nabi, dia keluar dan berbicara kepada penduduk Sadum itu.
“Wahai kaumku sekalian. Bertobatlah kamu dari perbuatan keji ini. Kembalilah kepada aturan Allah SWT, dan takutlah siksaan-siksaan-Nya yang dahsyat.”
Suara Nabi Allah itu lewat tanpa kesan. Hilang tertelan oleh teriakan-teriakan kemarahan. Malah seba gian sudah mulai bergerak hendak menyerbu. Menyaksikan keadaan yang genting itu, Nabi Luth buru-buru masuk dan mengunci pintu. Ia membuka sebuah jendela. Kepada kaumnya ia berbicara sekali lagi melalui jendela tersebut.
“Hai saudara-saudara!Kembalilah kalian kepada perempuan-perempuan yang telah dihalalkan sebagai isteri yang sah. Turutilah hidup yang wajar, sesuai dengan fitrah laki-laki. Apabila tidak kalian taati nasihat-nasihat ini, aku takut siksaan Allah akan segera membinasakanmu.”
Jika nafsu telah berlabuh di puncaknya, jika birahi telah sarat dengan rangsangan setannya, apakah lagi yang dapat menghalangi kecuali iman? Sedangkan mereka tidak punya iman sama sekali. Maka seruan terakhir Nabi Luth ini tidak diacuhkan sedikit pun. Bagaikan binatang buas mereka mendobrak masuk dan hendak merebut kedua pemuda yang tampan itu.
Nabi Luth sudah kehilangan akal. Dengan tenaga tuanya ia melawan, mempertahankan kehormatan rumahnya. Tapi ia tidak kuat. Dalam saat=saat  gawat itulah kedua pemuda itu berkata :
“Hai Luth, jangan kau kuatir atau takut. Kami berdua adalah malaikat yang diutus Allah SWT untuk men gabulkan doamu. Mereka takakan mampu mengganggu kita. Bahkan sebentar lagi mereka akan di han curkan. Ayo, kita meloloskan diri, ikuti kami. Ajak kedua anakmu yang shalihah itu, tinggalkan isteri dur hakamu, sebab dia termasuk yang harus kena kutukan.”
Dalam tempo yang singkat, dengan cara di luar kekuasaan manusia, Nabi Luth dan kedua anaknya, ber sama beberapa orang yang beriman serta kedua malaikat itu sendiri, dapat lolos dan selamat hingga keluar dari desa terlaknat itu.
Begitu orang-orang yang saleh sudah tidak ada lagi di Sadum, dan yang tinggal hanyalah pendurhaka yang tengah dihinggapi nafsu kesetanan itu, turunlah azab Allah  yang dijanjikan tersebut. Mula-mula bumi berguncang. Kuil-kuil bergetar. Matahari yang baru terbit, gelap seketika.  Mendung bertebaran, gelap laksana malam tanpa bintang.
Orang-orang menjerit-jerit ketakutan. Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar. Gedung-gedung runtuh. Tembok-tembok pecah. Gunung-gunung meletus. Sungai meluap. Gelombang di lautan mengganas. Ma ka turunlah hujan batu berbongkah-bongkah sehingga Sadum bersama penghuninya tewas.

8
“KANAN atau kiri Kolonel?”
“Kanan saja sersan.” Lima menit setelah berbelok ke kanan, ada sebuah danau kecil. Sersan Ipung menghentikan laju mobil.
Celedup …
Seeert …
Serempak turun.
Belum bergerak ke sasaran. Masih mengamankan kondisi mobil agar tidak terlihat pasukan musuh. Ca ranya dengan menutup bodi mobil dengan ranting pepohonan dan semak belantara di sekitar danau.
Setelah itu Kolonel Madi menginstruksikan anak buahnya segera merapatkan barisan dan bergerak menu ju sasaran. Tentu harus melewati beberapa tahapan dengan menempati pos masing-masing secara bergantian.
Pertama kali ia mempersilakan Kopral Hanafi dan Sersan Wini menempati posisi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada sebuah tanah gundukan yang di sekitarnya ditumbuhi ilalang dan semak belukar.
“Kopral Hanafi kiri, Sersan Wini kanan,” kata Kolonel Madi.
Keduanya sama-sama tiarap dengan senjata lurus ke depan, mengarah ke kediaman Jenderal Kick. Selain senjata laras panjang, keduanya juga dibekali bom lempar asap dan granat serta bambu runcing.
Lepas itu, Kolonel Madi memerintahkan Sersan Kifli dan Kopral Agus untuk bersiap. Keduanya dibekali pistol, besi, bom lempar asap dan granat.
Agar tak terlihat pasukan lawan, seluruh badan mulai dari kaki hingga ujung rambut Sersan Kifli dan Kopral Agusditutupi  dedaunan dan ranting pepohonan dengan muka dilumuri tanah hitam.
Sama seperti Sersan Wini dan Kopral Hanafi, keduanya belum diizinkan beraksi sebelum semua anggota pasukan siap di tempat dan situasi aman terkendali.
Berikutnya adalah Kopral Murti dan Letnan Basri. Menempati posisi samping kanan kediaman Jenderal Kick. Ada tumpukan bebatuan besar dan kecil. Di sanalah keduanya bersembunyi.
Kini giliran Kopral Madi dan Sersan Ipung. Mereka menempati posisi sebelah kiri.  Kolonel  Madi melirik jam tangannya. Bergerak mendekati angka setengah empat.
Dia kemudian mengecek satu persatu tujuh anak buahnya.  Dia menanyakan keadaan sekitar, termasuk keamanan dan keleluasan bergerak.
“Sersan Kifli.”
“Siap Kolonel.”
“Kopral Agus.”
“Siap Kolonel.”
“Bisa masuk sekarang?”
“Bisa Kolonel,” jawab Sersan Kifli.
Sambil merangkak dan tiarap bergerak, keduanya berhasil mendekati pagar pembatas yang dipasang lis trik bertegangan tinggi. Namun dengan hanya satu kali pitingan dengan besi, kawat berhasil dipotong Kopral Agus dengan amat cepat, sehingga keduanya bisa memasuki areal dalam kediaman Jenderal Kick.
Lampu sorot bergerak lambat ke kanan, kiri, belakang dan depan. Beberapa anggota pasukan pengama nan keluar dari pos jaga. Mereka berpatroli. Rutin dilakukan  satu jam sekali dengan komposisi personil yang berganti-ganti.
“Ada berapa Sersan Kifli?”
“Tiga orang Kolonel, yang kami lihat.”
“Bisa masuk?”
“Kayaknya sulit Kolonel kecuali …”
“Sikat saja, sersan.”
“Baik Kolonel.”
Satu  persatu  anggota pasukan pengaman terlatih itu berhasil dilumpuhkan Sersan Kifli dan Kopral Agus dengan tangan kosong.

9
“KOPRAL Murti.”
“Siap komandan.”
“Masuk.”
“Siap Dan.”
Triiing …
Kretek …
Satu kali lompatan, Kopral Murti dan Letnan Basri berhasil memanjat  setinggi dua puluh meter. Kaki dan tangan dengan lengketnya menempel di dinding. Sampai dekat jendela berterali besi, mereka serempak berhenti dan mengeluarkan besi kecil runcing.
Dengan besi itu keduanya secara perlahan berhasil mencongkel terali jendela. Sempat menengok ke da lam. Setelah aman Kopral Murti melompat masuk, disusul Letnan Basri.
Usai mengenakan kembali terali jendela dan menutup jendelanya rapat-rapat, Kopral Murti dan Letnan Basri mulai beraksi. Mereka menyelinap masuk dengan melewati terowongan bawah tanah. Dari terowo ngan yang sangat kokoh inilah mereka bisa sampai ke ruangan tengah.
Di ruangan yang amat luas ini tampak lengang. Tak seorang manusia pun di sana. Berjalan beberapa me ter ke depan, keduanya bersembunyi di balik dinding dekat pintu emergency. Mereka pasang kuping te rang-terang. Ada suara orang sedang mengobrol.
Kopral Murti belum memberikan reaksi apa pun. Dia masih tekun mendengar secara cermat suara itu. Sedangkan Letnan Basri mengontak Kolonel Madi, atasannya.
Dia ceritakan kejadian barusan.
“Sebaiknya tunggu kami masuk terlebih dulu letnan.”
“Siap Dan.”
“Selebihnya anda berdua yang lebih tahu situasinya.”
“Siap Dan.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung mengendap-endap melewati pagar besi setinggi tiga meter. Pagar itu tidak dipotong. Keduanya hanya melompat tanpa suara, dan sesaat kemudian sudah berada di dekat pintu masuk.
Pintu itu terkunci rapat. Sersan Ipung mengeluarkan pisau kecil lipat dari saku celananya. Pisau itu amat tajam. Kolonel  Madi mendekatkan mata pisau ke lubang pintu.  Hanya dengan satu kali putaran …
Kletek …
Sreeet …
Pintu pun terbuka sedikit. Keduanya masuk dengan sangat hati-hati. Melihat ke sekeliling jalan panjang selebar enam meter , Sersan Ipung berkata:
“Aman Dan.”
Kolonel Madi mengacungkan ibu jarinya.
“Sersan Wini.”
“Siap Kolonel.”
“Siaga dua.”
“Siap Kolonel.”
Sersan Kifli tengah berbincang serius dengan rekannya, Kopral Agus. Mereka  masuk lebih ke dalam sete lah berhasil melumpuhkan dua penjaga bersenjata. Kini mereka dihadapkan pada pagar betis anggota pa sukan khusus keamanan Jenderal Kick yang jumlahnya sekitar dua puluhan. Selain berbadan tegap dan kekar, mereka bersenjatakan lengkap.
“Aman sersan. Pilih yang terbaik,” saran Kolonel Madi.
“Siap  komandan.”
Diputuskan cepat dan taktis, Kopral Agus dan Sersan Kifli melemparkan tiga bom lempar asap. Bom ini menyerupai granat tapi bentuknya persegi empat. Saa dilempar dengan menggelindingkannya di lantai, bom dalam keadaan berputar.
Tidak langsung meledak. Ada jeda waktu yang bisa dikontrol di bagian bawah bom. Ada lubang kecil. Dari lubang inilah asap beracun akan keluar.
Satu menit berselang, bom berhenti berputar. Lalu keluarlah asap secara bertahap. Pertama kali menye rupai angin yang bergerak  lambat tapi menyebar.  Tidak bakal ter deteksi oleh orang yang berada di se kitarnya.
Baru kemudian berubah memutih dan bila terkena orang akan tewas seketika. Andaikata bisa selamat akan mengalami cacat seumur hidupnya.

10
CEESSSSS …
Ciiiiiisssss …
Seeeer …
Asap mulai memutih. Terdengar letusan berskala ringan. Nyaris tak kedengaran. Mulai mengenai satu persatu anggota pasukan lawan.
Tanpa terasa, satu-satu berjatuhan yang ditandai lemas di persendian, pusing dan akhirnya jatuh ke lantai.
Anggota badan mulai dari telapak kaki hingga kepala bergerak-gerak. Mengalami kejang yang hebat . Dari mulut keluarlah cairan putih sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan.
Ada sekitar lima anggota pasukan tersisa yang mencoba melarikan diri. Karena sudah terkepung asap, mereka  hanya bisa pasrah dan mengatasinya dengan melepas pakaian untuk mengusir sebaran asap, se kaligus melempar jauh-jauh bom asap kea rah di mana Sersan Kifli dan Kopral Agus bersembunyi.
Namun dengan cekatan dua anak buah Kolonel Madi ini melempar ulang bom lempar asap itu ke arah lima tentara tak berbaju tadi itu.
Karena panik dikepung asap, mereka pun tersandar ke dinding sebelum jatuh berguling-gulingan di lan tai karena tak kuat menahan sakit di dada dan tersendatnya alur pernafasan.
Mereka coba berdiri. Bisa awalnya, tapi tak lama kemudian jatuh lagi. Sama seperti rekan mereka yang telah tewas barusan, selain terganggungnya pernafasan dan rasa sakit di dada, seluruh persendian tera sa lemas seketika, dan mengalami kejang-ke jang.
Kejang-kejang itu terjadi secara bertahap. Dimulai dari skala ringan, sedang dan cepat pergerakannya. Badan memerah, lalu membiru dan menghitam.
Kelimanya tewas dalam keadaan terlentang dengan kedua mata terbelalak, mulut penuh cairan dan sulit bicara, apalagi harus berteriak meminta pertolongan.
Tanpa membuang waktu lagi, Sersan Kifli dan Kopral Agus memunguti senjata yang berserakan di lantai. Mereka kumpulkan jadi satu.
Mereka belum melanjutkan aksi berikutnya. Mereka lebih memilih bersembunyi di tempat semula dalam keadaan siaga dan waspada.
Sementara Kolonel Madi meminta Kopral Muti dan Letnan Basri untuk bergerak lebih mendekat ke asal suara yang mereka dengar sebelumnya.
Dengan  mengendap-endap sambil tiarap, keduanya mengintip dari balik celah dinding pembatas. Betul, ada beberapa anggota pasukan sedang berjaga-jaga di sana.
Jumlahnya ada sekitar tujuh orang. Bersenjatakan lengkap. Mereka adalah pasukan pengawal khusus. Mereka tidak terpisah, tapi punya tugas dan misi masing-masing.
Ada yang berdiri di balik jendela. Mengintip keluar dan hilir mudik dari satu jendela ke jendela yang lain. Juga ada yang berdiri dekat pintu. Mengawal setiap tamu atau siapa saja yang keluar masuk melalui pin tu besi itu.
Sebagian lagi sibuk menelepon, berbicara dan tengah merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan langkah pengamanan terhadap Jenderal Kick yang direncanakan mengunjungi beberapa tempat di luar kota.
Atas instruksi Kolonel Madi, Letnan Basri diminta mengontak Sersan Kifli dan Kopral Agus untuk segera bergabung menambah kekuatan, dan dengan empat personil cukup kuat menghadapi pasukan khusus bentukan Jenderal Kick.
Dari menit ke menit, kurang dari lima menit berselang, Kopral Murti dan Letnan Basri sudah bergabung dengan kedua rekannya. Senjata rampasan itu mereka bagi berempat, sehingga setiap dari mereka me miliki tambahan senjata.
Apa yang terjadi kemudian, mereka berempat bergerak serempak dengan posisi yang tidak berjauhan, saling membentengi, berlapis dari belakang, kiri dan kanan.

11   
“SERSAN …”
“Siap Kolonel.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung, setelah berjalan beberapa langkah ke depan,  berhenti di bawah lobang pengatur suhu yang dilapisi terali.
Sersan Ipung melompat ke pundak Kolonel Madi. Mengeluarkan besi kecil runcing, terali lubang persegi empat itu dengan cepat ia utak-atik dan terbuka.
Tak lama kemudian, Kolonel Madi jongkok dan dengan satu kali dorongan ke atas, Sersan Ipung sudah berada di mulut lubang. Miring ke kanan, mendorong tubuhnya terutama kaki, berhasil masuk dan siap membantu atasannya yang siap melompat.
Huuup …
Kolonel Madi melompat. Sersan Ipung mengulurkan tangannya. Dengan satu kali mendorong kepalanya ke depan, kedua tangannya sudah bergelantungan di besi penyangga terali.
Dreeep …
Dengan mudahnya Ipung menarik tangan Kolonel Madi. Keduanya kini aman bersembunyi di lubang pla fon.
Mendengar suara berisik, seorang anggota pasukan yang tengah berpatroli mendekati asal suara yang mencurigakan itu. Dia berhenti persis di basah lubang plafon tadi.  Melihat ke sekitar. Aman. Tapi saat dia melihat ke atas dan bermaksud melaporkan  ke atasannya ada lubang plafon yang terbuka, Sersan Ipung dengan cepat beraksi.
Dia julurkan tangan dan kepalanya, persis di bagian belakang kepala laki-laki bermata biru itu. Dengan satu kali pitingan, ia putar leher ke kanan.
Kreeek …
Tewas seketika.
Dengan memutar dan mendorongnya kepala ke depan, sambil ditarik Kolonel Madi, Sersan Ipung sudah berada di mulut bagian dalam lubang plafon itu.
Agar tak ketahuan rekan-rekannya yang lain, Kolonel Madi berinisiatif turun dengan melompat, lalu menyeret anak buah Jenderal Kick yang tewas itu ke dekat pintu masuk.
Namun, ketika ingin kembali ke tempatnya semula, Kolonel Madi melompat ke belakang setelah dua anggotna pasukan pengaman berbelok ke arah persembunyiannya.
Keduanya sempat berhenti di dekat lubang plafon yang menganga tadi. Karena cepat ditutup Sersan Ipu ng, keduanya lantas meneruskan patrol ke ruangan lain.
Beberapa saat setelah kedua rekan lasykar yang tewas itu berbelok ke kanan, Kolonel Madi dengan ta ngkas keluar dari persembunyiannya.
“Sersan …!
Treeeng.
Terali dibuka. Kolonel Madi melompat  dan dengan satu kali dorongan kaki ia sudah berada di dalam plafon bersama  Sersan Ipung.  
Treeeng …     
Lubang plafon sudah ditutup.
Sssst …
Dua lasykar muda usia tadi balik arah lagi.
“Tunggu sebentar sersan!” Bisik Kolonel Madi.  Dia meminta Sersan Ipung mengintip dari balik terali tingkah kedua tentara musuh itu.
Salah satu dari keduanya, berkulit putih bersih menanyakan kemana rekan mereka yang tadi berpatroli.
“Mungkin lagi ke toilet sersan, siapa tahu.” Kata temannya berkulit hitam manis.
“Buang air begitu?
“Mungkis sersan.”
“Mana diperbolehkan buang air  segala saat bertugas sersan.”
“Kalau kebelet gimana sersan?”
“Ya tahankan sajalah.”
“Susah sersan. Sersan belum ngerasain bagaimana orang kebelet,” terang si hitam manis.
“Belum ngerasain gimana. Wong sudah sering begitu kok,” ujar si kulit putih.
“Gimana cara nahannya sersan?”
“Tarik nafas …”
Ha ha ha ha …

12
“KOPRAL Hanafi!”
“Siap Kolonel.”
“Mobilnya sudah siap?”
“Sudah siap Kolonel.”
“Tetap siaga.”
“Siap Kolonel.”
Kopral Hanafi baru beberapa menit lalu memindahkan mobil dari dekat danau ke bawah pohon tak jauh dari tempat persembunyian dia dan Sersan Wini.
Selanjutnya mereka belum diperbolehkan melepaskan tembakan sebelum ada perintah dari Kolonel Ma di. Padahal mereka sudah tak sabar untuk masuk ke kediaman Jenderal Kick. Mereka kuatir rekan-rekan mereka yang kini ada di dalam rumah sangat besar dan luas itu mengalami kesulitan. Apalagi di berbagai tempat tertentu dipasang alarm yang memungkinkan Kolonel Madi dan beberapa anak buahnya  tertang kap dan ditawan pasukan lawan.
Namun kekuatiran itu sirna setelah mendengar penjelasan langsung dari sang atasan, disusul komen Letnan Basri dan Kopral Agus.
 Sersan Wini dan Kopral Hanafi tidak lagi menunggu.  Keduanya sudah menyiapkan beberapa alat dan bahan peledak seperti bom lempar asap dan granat.
Sersan Wini yang sedari tadi ikut membantu Kopral Hanafi menggali lubang beberapa meter ke arah kediaman Jenderal Kick, kini mulai bernafas lega.
Dia sudah bisa memasukkan dua bom lempar asap itu ke dalam lubang berbentuk L itu. Bom itu akan me ngeluarkan asap dan menyesap masuk membongkar bongkahan tanah di depannya berbentuk lubang.
Asap itu kemudian terus menyebar hingga beberapa meter ke depan. Tepat di bawah kediaman Jenderal Kick, asap itu diperkirakan berhenti menyebar, justru  beralih  membentuk gumpalan. Gumpalan itu ke mudian mengeras, lalu terdorong ke atas dan terjadilah ledakan.
Meski tidak sedahsyat bom atom, ledakan ini paling tidak membuat kocar-kacir pasukan khusus Jenderal Kick. Mereka tidak akan fokus lagi mencari asal ledakan dan penyerangan mendadak yang dipimpin Kolo nel Madi.  Dengan demikian target menangkap hidup-hidup sang jenderal bisa berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Bagaimana Sersan Wini?”
“Lumayan menguras tenaga Kopral Hanafi.”
“Ya. Mudah-mudahan saja kita berhasil sersan. Sehingga kita pulang dengan membawa sebuah keme nangan besar, bukan kekalahan,” harap Kopral Hanafi yang menyempatkan diri berzikir di sela-sela ke sibukannya memindahkan mobil  dan bersama Sersan Wini menggali lubang.
“Mudah-mudahan saja kopral. Kita sama berdoa,” kata Sersan Wini.  Tak lama setelah itu dia mendapat kabar dari Kolonel Madi  bahwa target sasaran telah dekat dan meminta penyiagaan terus ditingkatkan.
Apa yang terjadi kemudian?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung berhasil menemukan letak kamar tidur Jenderal Kick. Sang Jenderal me nempat kamar paling belakang yang dijaga secara berlapis oleh pasukan pengaman khusus.
Tidak mudah memang untuk bisa masuk ke kamar yang lumayan besar itu. Hampir tidak ada celah.  Dari berbagai sisi sulit buat dilalui karena dipasang alat pengintai dan tombol merah pertanda ada maraba haya.
Solusinya?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung melubangi atap plafon dengan besi runcing menyerupai pisau. Lubang itu tidak besar. Tapi cukuplah untuk melihat mereka yang ada di dalam kamar. Ternyata tidak mudah. Perlu waktu lima menit untuk melubangi atap itu.
Selain harus tidak menimbulkan suara berisik, juga tidak bisa cepat dikerjakan karena atap plafon ter bikin dari bahan material pelapis yang amat kuat.
Sersan Ipung memicingkan matanya sebelah kanan. Sekilas tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Namun, ketika dia menggeser letak mata kirinya sedikit ke bawah, terlihat Jenderal Kick sedang tertidur pulas. Ngorok.

13
“SERSAN Wini …”
“Siap Kolonel.”
“Berapa waktu yang tersisa?”
“Sepuluh menit dari sekarang Kolonel.”
“Oke. Tetaplah siaga sersan. Kami akan masuk …”
“Siap Kolonel.”
Setelah memperbesar cakupan lubang atap plafon yang dilakukan Sersan Ipung, Kolonel Madi bersiap tu run dengan melompat dari ketinggian sepuluh meter.
Sejenak dia mengambil ancang-ancang dengan menurunkan kepalanya terlebih dulu beberapa sentime ter, keluar dari lubang. Setelah dirasa aman, dia menurunkan seluruh badannya termasuk kedua kaki nya, dibantu Sersan Ipung dengan mendorongnya pelan-pelan.
Cuuuuusss …
Meluncur dengan kepala di bawah. Kedua tangannya lebih dulu menyentuh lantai, tanpa suara. Sukses ia lakukan setelah dengan cepatnya ia putar ke depan kedua kakinya. Bergulingan di lantai. Bersembunyi persis di balik tempat tidur Jendera Kick.
Kolonel Madi belum beraksi. Dia masih mengamankan posisi. Dia hanya bisa melihat dari jarak kurang  setengah meter  Jenderal Kick yang masih tidur pulas. Dia mengisyaratkan pada Sersan Ipung agar Kop ral Agus dan kawan-kawan segera masuk.
Bagaimana?
Kopral Agus dan Sersan Kifli mendekati pintu masuk menuju ruangan Jenderal Kick. Lalu keduanya me nempelkan bom lempar asap.  Setelah itu keduanya mundur beberapa langkah ke belakang setelah dari depan pintu mulai ada asap yang mulai menyebar masuk ke bagian bawah, atas dan lubang kunci pintu.
Kletek …
Pintu terbuka.
Beberapa anggota pasukan pengaman bergerak cepat. Mereka mendekat ke pintu  dengan senjata siap ditembakkan.
“Buka sersan!” Kata salah seorang dari lima anak buah Jenderal Kick dengan suara tak terlalu keras.
Kreeeng …
Cessss …
Asap  menyebar. Belum sempat menengok ke luar pintu, kelimanya mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya tewas dengan seluruh tubuh membiru.  Beberapa rekan mereka yang masih tersisa serentak mendekat setelah mendengar  suara erangan sesaat tadi.  Mereka hanya ingin memastikan apa gera ngan yang telah terjadi.
Saat itulah, ketika Jenderal Kick membalikkan tubuhnya dari tidur telentang miring ke kanan, Kolonel Ma di bergerak cepat. Dia hantam kepala bagian belakang sang jenderal  Kick dengan besi runcing. Tentu sa ja pingsan dan tak sadarkan diri.
Dibantu Sersan Ipung yang turun beberapa detik kemudian, keduanya membopong Jenderal Kick keluar dari kamar  tidurnya. Semua berjalan sesuai rencana. Tak ada adu jotos dan saling melepaskan temba kan.
Beberapa prajurit  musuh yang tersisa dengan mudahnya dihantam Kopral Agus dan kawan-kawan de ngan bam bu runcing. Beberapa saat terdengar erangan, namun setelah itu hilang.
Suasana berubah senyap.
Kepanikan mulai terjadi setelah Kolonel Madi dan anak buahnya sudah berada di depan pintu gerbang kediaman Jenderal Kick. Sempat terjadi baku tembak yang seru.
Sayang, adu tembak itu hanya berlangung sekitar dua menit, karena setelah itu  terdengar ledakan sa ngat dahsyat . Saking dahsyatnya, tubuh prajurit yang tadinya masih hidup, terpental ke udara dalam kondisi hancur berkeping-keping.
Tak ada lagi teriakan.  Selain hanya menyisakan asap tebal putih dan kobaran api yan memakan setiap sudut bangunan kediaman Jenderal Kick yang mash tersisa.

TAMAT
(Sambungan dari cerita fiksi sebelumnya:  ‘KOTA LAMA’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar