Cerita Fiksi
Kota Baru (2)
Ditulis oleh aminuddin
7
KARENA sudah kehabisan daya upaya, kata Kolonel Madi
meneruskan ceritanya, akhirnya Nabi Luth mengangkat kedua tangan, mengadu
kehadirat Allah SWT.
“Ya Tuhan, tunjukilah kaum kami yang sesat ini. Andaikata
petunjuk itu ditolak juga, turunkanlah kepada mereka nasihat yang bukan berupa
kata-kata atau ancaman saja. Datangkanlah azab yang dahsyat agar mereka mau
kembali. Kalau tidak mempan juga nasihat itu, musnahkanlah mereka sama sekali.
Sebab tidak ada gunanya lagi hidup mereka, cuma menambah sengsara dan kerusakan
atas prikemanusiaan belaka.”
Doa itu diperhatikan Allah SWT. Turunlah para malaikat dari
langit. Mereka singgah di tempat Nabi Ibra him, menyaru sebagai manusia.
Setelah dihormati seperti layaknya tamu-tamu biasa, barulah mereka menerangkan
bahwa sebenarnya mereka adalah malaikat-malaikat-Nya.
Alangkah ngerinya Nabi Ibrahim mendengar penuturan mereka
tentang azab yang bakal diturunkan atas orang-orang Sadum, kaumnya Nabi Luth
itu.
Para malaikat itu kemudian berangkat meninggalkan rumah Nabi
Ibrahim menuju ke Sadum yang pendu duknya amat durhaka itu. Dengan menyamar sebagai
pemuda-pemuda yang halus dan menarik, akhir nya tibalah mereka di batas Desa
Sadum.
Di tengah jalan terlihat ada seorang gadis sedang mengambil
air minum. Para malaikat tersebut meng hampiri, lalu minta agar diterima
sebagai tamu-tamu di rumahnya.
Gadis itu dengan ketakutan menceritakan perangai penduduk
kampung Sadum yang suka berbunuh-bu nuhan karena memperebutkan anak-anak muda
yang ganteng. Diberitahukannya betapa mereka senang sekali memperkosa laki-laki
belia dengan cara yang amat kotor dan mesum.
Namun mereka tetap berkeinginan ingin bertamu. Gadis itu
belum berani menerimanya kalau tidak men dapat izin bapaknya, yaitu Nabi
Luth. Maka pulanglah ia dan berkata
kepada bapaknya:
“Ayah, di balai desa ada dua orang laki-laki muda yang
sangat tampan. Belum ada laki-laki yang lebih tampan dari keduanya. Mereka
ingin menumpang tidur di rumah kita.
“Bagaimana ayah? Apakah akan kita terima?”
Nabi Luth terperanjat dan bingung. Bila diterimanya
permintaan kedua laki-laki itu, ia kuatir bakal terjadi bencana besar atas
mereka. Dapat dibayangkannya bagaimana orang-orang kampung akan berebutan untuk
memperkosa mereka. Tapi kalau ditolak, kepada siapa lagi mereka bisa menumpang?
Akhirnya, dengan sembunyi-sembunyi Nabi Luth berangkat
menemui mereka. Betul, alangkah cakapnya pemuda-pemuda itu. Setelah bersalaman
dan bertutur kata sebentar, lalu Nabi Luth memberitahukan cara-caranya agar
kedatangan mereka tidak diketahui penduduk kampung. Mereka harus hati-hati
benar. Jangan sampai terbuka rahasia iu.
Ketika hari telah berubah gelap, dengan mengendap-endap
mereka seorang demi seorang memasuki Sadum, dan buru-buru ke rumah Nabi Luth.
Tapi alangkah kagetnya Nabi Luth, begitu tiba di rumahnya orang-orang kampung
sudah berkerumun dengan wajah yang beringas. Ternyata isteri Nabi Luth sendiri
yang telah membocorkan rahasia itu.
Mereka berteriak-teriak :
“Hai Luth, serahkan kedua pemuda itu kepada kami. Jangan kau
habisi sendiri makanan yang lezat itu.”
Merinding bulu kuduk Nabi Luth mendengar teriakan-teriakan
histeris itu. Dengan keberanian yang membaja selaku Nabi, dia keluar dan
berbicara kepada penduduk Sadum itu.
“Wahai kaumku sekalian. Bertobatlah kamu dari perbuatan keji
ini. Kembalilah kepada aturan Allah SWT, dan takutlah siksaan-siksaan-Nya yang
dahsyat.”
Suara Nabi Allah itu lewat tanpa kesan. Hilang tertelan oleh
teriakan-teriakan kemarahan. Malah seba gian sudah mulai bergerak hendak
menyerbu. Menyaksikan keadaan yang genting itu, Nabi Luth buru-buru masuk dan
mengunci pintu. Ia membuka sebuah jendela. Kepada kaumnya ia berbicara sekali
lagi melalui jendela tersebut.
“Hai saudara-saudara!Kembalilah kalian kepada
perempuan-perempuan yang telah dihalalkan sebagai isteri yang sah. Turutilah
hidup yang wajar, sesuai dengan fitrah laki-laki. Apabila tidak kalian taati
nasihat-nasihat ini, aku takut siksaan Allah akan segera membinasakanmu.”
Jika nafsu telah berlabuh di puncaknya, jika birahi telah
sarat dengan rangsangan setannya, apakah lagi yang dapat menghalangi kecuali
iman? Sedangkan mereka tidak punya iman sama sekali. Maka seruan terakhir Nabi
Luth ini tidak diacuhkan sedikit pun. Bagaikan binatang buas mereka mendobrak
masuk dan hendak merebut kedua pemuda yang tampan itu.
Nabi Luth sudah kehilangan akal. Dengan tenaga tuanya ia
melawan, mempertahankan kehormatan rumahnya. Tapi ia tidak kuat. Dalam
saat=saat gawat itulah kedua pemuda itu
berkata :
“Hai Luth, jangan kau kuatir atau takut. Kami berdua adalah
malaikat yang diutus Allah SWT untuk men gabulkan doamu. Mereka takakan mampu
mengganggu kita. Bahkan sebentar lagi mereka akan di han curkan. Ayo, kita
meloloskan diri, ikuti kami. Ajak kedua anakmu yang shalihah itu, tinggalkan isteri
dur hakamu, sebab dia termasuk yang harus kena kutukan.”
Dalam tempo yang singkat, dengan cara di luar kekuasaan
manusia, Nabi Luth dan kedua anaknya, ber sama beberapa orang yang beriman
serta kedua malaikat itu sendiri, dapat lolos dan selamat hingga keluar dari
desa terlaknat itu.
Begitu orang-orang yang saleh sudah tidak ada lagi di Sadum,
dan yang tinggal hanyalah pendurhaka yang tengah dihinggapi nafsu kesetanan
itu, turunlah azab Allah yang dijanjikan
tersebut. Mula-mula bumi berguncang. Kuil-kuil bergetar. Matahari yang baru terbit,
gelap seketika. Mendung bertebaran,
gelap laksana malam tanpa bintang.
Orang-orang menjerit-jerit ketakutan. Tiba-tiba terdengar
bunyi menggelegar. Gedung-gedung runtuh. Tembok-tembok pecah. Gunung-gunung
meletus. Sungai meluap. Gelombang di lautan mengganas. Ma ka turunlah hujan
batu berbongkah-bongkah sehingga Sadum bersama penghuninya tewas.
8
“KANAN atau kiri Kolonel?”
“Kanan saja sersan.” Lima menit setelah berbelok ke kanan,
ada sebuah danau kecil. Sersan Ipung menghentikan laju mobil.
Celedup …
Seeert …
Serempak turun.
Belum bergerak ke sasaran. Masih mengamankan kondisi mobil
agar tidak terlihat pasukan musuh. Ca ranya dengan menutup bodi mobil dengan
ranting pepohonan dan semak belantara di sekitar danau.
Setelah itu Kolonel Madi menginstruksikan anak buahnya
segera merapatkan barisan dan bergerak menu ju sasaran. Tentu harus melewati
beberapa tahapan dengan menempati pos masing-masing secara bergantian.
Pertama kali ia mempersilakan Kopral Hanafi dan Sersan Wini
menempati posisi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada sebuah tanah gundukan
yang di sekitarnya ditumbuhi ilalang dan semak belukar.
“Kopral Hanafi kiri, Sersan Wini kanan,” kata Kolonel Madi.
Keduanya sama-sama tiarap dengan senjata lurus ke depan,
mengarah ke kediaman Jenderal Kick. Selain senjata laras panjang, keduanya juga
dibekali bom lempar asap dan granat serta bambu runcing.
Lepas itu, Kolonel Madi memerintahkan Sersan Kifli dan
Kopral Agus untuk bersiap. Keduanya dibekali pistol, besi, bom lempar asap dan
granat.
Agar tak terlihat pasukan lawan, seluruh badan mulai dari
kaki hingga ujung rambut Sersan Kifli dan Kopral Agusditutupi dedaunan dan ranting pepohonan dengan muka
dilumuri tanah hitam.
Sama seperti Sersan Wini dan Kopral Hanafi, keduanya belum
diizinkan beraksi sebelum semua anggota pasukan siap di tempat dan situasi aman
terkendali.
Berikutnya adalah Kopral Murti dan Letnan Basri. Menempati
posisi samping kanan kediaman Jenderal Kick. Ada tumpukan bebatuan besar dan
kecil. Di sanalah keduanya bersembunyi.
Kini giliran Kopral Madi dan Sersan Ipung. Mereka menempati
posisi sebelah kiri. Kolonel Madi melirik jam tangannya. Bergerak mendekati
angka setengah empat.
Dia kemudian mengecek satu persatu tujuh anak buahnya. Dia menanyakan keadaan sekitar, termasuk
keamanan dan keleluasan bergerak.
“Sersan Kifli.”
“Siap Kolonel.”
“Kopral Agus.”
“Siap Kolonel.”
“Bisa masuk sekarang?”
“Bisa Kolonel,” jawab Sersan Kifli.
Sambil merangkak dan tiarap bergerak, keduanya berhasil
mendekati pagar pembatas yang dipasang lis trik bertegangan tinggi. Namun
dengan hanya satu kali pitingan dengan besi, kawat berhasil dipotong Kopral
Agus dengan amat cepat, sehingga keduanya bisa memasuki areal dalam kediaman
Jenderal Kick.
Lampu sorot bergerak lambat ke kanan, kiri, belakang dan
depan. Beberapa anggota pasukan pengama nan keluar dari pos jaga. Mereka berpatroli.
Rutin dilakukan satu jam sekali dengan
komposisi personil yang berganti-ganti.
“Ada berapa Sersan Kifli?”
“Tiga orang Kolonel, yang kami lihat.”
“Bisa masuk?”
“Kayaknya sulit Kolonel kecuali …”
“Sikat saja, sersan.”
“Baik Kolonel.”
Satu persatu anggota pasukan pengaman terlatih itu berhasil
dilumpuhkan Sersan Kifli dan Kopral Agus dengan tangan kosong.
9
“KOPRAL Murti.”
“Siap komandan.”
“Masuk.”
“Siap Dan.”
Triiing …
Kretek …
Satu kali lompatan, Kopral Murti dan Letnan Basri berhasil memanjat
setinggi dua puluh meter. Kaki dan
tangan dengan lengketnya menempel di dinding. Sampai dekat jendela berterali
besi, mereka serempak berhenti dan mengeluarkan besi kecil runcing.
Dengan besi itu keduanya secara perlahan berhasil mencongkel
terali jendela. Sempat menengok ke da lam. Setelah aman Kopral Murti melompat
masuk, disusul Letnan Basri.
Usai mengenakan kembali terali jendela dan menutup
jendelanya rapat-rapat, Kopral Murti dan Letnan Basri mulai beraksi. Mereka
menyelinap masuk dengan melewati terowongan bawah tanah. Dari terowo ngan yang
sangat kokoh inilah mereka bisa sampai ke ruangan tengah.
Di ruangan yang amat luas ini tampak lengang. Tak seorang
manusia pun di sana. Berjalan beberapa me ter ke depan, keduanya bersembunyi di
balik dinding dekat pintu emergency. Mereka pasang kuping te rang-terang. Ada
suara orang sedang mengobrol.
Kopral Murti belum memberikan reaksi apa pun. Dia masih
tekun mendengar secara cermat suara itu. Sedangkan Letnan Basri mengontak
Kolonel Madi, atasannya.
Dia ceritakan kejadian barusan.
“Sebaiknya tunggu kami masuk terlebih dulu letnan.”
“Siap Dan.”
“Selebihnya anda berdua yang lebih tahu situasinya.”
“Siap Dan.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung mengendap-endap melewati pagar
besi setinggi tiga meter. Pagar itu tidak dipotong. Keduanya hanya melompat
tanpa suara, dan sesaat kemudian sudah berada di dekat pintu masuk.
Pintu itu terkunci rapat. Sersan Ipung mengeluarkan pisau
kecil lipat dari saku celananya. Pisau itu amat tajam. Kolonel Madi mendekatkan mata pisau ke lubang
pintu. Hanya dengan satu kali putaran …
Kletek …
Sreeet …
Pintu pun terbuka sedikit. Keduanya masuk dengan sangat
hati-hati. Melihat ke sekeliling jalan panjang selebar enam meter , Sersan
Ipung berkata:
“Aman Dan.”
Kolonel Madi mengacungkan ibu jarinya.
“Sersan Wini.”
“Siap Kolonel.”
“Siaga dua.”
“Siap Kolonel.”
Sersan Kifli tengah berbincang serius dengan rekannya,
Kopral Agus. Mereka masuk lebih ke dalam
sete lah berhasil melumpuhkan dua penjaga bersenjata. Kini mereka dihadapkan
pada pagar betis anggota pa sukan khusus keamanan Jenderal Kick yang jumlahnya sekitar
dua puluhan. Selain berbadan tegap dan kekar, mereka bersenjatakan lengkap.
“Aman sersan. Pilih yang terbaik,” saran Kolonel Madi.
“Siap komandan.”
Diputuskan cepat dan taktis, Kopral Agus dan Sersan Kifli
melemparkan tiga bom lempar asap. Bom ini menyerupai granat tapi bentuknya
persegi empat. Saa dilempar dengan menggelindingkannya di lantai, bom dalam
keadaan berputar.
Tidak langsung meledak. Ada jeda waktu yang bisa dikontrol
di bagian bawah bom. Ada lubang kecil. Dari lubang inilah asap beracun akan
keluar.
Satu menit berselang, bom berhenti berputar. Lalu keluarlah
asap secara bertahap. Pertama kali menye rupai angin yang bergerak lambat tapi menyebar. Tidak bakal ter deteksi oleh orang yang
berada di se kitarnya.
Baru kemudian berubah memutih dan bila terkena orang akan
tewas seketika. Andaikata bisa selamat akan mengalami cacat seumur hidupnya.
10
CEESSSSS …
Ciiiiiisssss …
Seeeer …
Asap mulai memutih. Terdengar letusan berskala ringan.
Nyaris tak kedengaran. Mulai mengenai satu persatu anggota pasukan lawan.
Tanpa terasa, satu-satu berjatuhan yang ditandai lemas di
persendian, pusing dan akhirnya jatuh ke lantai.
Anggota badan mulai dari telapak kaki hingga kepala bergerak-gerak.
Mengalami kejang yang hebat . Dari mulut keluarlah cairan putih sebelum
akhirnya tewas secara mengenaskan.
Ada sekitar lima anggota pasukan tersisa yang mencoba
melarikan diri. Karena sudah terkepung asap, mereka hanya bisa pasrah dan mengatasinya dengan
melepas pakaian untuk mengusir sebaran asap, se kaligus melempar jauh-jauh bom
asap kea rah di mana Sersan Kifli dan Kopral Agus bersembunyi.
Namun dengan cekatan dua anak buah Kolonel Madi ini melempar
ulang bom lempar asap itu ke arah lima tentara tak berbaju tadi itu.
Karena panik dikepung asap, mereka pun tersandar ke dinding
sebelum jatuh berguling-gulingan di lan tai karena tak kuat menahan sakit di
dada dan tersendatnya alur pernafasan.
Mereka coba berdiri. Bisa awalnya, tapi tak lama kemudian
jatuh lagi. Sama seperti rekan mereka yang telah tewas barusan, selain
terganggungnya pernafasan dan rasa sakit di dada, seluruh persendian tera sa
lemas seketika, dan mengalami kejang-ke jang.
Kejang-kejang itu terjadi secara bertahap. Dimulai dari
skala ringan, sedang dan cepat pergerakannya. Badan memerah, lalu membiru dan
menghitam.
Kelimanya tewas dalam keadaan terlentang dengan kedua mata
terbelalak, mulut penuh cairan dan sulit bicara, apalagi harus berteriak
meminta pertolongan.
Tanpa membuang waktu lagi, Sersan Kifli dan Kopral Agus
memunguti senjata yang berserakan di lantai. Mereka kumpulkan jadi satu.
Mereka belum melanjutkan aksi berikutnya. Mereka lebih
memilih bersembunyi di tempat semula dalam keadaan siaga dan waspada.
Sementara Kolonel Madi meminta Kopral Muti dan Letnan Basri
untuk bergerak lebih mendekat ke asal suara yang mereka dengar sebelumnya.
Dengan mengendap-endap
sambil tiarap, keduanya mengintip dari balik celah dinding pembatas. Betul, ada
beberapa anggota pasukan sedang berjaga-jaga di sana.
Jumlahnya ada sekitar tujuh orang. Bersenjatakan lengkap.
Mereka adalah pasukan pengawal khusus. Mereka tidak terpisah, tapi punya tugas
dan misi masing-masing.
Ada yang berdiri di balik jendela. Mengintip keluar dan hilir
mudik dari satu jendela ke jendela yang lain. Juga ada yang berdiri dekat
pintu. Mengawal setiap tamu atau siapa saja yang keluar masuk melalui pin tu
besi itu.
Sebagian lagi sibuk menelepon, berbicara dan tengah
merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan langkah pengamanan terhadap Jenderal
Kick yang direncanakan mengunjungi beberapa tempat di luar kota.
Atas instruksi Kolonel Madi, Letnan Basri diminta mengontak
Sersan Kifli dan Kopral Agus untuk segera bergabung menambah kekuatan, dan
dengan empat personil cukup kuat menghadapi pasukan khusus bentukan Jenderal
Kick.
Dari menit ke menit, kurang dari lima menit berselang,
Kopral Murti dan Letnan Basri sudah bergabung dengan kedua rekannya. Senjata
rampasan itu mereka bagi berempat, sehingga setiap dari mereka me miliki
tambahan senjata.
Apa yang terjadi kemudian, mereka berempat bergerak serempak
dengan posisi yang tidak berjauhan, saling membentengi, berlapis dari belakang,
kiri dan kanan.
11
“SERSAN …”
“Siap Kolonel.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung, setelah berjalan beberapa
langkah ke depan, berhenti di bawah
lobang pengatur suhu yang dilapisi terali.
Sersan Ipung melompat ke pundak Kolonel Madi. Mengeluarkan
besi kecil runcing, terali lubang persegi empat itu dengan cepat ia utak-atik
dan terbuka.
Tak lama kemudian, Kolonel Madi jongkok dan dengan satu kali
dorongan ke atas, Sersan Ipung sudah berada di mulut lubang. Miring ke kanan,
mendorong tubuhnya terutama kaki, berhasil masuk dan siap membantu atasannya
yang siap melompat.
Huuup …
Kolonel Madi melompat. Sersan Ipung mengulurkan tangannya.
Dengan satu kali mendorong kepalanya ke depan, kedua tangannya sudah
bergelantungan di besi penyangga terali.
Dreeep …
Dengan mudahnya Ipung menarik tangan Kolonel Madi. Keduanya
kini aman bersembunyi di lubang pla fon.
Mendengar suara berisik, seorang anggota pasukan yang tengah
berpatroli mendekati asal suara yang mencurigakan itu. Dia berhenti persis di
basah lubang plafon tadi. Melihat ke
sekitar. Aman. Tapi saat dia melihat ke atas dan bermaksud melaporkan ke atasannya ada lubang plafon yang terbuka,
Sersan Ipung dengan cepat beraksi.
Dia julurkan tangan dan kepalanya, persis di bagian belakang
kepala laki-laki bermata biru itu. Dengan satu kali pitingan, ia putar leher ke
kanan.
Kreeek …
Tewas seketika.
Dengan memutar dan mendorongnya kepala ke depan, sambil
ditarik Kolonel Madi, Sersan Ipung sudah berada di mulut bagian dalam lubang
plafon itu.
Agar tak ketahuan rekan-rekannya yang lain, Kolonel Madi
berinisiatif turun dengan melompat, lalu menyeret anak buah Jenderal Kick yang
tewas itu ke dekat pintu masuk.
Namun, ketika ingin kembali ke tempatnya semula, Kolonel
Madi melompat ke belakang setelah dua anggotna pasukan pengaman berbelok ke
arah persembunyiannya.
Keduanya sempat berhenti di dekat lubang plafon yang
menganga tadi. Karena cepat ditutup Sersan Ipu ng, keduanya lantas meneruskan
patrol ke ruangan lain.
Beberapa saat setelah kedua rekan lasykar yang tewas itu
berbelok ke kanan, Kolonel Madi dengan ta ngkas keluar dari persembunyiannya.
“Sersan …!
Treeeng.
Terali dibuka. Kolonel Madi melompat dan dengan satu kali dorongan kaki ia sudah
berada di dalam plafon bersama Sersan
Ipung.
Treeeng …
Lubang plafon sudah ditutup.
Sssst …
Dua lasykar muda usia tadi balik arah lagi.
“Tunggu sebentar sersan!” Bisik Kolonel Madi. Dia meminta Sersan Ipung mengintip dari balik
terali tingkah kedua tentara musuh itu.
Salah satu dari keduanya, berkulit putih bersih menanyakan
kemana rekan mereka yang tadi berpatroli.
“Mungkin lagi ke toilet sersan, siapa tahu.” Kata temannya
berkulit hitam manis.
“Buang air begitu?
“Mungkis sersan.”
“Mana diperbolehkan buang air segala saat bertugas sersan.”
“Kalau kebelet gimana sersan?”
“Ya tahankan sajalah.”
“Susah sersan. Sersan belum ngerasain bagaimana orang
kebelet,” terang si hitam manis.
“Belum ngerasain gimana. Wong sudah sering begitu kok,” ujar
si kulit putih.
“Gimana cara nahannya sersan?”
“Tarik nafas …”
Ha ha ha ha …
12
“KOPRAL Hanafi!”
“Siap Kolonel.”
“Mobilnya sudah siap?”
“Sudah siap Kolonel.”
“Tetap siaga.”
“Siap Kolonel.”
Kopral Hanafi baru beberapa menit lalu memindahkan mobil
dari dekat danau ke bawah pohon tak jauh dari tempat persembunyian dia dan
Sersan Wini.
Selanjutnya mereka belum diperbolehkan melepaskan tembakan
sebelum ada perintah dari Kolonel Ma di. Padahal mereka sudah tak sabar untuk
masuk ke kediaman Jenderal Kick. Mereka kuatir rekan-rekan mereka yang kini ada
di dalam rumah sangat besar dan luas itu mengalami kesulitan. Apalagi di
berbagai tempat tertentu dipasang alarm yang memungkinkan Kolonel Madi dan
beberapa anak buahnya tertang kap dan
ditawan pasukan lawan.
Namun kekuatiran itu sirna setelah mendengar penjelasan
langsung dari sang atasan, disusul komen Letnan Basri dan Kopral Agus.
Sersan Wini dan
Kopral Hanafi tidak lagi menunggu. Keduanya sudah menyiapkan beberapa alat dan
bahan peledak seperti bom lempar asap dan granat.
Sersan Wini yang sedari tadi ikut membantu Kopral Hanafi
menggali lubang beberapa meter ke arah kediaman Jenderal Kick, kini mulai
bernafas lega.
Dia sudah bisa memasukkan dua bom lempar asap itu ke dalam
lubang berbentuk L itu. Bom itu akan me ngeluarkan asap dan menyesap masuk
membongkar bongkahan tanah di depannya berbentuk lubang.
Asap itu kemudian terus menyebar hingga beberapa meter ke
depan. Tepat di bawah kediaman Jenderal Kick, asap itu diperkirakan berhenti
menyebar, justru beralih membentuk gumpalan. Gumpalan itu ke mudian
mengeras, lalu terdorong ke atas dan terjadilah ledakan.
Meski tidak sedahsyat bom atom, ledakan ini paling tidak
membuat kocar-kacir pasukan khusus Jenderal Kick. Mereka tidak akan fokus lagi
mencari asal ledakan dan penyerangan mendadak yang dipimpin Kolo nel Madi. Dengan demikian target menangkap hidup-hidup
sang jenderal bisa berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Bagaimana Sersan Wini?”
“Lumayan menguras tenaga Kopral Hanafi.”
“Ya. Mudah-mudahan saja kita berhasil sersan. Sehingga kita
pulang dengan membawa sebuah keme nangan besar, bukan kekalahan,” harap Kopral
Hanafi yang menyempatkan diri berzikir di sela-sela ke sibukannya memindahkan
mobil dan bersama Sersan Wini menggali
lubang.
“Mudah-mudahan saja kopral. Kita sama berdoa,” kata Sersan
Wini. Tak lama setelah itu dia mendapat
kabar dari Kolonel Madi bahwa target
sasaran telah dekat dan meminta penyiagaan terus ditingkatkan.
Apa yang terjadi kemudian?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung berhasil menemukan letak kamar
tidur Jenderal Kick. Sang Jenderal me nempat kamar paling belakang yang dijaga
secara berlapis oleh pasukan pengaman khusus.
Tidak mudah memang untuk bisa masuk ke kamar yang lumayan
besar itu. Hampir tidak ada celah. Dari
berbagai sisi sulit buat dilalui karena dipasang alat pengintai dan tombol
merah pertanda ada maraba haya.
Solusinya?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung melubangi atap plafon dengan
besi runcing menyerupai pisau. Lubang itu tidak besar. Tapi cukuplah untuk
melihat mereka yang ada di dalam kamar. Ternyata tidak mudah. Perlu waktu lima
menit untuk melubangi atap itu.
Selain harus tidak menimbulkan suara berisik, juga tidak bisa
cepat dikerjakan karena atap plafon ter bikin dari bahan material pelapis yang
amat kuat.
Sersan Ipung memicingkan matanya sebelah kanan. Sekilas
tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Namun, ketika dia menggeser letak mata kirinya
sedikit ke bawah, terlihat Jenderal Kick sedang tertidur pulas. Ngorok.
13
“SERSAN Wini …”
“Siap Kolonel.”
“Berapa waktu yang tersisa?”
“Sepuluh menit dari sekarang Kolonel.”
“Oke. Tetaplah siaga sersan. Kami akan masuk …”
“Siap Kolonel.”
Setelah memperbesar cakupan lubang atap plafon yang
dilakukan Sersan Ipung, Kolonel Madi bersiap tu run dengan melompat dari
ketinggian sepuluh meter.
Sejenak dia mengambil ancang-ancang dengan menurunkan
kepalanya terlebih dulu beberapa sentime ter, keluar dari lubang. Setelah dirasa
aman, dia menurunkan seluruh badannya termasuk kedua kaki nya, dibantu Sersan
Ipung dengan mendorongnya pelan-pelan.
Cuuuuusss …
Meluncur dengan kepala di bawah. Kedua tangannya lebih dulu
menyentuh lantai, tanpa suara. Sukses ia lakukan setelah dengan cepatnya ia
putar ke depan kedua kakinya. Bergulingan di lantai. Bersembunyi persis di
balik tempat tidur Jendera Kick.
Kolonel Madi belum beraksi. Dia masih mengamankan posisi.
Dia hanya bisa melihat dari jarak kurang setengah meter Jenderal Kick yang masih tidur pulas. Dia
mengisyaratkan pada Sersan Ipung agar Kop ral Agus dan kawan-kawan segera
masuk.
Bagaimana?
Kopral Agus dan Sersan Kifli mendekati pintu masuk menuju
ruangan Jenderal Kick. Lalu keduanya me nempelkan bom lempar asap. Setelah itu keduanya mundur beberapa langkah
ke belakang setelah dari depan pintu mulai ada asap yang mulai menyebar masuk
ke bagian bawah, atas dan lubang kunci pintu.
Kletek …
Pintu terbuka.
Beberapa anggota pasukan pengaman bergerak cepat. Mereka
mendekat ke pintu dengan senjata siap
ditembakkan.
“Buka sersan!” Kata salah seorang dari lima anak buah
Jenderal Kick dengan suara tak terlalu keras.
Kreeeng …
Cessss …
Asap menyebar. Belum
sempat menengok ke luar pintu, kelimanya mengalami kejang-kejang sebelum
akhirnya tewas dengan seluruh tubuh membiru. Beberapa rekan mereka yang masih tersisa
serentak mendekat setelah mendengar suara erangan sesaat tadi. Mereka hanya ingin memastikan apa gera ngan
yang telah terjadi.
Saat itulah, ketika Jenderal Kick membalikkan tubuhnya dari
tidur telentang miring ke kanan, Kolonel Ma di bergerak cepat. Dia hantam
kepala bagian belakang sang jenderal
Kick dengan besi runcing. Tentu sa ja pingsan dan tak sadarkan diri.
Dibantu Sersan Ipung yang turun beberapa detik kemudian,
keduanya membopong Jenderal Kick keluar dari kamar tidurnya. Semua berjalan sesuai rencana. Tak
ada adu jotos dan saling melepaskan temba kan.
Beberapa prajurit musuh yang tersisa dengan mudahnya dihantam
Kopral Agus dan kawan-kawan de ngan bam bu runcing. Beberapa saat terdengar
erangan, namun setelah itu hilang.
Suasana berubah senyap.
Kepanikan mulai terjadi setelah Kolonel Madi dan anak
buahnya sudah berada di depan pintu gerbang kediaman Jenderal Kick. Sempat
terjadi baku tembak yang seru.
Sayang, adu tembak itu hanya berlangung sekitar dua menit,
karena setelah itu terdengar ledakan sa ngat
dahsyat . Saking dahsyatnya, tubuh prajurit yang tadinya masih hidup, terpental
ke udara dalam kondisi hancur berkeping-keping.
Tak ada lagi teriakan.
Selain hanya menyisakan asap tebal putih dan kobaran api yan memakan
setiap sudut bangunan kediaman Jenderal Kick yang mash tersisa.
TAMAT
(Sambungan dari cerita fiksi sebelumnya: ‘KOTA LAMA’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar