Novel
Kobok Tay (3)
By Wak Amin
10
TERNYATA tidak mudah mengejar apalagi menangkap si
pengendara motor trail itu. Selain mampu me liuk-liuk di tengah keramaian dan
kepadatan arus lalu-lintas, ketika melewati jalan sempit, di luar duga an
dengan cepat meluncur sampai melewati jembatan kayu penghubung antar rumah
warga di salah satu sudut perkotaan.
Bukan itu saja. Saat terkepung oleh Letnan Salam dan Mr
Clean, si pengendara mampu melewati dua ba ngunan besar. Hotel bertingkat lima.
Seolah terbang, dia memundurkan motornya sejenak. Lalu mene kan gas sekuat
mungkin, dan dengan kecepatan di atas rata-rata, ia sukses melayang di udara
dengan motornya.
Para penghuni hotel laki-laki yang tengah bersantai di
lantai teratas, yang tanpa sengaja melihat si pe ngenendara berakrobatik di
udara dengan motornya, berdecak kagum sementara kaum wanitanya ha nya bisa menutup
mulut mereka. Meski sebagian dari mereka ada juga yang menjerit histeris karena
tak percaya dengan apa yang telah mereka saksikan barusan.
Ketika Mr Jones melepaskan tembakan beberapa kali, si
pengendara dengan mudahnya mengelak ke ka nan dan kiri. Seakan dia tahu ke arah manakah pelor
dilesakkan. Walaupun sempat melompat dan ber gulingan di tanah, dia tak pernah
jauh dari motornya.
Triiiing …
Treeeeng …
Dua kali peluru yang dilesakkan Mr Clean berhasil mengenai
bodi belakang motor. Terbalik, namun dengan satu dorongan ke kanan, motor pun
melaju kembali meski dalam posisi miring ke kanan.
Akrobatik yang dilakukan si pengendara terus berlangsung dan
semakin menggila setelah memasuki ka wasan pasar kota. Para pengunjung pasar
dibuat panik dengan manuver berbahaya yang diperagakan.
Betapa tidak, pengendara acapkali berteriak menyuruh warga
minggir, lalu mengangkat bagian depan motornya berulangkali dengan kecepatan di
atas 60.
“Kurang ajar!” Maki seorang ibu yang tas cangkingan
belanjaannya berisi sayur mayur dan sedikit ikan jatuh ke tanah karena
kesenggol setang motor.
“Sabar Bu. Biasalah orang sekarang. Tak ngebut belum naik
motor namanya. Ditegur bukannya mau me nerima, malah kita yang dipukul,” ujar
teman si ibu di sebelahnya. Dia lah yang mengambil tas be lanja an yang jatuh.
Dia juga sempat terdorong ke samping untuk menghindari motor berstang lebar
itu.
Reeeen …
Reeeen …
Asap hitam menyelimuti pedagang gorengan yang biasa mangkal
di luar pasar. Mereka batuk-batuk ke cil, dan begitu si pengendara melaju
kencang dengan motornya ke pusat kota, sumpah serapah dan makain pun
bermunculan.
“Moga dikutuk Tuhan,” kata seorang pedagang tahu goreng sambil
membasuh mangkuk berisi cabe hijau.
“Sudah .. sudah. Jangan cari balak lah. Kita ini orang
kecil,” nasehat temannya penjual siomay.
“Iya Bro. Kalau didengarnya kan bahaya. Kita pasti babak
belur dipukuli. Gerobak jualanmu dihancuri, duit diambil pula,” ujar pedagang
bakwan dan pempek segala rasa.
Piiiin …
Piiiin …
Nona Elizabeth turun dari mobilnya. Kebetulan, pikirnya
dalam hati. Mereka pasti tahu. Dan mereka memang tahu. Tak sungkan menjelaskan
ciri-ciri orangnya.
“Tinggi orangnya Mbak,” jelas tukang tahu.
“Kulitnya agak hitam. Tapi kita tak tengok jelas mukanya dia
karena tertutup kaca helm,” sahut tukang siomay.
“Tinggi jugalah Mbak. Walau tak berdiri, cuma duduk di atas
motornya, saya lihat kakinya panjang. Kalau panjang pasti tinggi kan Mbak,” jelas
pedagang bakso bakar.
Hua ha ha ha …
“Bisa saja kamu Bro,” kata temannya pedagang kerupuk.
Jarak antara si pengendara trail dengan Letnan Salam terpaut
jauh. Namun dengan menggunakan alat pelacak mereka pastikan posisi sasaran
mereka sekarang berada dekat sebuah jembatan mengarah ke luar pusat kota.
Letnan Salam terpaksa meminta bantuan rekan-rekan sesama
polisi di Graha Police, yang beberapa menit kemudian dua buah helikopter
dikerahkan.
Dari atas helikopter diketahui si pengendara trail sedang mengemudikan
motornya di atas jembatan yang tak begitu ramai arus lalu-lintasnya.
Dua helikopter ini mengambil posisi dua arah. Satu mengarah
ke depan, satu lagi mengarah ke belakang. Terbang rendah sambil melepaskan
tembakan beberapa kali.
Si pengendara tak tinggal diam. Sambil mengemudi, dia juga
lepaskan tembakan dengan hanya satu ta ngan. Cuma tak satu pun peluru yang
mengenai sasaran. Malah, saat dia berbelok ke kanan, tangan ka nannya justru
terkena pelor.
“Aduuh!”
Meringis, tapi masih kuat untuk mengemudi. Dia tahan rasa
sakit di tangan, menyusul ke kaki dan selang kangan.
Dengan anggota badan berlumuran darah, si pengendara sukses
melewati jembatan. Lalu menghilang di balik lorong tak jauh dari jembatan.
“Let. Dia menghilang di balik lorong,” kata pria bersenjata
di samping pengemudi helikopter.
“Oke kami ke sana.”
“Let.”
“Ya.”
“Apa kami boleh kembali sekarang ke markas?”
“Apa tak bisa mendarat atau terus mengejar?”
“Sulit Let. Karena dia menghilang di tengah kawasan padat
penduduk. Untuk mengejarnya berisiko Let.”
“Oke. Silakan kembali. Tetapi tetap siaga.”
“Siap Letnan.”
Sementara Nona Elizabeth sudah mengetahui keberadaan
sasarannya sekarang, Letnan Salam justru berputar-putar di sekitar lorong
sempit yang dilewati si pengendara.
Mobil tak bisa masuk.
11
LETNAN Salam akhirnya meminjam motor warga. Dia berboncengan
dengan Mr Jones melewati gang sempit yang kanan kirinya penuh disesaki tiang
jemuran dan kaleng bekas serta gerobak gorengan.
Sedangkan Nona Elizabeth dan Mr Clean menelusuri sebuah jalan
yang cukup besar. Kendaraan roda empat bisa masuk tapi satu arah.
Tepat di sebuah warung makan paling ujung, mereka berhenti
karena ada gang yang sempit. Tak memungkinkan bisa dilewati mobil. Selain
sempit ada bekas genangan air hujan yang turun deras semalam.
“Kita cek dulu Non Eli,” kata Mr Clean. Menyalakan lagi alat
pelacak jejak. Sayang, tak ditemukan posisi terkini sasaran.
Dia akhirnya menelepon Letnan Salam.
“Let .. Roger!”
“Ya disini kami Clean. Tak jauh dari posisimu sekarang.”
“Bisa masuk gimana itu Let?”
“Pake motor Clean.”
“Oooo …”
“Cepat cari dan pinjam motor. Susul saya sekarang!”
“Siap Let.”
Mencari sepeda motor di perkampungan sempit ini
gampang-gampang susah. Gampangnya jika kebetu lan ada, seperti yang baru
dialami Letnan Salam. Warga bisa diajak kompromi. Motor dipinjam, nanti di
kembalikan.
Sedangkan Nona Elizabeth dan Mr Clean, keduanya harus
bersusah payah menemukan sepeda motor ya ng biasanya ditaruh di teras rumah.
Kalau kereta angin banyak. Hampir setiap rumah, di terasnya ada sepeda berbagai
merek dan jenis. Mulai dari sepeda mini, jengki hingga sepeda ontel.
“Terus aja Mister!”
“Kamu duluan Non Eli.”
Dua menit berjalan cepat, mereka kemudian menemukan seorang
pengendara motor, berboncengan dan masih berusia muda.
Melihat Mr Clean dan Non Eli, itu pemuda menghentikan laju
motornya karena takut tertabrak. Dia mencoba bersikap ramah dan tak menaruh
curiga.
“Mas …” Mr Clean memperlihatkan identitas lengkapnya. Nona
Elizabeth juga. Dia mengutarakan maksud dan tujuannya kepada pria kurus
berkulit sawo matang itu.
Si pria dengan cepat turun dari sepeda motornya. Juga teman
wanita yang dia bonceng. Dia tak kebera tan motornya dipinjam. Dia hanya
berpesan, setelah dipinjam, mengembalikan sepeda motor pinjaman itu ke kediamannya.
“Terima kasih Mas. Pinjam dulu motornya,” kata Nona
Elizabeth sembari menyunggingkan sekilas senyu man.
Motor pun melaju. Di pertigaan lorong mereka berpapasan
dengan Letnan Salam. Kemudian menerus kan laju sepeda motornya ke depan.
Melewati beberapa rumah yang di kanan dan kirinya ditanami ane ka tanaman.
Selama lima belas menit mengitari kawasan gang sempit dan
padat penduduk itu, mereka belum juga menemukan sasaran yang mereka cari.
Setelah bertanya sana-sini, keberadaan si pengendara sedikit
demi sedikit mulai terkuak. Ternyata dia bersembunyi di sebuah rumah kosong di
ujung gang.
Si pengendara tahu Letnan Salam cs sudah semakin mendekat.
Dia bergegas mendorong sepeda motor nya dari belakang rumah. Kemudian dengan
motornya itu ia melewati jalanan lebak. Jalan
ini jarang dile wati karena berisiko
terbalik, mogok dan pecah ban.
Namun si pengendara tetap ngotot. Setelah sempat mogok dan
terbalik, walau sampai tak terguling itu motor, sampai juga akhirnya ke
seberang. Dia melihat Letnan Salam sebelum memacu sepeda motornya melewati
pematang sawah.
“Tak usah Clean,” kata Letnan Salam. Mr Clean hendak
melepaskan tembakan, namun tak jadi karena diminta sang komandan untuk menahan
diri.
“Kita kejar saja sampai dapat,” ujar Mr Jones. Gantian dia
yang membonceng Letnan Salam.
Merasa kuatir kehilangan jejak, Letnan Salam meminta bantuan
helikopter untuk mengejar sasaran me reka. Kurang dari lima menit, dua helikopter
terbang rendah memasuki pematang sawah.
Setelah berkeliling sebanyak tiga kali, jejak si pengendara
berhasil diketemukan. Kali ini mereka berte kad tak ingin berkompromi lagi.
Bila perlu tembak di tempat. Jangan sampai kehilangan jejak lagi.
Penembakan itu dilakukan sesaat setelah pengendara keluar
dari semak menuju sebuah gang di dekat areal persawahan. Saat itulah penembak
jitu dari dua helicopter melepaskan tembakannya beberapa kali.
Sasaran mereka terjatuh. Namun berhasil bangun lagi. Terus
dia berlari menyusuri semak-semak yang mulai meninggi.
Merasa yakin tak terlacak helikopter, si pengendara keluar
dari semak. Ada jalan tanah yang biasa dilalui warga untuk pergi k sawah,
berdagang dan kerja serabutan.
Trot .. tot … tot ...
Trot .. tot .. tot …
Trot … tot .. tot …
Sebanyak tiga puluh peluru menyasar tepat ke kepala,
pinggang, kaki dan anggota badan lainnya.
Pengendara itu pun tewas, akhirnya.
12
“HENTIKAN tembakan Sersan!” Perintah Letnan Salam
berulangkali. Setelah berteriak sampai lima belas kali lewat telepon seluler mini , dua penembak jitu yang
beraksi dari pintu helikopter berbeda itu baru berhenti menembak. Helikopter pun bergegas kembali ke markas.
“Cepat Mr Jones!” Kata Letnan Salam. Dia berharap masih ada
kesempatan hidup buat si pengendara sehingga dapat diketahui siapa dalang
peledakan di depan Mr President dan rombongan.
Sambil berlari ke tengah pematang sawah, Letnan Salam dan
ketiga rekannya hanya bisa gigit jari sete lah mengetahui seluruh anggota badan
sasaran mereka hancur tak berkeping akibat diterjang timah panas.
Kendati sulit dikenali lagi, Mr Clean tampak lega setelah
membidikkan kamera androidnya ke wajah pengendara yang sesaat kemudian
mengalami retak di bagian kepala dan nyaris terbelah dua.
Selain otaknya yang mulai berceceran, dari mulut terduga
pelaku peledakan pabrik itu keluar cairan pu tih. Lalu bola mataya terlepas,
hidungnya pecah, dan mulutnya seakan ada yang mencabik-cabiknya.
Sementara kedua telinganya putus dan berserakan entah kemana,
rambut hangus terbakar dengan leher penuh lubang terkena peluru.
“Gimana Clean?” Tanya Letnan Salam. Dia berharap pria
berkulit putih yang terkena berondongan peluru itu masih tetap hidup.
Mr Clean menggelengkan kepalanya. Pertanda nyawa si
pengencara sudah tak tertolong lagi. Demikian juga dengan Mr Jones dan Nona
Elizabeth. Mereka sepakat mengumpulkan bekas cabikan hidung, teli nga dan
anggota badan lainnya, sebelum dibawa pulang ke markas untuk diteliti lebih
lanjut.
Sesampainya di kantor, pada malam harinya Mr Jones dan rekan-rekannya
belum kembali ke kediaman mereka
masing-masing. Kecuali Nona Elizabeth, Letnan Salam, Mr Clean dan Mr Jones,
ketiganya memu tuskan untuk lembur sampai pagi.
Hasil jepretan Mr Clean diolah sedemikian rupa sehingga bisa
lebih jelas kelihatannya di layar komputer.
“Besarkan lagi Mr Clean,” pinta Mr Jones. Dia penasaran
dengan muka sasaran mereka ini mirip dengan teman lamanya. Tapi apa mungkin dia
pelakunya?
“Mudah-mudahan tidak,” bisiknya dalam hati.
“Mr Jones!”
Mr Jones menoleh …
“Melamun lagi,” kata Letnan Salam. “Supaya tak terus-terusan
melamun karena capek, yuk kita minum ini kopi susu hangat.”
Letnan Salam meletakkan dua gelas air kopi susu ke atas meja
komputer. Dari dalam gelas keluar asap pertanda air kopi masih panas dan enak
diseruput.
“Clean dan Mr Jones. Minumlah dulu kalian berdua,” kata Letnan
Salam. Dia mendekati lemari arsip di depan pintu masuk ruang kerjanya. Dia buka
laci pertengahan dari lima belas laci yang ada.
Kemudian dia bolak-balik beberapa foto teroris yang telah
tewas dan tertangkap beberapa tahun bela kangan. Sebuah map besar dia
keluarkan. Setelah menutup kembali laci yang barusan ia buka tadi. Ia duduk
sebentar di kursi tempat dimana Mr Clean biasa duduk sambil bersantai.
Dia bolak-balik lembaran foto yang bertumpuk itu. Tidak
semuanya. Hanya melihat foto dan jati diri para pelaku peledakan di berbagai
tempat di kota ini.
Karena tidak menemukan foto yang mirip dengan terduga pelaku
peledakan yang tewas beberapa jam yang lalu, Letnan Salam memasukkan lagi map
tebal itu ke tempatnya semula.
Setelah itu ia kembali menemui Mr Clean dan Mr Jones.
Keduanya terlibat diskusi singkat dengan sesekali mengernyitkan dahi dan
menyeruput air kopi manis itu.
“Bagaimana Mr Clean dan Mr Jones?”
“Ada kemiripan Let,” jawab Mr Jones sambil memperlihatkan
gambar terduga pelaku peledakan secara lebih jelas dan besar.
“Miripnya dengan siapa Mr Jones?” Letnan Salam menduga
kemiripan itu dengan pelaku sebebelumnya yang berhasil diringkus, diadili dan
saat ini sudah dipenjarakan.
“Dengan teman saya Let,” jelas Mr Jones. Dia berdiri, lalu
duduk lagi sembari menarik nafas panjang.
“Jika memang benar Let …”
“Kenapa Mr Jones?”
“Izinkan kami berdua Mr Clean melacaknya. Boleh kan Let?”
Letnan Salam belum memberikan jawaban ‘ya atau tidak’, sebelum Mr Jones menceritakan
terlebih dulu kronologis kemiripan itu.
“Teman saya itu bernama Mr Doel, Let.” Terang Mr Jones.
Siapa gerangan Mr Doel?
“Dia mantan informan kita juga dulunya. Sempat menghilang
beberapa lama, namun belakangan muncul kembali. Kami sempat ketemuan dan
ngobrol sebelum saya ditugaskan ke kota ini, Let.”
“Eeeem … Tampaknya menarik juga sih ceritanya,” sahut Mr
Clea. Mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer ke mukanya Mr Jones
dan Letnan Salam, silih berganti.
“Sayangnya Let, saya tak sempat tanya beliau, apa
pekerjaannya sekarang. Namun dari beberapa infor masi yang kami dapatkan beliau
mahir bikin alat peledak dan mengoperasikannya.”
“Sempat dikonformasi ulang Mr Jones?”
“Belum Let. Karena setelah itu saya tak ketemu beliau lagi.”
“Well … well … “
Letnan Salam berpikir sebentar.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya Mr Jones?”
13
MENEMPUH jalan darat, Mr Clean dan Mr Jones tiba di
kampungnya Mr Doel sore hari. Mereka mengi nap di sebuah penginapan sederhana
milik warga berada di kampung tersebut.
Kampung itu bernama Bertuah. Sebuah kampung yang aman dan
jauh dari kebisingan. Sebagian besar warganya hidup dari bercocok tanam. Berkat
hasil jerih payah mereka yang tak mengenal kata lelah apalagi menyerah,
sebagian dari mereka kini sudah memiliki tanah dan areal persawahan sendiri.
Belakangan diketahui, Mr Doel memiliki anak dan isteri.
Sehari-hari pergi ke ladang. Karena sudah memi liki lahan sendiri, hasil yang
diperoleh dari bercocok tanam aneka tanaman seperti padi, karet dan seje
nisnya, lumayan besar sehingga mampu menopang perekonomian keluarga
sehari-hari.
Mr Doeal memang sudah tidak bekerja lagi sesuai profesinya
sebagai informan dan membuat alat pele dak. Dia kini memfokuskan diri pada
pekerjaannya sehari-hari sebagai petani kampung.
Kepada Mr Jones, sang isteri, Nyo Doel mengaku suaminya
hanyalah seorang petani. “Sejauh yang saya tahu Mister Jones, suami saya, Mas
Doel, cuma bertani.”
“Sering ke kalangan juga kan Bu Doel?” Tanya Mr Clean dengan
suara yang sengaja ia turunkan volume nya sehingga terdengar lebih lembut.
Karena dia tak ingin menambah beban
isteri temannya ini yang barusan saja terbunuh.
Seusai pemakaman yang dihadiri seluruh warga kampung, Nyo
Doel memang tiada henti-hentinya mena ngis tersedu sedan. Dia sangat terpukul.
Dia sangat terkejut dan seolah tak menerima kenyataan suami yang ia sayangi dan
cintai selama ini sudah tidak ada lagi di sisinya.
“Orangnya baik. Sejauh yang saya ketahui beliau banyak teman
di sini,” jelas Pak Kepala Kampung seusai yasinan pada malam kedua.
“Tak ada keluhan warga terhadap beliau Mister. Biasanya,
sekecil apa pun yang terjadi di kampung yang saya pimpin ini, entah orang yang
suka gosip, atau selalu bikin onar, hanya dalam hitungan menit sudah sampai ke
telinga saya,” terang Pak Kepala Kampung.
Hal serupa juga diungkapkan beberapa teman dekat almarhum.
“Sejauh yang saya tahu bapak berdua, beliau jarang melakukan perjalanan jauh.
Paling ke kebun sama dengan kita-kita ini. Malamnya ngumpul bareng, main
gaplek. Kalau ada kalangan, tentu jika ada waktu, dan lagi panen misalnya, baru
kami ke ka langan. Kami menjual segala macam sayur dan buah-buahan hasil panen,
termasuk beras dan sedikit ko pi,” kata Pak Joko, teman kecilnya Mr Doel, yang
berkumis tebal lancip ke bawah.
Menurut Pak Joko, Mr Doeal orangnya supel. Senang bergaul,
humoris, ringan tangan dan suka meno long sesama.
“Orang mau pinjam uang, dia akan kasih. Tentu kalau ada,”
aku Pak Joko. “Pokoknya almarhum itu oke lah. Kita-kita ini pada senang sama
beliau,” jelas Pak Jono yang duduk di sebelah kirinya Pak Joko.
Sama dengan isteri Mr Doeal, Mr Joko dan warga lain berharap
pihak berwajib bisa secepatnya menang kap biang keonaran yang sebenarnya.
Selain dapat diketemukan siapa dalangnya, juga menentramkan hati keluarga yang
ditinggalkan almarhum.”
Mr Clean dan Mr Jones berjanji akan mengungkap otak pelaku
peledakan pabrik baru-baru ini. Semua keterangan warga dihimpun jadi satu. Sebelum nantinya akan di-cross check dengan nara
sumber yang lain. Hal ini dimaksudkan
agar informasi yang masuk dan berhasil dihimpun benar-benar valid dan bisa
dipertanggung jawabkan kebenarannnya.
Satu hal yang hingga kini masih tersamar, dengan siapa Mr
Doel menjalin kerjasamanya dengan warga kampung ini, atau warga dari kampung
lain, atau boleh jadi mereka yang menetap di kota besar.
“Kita harus cari tahu secepatnya Mr Jones,” kata Mr Clean
saat makan malam seusai berpamitan dengan anak dan isteri Mr Doeal serta Pak
Kepala Kampung.
“Besok pagilah kita ke kampung lain,” ujar Mr Jones. Sudah
larut malam, lebih baik cepat tidur agar
per jalanan esok hari terasa lebih fresh.
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar