Minggu, 14 Mei 2017

Kobok Tay (5-Habis)


Novel

Kobok Tay (5)
Oleh  Wak Amin


18
“KUS! Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak ya?” Rafael duduk sebentar setelah beberapa menit memeriksa keluar gudang bersama Budi.
“Ah, perasaanmu saja itu Raf,” kata Markus melanjutkan ngobrolnya bersama Darma. Keduanya memilih duduk bersandar ke dinding tak jauh dari pintu masuk pabrik home industry itu.
“Sudah minum obat kau?” Tanya Budi sambil menghirup air kopi hitam kesukaannya. Kopi hangat ia memang suka. Karena di balik kehangatannya itulah mata ini tetap melek sampai pagi.
“Belumlah. Aku kan tidak sakit Bud. Cuma tak enak saja. Masuk angin kali.” Rafael minta dipijati barang sesaat. Budi tidak keberatan. Bagian yang dipijat di sekitar leher dan kepala.
Markus, Rafael, Budi dan Darma. Setiap hari mulai dari sore hingga subuh keesokan harinya ditugasi Sang Bos menjaga pabrik. Pabrik barang pecah belah ini tak begitu besar. Hanya terdiri dari sebuah bangunan bertingkat tiga.
Di tingkat paling bawah tempat pembuatan barang pecah belah. Mulai dari piring, gelas hingga mangkuk berukuran kecil, sedang dan besar. Dikerjakan dua puluh lebih  pekerja yang sengaja direkrut untuk mengerjakan pesanan dan dipasarkan.
Tingkat dua digunakan tempat transaksi. Kasir dan tetek bengek keadministrasian lainnya. Semua tamu ditempatkan di lantai dua. Pertemuan-pertemuan khusus juga digelar di lantai yang dindingnya berlapiskan material marmer berkualitas tinggi.
Di lantai ketiga khusus buat para Bos. Kepala bagian ke atas. Bos Besar sendiri punya ruangan tersendiri di lantai paling atas ini. Tapi, meski  sejuk dan nyaman, Sang Bos jarang menempati ruang kerjanya.
Dia lebih suka melakukan perjalanan bisnis dalam dan luar kota, dalam dan luar negeri, bersama staf ahlinya. Namun di saat tertentu, ada tamu istimewa yang berkunjung, Sang Bos pasti menemani. Mengajak ngobrol lebih jauh di dalam ruangan kerjanya.
Lantas kemanakah barang pecah belah itu disimpan sebelum diantarkan ke alamat pemesan atau dipasarkan ke pasaran domestik dan mancanegara?
Di lantai dasar, jawabnya. Di sekitar bangunan gedung yang terbawah dibangun beberapa pondokan per manen. Jumlahnya ada enam. Semua produksi pabrik ditaruh lebih dulu di dalam pondokan ini.  Ada yang menjaganya.
Para penjaganya berkewajiban menjaga keutuhan barang sampai dibawa menggunakan mobil truk besar ke lokasi yang dituju. Terkadang via darat, laut dan udara. Tergantung jauh dekatnya, atau sesuai dengan permintaan pemesan.
Selama ini Sang Bos sukses menjalankan bisnisnya ini. Karena lokasnya jauh dari pemukiman, semua aktivitas yang dikoordinir Sang Bos tak pernah dikeluhkan warga setempat.
Selain sebagian pemuda dan pemudi kampung setempat diberi jatah dan kesempatan seluas-luasnya bekerja di pabrik Sang Bos, Bos Besar ini juga tak segan-segan mengulurkan tangan, memberi bantuan berupa uang, penyediaan fasilitas dan melatih warga kampung cara bercocok tanam yang benar dan cepat menghasilkan.
Sejauh ini, kehadiran pabrik barang pecah belah ini disambut baik dan sukacita oleh warga kampung. Mereka malah berharap ke depannya dibangun beberapa pabrik lagi dengan aktivitas berbeda di lain tempat.

19
Di bawah bangunan pabrik ada bunker. Kita bisa masuk ke sana setelah melewati anak tangga besi. Di ruangan bawah tanah inilah banyak diketemukan alat dan bahan peledak mulai dari berskala rendah daya ledaknya hingga tinggi.
Tak diduga sebelumnya, ruangan bunker ini ditata sedemikian rupa. Tidak menyeramkan. Justru menye nangkan hati bagi kita yang berkesempatan melihatnya. Ada beberapa ruangan. Uniknya, setiap ruangan itu hanya dipisahkan kaca.
Tidak sembarangan orang bisa masuk bunker ini. Selain Sang Bos, para pembuatnya, juga kalangan ter tentu yang sangat berkepentingan dengan kepemilikan bahan peledak itu.
Karena tidak semua orang bisa masuk, di depan pintu masuk bunker dijaga seorang petugas khusus yang secara bergantian menjaga dari kemungkinan orang yang tak berkepentingan menyelinap masuk.
“Let …” Bisik Mr Clean.
“Menyebar Clean …”
Mr Clean dan Nona Elizabeth bergerak ke kiri, sedangkan Mr Jones dan Letnan Salam bergerak ke kanan. Sesampainya di depan pintu masuk, Letnan Salam menempelkan alat pembuka kunci.
Celetek …
Satu kali putaran, pintu pun terbuka. Bersama Mr Jones, Letnan Salam berhasil menyelinap masuk. Disusul Nona Elizabeth dan Mr Clean.
Sejenak mereka bersembunyi di balik dinding yang mengarah ke toilet. Markus cs tampak hilir mudik membawa sesuatu. Tidak pula tahu apa yang mereka bawa. Yang tahu mereka pada ketawa.
“Clean …”
“Siiip Let.”
“Amankan penjaga itu,” perintah Letnan Salam. Bersama Nona Elizabeth, ia mendekat ke pintu masuk bunker.
Seorang lelaki berperawakan sedang baru saja kembali dari menemui salah seorang pimpinannya di lantai tiga.
Saat hendak duduk, Mr Clean memukul kepala penjaga itu dengan senjatanya, seketika jatuh pingsan. Masih sempat bergerak-gerak kedua tangannya, Nona Elizabeth cepat-cepat memukul tengkuknya.
Gedebuk …
Bruuug …
Kali ini benar-benar pingsan.
Dengan hanya satu kali putaran ke lubang pintu, pintu besi berlapis itu pun berhasil dibuka.
“Cepat Clean!” Maju mundur. Mr Clean ingin Nona Elizabeth yang lebih dulu masuk karena perempuan. Karena menolak, Mr Clean yang akhirnya lebih dulu masuk.
Pintu ditutup kembali.
Mr Clean mengabadikan segala macam dan jenis bahan peledak dengan kamera androidnya. Demikian juga Nona Elizabeth. Keduanya seolah bersaing untuk mendapatkan momen foto terbaik.
“Sudah berapa Non Eli?”
“Baru sepuluh Mister,” jawab Nona Elizabeth, melanjutkan pemotretannya. Kalau tadi bidikan fokus ke ruangan depan, sekarang bergeser ke ruangan tengah.
“Ikut kamu aja ya Non, boleh kagak?”
Nona Elizabeth tidak menjawab. Tapi dari cara dia memandang Mr Clean, dipastikan tidak keberatan sama-sama memotret secara berdekatan.
“Ini juga kan tugas,” bisik Nona Elizabeth dalam hati.
“Ayooo …” Kata Mr Clean. Terpaksa ia mencolek tangan teman sekerjanya perempuan itu karena tidak menjawab saat disapa barusan.
Sementara di ujung kanan, Letnan Salam dan Mr Jones mengambil beberapa bahan peledak sebagai tanda bukti diketemukannya tempat penyimpanan bahan dan alat peledak.
Tak lama mereka di dalam bunker. Kurang dari setengah jam. Setelah itu mereka bermaksud hendak keluar dari bunker. Saat bersamaan, Markus, Rafael, Budi dan Darma masuk guna memeriksa setiap ruangan.
Semula mereka tidak menaruh curiga sedikit pun dengan perubahan tata letak bahan peledak yang sedikit bergeser dari posisinya semula. Mereka justru curiga karena petugas jaga belum kembali juga dari lantai atas.
Markus cs justru menemukan petugas jaga pintu masuk bunker tergeletak tak jauh dari pintu masuk se belah kanan. Rafael mengontak petugas control untuk menyalakan tanda bahaya sebagai tanda orang luar telah menyelinap masuk ke dalam gedung dan bunker.

20
JEGUUUUM …
Guaaarrrrr …
Draaaash …
Empat kali tembakan yang dilesakkan Letnan Salam, Nona Elizabeth, Mr Clean dan Mr Jones ke tempat penyimpanan bahan peledak, mulai dari granat hingga bom molotof, selain menimbulkan ledakan dah syat dan munculnya kobaran api yang belum terlalu besar, dinding bunker hancur dan membentuk lu bang besar yang menganga. Dari lubang inilah Letnan Salam dan ketiga rekan sekerjanya itu berhasil menyelamatkan diri keluar dari bunker.
Ternyata tidak diketemukan tangga untuk naik ke lantai satu. Ingin kembali ke tempat semula, tempat di mana mereka masuk ke dalam bunker tadi, tak mungkin karena sudah dihadang Markus cs dan sejumlah pengawal Sang Bos.
“Mungkin ke sebelah kanan, Let.” Kata Mr Clean. Dia menunjuk salah satu jalan kecil seukuran badan orang normal. Untuk melewatinya harus bergantian dengan cara menempelkan badan ke dinding beton.
“Nona Eli … Ayo!” Maunya paling belakang, Letnan Salam tak mengizinkannya.
“Cepatlah sedikit Non Eli,” kata Mr Clean. Dia sudah sampai ke seberang jalan super sempit itu dan bermaksud  menjemput Nona Elizabeth yang entah kenapa agak lambat dia melewatinya.
“Itu mereka … tembaaak!” Teriak seorang pengawal bersenjata dengan nada membentak. Dia sangat marah dan ingin segera menangkap Letnan Salam cs. Mengurung, menyiksa mereka sebelum dihabisi satu persatu.
“Tembaaaak!”
Trot .. tot .. trot .. tot …
Dooor … door …
Jeguuur …
Trot … tot … trot … tot …
Tak satu pun yang mengena. Sesaat kemudian terdengar reruntuhan. Dinding beton roboh seketika, sehingga menutup jalan untuk mengejar Letnan Salam cs.
“Kembali ke atas!” Perintah sang pengawal. Setelah berada di lantai satu, anak buah Sang Bos memencar ke segala sudut. Dengan menutup semua akses jalan, Letnan Salam cs akan terkepung.
Masalahnya, hampir sepuluh menit mencari ke sana kemari, yang dicari tak juga ketemu. Mereka baru bertemu di sebuah anak sungai tak jauh dari gedung paling megah di Kampung Satu itu.
Trot .. tot .. trot … tot …
Trot … tot … trot … tot …
Dari balik semak dan jembatan yang ditumbuhi dedaunan pinggiran anak sungai, Letnan Salam cs tak member kesempatan pada anak buah Sang Bos melepaskan tembakan kembali.
Begitu banyak peluru yang dimuntahkan, mengakibatkan Markus cs dan sejumlah pengawal dengan mudah dilumpuhkan. Mereka tewas seketika. Mayat mereka bergelimpangan sementara darah berce ceran, jatuh ke dalam anak sungai dan dibawa derasnya arus pasang.
Sang Bos, yang mendapat laporan dari salah seorang anak buahnjya yang tak ikut mengejar Letnan Salam cs, sejumlah pengawal dan Markus cs pada mati semua terkena berondongan peluru, marah besar.
Dia pecahkan meja. Dia mengamuk. Setelah tenang, dia memerintahkan kepada para anak buah ter baiknya yang masih tersisa, untuk mengejar Letnan Salam cs dari segala arah.
“Saya tak ingin mereka lepas dari kita, mengerti?” Hardik Sang Bos. Dia juga meminta bantuan warga yang dekat dengannya untuk sama-sama menangkap Letnan Salam cs.
Para preman kampung itu pun tak menyia-nyiakan tawaran Sang Bos. Seperti sebelumnya, ketika ada keributan yang imbasnya pabrik Sang Bos rugi karena sempat terhenti operasi beberapa hari, mereka dibayar tinggi.
Tak heran jika hanya kurang dari lima belas menit, para begundal kampung ini sudah berkumpul dan bertemu  dengan Sang Bos. Selanjutnya mulai melakukan pengejaran, bergabung dengan anak buah Sang Bos yang sudah lebih dulu nmengejar.
“Sepertinya kita perlu bantuan Let,” ucap Nona Elizabeth. Sebelum terkepung dan tertangkap, kata wanita cantii ini, lebih baik meminta bantuan pengiriman pasukan heli.
“Betul Let,” kata Mr Jones.
“Clean?”
“Bolehlah Let. Tapi kita juga harus segera tinggalkan tempat ini,” saran Mr Clean. Dengan demikian bisa mengulur waktu sampai bantuan datang.
“Oke. Kita sambil bergerak,” ujar Letnan Salam, sembari mengontak rekan sekerjanya di bagian lain di Graha Police.

21
SETELAH hampir setengah jam berlangsung tembak menembak,  bantuan dua helikopter datang. Tanpa konpromi, dari atas heli empat penembak jitu memborbardir bunker tempat penyimpanan alat dan bahan peledak, seketika berubah menjadi lautan api.
Warga kampung terhenyak. Mereka berhamburan keluar rumah. Mereka tak hiraukan tengah malam. Secara bersama-sama berkumpul dan saling mengomentari terjadinya ledakan barusan.
Warga tak percaya Sang Bos yang selama ini baik pada warga, ternyata telah melakukan praktik bisnis ile gal. Jual beli bahan dan alat peledak, sekaligus bekerjasama dengan kalangan tertentu untuk meledak kan sesuatu tempat yang dapat menimubulkan korban jiwa dan harta.
Mereka juga sama sekali tak menyangka, Sang Bos, selain ikut menangani bisnis barang pecah belah, membangun  bunker di bawah tanah. Tak satu pun yang bercerita tentang bunker ini.
Yang didengar warga cuma kehebatan dan kepiawaian Sang Bos. Menekuni bisnis dari nol, hingga besar dan sukses seperti sekarang ini. Tak bisa diingkari, warga salut dan menaruh hormat kepadanya.
Warga semakin hormat dan sayang pada Sang Bos. Karena betapa telah banyak warga yang tertbantu. Dari semula tak ada gawean, kini malah sudah punya gaji, penghasilan bulanan.
Walaupun tidak besar seperti mereka yang bekerja di berbagai perusahaan besar, ekonomi masyarakat Kampung Satu sangatlah terbantu. Hasil dari jerih payah mereka bekerja, tak sedikit yang ditabung dan dibelikan tanah, lahan pertanian seperti sawah, ladang, kebun dan lain sebagainya.
Kini tentunya, dengan meledaknya bunker dengan segala isinya, pabrik barang pecah belah itu pun terkena imbasnya. Ikut dimakan api. Hangus terbakar.
Letnan Salam cs tampak sibuk mencari keberadaan Sang Bos. Mereka paksa beberapa karyawan dan anak buah Sang Bos yang mereka temui untuk buka mulut, tapi tak satupun yang tahu di mana pimpinan tertinggi mereka berada saat ini.
Sementara bangunan sekitar pabrik sudah hangus dijilat si jago merah, dua heli sudah kembali ke mar kas, menyusul datangnya pasukan khusus beberapa saat kemudian, Letnan Salam cs melompat masuk ke dalamruangan kerja Sang Bos.
Meski api mengelilingi sekitar ruang kerja Sang Bos dalam skala yang tidak terlalu besar, Letnan Salam yakin yang bersangkutan masih berada di ruangan berlapis itu. Ruangan yang hanya Sang Bos sendiri yang tahu seluk beluk dan rahasia di baliknya.
Ternyata di balik lemari besi, ketika Mr Clean dan Mr Jones mengetuk-ngetukkan tangan mereka, ter dengar suara. Semula lambat, lalu semakin nyaring terdengar.
Suara itu berasal dari pergeseran dinding. Seperti pintu geser, dinding itu terbuka pelan-pelan. Baru berhenti setelah Letnan Salam cs sama-sama memasuki ruangan yang cukup luas itu.
Ruangan itu bertangga. Ada beberapa lorong. Setiap lorong berbeda jalur. Tinggal pilih mau lewat lorong mana yang kita mau.
“Kita berpencar saja Let,” usul Mr Clean. Dengan berpencar akan mudah bagi mereka untuk membekuk Sang Bos.
“Saya kira lebih baik begitu,” ujar Letnan Salam.
“Saya setuju Let. Tapi jangan sendiri-sendirilah.  Berdua,” kata Nona Elizabeth. Dia punya pertimbangan siapa tahu Sang Bos tidak sendirian. Dia bersama para pengawal dan orang kepercayaannya.
“Kalau berdua kan kita lebih nyaman Let.”
“Bilang aja kangen sama si dia,” ledek Mr Jones, ketawa dalam hati.
“Dia yang manakah itu Mr Jones?” Tanya Mr Clean penasaran. Letnan Salam, Mr Jones atau dia sendiri, Mr Clean.
“Ya, yang ngomong itulah,” sindir Mr Jones tersenyum penuh arti.
Memerah juga mukanya Nona Elizabeth mendengar sindiran barusan. Dia mau marah sebenarnya. Tapi belum kesampaian marah itu ditumpahkan, terdengar beberapa kali tembakan yang seolah mengarah ke Mr Jones dan Letnan Salam.
“Clean … Temani Non Eli,” perintah Letnan Salam. Dia bersama Mr Jones menempuh lorong sebelah kanan.
Sempat terjadi silang pendapat, Mr Clean akhirnya menyetujui pilihan Nona Elizabeth. Mereka berdua melewati lorong sebelah kiri.
“Non Eli duluan …”
“Mister lah yang duluan.”
Sampai tiga kali, Mr Clean lebih dulu yang melewati lorong sempit itu. Mereka fokus pada asal suara tembakan itu.
Sang Bos kah? Menembak siapa? Anak buahnya kah? Atau justru dia menembak dirinya sendiri dengan pistol? Kenapa lebih dari satu kali? Bukankah kalau orang menembak diri sendiri cukup satu kali? Tidak pernah ada kejadian sampai beberapa kali?
Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Selain Sang Bos, ada tiga manajer, tangan kanan Sang Bos. Mereka saling berhadapan. Sang Bos duduk. Tiga orang kepercayaannya itu berdiri.
Sebelum menembak kepalanya sendiri dengan pistol, Sang Bos lebih dulu menghabisi tiga bawahannya itu sekaligus. Dan ketika Letnan Salam cs datang dan berhasil menemukan tempat persembunyian me reka, Sang Bos sudah tewas dalam posisi duduk dengan kepala berlumuran darah, menggeletak di atas meja kerjanya.

TAMAT …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar