Novel
Kobok Tay (5)
Oleh Wak Amin
18
“KUS! Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak ya?” Rafael
duduk sebentar setelah beberapa menit memeriksa keluar gudang bersama Budi.
“Ah, perasaanmu saja itu Raf,” kata Markus melanjutkan
ngobrolnya bersama Darma. Keduanya memilih duduk bersandar ke dinding tak jauh
dari pintu masuk pabrik home industry itu.
“Sudah minum obat kau?” Tanya Budi sambil menghirup air kopi
hitam kesukaannya. Kopi hangat ia memang suka. Karena di balik kehangatannya
itulah mata ini tetap melek sampai pagi.
“Belumlah. Aku kan tidak sakit Bud. Cuma tak enak saja.
Masuk angin kali.” Rafael minta dipijati barang sesaat. Budi tidak keberatan.
Bagian yang dipijat di sekitar leher dan kepala.
Markus, Rafael, Budi dan Darma. Setiap hari mulai dari sore
hingga subuh keesokan harinya ditugasi Sang Bos menjaga pabrik. Pabrik barang
pecah belah ini tak begitu besar. Hanya terdiri dari sebuah bangunan bertingkat
tiga.
Di tingkat paling bawah tempat pembuatan barang pecah belah.
Mulai dari piring, gelas hingga mangkuk berukuran kecil, sedang dan besar.
Dikerjakan dua puluh lebih pekerja yang
sengaja direkrut untuk mengerjakan pesanan dan dipasarkan.
Tingkat dua digunakan tempat transaksi. Kasir dan tetek
bengek keadministrasian lainnya. Semua tamu ditempatkan di lantai dua.
Pertemuan-pertemuan khusus juga digelar di lantai yang dindingnya berlapiskan
material marmer berkualitas tinggi.
Di lantai ketiga khusus buat para Bos. Kepala bagian ke
atas. Bos Besar sendiri punya ruangan tersendiri di lantai paling atas ini.
Tapi, meski sejuk dan nyaman, Sang Bos
jarang menempati ruang kerjanya.
Dia lebih suka melakukan perjalanan bisnis dalam dan luar
kota, dalam dan luar negeri, bersama staf ahlinya. Namun di saat tertentu, ada
tamu istimewa yang berkunjung, Sang Bos pasti menemani. Mengajak ngobrol lebih
jauh di dalam ruangan kerjanya.
Lantas kemanakah barang pecah belah itu disimpan sebelum
diantarkan ke alamat pemesan atau dipasarkan ke pasaran domestik dan mancanegara?
Di lantai dasar, jawabnya. Di sekitar bangunan gedung yang
terbawah dibangun beberapa pondokan per manen. Jumlahnya ada enam. Semua
produksi pabrik ditaruh lebih dulu di dalam pondokan ini. Ada yang menjaganya.
Para penjaganya berkewajiban menjaga keutuhan barang sampai
dibawa menggunakan mobil truk besar ke lokasi yang dituju. Terkadang via darat,
laut dan udara. Tergantung jauh dekatnya, atau sesuai dengan permintaan
pemesan.
Selama ini Sang Bos sukses menjalankan bisnisnya ini. Karena
lokasnya jauh dari pemukiman, semua aktivitas yang dikoordinir Sang Bos tak
pernah dikeluhkan warga setempat.
Selain sebagian pemuda dan pemudi kampung setempat diberi
jatah dan kesempatan seluas-luasnya bekerja di pabrik Sang Bos, Bos Besar ini
juga tak segan-segan mengulurkan tangan, memberi bantuan berupa uang,
penyediaan fasilitas dan melatih warga kampung cara bercocok tanam yang benar
dan cepat menghasilkan.
Sejauh ini, kehadiran pabrik barang pecah belah ini disambut
baik dan sukacita oleh warga kampung. Mereka malah berharap ke depannya
dibangun beberapa pabrik lagi dengan aktivitas berbeda di lain tempat.
19
Di bawah bangunan pabrik ada bunker. Kita bisa masuk ke sana
setelah melewati anak tangga besi. Di ruangan bawah tanah inilah banyak
diketemukan alat dan bahan peledak mulai dari berskala rendah daya ledaknya
hingga tinggi.
Tak diduga sebelumnya, ruangan bunker ini ditata sedemikian
rupa. Tidak menyeramkan. Justru menye nangkan hati bagi kita yang berkesempatan
melihatnya. Ada beberapa ruangan. Uniknya, setiap ruangan itu hanya dipisahkan
kaca.
Tidak sembarangan orang bisa masuk bunker ini. Selain Sang
Bos, para pembuatnya, juga kalangan ter tentu yang sangat berkepentingan dengan
kepemilikan bahan peledak itu.
Karena tidak semua orang bisa masuk, di depan pintu masuk
bunker dijaga seorang petugas khusus yang secara bergantian menjaga dari
kemungkinan orang yang tak berkepentingan menyelinap masuk.
“Let …” Bisik Mr Clean.
“Menyebar Clean …”
Mr Clean dan Nona Elizabeth bergerak ke kiri, sedangkan Mr Jones
dan Letnan Salam bergerak ke kanan. Sesampainya di depan pintu masuk, Letnan
Salam menempelkan alat pembuka kunci.
Celetek …
Satu kali putaran, pintu pun terbuka. Bersama Mr Jones,
Letnan Salam berhasil menyelinap masuk. Disusul Nona Elizabeth dan Mr Clean.
Sejenak mereka bersembunyi di balik dinding yang mengarah ke
toilet. Markus cs tampak hilir mudik membawa sesuatu. Tidak pula tahu apa yang
mereka bawa. Yang tahu mereka pada ketawa.
“Clean …”
“Siiip Let.”
“Amankan penjaga itu,” perintah Letnan Salam. Bersama Nona
Elizabeth, ia mendekat ke pintu masuk bunker.
Seorang lelaki berperawakan sedang baru saja kembali dari
menemui salah seorang pimpinannya di lantai tiga.
Saat hendak duduk, Mr Clean memukul kepala penjaga itu
dengan senjatanya, seketika jatuh pingsan. Masih sempat bergerak-gerak kedua
tangannya, Nona Elizabeth cepat-cepat memukul tengkuknya.
Gedebuk …
Bruuug …
Kali ini benar-benar pingsan.
Dengan hanya satu kali putaran ke lubang pintu, pintu besi
berlapis itu pun berhasil dibuka.
“Cepat Clean!” Maju mundur. Mr Clean ingin Nona Elizabeth
yang lebih dulu masuk karena perempuan. Karena menolak, Mr Clean yang akhirnya
lebih dulu masuk.
Pintu ditutup kembali.
Mr Clean mengabadikan segala macam dan jenis bahan peledak
dengan kamera androidnya. Demikian juga Nona Elizabeth. Keduanya seolah
bersaing untuk mendapatkan momen foto terbaik.
“Sudah berapa Non Eli?”
“Baru sepuluh Mister,” jawab Nona Elizabeth, melanjutkan
pemotretannya. Kalau tadi bidikan fokus ke ruangan depan, sekarang bergeser ke
ruangan tengah.
“Ikut kamu aja ya Non, boleh kagak?”
Nona Elizabeth tidak menjawab. Tapi dari cara dia memandang
Mr Clean, dipastikan tidak keberatan sama-sama memotret secara berdekatan.
“Ini juga kan tugas,” bisik Nona Elizabeth dalam hati.
“Ayooo …” Kata Mr Clean. Terpaksa ia mencolek tangan teman
sekerjanya perempuan itu karena tidak menjawab saat disapa barusan.
Sementara di ujung kanan, Letnan Salam dan Mr Jones
mengambil beberapa bahan peledak sebagai tanda bukti diketemukannya tempat
penyimpanan bahan dan alat peledak.
Tak lama mereka di dalam bunker. Kurang dari setengah jam.
Setelah itu mereka bermaksud hendak keluar dari bunker. Saat bersamaan, Markus,
Rafael, Budi dan Darma masuk guna memeriksa setiap ruangan.
Semula mereka tidak menaruh curiga sedikit pun dengan
perubahan tata letak bahan peledak yang sedikit bergeser dari posisinya semula.
Mereka justru curiga karena petugas jaga belum kembali juga dari lantai atas.
Markus cs justru menemukan petugas jaga pintu masuk bunker
tergeletak tak jauh dari pintu masuk se belah kanan. Rafael mengontak petugas
control untuk menyalakan tanda bahaya sebagai tanda orang luar telah menyelinap
masuk ke dalam gedung dan bunker.
20
JEGUUUUM …
Guaaarrrrr …
Draaaash …
Empat kali tembakan yang dilesakkan Letnan Salam, Nona
Elizabeth, Mr Clean dan Mr Jones ke tempat penyimpanan bahan peledak, mulai
dari granat hingga bom molotof, selain menimbulkan ledakan dah syat dan
munculnya kobaran api yang belum terlalu besar, dinding bunker hancur dan
membentuk lu bang besar yang menganga. Dari lubang inilah Letnan Salam dan
ketiga rekan sekerjanya itu berhasil menyelamatkan diri keluar dari bunker.
Ternyata tidak diketemukan tangga untuk naik ke lantai satu.
Ingin kembali ke tempat semula, tempat di mana mereka masuk ke dalam bunker
tadi, tak mungkin karena sudah dihadang Markus cs dan sejumlah pengawal Sang
Bos.
“Mungkin ke sebelah kanan, Let.” Kata Mr Clean. Dia menunjuk
salah satu jalan kecil seukuran badan orang normal. Untuk melewatinya harus
bergantian dengan cara menempelkan badan ke dinding beton.
“Nona Eli … Ayo!” Maunya paling belakang, Letnan Salam tak
mengizinkannya.
“Cepatlah sedikit Non Eli,” kata Mr Clean. Dia sudah sampai
ke seberang jalan super sempit itu dan bermaksud menjemput Nona Elizabeth yang entah kenapa
agak lambat dia melewatinya.
“Itu mereka … tembaaak!” Teriak seorang pengawal bersenjata
dengan nada membentak. Dia sangat marah dan ingin segera menangkap Letnan Salam
cs. Mengurung, menyiksa mereka sebelum dihabisi satu persatu.
“Tembaaaak!”
Trot .. tot .. trot .. tot …
Dooor … door …
Jeguuur …
Trot … tot … trot … tot …
Tak satu pun yang mengena. Sesaat kemudian terdengar
reruntuhan. Dinding beton roboh seketika, sehingga menutup jalan untuk mengejar
Letnan Salam cs.
“Kembali ke atas!” Perintah sang pengawal. Setelah berada di
lantai satu, anak buah Sang Bos memencar ke segala sudut. Dengan menutup semua
akses jalan, Letnan Salam cs akan terkepung.
Masalahnya, hampir sepuluh menit mencari ke sana kemari,
yang dicari tak juga ketemu. Mereka baru bertemu di sebuah anak sungai tak jauh
dari gedung paling megah di Kampung Satu itu.
Trot .. tot .. trot … tot …
Trot … tot … trot … tot …
Dari balik semak dan jembatan yang ditumbuhi dedaunan
pinggiran anak sungai, Letnan Salam cs tak member kesempatan pada anak buah
Sang Bos melepaskan tembakan kembali.
Begitu banyak peluru yang dimuntahkan, mengakibatkan Markus
cs dan sejumlah pengawal dengan mudah dilumpuhkan. Mereka tewas seketika. Mayat
mereka bergelimpangan sementara darah berce ceran, jatuh ke dalam anak sungai
dan dibawa derasnya arus pasang.
Sang Bos, yang mendapat laporan dari salah seorang anak
buahnjya yang tak ikut mengejar Letnan Salam cs, sejumlah pengawal dan Markus
cs pada mati semua terkena berondongan peluru, marah besar.
Dia pecahkan meja. Dia mengamuk. Setelah tenang, dia
memerintahkan kepada para anak buah ter baiknya yang masih tersisa, untuk
mengejar Letnan Salam cs dari segala arah.
“Saya tak ingin mereka lepas dari kita, mengerti?” Hardik
Sang Bos. Dia juga meminta bantuan warga yang dekat dengannya untuk sama-sama
menangkap Letnan Salam cs.
Para preman kampung itu pun tak menyia-nyiakan tawaran Sang
Bos. Seperti sebelumnya, ketika ada keributan yang imbasnya pabrik Sang Bos
rugi karena sempat terhenti operasi beberapa hari, mereka dibayar tinggi.
Tak heran jika hanya kurang dari lima belas menit, para
begundal kampung ini sudah berkumpul dan bertemu dengan Sang Bos. Selanjutnya mulai melakukan
pengejaran, bergabung dengan anak buah Sang Bos yang sudah lebih dulu
nmengejar.
“Sepertinya kita perlu bantuan Let,” ucap Nona Elizabeth.
Sebelum terkepung dan tertangkap, kata wanita cantii ini, lebih baik meminta
bantuan pengiriman pasukan heli.
“Betul Let,” kata Mr Jones.
“Clean?”
“Bolehlah Let. Tapi kita juga harus segera tinggalkan tempat
ini,” saran Mr Clean. Dengan demikian bisa mengulur waktu sampai bantuan
datang.
“Oke. Kita sambil bergerak,” ujar Letnan Salam, sembari
mengontak rekan sekerjanya di bagian lain di Graha Police.
21
SETELAH hampir setengah jam berlangsung tembak menembak, bantuan dua helikopter datang. Tanpa
konpromi, dari atas heli empat penembak jitu memborbardir bunker tempat
penyimpanan alat dan bahan peledak, seketika berubah menjadi lautan api.
Warga kampung terhenyak. Mereka berhamburan keluar rumah.
Mereka tak hiraukan tengah malam. Secara bersama-sama berkumpul dan saling
mengomentari terjadinya ledakan barusan.
Warga tak percaya Sang Bos yang selama ini baik pada warga,
ternyata telah melakukan praktik bisnis ile gal. Jual beli bahan dan alat
peledak, sekaligus bekerjasama dengan kalangan tertentu untuk meledak kan
sesuatu tempat yang dapat menimubulkan korban jiwa dan harta.
Mereka juga sama sekali tak menyangka, Sang Bos, selain ikut
menangani bisnis barang pecah belah, membangun bunker di bawah tanah. Tak satu pun yang bercerita
tentang bunker ini.
Yang didengar warga cuma kehebatan dan kepiawaian Sang Bos.
Menekuni bisnis dari nol, hingga besar dan sukses seperti sekarang ini. Tak
bisa diingkari, warga salut dan menaruh hormat kepadanya.
Warga semakin hormat dan sayang pada Sang Bos. Karena betapa
telah banyak warga yang tertbantu. Dari semula tak ada gawean, kini malah sudah
punya gaji, penghasilan bulanan.
Walaupun tidak besar seperti mereka yang bekerja di berbagai
perusahaan besar, ekonomi masyarakat Kampung Satu sangatlah terbantu. Hasil
dari jerih payah mereka bekerja, tak sedikit yang ditabung dan dibelikan tanah,
lahan pertanian seperti sawah, ladang, kebun dan lain sebagainya.
Kini tentunya, dengan meledaknya bunker dengan segala
isinya, pabrik barang pecah belah itu pun terkena imbasnya. Ikut dimakan api.
Hangus terbakar.
Letnan Salam cs tampak sibuk mencari keberadaan Sang Bos.
Mereka paksa beberapa karyawan dan anak buah Sang Bos yang mereka temui untuk
buka mulut, tapi tak satupun yang tahu di mana pimpinan tertinggi mereka berada
saat ini.
Sementara bangunan sekitar pabrik sudah hangus dijilat si
jago merah, dua heli sudah kembali ke mar kas, menyusul datangnya pasukan
khusus beberapa saat kemudian, Letnan Salam cs melompat masuk ke dalamruangan
kerja Sang Bos.
Meski api mengelilingi sekitar ruang kerja Sang Bos dalam
skala yang tidak terlalu besar, Letnan Salam yakin yang bersangkutan masih
berada di ruangan berlapis itu. Ruangan yang hanya Sang Bos sendiri yang tahu
seluk beluk dan rahasia di baliknya.
Ternyata di balik lemari besi, ketika Mr Clean dan Mr Jones
mengetuk-ngetukkan tangan mereka, ter dengar suara. Semula lambat, lalu semakin
nyaring terdengar.
Suara itu berasal dari pergeseran dinding. Seperti pintu
geser, dinding itu terbuka pelan-pelan. Baru berhenti setelah Letnan Salam cs
sama-sama memasuki ruangan yang cukup luas itu.
Ruangan itu bertangga. Ada beberapa lorong. Setiap lorong
berbeda jalur. Tinggal pilih mau lewat lorong mana yang kita mau.
“Kita berpencar saja Let,” usul Mr Clean. Dengan berpencar
akan mudah bagi mereka untuk membekuk Sang Bos.
“Saya kira lebih baik begitu,” ujar Letnan Salam.
“Saya setuju Let. Tapi jangan sendiri-sendirilah. Berdua,” kata Nona Elizabeth. Dia punya
pertimbangan siapa tahu Sang Bos tidak sendirian. Dia bersama para pengawal dan
orang kepercayaannya.
“Kalau berdua kan kita lebih nyaman Let.”
“Bilang aja kangen sama si dia,” ledek Mr Jones, ketawa dalam
hati.
“Dia yang manakah itu Mr Jones?” Tanya Mr Clean penasaran.
Letnan Salam, Mr Jones atau dia sendiri, Mr Clean.
“Ya, yang ngomong itulah,” sindir Mr Jones tersenyum penuh
arti.
Memerah juga mukanya Nona Elizabeth mendengar sindiran
barusan. Dia mau marah sebenarnya. Tapi belum kesampaian marah itu ditumpahkan,
terdengar beberapa kali tembakan yang seolah mengarah ke Mr Jones dan Letnan
Salam.
“Clean … Temani Non Eli,” perintah Letnan Salam. Dia bersama
Mr Jones menempuh lorong sebelah kanan.
Sempat terjadi silang pendapat, Mr Clean akhirnya menyetujui
pilihan Nona Elizabeth. Mereka berdua melewati lorong sebelah kiri.
“Non Eli duluan …”
“Mister lah yang duluan.”
Sampai tiga kali, Mr Clean lebih dulu yang melewati lorong
sempit itu. Mereka fokus pada asal suara tembakan itu.
Sang Bos kah? Menembak siapa? Anak buahnya kah? Atau justru
dia menembak dirinya sendiri dengan pistol? Kenapa lebih dari satu kali?
Bukankah kalau orang menembak diri sendiri cukup satu kali? Tidak pernah ada
kejadian sampai beberapa kali?
Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Selain Sang Bos, ada tiga manajer, tangan kanan Sang Bos.
Mereka saling berhadapan. Sang Bos duduk. Tiga orang kepercayaannya itu berdiri.
Sebelum menembak kepalanya sendiri dengan pistol, Sang Bos
lebih dulu menghabisi tiga bawahannya itu sekaligus. Dan ketika Letnan Salam cs
datang dan berhasil menemukan tempat persembunyian me reka, Sang Bos sudah
tewas dalam posisi duduk dengan kepala berlumuran darah, menggeletak di atas
meja kerjanya.
TAMAT …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar