Selasa, 06 Juni 2017

Ya Sabbit (2)

Novel ....


Ya Sabbit  (2)
Oleh Wak Amin


4
"MAS Muhsin ... Mas ... Mas Muhsin. Tolong aku Mas!" Nona Sabrina mengigau. Badannya sempat panas kemudian kembali normal setelah diberi cairan obat.
Setelah menjalani operasi kecil dengan mengeluarkan sebutir pe luru yang bersarang di pahanya, Nona Sabrina kini masih dalam tahap penyembuhan.
Operasi berlangsung cepat, dilaksanakan beberapa saat setelah dia dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan Mr Clean masih me lanjutkan pengejaran terhadap Bos Mamat dan dua anak buah nya, Jono dan Iteng. Dia ditemani Letnan Salam, menggantikan po sisi Nona Sabrina yang masih terbaring di rumah sakit.
"Kamu mengigau Nak," kata Bu Kandar, di dampingi suaminya, ayah Nona Sabrina.
Sepanjang hari, sejak Nona Sab rina menjalani operasi sampai proses penyembuhan, wanita berparas manis ini tak henti-hentinya menangis.
"Mas Muhsin belum datang, Yah?" Nona Sabrina, dibantu ibunda tercinta, berusaha duduk dengan menyandarkan punggungnya di dekapan sang ayah.
"Tadi dia datang. Lama juga dia disini menunggumu. Ibu yang akhirnya menyuruh dia pulang. Kasihan ibu melihatnya hanya duduk-duduk menunggumu .." Cerita Bu Kandar.
Nona Sabrina menarik nafas sebentar. Kemudian dia meminta ibunya untuk mengambilkan segelas air putih.
"Dia pesan, kalau ada apa-apa telepon saja. Dia siap datang kapan pun," sambung Sang Ibu setelah melihat buah hati sudah kembali tenang.
Jam tujuh malam ...
Tok .. Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikum salam," jawab Pak Kandar sembari membuka pintu. Muhsin rupanya. Dia cium tangan kedua orang tua Nona Sabrina.
"Ini sedikit oleh-oleh Bu." Muhsin memberikan sekaleng roti biskuit kepada Bu Kandar sebelum diletakkan di atas meja kecil sebelah kanan tempat tidur Nona Sabrina.
"Nak Muhsin. Ibu dan ayah keluar dulu ya ..."
"Jangan Bu," kata Muhsin tak enak hati.
"Sebentar saja Nak Muhsin," ujar Pak Kandar. "Kami hanya ingin berangin-angin saja ..."
"Mari Nak Muhsin." Bu Kandar meminta suaminya tidak menu tup rapat pintu masuk sal khusus orang dewasa.
Muhsin mengantar sampai depan pintu. Kemudian ia balik lagi mendekati Nona Sabrina.
"Maem roti ya say?"
Nona Sabrina hanya tersenyum.
"Nanti lama sembuhnya kalau tak mau maem," canda Muhsin.
Muhsin mengambil sepotong roti biskuit dari dalam kaleng. Roti itu ia masukkan ke dalam gelas.
Setelah diisi gelas dengan air pu tih hangat, diaduk-aduk sebentar, sebelum disuapkan ke mulut kekasih hati.
Nyam ... Nyam ... Nyam ...
Huuuurp ...
"Enak kan say?"
"Iya Mas ... Enak sekali. Rasa roti manis," kata Nona Sabrina kesenangan.


5
TAR ...
Tar ...
Triiiing ..
Mengenai besi, Bos Mamat masih selamat. Dengan menyelinap di balik tumpukan besi yang teronggok dekat pelabuhan, dia dan dua anak buahnya berhasil memasuki terowongan bawah tanah.
Pengejaran terus berlangsung ... Berkali-kali Letnan Salam melepaskan tembakan. Tapi dengan lihainya Bos Mamat cs menghindar di balik tumpukan besi yang berserak sebelum akhirnya bisa keluar dari terowongan.
Mereka melihat ada speedboat. Bergegas menuruni anak tangga, dan sebelum terlihat Letnan Salam dan Mr Clean, speedboat itu sudah melaju ...
Tar ...
Tar ...
Mr Clean berlari kencang di atas tanah terjal pinggiran sungai, beru saha mengikuti ke mana arah speedboat itu melaju ...
Sementara Letnan Salam menuruni tebing. Dia lihat ada speedboat tertambat di pangkalan kecil yang terbikin dari kayu.
"Clean .. Cepat kemari!" Teriak Letnan Salam.
Hanya dengan dua kali lompatan sambil berlari, Mr Clean sudah berada dalam speedboat. Letnan Salam tancap gas. Setelah berputar satu kali, itu speedboat sudah melaju dengan cepat ke kanan, mengejar Bos Mamat.
Mendekati sebuah pelabuhan kecil, banyak motor ketek tertambat di sana, dengan perahu besar menjajakan aneka kudapan, Mr Clean kehilangan jejak.
Letnam Salam sampai tiga kali memutar speedboatnya. "Matikan saja mesinnya Let," pinta Mr Clean.
Dia menduga Bos Mamat dan dua anak buahnya itu masih berada di sekitar tambatan motor ketek itu.
Dan benar saja ...
Braaaash ...
Byuuur ...
Sebuah gelombang tak begitu besar dari balik jejeran motor ketek paling depan. Sambil berputar-putar, mendekati speed boat yang dikemudikan Letnan Salam.
Dooor ...
Doooor ...
Mr Clean terjatuh dari speed boat. Nyemplung masuk sungai.
Kenapa?
"Clean ...!" Letnan Salam menarik sekuat mungkin tangan rekan kerjanya itu
"Tak apa-apa Let. Cuma kena bajuku saja. Timbis  ...." aku Mr Clean. Dia perlihatkan bajunya yang robek dekat pundak sebelah kanan.
"Alhamdulillah .. Saya kira kamu kena tembak Clean ..."
Mr Clean tertawa.
Mereka lupa. Bos Mamat sudah jauh meninggalkan keduanya.
"Let ..."
"Biarkan sajalah Clean. Suatu saat mereka pasti tertangkap. Yang penting kamu selamat sekarang. Setuju?"
"Setuju Let. Tapi ..."
"Bos Mamat tak berhasil kita amankan ..?"
Mr Clean mengiyakan ...
"Saya kuatir dia semakin besar ke pala dan merajalela serta mem permalukan institusi kita."
"Mudah-mudahan tidak Clean."


6
"ADUH ... Capek aku Mas." Kata Nona Sabrina. Meminta Muhsin menyeka peluh di sekitar tangannya.
"Makasih Mas ..."
Keduanya mengaso sejenak di bangku panjang tak jauh dari taman rumah sakit. Taman itu mungil tapi indah karena di te ngah taman ada kolam berisi ikan mas koi dan jembatan kayu.
Di kanan kirinya ditanami aneka pepohonan. Bagian tengah taman ditumbuhi rerumputan hijau yang tertata apik. Ada lampu taman. Bi la malam hari taman ini semakin indah dan elok dipandang.
Pasien dan keluarga yang menu nggu serta membesuk sesekali menyempatkan diri duduk-duduk di sekitar taman. Memandang kolam dan air mancur, yang walaupun kecil, memperindah tatanan kolam dengan ikan mas berwarna-warni berseliweran di permukaan air yang jernih itu.
"Kita ke taman saja Sab ya," kata Muhsin. Nona Sabrina tidak menolak. Tapi untuk ke taman, walaupun cuma berjarak hanya lima meter, wanita tinggi semampai ini merasa cepat lelah.
"Gimana kalau Mas gendong saja," bisik Muhsin menawarkan diri.
"Enggak mau ah..."
"Kenapa?"
"Malu ditengok orang," jawab Nona Sabrina. Dia merasa kurang pantas digendong karena bukan suami isteri.
"Terus ... Mau disini terus ..?"
"Enggak jugalah Mas ..."
Nona Sabrina berdiri. Dibantu Muhsin, dia melangkah dengan pelan. Empat langkah berhenti. Istirahat sebentar.
Kemudian berjalan lagi. Begitulah seterusnya. Sampai juga akhirnya di taman rumah sakit itu.
"Aduh Mas ...!" Nona Sabrina merasa sangat lelah. Dia memin ta Muhsin membantunya untuk duduk bersandar di kursi taman. Angin sepoi-sepoi bertiup. Nona Sabrina sangat senang.
"Bentar ya Sab ..."
"Mau kemana Mas?"
"Ambil air minum dulu buat kamu ... Oke?"
Nona Sabrina tak menjawab. Dia hanya menyunggingkan senyu man. Senyum penuh makna. Pertanda telah tumbuh benih-benih cinta. Entah kenapa, sema kin dekat dengan Muhsin, dia merasa takut kehilangan.
"Mungkin inilah yang dinamakan cinta," ucapnya dalam hati. Dia memandang ke sekitar taman. Ada sepasang suami isteri lansia tengah duduk berdua. Keduanya asyik ngobrol, lalu tertawa lepas.
"Sabrina ...!" Sapa Muhsin seraya memberikan segelas air putih dan roti manis.
"Makasih Mas."
"Sama-sama Sab."
Tak lama kemudian datanglah teman-teman Nona Sabrina dari Graha Police. Semuanya perempuan. Ada yang masih single, baru saja menikah, dan malah sudah beranak cucu.
Muhsin tak melihat Mr Clean dan Letnan Salam.
"Kemana ya mereka?" Tanyanya dalam hati.


Tobe Continued ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar