Novel ....
Ya Sabbit (8- HABIS)
Oleh Wak Amin
Oleh Wak Amin
19
AKSI perampokan yang diwarnai tembak menembak dan perke lahian selama kurang lebih satu jam itu berakhir dengan diamankannya beberapa anak buah Bos Mamat.
AKSI perampokan yang diwarnai tembak menembak dan perke lahian selama kurang lebih satu jam itu berakhir dengan diamankannya beberapa anak buah Bos Mamat.
Mereka diborgol dalam kawalan anggota polisi, sementara yang tewas dilarikan ke rumah sakit dengan mobil ambulance.
Bos Mamat sendiri berhasil melarikan diri. Dia sempat
dikejar beberapa anggota polisi. Namun setelah itu menghilang entah
kemana.
Beberapa di antara mereka tampak kecewa berat lantaran tak mampu menangkap penjahat licik itu.
"Mr Clean."
"Kita ketemuan lagi nanti di kantor ya Sabrina," kata Mr Clean, mempersilakan koleganya itu ma suk mobil lebih dulu.
SedangkanLetnan Salam sudah lebih dulu meninggalkan TKP un tuk kembali ke Graha Police.
"Sampai kapan Mister kita membiarkan biadab itu bebas
berkeliaran?" Celetuk Nona Sabrina. Dia kelihatan sangat emosional saat
menyebut dan mendengar nama Bos Mamat.
"Sampai kita belum menangkapnya," jawab Mr Clean dengan suara bergetar.
"Aku tiba-tiba muak Mister," aku Nona Sabrina. Ingin
rasanya dia membanting sekeras mungkin pin tu mobil. Tapi tidak jadi
karena sa at bersamaan mobil ngerem men dadak ketika berada di traffic
light.
"Maaf ya Nona Sabrina."
"Enggak apa-apa Mister."
Malam harinya di sebuah apartemen pinggiran kota ...
"Jemput saya sekarang Bro," kata Bos Mamat. Ketawa lebar melihat dua tas koper berisi uang ada di genggamannya sekarang ini.
Ha ha ha ha ...
"Gembira amat lho Bro ..."
"Cepatlah kau kemari. Nanti kau tengok sendiri kenapa aku tertawa tadi."
Ha ha ha ha ...
"Coba kutebak," kata temannya yang diketahui bernama Kurcaci.
"Apa coba?"
"Di dekatmu pasti ada cewek bahenol."
Hua ha ha ha ....
"Benar kan?"
"Salah. Sekarang ini aku sendirian di apartemen ini," jelas Bos Mamat sembari melihat ke luar jendela.
Panorama yang tersaji tampak in dah di malam hari karena
ditera ngi pancaran aneka lampu berwar na-warni dari beberapa aparte men
dan vila yang berdiri megah di sepanjang lokasi pantai.
Kurcaci menyerah. Dia berjanji da lam tempo sepuluh menit sudah ti ba di apartemen tempat Bos Ma mat menginap.
"Kamu jangan kemana-mana," pesannya. Bergegas ke garasi.
Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan mewah meluncur ke
jalan raya. Melesat cepat menuju pertigaan tugu kota.
Letnan Salam menyusul dari bela kang. Dia mengontak Mr
Clean dan Nona Sabrina, menyusulnya membuntuti dari kejauhan mobil
mewah berwarna kuning.
"Sepertinya menuju ke pinggiran kota," kata Letnan Salam. Memin ta dua anak buahnya itu bergerak cepat.
"Siap Let," jawab Mr Clean, melun cur ke kediaman Nona Sabrina.
Sementara Kurcaci sudah sampai di apartemen tempat Bos Mamat menginap. Sang teman minta segera diantar ke airport.
"Buru-buru amat Bro. Minum-minumlah dulu kita," kata Kurcaci sebelum mobil yang dia sopiri melesat cepat meninggalkan apartemen.
"Nantilah ... Sekarang antar aku dulu ke airport," ujar Bos Mamat. Tampak gagah dengan kacamata hitam yang ia kenakan.
20
"CEPAT sedikit Mister," kata Nona Sabrina. Sudah tak sabar untuk memelintir kepala Bos Mamat.
"CEPAT sedikit Mister," kata Nona Sabrina. Sudah tak sabar untuk memelintir kepala Bos Mamat.
"Siap Nona."
Mr Clean baru tancap gas setelah mobil belok kanan menuju pintu masuk airport.
Tak kepalang tanggung, dia kebut itu mobil dengan kecepatan
maksimal. Saking ngebutnya, pohon di kanan kiri jalan nyaris tak
terlihat.
Syiiiit ...
Reeeen ...
Reeeen ...
Terlalu pinggir, ban mobil nyaris menabrak trotoar. Namun dengan membanting stir ke kiri, mobil berhasil ke tengah lagi.
"Maaf ya Non Sabrina."
"Enggak apa-apa Mister. Ini su dah dekat." Nona Sabrina
mengokang senjatnya begitu mobil berhenti tak jauh dari lokasi parkir airport.
mengokang senjatnya begitu mobil berhenti tak jauh dari lokasi parkir airport.
Dia turun dari mobil.
Kriiing ..
"Ya Let."
"Siap?"
"Siap Let."
Di manakah Letnan Salam?
Dia sudah tiba lebih dulu di airport. Posisinya kini tepat berada di belakang Kurcaci dan Bos Mamat.
Dia belum mengambil tindakan apa pun sebelum Mr Clean dan Nona Sabrina datang.
Deeep ....
Deeep ...
Deeeep ...
Deeep ...
Keempat ban mobil Kurcaci ditem bak Mr Clean tanpa terdengar le tusan. Seketika ban itu kempis karena bocor.
"Rasain lu setan," umpat Mr Clean. Berlalu pergi menyusul Letnan Salam dan Nona Sabrina.
Karena gelap, Nona Sabrina tak begitu jelas melihat Letnan Salam.
Dia terpaksa menelepon dan dijawab atasannya .."Sabrina, aku ada di belakangmu."
Letnan Salam ketawa geli.
Nona Sabrina tak enak hati.
"Clean ...?!"
"Di belakang Letnan sekarang," kata Mr Clean. Ketiganya mulai bergerak mendekati Kurcaci dan Bos Mamat.
Bos Mamat dan Kurcaci masih ter libat pembicaraan. Kurcaci
me ngatakan, sejauh yang ia tahu, tak seorang pun tahu mereka berada di
airpirt saat ini.
"Kecuali saya sendiri Bro," jelas Kurcaci. Semula ragu.
Tapi ke mudian ia menepuk- nepuk pun dak temannya itu sebagai tanda
percaya dan aman dalam pelarian.
Dari kejauhan sebuah pesawat berbadan kecil terlihat mendekat. Sambil tertawa lepas, Bos Mamat mengucapkan terima kasih.
Dia memberikan sejumlah uang kepada Kurcaci yang dia ambil se kadarnya dari dalam tas koper.
Pesawat kian mendekat. Tapi be lum mendarat. Letnan Salam
cs mulai bergerak. Mendekat dari arah belakang Kurcaci dan Bos Mamat
yang tertawa terbahak-bahak.
Pesawat akhirnya mendarat dan berputar-putar di landasan, lalu berhenti tak jauh dari Bos Mamat dan Kurcac berdiri.
Pintu pesawat dibuka. Bos Ma mat bersegera menaiki tangga pe sawat sebelum terbang dengan membawa banyak uang.
"Bro .."
Kurcaci menoleh ...
Door ...
Dooor ...
Door ...
Kaget. Tak sempat menghindar la gi ketika tiga peluru yang dile sak kan Bos Mamat menghantam ke pala, dada dan perut Kurcaci.
Tewas saat itu juga.
"Terima kasih Bro. Semoga kau masuk surga," ucap Bos Mamat.
Uang di genggaman Kurcaci dia ambil, untuk kemudian diletakkan di muka
sohibnya itu.
Ha ha ha ha ...
"Aku kaya raya sekarang," teriak Bos Mamat sambil tertawa lebar.
Jegaaar ...
Guarrr ...
Guaaaam ...
Tembakan yang bertubi-tubi dile paskan Letnan Salam, Mr Clean dan Nona Sabrina, menimbulkan ledakan kuat di badan pesawat.
Sang pilot dan temannya tewas terbakar, sementara Bos Mamat
terlempar beberapa meter dari ba dan pesawat dengan kepala mem bentur
aspal.
Dia tak sadarkan diri beberapa sa at sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar