Minggu, 18 Juni 2017

Ya Sabbit (6)

Novel ...

Ya Sabbit (6)
Oleh Wak Amin


15
HA ha ha ha ...
"Bodoh juga itu polisi," kata Jono. Sudah dua gelas dia habiskan minuman beralkohol, bir.
"Bodoh bagaimana Jono?" Tanya teman-temannya,  bersemangat mendengarkan cerita Jono yang sukses melumpuhkan Mr Clean.
"Masa kalah oleh buah kelapa," lanjut Jono tertawa lebar. Bersa ma teman-temannya dia menung gu kedatangan Bos Mamat. Karena akan ada pertemuan penting pada malam hari ini.
"Ah, enggak mungkinlah. Dia itu kan polisi. Bukan anak kemarin sore," celetuk temannya, Iqbal.
"Itu mah dulu. Ketimpa besi saja enggak apa-apa. Sekarang lain," sambung Jono. Tertawa lebih keras lagi. Beberapa warga yang melintas dekat warung minuman sempat menoleh. Lalu menggelengkan kepala sebelum berlalu pergi.
"Sekarang bagaimana Bro?" Iqbal menuangkan sebotol bir ke dalam gelasnya yang berisi batu es ke cil-kecil. Juga teman-temannya yang lain. Kompak minum segelas lagi sambil mengunyah kacang kulit.
"Kesenggol aja langsung klepek .. klepek .. klepek ... klepek pek ..."
Ha ha ha ha ...
Karena Bos Mamat belum juga datang, ngolor-ngidul pun dilanjutkan.
"Tapi Bro, kenapa kamu enggak langsung door saja sekalian?" Tanya Fahmi. Alasannya, jika polisi itu mati semua beres persoalannya.
"Menurutku," kata Iqbal, "Enggak juga. Sebab, mati atau tidak Pak Polisi itu, Jono tetap dicari."
"Ah, tak usah dibahas itu. "Bentak Jono. Kenapa mesti takut. "Dia kan manusia. Dia makan nasi, kita makan nasi. Lain soal, dia sudah terbiasa makan besi."
Ha ha ha ha ...
"Tapi Bro. Ngomong-ngomong nich. Kenapa lu enggak habisi saja itu polisi?" Merasa belum terjawab, Fahmi ingin Jono terus terang mengutarakan alasannya.
"Mau tahu?"
"Ya ialah Bro," jawab teman- temannya serempak.
"Karena gue enggak tega, "jelas Jono.
Haaaaa ...?
"Tak tega Bro?" Heran Said dan Fahmi.
"Elu berdua enggak percaya kan?"
"Bukan enggak percaya. Aneh saja," terang Said.
"Aneh kenapa?"
"Elu tau kan itu polisi. Lu tau kan. Dia kejar elu sampai ketemu. Ka rena kepintaran elu aja bisa lolos. Coba kalau tidak, pasti sudah babak belur di dalam sel."
"Lantas maunya elu itu Id, apa dong?"
"Habisi itu polisi."
Piiiin ...
"Bos datang," kata Fahmi seusai mengintip dari balik jendela warung.
Semua berdiri. Merapikan pakaian. Minuman dibiarkan di atas meja. Ibarat sepasang pe ngantin, mereka menyambut kedatangan Sang Bos dengan berdiri di kanan kiri pintu masuk warung.
"Bagaimana? Sudahkah pesta-pestanya?" Tanya Bos Mamat. Mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya. Dia ambil sebatang dan ....
Ceeeeesh ...
Jono menyulut itu rokok dengan korek api kepunyaannya.
"Selesai?"
"Selesai Bos," jawab Iqbal dan Said.
"Yang keras jawabnya kalau ditanya. Jangan loyo gitu ah."
"Selesai Bos pestanya."
"Nah begitu dong. Sekarang bayar dan ikut saya ..*
"Kemana Bos?"
"Jangan banyak tanya."
Mau kemana Bos Mamat?
Ada hal penting yang harus dia bicarakan dan rembukkan. Dia ingin merampok sebuah bank. Misi besar. Karena selama ini dia dan anak buahnya belum pernah merampok bank.

16
"JADI mulai sekarang kita harus  membiasakannya," kata Bos Mamat ketika memimpin pertemuan dengan anak buahnya di salah satu gedung yang sudah lama tak ditempati dan digunakan pemiliknya.
"Kalian harus siap. Sekarang katakan ... Kami siap?"
"Kami siap."
"Bagus ... Katakan lagi .. Kami harus berhasil."
"Bagus."
"Katakan lagi ... Siap bekerja kapan diminta."
"Siap bekerja kapan diminta."
"Bagus."
Bos Mamat kemudian memerintahkan dua anak buahnya, Jono dan Iqbal, untuk mengambil kotak besar di bagasi mobil, lalu dibawa bersama-sama dalam pertemuan ini.
Kotak itu hasil pembelian Bos Mamat pada seseorang yang berpengalaman memasok senjata. Tapi sudah lebih dari cukup digunakan untuk merampok.
"Mulai sekarang anda semua harus sudah terbiasa menggunakan senjata ini," jelas Bos Mamat setelah kotak dibuka, salah satu senjata diserahkan ke Jono untuk diperlihatkan.
Sebuah senjata laras panjang. Se pintas senjata ini mirip dengan senjata kebanyakan. Bedanya, daya tembaknya bisa diatur: kecil, sedang dan besar.
Bagi penggunanya hanya perlu memilih  dan menekan tombol. Begitu selesai membidik sasaran, peluru menyasar cepat ke tempat yang diinginkan.
Guarrrr ...
Guaaaaam ...
"Begitulah kira-kira daya tembaknya," jelas Bos Mamat.
"Satu atau dua Bos?" Tanya Said. Dia ingin dua. Satu ditembakkan, satunya lagi cadangan.
"Takutnya Bos, senjatanya macet, " kata Said.
Ha ha ha ha ...
"Enggak akanlah Id," sahut Iqbal.
"Paling kalau benar macet, bukan senjatanya. Tapi orangnya yang macet," timpal Iqbal.
Ha ha ha ha ...
"Sudah ... Sudah ...," ujar Bos Mamat menengahi. "Sekarang kita masuk pada cara merampok bank."
Sontak Iqbal cs mengernyitkan dahi.
"Masih bingung Bos "aku Said dari tadi seperti orang banyak pikiran.
"Bingung kenapa Id?"
"Kalau enggak ada pintunya itu bank. Bagaimana kita bisa masuk Bos?"
Ha ha ha ha ...
"Ini kan sketsa gedungnya saja. Pintunya sengaja belum dibikin. Bukan apa-apa. Supaya mudah kita membahasnya. Buktinya kan kamu Id. Bagus itu ...."
Ha ha ha ha ...
Giliran Said ketawa.
"Jadi, saya benar kan Bos?"
"Benar ..."
"Apa kubilang. Benar kan? Said sih ..."Said membanggakan diri.
"Duileee. Kege ...eran," celetuk te mannya seraya menghadapkan muka mereka ke papan tulis.
Operasi yang kita lakukan, jelas Bos Mamat, tepat pada tengah hari saat jam istirahat.
Operasi perampokan ini paling lambat selesai dalam tempo setengah jam.
"Lebih dari itu kemungkinan besar kita bakal ketahuan,"terang Bos Mamat.
"Ketangkap kan Bos?" Tanya Iqbal harap-harap cemas. Jika berhasil dapat uang banyak. Tapi manaka la gagal, uang tak dapat, masuk penjara pula.
"Tapi jangan kuatir. Kita akan dibantu oleh teman-teman yang lain," jelas Bos Mamat percaya diri.
"Siapa Bos?"
"Nantilah kalian tahu," terang Bos Mamat singkat.


Tobe Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar