Rabu, 09 Agustus 2017

El-Maut (8)




Novel …


El-Maut (8)
Oleh Wak Amin

16
UNTUNGLAH bom berdaya ledak sedang itu berhasil dijinakkan. Miss Nancy tampak lega. Bukan saja tidak menimbulkan kepanikan, korban jiwa dan material, tapi juga warga merasa aman-aman saja dan nyaman dalam bepergian.
“Paling tidak  masih ada nafas buat kita bertiga Mister,” kata Miss Nancy, setelah mobil yang disopiri Mr Jodi melaju menuju kediamannya.
“Tapi saya kira kita tetap waspada  Miss. Mungkin saja si pria yang kita amankan dan sudah dibawa rekan kita ke kantor polisi itu sengaja diumpankan untuk memulai peperangan,” jelas Mr Jodi, seperti kebiasaannya, sepanik dan seberat apa pun masalah yang dihadapi, tetap ketawa lebar yang membuat rekan-rekan sekerjanya ikut senang dan terhibur ketika berada di dekatnya.
“Benar apa kata Mr Jodi barusan Miss. Bisa jadi ini baru permulaan. Dalam waktu dekat akan terjadi beberapa ledakan. Tapi  mudah-mudahan tidak.”
“Selama ini kita bisa mengatasinya kan Mr Jodi,” ujar Miss Nancy, mulai mengantuk tapi  dia paksakan untuk tetap melek dan bersemangat ketika berbicara.
“Betul begitu Mr Jodi?”
“Betul Mr Clean,” jawab Mr Jodi sejujurnya. Makanya dia heran kenapa beberapa hari terakhir ini tingkat keamanan dan kenyamanan mulai menurun. “Warga mulai sering berkelahi, dan seperti Mr Clean lihat dan dengar sendiri, telah terjadi ledakan dahsyat di beberapa tempat di antaranya di apartemen tempo hari.”
“Mungkin kita juga jadi target dari orang atau kelompok yang bermaksud jahat pada pemerintah kita,” terang Mr Clean sambil menoleh  ke belakang, melihat Miss Nancy tertidur pulas.
“Mungkin juga Mr Clean,” kata Mr Jodi. Tapi dia mulai heran kenapa suara Miss Nancy tidak terdengar. Padahal kalau bicara  berdua atau bertiga, selalu aktif menyahuti.
Syiiiit …
Mobil berhenti sebentar …
“Udah nyampe Mr Jodi?” Miss Nancy terbangun dan hendak keluar dari mobil.
Ha ha ha ha …
“Mau keluar kemana Miss. Gelap. Tengoklah!” Mr Jodi memperkeras suara tawanya. Memang tidak ada orang di luar. Serba gelap karena mereka kini berada di areal persawahan warga.
“Ok .. oooo!”
“Makanya Miss, kalau di dalam mobil jangan tidur,” ledek Mr Jodi. Belum juga berhenti ketawa, sampai memerah mukanya.
“Ngantuk sekali Mister. Kalau dipaksain percuma juga. Bisa-bisa ngerocos tak karuan,” jelas Miss Nancy. Dia merasa haus, berharap segera tiba di rumah dan minum sepuas-puasnya air putih yang tersimpan dalam kulkas.
Karena haus, selama dalam perjalanan Miss Nancy selalu ingat air minum. Menyuruh mampir beli air pu tih di toko supermarket yang buka 24 jam, takut kelamaan sementara tak lama lagi waktu subuh bakal tiba.
Piiiin …
Caaar …. Caaar …
Lampu depan menyala sebentar, lalu padam.
“Sampai juga akhirnya,” ucap Mr Jodi. Dia menoleh ke kanan, lalu tersenyum lebar. “Rumah ini masih seperti dulu, asri dan damai.”
“Gombal ah!” Celetuk Miss Nancy, melangkah turun dari mobil.
Ha ha ha ha …
“Selamat beristirahat Miss Nancy,” ucap Mr Clean.
“Selamat beristirahat juga,” jawab Miss Nancy seraya melambaikan tangan dan menyunggingkan senyuman, amboi menawannya.
“Semoga bermimpi yang indah,” lanjut Mr Jodi, ketawa ngakak.
“Gombal …”
Sunyi sesaat.
Lalu …
Guaaam …
Guaaar …
Guaaam …
Sebuah bom meledak  di kawasan kompleks perumahan Miss Nancy berdomosili. Ledakan itu begitu ti ba-tiba datangnya, sehingga mengejutkan warga penghuni rumah dan sekitarnya. Ada yang menjerit histeris sambil berhamburan ke luar rumah. Malah ada di antaranya terpental jauh ke jalan, tak terke cuali Miss Nancy.
Mr Clean dan rekannya turun dari mobil setelah melapor ke mabes telah terjadi ledakan keras di kedia man Miss Nancy.

17
BERUNTUNG Miss Nancy selamat, hanya mengalami luka ringan. Sebab, dari tempat ia berdiri saat ini dengan asal ledakan cukup jauh, meski tidak mengurangi keras dan menggelegarnya daya ledak bom barusan. Sebagian kecil  penghuni rumah dipastikan tewas, paling tidak mengalami luka parah dan ringan.
Dari beberapa keterangan saksi mata, Mr Clean cs memperoleh penjelasan, sebelum ledakan terjadi ada seorang pria turun dari mobil. Kemudian masuk rumah dan kembali lagi ke mobilnya beberapa saat ke mudian.
Antara ledakan dengan perginya pria tak dikenal itu cukup lama. Hampir setengah jam.  Bersamaan dengan datangnya Mr Clean dan kedua rekannya ke lokasi TKP.
“Untuk ciri-cirinya saya kurang tahu Persian Tuan,” kata seorang lelaki muda yang rumahnya tak jauh dari lokasi ledakan. “Tetapi dipastikan belum terlalu tua dan berjenis kelamin laki-laki …”
“Terima kasih Pak,” ucap Mr Clean, bersama Mr Jodi, keduanya mencari saksi mata lain sebagai pemban ding dan pelengkap. Sulit juga menemukannya karena tidak semua saksi mata berani bicara. Kebanya kan dari mereka takut dengan ancaman pelaku teror.
“Maaf Pak, saya harus menjemput anak saya pulang sekolah,” ujar ibu muda yang baru saja masuk mobil yang ia parkir  di tepi jalan. Mobil melesat lambat ke pusat kota.
Mr Clean dan Mr  Jodi tak kehabisan akal. Segala cara mereka tempuh untuk menggali dan menghimpun sebanyak mungkin informasi, dengan demikian  diharapkan dapat menemukan titik terang siapa  dalang pelaku peledakan sebenarnya.
Salah seorang juru parkir menyebut dia pernah melihat ciri-ciri orang dimaksud dalam rekayasa gambar yang diperlihatkan Mr Clean.
“Dia ini sudah sering main-main ke sini. Berkumpul dengan teman-teman yang lain. Tapi kenapa yang bersangkutan sampai hati dan tega meledakkan kompleks pemukiman warga. Apa mereka salah?”
“Kapan anda terakhir melihatnya?” Tanya Mr Jodi sambil mengulum permen manis  karena kerong kongan dan mulut terasa kering dan  pahit.
“Kira-kira seminggu yang lalu,” jelas si juru parkir, tak lagi gugup ketika saat pertama kali Mr Clean  menanyainya.
“Anda tahu apa yang dia lakukan?”
“Persisnya tidak Tuan. Dia ngobrol dengan seseorang. Bos saya.”
“Oke, terima kasih,” ucap Mr Clean. “Bos Anda, ada kan?”
“Ada Tuan Polisi,” jawab si tukang parkr sembari  membungkukkan badan. Bergegas ia mengatur posisi keluar-masuk motor di dekat sebuah warung.
Mulai ada titik terang ketika Bos Parkir bersedia ditemui dan diajak bicara. Pertemuan itu hanya ber langsung singkat. Tak kurang dari sepuluh menit saja. Karena setelah itu Mr Clean dan Mr Jodi melaporkan hasil  penyelidikan singkat mereka itu kepada Inspektur Polisi Smith.
Sayangnya, Inspektur Smith belum mengizinkan mereka untuk memburu pelaku peledakan.  Hal ini dikarenakan si pelaku tidak tunggal. Dia hanya pion, menjalankan tugas dari kelompok tertentu.
“Kita dalami lagi. Tunggu satu atau dua hari lagi , Mr Clean,” kata Inspektur Smith.
“Apa tidak kelamaan Inspektur?” Tanya Miss Nancy, baru saja bergabung,  agak emosional. Sehari dibiarkan pelakunya berkeliaran sama saja kiita membiarkan sepulh tempat untuk diledakkan.
“Tidak harus begitu Miss Nancy,” jelas Inspektur Smith. “Yang jaga kan ada. Sabarlah. Tunggu satu atau dua hari lagi …”
“Tapia apa bisa dijamin yang bersangkutan tidak melarikan diri?” Tanya Mr Jodi, baru kembali  dari menumpang minum di kantin markas kepolisian.
“Mudah-mudahan tidak. Anggota kita yang lain sudah kita siapkan untuk menjaga lubang-lubang penyusupan,” kata Inspektur Smith.
“Terus Inspektur,” timpal Mr Clean, “Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
“Sambil menunggu perintah, kalian bertiga tetap saya tugaskan berpatroli dan siap melaporkan setiap perkembangan  yang terjadi, sekecil apa pun ia.”
“Siap Inspektur,” jawab Mr Jodi. Agak payah dia berdiri karena perutnya yang dulu langsing kini sedikit membuncit, menyentuh pinggiran meja. Terpaksa ia menggeser tempat duduknya agar leluasa berdiri.
Di area parkir markas kepolisian pusat, Miss Nancy masih menaruh kecewa dengan keputusan Inspektur Polisi Smith untuk tidak secepatnya mencari, menemukan, mengungkap identitas pelaku, untuk kemu dian meng gantungnya di jalanan.
Mr Clean membiarkan Miss Nancy meluapkan rasa kecewanya dengan menendang batang pohon dan memukul dadanya berulangkali. Andai saja Mr Jodi tak segera datang dan melerainya, entah masih kuat kah Mr Clean menahan pukulan, walau tidak keras, dilakukan bertubi-tubi itu oleh wanita yang diam-diam menyukainya itu.
“Nancy .. Nancy. Cukup,” teriak Mr Jodi, sambil mengipas wajah rekan sekerjanya itu dengan handuk kecil yang sering ia gunakan untuk menyeka peluh di seputaran muka dan leher.

Tobe Continud   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar