Novel …
El-Maut (9)
Oleh Wak Amin
18
DI lain tempat,
jaringan El-Maut yang dikomandoi Sobar, menggelar pertemuan khusus di
sebuah vila puncak bukit pada tengah malam. Pertemuan itu merupakan agenda
bulanan untuk mengevaluasi hasil kerja kelompok mereka, sehingga diharapkan bisa menemukan formula
baru untuk menindak-lanjuti langkah lanjutan operasional di lapangan.
Jaringan El-Maut adalah kelompok teroris. Mereka merupakan
pemain lama yang sudah berpengalaman melakukan pengeboman di berbagai tempat.
Tidak jelas apa sebenarnya yang mereka kehendaki. Na mun sepertinya jaringan
ini hanya ingin meminta hak ‘kedaulatan’ atas wilayah.
Detailnya, selama ini mereka selalu berpindah-pindah tempat
dengan hidup yang tidak jelas. Mereka su dah bosan hidup tanpa tempat tinggal
menetap. Mereka ingin agar penguasa memberi mereka sedikit tanah untuk
ditempati. Mereka ingin sebuah tempat
yang bisa ditinggali sekaligus jadi tempat mata pencaharian mereka sehari-hari.
Jaringan ini tidak mengharuskan wilayah yang luas. Pulau
misalnya. Tapi yang sewajarnya buat kelompok mereka agar bisa hidup layak.
Mereka tidak menuntut yang lebih dari itu. Mereka hanya ingin diberi tempat
berteduh buat mereka dan segenap keluarga.
Meski demikian, jaringan El-Maut ini akan membela
mati-matian bila ada anggota mereka yang terbu nuh, misalnya. Mereka akan
cari pelakunya sampai dapat. Bila tidak
juga berhasil diketemukan mereka akan marah dan mengamuk serta tak segan-segan melakukan tindakan yang
membahayakan kesela matan orang banyak.
Kendati sang komandan Sobar membantah terlibat beberapa
ledakan belakangan ini, termasuk ledakan dahsyat yang menghantam apartemen
dengan jatuh korban yang tidak sedikit, pihak kepolisian tetap mencurigai
kelompok ini.
Kecurigaan itu sangatlah beralasan. Karena selama ini belum
ada kelompok atau jaringan sehebat dan setenar El-Maut. Berani melakukan
tindakan berisiko. Namun tentunya kecurigaan ini harus didukung dengan bukti
yang kuat dan akurat. Jika tidak justru akan menodai citra kepolisian di mata
masyarakat.
Sobar dikenal disiplin dan keras pada anak buahnya. Dia tak
segan-segan menghukum mereka jika ketahuan lalai dalam menjalankan tugas, atau
berkhianat dan bersekongkol dengan pihak lain.
Tak kenal kompromi. Tapi jika itu menyangkut kenyamanan
hidup, Bos Sobar akan mempertimbangkan dengan menempuh jalan dialog untuk
mencapai titik temu dan kesepakatan antara kedua belah pihak.
Pada setiap pertemuan, Sobar selalu mengingatkan anak
buahnya untuk bertindak secara profesional dan bertanggung jawab. Tidak
menimbulkan kegaduhan dan kepanikan di tengah masyarakat.
Setiap tindakan yang diambil harus diperhitungkan secara
tepat dan cermat. Tidak menimbulkan korban jiwa dan ditunggangi pihak lain. Praktis,
El-Maut selalu bekerja sendirian, tanpa melibatkan pihak lain.
Pada pertemuan tengah malam ini, Sobar telah menyiapkan
beberapa rencana besar. Mulai dari penem bakan terhadap orang tertenu, hingga
peledakan di tempat-tempat tertentu.
Semua misi ini harus tun tas secepatnya. Tak ada pilihan bagi anggotanya.
Sukses atau gagal, dan jika gagal harus siap-siap me nerima akibatnya.
“Kalian harus ingat dan camkan itu. Seberat apa pun tugas
yang diemban dan dijalankan harus berhasil. Jika tidak bahaya besar akan
menimpa jaringan kita,” jelas Sobar berapi-api.
Untuk penembakan, katanya, ditujukan pada dua sosok penting
negeri ini. “Pak Presiden dan Menteri Dalam Negeri …”
“Mereka berdua harus mati dan kalian yang ditugasi harus
bisa menghilangkan jejak secepatnya,” tegas Sobar. Dia pandang tajam satu
persatu anak buahnya. Tak seorang pun dari mereka yang tebersit rasa takut dan pesimis.
“Khusus peledakan, kita akan lakukan di tiga tempat. Yaitu
pasar, rumah sakit dan pusat-pusat kerama ian lainnya,” lanjut Sobar. Memperinci lokasi peledakan dengan menuliskan
beberapa hal yang mesti dipersiapkan, diperhitungkan dan diantisipasi.
“Ada yang bertanya sampai disini?”
“Saya Bos!” Salah seoran lelaki berusia muda mengacungkan
jari telunjuknya. Dia menyebut namanya, walaupun Sang Bos tidak memintanya
menyebutkan nama.
“Zulfikar. Ya Zulfikar, nama saya,” katanya dengan nada
tinggi dan bersemangat.
“Apa yang hendak kamu tanyakan Zul?”
“Begini Bos. Singkat saja. Saya hanya ingin menanyakan saat
kita meledakkan sesuatu nantinya, entah gedung atau apalah, apa mesti dilakukan
dengan cara bunuh diri?”
“Tergantung Z ul. Tapi tak usah takut. Itu hanya jalan
terakhir,” jelas Sobar. Rehat sejenak buat minum air kopi susu hangat.
19
TENGAH malam di kediaman Mendagri …
“Mr Clean.” Bisik Miss Nancy. Dia, Mr Clean dan Mr Jodi
masih bersembunyi di depan rumah dinas
Men dagri yang dijaga petugas keamanan.
Mendagri, setelah berkoordinasi dengan Inspektur Smith,
mempersilakan Mr Clean dan kawan-kawan ikut mengawasi dan mengamankan kediaman
orang penting kedua di negeri ini setelah Pak Presiden.
Melalui Dinas Intelejen Kepolisian diperoleh kabar malam ini
kediaman Mendagri akan diserang kelom pok teroris jaringan El-Maut. Target utama mereka adalah menembak mati
Mendagri. Info sangat raha sia ini kemudian diterima untuk dibahas pihak
keamanan, dalam hal ini kepolisian dan pihak terkait lainnya, sebelum
diteruskan ke Mendagri.
Semula, Pak Wahono, Sang Mendagri, menolak secara halus
diberi pengamanan yang super ketat. Kare na selama ini, dia sudah terbiasa
kemana pergi sendirian. Selain di dampingi ajudannya, Pak Wahono, ketika
melakukan perjalanan ke luar daerah, hanya ditemani beberapa orang staf, itu
pun staf dari wilayah yang dia kunjungi.
Demikian pula halnya dengan kediaman dinasnya. Hanya dijaga
satu dua petugas keamanan yang di tunjuk. Selama ini aman-aman saja. Keluar
masuk rumah dengan berjalan kaki atau mengemudikan mobil merupakan pemandangan
biasa dan lazim disaksikan warga yang berdomisili di sekitar kedia mannya.
“Tapi saya mohon bapak Menteri pertimbangkan hal ini,” kata
Inspektur Polisi Smith, sengaja datang menemui Mendagri Wahono di kediamannya,
bersama Mr Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy.
“Baiklah kalau begitu saya pertimbangkan Pak Inspektur,”
jawab Mendagri setelah mendapat penjelasan langsung ikhwal operasi rahasia
jaringan El-Maut dan demi tercapainya stabilitas politik dan keamanan.
“Mereka inilah yang bakal ditempatkan di sekitar kediaman
bapak,” jelas Inspektur Smith, memperkenal kan selintas sosok Mr Clean, Mr Jodi
dan Miss Nancy.
“Clean …”
“Jodi.”
“Miss Nancy.”
Ha ha ha ha …
“Tak kusangka Pak Inspektur punya anak buah jempolan,” puji Mendagri. Dia
sepertinya sangat senang melihat dan menerima kehadiran Mr Clean cs.
“Terima kasih Pak Mendagri,” kata Inspektur Smith. Sama sekali
tak menyangka kehadiran tiga anak buanya mendapat sambutan hangat. Padahal
sebelumnya dia sempat pesimistis.
“Apa yang harus saya persiapkan sekarang Inspektur?”
“Kerjasamanya Pak Mendagri. “ Inspektur Smith ingin Mr
Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy bisa bekerja sama dengan petugas keamanan yang
ditempatkan di kediaman Mendagri.
“Oke. Eeeem … Kalau tidak ada lagi, kita sudahi dulu
pertemuan ini. Bisa kan Pak Inspektur?”
“Dengan senang hati Pak Mendagri,” jawab Inspektur Smith.
Sebelum meninggalkan kediaman Pak Mendagri, Inspektur Smith
menyempatkan diri berberbincang-bincang
sejenak di teras, sebelum mengajak serta Mr Clean dan dua rekannya menuju mobil yang di parkir di ujung kompleks kediaman Mendagri.
Tepat pukul satu malam …
Sebuah mobil berhenti di seberang jalan tak jauh dari
kediaman Mendagri. Hampir sepuluh menit tak seorang pun yang keluar dari mobil
itu, kecuali kaca depan sebelah kanan mobil terbuka sedikit.
“Sayed disini Bos.”
“Arahkan senjatamu!” Perintah Bos Sobar. Sebuah senjata
berdaya ledak besar diambil dari bawah tempat duduk dekat bagasi.
“Idris …”
“Ya Bos.”
“Kamu siap lemparkan beberapa bahan peledak?”
“Siap Bos.”
Sayed mengokang senjatanya, lalu dibidikkan ke kemar depan
tempat Mendagri dan isteri biasa tidur. Sedangkan Idris sudah memegang senjata
pelontar bom molotof. Mirip meriam tapi berukuran kecil. Bom mini itu
dimasukkan ke muncung senjata dengan bagian depannya berlubang.
Guaaam …
Guaaar …
Jegaaar …
Setelah Sayed, disusul Idris, dengan senjata pelontar sukses
‘melempar tiga bom molotof. Menghancur kan bagian depan rumah Mendagri.
Menewaskan dua petugas keamanan yang berjaga-jaga di pintu ma suk kediaaman
Mendagri.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar