Kamis, 19 Oktober 2017

Lantak (4)

Novel ...



Lantak (4)
Oleh Wak Amin




8

"AUW .. Geli ... Geli." Ucap Sersan Joni. Dia merasa geli ketika digeli tiki Jajak di bagian dada, telinga dan telapak kakinya.

Sementara dua rekannya yang lain, Sersan Fredi dan Sersan Chairi jus tru dikelilingi para wanita. Mereka tertawa dan bernyanyi riang.

"Hati kami gembira
Ada dua pria di depan mata
Baik dan ganteng juga
Diajak kawin kalau dia suka

Horeee ...

Horeee ...

Ya ya ya ...

Ye ye ye ye ...

Andaikan kami bisa
Saat ini juga mengikat setia
Rukun selalu selamanya
Sampai gigi tak lagi punya ..

Horeee ..

Horeee ..

Hati kami gembira .."

Sersan Fredi dan Chairi, keduanya hanya bisa bersandar di batang po hon dengan kedua tangan dan kaki terikat. Sesekali mereka pandangi wajah perempuan yang mangeli lingi mereka.

" Cantik juga," ucap Sersan Fredi dalam hati. Beda halnya dengan Sersan Chairi.

"Enggak mungkinlah. Mereka kan perempuan," kata Sersan Fredi. Hal yang sama juga dikemukakan Sersan Joni.

"Mereka bersikap baik sama kita," ujar Sersan Fredi. "Setidaknya buat sementara kita aman di sini."

"Mereka itu, bagaimana menurutmu Sersan Fredi?" Mengalihkan panda ngan ke Jojo, Jajak dan Jojon sete lah puluhan wanita yang menghibur mereka diminta Sang Bos ke tem pat duduk mereka semula, yakni du duk bersila bersama para ibu dan anak-anak perempuan lainnya.

"Langsung sajalah Bos," kata Jajak. Jojo berpikir sebentar. Dia kemudi an meminta pendapat anak buah nya, Sersan Fredi dan Sersan Chairi, sebaiknya dipanggang atau dipin dang sebelum dimakan bersama-sama.

"Kalau saya langsung sajalah Bos
Dimakan mentah," ujar pria tinggi sulit tersenyum, temannya Jojon.

"Kalau aku lebih suka dipanggang lebih dulu Bos. Dipanggangnya ja ngan tanggung-tanggung Bos. Kita bolak-balik sampai matang. Setelah itu kita potong kecil-kecil. Lalu rame-rame kita makan," saran Jojon.

"Kalau saya, enaknya dipindang sajalah Bos. Tapi jangan semua nya. Sisa kan untuk disate. Pasti sedap Bos," sahut yang lain.

Jadi, kata Jojo, "Kita banyak pili han. Mau pindang ada, sate juga ada. Kita semua bakal senang me nikmatinya."

"Ada yang lain?"

"Saya Bos." Rambut keriting mengangkat tangannya.

Menurut dia, dipilih semuanya. "Ki ta bagi tiga. Dipindang, dipang gang dan disate. Pasti lebih enak Bos."

Setelah mendengar lima lagi pen dapat dan usulan dari anak buah nya, Jojo akhirnya berkesimpulan tig tawanan mereka segera diek sekusi. Lebih cepat lebih baik.

"Jajak ..."

"Siap Bos."

"Saya perintahkan eksekusi tiga ta wanan kita ini sekarang." Perintah Sang Bos.

"Siap Bos."

"Jangan lupa. Pindang .. panggang dan sate ..."

"Siap Bos."

Semula Sersan Fredi, Joni dan Ser san Khairi tidak menaruh curiga atas kedatangan Jajak dan rekan nya. Mereka mengira akan diperte mukan dengan Jojo.

Tapi kenyataannya tidak demikian ...

"Ayo ikut kami!" Bentak Jajak. Se telah melepaskan tali ikatan tawa nan mereka, Jajak dan temannya ini menyeret paksa dengan cara ditendang dan dipukuli, dibawa masuk hutan.

Sersan Joni dan dua rekannya ini disuruh jongkok. Mereka tak tahu kalau mau ditombak kepala dan punggung mereka.

Benar saja ...

Setelah dua menit jongkok, baik Sersan Fredi, Joni maupun Sersan Chairi,  mengerang kesakitan sebe lum akhirnya roboh bersimbahkan darah di atas rerumputan.


9

TENGAH malam, Letnan Salam akhirnya bisa berjumpa dengan Mr Clean dan Mrs Sabrina. Pelukan, ciuman, tangisan dan candaan mewarnai pertemuan mereka, terutama Miss Nancy dan Mr Clean.

Mr Clean tampaknya tak kuasa me nolak ciuman dan pelukan Miss Nancy, karena sejak pertama kali bertemu, mengakhiri tugas dan pa mit pada Inspektur Polisi Smith, keduanya memang semakin dekat.

"Kapan2, datanglah ke tempatku Mi ss Nancy," tawar Mr Clean ketika mereka menunggu pesawat di airport.

"Jangan lupa, telepon ya kalau udah nyampe," kata Miss Nancy. Dia tawari Mr Clean dan Mrs Sabrina es krim kotak.

Ketiganya menikmati kudapan lezat itu sambil memandangi satu-satu penumpang yang menaiki tangga pesawat dengan tujuan berbeda.

Tak lama setelah itu, pesawat Z1 yang mengangkut Mr Clean dan penumpang lainnya, dipersilakan naik karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat.

Satu kali pelukan erat yang disertai  bisikan manja dan penuh keharuan, Mr Clean dan Mrs Sabrina Muhsin melambaikan tangan. Berpisah tempat. Setelah sekian lama menunaikan tugas di negeri orang.

"Kamu tahu kan Mr Clean perasaanku saat itu," ujar Miss Nancy, beberapa saat setelah memasuki pondok kayu sederhana dengan atap yang terbikin dari daun kelapa.

"Enggak say," jawab Mr Clean setengah berbisik. Dia kuatir meng ganggu Lentnan Salam dan bebera pa anggota pasukan khusus rekan nya Miss Nancy dan Mr Jodi.

"Aku ingin menangis," bisik Miss Nancy sejujurnya.

Eheeeem ...

"He .. he ... he ..." Tiba-tiba Mr Jodi menangis tersedu-sedan sementara Letnan Salam asyik ngobrol dengan anggota pasukan yang berjaga-jaga di sekitar pondok.

Lima belas menit berlalu ...

"Clean ...!"

"Siap Letnan." Dia mendekati Mr Clean berdua Mrs Sabrina. Dengan mata memerah sehabis menangis mendengar cerita Miss Nancy atas meninggalnya Sersan Alif, Sersan Joni, Sersan Fredi dan Sersan Khairi.

" Kita berkemas. Saat ini juga kita harus tinggalkan tempat tinggal ini," perintah Letnan Salam. Belum tahu kemana, makanya Mr Clean mengusulkan esok pagi saja.

"Kita ke Selatan Letnan. Lebih aman mudah-mudahan," saran Mr Clean. Selain aman, semoga berte mu dengan kapal atau apa saja yang dapat membawa mereka keluar dari tempat 'menyeramkan' ini.

"Apa tidak sebaiknya pagi dini hari saja, Mr Clean, Letnan." Miss Nancy kuatir Jojo dan pengikutnya dipasti kan tak akan tinggal diam.

"Mereka akan terus mengejar kita sampai dapat. Tak penting apa pagi atau saat ini juga. Karena mereka sudah terbiasa hidup di tengah hu tan yang gelap bersama hewan dan binatang buas."

Akhirnya diputuskan mengungsi ke tempat yang aman. Mereka memi lih naik ke atas pohon tak jauh dari pondok bikinan Mr Clean dan Mrs Sabrina Muhsin.

Mereka baru akan meninggalkan pondok menjelang pagi agar lebih aman dan nyaman ketika melewati pantai dan belantara.

Sementara Jojo dan para pengikut nya memutuskan untuk mengejar Letnan Salam cs. Mereka penasa ran dan sekaligus kuatir hutan tem pat mereka bertahan hidup ini teran cam karena kehadiran makhluk yang bernama manusia ini.

"Tapi kita harus menunggu sampai pagi," kata Jojo kepada pengikut nya. Mereka tak menolak saran Sang Bos. Selain belum diketahui persis dimana lokasi persembunyi an Letnan Salam cs, paling tidak memberi kesempatan pada mereka untuk mengambil langkah teraman.

"Saya tahu kalian marah. Saya tahu juga kalian belum puas. Tapi tena ng sajalah. Hari esok masih ada. Kita tak usah berputus asa."

"Hidup Jojo!"

"Hidup Jojo!"

"Hidup Jojo!"

Keesokan harinya ...

Letnan Salam cs, seusai melahap ikan tangkapan Mr Clean dan be berapa rekan Miss Nancy dan Mr Jodi, berangkat meninggalkan pondokan.

Mereka menempuh jalur selatan dengan berjalan kaki. Hari cerah. Sinar matahari mulai menyengat. Tampak terang suasana pantai. Deburan ombak terdengar berge muruh menghempas pantai dan batu besar di sekitarnya.

Tobe continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar