Novel ...
Lantak (5)
Oleh Wak Amin
10
"KAMPRET ..!" Umpatan dan cacian keluar dari mulutnya Jajak dan Jojon.
Mereka memang menemukan pondokan Mr Clean dan Mrs Sabrina, namun tidak ada seorang pun disana selain bekas sisa pembakaran ikan dan jejak kaki manusia.
"Ambil semua yang ada dan berguna," perintah Jojo dengan geram dan marah.
Dia lampiaskan kegagalan menangkap Letnan Salam cs dengan mengobrak-abrik pondokan sebelum dirobohkan bersama-sama. Rata dengan tanah.
Ratusan pengikut Jojo mencari sisa peninggalan Letnan Salam cs. Tapi hasilnya sia-sia. Tak satu pun ba rang yang ditemukan semisal senjata atau apa saja yang telah mereka makan.
"Sepertinya mereka banyak Bos," ucap Jojon. " Ini bisa dilihat dari banyaknya jejak kaki dan serakan dedaunan di sekitar pondok."
"Iya Bos. Menurutku, jumlah mereka lebih dari enam orang," timpal Jajak seraya menambahkan saat ini bisa jadi mereka berada di tempat yang aman.
"Kita langsung kejar saja Bos, bagaimana?" Saran dan usul Jojon belum mendapat tanggapan dari Bos Jojo.
Saat ini Sang Bos fokus pada pasu kannya. Kuatir lelah dan jenuh kare na sudah be berapa hari ini melaku kan pengejaran.
"Oke, saya setuju kita mengejar mereka sampai dapat. Tapi bagai mana menurut pendapat kalian jika jumlah pasukan dibagi dua."
Jojo kuatir jika seluruh pasukan ikut mengejar, selain terkesan mu bazir juga siapa yang menjaga pos pertahanan mereka.
"Seperti kita tahu, hutan ini tempat kita hidup, walau tidak selalu mene tap. Berpindah-pindah. Tapi dari si nilah kita hidup dan mencari makan.
Seluruh pengikut Jojo khusyuk men dengar ucapan Bos Jojo. Sebagian besar mereka sudah memahami be tapa pentingnya keberadaan hutan ini. Mereka bisa berburu dan mela kukan apa saja yang diiginkan demi bertahan hidup.
" Saya setuju," kata Jojo.
"Saya juga Bos," sahut Jojon.
"Kami setuju." Teriak yang lain. Berdiri sambil mengangkat senjata tombak, busur dan anak panah beracun.
Dengan telah disetujuinya saran Sang Bos, akan lebih mudah bagi orang nomor satu di belantara ini memilih dan memilah siapa saja dari para pengikutnya yang ikut serta mengejar Letnan Salam cs .
"Saya putuskan sementara kita bagi tiga," kata Bos Jojo. Dia pandangi satu persatu dengan seksama para anak buahnya.
Dia merasa senang karena ratusan laki-laki dan perempuan yang kini berdiri di hadapannya saat ini me mantulkan cahaya keberanian dan percaya diri.
"Pasukan pertama yang di depan sampai nomor urut dua ikut saya," kata Bos Jojo. Merasa diajak serta para lelaki gagah ini melompat kegirangan.
"Sekarang kalian berdiri di belakang saya," pinta Sang Bos. Setelah itu dia menyebut pasukan kedua, no mor urut tiga sampai enam, masih didominasi para lelaki gagah tapi muda usia.
"Kalian menjaga dan mengawasi tempat ini sampai kami kembali," jelas Bos Jojo dengan suara lantang.
Dia meminta pasukan nomor kedua ini memisah dari anggota pasukan yang dipilih. Mereka berbaris me manjang ke sebelah kanan dan kiri.
"Terakhir adalah pasukan ketiga." Karena kebanyakan kaum wanita dan telah berusia senja, ucapan Sang Bos tidak dilampiaskan dengan melonjak kegirangan. Tapi senyum yang mengembang dan saling berbisik satu sama lain.
"Kepada anda semua ini saya minta segera kembali ke markas," jelas Bos Jojo yang disambut dengan sukacita yang mendalam.
"Demi menghemat waktu, kalian saat ini juga bersiap untuk kembali bersama-sama ke markas kita ..."
"Siap Bos." Teriak mereka dengan raut muka ceria.
"Jaga baik-baik. Pertahankan se kuat tenaga .." Pinta Bos Jojo berapi-api.
"Siap laksanakan Bos."
Satu-satu keluar dari tanah menye mak. Berbaris rapi. Saling menya lami satu sama lain sebelum kem bali ke kediaman mereka sesung guhnya.
Ada rasa haru karena harus berpi sah dengan anak, suami, orang tua, saudara dan teman sejawat tanpa menumpahkan air mata. Ini karena mereka sudah terbiasa dengan kehi dupan yang selalu berpindah-pin dah tempat dan berpisah beberapa hari lamanya sekadar untuk berbu ru dan mencari makanan.
"Selanjutnya tim kedua." Sang Bos meminta mereka berbaris mengha dap pasukan pertama yang sebentar lagi akan pergi.
"Kalian harus benar-benar menjaga tempat ini."
"Siap Bos."
"Saya ingin kalian tak memberi hati kepada siapa pun yang dicurigai akan mengganggu ketenangan kita di hutan ini."
"Siap Bos."
Bos Jojo menoleh ke belakang, lalu ...
"Pasukan pertama ..."
"Siap Bos."
"Berangkat sekarang!"
"Siap Bos."
11
DINGIN sekali airnya ya Clean," kata Miss Nancy. Bersama Mrs Sabrina Muhsin dan Mrs Sabrina, dia mem basuh mukanya di sebuah danau kecil yang bening airnya. Sejuk rasanya.
Sementara Letnan Salam dan be berapa anggota tim penyelamat yang tersisa tampak berbincang serius. Mereka membahas kemung kinan untuk keluar dari pulau yang belum terjamah manusia sebe lumnya ini.
"Bagaimana menurutmu Mr Jodi?" Apa mungkin meminta bantuan tim pusat untuk datang ke pulau ini. Ta pi itu tak mungkin direalisasikan ka rena jaringan telepon tidak menjang kau lokasi yang jaraknya sangat jauh dan terpencil ini.
Sedangkan untuk meminta bantuan warga sekitar pulau juga tak mung kin karena hingga kini belum diketa hui apakah ada kehidupan manu sia di sekitar pulau berpantai ini berada.
"Saya hanya melihat hutan semua nya. Lain tidak," ujar Letnan Salam setelah Miss Nancy, Mr Clean dan Mrs Sabrina. Selesai membasuh muka mereka dan anggota badan yang lain, gantian Letnan Salam, Mr Jodi dan anggota tim lain turun ke danau.
Sejuk memang. Tapi tak urung jadi perhatian Mrs Sabrina dan Miss Nancy yang dengan terpaksa me ngalihkan pandangan mereka ke tempat lain.
"Macam-macam aja Mr Jodi ini." Omel Miss Nancy. Sepertinya dia tak suka dengan perilaku teman sekerjanya. Harus berbugil ria di tengah kejaran Jojo beserta pengikutnya.
"Mungkin beliau kegerahan. Tak ada maksud apa-apa. Saya yakin itu Miss Nancy," jelas Mr Clean. Mengajak Miss Nancy membahas cara terbaik agar bisa keluar sece patnya dari pulau ini.
"Menurutku, kita harus terus berja lan. Yakinlah, akan ada ujungnya." Terang Mrs Sabrina. Seluas apa pun sebuah pulau, pasti ketemu ujungnya. Kalau kita mau terus menelusurinya.
"Saya juga yakin itu Sabrina," kata Miss Nancy." Cuma kita ini juga berpacu dengan waktu, dikejar-kejar makhluk aneh dan memberitahukan keadaan kita di sini. Kan sampai kini belum ada kontak ..."
"Apa mungkin ya kapal-kapal besar lewat sini. Maksud saya, melewati lautan lepas yang mengitari pulau perawan ini. Soalnya, sampai saat ini saya belum pernah melihat sebu ah kapal pun," aku Mr Clean. Jika itu benar berarti pulau ini benar-benar terisolasi dan boleh jadi 'berhantu.'
"Menurutmu Miss?"
"Aku? Ah kamu Sabrina. Kalian lebih dulu datangnya daripada aku. Jadi, yaaach .. maaf ya, aku enggak bisa comment dulu soal itu," jelas Miss Nancy.
Sesaat ketiganya diam ...
Sayup-sayup terdengar suara riuh. Sebentar timbul sebentar tenggelam.
"Mr Clean. Suara itu, kamu dengar kah?" Miss Nancy kuatir suara itu berasal dari Jojo dan pasukannya.
"Aku dengar," jawab Mr Clean. De ngan sigap dia meminta kesedian Letnan Salam dan rekannya yang lain meninggalkan tempat ini.
Sementara itu ...
"Cepaaat!" Teriak Jojo. Dia meya kini tak jauh dari tempat mereka saat ini ada jejak Letnan Salam cs.
"Cepaaat!" Perintah Jojo dengan suara tinggi dan marah.
Mereka mempercepat pengejaran dengan berlari amat kencang. Sulit dibayangkan betapa cepat mereka berlari sementara jalan yang dile wati semak belantara, hanya sedikit berlapiskan tanah.
Sambil berlari, mereka meneriakkan yel-yel "Tangkap dan Santap". Di setiap benak mereka sama yakin bakal menangkap hidup-hidup Letnan Salam cs.
Sebab, merujuk pada penangkapan rekan-rekan Letnan Salam sebelum nya, Jojo merasa belum menemu kan kesulita. Masih bisa diatasi de ngan tombak dan anak panah bera cun.
Mereka tak takut dengan peluru. Itu bisa dihindari dan perlu kelihaian saat melesakkannya di hutan belan tara ini. Medan mereka kuasai. Lain halnya jika tembakan itu dilepas kan di alam terbuka.
Letnan Salam menyadari hal itu. Dia tahu makhluk 'hutan' ini sangat kuat di belantara. Ini rumah mere ka. Hafal seluk beluknya. Mengalah kan mereka tidak mudah.
Hal itu dikarenakan dua sebab. Per tama, mereka yakin tidak bersalah. Mereka tidak lebih dulu menggang gu Letnan Salam cs. Andaikata me reka tadinya tidak menemukan ba ngsa manusia tidak akan terjadi pe ngejaran, penangkapan dan pem bunuhan.
Kedua, mereka bertanggung jawab mempertahankan tempat tinggal mereka. Mereka merasa yakin tidak mengganggu pihak lain. Tapi jika mereka terancam, harus dilawan, itu pilihan akhirnya ...
Tobe continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar