Cerita untuk Anak
Soleh (6)
Oleh : Wak Amin
"INI kan Bu?" Nawas berdiri, lalu mendekati Bu Guru Elisa yang hendak kembali ke depan papan tulis.
"Ada namanya ...?"
"Sebentar Bu. Yang ini ... Latifah. Satunya lagi Jamilah. Betul Bu,"
jawab Nawas. Memberikan dua buku tulis itu kepada Bu Guru Elisa.
Bu Guru Elisa membuka lembar per lembar buku tulis itu. Dia panggil Jamilah dan Latifah. Maju, mendekati meja mengajarnya.
Dia hanya ingin memastikan buku tulis berbungkus kertas kado motif bunga
dan berplastik putih itu memang benar milik Latifah dan Jamilah.
"Sekarang duduklah kembali," pinta Bu Guru Elisa. Dia belum memulai
pelajaran. Masih penasaran. Dia ingin siswanya jujur dan berterus
terang.
Karena jika tidak ada yang mengaku, lalu nanti ketahuan siapa pelakunya, yang bersangkutan akan di kenai hukuman yang setimpal.
"Ayolah ... Mengaku saja. Ibu hitung sampai sepuluh mulai dari sekarang .."
"Satu ... Dua. Tiga ... Empat .."
Nawas angkat jari telunjuk. Dia tak tega. Daripada nanti Bu Guru Elisa
marah, dan seluruh siswa disuruh berdiri di depan kelas, lebih baik beri tahu saja siswa yang mengambil buku tulis tipis itu.
"Saya tahu siapa yang mengambilnya Bu. Tapi ..." Nawas mulai gugup
setelah Kadir dan Lukman meman dang dengan sorot mata tajam kepadanya.
"Tak usah takut. Katakan saja Was," kata Bu Guru Elisa.
"Yang mengambilnya .."
"Yang mengambilnya ..."
"Yang mengambilnya Kadir dan Lukman Bu Guru."
Haaaa?
Seluruh siswa terperanjat. Mereka serempak melihat ke arah Kadir dan Lukman.
"Betul kalian berdua yang mengambilnya?"
Belum ada jawaban.
"Kadir, Lukman. Ibu ulangi lagi ya. Kalian kan yang mengambil dan menyembunyikannya?"
"Sudah. Ngaku sajalah," sahut Marwiyah.
"Sudah Bu. Hukum sajalah. Maling mana ada yang ngaku," kata Anisah.
"Pukul saja Bu biar ngaku," timpal Marfuah sambil ketawa melihat Kadir dan Lukman cuma menunduk dengan muka berkeringat.
"Ibu hitung ya sampai lima. Satu ... Duua .."
Lukman melirik Kadir. Memberi isyarat lebih baik mengaku saja.
"Tiii ga .."
Kadir mulai cemas. Dengan menggerakkan kaki kirinya, dia meminta Lukman saja yang bicara.
"Empat ..."
"Betul Bu," jawab Lukman.
Ha ha ha ha ...
"Betul apa?"
"Kami berdua yang mengambil dan menyembunyikan buku PR Jamilah dan Latifah," aku Lukman, diiyakan Kadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar