Novel Lepas
Kampung Kami (5)
Edisi Kelima
By Mang Amin
I
KETIKA pulang dari kalangan, dan berjalan sendirian sambil
menenteng tas berisi sayur dan ikan, Aryati dikagetkan dengan sekelebat
bayang-bayang orang melintas di samping kiri dan kanan jalan kecil me nuju
kediamannya.
“Astaghfirullah,” ucapnya sambil mengusap dadanya karena
terkejut.
“Setan atau manusia ya?” Tanyanya dalam hati. Aryati
menghentikan langkahnya sejenak. Dia menunggu apa mungkin kelebatan bayang-bayang
itu muncul lagi.
“Kalau setan tak mungkin. Ini kan masih terang hari.
Jangankan sore, siang saja belum. Pasti manusia,” bisiknya dalam hati.
“Eheeem …” Aryati memancingnya
dengan ‘ehem’. Dia berharap ada suara balasan, atau paling tidak penampakan
orang di depannya saat ini.
“Biar puas hati ini. Tidak penasaran melulu,” katanya,
meneruskan langkahnya yang kali ini agak dipercepat.
Kreseeek …
Hik … hik … hik …
Aryati mulai ketakutan. Ingin rasanya dia berlari. Tapi
niatnya itu terpaksa diurungkan karena si Tinggi dan si Pendek sudah berdiri di depannya.
“Astaghfirullah … Bang Tinggi dan Bang Pendek rupanya.”
Seketika hilang rasa takut dan kuatir. Hanya saja, si Tinggi
dan si Pendek heran kenapa Aryati tiba-tiba terkejut dan seolah melihat setan.
“Benar Bang. Yati kira tadinya abang berdua adalah setan,”
aku Aryati terus terang.
Ha ha ha ha …
“Tapi tidak kan Yati?” Tanya si Tinggi.
“Masa orang seganteng ini disamakan dengan setan. Abang
proteslah,” ucap si Pendek seraya merapikan rambutnya dengan jari tangan.
“Geeee … er kamu,” ujar si Tinggi. “Coba tanya Aryati, siapa
yang ganteng. Aku atau kamu. Coba Dik Aryati, katakana sejujurnya,” pinta si
Tinggi.
Aryati jadi serba salah. Mau dibilang jelek nanti marah,
dikatakan cakep, jauh panggang dari api.
“Ganteng aku kan Dik Aryati?” Desak Tinggi dengan suara
mendesah merayu.
“Abang pendeklah Yati. Tul kan?” Pendek tak mau kalah. Dia
melenggok-lenggok di depan Aryati, agar dikatakan super ganteng.
“Mau sekarang jawabannya?” Aryati mengisyaratkan pada
keduanya untuk terus berjalan, karena belanjaan dari pasar ini akan dimasak
untuk lauk makan siang dan malam nanti.
“Mau ya Bang sambil jalan?”
“Maulah Dik Aryati,” kata keduanya. “Kalau gadis secantik
adik yang minta pasti abang kabuli. Tul enggak Dek?”
“Betul .. betul Aryati. Tapi …” Si Pendek mengernyitkan
dahinya.
“Soal mana yang ganteng kan Bang Dek?”
Si Pendek mengangguk.
“Dua-duanya abang,” jawab Aryati.
“Benarkah?” Barengan
si Pendek dan si Tinggi berucap.
“Benar abang. Abang berdua di mata Aryati guanteeeng
sekali,” puji Aryati.
“Seganteng apakah itu wahai Dik Aryati. Abang berdua
penasaran nich,” kata Tinggi sambil berjingkrak-jingkrak di depan Aryati.
“Seganteng bulan purnama …”
Haaaa …
“Bulan purnama?” Tinggi dan Pendek saling tatap, lalu
berangkulan …
“Betul abang …”
“Alhamdulillah,” ujar keduanya bangga.
Keduanya menemani
Aryati hingga ke jalan menurun. Melihat Aryati agak kepayahan mencangking tas
belanjaan, Tinggi dan Pendek berebutan hendak membawakan tas kulit hewan itu.
Aryati ketawa geli. Hanya karena tas, keduanya nyaris adu jotos.
“Abanglah Yati,” rengek si Tinggi. Aryati belum mau
melepaskan tas dari genggamannya karena ingin
melihat dulu reaksi dari si Pendek.
“Kasih ke abanglah,” sahut Pendek.
“Tapi Dik, tak cocoklah kalau si Pendek yang bawa tas adik
Aryati ini,” sindir Tinggi.
“Kenapa? Sirik kamu,” prostes Pendek dengan suara tinggi.
“Badannya sudah pendek. Terus kalau bawa itu tas, apa tidak
lucu. Kayak bebek Dik Aryati …”
Ha ha ha ha …
“Hei Tinggi. Pendek-pendek begini, tuh karung beras sepikul
bisa aku pikul,” kata si Pendek pamer kekuatan di dekat Aryati. Tak mau kalah
gengsi dengan si Tinggi.
“Jelas saja … Karungnya kosong. Cuma diisi kapuk doang.
Pastilah terangkat. Anak kecil saja bisa,” ledek Tinggi cekikikan.
“Apa kamu bilang barusan?”
“Sudah … sudah …” Aryati akhirnya memutuskan dua-duanya
boleh membawa tas belanjaan.
Caranya?
Dijinjing. Yang kiri si Tinggi, sebelah kanan dipegang si
Pendek.
Klop kan?
“Baguslah,” ucap keduanya. Meski sempat tak terima, demi
mendapatkan hati Aryati, keduanya mau berbagi membawa tas.
“Berat tidak abang?” Tanya Aryati.
“Tidak,” jawab keduaya dengan langkah tegap.
Ciyaaat …
Husyaaa …
Stooop …
Hua ha ha ha …
Mamat dan Karim muncul seketika dari balik semak dekat rumah
warga yang jarang didiami. Keduanya memandang sinis si Tinggi dan si Pendek.
Lalu tersenyum penuh gairah kala melihat kemolekan tubuh Aryati.
“Cantik juga,” ucap Mamat. Mengedipkan mata, dibalas Aryati
dengan sapaan .. ‘siang abang’.
“Belum ada yang punya ya?” Goda Karim.
“Sudah,” jawab si Pendek.
“Siapa Dik kalau boleh abang tahu?”
“Saya,” jawab Pendek dengan raut muka masam.
Ha ha ha ha …
“Orang kayak begini yang adik pilih? Apa enggak salah pilih?”
Ejek Karim.
Aryati mengiyakan saja.
“Hei Dek. Kamu itu tahu dirilah. Berkaca gitu. Masa orang
semanis adik ini kamu pacari. Tak cocoklah. Jangan-jangan …”
“Apa .. apa?” Si Pendek mulai menggulung lengan bajunya.
Emosinya tersulut.
“Jangan-jangan kamu Dik sudah kena pelet si Pendek …”
“Kurang ajar.” Tanpa pikir panjang lagi si Pendek menyerang
Karim.
Aryati ketakutan. Dia bersembunyi di balik pohon besar
setelah si Tinggi dan Mamat ikut-ikutan berke lahi. Mulanya mau mengeroyok
Pendek, tapi terhalangi ketika Tinggi menahan pukulan yang mengarah ke kepala
temannya itu.
Braaak …
Celana Karim robek.
Aryati menutup mukanya. Malu dia menyaksikan celana Karim yang robek di
selangkangan.
“Makanya jangan pelit lu. Tuh beli yang baru. Yang bagus,
biar tak mudah robek,” kata si Pendek dengan nada mengejek.
“Kampret. Belum tahu dia …”
Karim melepaskan tendangan beberapa kali ke muka, perut dan
dada Pendek. Semua tendangan lurus ke
depan itu dengan mudah dihindari tapi di lain kesempatan, saat dia menangkis
tendangan Karim, law annya ini justru dengan cepat meliukkan badan sambil mendaratkan pukulan kiri dan kanan.
Duuuup … duuup … duuuup … duuup …
Karena Pendek tak menduga sebelumnya, pukulan ringa badan
menggunakan telapak tangan itu tepat mengenai dada. Saat itu juga si Pendek
terjungkal. Dia mencoba bangkit, namun …
“Baru tahu kan?”
Karim menindih muka Pendek dengan sepatu bututnya. Tentu
saja sakit. Aryati tak tega melihatnya. Dia bermaksud menolong, tapi tak bisa.
Hanya bisa menggigit bibirnya, seolah ikut menahan sakit yang di rasakan si
Pendek.
Aryati memanggil-manggil si Tinggi. Baru menoleh pada
panggilan ke tujuh. Melihat lawan lengah, Ma mat melepaskan tendangan keras ke rahang lawannya
itu. Mengerang kesakitan. Tinggi jatuh tersungkur.
Aryati menjerit minta tolong. Rupanya jeritan itu didengar
Mamat dan Karim. Keduanya mendekat dan merayu Aryati, salah saeorang kembang Kampung
Falah.
“Mau kemana? Goda Mamat.
“Mau pulang abang,” jawab Aryati menyeka air matanya.
Kendati sedih bercampur panik, dia masih
bisa menjawab godaan Mamat dengan tenang.
“Ikut abanglah.” Rayu Karim.
“Abang sajalah,” kata Mamat.
“Kalau tak mau kenapa abang?” Tanya Aryati mulai gugup.
“Kenapa tak mau?”Karim balik bertanya.
“Karena abang berdua jahat …”
Ha ha ha ha …
“Kalau abang berdua jahat, lantas siapa yang bagus?” Mamat
gantian bertanya.
“Bang Tinggi dan Bang Pendek lah,” jawab Aryati. Mulai
ketakutan karena si Tinggi dan si Pendek belum juga sadar. Masih terlentang
dihantam Mamat dan Karim.
“Boleh tidak kalau abang suka sama situ?” Karim mulai nekad. Dia bermaksud mengelus pipi hitam manis itu.
“Jangan Bang. Dosa tahu,” jerit Aryati menghindar ke kanan.
Ketika mau lari …
“Ayo … mau kemana?” Mamat merentangkan kedua tangannya.
Menghalangi Aryati agar tak bisa kabur darinya.
“Sudah. Jangan takutlah. Sama abang saja. Kenapa takut?
Abang enggak gigit lho adik manis. Abang cuma ingin adik mau jadi pacar abang.
Mau kan?”
Karim bergaya bak penari panggung. Berlenggak-lenggok ke
kiri dan kanan, mencari perhatian Aryati.
“Enggak mau …” Aryati menepis tangan Mamat dan Karim yang
‘nakal’ hendak meraba payudaranya.
Saat Mamat dan Karim memaksa hendak memeluk Aryati,
datanglah Ki Badrun. Dengan tangkasnya pen dekar silat ini menggagalkan rencana
jahat anak buah Ki Duren ini. Dia tidak memukul. Hanya menarik paksa badan Mamat dan Karim,
lalu dilempar kencang ke dekat Tinggi dan Pendek jatuh terlentang.
Buuuk …
Grooosek …
Eeeeugh …
Sakit bukan main. Mamat
dan Karim terdorong kuat ke depan.
Kepala dan anggota badan yang lain se perti kaki dan tangan terasa berat
digerakkan. Penglihatan gelap dan sulit untuk bangun serta berdiri, apalagi
harus memberikan perlawanan pada Ki Badrun.
“Terima kasih Ki,” ucap Aryati lega. Rasa takutnya hilang
karena lelaki yang berdiri di depannya sekarang ini tampak gagah, tampan dan
sejuk dipandang.
“Lain kali jangan sendirianlah. Tak baik gadis secantik kamu
jalan sendiri. Pasti banyak lelaki iseng yang akan menggoda kamu …” kata Ki
Badrun.
Aryati tak menjawab sepatah katapun.
Dia cuma menunduk, menyunggingkan senyuman.
“Mari Ki antar …”
Aryati tak menolak. Tapi sebelum diantar, dia minta pada Ki
Badrun, menolong si Tinggi dan si Pendek yang belum juga siuman setelah dihajar
dua kakak seperguruannya.
II
APA kabar Ki Baut?
Rupanya, setelah
dilepas sepuluh pendekar kesohor yang dimotori Ki Duren, Ki Baut pergi merantau
ke kota. Di kota besar dia bertemu
dengan seorang mantan ‘penjahat besar’, Ki Petruk namanya. Ki Petruk memiliki
beberapa anak buah yang bertugas mengamankan wilayah usahanya.
Meski Ki Petruk sudah tidak segarang dulu, lebih banyak
mendelegasikan tugasnya sehari-hari dengan orang kepercayaannya, cap sebagai
penjahat tetap disandangnya. Siapapun
mereka yang mengganggu wilayah
kekuasaannya, termasuk mereka yang berada di bawah penguasaannya dan setiap
bulan mem berikan upeti kepadanya, nyawalah taruhannya.
Ki Petruk tak segan-segan akan membunuh, menyiksa sampai
mati, termasuk anggota keluarga pengga nggunya.
Makanya, amat jarang penjahat
mengambil risiko berseberangan dengannya. Mereka lebih banyak menempuh jalan
aman. Menjalin pertemenan dengan orang
yang paling disegani di dunia ke jahatan ini.
Satu hal yang membuat orang tak sepenuhnya membenci Ki
Petruk. Sikap kedermawanannya. Dia tak se gan-segan membantu orang yang memang perlu dibantu.
Lebih dari separo anak buahnya saat ini bekas anak jalanan, gelandangan dan tak
punya sanak saudara. Ki Petruk memberinya pekerjaan, dan mereka bisa hidup
layak saat ini.
Hal ini juga terjadi pada diri Ki Baut. Datang ke kota sepeser
pun uang tak punya. Kulu-kilir mencari ma kan, tak lebih dari pengemis jalanan.
Bedanya, karena Ki Baut pandai bersilat, dia sering mencari uang dengan
mementaskan ilmu silat di tanah lapang terbuka.
Suatu ketika, lewatlah Ki Petruk beserta anak buahnya. Dia
turun dari kendaraannya karena penasaran melihat kerumunan orang di tanah
lapang. Tak biasanya warga berkumpul dengan cara berkerumun se perti itu.
Terkecuali ada pesta atau pertunjukan musik dangdut yang sangat digemari warga
dari berba gai lapisan.
Ki Petruk ikut bergabung dengan penonton lain yang tampak
terpesona dengan kepiawaian Ki Baut me mainkan ilmu silat. Jurus-jurus yang dia
peragakan mengundang decak kagum dan tepuk tangan warga yang menyaksikan,
termasuk Ki Petruk dan anak buahnya.
Hampir satu jam pertunjukan itu berlangsung. Tak sekejap pun
warga beringsut meninggalkan lokasi pertunjukan. Padahal siang itu cuacanya sangat panas. Mereka tak
rasakan itu dan imbas dengan kepuasan yang mereka peroleh setelah melihat Ki
Baut piawai beraksi.
Mendekati Ashar, ketika Ki Baut mengemasi buntalannya dan
pergi meninggalkan tanah lapang yang mulai sepi itu, Ki Petruk melihatnya, lalu
berkata …
“Hebat juga jurus-jurus silat yang kau peragakan itu duhai
…”
“Ki Baut.” Ki Baut memperkenalkan diri. Dia sangat senang
bertemu dan bisa berkenalan dengan ‘orang hebat’ seperti Ki Petruk.
“Kamu memang hebat
anak muda. Jago silat dan masih muda pula,” puji Ki Petruk.
“Terima kasih Ki …”
“ Ki Petruk namaku …”
“Ya Ki Petruk.”
“Kamu sepertinya orang baru di kota ini ya?” Ki Petruk
mengajak Ki Baut singgah sejenak di kedai kopi dekat pasar.
“Betul Ki,” jawab Ki Baut. Lebih memilih kopi kental manis
saat ditawari Ki Petruk mau minum apa.
Pembicaraan pun berlanjut ke persoalan rekrutmen. Ki Baut
ditawari Ki Petruk mengawasi pertokoan warga. Cuma Ki Baut ragu. Selain dia
belum mengenal kota ini, ilmu silatnya pun belum mumpuni dibanding para
pendekar lain di negeri ini.
“Apa tak salah Ki pilih saya?” Tanya Ki Baut sembari
menyeruput kopi dan melahap pisang goreng kepok.
Ha ha ha ha …
“Kamu ini kayak enggak kenal Ki Petruk saja,” ucap Ki Petruk ketawa
lebar. Dia tampak sangat menik mati mi
kuah campur telur rebus semangkuk ukuran sedang.
“Maafkan saya Ki …”
Hua ha ha ha …
“Taka pa-apa Ki Baut. Yang penting elu terima tidak
tawaranku tadi?”
Ki Baut tak punya pilihan. Jika dia menolak, hidupnya
bagaimana. Pekerjaan tak punya, rumah
apalagi. Saudara dan famili juga tak ada.
“Sudah … terima sajalah Ki. Apa kamu mau gaji yang tinggi
barangkali?” Pancing Ki Petruk.
“Oh tidak Ki. Bukan itu maksud saya Ki.”
“Lalu?”
“Maksud saya. Saya kan orang baru di sini, dan baru saja Ki
Petruk kenal saya. Saya kuatir Ki Petruk salah pilih dan menyesal nantinya …”
He he he he …
“Kalau Ki tak keberatan, bisa tidak Ki kasih tahu ke saya,
alasan penawaran Ki kepada saya?”
“Okkk .. ooooo.”
Ki Petruk tertawa lagi. Saking enaknya ketawa, lupa jika mi
dalam mangkuknya sudah habis, tapi masih saja dia sendoki. Sang pemilik kedai
hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Ki Petruk. Dia sudah tahu, mau menegurnya
tapi segan karena lelaki yang kini menyantap mi di kedainya ini bukan orang samba
rangan.
“Terus terang aku kepincut dengan ilmu silatmu Ki Baut,”
kata Ki Petruk dengan volume suara jelas tapi dipelankan.
“Cuma karena itukah Ki pilih saya?”
“Betul Ki Baut. Tapi
sebenarnya banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan, di antaranya masih
muda dan kamu bisa diandalkan,” jelas Ki Petruk.
Ki Baut tak berkomentar. Dia buru-buru menghirup air kopi
yang masih tersisa separo itu dengan nik matnya.
“Tugasmu nanti tidaklah susah Ki. Hanya mengawasi pertokoan
saja. Itu pun tak banyak. Paling hanya sepuluh toko lah. Tak lebih. Cuma jam
kerjanya full time Ki.”
“Sampai malam Ki Petruk?”
“Oh tidak. Dari pagi sampai sore hari saja. Mau kan?”
“Eeeem . Maulah saya Ki. Saya akan coba.” Kali ini Ki Baut
spontan menerima tawaran Ki Petruk .
“Nah begitu … itu baru sahabat Ki Petruk. Jujur, terbuka,
tegas dan dan tidak plin plan,” kata Ki Petruk mengajak Ki Baut barengan
mengangkat gelas, disentuhkan sampai
mengeluarkan suara, lalu diminum airnya. Tanda telah tercapainya kesepakatan
kerja kedua belah pihak.
Keesokan harinya. Ki Baut sudah mulai bekerja. Dia diantar
sopir Ki Petruk. Setibanya di areal
pertokon, oleh Bang Sopir, Ki Baut diperkenalkan dengan beberapa pemilik toko
dengan aneka ragam dagangan. Mulai dari toko emas, buku, kelontongan, onderdil
kendaraan hingga tokok alat-alat pertanian dan sembilan bahan pokok.
Ki Baut tampak sumringah. Bukan karena sudah bisa bekerja, tapi penerimaan para
pemilik toko sangat baik padanya. Mereka mengharapkan keamanan di sekitar areal
pertokoan lebih ditingkatkan lagi. Juga kenyama nan calon pembeli saat
berkunjung ke toko untuk membeli barang-barang yang diperda gangkan.
Ki Baut juga merasa tersanjung ketika ditawari pemilik toko
emas secangkir kopi di depan ruko. Tentu penawaran ini tak ia ia
sia-siakan. Selain ajang mengenal lebih
dekat pemilik toko dan ruko, juga paling tidak mempelajari suasana di sekitar
wilayah kerjanya.
“Permisi Bang!” Kata seorang remaja putri ketika hendak melewati Ki Baut, masuk ke toko kelontongan.
“Maaf Bang. Boleh tanya kan?” Kata seorang ibu muda berparas
cantik.
“Boleh Bu …”
“Toko yang menjual makanan hewan di mana ya Bang?”
“Ooo itu … tunggu sebentar ya Bu.” Ki Baut menemui pemilik
toko emas. Diperoleh jawaban toko dimak sud tak ada di sekitar areal pertokoan.
“Mungkin ibu berjalan lagi kira-kira sepuluh meter. Belok
kiri. Nah, disitu mungkin ada, Bu.” Jelas Ki Baut menirukan ucapan pemilik toko
emas.
“Terima kasih Bang.”
“Sama-sama …”
Belum sempat duduk, seorang lansia minta diseberangkan
jalan. Dia mengaku sudah tidak kuat karena dari rumahnya ke tempat di mana Ki
Baut berada saat ini, dia tempuh dengan berjalan kaki. Lelah bukan main.
“Saya juga tak kuat lagi dengan suara bising dan klakson
kendaraan,” aku si kakek sambil memegang erat pergelangan tangan Ki Baut.
Karena tak begitu ramai, menyeberanglah si kakek dan dia
tampak lega karena sudah berhasil menye
berang jalan.
Ki Baut kembali ke tempat duduknya semula.
“Pagi Bang …” Sapa seorang pemuda mengenakan tas ransel
punggung.
“Pagi juga Dik. Ada yang bisa saya bantu barangkali?” Tanya
Ki Baut ramah.
“Gini Bang. Saya mau beli emas,” ujar si pemuda sembari
mengeluarkan dompetnya.
“Uangnya cukup,” kata si pemuda setelah menghitung lembaran
uang yang ia ambil dari dompet kulitnya.
“Tapi …”
“Tapi kenapa Dik?”
“Saya kuatir dirampok.”
“Kan belum beli emasnya.”
“Maksud saya Bang. Saya kan mau beli emas. Nah, itu dia.
Saya belinya banyak juga kan. Kira-kira enam belas suku. Saya pulang kan naik
motor. Nah, takutnya saya, di tengah
jalan nanti saya dirampok orang. Bisa enggak Bang bantu saya. Pleaaase …”
“Mengawalmu begitu?”
Si pemuda mengangguk.
Ki Baut belum memberikan jawaban apa pun. Dia menelepon Ki
Petruk dulu. Atas dasar kemanusiaan, akhirnya Sang Bos memberi izin dengan
syarat tidak terlalu lama dan sedapat mungkin diketahui pemilik toko emas dan
rekan-rekannya yang lain.
Si pemuda melonjak kegiranga usai Ki Baut bersedia
menemaninya sampai ke kantor membawa emas perhiasan. Selama dalam
perjalanan, dia tak henti-hentinya
memuji kebaikan hati Ki Baut yang bersedia ikut dengannya menggunakan sepeda
motor.
Saking asyiknya mengobrol dan memuji, si pemuda lupa kalau
sudah berada di lampu merah. Hijau baru saja berlalu, berarti si merah belum
lama menyala. Artinya, tidak sebentar antrean di atas motor dengan pengendara
yang lain.
Saat itulah, sebuah sepeda motor menghampiri Ki Baut. Dengan
cepat merampas tas kecil yang melilit di pinggang si pemuda.
Cekekeeeek ..
Sereeet …
Lepaslah tas pingang itu. Tapi si perampas tas tak bisa
kabur . Pasalnya, setelah berhasil menyikat tas si pemuda yang berisi emas, dan
hendak kabur dengan emas rampasannya, dua sepeda motor berhenti di depan,
sehingga menghalangi laju motor dua lelaki begal itu.
Duuuup …
Kelepaaaak …
Guuuup …
Hanya dengan satu kali pukulan menyasar ke muka, dan
tendangan kaki mengarah ke perut, kedua perampas tas itu terjatuh dari
motornya.
Gaaar …
Auuuwww …
Motor lumayan besar itu menimpa si perampas. Keduanya
menjerit kesakitan. Jangankan mau lari, mele paskan diri dari tindihan motor
saja tak bisa. Kenapa? Karena motor yang ikut terjatuh dengan mesin ma sih
menyala ini diinjak kuat oleh Ki Baut,
dan beberapa pengendara motor lain yang kesal melihat ulah begal khir-akhir ini.
III
SORE hari ini siswa Taman Pendidikan Nurul Falah belajar
sekaligus praktik salat Dhuha. Sebelum Bu ri Hapsari datang. Maskur dan teman-temannya
yang berjumlah sepuluh orang meluangkan waktu
ber main cak ingkling dan yeye di pelataran masjid. Juga ada yang
bermain kelereng, lubang cino, orang menyebutnya. Seru nian. Riuh terdengar.
Keriuhan itu bermula ketika Murni dan Leni berebutan untuk
main yeye. Keduanya sama-sama meng klaim paling duluan bermain yeye. Bukan
hanya mereka berdua. Yandi, Andi, Bagus dan Maskur pun sempat cekcok mulut
ikhwal lubang cino. Masing-masing mengaku menang dan yang kalah harus
mengikhlaskan kelereng mereka diambil si pemenang.
Namun cekcok mulut dan keriuhan itu mereda setelah Bu Sri
Hapsari tiba di masjid. Setelah memberi salam, ia kemudian meminta para
siswanya untuk mengambil air wudhu guna menunaikan salat Ashar berjamaah.
”Baru setelah itu kita memulai pelajaran,” kata Bu Sri.
Siswa pun berebutan menuju kran dekat kamar kecil. Gelak tawa dan saling dorong
mewarnai tingkah polah mereka sore hari ini.
Andaikata saja Bu Sri tidak menasihati mereka agar jangan
berlama-lama mengambil air wudhu, tentu lah Bagus dan kawan-kawan keenakan
bermain air. Ciprat sana ciprat sini. Dingin dan terasa sejuk di tengah
panasnya ciaca hari ini.
Sekitar pukul empat sore, salat Ashar berjamaah it selesai
dikerjakan. Pelajaran pun segera dimulai.
“Hari ini kita belajar bagaimana mengerjakan salat Dhuha
dengan cara yang baik dan benar,” kata Bu Guru Sri sambil menuliskan ‘Salat
Dhuha’ di papan tulis. Siswa serempak menulis, lalu …
“Apa itu Bu, Dhuha?” Tanya Nabila.
“Dhuha atau salat Dhuha adalah salat sunat yang dikerjakan
pada waktu matahari naik setinggi penggalan atau setinggi tombak. Rasulullah
SAW SAW sangat menganjurkan kita untuk menunaikannya,” jelas Bu Guru Sri.
Kenapa?
“Ya, kenapa Bu Guru?” Dahlia, saking bersemngatnya bertanya,
lupa untuk duduk setelah berdiri tadinya.
“Karena membuat kehidupan yang mengerjakannya menjadi
tenteram dan damai serta segala kebutu hannya akan dicukupi oleh Allah SWT.
Selain tentunya sebagai pengganti shadaqah,” terang Bu Sri.
“Selain itu anak-anakku,” kata Bu Sri, “Dengan kita salat
Dhuha dapat menyelamatkan kita dari jilatan api neraka, sesuai dengan sabda
Nabi: “Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh, kemudian terus duduk d tempat
salatnya untuk dzikrullah sampai matahari terbit, kemudian ia teruskan dengan
mengerjakan salat Dhuha dua rakaat, Allah SWT haramkan api neraka untuk
menyentuhnya atau memakan dirinya.”
“Terakhir anak-anakku, siapa yang suka dan gemar menunaikan
salat Dhuha, maka yang bersangkutan akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertobat,” tandas Bu Sri.
“Waw .. keren sekali ya Bu. Aku mau Bu,” ucap Yandi
bersemangat.
“Sudahlah Yandi. Subuh saja sering lewat kamu itu,” ledek
Maskur.
“Siapa bilang?”
“Ibumu …”
Ha ha ha ha …
“Ketahuan … Malu oi,” sindir siswa perempuan.
“Mending aku, cuma Subuh. Kamu Kur, Ashar juga lewat. Payah
kamu …”
“Kata siapa?”
“Kata bapakmu …”
He he he he …
“Ketahuan kamu, Kur. Bikin malu kita saja,” kata
teman-temannya yang laki-laki.
“Buuu …!”
Siswa serentak menoleh ke belakang. Marni mau bertanya. Tak
seperti biasanya, ia tunjuk tangan. Selama ini lebih banyak diam dan bercanda
dengan teman-teman sekelasnya saja.
“Kalau kita yang di sekolah bagaimana Bu? Apa perlu juga
kerjakan salat Dhuha?”
Plak .. pak .. plak … pak …
Teman-teman sekelasnya memberi appluse …
“Anak-anakku yang wajib tetap dahulukan. Khusus salat Dhuha,
seminggu sekali tak mengapa juga diker jakan. Misalnya hari Minggu. Kan tidak
sekolah. Nah, daripada melamun tak ada kerjaan, mending salat Dhuha. Bagaimana,
setuju tidak dengan pendapat ibu barusan?”
“Setujuuuuu …”
“Tapi …” Dahlia tampak keberatan.
Walah walaaaah … payaaah.
“Kenapa Dahlia? Kamu tak suka apa?”
“Bukan tak suka Bu. Tapi pagi Minggu sudah di sawah bersama
orangtua …”
“Ya disawahlah Dahlia salatnya. Begitu saja rebet amat
kamu,” celetuk Andi.
“Iya Dah. Nanti kamu masuk neraka, baru tahu rasa.” Timpal
Marni.
“Jangan melawan ibu guru Dahlia. Kuwalat nantinya,” nasihat
Nabila.
Ribut-ribut soal Dahlia, Bu Guru Sri menasehati siswa
didiknya agar pandai-pandailah membagi waktu. “Kalau lagi sibuk ya taka
pa-apa,” jelas Bu Sri.
“Betul Bu Guru?” Dahlia seolah tak percaya.
“Betul Dahlia.”
Horeeee …
Dahlia pun berdiri sambil mengepalkan tinjunya, lalu berkata
… Hidup Dahlia .. Hidup Dahlia …
Teman sekelasnya pada terheran-heran melihat tingkah Dahlia
barusan. Sampai harus mengepalkan tinju segala. Apa memang mau mengajak
berkelahi.
“Tidak Bu. Senang saja. Artinya, saya bebas bu dari Dhuhanya.”
“Iya iya …” Kata Bu
Sri seraya mengingatkan siswa yang lain untuk tidak melupakan salat Dhuha.
“Mau kan?”
“Mau Bu Guruuuuu …”
Sekarang, kata Bu Guru Sri, kita lanjutkan dengan waktu dan
bilangan rakaat salat Dhuha.
“Ternyata anak-anak waktu mengerjakan salat Dhuha adalah
ketika matahari naik setinggi tombak sampai tengah hari sebelum masuknya waktu
Dzuhur,” terang Bu Sri.
Kapan?
“Kira-kira mulai dari pukul tujuh pagi sampai pukul sebelas
waktu setempat,” ujar Bu Guru Sri. Sedang kan bilangan rakaatnya paling sedikit
dua rakaat dan sebanyak-banyaknya delapan rakaat.
“Mengerti anak-anak sampai disini?”
“Mengerti Bu Guru,” jawab siswa serempak.
“Cuma mengerjakannya bagaimana Bu Guru?” Tanya Maskur.
“Ada yang bisa dari kalian anak-anak menjawabnya?”
Siswa terdiam. Sama-sama menggelengkan kepala.
“Baiklah, sekarang ibu terangkan ya. Dengarkan baik-baik,”
ujar Bu Sri. Meski sore hari, tak sedikit pun terlihat gurat kelelahan di wajah
siswa didiknya.
“Jadi anak-anakku,” kata Bu Sri, “Cara mengerjakan salat
Dhuha itu pada dasarnya sama dengan salat sunat lainnya. Hanya niatnya saja
yang berbeda …”
Niat salat sunat Dhuha sebagai berikut : “Ushalli sunnatadh
dhuha rok’ataini lillaahi ta’ala, allahu akbar …” Artinya, Saya berniat salat sunat Dhuha dua rakaat
karena Allah Ta’ala … Allaahu akbar …”
Sedangkan surat yang dibaca adalah, setelah membaca
surat Al-Fatihah pada rakaat yang
pertama, di lanjutkan dengan membaca surah Asy-Syams. Pada rakaat kedua,
setelah membaca surat Al-Fatihah, kita membaca surat Adh-Dhuha.
Doa yang dibaca setelah selesai salat Dhuha adalah …
“Ya Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah
dhuha-Mu, keagungan adalah Keagungan-Mu, kein dahan adalah Keindahan-Mu,
kekuatan adalah Kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penja gaan adalah
Penjagaan-Mu ….
Wahai Tuhanku, apabila rezeki di atas
langit, maka turunkanlah, apabila berada di bumi, maka keluarkanlah. Apabila
sukar, maka mudahkanlah. Apabila haram, maka sucikanlah, apabila jauh, maka
dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, Keagungan-Mu, Keindahan-Mu, Kekuatan-Mu,
dan kekuasaan-Mu …
Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku
rezeki sebagaimana rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu
yang saleh, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah …”
IV
DI Kampung Mawar …
“Ayo ibu-ibu dan bapak-bapak … Kok pada loyoooo .. “Teriak
Ki Suri dan Ki Badrun kala mengomandoi latihan silat warga Kampung Mawar.
Keduanya sepakat untuk menggabungkan laki-laki dan perempuan guna menghemat
waktu dan mengefektifkan latihan.
“Bu Salim, kenapa berhenti? Tegur Bu Eko. Baru satu kali
putaran lari berkeliling tanah lapang, Bu Salim sudah ngos-ngosan.
“Capek, Bu Eko.” Jawab Bu Salim sejujurnya.
Dia berjalan ke pinggir lapangan agar tidak ‘ketabrak’ teman-teman lain sekampung yang ikut berlatih
ilmu bela diri silat.
“Ini aku bawa minyak angin cap kapak,” kata Bu Eko, yang
menemani Bu Salim, memberikan sebotol ke cil minyak angin untuk diteteskan di
tangan sebelum diusapkan ke anggota
badan yang sakit.
Sementara warga yang lain tetap berlari, Ki Badrun mendekati
dua siswa latih silatnya yang masih duduk di pinggir lapangan. Melihat
kedatangan Ki Badrun, keduanya buru-buru berdiri.
“Waduh .. kompak amat,” kata Ki Badrun tersenyum ramah.
“Sore Ki,” sapa keduanya sambil membungkukkan badan memberi
hormat.
“Saya lihat tadi …”
“Betul Ki,” ujar Bu Eko, “Ini kakinya Bu Salim, sepertinya
menyut-menyut. Tapi, sudah tidak lagi. Begitu kan Bu Salim?”
“Benar Ki Badrun. Berkat minyak angin cap kapak Bu Eko, kaki
saya sembuh seketika …”
Ha ha ha ha …
“Alhamdulillah,” ucap Ki Badrun lega. Dia kuatir siswa
didiknya mengalami cedera karena bisa mengganggu kegiatannya sehari-hari
sebagai ibu rumah tangga.
“Kalau mau stop dulu latihannya hari ini boleh Bu Salim,”
imbuh Ki Badrun.
“Janganlah Ki. Sudah tanggung. Kita kan jarang bisa ketemuan
seperti ini kecuali acara ngantenan,” kata Bu Eko.
“Bu Salim?”
“Iya Ki. Rasanya masih kuat untuk berlari asalkan tidak
cepat. Cuma nanti kalau terasa nyeri dan menyut lagi, boleh kan Ki istirahat
lagi,” ujar Bu Salim.
“Boleh Bu Salim. Saya ingin ibu-ibu santai tapi serius. Saya
juga tak ingin ibu-ibu mengalami cedera. Kan bisa repot nantinya,” ujar Ki
Badrun.
“Yang masak siapa nanti ya Ki,” ledek Bu Eko.
Ha ha ha ha …
Dua putaran Bu Eko dan Bu Salim masih sanggup. Keduanya
dapat menyelesaikan lari mengitari lapa ngan bersama ibu-ibu yang lain,
kendati harus berada di posisi paling
buncit.
“Sekarang baris yang rapi ya ibu-ibu.” Kata Ki Badrun dan Ki
Suri.
Ada apa?
Para ibu cemas menunggu. Apa masih harus berlari lagi.
Soalnya, menyelesaikan lima putaran saja sudah capeknya minta ampun.
“Tidak ibu-ibu. Larinya sudah selesai. Sekarang dua-dua maju
ke depan.” Ki Badrun memberikan kesem patan pada Bu Eko dan Bu Salim tampil
lebih dulu ke depan.
“Ini bolanya Bu.
Memang tidak besar bolanya. Nah, nanti Bu Eko atau Bu Salim pegang ini bola,
lalu yang lain mengambilnya tanpa menyentuhnya, apalagi sampai mendorong tubuh
temannya. Usahakan dapat, tapi kalau tidak, ya tidak apa-apa,” jelas Ki Suri.
“Ada pertanyaan Bu?” Tanya Ki Badrun.
“Ada Ki,” kata Bu Eko.
“Silakan Bu Eko …”
“Itu bola persisnya dipegang atau ditaruh dimana Ki?”
“Dipegang saja, Bu. Begini saya contohkan …”
Ki Badrun memegang itu bola. Lalu Ki Suri mencoba mengambil
bola itu tanpa menyentuh tangan dan anggota badan Ki Badrun yang lain.
“Begitulah kira-kira Bu. Yang mengambil bola boleh kemana
saja. Tapi tidak boleh menyentuh badan yang pegang bola. Kalau bola dapat
permainan selesai. Paham ya Bu Eko dan Bu Salim?”
“Paham Ki,” jawab keduanya serempak.
Bu Eko yang memegang bola. Dipegang dengan tangan kanan.
Lalu Bu Salim mencoba mengambilnya. Dapat. Tapi tangan Bu Eko yang dapat.
Bolanya jatuh menggelinding di tanah.
Ha ha ha ha …
“Kebanyakan nyiang iwak Ki,” teriak seorang bapak berbadan
kerempeng berkopiah hitam miring ke kanan.
“Bukan iwak, tapi duit.” Kata yang lain.
Hua ha ha ha …
“Jadi selanjutnya bagaimana Ki?” Bu Eko bermaksud memberikan
itu bola tapi Ki Badrun meminta siswa latihnya itu tetap memegangnya.
“Diulang ya Bu,” ujar Ki Suri.
“Nanti .. usahakan tak sampai jatuh ya Bu Eko. Pegangnya
agak kuat dan Bu Salim harus cepat mengam bilnya. Kayak orang …”
“Nyolong ya Ki,” kata si bapak berbadan tambun tapi berkaki
kurus.
“Ya begitulah …”
Ha ha ha ha …
Warga yang menonton ketawa terpingkal-pingkal menyaksikan Bu
Salim yang berusaha mengambil itu bola dari tangannya Bu Eko. Soalnya, selalu
dihalangi Bu Eko dengan badannya. Misalnya, tangan kanan. Ketika Bu Salim mau
mengambil itu bola, Bu Eko menghalanginya dengan bergeser ke kanan. Jadi yang
kena, kalau tidak teteknya, ya pusar.
Auuuw …
Ha ha ha ha …
Karena kesal tak pernah berhasil mendapatkan itu bola, Bu
Salim akhirnya memegang puting susu Bu Eko. Ditarik cepat, lalu dilepaskan
kembali.
Ki Badrun dan Ki Suri terpaksa ketawa melihat adegan
barusan.
“Enggak biasa neteki bayi
Bu Eko itu, Ki.” Ledek bapak berjidat lebar.
Bu Eko masih meringis kesakitan. Walaupun bukan sakitnya itu
yang ia sesalkan. Tapi malunya itu bikin dia terdiam.
“Maafkan saya Bu Eko.” Bu Salim mengusap lembut sekitaran
payudara Bu Eko yang sakit.
“Malu ah … “Ucap Bu Eko seraya meminta Bu Salim menghentikan
usapannya.
“Bu Eko …”
“Ya sudah. Saya maafkan Bu Salim,” terang Bu Eko.
Ki Badrun, selanjutnya meminta Bu Seli dan Bu Sani maju ke
depan. Menggantikan Bu Eko dan Bu Salim yang sudah kembali ke tempat duduknya
masing-masing.
“Ayo Bu Sani. Jangan malu-malu kucing,” teriak pemuda
berambut gondrong.
Bu Sani memang ragu-ragu untuk ke depan. Dia bersikap
seperti itu karena menunggu Bu Seli yang ma sih membetulkan letak bajunya yang
kusut di bagian bawahnya.
Plak … pak … plak … pak …
Para siswa didik silat dan warga yang ikut hadir menyaksikan
ikut memberikan tepuk tangan setelah Bu Seli melambaikan tangannya dengan
mengangkat silih berganti kedua tangannya. Keduanya kini sudah berdiri di
hadapan Ki Suri dan Ki Badrun. Mereka menunggu instruksi.
“Sudah tahu kan ya Bu permainannya,” kata Ki Suri seraya
menyerahkan bola plastik itu kepada Bu Seli.
“Bu Seli yang pegang, Bu Sani yang mengambilnya. Setuju?”
“Setuju Ki.”
“Baiklah kalau begitu. Bapak-bapak dan ibu-ibu serta
penonton sekalian. Permainan dimulai …”
Huuuup …
Terlalu kuat mendorong tubuhnya untk mengambil bola di
tangan kanan Bu Seli, Bu Sani jatuh ter sungkur karena dengan cepatnya Bu Seli
menarik tangan kanannya ke kiri dan …
He he he he …
“Aduh!” Hidung dan mulut Bu Sani terkena batu kerikil dan
tanah liat. Tidak sampai berdarah, tapi lecet dan perih rasanya.
“Nangkap hantu, Ki.” Seloroh penonton.
“Hantu tak berkaki, Ki.” Sahut penonton yang lain.
“Bukan nangkap hantu, tapi nangkap laki yang takut dimintai
uang belanja,” timpal bapak berkepala gundul.
Ha ha ha ha …
“Sakit ya Bu. Maafkan saya!” Bu Seli mengusap kotoran tanah
yang masih menempel di tangan Bu Sani.
“Maaf ya Bu. Tak sengaja.”
“Ya ya. Sudah …”
Ki Badrun memberikan obat tetes merah merek betadine kepada
Bu Seli. Obat itu ia teteskan di kapas, lalu diusapkan di sekitar pergelangan
tangan Bu Sani yang terluka.
Sempat meringis
menahan sakit. Namun Ssetelah itu sudah bisa tertawa lagi . Penonton pun
berteriak histeris.
“Lanjut …”
“Pantang mundur Bu Sani.” Teriak yang lain memberi semangat.
“Hidup Bu Sani.”
“Hidup Bu Seli.”
“Mau lanjut Bu?”
“Bagaimana ya Ki Suri?” Bu Seli jadi ragu. Sedangkan Bu Sani
bersedia melanjutkan tapi yang pegang bola dia, bukan Bu Seli.
“Bu Seli masih …?” Tanya Ki Badrun.
“Baiklah Ki. Saya lanjut …”
Saat Bu Seli bersiap mengambil bola di tangan Bu Sani, dua
ekor kucing saling berkejaran. Melompat dan bikin kaget Bu Sani. Bola terlempar
ke atas, jatuh persis di mulut penonton yang ngorok karena ketidu ran.
V
“CUKUP bapak-bapak …! Kata Ki Semangka dan Ki Anas kepada
beberapa lelaki warga Kampung Berkah yang mengikuti latihan silat di pelataran
balai desa.
Lelaki yang sebagian besar berkulit hitam legam itu secara
bersama-sama membawa puluhan genteng bekas yang sudah tidak terpakai lagi.
Genteng-genteng itu ditumpuk jadi satu di bawah pohon mangga yang lebat
buahnya.
Genteng-genteng itu kemudian dijejerkan jadi tiga bagian.
Selain kaum bapak, ibu-ibu Kampung Berkah juga ikut dalam latihan silat bersama-sama
ini. Mereka dibagi dua kelompok. Kelompok bapak-bapak dan kelompok ibu-ibu.
Dari puluhan warga yang tampak bersemangat ingin mempelajari
ilmu silat itu, ada juga remaja belasan tahun, tanpa mengikutsertakan anak-anak
yang lebih suka menonton dan meramaikan latihan bela diri tersebut.
Mereka tidak dalam posisi berdiri, tapi duduk lesehan
menghadap ke depan. Di depan Ki Semangka dan Ki Anas sudah duduk lebih dulu
sambil berdiskusi. Warga tak pula tahu apa yang keduanya diskusikan. Selain
tawa dengan sesekali tersenyum ramah kepada siswa latih sore hari ini.
“Nah, bapak-bapak dan ibu-ibu,” kata Ki Semangka yang segera
berdiri, lalu berjalan mendekati jejeran genteng yang hampir berlumut itu.
“Ini ada tiga tumpukan genteng ya bapak-bapak dan ibu-ibu.
Masing-masing tumpukan itu ada dua buah genteng …”
Warga tampak antusias mendengar penjelasan awal Ki Semangka.
Pertanyaannya, untuk apa genteng-genteng ini dijejerkan dan
ditumpukkan jadi dua lapis?
“Ya Ki. Untuk apa memangnya?” Tanya lelaki berhidung betet.
“Untuk bikin pondok,” celetuk beberapa lelaki yang masih
muda usia.
Ha ha ha ha …
“Genteng ini untuk dipukul oleh …” Ki Semangka sengaja tidak
meneruskan kata-katanya. Dia ingin siswa latihnya mencari jawaban sendiri.
“Tukang pukul, Ki.” Jawab remaja berambut cokelat.
Ha ha ha ha …
“Bukan Ki. Tapi dipukulkan ke kepala,” kata yang lain.
Hua ha ha ha …
“Tentu,” jelas Ki Semangka, “ Dipukul oleh bapak-bapak dan
ibu-ibu sekalian …”
Haaaa?
Kebanyakan kaum ibu terkejut. Apa mungkin mereka akan
memukul dan memecahkan genteng dua la pis itu. Soalnyam ini genteng bukan ikan
atau sisa kayu hutan yang sering mereka belah kecil-kecil jadi kayu bakar untuk
menanak nasi, air dan lauk pauk.
Suasana pun riuh. Ada yang mau pulang, ada juga minta izin
tidak ikut latihan kali ini. Baru akan ikut pada latihan berikutnya. Namun tak
sedikit ada juga yang tetap memaksa, mencoba walaupun masih tersirat tanda
tanya, bisa atau tidak.
Kaum bapak pada senyum-senyum geli mlihat kegelisahan kaum ibu. Adajuga rasa iba. Tapi ini kan
latihan. Kalau tidak dicoba, kapan bisanya.
“Tenang saja ibu-ibu,” kata bapak beralis tebal yang sudah
memutih.
“Anggap saja lagi memukul anak kita yang nakal dan kurang
ajar,” ujar yang lain disambut derai tawa.
“Ki … boleh tanya?” Bu Jali memberanikan diri bertanya
karena desakan teman-teman di dekatnya.
“Boleh Bu,” kata Ki Anas.
“Sakit enggak ya Ki? Soalnya kami ini belum pernah coba itu
genteng,” jelas Bu Jali.
Ha ha ha ha …
“Biasa numbuk cabe,” ledek bapak-bapak serempak sambil
tertawa lepas.
“Sakitnya enggak seberapa ibu-ibu. Kan tak usah kuat-kuat
mukulnya. Pelan saja. Misalkan tak pecah ya sudah, ganti yang lain ….”
“Oooooo …”
Ibu-ibu pun tersenyum mendengar penjelasan Ki Anas barusan.
Mereka tidak terbebani lagi. Yang penti ng, pukul itu genteng. Pecah atau tidak
urusan belakangan.
“Siap Ki,” jawab ibu-ibu dengan wajah ceria. Sumringah.
“Baiklah kalau begitu. Oh ya saya lupa. Setelah ibu-ibu,
bapak-bapak giliran berikutnya.” Terang Ki Anas.
“Untuk bapak-bapak harus lebih dari dua Ki,” teriak ibu
dengan rambut berkepang dua.
“Gentengnya harus sepuluh Ki,” sahut Bu Rizki, Ketua PKK
Kampung Berkah.
“Kalau tidak pecah suruh mereka nyangkul sampai tengah
malam, Ki,” ujar Bu Jana.
“Bila perlu diarak sekalian, Ki.” Kata Bu Jali.
“Enggak usah pakai celana dan baju, Ki.” Sahut Bu Tumis.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Untuk bapak-bapak harus bersabar. Menunggu
giliran setelah ibu-ibu mendapat giliran pecahkan genteng,” jelas Ki Semangka.
“Sekarang kita panggil ke depan Bu Jali, Bu Tumis dan Bu
Jana,” kata Ki Anas dengan suara lantang.
Majulah ketiganya ke depan. Duduk bersimpuh menghadapkan
muka mereka ke genteng dua lapis.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Kaum bapak bertepuk tangan. Memberi semangat sekaligus
menunggu harap-harap cemas apa yang bakal terjadi …
“Siap ya. Telapak tangannya lurus. Kayak kita mau bersalaman
…”
“Luruskan lagi, jangan letoy,” ujar Ki Semangka.
“Maaf ya Bu Jali,” kata Ki Semangka seraya meluruskan tangan
siswa didiknya itu …
“Coba Bu luruskan,” imbuh Ki Semangka.
Bu Jali tarik nafas sebentar. Lalu meluruskan telapak tangan
kanannya ke depan, persis di atas tumpukan genteng.
“Bagus Bu Jali,” ucap Ki Anas.
“Siap ya?” Ki Semangka memberi aba-aba.
“Siap Ki.” Jawab Bu Jali, Bu Tumis dan Bu Jana.
“Satu … dua … tiiiii … ga.”
Huuup …
Dug …
Auuwww …
“Aduuuuh …”
Ha ha ha ha …
Penonton tertawa melihat Bu Jali dan dua rekannya mengaduh
kesakitan. Jangankan pecah, bergerak saja tidak gentengnya. Mereka serempak
mengusap-usap telapak tangan yang memerah tapi tidak sampai menimbulkan luka.
“Kita coba sekali lagi ya,” kata Ki Anas.
“Mau kan ibu-ibu.” Ki Semangka terus memberi semangat kepada Bu Jali, Bu Tumis dan
Bu Jana untuk mencoba sekali lagi. Mana tahu berhasil.
Apa mau?
“Harus mau, Ki.” Kata Pak Erte, “Goyang sedikit jadilah …”
Ha ha ha ha …
“Goyang apa Pak Erte?” Tanya pria bermata sipit sebelah
kanan.
“Goyang dangdut …” Teriak yang lain serempak.
Hua ha ha ha ha …
Bu Jali, Bu Jana dan Bu Tumis masih berpikir. Mereka berunding
sejenak, mau lanjut atau stop. Ki Se mangka memberi kesempatan, tapi jangan
lama-lama, kasihan yang lain, sudah menunggu giliran.
“Ayo Buuuu …” Teriak Pak Erte memberi semangat.
“Jangan bikin malu Bu. Lebih baik tetap maju daripada bikin
malu, apalagi sampai mati kutu,” kata bapak berhidung jambu.
He he he he …
“Baiklah KI, tapi …” Bu Jali mengajukan permintaan. Sengaja
dia tak omongkan karena kuatir bahan ledekan bapak-bapak. Cukup dibisikkan saja
ke telinga Ki Anas dan Ki Semangka.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Ki Semangka.
Bu Jali dan dua temannya ini duduk berdekatan. Lalu dengan
cepat mereka pukul sama-sama itu genteng.
Braaak …
Kraaagh …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Pecah juga gentengnya. Ketiganya diminta Ki Semangka berdiri dan membungkukkan badan.
Memberi hormat kepada siswa yang lain, termasuk penonton yang belum juga mau
berhenti bertepuk tangan.
“Wuuu .. kalau cuma begitu, kami juga bisa Bu Jali,” kata
bapak berambut cepak.
“Jangankan dua genteng, sepuluh genteng disikat habis,”
sahut bapak di dekatnya.
Bu Jali tidak mengomentari ucapan bapak-bapak itu. Dia sudah
menduga bakal banyak protes karena ber tiga memecahkan tumpukan genteng.
Pertimbangan Bu Jali, daripada gagal kalau sendiran, kan lebih ba ik berhasil
tetapi dilakukan sama-sama.
“Nah .. sekarang giliran bapak-bapak,” kata Ki Semangka
tertawa lebar menyusul para ibu yang ketawa lebar melihat Pak Erte garuk-garuk
kepala.
“Tak usah takut Pak Erte,” kata Bu Jali.
“Siapa yang takut?” Ucap Pak Erte.
“Tadi kenapa garuk-garuk kepala segala. Aduh Pak Erte ..
Ngomong saja kalau tak mampu …”
“Potong saja burungnya Pak Erte kalau sampai gagal pecahkan
genteng,” seloroh Bu Jana.
Ha ha ha ha …
“Bagaimana Pak Erte? Mau sendirian atau ditemani?” Tanya Ki
Anas.
Pak Erte berpikir sebentar.
“Berdua saja Ki.”
“Silakan dipilih sendiri temannya Pak Erte,” ujar Ki
Semangka.
Pak Erte memandang satu persatu warganya. Mondar-mandir sampai tiga kali.
Belum ada yang dia pilih. Kenapa? Karena warga pada menunduk semua. Muka tak
tampak.
“Dasar enggak punya nyali.” Kata Bu Jali.
“ Takut dipilih. Pengecut. Ngomongnya saja yang besar,
nyalinya sebatas tali pusar,” ujar Bu Tumis.
Ho ho ho ho …
Merasa diejek, kompak mengangkat kepala, tampaklah muka.
Mengacungkan jari telunjuk, siap menemani Pak Erte.
“Satu saja bapak-bapak,” kata Ki Semangka.
Terpilihlah Pak Sawer yang menemani Pak Erte memecahkan genteng.
“Senangnya Pak Erte dan Pak Sawer,” ucap Ki Anas setelah
menumpuk lebih dari dua belas lapis ganteng jadi satu.
VI
BAGAIMANA dengan warga Kampung Melati?
Ki Saung dan Ki Solar. Keduanya punya cara unik dalam
latihan perdana silat sore hari ini. Mereka meminta warga, baik laki-laki
maupun perempuan, untuk berkumpul di tepian sungai dengan me nyiapkan peralatan
mandi yang dibawa dari rumah.
Mau berenang?
Bukan. Mereka diminta untuk menyelam. Setiap peserta latihan
akan diuji berapa lama mereka menye lam di dalam air. Hal ini baru kali pertama
dilakukan warga Melati. Selama ini, terutama ibu-ibu, kalau tidak mandi dan
mencuci pakaian, mereka biasanya menumpang perahu ketek untuk menyeberang ke
kampung sebelah. Jadi berlama-lama menyelam jarang mereka lakukan, dan bahkan
ada yang tidak pernah melakukannya sama sekali.
“Kalau takut, ngomong ya. Jangan diam saja,” kata Ki Solar
setelah melihat beberapa orang ibu berbisik-bisik dengan nada takut.
“Yang takut tunjuk tangan …” Ujar Ki Saung.
Serempak menunjuk.
“Ibu-ibu semua ya? Bapak-bapaknya berani tidak?” Tanya Ki
Saung.
Dasar gengsi. Tak seorang pun dari remaja dan bapak-bapak
yang mau dan bersedia angkat jari tangan nya. Hanya ada seorang lansia. Karena
keburu dicolek rekannya yang masih muda, dia turunkan lagi jari tangannya.
“Baiklah, kalau begitu kami mau nanya sama ibu-ibu, kenapa
takut menyelam?”
“Saya, Ki Solar.” Seorang ibu berbadan tambun minta
kesempatan bicara.
“Silakan ibu … ibu, siapa nama?”
“Bu Tesi …”
Ha ha ha ha …
“Ngomong saja Bu takut dengan hantu banyu,” celetuk Pak
Sandi.
Ha ha ha ha …
“Enggak usah takut Bu. Kan kita awasi enggak jauh. Dekat
sini. Kalau tak tahan lama, ya sebentar saja. Kita tidak marah Bu. Yang penting
Bu Tesi dan ibu-ibu yang lain mau mencoba merasakan enaknya menyelam …”
“Tapi Ki, apa saat kita menyelam nanti, aman dari gangguan
buaya begitu?” Tanya Bu Reni.
“Insya Allah aman Bu,” jawab Ki Saung.
Mendengar penjelasan Ki Saung dan Ki Solar, para ibu dan
remaja puteri mulai sedikit demi sedikit ada rasa berani. Selain tak dipaksa
untuk menyelam beberapa lama, lokasinya pun hanya di pinggiran sungai dan dekat
dengan penonton. Jadi kalau ada sesuatu yang menimpa kita, toh ada yang cepat
menolong, memberikan bantuan dan menyelamatkan kita.
“Jadi artinya ibu-ibu, yang menyelam itu bukan hanya satu
orang, tapi bisa dua, tiga dan bahkan empat orang. Enak kan? Nah, pasti seru
..” Jelas Ki Solar.
“Bagaimana? Mau kan menyelam?” Tanya Ki Saung dengan suara
lantang.
“Mau Kiiiii …” jawab para ibu dan remaja puteri Kampung
Melati dengan raut muka cerah ceria.
“Alhamdulillah,” ucap Ki Solar dan Ki Saung, kemudian
mengalihkan pandangannya ke kaum bapak dan remaja putera yang sedari tadi tak
henti-hentinya cekikikan.
“Coba saya tanya kepada bapak yang sudah berubah rambutnya
itu,” tunjuk Ki Saung pada laki-laki lansia yang sempat mengangkat jari
tangannya tadi.
“Saya Ki?” kata bapak yang paling tua dari warga Kampung
Melati yang ikut latihan ilmu bela diri silat.
“Bapak sudah siap untuk menyelam?”
“Sudah siap Ki. Tapi kepalanya tidak ikut masuk air kan?”
Hua ha ha ha …
“Ya semuanyalah Pak. Jadi seluruh anggota badan kita ini,
kita masukkan ke dalam air. Tak ada yang tertinggal lagi,” jelas Ki Saung.
“Iiikh ngeri Ki. Apa tidak mati nanti Ki?”
Ha ha ha ha …
“Yang namanya mati itu kan Kek, dimana saja kita berada,
bersembunyi, jika ajal tiba kita bakal mati. Tak ada yang bisa lari dari mati,”
kata Pak Sandi.
Ha ha ha ha …
“Tidaklah Pak. Kalau misalnya tak bisa lama menyelam,
sebentar juga boleh. Seberapa lama kita bisa bertahan dalam air, sebarapa
kuatkah bapak menyelam …” Jelas Ki Saung.
“Ooooo …”
“Mudah kan Pak?”
“Iya Ki. Guampang sekali,” kata si lansia ketawa lebar
terlihat jelas urat-urat lehernya.
“Yang lain bagaimana? Siapkah?”
“Siaaap …” Jawab Pak Sandi bersama warga lain dengan penuh
percaya diri.
Ki Solar dan Ki Saung sepakat yang lebih dulu menyelam
adalah kaum wanita. Disepakati menampilkan tiga orang. Mereka adalah Bu Tiwi,
Bu Reni dan Bu Tesi.
Tepuk tangan pun riuh terdengar. Para bapak dan kawula muda
sampai harus berdiri untuk memberi semangat kepada Bu Tiwi dan dua rekannya
menuju tepian sungai. Dari atas jembatan kayu, di sanalah ketiganya berdiri
sebelum turun ke dalam air yang dingin bersama-sama.
“Gimana Bu?” Ki Saung hanya menginginkan kata ‘siap’ dari
siswa latihnya.
“Dingin sekali Ki, airnya.” Kata Bu Reni. Tersenyum lebar ke
arah penonton yang menyaksikannya bersama Bu Tiwi dan Bu Tesi memulai melakukan
penyelaman.
“Tahan sajalah Bu. Anggap saja lagi ngumpet dalam kulkas,”
ledek Pak Sandi.
“Iya Bu. Tenang saja. Kami ada di sini … Siap membantu
ibu-ibu semuanya,” teriak beberapa pemuda berkaos oblong yang di belakangnya
bertuliskan ‘Melati.’
“Oke ibu-ibu?”
“Oke Ki Solar,” kata Bu Tiwi.
Menyelam pun dimulai …
Luuup …
Byuuuurrr …
“Gelap Ki,” keluh Bu Reni. Baru tiga detik menyelam dalam
air sudah nongol kembali ke permukaan air.
Ha ha ha ha …
Byuuuur …
“Ada yang colek Ki,” kata Bu Tiwi setelah keluar dari dalam
air.
Hua ha ha ha …
“Hantu banyu itu Bu
…” Sahut bapak berkacamata minus tebal.
“Bukan Bu. Itu kerjaan ikan-ikan kecil yang kebetulan suka
sama ibu,” ujar bapak berkain sarung dan berpeci htam.
Byuuur …
Ruuuuar …
“Anget Ki,” aku Bu Tesi yang terakhir memunculkan kepalanya
dari dalam air.
Hu hu huh u …
“Anget kayak apa Bu Tesi?” Tanya tetangga sebelah rumahnya
yang berkuit hitam manis.
“Kayak telur yang baru ditetas dari emaknya ayam …”
Ha ha ha ha …
“Baiklah ibu-ibu dan bapak-bapak serta penonton sekalian.
Rasanya untuk Bu Reni, Bu Tiwi dan Bu Tesi sudah cukup sore hari ini,” jelas Ki
Saung.
“Walah Ki. Tambah sekali lagilah, Ki.” Pak Sandi kasih usul.
“Jangan begitulah Pak Sandi,” kata Pak Rauf, teman
sepermainannya ketika masih kecil,” Kasihan mere ka. Sudah pada mengigil. Betul
kan Bu?”
“Betul Pak Rauf,” ujar Bu Tiwi, berharap Ki Saung dan Ki
Solar menyudahi penyelaman.
“Sudah ya Ki?!” Rengek Bu Reni.
Ki Saung mengangguk setuju. Dia bersama Ki Solar bersyukur
ketiga ibu yang sudah berkepala tiga lebih itu sehat walafiat.
“Sekarang giliran bapak-bapak,” jelas Ki Saung yang tampak
aneh melihat bapak-bapak Kampung Melati gugup dan tak percaya diri. Antar
mereka saling pandang, dan saling berbisik, entah apa yang dibisikkan.
“Kita selang seling saja ya Bu dan Pak. Tadi tiga wanita,
sekarang tiga laki-laki. Nanti tiga wanita lagi. Begitulah seterusnya. Tapi
kalau waktu tidak mencukupi kita tambah jumlah penyelamnya, agar bisa kebagian
semua dan selesai hari ini juga,” terang Ki Saung.
“Setuju Ki,” ujar Pak Rauf. Dengan begitu semua siswa
mendapat giliran menyelam.
Ada apa dengan Pak Sandi?
Tiba-tiba gelisah. Membuat Pak Rauf angkat bicara.
“Jangan cari alasan Pak Sandi. Kalau takut bilang sajalah.
Mumpung menyelamnya belum dimulai …”
“Bukan takut Pak Rauf . Tapi …”
“Tak bisa menyelam …” Beberapa remaja tanggung ketawa lebar.
“Bukan itu, tapi saya lupa pakai celana dalam,” aku Pak
Sandi terus terang.
Ha ha ha ha …
He he he he …
Hi hi hi hi …
Kali ini yang ketawa bukan cuma kaum bapak saja, tapi juga
para ibu dan remaja puteri. Saking enaknya ketawa, dari kelopak mata mereka
mengalir air mata. Belum lagi keringat di seputar wajah, bagian dada serta perut.
“Telanjang bulat sajalah Pak Sandi,” teriak bapak berkepala
gundul.
“Sekali-kali boleh kan, Ki?” Sindir Pak Rauf.
“Tak bolehlah Pak Rauf. Walaupun cuma menyelam, pakaian
harus rapi. Menutup aurat,” terang Ki Solar dan Ki Saung.
Semua mata masih tertuju pada Pak Sandi. Dia tengah berbisik
dengan lelaki yang ada di dekatnya.
Membisikkan apa?
Pinjam celana dalam kah?
Ternyata, Pak Sandi meminta lelaki bernama Pak Kun itu mau menggantikannya
menyelam. Pak Kun ti dak berkeberatan. Tapi warga yang lain keberatan. Soalnya,
dari awal latihan menyelam ini, Pak Sandi tak henti-hentinya bicara,
berkomentar, seolah dia seorang yang paling pandai sore hari ini.
VII
KETIKA Ki Tama dan Ki Daus mengetahui bahwasanya latihan
sore hari ini diawali dengan permainan panco, serempak warga Kampung Zaitun, berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan, tertawa ngakak.
Kenapa?
Karena permainan panco lazim dilakukan ana-anak dan remaja
di waktu senggang. Baik di bawah rumah maupun di tempat lain, seperti pondok
pematang sawah dan tempat hajatan. Meski diakui permainan adu tangan dan otot
ini kurang populer dibandingkan sepakbola, bola voli dan bulatangkis.
“Apa digabung, Ki?” Tanya Pak Jono pada Ki Tama dan Ki Daus
yang sudah lebih dulu duduk lesehan di atas tikar depan kediaman pasirah.
“Maksudnya diadu antara laki-laki dengan perempuan begitu?”
“Betul sekali Ki Tama,” kata Pak Jono, “Biar lebih seru …”
“Seru atau pengen tahu,” seloroh Pak Leman, ketawa lebar.
“Janganlah Ki,” sahut Pak Rais. “Bahaya kalau sampai diadu
antara bapak-bapak dan ibu-ibu.”
“Kenapa Pak Rais?”
“Ini Pak Sukiman … salah adu nanti.”
Ha ha ha ha …
“Porno ah,” celetuk Bu Kemal.
“Porno apanya Bu Kemal?” Tanya Pak Jono.
“Ah bapak Jono ini. Kayak tidak tahu saja,” timpal Bu Syawal,
“Kalau laki-laki dan perempuan berdekatan, biasanya mata laki-laki jelalatan …”
He he he he …
“Jelalatan kenapa Bu” Goda Pak Leman.
“Ah kayak enggak pernah muda saja Pak Leman ini. Dulu waktu muda
dan dekatan sama ibunya, gimana?” Pancing Bu Sayawal.
“Ehem .. ehem ….” Pak Leman ketawa enggak jadi.
“Kenapa Pak Leman?” Tanya Bu Syawal.
“Enggak kenapa-kenapa Bu,” ujar Pak Leman. Baru bisa ketawa.
“Bohong Pak Leman ini.
Bilang saja kalau …” Bu Syawal ketawa geli, diikuti dua rekan sebaya di
dekatnya.
“Kalau kenapa Bu Syawal?” Pak Rais ikut-ikutan
bertanya. Sekadar bertanya saja, bukan
cari perkara.
Hi hi hi hi …
“Sudah .. sudah. Ditahan dulu senda guraunya. Jadi ibu-ibu
dan bapak-bapak sekalian yang telah berkenan hadir. Kita bagi dua kelompok
sekarang. Yang bapak-bapak sama bapak-bapak. Juga sebaliknya. Yang ibu-ibu sama
ibu-ibu. Ini sudah kami putuskan berdua Ki Daus,” terang Ki Tama.
Waaaa ..
Payaaah …
Letoy deeeh …
“Penonton juga,” jelas Ki Tama.
Enggak serulah …
Enggak rame dooong …
Berbeda dengan kaum bapak yang pada lesu serempak, kaum ibu
dan remaja puteri malah bersorak sorai karena dengan pengelompokan ini mereka
leluasa bermain panco dengan cara dan gaya masing-masing yang tentunya berbeda.
“Boleh kita mulai sekarang ya ibu-ibu dan bapak-bapak
sekalian?”
“Boleh Ki Tama,” ucap Bu Mirna.
“Bapak-bapak?”
“Bolehlah Ki,” kata Pak Jono, lesu darah.
Ha ha ha ha …
Mendapat giliran pertama tampil adalah Bu Syawal dan Bu
Kemal. Kedua-duanya berpostur besar tinggi dengan tangan yang juga besar.
Keduanya melemparkan senyuman kepada penonton, disambut tepuk tangan yang riuh
sementara kaum bapak hanya sempat melihat
dari kejauhan, mesem-mesem dan menggaruk-garuk kepala.
“Siap Bu Syawal dan Bu Kemal?” Ki Tama dan Ki Daus memberi
aba-aba.
“Siaaap …!” kata keduanya. Mereka berdua diawasi oleh Bu
Mirna.
“Sebentar Ki. Mau buang ludah dulu,” kata Bu Kemal, berlalu
pergi ke dekat rumput bawah pohon beringin.
“Saya juga, Ki.” Ujar Bu Syawal.
Setelah berludah di pinggir tanah lapang, Bu Syawal dan Bu
Kemal duduk lagi di kursi, saling berhadap-hadapan dengan tangan ditaruh di
atas meja kayu.
Tangan Bu Syawal dan Bu Kemal saling menempel di garis
lingkar tengah meja segi empat. Semakin lama semakin kuat tempelan itu. Saling
berusaha menarik tangan lawan, karena tangan yang lebih dulu jatuh menyentuh
meja dinyatakan kalah.
Bu Syawal dan Bu Kemal sama-sama tak ingin menyerah dan
kalah. Maka itu, tangan keduanya silih ber ganti hampir menyentuh permukaan
meja. Bahkan, saat Bu Kemal menggaruk keningnya, Bu Syawal sempat menarik kuat
tangan tetangganya itu …
“Terus Bu …” Teriak penonton yang gemas melihat tangan Bu
Kemal, walau sudah miring ke kanan, tak juga jatuh menyentuh meja. Malah secara
perlahan terangkat kembali. Sampai sejajar tegak dengan tangannya Bu Syawal.
Priiit …
Bu Mirna meniup pluit tanda babak pertama lomba panco
berakhir. Belum ada pemenangnya. Masih sama-sama kuat. Peluh bercucuran, membasahi ketiak yang
hitam, rambut dan muka Bu Syawal serta Bu Kemal. Nafas tersengal-sengal. Keduanya
duduk. Bersandar di cagak rumah pasirah.
Para ibu yang lain pun segera mengerumuni Bu Syawal dan Bu
Kemal. Ada yang mengipas-ngipas. Juga
ada yang memijat-mijat anggota badan seperti tangan dan kaki, bahkan berebutan
untuk memberi keduanya air susu putih hangat.
Babak kedua?
Ditiadakan, karena setelah menunggu hampir sepuluh menit, Bu
Kemal dan Bu Syawal masih kepayahan. Selain masih harus dipijat-pijat, nafas
keduanya tak kunjung normal. Masih turun naik tak teratur. Akhir nya disepakati
babak kedua tak jadi dimainkan.
Sekarang giliran bapak-bapak?
“Mau kemana Pak Jono?” Teriak Pak Leman. Semua menoleh,
hendak kemanakah Pak Jono?
“Mau pipis,” ucap Ki Daus menirukan Pak Jono yang hendak ke
toilet tadinya.
“Alasansaja Ki,” gerutu Pak Leman seolah tak terima Pak Jono
diberi izin ke toilet.
“Alasan bagaimana Pak Leman?” Ki Daus mendekatkan
telinganya.
“Tak mau ikutan panco Ki …”
Ha ha ha ha …
“Betul Ki. Tadi juga kan bisa kalau memang mau ke toilet.
Kenapa baru sekarang? Setelah adu panco baru akan dimulai …” Kata Pak Rais.
“Benar Ki,” jawab yang lain. “Masa tiba-tiba kebelet mau ek
ek. Pura-pura Ki.”
“Tanya saja lagi Ki
kalau Pak Jononya sudah kembali dari kamar kecil,” desak Pak Sukiman.
Ki Daus dan Ki Tama, setelah Pak Jono kembali dari kamar
mandi, meminta laki-laki sepuh itu beradu panco dengan ‘lawan’ yang dia pilih
sendiri.
Apa jawab Pak Jono?
“Tidak ada lawan panconya Ki Tama.”
“Kenapa Pak Jono?”
“Takut Ki. Dasar banci. Penampilan sopan suka mencaci,” kata
bapak berkacamata tebal.
Ha ha ha ha …
“Maunya saya dengan Bu Syawa Ki. Boleh kan?”
Wuuuuuuuu …
Lanang kurapan lu …
Taik kucing lu …
Taik anjing lu …
“Ssssst … bapak- bapak tak boleh begitu. Penesan boleh tapi
yang sopan,” nasihat Ki Tama.
“Habis kesal Ki. Memangnya kami ini dia anggap apa?” Kata
Pak Rais geleng-geleng kepala.
“Perempuan, Pak Rais.” Teriak yang lain sambil ketawa
cekikikan.
He he he he …
Setelah dibujuk rayu, akhirnya Pak Jono bersedia adu panco
dengan sesama lelaki. Karena dia diberi ke sempatan memilih sendiri lawan
tandingnya, dipilihlah Pak Syukran. Lelaki tertua di Kampung Zaitun.
Kendati sempat diperotes warga yang lain, adu panco tetap
berjalan. Duduklah keduanya berhadap-ha dapan di satu meja dengan meletakkan
tangan kanan dalam posisi agak miring dan saling menempel bagian atasnya.
Priiit …
“Sebentar Ki.” Buru-buru Pak Syukran membuang sisa rokok
daun dari mulutnya. Dia masukkan ke da lam
kotak sampah. Sampah terbuat dari kayu berbentuk segi empat itu khusus buat
warga yang ingin membuang sampah sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir
sampah.
“Sudah Pak Syukran?” Tanya Ki Tama, siap meniup pluitnya
tanda adu panco segera dimulai.
Plak .. pak … plak … pak …
Panco dimulai dan ..
Gedebuk ..
Tooook …
Tangannya Pak Syukron jatuh menyentuh permukaan meja. Dia
kalah cepat. Walau sudah tua, dia tetap kecewa karena baru sedetik sudah di- KO
Pak Jono.
“Jono … Jono … Jono …”
Pak Jono mengangkat tinggi kedua tangannya. Lalu berdiri
menghadap penonton dan rekan-rekannya yang lain berlatih silat.
“Jono … Jono … Jono …”
Yel-yel pun akhirnya diikuti beberapa penonton. Meneriakkan
secara bersama-sama. ‘Hidup Pak Jono .. Juara panco tidak ada tandingannya.
Siapa lawan pasti keteteran. Sekali goyang, musuh terjengkang.’
Pak Jono, Pak Leman, Pak Rais dan Pak Sukiman tampak kesal
bukan kepalang. Mereka berempat segera mengerumuni Ki Daus dan Ki Tama. Mereka
minta diizinkan tanding panco dengan Pak Jono.
Tapi apa jawab Ki Tama?
“Maaf bapak-bapak ya. Hari sudah sore. Kita lanjutkan di
hari yang lain. Bagaimana? Setujukah?”
“Setuju,” jawab ibu-ibu kesenangan.
“Tidak setuju,” sahut Pak Sukiman dan kawan-kawan.
Karena lebih banyak yang setuju latihan silat dilanjutkan pada hari yang
lain, Ki Tama dan Ki Daus mengajak warga berdoa bersama-sama sebelum kembali ke
rumah masing-masing.
BERSAMBUNG …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar