Senin, 12 Agustus 2019

Mana Tahan (15)

Mana Tahan (15)
Oleh Wak Amin

HUUP ..

Deeep ..

Maria berhasil melompat di atas truk.

"Komandan. Saya di atas truk," kata Maria. Dia lambaikan tangan ketika truk gede itu keluar dari pekarangan rumah menuju jalan merah.

"Letnan. Kita susul dia!"

"Siap Mayor!"

Keduanya terpaksa mengambil jal an pintas. Jika tidak, sepeda yang mereka kayuh akan sulit mengejar laju truk yang semakin kencang.

"Ke kanan saja Mayor," usul Letnan Subekti. Ke kanan ada jalan menan jak. Tidak terlalu jauh, sudah kete mu jalan tanah, warga kampung sebelah.

Belok kiri, lalu ke kanan lagi. Maria melaporkan dia kesulitan untuk tu run mendekat ke dekat sopir.

"Ada lima orang Komandan, terma suk sopir," kata Maria. Masih berta han di belakang truk. Berpegangan di terpal tebal pembungkus kotak besar yang entah apa isinya.

Penasaran, Maria berusaha mem buka terpal itu. Benar ada kotak. Lima buah kotak besar terbikin daru kayu.

Di dalam kotak ada plastik besar. Maria membukanya dengan hati-ha ti. Karena tadinya dia nyaris jatuh saat truk berbelok kencang.

Astaga ...

Maria kaget bukan kepalang. Di da lam plastik itu ada senjata, peluru dan bahan peledak.

"Mayor. Roger!"

"Roger. Ada apa Maria?"

"Senjata, peluru dan bahan peledak Komandan, isinya ..."

Dugaan Mayor Hanafi tepat.

"Mohon petunjuk Mayor. Apa perlu senjata dan semua yang ada di da lam kotak ini saya lempar ke ja lan?"

"Pilih lokasi yang aman Nona." Pe san Mayor Hanafi.

"Siap Komandan!"

Mayor Hanafi memperkencang laju sepedanya. Di belakangnya Letnan Subekti. Jarak keduanya dengan truk sekitar seperempat kilometer.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar