Mana Tahan (22)
Oleh Wak Amin
LETNAN Subekti masih bersama pe tugas ikut memeriksa secara detil sal tempat dimana Kamil dirawat sebelum dihabisi.
"Saya kira ada pihak ketiga yang ikut bermain Mayor," kata Maria. Takutnya musuh dalam selimut.
"Mayor paham kan msksud saya?"
"Sangat paham Non."
"Menurut saya Mayor, apa tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan .?"
"Maksud Non Maria?"
"Untuk memberitahu Jenderal Sutar man."
Mayor Hanafi berpikir sejenak ...
Kriiiing ..
Telepon masuk. Seorang petugas melaporkan Letnan Subekti tertem bak.
"Sekarang di sal almarhum Kamil," kata seorang petugas yang tidak ik ut mengejar pelaku penembakan.
"Oke. Saya kesana sekarang!"
"Mayor!"
"Letnan kena tembak."
Tembakan yang dilepaskan penem bak 'gelap' itu, walau cuma satu pe luru, karena tepat bersarang di jan tung, membuat Letnan Subekti se karat.
Menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Mayor Hanafi. Sayang nya, tak sempat bicara, selain se nyum mengembang ke Maria dan teman dekatnya itu.
Maria menitikkan air mata, sedang kan Mayor Hanafi mencium kening Letnan Subekti sesaat setelah mere bahkan tubuh kurus tinggi itu ke hambal pelapis lantai sal.
"Tidurlah dengan tenang sahabat," ucap Mayor Hanafi. Tak lama sete lah itu telepon berdering lambat.
"Tolong Non, angkat."
"Baik Mayor."
Dari siapa gerangan?
Pangsar Yauman Jenderal Sutar man. Meminta Maria dan Mayor Hanafi segera menemuinya di kantor sekarang.
"Siap Jenderal."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar