Kamis, 25 Februari 2016

Cerbung Musi Bebanyu (Bag 27-29= TAMAT)



Pujangga …
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (Bag 27-29 = TAMAT)


BALIK dari acara pisah sambut siswa lamo dan baru kemarintu, Lebay en Mamat diundang oleh pihak stasiun televise swasta lokal untuk bincang-bincang seputar perkembangan seni budaya. Bincang-bincang itu dikemas dalam tema ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya.’
Namonyo jugo lanang baru nak ngetop, bujang duwo ikoni dak nulak lagi. Apolagi pihak stasiun televisi la payah-payah ngutus pegawainyo ngantarke undangan.
“Ini namonyo rejeki, Bay. Kito dak boleh nulak en nyia-nyiakenyo.  Ngapo? Lum tentu dio datang lagi gektu. Makmano nurut awak kiro-kiro, Bay?”
“Yo benerla kato awaktu, Mat. Yang penting sekarang kito dak usah duken ngomong soal ini ke yang lain. Gektu jadi rame. Lebih baik kito fokuske bae ke bincang-bincang itu …”
“Setuju. Akur kalu mak itu, Bay …”
Karno dak ado yang tau, selain Mamat en Lebay, dak katik pulok yang meloki apolagi sampe ngeretoki budak duwoni. Ngenoke pakaian putih celano item, keduwonyo, waktu la sampe di ruangan bincang-bincang, langsung duduk di kursi yang tela disediake.
Rai ngadep kamera. Bekeringet dingin jugo, walau suhu ruangan pakek AC. Daklamotu datangla Mbak Nita, presenter cantik  bebakat, nyalami Mamat en Lebay, sebelum akhirnyo ngambek tempat duduk di  parak Lebay.
Betigo bekelakar betok. Dahtu ketawo.
Kamera …
Eksyen …
“Selamat sore pemirsa di rumah. Sore hari ini kami sengaja mengundang dua seniman berbakat, masing-masing Mamat dan Lebay…..”
Kamera bejalan …
“Selamat sore, Bung Mamat …!”
“Sore juga. Selamat sore pemirsa di rumah …”
“Selamat sore, Bung Lebay …!”
“Sore juga. Selamat srore pemirsa semuanya …”
Kamera endeket …
“Baiklah pemirsa. Tema bincang-bincang kita sore hari ini adalah ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya’. Kita langsung saja ke Bung Mamat lebih dulu …”
Kamera mundur …
“Bung Mamat, menurut anda, apa sih puisi itu sebenarnya?”
“ Puisi itu adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Tradisi berpuisi sudah merupakan tradisi kuno dalam masarakat. Sejak kelahirannya, puisi memang sudah menunjukkan ciri-ciri khusus seperti yang kita kenal sekarang ini, meskipun sebenarnya puisi  itu tidak mengalami perkembangan dan perubahan dari tahun ke tahun …”
“ Saya akan mengutip pendapat penyair kita Sapardi Djoko Damono. Menurut beliau, puisi itu adalah keterampilan berbahasa, seni berkata-kata yang paling tinggi, yang paling canggih. Di sana setiap kata adalah sesuatu yan bermakna. Tidak ada yang mubazir dari apa yang dituliskan sang penyair. Disitu pula kelebihan puisi dibandingkan bahasa biasa atau karya yang lain …”
“Puisi bagi saya, kata Sapardi, adalah sebentuk cara untuk mengungkapkan yang banyak dengan cara yang paling sedikit. Bagaimana caranya inilah yang menyebabkan tidak semua orang mampu melakukannya.
“Lantas, Bung Mamat. Gimana cara kita memahami sebuah puisi itu?”
“Mungkin Bung Lebay yang duduk di sebelah saya ini bisa menjelaskan lebih jauh, Mbak Nita.” Kato Ma mat ngelirik Lebay yang dari taditu cuman senyum-senyum terus. Senyum dengan Mbak Nita, apo dengan pemirsa, dak pulo jelas.
“Oke. Silakan Bung Lebay …”
“Terima kasih Mbak Nitaku … Begini, setiap puisi pasti berhubungan dengan penyair. Karena puisi diciptakan dengan mengungkapkan diri penyair itu sendiri. Puisi memberikan tema, nada, perasaan dan amanat. Rahasia di balik majas, diksi, imaji, kata konkret dan verifikasi akan dapat ditafsirkan dengan tepat jika kita berusaha memahami rahasia penyairnya.”
Ada suasana tertentu di saat seseorang dituntut untuk berpuisi dan pada saat lain  seseorang dituntut untuk berprosa. Tuntutan pengucapan ini juga turut memberi warna konkret prosa dan puisi.
“Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Dalam puisi kita berbicara tentang dirinya sendiri …”
Memahami puisi dapat dilakukan dengan pendekatan obyektif  terhadap puisi-puisi besar yang sudah sangat terkenal. Tapi dalam puisi-puisi yang gelap atau bersifat khas, usaha pemahaman puisi tidak da pat memencilkan puisi sebagai suatu karya yang bersifat otonom. Faktor dari luar turut dijadikan acuan pemahaman.
“Menghadapi puisi-puisi yang sukar dan belum termasyhur, saya menganjurkan untuk mengikutsertakan faktor genetik puisi sebagai sumber acuan untuk menelaah makna puisi.  Faktor genetik itu meliputi penyair dan kenyataan sejarah yang melatarbelakangi proses penulisan puisi tersebut.”
Puisi yang gelap, uji Lebay,  dan sukar dapat ditafsirkan maknanya dengan lebih mudah jika kita mampu memahami faktor genetiknya.
“Kalau prosa, Bung Lebay?”
“ Kalau prosa, pengarangnya tidak membicarakan dirinya sendiri. Tapi juga berbicara tentang kisah orang lain, atau tentang dunia …”
“Oke , kembali ke Bung Mamat. Menurut Bung Mamat, sejauhmanakah  keterakaitan antara puisi dengan sang penulis, dalam hal ini penyairnya?”
“Pada pokoknya puisi dibangun oleh dua unsur pokok, yaitu struktur fisik, berupa bahasa yang digunakan dan struktur batin serta staruktur makna yakni pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair.”
Kedua unsur ini , kato Mamat, merupakan kesatuan yang saling berkaitan secara fungsional. Penyair mempunyai maksud tertentu, mengapa baris-barisnya dan bait-baitnya disusun sedemikian rupa? Mengapa digunakan kata-kata, lambang, kiasan dan sebagainya?
“Semua yang ditampilkan oleh penyair mempunyai makna, bahkan karena yang digunakan adalah kata-kata yang dikonsentrasikan, yang dipadatkan, maka semua yang diungkapkan oleh penyair harus bermakna. Tidak boleh mengungkapkan sesuatu yang mubazir. “
“Baiklah, Bung Mamat dan Bung Lebay. Lalu, bagaimana penerimaan masyarakat terhadap diri dan keberadaan penyair. Maksudnya, yach, sambutan masyarakat terhadap penyair, apa menggembirakan atau justru kebalikannya. Dicueki dan malah tidak dianggap sama sekali …?
“Ya, itulah yang patut kita sayangkan. Masih ada sebagian dari masyarakat kita yang kurang peduli ter hadap jati diri penyair. Mereka hanya melihat penampilan luarnya saja. Rambut gondrong, kusut, mandi jarang, pakaian seenaknya dan sekenanya saja. Pakai sandal, merokok dan sedikit-sediki kumpul, ngolor ngidul. Lantas  baca puisi yang isinya memperotes selalu, enggak kalangan tertentu, yang diprotes bia sanya pemerintah. Padahal tidak semuanya begitu. Sebagian kecil, mungkin adalah. “
Sejujurnya, kata Lebay, penyair itu juga sama dengan profesi lain. Mereka perlu makan, minum, bergaul dan masyarakat hendaknya tidak memandang sebelah mata, apalagi sinis terhadap mereka. Kendati mereka tak ingin dihormati, tapi paling tidak mereka itu diakui eksistensinya dan diberi ruang untuk berkarya dan berkreasi …
“Bisa diperjelas lagi Bung Mamat  tentang ucapan anda barusan .. Soal ruang me ruang tadi misalnya?”
“Maksudnya, penyair kan tidak cukup hanya berkicau di dalam gedung tertutup, serba terbatas. Tapi, be rilah mereka ruang untuk membacakan karya yang mereka hasilkan di tempat-tempat umum terbuka, atau tempat tertentu, semisal di stasiun kereta api, taman kota. Selain tentunya pentas berkelanjutan di gedung seni pertunjukan ...”
Lembaga-lembaga pendidikan seperti rumah sekolah, pusat kursus dan keterampilan, memberi kesem patan kepada penyair untuk berkiprah, tampil membacakan puisinya. Para guru dan siswa harus mende ngar. Mungkin saja buah pikiran dari si penyair bermanfaat untuk paling tidak demi kemajuan dunia pendidikan kita.
“Perlu saya tambahkan sedikit, Mbak Nita,” simbat Mamat, yang paling penting, baik pemerinth, swasta, BUMN dan segenap masyarakat, lihatlah eksisten penyair secara utuh. Bukan sepotong-sepotong, agar bisa dirasakan kehadirannya dan bermanfaat banyak bagi semua.”
“Teima kasih Bung Mamat dan Bung Lebay. Kita break dulu sebentar. Ada iklan yang mau lewat ….”
                                                                        --------------------------------------


Jangan Ngelamun Bae
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu  (28)

“BAIKLAH pemirsa sekalian. Kita lanjutkan bincang-bincang kita pada sore hari ini dengan tema Lebih Dekat dengan Seni Budaya …”
Mamat en Lebay mulai tegang lagi. Taditu idak. Sempat bekelakar dengan Mbak Nita.
“Bung Mamat dan Bung Labay. Kalian berdua. Kita tahu seni budaya itu tidak cuma sebatas puisi. Banyak lagilah yang lain. Seperti seni tari, drama, teater, seni lukis, pahat dan termasuklah seni suara. Eeeem … Bagaimana kondisinya saat ini menurut bung berdua?”
Mamat duluan …
“Ada yang menggembirakan dan ada juga yang tidak menggembirakan.”
“Bisa diceritakan dan dicontohkan, Bung Mamat?”
“Yang menggembirakan, misalnya lagu daerah. Untuk saat ini telah banyak bermunculan. Promosi lumayan gencar dan sepertinya sudah diterima masyarakat luas. Mungkin, yach, entah karena jenuh dengan menjamurnya lagu-lagu saat ini, lantas masyarakat  ingin sesuatu yang lain. Nah, lagu daerah mungkin bisa mengapresiasi suasana dan hasrat  tersembunyi  masyarakat itu …”
“Yang tidak atau belum menggembirakan, apa saja Bung Mamat?”
“Banyak, Mbak. Kita bisa contohkan, seni lukis dan seni pahat. Yang kita lihat, mereka yang tampil dalam ajang pameran dan sebagainya itu kan boleh dibilang orang, pemain lama dalam arti lama dari segi usia maupun pengalaman. Itu pun tidak semuanya. Nah, bagaimana dengan yang muda-muda, yang enerjik dan berbakat. Karena sampai saat ini belum terlihat jelas. Samar-samar mungkin. Muncul sebentar, setelah itu hilang entah ke mana. Begitulah seterusnya. Sampai akhirnya tenggelam dan hilang sungguhan. Ada yang ganti profesi,  juga ada yang terpaksa hijrah ke daerah lain …”
Lebay neruske …
“Kenapa?”
“Kenapa ini semua sampai terjadi, Bung Lebay?”
“Karena, menurut saya, tak ada kesempatan dan magang. Kita yang uda-muda ini, walau saya sendiri, bukan ahli lukis dan pahat memahat, terkadang bekerja sendiri. Artinya, buat ini itu, sampai mema sarkannya, kita sendirilah. Mbak kan tahu, yang lain? Kita enggak tahu. Padahal mereka ka nada.”
“Kurang komunikasi maksudnya?”
“Iya. Kurang lebih begitulah. Yang tua, tak salah toh menghampiri yang muda. Kita bukan apa-apa. Na manya juga orang muda, rasa malu dan segan, terkadang masih ada. Nah, kalau ada komunikasi kan lebih enak. Kita bisa tahu apa kekurangan kita dan juga apa kelebihan kita. Dan yang paling pokok adalah kesediaan yang tua mau membagi pengetahuan dan pengalaman kepada yang muda. Dengan demikian kita saling isi mengisi. Yang muda misalnya, bisa menerjemahkan keinginan dari yang tua, yang hingga kini belum terwujud …”
“Tadi disebutkan ada juga seniman yang terpaksa hijrah ke daerah lain. Kalau boleh tahu, sejauhmanakah tingkat perbedaan masing-masing daerah dalam mengapreiasi para seniman dari berbagai bidang keahlian ini?”
“ Begini Mbak. Harus diakui bahwa setiap daerah berbeda tingkat penerimaannya terhadap seniman. Kota A umpamanya, katakanlah seni lukis, benar-benar diperhatikan. Mulai dari kemudahan berkreasi, tempat mangkal dan memasarkan karya hingga diskusi dan terbukanya kesempatan membagi ilmu dan keterampilan kepada yang berminat. Jadi eksistensinya mereka benar-benar diakui gitu lho. Dampaknya apa?  Seni budaya bergairah, pariwisata juga. Lapangan kerja baru tersedia, dan yang paling penting, kehidupan seniman secara perlahan terangkat ke permukaan. Ttidak lagi susah, melarat sampai akhir hayat.”
“Bandingkan misalnya, Mbak, dengan kota B. Sudah kehidupan susah, dilirik pun tidak karya, jangan kan eksistensinya. …”
“Menurut Bung Mamat, di mana letak salahnya?”
“Di pengambil kebijakan, terutama …”
“Kenapa bisa begitu ya Bung Mamat?”
“Kita enggak ada niat nyalahin siapa-siapa gitu. Lagian ini kan menurut pendapat saya, Mbak. Pendapat saya pribadi …”
“Oke-oke. Saya bisa mengerti. Mohon Bung Mamat lanjutkan …”
“Kenapa harus pengambil kebijakan. Karena suara mereka didengar masyarakat. Misalnya, masyarakat diimbau jangan membuang sampah sembarangan. Kena denda lho. Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi imbauan itu didengarkan, Mbak. Buktinya, di tempat-tempat tertentu kawasannya bersih dan benar-benar bebas sampah. Nah, begitu juga dengan seni budaya ini …”
“Apalagi jika nantinya pemerintah  memperhatikan betul-betul eksistensi dan keberadaan pekerja seni, mengakui dan menghargai mereka secara utuh. Saya yakin seni budaya kita akan maju pesat dan tak kalah pesatnya dengan kemajuan yang telah diraih oleh negara-negara lain di dunia …”
“Indah sekali ya Bung Mamat. Mudah-mudahan para pemirsa bisa menyimak penjelasan Bung Mamat barusan …”
Mamat senyum-senyum bae …
“Pemirsa. Beralih kita ke Bung Lebay …Menurut anda, apa perlu kalangan swasta dan pihak terkait lainnya turut serta menggairahkan seni budaya kita saat ini?”
“Perlu sekali, Mbak Nita.”
Batuk-batuk kecik …
“Kenapa perlu? Karena pertama, keterbatasan pemerintah dalam mengakomodasi aktivitas berkesenian di suatu daerah. Tugas mereka kan banyak, semuanya prioritas. Enggak ada yang enggak prioritas. Nah, ini yang pertama. Yang kedua, bisa ikut membantu permodalan, skill dan promosi. Ketiga, membantu menyalurkan pekerja seni. Tepatnya, diajak bergabung , misalnya  menjadi tempat magang kerja, pelati han, tenaga lepas atau diperbantukan di perusahaan tertentu. Jadi keahlian mereka termanfaatkan. Sayang kan, Mbak, kalau potensi yang mereka miliki tak kita seksamai …”
“Terakhir, buat bung berdua … Ada pesan yang ingin disampaikan barangkali buat pemirsa di rumah. Silakan …”
Mamat duken …
“Kepada para seniman, saya berpesan agar teruslah berkarya. Jangan mudah putus asa. Binalah selalu hubungan dengan sesama. Jangan malu untuk bertanya. Jangan sungkan untuk belajar. Jangan kikir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Perluaslah networking. Bekerja samalah  dengan siapapun demi kemaslahatan bersama. Jangan sekali-kali merasa asing di tempat sendiri, dan mengasingkan diri. Kita ini makhluk sosial. Tidak eksklusif. Menyendiri dan merasa  diri paling pintar dan benar sendiri. Karena selain merugikan diri sendiri, tindakan seperti itu  membuat kita terisolasi yang pada akhirnya turut menghambat eksistensi diri …”
“ Bung Lebay, silakan …”
“Saya pendek saja …”
“Panjang juga enggak apa-apa, Bung Lebay.”
 Lebay ketawo libar …
“Kita para seniman harus mau mengoreksi diri, mengevaluasi dan turut serta memberikan andil terhadap kemajuan bangsa ini dari sisi seni budaya. Selalulah berkarya. Karena dengan karya itulah kita bisa membantu sesama. Dengan karya itulah kita bisa terus eksis, terus memberi dan berbuat baik kepada sesama hamba Allah SWT di dunia ini …”
                                                                            --------------------------         


Nrimo Tawakan …
Oleh Wak Amin
Musi Bebanyu (29)

“MAT … Oi Mat …!”
Sampe tigo kali Mang Lebay manggilnyo. Mamat baru nyetopke sepeda pempeknyo. Dio noleh denget. Dahtu ketawo ngakak. Pecak ketawonyo wong beduit, toke iwak besak.
“Akutu tadi ketemu dengan bos kau, Wak Peng di pasar iwak,” kato Lebay, muterke sepedanyo nyabrang jalan, endeketi sepedanyo Mamat.
“Kito minggir dikit bae supayo lemak kito ngomong,” uji Mamat  negakke sepeda, beduwo duduk deket tanggo rumah uwong.
Beceritola Lebay kalau Wak Peng ngundang ke rumahnyo sore gek. Dak pulo dienjuk taunyo nak ngapo. Tapi yang jelas, rasan lemakla. Dak katik apo-apo. Pokoknyo jangan dak datang …
Mamat lum nanggapi.
“Mun ujiku datangi bae. Gek kurewangi.”
Mamat baru pacak senyum.
“Niyan apo? Mecem dak cayo.
“Kitoni la lamo bekawan, Mat. Apo selamo kubekawan dengan kautu aku pernah embohongi awak. Idak kan …”
“Bukan cak itu, Bay. Cuman … akutu ..”
“Buntu?”
“Ai kauni macak-macak bae. Buntu apo.”
“Kalu idak ngapo?”
“Akutu dak galak ngeretoki awaktu. Tapi karno awak la oke, yo jadi bae …”
“ Oke …”
Na, cak itu Bay …
Samo koncotu galakla nulung …
Siapo lagila kalu bukan konco …
Betul dak  Brooo…?
Singkat cerito …
Lepas ashar, berangkatla lanang duwo ikokni ke rumah Wak Peng. Makek motornyo Mayang. Di sepan jang jalan dak berenti besiul dan bedendang, pecak budak ABG pacaran bae. Selamo di jalan ado-ado bae yang diceritoke. Mulaki dari sepan levis yang a duwo minggu dak kalo dicuci, apolagi digosok pakek areng, sampe lupo sikat gigi la sebulan ini.
Yang idak kalo lupo cuman sikok. Apokah itu? Idak lain, nyelipke kelepit di kantong celano. Ado dak ado duit, yang penting kembung. Dikembung-kembungke isi dompettu. Biar dijingok uwong beduit. Padohal isinyo kartu namo galo …
Belok kanan …
“Ngebut dikitla, Mat,” kato Lebay. Dio dak tahan nyelik motor motong galo-galo. Jalan pecak kilat nyamber pohon pete.
“Biarla Bay. Kapan lagi kito biso nikmati idup ini. Pagi bejualan. Malem mentas, dak olah besenang-senang cak ini …”
“Yo, ajakla Ningsihtu bejalan-jalan, Mat. Dak dengan Ningsih, dengan aku jadi. Kalu misalnyo kau takut dewekan, gek kurewangi. Atau kito samo-samo. Berempat jadi. Aku, awak, Ningsih dan Mayang …”
Belok kiri …
“Mat … Mat … rem dikit. Ado ayam nak nyabrang …”
Kok … kokok … kok … kokok … kok …
Untungla selamat galo-galo. Ayam tesabrang, bujang duwoni pacak terus ngelenggang.
“Ke kanan, Mat … Ngapo cak lupotu?”
Mamat ketawo bae …
Stooooop …!
“Sampela kito … " Uji Lebay turun sambil nyekeli buri motor supayo Mamat pacak melenggang turun dan markirke itu motor di buri toko besak pempek Wak Peng.
Plak … plak … plak …
Ruponyo la disambut denga tepuk tangan oleh Wak Peng dan Ningsih di ruang tamu yang besak. Ketawo lepas, saling salaman dan ngucapke selamat.
Selamat apo …?
Naik pangkat kali …
Bukan … bukan … dapet bonus …
Pastila … naik gaji …
“Selamet ya Bay en Mamat. Kamu beduwo la masuk tivi. Wak bae, la setuwoni lum pernah masuk jeru tivi …”
Ketawo libar.
“Ai Wak Peng. Ado-ado bae. Biaso baela, Wak.” Kato Lebay sambil nyicipi  pempek kapal selem yang tehidang di pucuk piring lengkap samo cukonyo …
Sedaaaap …
Nikmaaaaat …
Rugi dak makannyo …
Beceritola Wak Peng, kalu dalam watu dekatnila dio nak embukak cabang lagi di daerah. Jauh jugola dari tempat kito duduk ini. Masih sepi kalu dibandingke kantor kitoni.
“Untuk jagka pendek, lumla. Tapi jangka panjang, bagus prospeknyo. Menurut Wak …”
“Kiro-kiro …” Lebay dak ngelanjutke omongannyo karno lagi kelemakan ngirup cuko pempek iwak delek itu.
“Na … itula Wak ngundang kamu beduwo samo ponakanku, Ningsih, soreni …” Wak Peng melok ngembek pempek ada’an, langsung ditelen bulat-bulat.
“Gedungnyo la ado.  Walaupun kecik, alhamdulillah la punyo dewek. Yang lain gek kito susulke bae. Na, kepengen Wakni … yang ngurusnyotu kamu beduwo bae. Makmanola kiro-kiro?”
“Maksud Wak, aku samo Lebay, cak itu Wak …?”
“Kurang lebihla , Mat. Kalu kamu beduwo oke, Wak punyo sikok permintaan lagi …”
“Apola Wak. Omongke bae …” Uji Lebay besemangat.
“Aku nitipke ponakanku Ningsih. Makmanola. Galak dak kamu beduwo embimbingnyo?”
Mamat en Lebay saling masati. Dahtu samo-samo ngadepke rai ke Ningsih. Yang diadepi senyum-senyum bae …
“Kemarintu la kutanyo samo dio. Galak dak kau Ning? Jawabnyo, galak. Apolagi dio kan la tamat es em a. Kalu gektu disano dia pengen kuliah misalnyo, kuliahla. Wak senengla …”
Bepikir denget.
“Terus terang, Wak. Aku samo Mamatni setuju bae. Kalu pekaro Ningsih bukan hal yang besak. Cuman kami beduwoni nak nanyo samo uwak, apo yang kiro-kiro nak digaweke gektu di sano. Apo payah apo …?”
Ha ha ha ha …
“Abiskela duken pempek dos samo es campur kamutu,” uji Wak Peng. Dio ngongkon Ningsih nyiapke tigo gelas kopi item anget di dapur.
“Mudah bae Bay, Mat. Dak sulit dak. Wak la siapke tempat tiduk di buri toko. Lapangan untuk main tenis meja dan bulu tangkis. Pegawainyo gek ditambahke sikok duwo lagila  dari sini. Selebihnyo, kalu masih kurang, dari sanola. Tegantung kebutuhan kamu beduwola gektu. Bagian mano yang jadi prioritas, diduluke. Kalu soal gawean, kamu beduwo bebagi tugasla. Makmano caronyo pempek kitotu laku, banyak dibeli uwong. Syukur-syukur jadi primadona, besak dan luas jangkauan pemasarannyo …”
Kriiiing … kriiiing … kriiiing …
Telepon bedering. Disambut  lanang kecik tapi belagak. Si penelepon ngatoke ingin ketemu malem gek dengan  Wak Peng.
“Na … jadi, dak usah dipikirke igo. Siapke diri bae. Wak jugo tetap mantau dari sini … Sekali-kali enjingok makmano keadaan kamu gek di sano …”

                                                      ------ ---------- TAMAT  --------------------
  
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar