Pujangga …
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (Bag 27-29 = TAMAT)
BALIK dari acara pisah sambut siswa lamo dan baru kemarintu,
Lebay en Mamat diundang oleh pihak stasiun televise swasta lokal untuk
bincang-bincang seputar perkembangan seni budaya. Bincang-bincang itu dikemas
dalam tema ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya.’
Namonyo jugo lanang baru nak ngetop, bujang duwo ikoni dak
nulak lagi. Apolagi pihak stasiun televisi la payah-payah ngutus pegawainyo
ngantarke undangan.
“Ini namonyo rejeki, Bay. Kito dak boleh nulak en
nyia-nyiakenyo. Ngapo? Lum tentu dio
datang lagi gektu. Makmano nurut awak kiro-kiro, Bay?”
“Yo benerla kato awaktu, Mat. Yang penting sekarang kito dak
usah duken ngomong soal ini ke yang lain. Gektu jadi rame. Lebih baik kito
fokuske bae ke bincang-bincang itu …”
“Setuju. Akur kalu mak itu, Bay …”
Karno dak ado yang tau, selain Mamat en Lebay, dak katik
pulok yang meloki apolagi sampe ngeretoki budak duwoni. Ngenoke pakaian putih
celano item, keduwonyo, waktu la sampe di ruangan bincang-bincang, langsung
duduk di kursi yang tela disediake.
Rai ngadep kamera. Bekeringet dingin jugo, walau suhu
ruangan pakek AC. Daklamotu datangla Mbak Nita, presenter cantik bebakat, nyalami Mamat en Lebay, sebelum
akhirnyo ngambek tempat duduk di parak
Lebay.
Betigo bekelakar betok. Dahtu ketawo.
Kamera …
Eksyen …
“Selamat sore pemirsa di rumah. Sore hari ini kami sengaja
mengundang dua seniman berbakat, masing-masing Mamat dan Lebay…..”
Kamera bejalan …
“Selamat sore, Bung Mamat …!”
“Sore juga. Selamat sore pemirsa di rumah …”
“Selamat sore, Bung Lebay …!”
“Sore juga. Selamat srore pemirsa semuanya …”
Kamera endeket …
“Baiklah pemirsa. Tema bincang-bincang kita sore hari ini
adalah ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya’. Kita langsung saja ke Bung Mamat lebih
dulu …”
Kamera mundur …
“Bung Mamat, menurut anda, apa sih puisi itu sebenarnya?”
“ Puisi itu adalah bentuk kesusastraan yang paling tua.
Tradisi berpuisi sudah merupakan tradisi kuno dalam masarakat. Sejak
kelahirannya, puisi memang sudah menunjukkan ciri-ciri khusus seperti yang kita
kenal sekarang ini, meskipun sebenarnya puisi
itu tidak mengalami perkembangan dan perubahan dari tahun ke tahun …”
“ Saya akan mengutip pendapat penyair kita Sapardi Djoko
Damono. Menurut beliau, puisi itu adalah keterampilan berbahasa, seni
berkata-kata yang paling tinggi, yang paling canggih. Di sana setiap kata
adalah sesuatu yan bermakna. Tidak ada yang mubazir dari apa yang dituliskan
sang penyair. Disitu pula kelebihan puisi dibandingkan bahasa biasa atau karya
yang lain …”
“Puisi bagi saya, kata Sapardi, adalah sebentuk cara untuk
mengungkapkan yang banyak dengan cara yang paling sedikit. Bagaimana caranya
inilah yang menyebabkan tidak semua orang mampu melakukannya.
“Lantas, Bung Mamat. Gimana cara kita memahami sebuah puisi
itu?”
“Mungkin Bung Lebay yang duduk di sebelah saya ini bisa
menjelaskan lebih jauh, Mbak Nita.” Kato Ma mat ngelirik Lebay yang dari taditu
cuman senyum-senyum terus. Senyum dengan Mbak Nita, apo dengan pemirsa, dak
pulo jelas.
“Oke. Silakan Bung Lebay …”
“Terima kasih Mbak Nitaku … Begini, setiap puisi pasti
berhubungan dengan penyair. Karena puisi diciptakan dengan mengungkapkan diri
penyair itu sendiri. Puisi memberikan tema, nada, perasaan dan amanat. Rahasia
di balik majas, diksi, imaji, kata konkret dan verifikasi akan dapat
ditafsirkan dengan tepat jika kita berusaha memahami rahasia penyairnya.”
Ada suasana tertentu di saat seseorang dituntut untuk
berpuisi dan pada saat lain seseorang
dituntut untuk berprosa. Tuntutan pengucapan ini juga turut memberi warna
konkret prosa dan puisi.
“Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang
menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Dalam puisi kita berbicara
tentang dirinya sendiri …”
Memahami puisi dapat dilakukan dengan pendekatan
obyektif terhadap puisi-puisi besar yang
sudah sangat terkenal. Tapi dalam puisi-puisi yang gelap atau bersifat khas,
usaha pemahaman puisi tidak da pat memencilkan puisi sebagai suatu karya yang
bersifat otonom. Faktor dari luar turut dijadikan acuan pemahaman.
“Menghadapi puisi-puisi yang sukar dan belum termasyhur,
saya menganjurkan untuk mengikutsertakan faktor genetik puisi sebagai sumber
acuan untuk menelaah makna puisi. Faktor
genetik itu meliputi penyair dan kenyataan sejarah yang melatarbelakangi proses
penulisan puisi tersebut.”
Puisi yang gelap, uji Lebay,
dan sukar dapat ditafsirkan maknanya dengan lebih mudah jika kita mampu
memahami faktor genetiknya.
“Kalau prosa, Bung Lebay?”
“ Kalau prosa, pengarangnya tidak membicarakan dirinya
sendiri. Tapi juga berbicara tentang kisah orang lain, atau tentang dunia …”
“Oke , kembali ke Bung Mamat. Menurut Bung Mamat,
sejauhmanakah keterakaitan antara puisi
dengan sang penulis, dalam hal ini penyairnya?”
“Pada pokoknya puisi dibangun oleh dua unsur pokok, yaitu
struktur fisik, berupa bahasa yang digunakan dan struktur batin serta staruktur
makna yakni pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair.”
Kedua unsur ini , kato Mamat, merupakan kesatuan yang saling
berkaitan secara fungsional. Penyair mempunyai maksud tertentu, mengapa
baris-barisnya dan bait-baitnya disusun sedemikian rupa? Mengapa digunakan
kata-kata, lambang, kiasan dan sebagainya?
“Semua yang ditampilkan oleh penyair mempunyai makna, bahkan
karena yang digunakan adalah kata-kata yang dikonsentrasikan, yang dipadatkan,
maka semua yang diungkapkan oleh penyair harus bermakna. Tidak boleh
mengungkapkan sesuatu yang mubazir. “
“Baiklah, Bung Mamat dan Bung Lebay. Lalu, bagaimana
penerimaan masyarakat terhadap diri dan keberadaan penyair. Maksudnya, yach,
sambutan masyarakat terhadap penyair, apa menggembirakan atau justru
kebalikannya. Dicueki dan malah tidak dianggap sama sekali …?
“Ya, itulah yang patut kita sayangkan. Masih ada sebagian
dari masyarakat kita yang kurang peduli ter hadap jati diri penyair. Mereka
hanya melihat penampilan luarnya saja. Rambut gondrong, kusut, mandi jarang,
pakaian seenaknya dan sekenanya saja. Pakai sandal, merokok dan sedikit-sediki
kumpul, ngolor ngidul. Lantas baca puisi
yang isinya memperotes selalu, enggak kalangan tertentu, yang diprotes bia sanya
pemerintah. Padahal tidak semuanya begitu. Sebagian kecil, mungkin adalah. “
Sejujurnya, kata Lebay, penyair itu juga sama dengan profesi
lain. Mereka perlu makan, minum, bergaul dan masyarakat hendaknya tidak
memandang sebelah mata, apalagi sinis terhadap mereka. Kendati mereka tak ingin
dihormati, tapi paling tidak mereka itu diakui eksistensinya dan diberi ruang
untuk berkarya dan berkreasi …
“Bisa diperjelas lagi Bung Mamat tentang ucapan anda barusan .. Soal ruang me
ruang tadi misalnya?”
“Maksudnya, penyair kan tidak cukup hanya berkicau di dalam
gedung tertutup, serba terbatas. Tapi, be rilah mereka ruang untuk membacakan
karya yang mereka hasilkan di tempat-tempat umum terbuka, atau tempat tertentu,
semisal di stasiun kereta api, taman kota. Selain tentunya pentas berkelanjutan
di gedung seni pertunjukan ...”
Lembaga-lembaga pendidikan seperti rumah sekolah, pusat
kursus dan keterampilan, memberi kesem patan kepada penyair untuk berkiprah,
tampil membacakan puisinya. Para guru dan siswa harus mende ngar. Mungkin saja
buah pikiran dari si penyair bermanfaat untuk paling tidak demi kemajuan dunia
pendidikan kita.
“Perlu saya tambahkan sedikit, Mbak Nita,” simbat Mamat,
yang paling penting, baik pemerinth, swasta, BUMN dan segenap masyarakat,
lihatlah eksisten penyair secara utuh. Bukan sepotong-sepotong, agar bisa
dirasakan kehadirannya dan bermanfaat banyak bagi semua.”
“Teima kasih Bung Mamat dan Bung Lebay. Kita break dulu
sebentar. Ada iklan yang mau lewat ….”
--------------------------------------
Jangan Ngelamun Bae
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu
(28)
“BAIKLAH pemirsa sekalian. Kita lanjutkan bincang-bincang
kita pada sore hari ini dengan tema Lebih Dekat dengan Seni Budaya …”
Mamat en Lebay mulai tegang lagi. Taditu idak. Sempat
bekelakar dengan Mbak Nita.
“Bung Mamat dan Bung Labay. Kalian berdua. Kita tahu seni
budaya itu tidak cuma sebatas puisi. Banyak lagilah yang lain. Seperti seni
tari, drama, teater, seni lukis, pahat dan termasuklah seni suara. Eeeem …
Bagaimana kondisinya saat ini menurut bung berdua?”
Mamat duluan …
“Ada yang menggembirakan dan ada juga yang tidak menggembirakan.”
“Bisa diceritakan dan dicontohkan, Bung Mamat?”
“Yang menggembirakan, misalnya lagu daerah. Untuk saat ini
telah banyak bermunculan. Promosi lumayan gencar dan sepertinya sudah diterima
masyarakat luas. Mungkin, yach, entah karena jenuh dengan menjamurnya lagu-lagu
saat ini, lantas masyarakat ingin
sesuatu yang lain. Nah, lagu daerah mungkin bisa mengapresiasi suasana dan
hasrat tersembunyi masyarakat itu …”
“Yang tidak atau belum menggembirakan, apa saja Bung Mamat?”
“Banyak, Mbak. Kita bisa contohkan, seni lukis dan seni
pahat. Yang kita lihat, mereka yang tampil dalam ajang pameran dan sebagainya
itu kan boleh dibilang orang, pemain lama dalam arti lama dari segi usia maupun
pengalaman. Itu pun tidak semuanya. Nah, bagaimana dengan yang muda-muda, yang
enerjik dan berbakat. Karena sampai saat ini belum terlihat jelas. Samar-samar
mungkin. Muncul sebentar, setelah itu hilang entah ke mana. Begitulah
seterusnya. Sampai akhirnya tenggelam dan hilang sungguhan. Ada yang ganti
profesi, juga ada yang terpaksa hijrah
ke daerah lain …”
Lebay neruske …
“Kenapa?”
“Kenapa ini semua sampai terjadi, Bung Lebay?”
“Karena, menurut saya, tak ada kesempatan dan magang. Kita
yang uda-muda ini, walau saya sendiri, bukan ahli lukis dan pahat memahat,
terkadang bekerja sendiri. Artinya, buat ini itu, sampai mema sarkannya, kita
sendirilah. Mbak kan tahu, yang lain? Kita enggak tahu. Padahal mereka ka
nada.”
“Kurang komunikasi maksudnya?”
“Iya. Kurang lebih begitulah. Yang tua, tak salah toh
menghampiri yang muda. Kita bukan apa-apa. Na manya juga orang muda, rasa malu
dan segan, terkadang masih ada. Nah, kalau ada komunikasi kan lebih enak. Kita
bisa tahu apa kekurangan kita dan juga apa kelebihan kita. Dan yang paling
pokok adalah kesediaan yang tua mau membagi pengetahuan dan pengalaman kepada
yang muda. Dengan demikian kita saling isi mengisi. Yang muda misalnya, bisa
menerjemahkan keinginan dari yang tua, yang hingga kini belum terwujud …”
“Tadi disebutkan ada juga seniman yang terpaksa hijrah ke
daerah lain. Kalau boleh tahu, sejauhmanakah tingkat perbedaan masing-masing
daerah dalam mengapreiasi para seniman dari berbagai bidang keahlian ini?”
“ Begini Mbak. Harus diakui bahwa setiap daerah berbeda
tingkat penerimaannya terhadap seniman. Kota A umpamanya, katakanlah seni
lukis, benar-benar diperhatikan. Mulai dari kemudahan berkreasi, tempat mangkal
dan memasarkan karya hingga diskusi dan terbukanya kesempatan membagi ilmu dan
keterampilan kepada yang berminat. Jadi eksistensinya mereka benar-benar diakui
gitu lho. Dampaknya apa? Seni budaya
bergairah, pariwisata juga. Lapangan kerja baru tersedia, dan yang paling
penting, kehidupan seniman secara perlahan terangkat ke permukaan. Ttidak lagi
susah, melarat sampai akhir hayat.”
“Bandingkan misalnya, Mbak, dengan kota B. Sudah kehidupan
susah, dilirik pun tidak karya, jangan kan eksistensinya. …”
“Menurut Bung Mamat, di mana letak salahnya?”
“Di pengambil kebijakan, terutama …”
“Kenapa bisa begitu ya Bung Mamat?”
“Kita enggak ada niat nyalahin siapa-siapa gitu. Lagian ini
kan menurut pendapat saya, Mbak. Pendapat saya pribadi …”
“Oke-oke. Saya bisa mengerti. Mohon Bung Mamat lanjutkan …”
“Kenapa harus pengambil kebijakan. Karena suara mereka
didengar masyarakat. Misalnya, masyarakat diimbau jangan membuang sampah
sembarangan. Kena denda lho. Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi imbauan itu
didengarkan, Mbak. Buktinya, di tempat-tempat tertentu kawasannya bersih dan
benar-benar bebas sampah. Nah, begitu juga dengan seni budaya ini …”
“Apalagi jika nantinya pemerintah memperhatikan betul-betul eksistensi dan
keberadaan pekerja seni, mengakui dan menghargai mereka secara utuh. Saya yakin
seni budaya kita akan maju pesat dan tak kalah pesatnya dengan kemajuan yang
telah diraih oleh negara-negara lain di dunia …”
“Indah sekali ya Bung Mamat. Mudah-mudahan para pemirsa bisa
menyimak penjelasan Bung Mamat barusan …”
Mamat senyum-senyum bae …
“Pemirsa. Beralih kita ke Bung Lebay …Menurut anda, apa
perlu kalangan swasta dan pihak terkait lainnya turut serta menggairahkan seni
budaya kita saat ini?”
“Perlu sekali, Mbak Nita.”
Batuk-batuk kecik …
“Kenapa perlu? Karena pertama, keterbatasan pemerintah dalam
mengakomodasi aktivitas berkesenian di suatu daerah. Tugas mereka kan banyak,
semuanya prioritas. Enggak ada yang enggak prioritas. Nah, ini yang pertama.
Yang kedua, bisa ikut membantu permodalan, skill dan promosi. Ketiga, membantu
menyalurkan pekerja seni. Tepatnya, diajak bergabung , misalnya menjadi tempat magang kerja, pelati han,
tenaga lepas atau diperbantukan di perusahaan tertentu. Jadi keahlian mereka
termanfaatkan. Sayang kan, Mbak, kalau potensi yang mereka miliki tak kita
seksamai …”
“Terakhir, buat bung berdua … Ada pesan yang ingin
disampaikan barangkali buat pemirsa di rumah. Silakan …”
Mamat duken …
“Kepada para seniman, saya berpesan agar teruslah berkarya.
Jangan mudah putus asa. Binalah selalu hubungan dengan sesama. Jangan malu
untuk bertanya. Jangan sungkan untuk belajar. Jangan kikir untuk berbagi
pengetahuan dan pengalaman. Perluaslah networking. Bekerja samalah dengan siapapun demi kemaslahatan bersama.
Jangan sekali-kali merasa asing di tempat sendiri, dan mengasingkan diri. Kita
ini makhluk sosial. Tidak eksklusif. Menyendiri dan merasa diri paling pintar dan benar sendiri. Karena
selain merugikan diri sendiri, tindakan seperti itu membuat kita terisolasi yang pada akhirnya
turut menghambat eksistensi diri …”
“ Bung Lebay, silakan …”
“Saya pendek saja …”
“Panjang juga enggak apa-apa, Bung Lebay.”
Lebay ketawo libar …
“Kita para seniman harus mau mengoreksi diri, mengevaluasi
dan turut serta memberikan andil terhadap kemajuan bangsa ini dari sisi seni
budaya. Selalulah berkarya. Karena dengan karya itulah kita bisa membantu
sesama. Dengan karya itulah kita bisa terus eksis, terus memberi dan berbuat
baik kepada sesama hamba Allah SWT di dunia ini …”
--------------------------
Nrimo Tawakan …
Oleh Wak Amin
Musi Bebanyu (29)
“MAT … Oi Mat …!”
Sampe tigo kali Mang Lebay manggilnyo. Mamat baru nyetopke
sepeda pempeknyo. Dio noleh denget. Dahtu ketawo ngakak. Pecak ketawonyo wong
beduit, toke iwak besak.
“Akutu tadi ketemu dengan bos kau, Wak Peng di pasar iwak,”
kato Lebay, muterke sepedanyo nyabrang jalan, endeketi sepedanyo Mamat.
“Kito minggir dikit bae supayo lemak kito ngomong,” uji
Mamat negakke sepeda, beduwo duduk deket
tanggo rumah uwong.
Beceritola Lebay kalau Wak Peng ngundang ke rumahnyo sore
gek. Dak pulo dienjuk taunyo nak ngapo. Tapi yang jelas, rasan lemakla. Dak
katik apo-apo. Pokoknyo jangan dak datang …
Mamat lum nanggapi.
“Mun ujiku datangi bae. Gek kurewangi.”
Mamat baru pacak senyum.
“Niyan apo? Mecem dak cayo.
“Kitoni la lamo bekawan, Mat. Apo selamo kubekawan dengan
kautu aku pernah embohongi awak. Idak kan …”
“Bukan cak itu, Bay. Cuman … akutu ..”
“Buntu?”
“Ai kauni macak-macak bae. Buntu apo.”
“Kalu idak ngapo?”
“Akutu dak galak ngeretoki awaktu. Tapi karno awak la oke,
yo jadi bae …”
“ Oke …”
Na, cak itu Bay …
Samo koncotu galakla nulung …
Siapo lagila kalu bukan konco …
Betul dak Brooo…?
Singkat cerito …
Lepas ashar, berangkatla lanang duwo ikokni ke rumah Wak
Peng. Makek motornyo Mayang. Di sepan jang jalan dak berenti besiul dan
bedendang, pecak budak ABG pacaran bae. Selamo di jalan ado-ado bae yang
diceritoke. Mulaki dari sepan levis yang a duwo minggu dak kalo dicuci, apolagi
digosok pakek areng, sampe lupo sikat gigi la sebulan ini.
Yang idak kalo lupo cuman sikok. Apokah itu? Idak lain,
nyelipke kelepit di kantong celano. Ado dak ado duit, yang penting kembung.
Dikembung-kembungke isi dompettu. Biar dijingok uwong beduit. Padohal isinyo
kartu namo galo …
Belok kanan …
“Ngebut dikitla, Mat,” kato Lebay. Dio dak tahan nyelik
motor motong galo-galo. Jalan pecak kilat nyamber pohon pete.
“Biarla Bay. Kapan lagi kito biso nikmati idup ini. Pagi
bejualan. Malem mentas, dak olah besenang-senang cak ini …”
“Yo, ajakla Ningsihtu bejalan-jalan, Mat. Dak dengan
Ningsih, dengan aku jadi. Kalu misalnyo kau takut dewekan, gek kurewangi. Atau
kito samo-samo. Berempat jadi. Aku, awak, Ningsih dan Mayang …”
Belok kiri …
“Mat … Mat … rem dikit. Ado ayam nak nyabrang …”
Kok … kokok … kok … kokok … kok …
Untungla selamat galo-galo. Ayam tesabrang, bujang duwoni
pacak terus ngelenggang.
“Ke kanan, Mat … Ngapo cak lupotu?”
Mamat ketawo bae …
Stooooop …!
“Sampela kito … " Uji Lebay turun sambil nyekeli buri
motor supayo Mamat pacak melenggang turun dan markirke itu motor di buri toko
besak pempek Wak Peng.
Plak … plak … plak …
Ruponyo la disambut denga tepuk tangan oleh Wak Peng dan
Ningsih di ruang tamu yang besak. Ketawo lepas, saling salaman dan ngucapke
selamat.
Selamat apo …?
Naik pangkat kali …
Bukan … bukan … dapet bonus …
Pastila … naik gaji …
“Selamet ya Bay en Mamat. Kamu beduwo la masuk tivi. Wak bae,
la setuwoni lum pernah masuk jeru tivi …”
Ketawo libar.
“Ai Wak Peng. Ado-ado bae. Biaso baela, Wak.” Kato Lebay
sambil nyicipi pempek kapal selem yang
tehidang di pucuk piring lengkap samo cukonyo …
Sedaaaap …
Nikmaaaaat …
Rugi dak makannyo …
Beceritola Wak Peng, kalu dalam watu dekatnila dio nak
embukak cabang lagi di daerah. Jauh jugola dari tempat kito duduk ini. Masih
sepi kalu dibandingke kantor kitoni.
“Untuk jagka pendek, lumla. Tapi jangka panjang, bagus
prospeknyo. Menurut Wak …”
“Kiro-kiro …” Lebay dak ngelanjutke omongannyo karno lagi
kelemakan ngirup cuko pempek iwak delek itu.
“Na … itula Wak ngundang kamu beduwo samo ponakanku,
Ningsih, soreni …” Wak Peng melok ngembek pempek ada’an, langsung ditelen
bulat-bulat.
“Gedungnyo la ado.
Walaupun kecik, alhamdulillah la punyo dewek. Yang lain gek kito susulke
bae. Na, kepengen Wakni … yang ngurusnyotu kamu beduwo bae. Makmanola
kiro-kiro?”
“Maksud Wak, aku samo Lebay, cak itu Wak …?”
“Kurang lebihla , Mat. Kalu kamu beduwo oke, Wak punyo sikok
permintaan lagi …”
“Apola Wak. Omongke bae …” Uji Lebay besemangat.
“Aku nitipke ponakanku Ningsih. Makmanola. Galak dak kamu
beduwo embimbingnyo?”
Mamat en Lebay saling masati. Dahtu samo-samo ngadepke rai
ke Ningsih. Yang diadepi senyum-senyum bae …
“Kemarintu la kutanyo samo dio. Galak dak kau Ning?
Jawabnyo, galak. Apolagi dio kan la tamat es em a. Kalu gektu disano dia pengen
kuliah misalnyo, kuliahla. Wak senengla …”
Bepikir denget.
“Terus terang, Wak. Aku samo Mamatni setuju bae. Kalu pekaro
Ningsih bukan hal yang besak. Cuman kami beduwoni nak nanyo samo uwak, apo yang
kiro-kiro nak digaweke gektu di sano. Apo payah apo …?”
Ha ha ha ha …
“Abiskela duken pempek dos samo es campur kamutu,” uji Wak
Peng. Dio ngongkon Ningsih nyiapke tigo gelas kopi item anget di dapur.
“Mudah bae Bay, Mat. Dak sulit dak. Wak la siapke tempat
tiduk di buri toko. Lapangan untuk main tenis meja dan bulu tangkis. Pegawainyo
gek ditambahke sikok duwo lagila dari
sini. Selebihnyo, kalu masih kurang, dari sanola. Tegantung kebutuhan kamu
beduwola gektu. Bagian mano yang jadi prioritas, diduluke. Kalu soal gawean,
kamu beduwo bebagi tugasla. Makmano caronyo pempek kitotu laku, banyak dibeli
uwong. Syukur-syukur jadi primadona, besak dan luas jangkauan pemasarannyo …”
Kriiiing … kriiiing … kriiiing …
Telepon bedering. Disambut
lanang kecik tapi belagak. Si penelepon ngatoke ingin ketemu malem gek
dengan Wak Peng.
“Na … jadi, dak usah dipikirke igo. Siapke diri bae. Wak
jugo tetap mantau dari sini … Sekali-kali enjingok makmano keadaan kamu gek di
sano …”
------ ---------- TAMAT
--------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar