Lepas
Ki Saleh (2)
Edisi Kedua
By Pak Amin
VI
KEESOKAN malamnya, selepas salat Isya’, Mang Dul, Mang Kur dan
Mang Sen sepakat mendatangi ke diaman Eki dan Egi, menindaklanjuti pengakuan Mang Jaiz yang mengaku sempat
melihat sepintas wa jah perampok uangnya di tengah jalan sepulangnya dari
berdagang di Pasar Falah adalah Eki dan Egi.
Mereka bertiga sengaja tidak memberitahukan rencana ini pada
Ki Saleh, Mang Jaiz dan Mpok Leni. Se
lain karena tidak bakalan mendapat persetujuan dari ketiganya, juga Mang Kur
dan dua rekannya ini sudah sebal dan kesal dengan ulah preman pasar yang sudah
kelewat batas.
Mang Kur berboncengan dengan Mang Dul, sedangkan Mang Sen
sendirian bermotor. Karena Eki dan Egi tidak ada di rumah, mereka pun mencari
tahu lewat tetangga dan teman keduanya. Tidak sulit. Karena Eki dan Egi dikenal
akrab di tempat tinggalnya sebagai preman gaul.
Hampir satu jam mereka menelusuri kompleks kediaman Eki dan
Egi. Sampai akhirnya mereka menemu kan beberapa orang lelaki paruh baya sedang
kumpul-kumpul di pos jaga malam paling ujung kompleks. Ada yang merokok, minum
kopi, makan pisang rebus, bahkan juga ada yang sekadar duduk-duduk saja.
Menyimak obrolan jelang tengah malam.
“Itu mereka Mang Kur! Bisik Mang Sen memperjelas pandangan
ke sebelah kanan pos kamling. Dua le laki keluar dari sebuah lorong, bersiap
pergi meninggalkan pos yang tak pernah sepi saat malam tiba.
“Tunggulah dulu!” Kata Mang Kur. “Sebaiknya kita berangkat
setelah mereka berangkat.”
Lama juga motor bebek itu diengkol. Mulanya Eki. Sampai
sepuluh kali mengengkol, mesin motor tak juga mau menyala. Apalagi di-starter.
“Coba aku dulu,” gantian Egi mengengkol motor. Satu kali
engkol, motor pun tokcer.
Reeeen … reeeennn … reeeennn …
Piiiiiin … piiiin … piiin …
“Aku, apa kamu yang
bonceng ?”
“Kamu sajalah dulu,” kata Eki, meminta Egi segera
menjalankan sepeda motor.
Ketika berbelok ke kanan, Mang Kur, Mang Sen dan Mang Dul
melaju dengan kecepatan lambat, menyu sul dari belakang. Agar tak ketahuan dikuntit dari belakang,
mereka berpencar. Mang Dul dan Mang Kur mengambil jalan sebelah kanan,
sedangkan Mang Sen memilih sebelah kiri.
Eki dan Egi, keduanya ketawa ceikikikan setelah ditegur
beberapa lelaki seusia mereka, di ujung lorong. Tapi mereka tidak berhenti.
Motor tetap melaju diiringi candaan dan sindiran soal kawin, duit dan ke mana
malam minggu ini.
Ketika Eki dan Egi singgah sebentar di sebuah warung, Mang
Kur dan dua rekannya turut berhenti juga. Agak jauh posisinya. Dekat tempat
pembuangan sampah dan parit besar yang airnya tidak mengalir.
“Aduh … pak!” Mang Sen memukul paha dan pipinya.
“Kenapa Mang Sen?” Si penanya mau ketawa tapi ditahan.
Sebab, kalau dipaksakan ketawa juga, keberadaan mereka bakal diketahui Eki dan
Egi.
“Biasalah Mang Dul, nyamuk malam.” Kata Mang Sen, meraba
pipi dan pahanya yang sedikit benjol terkena gigitan nyamuk.
“Baru nyamuk udah kesakitan begitu. Gimana kalau anjing yang
gigit elu, Mang.” Sindir Mang Dul.
“Pasti ngaciiiiir …” Sahut Mang Kur.
Ha ha ha ha …
Sssssst …
Eki dan Egi sempat menoleh ke arah persembunyian mereka.
Namun keduanya tidak menaruh curiga karena gelap dan mungkin saja suara dari
teras rumah yang penghuninya lagi kumpul bareng bersama makan angin.
“Ayooo.!” Gantian Eki yang membonceng.
Mereka kini menuju tempat di mana biasa kumpul jika malam
minggu tiba. Mereka membawa sangu be rupa kacang kulit, makanan ringan dan
minuman botolan. Hal ini biasa mereka lakukan saat mau kumpul karena ada uang
untuk membelinya.
Teman-teman Eki dan Egi sudah pada mengumpul sejak tadi.
Melihat keduanya datang, mereka rebutan mengambil dan membuka sangu yang dikemas dalam kantong
plastik hitam besar itu.
“Udah, jangan rebutan gitu ah,” celoteh Eki yang membuka
dompetnya, memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada salah seorang
teman mereka untuk membeli nasi bungkus dan rokok.
Apa yang mereka lakukan pada malam ini?
Seperti biasa. Ada
yang tidur-tiduran, bermain hape, gaplek, catur dan memetik gitar. Mereka menem
pati sebuah rumah kosong dengan pekarangan yang cukup luas.
Di pekarangan yang ditumbuhi pohon mangga dan cermin itu,
ada gubuk besar. Di gubuk inilah tempat mereka bermain gaplek dan catur.
Mereka bermain lepas. Gaplek misalnya, sekadar bermain
kecuali mereka yang ada duit. Baru mereka taruhan. Kalau lagi bokek, apa yang
akan ditaruhkan.
Demikian pula hanya dengan catur. Ada yang sengaja membawa
papan catur dari rumah. Gantian ber main sampai tengah malam dan menjelang
subuh. Bagi mereka yang suka bernyanyi, gabung bersama rekan-rekan mereka yang hobi
dan senang bernyanyi. Lagu apa, mana suka dan sesuai selera. Tentu diiringi
petikan gitar dan tetabuhan ember plastik.
Cuma sayangnya, mungkin sekadar kebiasaan, ikut-ikutan dan
iseng karena sering diledeki teman-teman yang lain, mereka tak henti ‘kepas
kepus’ merokok. Kepulan asap membuat aroma tembakau plus niko tin menebar ke
mana-mana. Ditiup angin dan dihisap mereka yang ada di dekat rumah beratapkan
gen teng keramik tak jauh dari tempat kongkow-kongkow anak muda itu.
Ironisnya lagi, makin malam, beberapa di antara mereka mulai
meminum minuman terlarang. Bir hitam dan sejenisnya, berbotol-botol mereka
habiskan. Akibatnya, mereka teler dan dalam kondisi mabuk saat pulang ke rumah.
Walaupun tak sampai menimbulkan kegaduhan, ulah mereka ini tentu sangat memba
hayakan orang lain.
Paling tidak warga lain bisa terpengaruh dan ikut-ikutan
merokok serta mabuk-mabukan. Apalagi setelah dicoba, ternyata minuman botolan yang dibeli di warung itu,
enak dikecap dan membuat ketagihan un tuk menenggaknya.
“Bagaimana Mang Kur, apa kita tunggu atau langsung …?” Mang
Sen mengingatkan karena waktu terus berjalan dan jalanan semakin sepi.
“Menurutmu Mang Dul?” Mang Kur balik bertanya ke Mang Dul.
Dia lebih memilih menunggu, cuma sampai kapan. Sampai pagikah?
“Kita tunggulah sebentar lagi,” saran Mang Dul.
“Tapi dimana menunggunya Mang Dul?” Tanya Mang Sen.
“Ya disinilah …”
Mang Sen agak keberatan.
Juga dengan Mang Kur. Pasalnya, di tempat sekarang mereka bersembunyi,
gelap dan sepi karena rada jauh dari rumah warga.
“Kalau menurutku kita cari tempat lainlah.” Mang Sen
menawarkan sebuah warung dekat bengkel.
“Mang Kur?” Mang Dul setuju jika Mang Kur juga setuju.
“Setuju sih enggak aku,” ujar Mang Kur, “Tapi tak ada
pilihan lain selain yuk kita coba …”
Supaya tidak dicurigai, mereka memilih tempat duduk dekat
gerobak mie ayam. Mereka pesan mie tiga mangkok dan kopi manis tiga gelas.
Gerobak mie ayam itu teryata milik si tukang bengkel. Nyambi jualan biar asap
dapur tetap ngebul.
Sambil menunggu pesan mie ayam kelar dan siap saji, Mang
Kur cs menyempatkan diri ngobrol tentang
bisnis mie ayam, model, tekwan dan usaha kecil lainnya.
“Apa tidak terganggu dengan ulah anak-anak itu Pak?” Kaget mendapat
pertanyaan seperti itum,si pemi lik bengkel ini rada takut dan ragu-ragu untuk
menjawabnya.
“Gimana ya Pak?”
“Tapi aman-aman saja kan Pak?”
Pancing Mang Kur.
“Aman sih aman, Pak. Cuma itulah …” Kata si pemilik
bengkel garuk-garuk kepala.
“Rame y a Pak?” Mang Dul coba menebak.
“Betul sekali Pak. Tapi kami disini , yach pasrah saja,”
jelas lelaki berambut keriting itu dengan suara pe lan kuatir didengar Eki dan
kawan-kawan yang mulai bernyanyi mempermarak indahnya malam hari ini.
“Apa warga disini sudah mengingatkan mereka Pak?”
“Sudah … Pernah kita kasih tahu. Kasih pengertian sama
mereka. Tapi mereka tidak mau terima kayak nya. Mereka marah-marah. Kata
mereka, tak ada warga yang mengeluh. Mau mengusir mereka …”
“Ertenya sendiri gimana Pak?”
“Sama juga. Kata beliau, buat sementara ini kita biarkan
dululah. Tapi tetap diamati diam-diam dari kejauhan. Nah, setelah mereka
berulah dan sampai meresahkan warga, baru diambil tindakan …”
“Apa mereka orang-orang dari sekitar sini Pak?” Tanya Mang
Sen, tak sangka sudah dua gelas air kopi dia habiskan.
“Sebagian Pak. Itulah soalnya. Rumah mereka di sini juga,”
terang si penjual mie ayam ini ikut ngopi supaya enak dan nyambung ngomongnya.
“Yang sebagian lagi
Pak?” Mang Kur meminta satu gelas air kopi lagi agar terasa hangat badan ini.
“Bukan warga sini Pak,” jawab si pedagang. Menuangkan air di
ceret ke gelas. Lalu diaduk, dan gelas beling ukuran kecil itu diberkan kepada
pemesannya, Mang Kur.
Tiiing … tiiiing …
“Supaya enak kopinya,” aku Mang Kur saat ditanya Mang Sen
kenapa itu gelas ditabuh dengan sendok. Tak biasanya …
VII
“JALAN-jalan ke dusun
kito
Lihat cewek cindo galo
Kalu pengen senang di
waktu tuwo
Banyak-banyak makan
gulo
Alangke lemak sambal
itu
Dijual orang samo
tempoyak
Kalu hati senang
selalu
Banyak kawan duit
banyak
Main-main kito ke
ladang
Banyak nian bungo melati
Jangan lupo
bujang-bujang
Sebelum tuwo cepetla bebini
Sungguh elok kota
seberang
Banyak nian uwong
tepikat
Payu joget kito
sekarang
Supayo badan tetapla
sehat …”
Karena Radiman, bapak
penjual mie ayam berjoget, Mang Kur,
Mang Dul dan Mang Sen ikut pula berjoget. Tapi tidak lama, karena tembang yang
didendangkan anak-anak muda itu berakhir.
“Ingat waktu muda dulu ya Pak,” kata Mang Kur membuka
pembicaraan.
“Betul Pak,” kata
Radiman.
“Dulu, waktu masih bujang suka dengan yang namanya orkes
kampung. Ikut nyanyi dan berjoget. Tapi sekarang tidak lagi. Sudah tua. Apa
kata orang nanti. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.”
Ha ha ha ha …
Ketawa-ketiwi ini berhenti setelah dua anak muda pesan mie ayam. Keduanya tidak
menaruh curiga se dikit pun pada Mang Kur dan kedua rekannya. Sebab, bagi
mereka , ada atau tidak adanya mereka di tempat jajanan mie ayam, tidaklah
penting. Karena yang paling penting mereka bisa puas dan lega ber kumpul bersama.
Sebenarnya Mang Kur ingin menegur dua anak muda itu. Tapi
sikap mereka yang dingin dan urak-urakan dengan pakaian sengaja dirobek di
bagian dengkul, Mang Kur mengurungkan niatnya.
“Itulah anak muda sekarang Pak,” ucap Radiman setelah dua
remaja mie ayam dagangannya itu kembali
ke pelataran rumah kosong.
“Maksudnya sombong begitu Pak?” Mang Sen sekadar
menduga-duga saja.
“Bukan cuma itu Pak. Terkadang mereka berani ngutang,” kata
Radiman berterus terang.
“Tapi bayar kan Pak?” Mang Kur tak pula kaget mendengarnya.
Dimana-mana, yang namanya anak muda, tak jual barang, berani ngutang, kalau
lagi bokek.
“Kadang bayar, kadang tidak,” keluh Radiman, pasrah.
“Tapi tidak sampai macam-macam kan dengan bapak?”
“Alhamdulillah tidak, Pak.”
“Syukurlah,” ucap Mang Kur, “Kita pedagang ini hanya
berdagang. Dagangan laku kita dapat untung.
Tapi sebaliknya, jika tidak laku, ya kita rugi. Betul kan Pak?”
“Betul Pak. Makanya saya buka bengkel, warung dan mie ayam
ini. Supaya apa, supaya kita saling bisa menutupi kerugian. Kalau mie ayam saya
kurang laku, kan ada warung. Ruginya di mie yam tertutupi oleh warung yang
beroleh sedikit untung …”
“Bagus juga pemikiran
bapak,” puji Mang Sen.
“Belajar dimana sih
bapak?” Tanya Mang ingin tahu.
“Dari buku dan tanya pedagang yang suka berdagang Pak.
Biasanya mereka terbiasa dan mau berbagi dengan kita, pedagang yang kecil modal
ini,” jelas Radiman.
“Enggak ada rencana buka cabang di lain tempat Pak?” Pancing
Mang Kur.
“Rencana sih ada Pak. Tapi tempatnya itu yang belum ada.
Murah sewanya, tapi lokasinya jauh dari keramaian. Kadang lokasinya bagus,
dekat keramaian. Tapi harga sewanya selangit. Jadi ya terpaksa ditunda dulu
keinginan saya itu …”
“Tapi buka usaha di sini lumayan kan Pak?”
“Alhamdulillah. Saya maunya nanti usaha yang disini biarlah
anak dan isteri saya yang urus. Kalau rencana itu jadi, saya kan bisa usaha
lain.”
“Bapak kayaknya senang berbisnis ya?” Giliran Mang Dul yang
bertanya.
“Betul Pak. Saya senang karena orang tua saya dulu kerjanya
berdagang. Berdagangnya bukan menetap tapi berpindah-pindah ke tempat yang
lain. Kadang berhari-hari kami dagang di kampung yang lain. Ha bis dagangan
baru balik. Waktu itu saya masih kecil Pak. Belum tahu apa yang namanya dagang.
Seka rang, setelah saya sendiri yang berdagang, baru tahu kenapa orang tua saya
dulu mengajak saya berdagang. Mengajar ini itu. Rupanya bermnfaat bagi kemajuan
usaha saya …”
“Apa misalnya Pak?” Mang Kur menghisap dalam-dalam rokok
nipahnya.
“Misalnya bagaimana membina hubungan. Ayah saya bilang kalau
pedagang itu mau sukses, ya banyak-banyaklah berkawan. Tanpa pandang bulu. Tua,
muda, laki dan wanita. Pokoknya siapa saja. Kenalkan diri, apa yang
didagangkan. Jadi mereka kenal kita seutuhnya. Tidak sepotong-sepotong.”
“Yang lainnya apa Pak?”
“Jujur dan murah. Kalau kita tidak jujur maka kita akan
habis. Dagangan kita bakal dijauhi calon pembeli. Mereka tak mau lagi mendekat karena kita
telah khianat. Begitu juga soal harga. Jangan terlalu mahal. Untung sedikit tak
jadi apa. Lama-lama juga kan jadi bukit …”
He he he he …
Pembicaraan pun terhenti ketika sekelompok anak muda teman
Eki dan Egi kembali mendendangkan tembang bernada gembira …
“Hidup membujang enak
Kemana saja tak ada
yang melarang
Katik duit minta ke
emak
Ado duit ayo kito besenang-senang
Alangke sedep tekwan
itu
Sudah sedep murah pulo
Alangke cantik gadis
itu
Kapan ditegur senyum
pulo
Kacang dimakan sama
gulo
Jangan lupo minum kopi
Kalu kito pengen kayo
Cari bini yang banyak
piti
Cindo nian gadis itu
Sudah cindo dio ramah
Supayo kito senang
selalu
Rajin bebagi supayo
berkah
Alangke dingin malam
ini
Minum kopi anget
rasonyo
Kalu kito terus mak
ini
Pacak saro kalu la
tuwo
Kalu ngantuk cepatla
tiduk
Bangun gek badan segar
Supayo idup dakdo
terantuk
Rajin nonton komedi
putar
Bagus nian rumah itu
Sudah tinggi bepagar
pulo
Aku sayang adik dari
dulu
Mak mano adik dengan
kakando
Lemak nian pempek itu
Dimakan beduwo
samo cuko
Duhai adik ngapo
tesipu
Nyingok kakak dak
becelano
Mulus nian rai budak
itu
Kapan bejalan elok dipandang
Baru kawin belum
seminggu
Idak beduwit langsung
ditendang
Kalu bedandan jangan
lamo
Yang nunggu bakal saro
Kalu nak ketemu cinto
lamo
Sering-seringla ngirup
cuko
Badan besak kuat makan
Badan kecik tahan
lapar
Apo di hati cepat
omongkan
Biar kando dak
nyasar-nyasar
Nangkap ikan di
pinggir sungai
Idak juwaro seluang
jadila
Kalu kito bagus
perangai
Budak gadis datang
tula
Rame-rame makan ubi
Ubi dimakan samo gulo
Ujan turun sedenget
lagi
Kami bereja nak balik
pulo …”
Tar .. dum .. tar …
Geledek terdengar. Hujan pun turun. Eki dan Egi, bersama
anak muda yang lain mendadak membubar kan diri. Ada yang berlari pulang ke
rumah. Tapi tak sedikit juga yang berteduh.
Sedangkan Egi dan Eki pulang di tengah guyuran hujan yang turun amat
lebat.
Bagaimana dengan Mang Kur cs?
Sudah terlambat. Selain hujan tak kunjung reda, malah
semakin lebat. Motor diengkol tak mau nyala.
Akhinya itu motor masuk bengkel. Bukan karena rusak, supaya tidak
terkena tumpahan air hujan dari talang yang menyembur ke parit.
Parit dipenuh air, sementara jalanan mulai banjir. Mula-mula
sebatas telapak kaki, lama kelamaan se makin meninggi. Sampai ke lutut.
Beberapa warga sibuk mengemasi barangnya seperti motor, mobil, kursi dan
peralatan memasak karena kuatir air bakal masuk ke dalam rumah mereka.
VIII
HA HA HA … Hi hi hi … Hu hu hu …
Hek .. hek … hek …
Sampai batuk-batuk Mang Jaiz mendengar cerita Mang Dul, Mang
Kur dan Mang Sen. Saking tak bisa me nahan ketawanya, air minum di mulut Mang
Jaiz sempat tumpah ke lantai, batuk-batuk sebentar, lalu ketawa lagi.
“Makanya kalau ada apa-apa ngomong dululah sama kita,” kata
Mang Jaiz, mempersilakan ketiga rekan nya minum air kopi manis dan goreng ubi serta pisang.
“Ya, kalau diomongi sama kamu, pasti enggak bakalan kamu
izinkan, Mang Jaiz. Lagi pula tak tega kami lihat kamu kepala diperban
sementara yang hendak kami kerjakan dikasih tahu. Bisa-bisa nambah sakit kamu,”
jelas Mang Dul.
“Betul kata Mang Dul itu,” sahut Mang Kur. Bukan apa-apa Iz.
Maksud kita baik. Mau kasih pelajaran sa ma mereka. Biar mereka tak
semena-mena. Syukur-syukur nantinya mereka insyaf dan menjadi orang baik. Betul
enggak Mang Sen?”
“Betul sekali. Sebab, yang saya kuatirkan, jika mereka
dibiarkan akan terus menjadi-jadi. Bukan tidak mungkin akan memakan korban
lagi. Kemarin-kemarin kamu, Iz. Besok siapa tahu giliran kami bertiga,” kata
Mang Sen. Dia berharap tidak jatuh korban lagi.
Apa mungkin?
“Mungkin saja,” ucap Ki Saleh. Tak sempat mengetuk pintu
lagi karena pintu kayu berlapis triplek itu sudah terbuka lebar.
“Ai kamu Ki. Kami cari kemana-mana kamu tak ada,” celoteh
Mang Dul.
“Memangnya Ki sembunyi dimana sih?” Tanya Mang Kur.
Kerongkongan terasa kering, ia tak melanjut kan ucapannya, tapi cepat-cepat
menyeruput kopi dengan nikmatnya.
“Habis ngantar pulang orang rumah. Aku beli obat, terus
pulang lagi ke rumah. Aku lihat kalian bertiga tadi di jalanan simpang lima.
Sempat berhenti beli jeruk manis kan?”
“Wah-wah .. betul sekali Ki,” jawab Mang Sen. “Tapi kenapa
kamu enggak panggil kami. Biar kita sama-sama ke rumahnya Mang Jaiz.”
“Maunya sih begitu. Tapi aku kan buru-buru pulangnya,” jelas
Ki Saleh.
Perbincangan terhenti sejenak ketika isteri Mang Jaiz muncul
dari dapur ke ruang tamu membawa secangkir kopi hangat berikut petekon keramik
berisi air kopi.
“Silakan Ki diminum air kopinya. Mumpung lagi hangat. Maaf
cuma air doang dan sedikit pisang,” kata isteri Mang Jaiz ramah.
“Ini sudah lebih dari cukup Mbakyu,” kata Ki Saleh,
mencicipi gorengan pisang. Terasa nikmat dan ha ngat di kerongkongan.
“Bagaimana Ki, enak kan?”
“Enak sekali Mang Jaiz,” aku Ki Saleh.
“Airnya juga sekalian Ki. Diminum sampai habis,” tawar
wanita berparas manis itu sebelum berlalu pergi menuju dapur.
Ha ha ha ha …
“Pelan-pelan ya Ki. Bisa hangus lidah kamu,” seloroh Mang
Dul dan Mang Kur.
“Bisa enggak punya bibir lagi kamu Ki nantinya,” timpal Mang
Sen. Ikut menyeruput kopi dan pisang goreng.
He he he he …
Sesaat dalam lamunan masing-masing.
“Ki, bagaimana menurut kamu …?” Mang Sen membuka pembicaraan
perihal rencana memberi pelajaran pada Eki dan Egi, anak buah preman Sakul.
“Begini Ki,” potong Mang Dul. “Kita kan sudah tahu pelakunya
itu adalah Eki dan Egi. Nah, semalam kami membuntuti mereka. Dapat. Tapi
setelah kami tunggu .. eeeh kecolongan Ki. Pas hujan lebat, geledek
menggelegar, mereka pada bubar.”
“Itu artinya perbuatan kalian itu tak baik,” jelas Ki Saleh.
“Tak baik bagaimana Ki?” Mang Dul terheran-heran. Bukannya
didukung .. eee malah dibilang tak elok.
“Kenapa tak elok? Karena perbuatan kalian itu dikatagorikan
main hakim sendiri. Walaupun mereka berdua itu benar telah merampok uang dan
memukul Mang Jaiz, tetap saja kalian yang salah jika main hakim sendiri.”
“Apalagi sering terjadi, main hakim sendiri itu melebihi tindakan tahap pertama. Maksudku,
mereka berdua kan merampok dan memukul kepala Mang Jaiz, lantas kalian balas
dengan membabak belur kannya, malah ditujah juga sampai tak sadarkan diri
karena mengeluarkan banyak darah …”
“Tapi Ki itu tidak seberapa. Sebab Ki, ini terus terang,
uang yang dirampok itu tidak banyak. Tapi Ki Saleh kan tahu bagaimana Mang Jaiz
memperoleh uang itu dengan bersusah payah. Itu bukan uang untung Ki. Itu uang
dari jual buah-buahan. Uang modal. Hilang semuanya Ki. Coba Ki bayangkan, itu
uang sakit. Kenapa enggak sakit. Modal
hilang, untung pun melayang, apes deh.” Terang Mang Dul berapi-api.
“Kami Ki bukan bermaksud membela Mang Jaiz, rekan kita ini.
Tapi Ki, ingin memberitahu orang-orang bahwa perbuatan yang dilakukan Eki dan
Egi itu tak elok dan tak patut dicontoh. Nah, kita ingi memberi pelajaran
kepada dua preman itu bahwa apa yang telah mereka lakukan pada Mang Jaiz sangat
salah dan tidak manusiawi. Selain nasihat kita juga ingin mereka mengakui
kesalahan dan meminta maaf. Itu saja Ki. Tidak ada niat dari kami untuk
menghabisi mereka. Kami tahu itu dosa Ki Saleh,” jelas Mang Sen.
“Syukurlah kalau kalian sudah tahu itu dosa. Tidak baik
tetaplah tidak baik. Semuanya ada konsekuensi nya. Jika kalian tidak apa-apakan
mereka, maka kalian dianggap sukses menyadarkan orang yang salah. Tapi jika
kalian melakukan apa-apa, risikonya tidak
ringan. Kalian akan ditahan oleh pihak berwajib karena telah melakukan
kesalahan,” terang Ki Saleh.
“Penjara Ki?” Mang Sen menduga-duga.
“Betul. Walaupun kalian lari, tetap akan dicari sampai dapat,”
terang Ki Saleh, menuangkan air kopi dari petekon ke gelas plastik berwarna
hijau.
“Tapi Ki,” kata Mang Dul, apa mereka kita biarkan saja
sekarang?”
“Tentu saja tidak,” jawab Ki Saleh. Dia mengernyitkan dahi
sejenak, seolah ada sesuatu yang ia pikirkan matang.
“Saya punya usul Ki,” potong Mang Sen mengangkat jari
telunjuk tinggi-tinggi. Jari telunjuk itu diturun kan paksa oleh Mang Dul, Mang
Sen kesakitan.
“Sakit Mang Dul ah,”
ucap Mang Sen, mengusap-usap jari telunjuknya yang masih terasa nyeri bekas
tarikan tangan Mang Dul.
“Apa usulnya Mang Sen?”
Mang Sen meniup-niup jari telunjuknya, lalu berkata …
“Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?”
“Jangan Ki.” Mang Dul tak setuju karena akan buang-buang
waktu. Takutnya, apa yang mereka laporkan dianggap tidak benar dan mengada-ada
oleh terlapor.
“Mang Dul punya usulan?”
“Ada Ki,” sahut Mang Dul. “Bagaimana kalau kita lapor saja
ke kepala keamanan pasar. Mana tahu bisa terang dan selesai masalahnya. Setuju
tidak teman-teman?”
Ada setuju, ada juga tidak. Karena yang tidak setuju cuma
Mang Sen, yang setuju tiga orang, sehingga skornya menjadi 3-1, berarti
dianggap setuju.
“Mang Sen, masih tetap tidak setuju?” Tanya Ki Saleh.
“Bukan tidak setuju Ki. Cuma aku ragu dengan keberanian
beliau mengambil tindakan. Maksudku begini Ki. Sekarang kita lapor pada Pak
Kepala Keamanan Pasar. Nah, maksud dari kita melapor adalah agar ya ng terlapor
bisa diambil tindakan tegas. Bila perlu dipecat saja mereka. Dibubabarkan para penagih
uang keamanan itu. Ditertibkan. Jadi uang yang ditagih resmi dan hanya satu
kali. Apakah mau Pak Ketua kita itu bertindak tegas seperti itu?”
“Eeeeem … “ Ki Saleh berpikir sebentar, lalu ia berkata …
“Sekarang terpulang kepada Mang Jaiz sendiri. Aku tanya Mang Jaiz, sekiranya
tidak diambil tindakan, hanya saling memaafkan, apa mamang tidak ber keberatan?”
Mang Jaiz batuk-batuk kecil.
“Kalau aku tak keberatan Ki.” Sebab, kata Mang Dul, yang
penting Pak Ketua tahu apa keinginan
kita. Ki ta ingin kesalahan yang dilakukan Eki dan Egi tidak sampai terulang
lagi. Itu saja.”
“Mang Kur?”
“Aku sangat setuju dengan omongan Mang Dul barusan. Cuma
kita minta juga ada penertiban menye luruh. Kita dorong Pak Kepala Pasar
membenahi pasar dari segi keamanan pasar. Untuk itu, tak ada sa lahnya jika
nanti bukan kita saja yang menghadap beliau. Tapi juga pedagang lain. Agar
mereka tahu bagaimana kondisi Pasar Falah sebenarnya.”
“Mang Sen?”
“Sedikit aku tambahkan. Jika sekiranya nanti Pak Kepala
Keamanan Pasar mengembalikan kepada kita penyelesaiannya, maka sebaiknya kita
terima saja dengan syarat beliau mendampingi dan menyaksikan nya …”
“Mang Jaiz sendiri?”
“Sebaiknya kita habisi saja dulu gorengan ini Ki, biar Mang
Jaiz berpikir dulu …” Saran Mang Dul, memin ta ketiga rekannya menyikat habis
gorengan ubi dan pisang.
Kreseeek ..
Reseeek …
Tiiing …
Sekejap tak bersisa lagi. Piring seng yang semula dipenuhi
gorengan ubi dan pisang, kini kosong kembali. Karena harus berebutan mengambil gorengan ,
ada yang sampai keselek, lalu buru-buru minum. Juga cegugukan, terbatuk-batuk,
bahkan ada yang cuma melongo tak kebagian gorengan lagi.
Siapa dia?
Dialah Mang Jaiz.
IX
PERTEMUAN dengan kepala keamanan pasar, Sakil berlangsung lancar
dan disambut suka cita oleh para pedagang pasar, khususnya Mang Jaiz. Diperoleh
kesepakatan para preman atau tukang tagih uang keamanan pasar harus menggunakan
karcis dan hanya sekali dalam sehari.
Namun demikian, pedagang yang punya kelebihan uang, dipersilakan
memasukkannya di celengan pa sar yang telah disediakan. Uang sumbangan sukarela itu diperuntukkan
bagi kebersihan pasar atau apa saja yang
berkaitan dengan keamanan, kerapihan dan kenyamanan pasar.
Pertemuan itu juga menyepakati bahwa setiap pedagang tidak
dipebolehkan mempermainkan harga jual kepada pembeli. Sebaliknya harus seragam
dan ini berlaku bagi semua pedagang di Pasar Falah, baik yang menempati lapak, kios maupun pertokoan.
Jadi sejak pertemuan ini tidak ada lagi pedagang yang seenaknya
menetapkan harga. Jika ada maka pem beli
bisa melaporkan kejadian yang ditemukan itu ke kepala keamanan pasar
atau pengelola pasar un tuk secepatnya ditindak lanjuti. Bila perlu, jika masih
ada pedagang yang membandel, dipersilakan pergi dan tidak boleh lagi berjualan
di Pasar Falah dan sekitarnya.
Pedagang Pasar Falah boleh membentuk koperasi bersama.
Tujuan dari pembentukan koperai ini adalah untuk kesejahteraan para pedagang
itu sendiri. Koperasi bisa dijadikan tempat meminjam dan me nyim pan serta pada
Hari Raya Idul Fitri misalnya, semua pedagang mendapat jatah bonus lebaran
berupa sembako, uang dan sejenisnya.
Selain koperasi, setiap pedagang punya hak dan kewajiban
untuk menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan pasar. Keluhan yang ada,
walau kecil dan tidak seberapa besar gaungnya, dipersilakan me nyampaikannya ke
pengelola pasar. Keluhan itu segera ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan
preseden yang kurang baik di kemudian hari.
Sebelum mengakhiri pertemuan itu, Pak Sakil mengingatkan
para preman untuk tetap diperbolehkan berkiprah di Pasar Falah secara legal.
Pungutan-pungutan yang tak resmi tak boleh ada dan terjadi lagi.
“Silakan kalian tetap berada di sini. Tapi jangan sampai
meresahkan dan mengganggu orang lain, baik itu pembeli maupun pedagang,” jelas
Pak Sakil.
“Tapi Pak, bagaimana kami makan dan minum kalau jatah kami
diambil?” Tanya Bos Sakul.
“Tak ada jatah kalian yang diambil. Selama ini kalian telah
melakukan kesalahan besar dengan memu ngut uang siluman kepada para pedagang.
Kalian mengerti tidak dengan omongan saya ini?”
“Budek Pak,” seloroh para pedagang ketawa lebar.
“Kami mengerti Pak.
Cuma kerjaan kami nanti apa ya Pak. Ini tidak boleh, itu dilarang. Habis
deh lokak kami,” keluh Yanto.
“Makanya cari kerjaan sono. Jangan mau enaknya saja, ya
enggak kawan-kawan?” Seorang pedagang tahu mengangkat kedua tangannya. Dia
ingin sesama penjual tahu bernyanyi, sayang tidak diperboleh kan Pak Sakil.
“Saya punya usul Pak Sakil,” kata Ki Saleh menengahi
persoalan yang bila tidak segera diatasi akan me nimbulkan hal-hal tak terduga
nantinya.
“Silakan Ki.”
“Saya punya usul begini. Tadi sudah dijelaskan abang-abang
kita ini. Kalau dulu dapat uang dengan cara menagih, sekarang tidak lagi. Saya
usul bagaimana kalau mereka ini diajak saja berdagang.”
“Setujuuu.” Spontan pedagang berteriak.
“Biar mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jangan
mau gampangnya saja,” celetuk pedagang
berambut keriting.
“Enggak mau Pak Sakil,” sahut Eki.
Ha ha ha ha …
“Ketahuan … mau enaknya saja,” teriak pedagang kerupuk
kempelang ikan betook.
“Kenapa Eki tak mau?” Pak Sakil bertanya, walau sebelumnya
dia sudah menduga tak bakalan mau para preman diajak berdagang. Sebab,
kebanyakan dari mereka pilih yan serba gampang dan cepat dapat duit.
“Tak punya bakat Pak,” aku Eki, sedikit gugup karena terus
menerus diolok-oloki pedagang.
“Wuuuu … alesan. Bilang aja .. mau enak … makan enak dan
duit banyak.” Teriak pedagang yang biasa mangkal di depan Pasar Falah.
“Lu bilang preman. Harusnya kuat, tahan banting lu. Bukan
kayak anak kecil. Sebentar-sebentar menge luh dan sedikit-sedikit buntu
bilangnya.” Sindir pedagang berpantat teos.
“Kalau tak punya bakat, rasanya sebagian besar pedagang
Pasar Falah ini tidak berbakat. Betul tidak bapak-bapak?”
“Betuuuuuuul …” Jawab pedagang manisan.
“Yang ada itu tekad dan kemauan. Percuma juga ada bakat kalau tak ada tekad
dan kemauan. Pemalas. Maunya serba enak,” jelas Pak Sakil.
“Mungkin kita dengar dulu. Maunya saudara Eki ini apa.” Ki
Saleh ingin Eki dan rekan preman lainnya mau berterus terang. Terbuka dan maunya apa.
“Kami ingin seperti yang dulu Pak Sakil dan Ki Saleh,” jelas
Eki yang diamini Bos Sakul, Yanto dan Raffi.
Haaaaa …
Pada bengong yang hadir.
Pak Sakil kemudian berdiskusi sebentar dengan Ki Saleh dan
beberapa petugas pasar. Sementara Bos Sakul harap-harap cemas dengan mata
pencaharian mereka, para pedagang beragam tanggapan. Ke banyakan dari mereka
tak ambil pusing dan mengharapkan pertemuan segera diakhiri karena telah me
nyita banyak waktu, pikiran dan usaha mereka yang setengah hari digunakan
untuk duduk di kursi dan lesehan mendengar keluhan, keinginan dan
solusi.
“Baiklah saudara-saudara sekalian,” kata Pak Sakil, “Kami
menawarkan kepada saudara Sakul dan ka wan-kawan agar mengelola parkir dan ikut
mengurusi keamanan pasar. Setujukah saudara-saudara dengan tawaran kami ini?”
“Setuju banget …”
“Setuju dong …”
“Setuju syarat …”
“Nah, nah pakai setuju syarat pula. Apa maksudnya?”
“Setuju, tapi syaratnya tidak mengganggu kami lagi,” kata
pedagang manisan dan serba gorengan.
“Kami kembalikan pada saudara Sakul dan kawan-kawan.
Bagaimana? Diterimakah tawaran kami?” Tanya Pak Sakil yang mulai kegerahan.
Keempat preman ini
mengangguk senang.
“Setuju dengan syarat yang diajukan tadi?”
“Setuju Pak Sakil,” jawab mereka serempak.
Jelang Magrib, pertemuan itu berakhir. Namun keesokan
harinya, jelang makan siang, terjadi keributan di depan pasar. Orang pada
berkumpul. Kenapa? Salah seorang pengemudi motor yang memarkirkan motornya di
tempat parkir tak mau membayar ongkos parkir.
“Kita sukarela saja Pak. Andaikata bapak tak punya uang tak
apa-apa . Tak usah bayar,” kata Yanto men coba bersikap ramah.
“Saya bukannya tak punya uang. Tapi saya tak mau bayar
parkirnya. Mengerti?”
“Mengerti Pak.”
Praaak …
Sebuah sepeda motor yang baru masuk pasar menabrak motor pria
yang ogah bayar ongkos parkir. Dia mencak-mencak. Terjadi keributan. Adu mulut
dan saling ejek.
“Lajukela …”
“Lanjakkela …”
“Kelepakkela …”
Karena tersulut emosi dari orang-orang di sekitar pasar, dua
lelaki paruh baya berbadan lumayan kekar itu, akhirnya berkelahi. Sama-sama
kena. Muka, dada dan perut.
Tapi untunglah anak buah Pak Sakil dan Bos Sakul segera
melerai.
“Sabar Pak. Sabar,” ucap Ki Saleh yang datang kemudian
setelah dilapori para pedagang.
“Dia duluan Pak,” kata lelaki bertahi lalat di dagu dengan
tangan masih mengepal hendak memukul.
“Dia duluan Pak,” sanggah lelaki besar pantat yang nyaris
baku hantam dengan anak buah Bos Sakul barusan.
“Dia Pak. Sudah tahu orang mau lewat, motornya sengaja
menghadang jalan agar orang tak bisa lewat. Apa ini jalan nenek moyang lu
haaa?”
“Kalau iya kenapa?”
“Itu artinya nenek moyang lu gila.”
“Apa kamu bilang?”
“Gilaaa …”
Drug .. bak .. buk …
Belum sempat melontakan pukulan balasan, si pantat besar
terjatuh ditimpa motor karena pelintiran tangan Ki Saleh yang berhasil menahan
pukulan yang hendak dilayangkan.
Hua ha ha ha …
“Kualat lu … pantat besar, “ejek beberapa lelaki tukang ojek
yang biasa nongkrong di Pasar Falah.
X
KETIKA pulang dari Pasar Falah, Ki Saleh sudah dihadang si
pantat besar di simpang tiga tugu
rakyat. Tanpa sengaja, Mang Jaiz yang pulang belakangan sempat melihat rekannya sesama pedagang itu
memarkirkan motornya di pinggir jalan.
Dengan cepat Mang Jaiz mendorong sepedanya, lalu
berhenti di dekat sebuah gubuk kosong
tak jauh dari rumah warga. Ia amati dari jauh, sekitar tiga puluh meter. Ki
Saleh tampak mendekati si pantat besar yang sempat mengamuk di Pasar Falah
tadi.
“Kamu merasa jagoan ya?” Si pantat besar mengangkat dagunya
dengan ekspresi mengejek.
“Tidak,” jawab Ki Saleh tetap tenang.
“Lantas kenapa ikut-ikutan membela si pengendara motor itu?”
“Tidak bela-bela Pak. Saya hanya berusaha menyapih saja.
Sebab, kalau tidak saya sapih, kalau terjadi apa-apa pada kalian, kan ikut
susah juga saya,” terang Ki Saleh.
“Ah alasan … Kalau cuma mau menyapih, kenapa kamu
pelintir-pelintir tangan saya. Kan cukup dengan ditegur misalnya?”
“Kalau tidak saya tahan lalu dipelintir maka si pengendara
motor akan terkena pukulan bapak. Bapak kan ingin memukulnya. Masa saya diamkan
saja.”
“Ya cukup ditahan saja. Jadi saya tidak sampai jatuh dan
diketawai banyak orang. Saya malu
Pak. Harus dikemanakan muk saya yang
ganteng ini …”
“Lalu maksud bapak apa?”
“Saya minta kamu meminta maaf,” kata si pantat besar.
“Kalau tak mau?”
“Akan saya hajar kamu,” ancam si pantat besar, bersiap
hendak memukul Ki Saleh.
Hiyaaat …
Husyaaa …
Satu dua pukulan dilepaskan si pantat besar, tidak ada yang
mengena. Ki Saleh tidak menahan, apalagi
membalas pukulan itu. Dia hanya menghindar dan setiap kali pukulan yang
dilayangkan. Merasa diper mainkan, lawan
melepaskan tendangan dan pukulan secara membabi buta.
Siyuuuu t…
Gedebug …
Huuuih .. hik …
Mang Jaiz ketawa geli. Agar tak ketahuan mengintip, dia
tutup mukanya dengan telapak tangan. Dia merasa geli karena si pantat besar
jatuh ke tanah.
Kaki kanannya menginjjak kulit pisang ambon saat menendang
dengan cara memutar badan. Hilang ke seimbangan dan jatuh. Untung tidak kepala
yang kena tanah, hanya punggung dan pantat saja. Jika ke pala sampai membentur
tanah, si pantat besar bisa koma dibuatnya.
“Anjing kamu!” Umpat si pantat besar setelah bersusah payah
berdiri dan siap meladeni Ki Saleh.
Ki Saleh tidak menanggapi umpatan itu. Dia cuma meminta
lawannya itu menyadari kesalahannya dan melupakan kejadian tadi siang.
Hiyaaat …
Dia arahkan pukulan ke dada, dagu, muka dan perut. Ki Saleh
hanya senyum-senyum sendiri melihat
lawannya ngotot unjuk kebolehan.
Berdiri di depan Ki Saleh, dia menggerakkan kedua tangannnya
silih berganti ke depan, kanan, kiri, atas dan bawah. Juga dengan kedua
kakinya. Diangkat bergantian ke atas. Lalu bergerak ke kanan dan kiri. Maju
serta mundur lagi beberapa langkah.
Husyaaa …
Husyaaa …
Hiyaaat ..
Praktis Ki Saleh cuma menonton. Dia hanya diam menyaksikan
si pantat besar pamer ilmu silat. Mang Jaiz hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Ingin dia mendekati Ki Saleh. Tapi keinginan itu ia tunda.
Karena ia ingin melihat kelanjutan pertarungan antara Ki
Saleh dan si pantat besar. Hampir lima menit tak ada juga perkelahian. Ki Saleh
masih berdiri mematung sedangkan lawannya masih asyik dengan pamer kemamuannya memainkan jurus silat.
Hiyaaat …
Teriakan Ki Saleh membuat lawannya makin bersemangat pamer
ilmu silat. Kalau tadi dia lebih banyak berdiri, jongkok, maju dan mundur, lalu
bergerak ke kiri dan kanan. Kali ini dia sudah melompat-lompat dan melayangkan
pukulan ke depan dan belakang.
Husyuuu …
Si pantat besar koprol, berguling-gulinagan ke tanah sambil
melepaskan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Beberapa kali ia memutar
lehernya sampai ia berdiri nyaris jatuh sempoyongan.
“Kampreeet. Kamu ngerjain saya haaa …” Umpat si pantat
besar.
Kali ini ketawanya Mang Jaiz tak bisa ditahan lagi. Ki Saleh dan lawannya mendengarnya. Ki Saleh
tahu itu suara rekannya sesama pedagang. Sebaliknya
si pantat besar, karena merasa diintip, gemas dan ma rah besar.
“Sudah belum?” Tanya Ki Saleh, kesal dari tadi lawannya
hanya pamer jurus silat saja.
“Sudah apa?”
“Katanya mau pukul aku. Mana?” Tantang Ki Saleh.
“Oh iya. Lupa aku.”
Lawannya menggaruk-garuk kepala. Ia sampai lupa harus melanjutkan duel
dengan Ki Saleh.
“Ayo. Seranglah aku …!”
Sambil berteriak … hiyaaaa …, si pantat besar melepaskan
tendangan ke depan, kiri dan kanan. Namun, walau tendangan itu cepat, dengan
cepat pula Ki Saleh menangkisnya sambil mendaratkan beberapa pukulan balasan.
Saat melepaskan
tendangan kesepuluh, lawan menjerit kesakitan karena telapak kakinya dipukul Ki
Saleh dengan dua jari.
Preeek …
Jatuh berguling-gulingan di tanah. Ia duduk sambil menahan
rasa sakit di telapak kakinya. Mang Jaiz iba melihatnya. Dia akhirnya memberanikan diri mendekati Ki
Saleh.
“Sebaiknya Mas pulang saja. Percuma melawan beliau ini.
Setan saja takut sama dia. Apalagi manusia seperti kamu Mas,” sindir Mang Jaiz.
“Bangsat. Menggurui aku pula. Memangnya kamu itu siapa?” Si
pantat besar berdiri sembari meman dang tajam Mang Jaiz.
“Aku adalah manusia, Mas. Kerjaku berdagang buah-buahan di
Pasar Falah,” ujar Mang Jaiz terus terang.
“Aku sudah tahu itu. Tapi kamu itu siapa. Kepandaianmu apa.
Tunjukkan!”
“Okeee …”
Mang Jaiz mengeluarkan
kertas koran. Lalu dia bentangkan di atas tanah. Kemudian dia keluarkan
dari dalam tas beberapa buah jeruk, apel
dan rambutan. Dia jejerkan rapi di atas bentangan kertas yang masih anyar itu.
“Ayo bapak ibu. Saya jual jaruk. Rasanya manis. Harganya lima
ribu saja satu kilo. Yang ini apel. Cukup ba yar 30 ribu saja, dan ini
rambutan. Dijamin ngelotok. Sekilo hanya
30 ribu perak. Kalau bapak ibu mau beli semuanya saya kasih murah saja. Jeruk
sekilo, apel sekilo dan rambutan sekilo, cukup bayar 45 ribu saja. Murah kan
bapak ibu …” Teriak Mang Jaiz, menjajakan dagangannya.
“Teruskan Mang,” pinta Ki Saleh.
“Berhutang boleh, tukar tambah boleh, dan tukar barang juga
boleh. Malas bawa, kami antar ke alamat. Tak percaya ini manis, boleh dicicipi
gratis. Ditanggung lezat dan nikmat. Ini jeruk, ini apel dan ini rambu tan,
langsung diambil dari batangnya. Coba bapak ibu tengok. Rambutan ini masih ada
sisa-sisa ranti ng ya. Kulitnya merah. Ayo bapak dan ibu. Mampirlah. Belilah
walau sedikit. Jangan pelit, kan orang pelit akan selalu sakit …”
Plak pak plak
pak …
Ki Saleh bertepuk tangan. Sedangkan si pantat besar cuma
cengar-cengir saja.
“Mana tepuk tangannya Mas?”
“Enggak ada,” jawab si pantat besar mengalihkan pandangannya
ke Ki Saleh.
“Masih mau duelnya?”
“Mau, tapi …”
“Takut ya Mas?” Pancing Mang Jaiz.
Si pantat besar
menggelengkan kepala.
“Aku mau pulang bapak-bapak sekalian. Aku capek,” kata si
pantat besar dengan raut muka kecewa.
Dia hidupkan mesin motornya.
“Aku pulang dulu bapak-bapak ya … Daaagh!”
Ki Saleh lega. Ternyata si pantat besar cepat-cepat
menyadari kekeliruannya karena telah bersikap tidak santun dan membuat orang
lain terganggu aktivitasnya. Pedagang terusik, pembeli takut dan tukang parkir bisa-bisa sepi
‘order.’
Begitu juga halnya petugas pasar. Bikin pusing kepala
mereka. Sudah pusing mengurusi tetek bengek pasar, harus ditambah lagi dengan
ulah tak karuan si pantat besar.
“Pantatnya saja yang besar ya Ki. Nyalinya kecil kayak tikus
curut …”
Ha ha ha ha …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar