Minggu, 30 Juli 2017

El-Maut (3)





Novel …

El-Maut  (3)
Oleh Wak Amin

5
TURUN dari train, Muhsin dan Sabrina melanjutkan perjalanan menuju mall terbesar di kota ini. Mall itu terletak  di dekat airport. Tempatnya luas, bangunannya megah dan indah, apalagi bila dilihat pada malam hari.
“Menurut kamu Mas?”  Sabrina selfie sejenak di depan gerbang mall, lalu menghadapkan mukanya ke ratusan pengunjung yang antrian membeli es krim.
“Bagus Yang. Bagus tapi sederhana,” komentar  Muhsin. Suatu hari nanti dia ingin punya mall seperti yang dilihatnya saat ini.
“Ayo Mas. Kita masuk yuk!” Ajak Sabrina, senang nian ia. Begitu kaki menginjak pelataran mall tak henti-hentinya mengambil gambar dari berbagai sudut dan pandang.
“Enggak beli  es krim dulu apa?”
“Nanti aja Mas. Lagi ramai. Malas aku antrian itu.” Sabrina mengajak suaminya berlari-lari kecil sampai ke pintu masuk utama mall.
“Enggak takut capek apa?”
“Udah biasa …”
Sampai di pintu masuk mall, Sabrina mencari-cari handuk kecil miliknya dalam tas, tapi tidak ketemu. Pada akhirnya …
“Pakai ini aja ya say …” Muhsin memberikan beberapa lembar tisu, cukup buat menyeka peluh yang membasahi sekitar leher dan wajah.
Mall yang dimasuki Sabrina dan Muhsin ini lumayan besar dan luas. Di dalamnya sudah banyak pengun jung dari berbagai macam profesi dan usia. Mulai dari anak-anak hingga beranjak tua. Namun tidak ter lihat para lansia yang seringkali dibantu berjalan oleh anggota keluarganya, atau denga hanya menggunakan kursi roda.
“Mau belanja say?”
Sabrina berpikir sebentar …
“Enggak usah say. Kita lanjut sajalah. Udah dari tengok baju kita langsung aja ke tempat yang lain,” kata Sabrina.
Di lokasi penjualan es krim, kawasan parkiran mall, antrian semakin panjang. Jika tadi diantri sebagian besar kalangan muda usia, kini para ibu dan anak-anak, baik yang masih dalam gendongan maupun yang sudah bisa dilepas berjalan sendiri.
Ketika ada serombongan remaja yang baru ngumpul  di parkiran, menggunakan lima unit mobil bus berukuran besar, Sabrina dan Muhsin keluar dari pintu samping mall.
Sejenak keduanya memandang ke tepian danau yang di kanan kirinya ditumbuhi aneka tanaman serba hijau. Lepas itu, mereka melanjutkan perjalanan lagi menggunakan taksi kota.
Mau kemana mereka?
Sesuai petunjuk dan saran Mr Clean, yang dihubungi Sabrina semalam, mereka menuju ke lokasi penye waan sepeda. Dengan bersepeda mereka bisa leluasa mengitari pusat dan kawasan pinggiran kota.
Karena Muhsin yang sudah terbiasa menggunakan sepeda, Sabrina meminta suaminya yang membon ceng. Sepeda yang mereka sewa itu lumayan besar dari sepeda ukuran standar.
Karena tempat duduknya berlainan, dua sepeda disambung jadi satu, sama-sama mengayuhlah. Dikayuh lambat. Sepeda pun meluncur dengan lambat.
“Kemana dulu ya say?” Muhsin menoleh ke belakang. Dia tersenyum melihat Sang Isteri sumringah. Ter tawa lepas, berkacamata hitam, memandang para pesepeda lain yang mulai bergerak meninggalkan lokasi penyewaan sepeda.
Kriiiing …
Poooong …
Kriiig …
Pooong 
Kriiing ..
Pooong …
Suara bel sepeda yang lucu dan bersahut-sahutan membuat Sabrina ketawa terpingkal-pingkal.

6
“YANG …”
“Apa?”
“Ke taman ya?”
“Oke …”
Belok ke kanan, sepeda meluncur lambat ke taman pinggiran kota. Taman yang indah. Saking indahnya, Sabrina tak henti-hentinya menyebut ‘subhanallah.’
“Kiri ya say …?”
“Oke ..”
Kriiing ..
Poooong …
Kriiing …
Pooong …
Sekelompok anak-anak hendak keluar dari pintu gerbang taman. Mereka berbaris rapi. Entah mengapa mereka dipandu seorang guru kelas wanita. Siswa sekolah dasar itu bernyanyi sambil melangkahkan kaki ke kanan luar taman yang lumayan besar dan luas itu.
Sabrina memilih mengelilingi taman dengan cara bersepeda.  Karena dengan bersepeda semua tempat akan terjelajahi.
“Yang pasti enggak terasa capek,” kata Muhsin. Dia menghentikan sejenak kayuhannya. Dia turun dari sepeda. Dia mengambil beberapa gambar dengan latar belakang bunga tulip.
“Indah betul ya Mas,” puji Sabrina. Dia minta sang suami mengabadikannya di depan jejeran bunga tulip.
Cek … lek.
Cek .. lek.
Cek .. lek.
“Mas enggak?”
“Selfie berdua aja ya say …”
“Boleh. Aku suka kok ..”
Muhsin dan Sabrina mendekat ke hape android. Lalu …
Cek .. lek.
Foto berdua selesai dengan tiga  posisi: ketawa, senyum dan berangkulan.
“Kesana yuk Mas!” Sabrina menunjuk ke sebuah danau kecil yang sangat jernih airnya.
“Yuk. Aku suka danau itu.”
Danau kecil itu sepertinya hanya diperuntukkan bagi pasangan yang lagi menikmati bulan madu. Bukti nya, beberapa pengunjung danau adalah pasangan  muda usia. Mereka terlihat sangat mesra.
Ada yang duduk di bangku panjang, bermain sampan, jalan berdua sambil berangkulan. Bahkan ada juga yang menggelar tikar. Duduk berdua, menguntai cinta, membagi rasa.
Mereka seolah sudah saling kenal. Padahal tidak demikian. Ini dikarenakan masing-masing mereka melakukan aktivitas yang berbeda dengan rasa aman, nyaman tanpa gangguan.
“Lho … Kok gitu Yang?!” Mengingatkan Sang Istri yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah pasangan seusia mereka asyik bercumbu dan  bercengkrama berdua.
“Jalan yuk!”
“Capek ah!” Jawab Sabrina, rada manja dan ingin dipeluk suami tercinta. Muhsin memenuhi permintaan itu. Ia peluk isterinya seerat dan semesra mungkin. Ia bisikkan kata cinta, kata sayang dan puisi cinta.
Sabrina berlarian ke tepi danau, disusul Muhsin. Lalu ia peluk dan angkat tubuh Sabrina sambil berputar. Keduanya menyusuri tepian danau. Kemudian berhenti dekat jembatan kayu tempat sampan-sampan ditambatkan.  Sampan-sampan itu dicat berwarna-warni. Juga kayuhnya.
Beberapa pasangan seolah enggan turun dari sampan. Mereka tidak menepikannya.  Mereka sengaja menghentikan kayuhannya di tengah danau.
Apa yang mereka lakukan?
Mereka bercumbu dengan sesekali tertawa lepas. Berciuman dan membiarkan sampan jalan sendiri. 
“Mau ya say?”
Sabrina belum memutuskan.
“Udah .. Yuk kita naik,” ajak Muhsin.  Menggandeng tangan isterinya. Memeluknya sejenak sebelum  keduanya menaiki sampan yang tertambat di tiang jembatan.
Air danau seolah kian jernih. Ikan-ikan berseliweran. Panorama sekitar danau terasa nyaman dinikmati. Ada rumah-rumah kecil, membuat siapa pun yang mengelilingi danau dengan sampan,  walaupun cuma berdua, tak bakalan merasa takut dan was-was. Begitu indah dengan hembusan angin yang acapkali datang menyinggahi dari arah yang berbeda-beda.
Suara cicit burung tak henti terdengar. Menambah asri kawasan danau. Ah, bisik Sabrina pada suaminya, sungguh indah bulan madu ini dinikmati berdua.

Tobe continued …     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar