Kamis, 27 Juli 2017

El-Maut (1)

Novel ...

El-Maut  (1)
Oleh Wak Amin


1
"YANG kencang Mas tariknya," te riak Sabrina. Dia ingin main ski air. Makanya, pada kesempatan bulan madu ini, Muhsin sang suami, memenuhi janjinya untuk menemani sang isteri tercinta bermain ski sepuas hati.
Kebetulan lokasi mereka bermain ski air ini dikunjungi banyak orang. Sebagian besar pasangan muda usia, namun sebagian kecil sama seperti Muhsin-Sabrina, menikmati bulan madu berdua.
"Hei Misis. Balik badan dong!" Kata seorang bule meneriaki Sabrina agar tak monoton ketika bermain ski air.
Sesekali, saran si wanita berparas cantik itu, balik badan. Membelakangi kapal penarik tali ski. Jika memungkinkan berakrobatik dengan misalnya, memegang tali ski dengan satu tangan, sementara tangan sa tunya memegang kaki sebelahnya yang diangkat ke belakang.
Plak ... pak ... plak .. pak ..
Semua pengunjung bertepuk tangan ketika Sabrina sukses memutar balik badannya saat kapal berbelok dengan kecepatan sedang.
"Itu baru hebat," puji salah seorang wanita kepada teman wanitanya yang bersiap untuk bermain ski.
"Apa kamu ingin seperti dia kawan?"
"Iya," jawab perempuan berambut pirang itu menunjuk Sabrina yang masih berputar-putar.
"Oke," kata si teman.
"Kita tengok saja nanti," sahut si pirang percaya diri. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik kepada pengunjung pantai nan landai ini.
Sore hari pengunjung semakin ra mai. Bukan cuma para ibu dan pa sangan pengantin baru, tapi juga ABG, anak-anak dan bahkan bali ta yang antusias menonton dari jarak yang tidak terlalu dekat dari arena bermain ski.
Selain berpasir putih, keunggulan 'Pantai Kangen' ini ada pada ba nyak fasilitas yang disediakan. Mulai dari kolam renang, tempat bermain anak-anak, pemeliharaan ikan air tawar dan laut, paralayang, outbond, panjat tali dan tebing, hingga ski, menyelam dan mancing.
Tak heran jika Pantai Kangen se lalu dibanjiri penumpang yang se ngaja datang dari jauh, puluhan kilometer dari tempat tinggal mereka.
Berombongan, sendiri, satu dua  keluarga, berpasangan dan sendi rian untuk melakukan riset serta studi kelayakan.
"Udah ya?" Sapa Muhsin ketika Sabrina membersihkan badannya di kolam air tawar.
"Mas enggak main apa?"
"Enggak usah say ..."
"Nanti nyesel lho Mas. Buat apa datang jauh-jauh ke negeri orang jika tidak mau coba sesuatu yang baru," kata Sabrina. Sesaat dia menyelam, berenang dan duduk di pinggir kolam.
"Mas mau coba main yang lain sajalah say ..."
"Mainlah Mas. Biar aku tunggu di sini. Seperti Mas lihat sendiri kan, banyak wanita sebayaku yang membersihkan badan di kolam ini."
"Iya  ... Tapi Mas pinginnya ikut temeni Mas ya. Mau kan?"
"Temeni kemana Mas?"
"Ada deh," ujar Muhsin tersenyum menawan. Harapannya sang isteri mau menemaninya bermain.
"Kalau enggak mau Mas?"
"Nyesel lho. Mas jamin kamu bakalan nangis dan menyesal seumur hidup kalau sampai menolak," terang Muhsin.
Sabrina jadi penasaran dibuatnya.
Huuup ...
Byuuur ...
Setelah berendam sejenak  Sabri na melompat naik ke pinggir ko lam. Meraih handuk dari gengga man Muhsin.
"Penasaran aku Mas," kata Sab rina, meminta sang suami me ng ambilkan pakaian penutup badan nya yang sedikit terbuka di bagi
an dada dan betis.
"Sekarang ikut Mas ...!"
"Bentar dulu ah ..."
"Udah. Mas sudah siapin pakaian disana. Cepat ah say ..."
Karena terburu-buru, kaki Sabrina terkilir, mengaduh kesakitan. Beruntung Muhsin sigap bertin dak. Sang isteri tak sampai jatuh. Berhasil dipeluk dan digandeng mesra.
Hiiiip ...
Dengan cepat Muhsin menggendong isterinya melewati jalan setapak dekat jejeran pohon pinus.
Mata Sabrina terbelalak melihat pemandangan sekitar. Serba hijau, diapit danau kecil.
"Kamu lihat kan say?"
"Sawah?"
"Itu, di sebelah kananmu say ..."
Puluhan mobil sejenis jeep ukuran besar siap berkeliling. Tersisa satu, khusus buat Muhsin yang telah ia pesan sebelumnya.
"Lho, kok bingung say?"
"Jadi ...?"
"Kita berkelilinglah melihat-lihat pemandangan sekitar. Mau ya temeni Mas? Atau Mas sendiri yang naik ke mobil, kamu tunggu saja di sini ..."
Sabrina mencubit lengannya Muhsin.
"Banyak nyamuknya ,,,,,Mas."
Ha ha ha ha ...


2
SETELAH dinikmati beberapa menit,  Sabrina jatuh cinta dengan perjalanan singkat ini. Walau cuma satu setengah jam, mengelilingi aneka tanaman dan areal persawahan, lebih dari cukup.
Sulit melukiskannya dengan kata-kata betapa bahagianya Sabrina pada sore hari ini. Apalagi dia sempat diajak Muhsin bermain tarik tambang bersama warga sekitar.
Warga sekitar pantai menggelar berbagai acara sederhana tapi menarik hati wisatawan. Kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung berbeda-beda.
Misalnya saja, jika minggu kemarin pengunjung diajak bermain bola plastik lengkap dengan empat tiang kayu berukuran kecil, sore hari ini tarik tambang.
Tarik tambang yang ditawarkan berbeda dengan tarik tambang kebanyakan. Selain dapat hadiah ala kadarnya seperti permen, rokok dan sejenisnya. Peserta harus bisa mengatasi becek dan licinnya tempat kaki ini berpijak.
Bagaimana caranya?
Ada dua kelompok peserta. Setiap kelompok terdiri dari enam orang. Mereka harus siap saling kalah mengalahkan. Peserta yang dinyatakan menang adalah yang berhasil membawa masuk lawannya ke lingkaran tengah.
Setiap kelompok diberi waktu empat sesi. Sesi pertama berlangsung lima menit. Sesi kedua tujuh menit. Sesi ketiga sembilan menit dan sesi keempat sepuluh menit.
Karena tujuan utamanya bukan untuk mencari menang selain hiburan dan bersenang-senang semata, setelah menyelesaikan empat sesi tak satu kelompok pun yang berhasil keluar sebagai pemenang, permainan tarik tam bang dinyatakan draw dan tidak dilanjutkan lagi. Hadiah te tap dapat. Dibagi dua di tempat.
"Siap ya sayang ya?"
"Siap Mas," kata Sabrina. Dia bergabung dengan kelompok ibu-ibu di sebelah kanan. Dia menempati urutan paling belakang.
Permainan segera dimulai ..
"Siap ibu-ibu?" Teriak seorang pria muda dari atas kursi setinggi lima meter.
"Siaaaap ...!" Jawab ibu-ibu serempak. Tidak ada ketegangan. Raut muka ceria. Ada yang tertawa, bersenda gurau, tepuk pundak dan pantat.
Priiiit ...
Sesi pertama dimulai ..
Gedebug ...
Hua ha ha ha  ..
Karena licin, kedua kelompok peserta sama-sama terpeleset. Mereka terjatuh dan pakaian pun kotor. Berubah hitam terkena lumpur.
Iba juga Muhsin melihat isterinya. Jatuh bangun menarik tali bersa ma teman-temnnya. Dia ingin menolong. Karena suami dari ibu-ibu yang lain hanya diam dan ha nya memberikan tepuk tangan, Muhsin akhirya ikut diam.
Gedebug ...
"Aduuuuh ... Mati aku," jerit ibu berperawakan gemuk. Dia agak lambat bangun. Belum sempat berdiri sudah jatuh lagi. Karena terdorong teman-teman sekelom poknya yang jatuh barengan.
"Istirahat." Kata wasit yang memimpin pertandingan.
Kedua kelompok memanfaatkan waktu istirahat untuk minum dan menyantap makanan ringan. Saling bercanda. Tapi panitia melarang peserta mengganti pakaiannya.
"Aduh . Gatal rasanya Mas," ujar Sabrina. Menggaruk- garuk punggungnya berulangkali.
"Udah gini aja. Mas basahi dengan air saja."
Muhsin mengambil sebotol air mi neral berukuran besar. Lalu botol itu ia siramkan sedikit air ke sisa lumpur yang menempel.
Dengan begitu Sabrina  tidak terla lu kotor lagi dan agak ringan ber gerak karena sudah tidak ada ko toran lagi. Meski warna hitam di berbagai belahan baju dan cela nanya masih terlihat di sana-sini.
"Oke ibu-ibu?"
"Okeee ..."
"Siap ibu-ibu?"
"Siaaaap."
Sesi kedua dimulai ....

Tobe continued


Tidak ada komentar:

Posting Komentar