Jumat, 01 September 2017

El-Maut (16)

Novel ...


El-Maut (16)
Oleh Wak Amin




31
KETIKA keluar dari ruang kerja Mr Presiden, Inspektur Polisi Smith diserbu awak media yang sudah hampir lima jam menunggu di ruang lobi luar Gedung Kepresidenan.

Kali ini Inspektur Smith tak bisa mengelak lagi dengan alasan masih dalam tahap penyelidikan atas peristiwa yang telah terjadi beberapa bulan belakangan ini. Mulai dari peledakan apartemen, taman pusat kota hingga kediaman Mendagri yang mengakibatkan salah satu politisi disegani di tanah air ini tewas bersama isterinya.

"Kapan dalang dari semuanya ini bisa dibekuk Inspektur Smith?" Tanya jurnalis perempuan dari media online terbesar di kota ini.

"Berilah kami waktu untuk bekerja ya," jawab Inspektur Smith dengan suara lantang.

"Tapi Pak Inspektur,  masyarakat sekarang resah, sudah bosan me nunggu. Kenapa yang ditangkap cuma kroco-kroconya saja sementara kakapnya belum sama sekali. Apa memang pihak kepolisian keteteran dan tak berani menciduknya?" Jurnalis dari media cetak bertubuh tinggi berambut gondrong menimpali.

"Kan sudah saya bilang, berilah kami waktu. Kami akan bekerja keras dan secepatnya menemukan dalang dari semua ini," jelas Inspektur Smith.

"Tapi Inspektur Smith, dari infor masi yang kami peroleh, dalang dari semuanya ini adalah jaringan El-Maut pimpinan Sobar. Kenapa pihak kepolisian tidak mengata kannya kepada kami. Apakah anda takut Inspektur?" Tanya reporter dari media televisi.

Inspektur Smith terdiam.Tampak ekspresi wajahnya berubah. Agak memerah sementara sorot matanya tajam menatap reporter yang menanyainya barusan.

"Anda takut Pak Inspektur?" Sahut yang lain, rebutan bertanya.

Saking ramainya, sempat terjadi do rong-dorongan antara awak media dengan pihak kepolisian yang ikut mengawal dan mengamankan Inspektur Smith.

"Siapa bilang saya takut.Saya dan kami semuanya dari kepolisian tidak ada dan tidak akan pernah merasa takut menghadapi ancaman dari siapa pun, termasuk kelompok teroris El-Maut. Paham anda?"

"Tapi mengapa anda seolah menye bunyikan informasi penting ini dari kami Inspektur?"

"Saya tidak pernah menyembunyikan informasi. Anda saja yang tidak menanyai saya soal itu. Paham?"

"Termasuk penyebab tewasnya Pak Mendagri Insprktur?"

Inspektur Smith tidak menjawabnya. Dia terus berjalan mendekati mobil dinasnya yang diparkir tak jauh dari gedung kepresidenan.

Namun dia tak bisa masuk ke dalam mobil setelah beberapa wartawan mencegatnya. Memin tanya untuk menjelaskan kondisi keamanan saat ini.

"Tolong ... Tolong. Beri Pak Inspektur jalan ..." Pinta petugas keamanan dengan raut muka marah.

Para awak media tak menggubrisnya. Sempat terjadi dorong-dorongan dan nyaris terjadi baku hantam.

Beberapa petugas melerai. Sebagai langkah antisipasi, Inspektur Smith dibawa masuk ke mobil yang lain dengan cepat.

Para wartawan tak berhasil menge jarnya. Karena dihalangi petugas keamanan yang jumlahnya menca pai belasan berbadan tegap dan kekar.

"Kampret tuh orang," gerutu reporter cetak berbadan pendek. "Sayang aku pendek. Coba tinggi Bro, kula wan dia. Apa haknya dia. Kita kan tidak hendak ngapa-ngapain Pak Inspektur. Cuma mau nanya aja. Beliau kan udah janji mau selesain semuanya ini pada kita
Apa salah kita coba?"

"Enggak salah Bro," jawab rekannya, tinggi semampai berambut panjang keriting.

"Iya Bro. Apa kita demo saja." Usul reporter dari media online. Berharap dengan demo bukan saja petugas bisa sedikit sopan dan manusiawi dengan awak media, tapi juga me ngingatkan aparat kepolisian ja ngan menganggap remeh situasi tak nyaman saat ini.

"Tapi menurutku, tak usahlah Bro," jawab temannya berkepala gundul. Juga dari media online.

"Kenapa Bro? Takut?"

"Sebaiknya kita lihatlah nanti situasinya seperti apa. Kalau sudah waktunya yuk kita berdemo. Seka rang lebih baik kita fokus menulis apa adanya dari yang telah kita dapatkan hari ini ..."



32

DARI tayangan salah satu stasiun televisi swasta, orang kepercayaan Bos Sobar menemuinya di sebuah tempat khusus di markas El-Maut. Kepada Sang Bos dilaporkan bah wa beberapa awak media dalam wawancaranya dengan Inspektur Smith telah menekan pihak kepoli sian untuk menangkap  otak dan gembong peledakan serta tewas nya Mendagri belum lama ini.

Tidak seperti biasanya, Bos Sobar hanya menarik nafas panjang. Se telah meminta Tuan Mangku keluar sejenak dari ruang kerjanya, Bos So bar menelepon seseorang untuk menyelidiki siapa saja awak media yang ikut bertanya kepada Inspektur Smith itu.

"Saya tunggu secepatnya. Sekarang juga Tuan Rudolf," kata Bos Sobar. Setelah menutup telepon, dia me mencet tombol di dekat laci meja kerjanya.

Tuan Mangku buru-buru masuk dan sudah berdiri di dekatnya.

"Kamu kenal awak media itu Tuan Mangku?"

Tuan Mangku menggelengkan kepalanya.

"Sudah, kalau begitu kamu duduk sajalah dulu. Kita tunggu telepon masuk sebentar lagi," pinta Bos Sobar.

Bos Sobar kemudian menelepon seseorang tapi bukan terkait de ngan awak media. Hanya urusan bisnis yang belum rampung.

Belakangan jaringan El-Maut meng embangkan bisnis senjata gelap dan ganja. Sang Bos meminta anak buahnya agar memerioritaskan bis nis menggiurkan ini karens cepat mendatangkan fulus.

Kriiiiing ...

Kletek ...

"Saya berhasil mencatat tiga media Bos," kata Tuan Rudolf. Ketiga me dia itu adalah Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com.

"Dua media cetak koran, satu me dia online. Yang terakhir ini baru be beberapa bulan terakhir ini eksis," jelas Tuan Rudolf.

"Alamatnya Tuan?"

"Biar nanti saya SMS saja Bos Sobar," ujar Tuan Rudolf. Secepat nya menuliskan alamat tiga media tersebut, untuk kemudian dikirim via medsos khusus jaringan El-Maut.

"Sudah Bos.  Eeeem ... Ada lagi yang bisa saya bantu Bos?" Tuan Rudolf sudah menyiapkan beberapa bahan terkait ketiga media tadi gu na memudahkan  Bos Sobar mela kukan lobi dan pendekatan.

"Eeeem .. Satu lagi Tuan Rudolf, mo hon nomor telepon pimpinan ketiga media itu, jika anda tidak berkeberatan.

" Baik Bos."

Nama-nama pemimpin redaksi ke tiga media itu belum banyak yang mengetahuinya. Selain Tuan Rudolf, kalangan tertentu saja,  seperti peja bat tinggi keamanan dan orang nomor satu di kota ini.

Makanya, setelah memberi nomor telepon yang diminta Bos Sobar, Tu an Rudolf  berpesan, sebaiknya ja ngan diberitahu ke pihak yang lain.

"Takutnya nanti pemilik telepon akan mengubah nomor teleponnya Bos," jelas Tuan Rudolf.

"Oke. Terima kasih Tuan Rudolf."

Sejenak Bos Sobar berdiri. Kemu dian dia menelepon satu persatu pimred: Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com. Pada intinya memin ta media tidak membesar-besarkan keterlibatan jaringan El-Maut.

Bukan karena takut, sebab El-Maut tidak mengenal rasa takut, kata Bos Sobar kepada tiga bos media itu. Tapi hanya berharap media tidak terlalu ikut campur lebih jauh tentang jaringan El-Maut.

"Tapi terserah anda, Pak Taufik. Sa ya harap Tuan mau mendengarkan saran saya. Sebab, kalau tidak akan berdampak tidak baik bagi media yang anda pimpin," terang Bos Sobar.

Namun secara halus, baik Pak Tau fik (Suara Hati), Gema Insani (Pak Tunggul) maupun Pak Tugino dari Fajar.Com, menolak saran dan ta waran yang diajuka Bos Sobar.

"Bapak ini siapa?" Tanya Pak Tugi no dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang.

"Anda tidak perlu tahu saya. Cukup tahu lewat telepon aja," jelas Bos Sobar, ketawa cekikikan.

"Kalau begitu anda ini penakut dong. Kalau Tuan berani sebut kanlah nama, pekerjaan atau iden titas lain. Bila perlu datanglah ke kantor kami. Kantor kami buka 24 jam," jelas Pak Tunggul dengan suara lantang.

"Baiklah kalau begitu. Ini dulu dari saya. Terima kasih," ucap Bos So bar. Segera setelah menutup tele pon, dia meminta Tuan Mangku un tuk meminta anak buahnya mele dakkan gedung ketiga media yang dinilai mulai 'nakal' dan berani me nantang jaringan El-Maut itu.

"Siap Bos."

Mereka yang ditunjuk untuk mele dakkan gedung tiga media terbesar di kota ini hanya dua orang.

Keduanya mulai beraksi  saat su buh tiba. Waktu ini dipilih agar tak ada korban jiwa. Kalaupun ada, ha nya sedikit dan tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.

"Saya hanya ingin media saja yang panik. Mengerti?"

"Mengerti Bos," jawab Yudi dan Aulia.

Tobe continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar