Minggu, 03 September 2017

El-Maut (17)

Novel ...

El-Maut (17)
Oleh Wak Amin

33

KEPANIKAN memang terjadi sete lah, sekitar pukul delapan malam, semua jaringan komputer di Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com ti ba-tiba mati seketika. Bukan cuma itu, segenap jaringan sosmed dan online ketiga media ini pun ikut terganggu. Mendadak terputus.

Kondisi 'tak bagus' ini berlangsung lebih dari satu jam. Tentunya sa ngat mengganggu kenyamanan dan kelancaran awak media menu lis berita, mengedit dan memprint-out, atau menyebarluaskannya lewat online.

Warga di sekitar lokasi kantor keti ga media itu tetap tenang. Karena mereka tidak mengetahui telah ter jadi sesuatu yang menimpa kan
tor pers terbesar itu. Selama ini mereka tidak bersikap apriori dan sangat mendukung kehadiran Suara.Hati, Gema Insani dan Fajar. Com.

Tak ada api yang berkobar. Apalagi suara ledakan. Juga tidak ada keri butan di tiga kantor media itu. Petu gas security hilir mudik, keluar ma suk kantor. Juga petugas IT yang pada malam itu sibuk memperbaiki jaringan komputer yang rusak.

Setengah jam kemudian, komputer menyala kembali. Para awak media mulai bekerja seperti biasa. Mereka sudah bisa bercanda, ketawa dan le ga karena berita yang mereka tulis dan edit selesai juga akhirnya.kalu

Namun, menjelang dead-line, pukul sepuluh malam ...

Bleeeep ...

Lampu padam. Berlangsung sekitar lima belas menit. Disusul rusaknya jaringan komputer dan online. Kepa nikan kembali terjadi.

Pukul sebelas malam ...

Serempak terjadi tiga ledakan keras di pelataran gedung Suara Hati, Ge ma Insani dan Fajar.Com. Ledakan itu tidak menimbulkan korban jiwa. Tapi, karena sangat keras, meng hancurkan beberapa unit mobil yang diparkir di sana.

Sementara petugas security ada yang terluka karena terpental saat bom meledak. Sedangkan awak me dia sudah pulang. Hanya tersisa be berapa orang, di bagian erte, pro duksi dan percetakan.

Warga berhamburan ke luar rumah.  Tak lama setelah itu, tiba di lokasi ledakan beberapa petugas kepoli sian, di an taranya Mr Clean, Mr Jo di, Miss Nancy dan Mrs Sabrina Muhsin.

Mereka dibagi tiga kelompok. Mr  Clean ke gedung Suara Hati, Mr Jodi ke markasnya Gema Insani, sedangkan Miss Nancy dan Mrs Sabrina menuju gedung Fajar.Com.

Mereka melakukan olah TKP. Tak terlihat Inspektur Smith. Mr Clean cs  juga irit bicara. Mereka bertanya kepada saksi mata, korban dan be berapa pekerja pers terkait proses terjadinya ledakan.

Karena kooperatif, Mr Clean tak perlu bersusah payah mengum pulkan bahan informasi sebelum mengarah ke penyelidikan lebih lanjut.

Ketika ditanya awak media televisi, mereka hanya minta doa dan duku ngan penuh agar bisa secepatnya menangkap pelaku peledakan.

Ha ha ha ha ...

Kepada Pimred Taufik, Tunggul dan Tugino, Bos Sobar mengancam ak an menghabisi satu persatu awak media yang tergabung dalam ke lompok pers Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com.

"Anda jangan coba-coba melawan kami, Tuan Taufik." Bos Sobar mem peringatkan. "Ini baru permulaan. Setelah ini, jika anda masih tidak mendengarkan permintaan ini, anak isteri Tuan akan saya babat habis. Mengerti?"

Klepeeek ...

Praaaak ...

Bos Sobar membanting telepon. Pak Taufik, Pimred Suara Hati, ter kejut mendengar suara bantingan telepon itu. Raut mukanya berubah pucat.

Hal serupa juga dialami Pimred Tunggul dan Tugino. Keduanya ma lah diancam akan dibunuh dan ma yatnya dibawa berkeliling jalan pro tokol, agarsegenap warga tahu ke hebatan jaringan El-Maut.

"Mau badan Tuan saya potong-potong?" Sergah Bos Sobar pada Tugino. Jadi serba salah. Dia lebih memilih tidak meladeni tantangan itu.

Dia berusaha tetap sabar dan so pan ketika berbicara lewat telepon. Namun demikian, Bos Sobar tak am bil peduli. Dia hanya ingin Fajar.Com  menghentikan pemberitaan yang menyangkut jaringan El-Maut.

"Anda paham tidak Tuan Tugino?" Bentak Bos Sobar. Darahnya mulai mendidih. Menggelegak. Ingin rasa nya dia menempeleng Tugino saat itu juga, saking marahnya.

"Ini hewan atau orang," gerutunya. Dia angkat kembali telepon, lalu berkata ... "Sekarang, terserah Tuan lah. Jadi kami tunggu sampai be sok. Jika tulisan yang terkait dengan El-Maut masih tetap disebar-luaskan, maka detik ini juga saya bersumpah akan menyambal hidup-hidup kepala anda."

34
SETELAH ketemu tiga pimred:  Sua ra Hati, Gema Insani dan Fajri.Com, akhirnya sepakat untuk tidak menu lis dan menerbitkan tulisan yang dinilai mendiskreditkan El-Maut.

"Kita lebih baik cari jalan aman," kata Taufik, Bos Suara Hati, sebe lum pertemuan berakhir.

"Maksud anda Pak Taufik?" Pak Tunggul mengingatkan pers tidak boleh takut dan tunduk pada ancaman pihak tertentu, apalagi pemberitaan El-Maut sangat terkait dengan kenyamanan dan ketena ngan masyarakat.

"Aman maksud saya, untuk bebera pa hari ke depan, kita coba biarkan informasinya menggantung. Biarkan media lain yang menerbitkannya. Tapi saya kira, mereka juga tak bakalan berani. Saya yakin itu," jelas Pak Taufik.

Melihat alotnya pertemuan, Pak Tugino dari Fajar.Com mencoba menengahi.

"Saya lebih setuju jika kita menun da sementara waktu pemuatan be rita yang terkait dengan jaringan El-Maut," kata Pak Tugino, sempat me nyeruput kopi, lalu melanjutkan ucapannya ...

" Saya setuju dengan Pak Tunggul. Bahwa kita tak boleh takut pada siapa pun. Pers itu menegakkan ke benaran. Dia membela yang terani aya. Dan saya sangat setuju, apa pun rintangan yang menghadang, pers harus maju terus. Tapi .."

Pak Tugino menarik nafas sejenak. Dia sengaja memberi kesempatan pada dua teman satu profesi de ngannya ini untuk bicara. Ternyata memilih diam.

"Kita juga manusia. Kita juga punya anak dan isteri. Kita juga diberi ke sempatan untuk membela diri. Me nyelamatkan diri dan memposisi kan diri sebagai penengah. Tidak berpihak ke sana, tidak berpihak ke sini."

"Maksud saya, tidak ada salahnya juga bila kita menempuh cara yang paling aman. Kita menghindar dulu. Setelah situasinya sudah memung kinkan baru kita bergerak kembali ..
.."

"Tapi Pak Taufik dan Pak Tugino, apa anggapan masyarakat jika be rita El-Maut ini kita hentikan. Pada hal kita sudah menyinggungnya le wat wawancara dengan Inspektur Smith lewat televisi. Ada beban mo ral. Karena kita dapat info keterliba tan El-Maut dari masyarakat," terang Pak Tunggul.

"Menurut saya," kata Pak Taufik, "Itu semua masih bisa dinetralisir ..."

"Netralisir bagaimana Pak Taufik. Semua orang pasti menonton. Te rus nara sumber kita pasti heran, kok El-Maut enggak disinggung. Padahal tak pula detil."

"Oke-oke," potong Pak Tugino, "Kita sebaiknya sepakat dululah. Waktu kita singkat. Keadaan kita juga be lum aman betul. Bagaimana kalau kita akhiri dulu pertemuan ini de ngan satu kata sepakat. Kita tunda dulu pemberitaan El-Maut. Setelah itu kita bertemu lagi untuk memba hasnya. Oke?"

Belum ada reaksi.

"Oke," jawab Pak Taufik dan Pak Tunggul serempak. Jawaban ini melegakan hati Pak Tugino.

Dia rangkul keduanya. Sebelum kembali ke kantor. Menuju mobil masing-masing yang terparkir di salah satu rumah warga di pinggiran kota.

Sesampainya di kantor, ketiga pim red ini segera mengumpulkan 'anak buah' nya masing-masing. Di teng ah porak- porandanya bagian depan gedung tempat awak media beker ja, baik Tugino, Tunggul mau pun Taufik merasa perlu memotivasi ba wahan mereka agar tetap sema ngat dan terus berkarya.

"Saya putuskan, besok kita tetap terbit seperti biasa," ujar Pak Taufik yang disambut tepuk tangan sege nap redaksi Suara Hati.

"Kita harus tegar. Jangan cengeng. Kita terus maju. Badai pasti akan berlalu. Hidup Gema Insani." Teriak Pak Tunggul. Mengepalkan tinju nya. Diangkat tinggi-tinggi.

"Hidup Gema Insani."

"Hidup Gema Insani."

"Dengan mengucap bismillah, kita mulai bekerja," ucap Pak Tugino.

Tak ada tepuk tangan. Semua ter tunduk dan khidmat mendengar we yangan orang terpenting di Fajar.Com ini.

Tobe continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar