Peluk Aku Ya Allah (15)
Oleh Wak Amin
"TIDAK sama sekali duhai Zainab," kata Jenderal Mansur. Walau usia sudah semakin menua masih tetap bersemangat dan bersama Kolonel Ihsan ikut memimpin pertempuran melawan pasukan pemberontak bersama Zainab.
"Kita harus tetap bersatu Zainab," kata Kolonel Ihsan, yang sudah ik hlas melepas kepergian Jenderal Fauzi yang meninggal dunia karena sakit.
"Siap Om Kolonel," ucap Zainab sambil memeluk haru Kolonel Ih san.
Dia bersyukur kepada Allah SWT karena hingga kini lelaki tampan dan gagah yang telah mengasuh serta membimbingnya sedari kecil itu masih diberi kesempatan hidup.
"Ya Allah. Berilah dia kesehatan dan kemuliaan. Jagalah ia ya Allah, sebagaimana Engkau telah menja gaku, menjaga Jenderal Mansur be serta seluruh pasukan pribumi. Sa yangilah kami. Cintailah kami Ha Rabb. Karena aku tahu hanya cinta-Mulah, hanya rasa sayang-Mulah kami masih bisa meneruskan perjuangan ini ..."
Doa inilah yang selalu dipanjatkan Zainab seusai dia menunaikan sha lat lima waktu dan shalat malam di sela-sela terjadinya letusan senjata di mana-mana.
"Aku menyayangi dia ya Allah. Rasa sayangku melebihi rasa sayangku kepada diriku ya Allah," ucap Zain ab terisak-isak di tengah malam di sebuah tenda, ditemani seorang pe rempuan bernama Maryam, bergan tian menjaga keamanan di sekitar tenda.
Maryam adalah putera bungsu Jen deral Mansur. Berparas cantik, se cantik wajah Zainab. Keduanya mu lai akrab setelah menginjak rema ja. Dipertemukan Jenderal Mansur seusai memeriksa kelengkapan per senjataan pasukan pribumi.
Zainab dan Maryam bahu memba hu menghadapi perang yang tak ber kesudahan ini. Tak jarang kemana pergi selalu bersama. Makan ber dua, tidur juga berdua.
Dalam satu kesempatan Maryam pernah mengatakan kepada Zainab bahwa ia tidak melihat kebersama an ini sebagai teman dekat dan te man jauh.
"Engkau Zainab sudah kuanggap se perti saudaraku sendiri," ucap Mar yam pada Maryam saat keduanya hendak tidur malam.
"Aku ingin kita bersama selalu, sam pai maut memisahkan kita Zainab."
Zainab tak berkata sepatah kata pun. Hanya bola matanya basah. Lalu memeluk erat Maryam
Erat sekali ...
"Aku juga Kak Maryam," ucapnya pelan, dibalas Maryam dengan me meluk hangat gadis yatim piatu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar