Peluk Aku Ya Allah (23)
Oleh Wak Amin
SERSAN Azis selesai. Tapi kedua rekannya, Sersan Herman dan Ser san Doni hanya mampu melakukan push up seribu kali.
Keduanya pasrah. Apa pun huku m an yang ditimpakan Jenderal Ko mar, mereka siap menerimanya dengan lapang dada.
"Suruh bugil saja Dan," teriak pria berhidung betet sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan Bro. Kemana muka ini di taruh kalau sampai bugil di depan orang banyak," kata temannya ber tubuh kurus tapi tinggi.
"Sudah Dan. Suruh nyanyi saja," sahut prajurit yang lain.
Jenderal Komar belum memutus kan hukuman apa yang cocok buat Sersan Herman dan Sersan Doni.
Dia masih berpikir. Berjalan mengi tari keduanya sambil mengetuk-ng etukkan tongkat kecil di telapak tangannya.
Suasana berubah hening. Senyap. Segenap anggota pasukan menung gu dengan sabar keputusan apa ge rangan yang bakal dijatuhkan pada kedua sersan itu.
Eeeem ...
Jenderal Komar menghentikan lang kahnya. Dia menatap tajam dan pe nuh amarah ke Sersan Doni dan Ser san Herman.
Lalu mengalihkan pandangannya ke pasukannya yang berbaris rapi. Didekatinya Sersan Azis.
"Anda punya usulan Sersan?"
"Tidak ada Komandan," jawab Ser san Azis.
Ketika dimintai saran hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepada Sersan Herman dan Sersan Doni, Sersan Azis justru menyarankan pembebasan hukuman.
"Mereka sudah lelah Jenderal. Se mentara perang kita belum selesai ..."
Betul juga ya ..
"Oke Sersan. Terima kasih atas sa ranmu barusan," kata Jenderal Ko mar sambil menepuk-nepuk pundak Sersan Azis.
Jenderal Komar kemudian berucap lantang, sambil menghadapkan mu kanya ke Sersan Herman dan Ser san Doni ...
"Kalian berdua kubebaskan dari hukuman lanjutan .."
Mendengar putusan itu, Sersan Her man dan Sersan Doni duduk ber si mpuh di tanah, lalu seperti orang su jud, mencium tanah tanda bersyu kur karens sudah terbebas dari hu kuman yang kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar