Minggu, 01 Januari 2017

Bekerjalah Wahai Saudaraku!

 Santapan Rohani

Bekerjalah Wahai Saudaraku!
By  Aminuddin

JABIR bin Abdullah berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tiada seorang yang membuka jalan bagi dirinya untuk meminta-minta melainkan akan dibukakan ba ginya  oleh Allah SWT pintu kemiskinan. Siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah SWT akan membantu menjagakannya, dan siapa yang mencukupkan diri dengan apa adanya, maka Allah SWT akan mencukupkannya. Bila seorang mengambil tali, lalu pergi ke lembah untuk mengambil kayu, kemudian dibawa ke pasar dan dijual disana dengan satu mud kurma, niscaya yang demikian itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang, diberi atau tidak.”
Ibnu Umar ra berkata, Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah sayang pada tiap orang mukmin yang berusaha, ayah dari beberapa orang anak (berkeluarga), dan tidak suka pada orang penganggur yang sehat, dan tidak beramal akhirat.”
Ja’far Ash-Shadiq dari Muhammad Al-Baqir ra berkata:
“Biasa Nabi SAW pergi ke pasar membelikan hajat keluarganya, dan ketika ditanya tentang itu, ia bersab da: “JIbril memberitahu kepadaku, bahwa siapa yang usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, supaya tidak berhajat kepada orang, maka itu jihad fisabilillah.”
Nabi SAW bersabda:
“Jika ia berusaha untuk kedua orangtuanya (ayah dan bunda) yang sudah tua, maka fisabilillah. Jika ia be rusaha untuk anak-anak yang masih kecil, maka itu fisabilillah. Dan jika ia berusaha untuk mencukupi ke butuhan dirinya supaya tidak meminta-minta kepada orang, maka itu fisabilillah. Jika ia berusaha seke dar untuk kebanggaan dan mencari nama, maka itu jalannya setan.”
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan me lihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah 105).
“Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepada nya dan di telinga kami ada sumbatan, dan di antara kami dan kamu ada dinding. Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).” (QS Fushshilat 5).
“Dialah Dzat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh karena itu berjalanlah di permukaannya, dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS Al-Mulk 15).
Setiap mukmin tidak diperbolehkan bermalas-malasan bekerja untuk mencari rezeki dengan dalih kare na sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah SWT. Sebab, langit ini tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak.
Tidak boleh juga seorang mukmin menggantungkan dirinya kepada sedekah orang, padahal dia masih mampu berusaha untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri dan keluarga serta tanggungannya.
 Allah SWT telah menyebutkan bahwa bumi ini disediakan-Nya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan memproduksinya. Untuk itu, Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri.
“Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya penuh dengan buah-buahan dan kurma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman 10-13).
Allah SWT juga menyebutkan tentang air. Ia mudahkan dengan diturunkannya melalui hujan dan me ngalir di sungai-sungai,  kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi yang tadinya mati.
“Hendaklah manusia mau melihat makanannya. Kami curahkan air dengan deras, kemudian kami belah  bumi dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur. “ (QS ‘Abasa 24-28).
Selanjutnya angin yang dilepas Allah SWT dengan membawa kegembiraan, di antaranya dapat menggi ring awan dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Ini semua tersebut dalam firman Allah SWT:
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut aturan. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-ke perluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi re zeki kepadanya.Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. Dan Kami telah meniupkan angin untuk me ngawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS Al-Hijr  19-22).
Al-Quranulkarim mengisahkan  kepada kita tentang kisah Nabi Musa as, bahwa dia bekerja sebagai buruh bagi seorang yang sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun, persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya.
Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah dugaan puteri orang tua itu tatkala  salah satunya ada yang berkata: “Hai ayah! Ambillah buruh dia itu, karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh haruslah orang yang kuat dan terpercaya.” (QS Al-Qashash 26).
Ibnu Abbas meriwayatkan, Nabi Daud bekerja sebagai tukang besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai klermaker, sedangkan Musa sebagai penggembala kambing.
Setiap muslim dibolehkan bekerja, baik dengan jalan bercocok tanam, berdagang, mendirikan pabrik, pekerjaan apapun atau menjadi pegawai, selama pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan ha ram, atau membantu perbuatan haram, atau bersekutu dengan haram.
Untuk itulah, kata Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi (Halal dan Haram dalam Islam; 1982), setiap dari kita yang mengaku muslim dan mukmin, harus menyiapkan diri untuk mencari pencaharian, sebab tidak seorang Nabi pun kecuali mereka bekerja dalam salah satu lapangan pencaharian.
Wallahu a’lam bishshawab.   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar