Santapan Rohani
Tinggalkanlah Dosa …!
By Aminuddin
NABI Adam as diterima tobatnya karena lima macam, dan iblis
tidak diterima tobatnya juga karena lima macam. Nabi Adam as mengakui dosanya
dan menyesal atas perbuatannya. Menyalahkan dirinya dan segera bertobat. Dia
tidak putus harapan dari rahmat Allah SWT.
Sebaliknya iblis tidak mengakui dosanya, tidak menyesali
perbuatannya, tidak mencela dirinya, tidak se gera bertobat dan putus harapan
dari rahmat Allah SWT. Maka siapa yang keadaannya seperti Nabi Adam as akan diterima
tobatnya dan siapa yang keadaannya seperti iblis tidak akan diterima tobatnya.
Ibrahim bin Adham berkata, sekiranya saya masuk neraka
padahal saya taat kepada Allah SWT, maka lebih baik daripada masuk surga padahal
saya telah berbuat maksiyat (dosa) kepada-Nya. Artinya, jika masuk surga padahal
sudah pernah berbuat dosa, maka ia akan tetap merasa malu kepada Allah karena
telah berbuat dosa.
Dan seandainya masuk neraka padahal ia tidak berbuat dosa
maka ia tidak merasa malu dan selalu masih dapat mengharap rahmat Allah SWT
untuk bisa keluar daripadanya.
Malik bin Dienar bertemu dengan Atabah Al-Ghulam pada musim
dingin sedang Atabah hanya memakai kemeja (gamis) yang telah tua. Ia berdiri
sambil berpikir dengan peluh bercucuran.
Malik pun bertanya, “Apakah yang menyebabkan engkau berdiri
disini?”
Jawabnya, “Hai guruku, ini tempat yang saya pernah berbuat
dosa di sini.”
Yakni, ia sedang berpikir dan merasa malu kepada Allah SWT,
bahwa ia telah berbuat dosa di tempat itu, sehingga ia berpeluh di musim dingin
itu.
Kahmas bin Al-Hasan berkata, saya telah berbuat dosa dan
saya tetap menangis karenanya sejak empat puluh tahun. Ketika ditanya, dosa
apakah yang telah engkau perbuat itu? Saudaraku datang bertamu ke padaku, maka
aku membeli ikan untuk makan bersama-sama. Tiba-tiba aku berdiri sementara ia
masih makan, dan aku mengambil tanah dari kebun tetanggaku untuk membersihkan
tanganku.
Rasulullah SAWbersabda:
“Dosa yang besar di sisi Allah SWT ialah yang dianggap remeh
(kecil) oleh manusia, dan dosa yang sangat kecil di sisi Allah SWT ialah yang
dianggap besar oleh manusia.”
Awwam bin Hausab berkata, empat macam sesudah berbuat dosa
lebih bahaya daripada dosa, yaitu memperkecil (meremehkan) dosa, dan merasa tidak
ada apa-apa, serta merasa gembira atau merasa untung dengan dosa itu. Dan terus
menerus dengan dosa itu.
Seorang Hakiem ditanya, mengapa kami mendengar pengajian
tetapi tidak dapat mempergunakannya? Jawabnya, karena lima macam.
a.
Allah SWT telah memberi nikmat kepada kamu
tetapi kamu tidak bersyukur.
b.
Kamu telah berbuat dosa dan tidak beristighfar
(minta ampun).
c.
Kamu tidak suka mengerjakan apa yang sudah kamu
ketahui.
d.
Kamu bersahabat dengan orang-orang yang baik
tetapi tidak meniru amal kelakuan mereka.
e.
Kamu selalu mengubur orang mati tetapi tidak
mengambil I’tibar dari mereka. (Yakni tidak menyadari keadaan mereka).
Abul-Laits berkata, ayahnya telah berkata, sesungguhnya
Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tidak tiba suatu hari melainkan turun lima malaikat.
Pertama di Makkah, kedua di Madinah, ketiga di Baitul Maqdis, keempat di
pemakaman kaum muslimin, dan kelima di pasar kaum muslimin. Adapun ya ng turun
di Makkah, mereka berseru: Ingatlah,
siapa yang meninggalkan kewajibannya kepada Allah SWT , maka terlepas dari
rahmat-Nya. Sedangkan yang turun di Madinah berseru: Ingatlah, siapa yang
mening galkan sunnaturrasul, maka akan terlepas dari syafa’atnya. Sementara
yang turun di Baitul Maq dis berseru: Ingatlah, siapa yang memakan harta haram
tidak diterima semua amalnya. Dan yang turun di kuburan kaum muslimin berseru:
Hai ahli kubur, apakah yang kamu inginkan dan apakah yang kamu sesalkan? Jawab
ahli kubur: Kami menyesal karena tidak dapat menambah amal, dan atas umur kita
da hulu yang kita buang cuma-cuma , dan kami merasa iri hati dengan orang-orang
yang selalu sembah yang jamaah dan membaca Al-Quran, membaca shalawat Nabi, dan
membaca istighfar, sedangkan kami sudah tidak dapat berbuat semuanya itu. Sementara
malaikat yang turun di pasar berseru: Hai manusia, tenang-tenanglah sebab Allah
SWT itu menentukan balasan hukuman, maka siapa yang takut dari pem balasan
hukuman Allah harus segera memperbaiki dirinya dan tobat dari dosa-dosanya.
Kami iming-imi ngi kamu tetapi kamu tidak menginginkannya. Dan Kami takuti kamu
tidak takut. Andaikata tidak ada orang-orang yang khusyuk dan bayi-bayi yang
menetek, binatang-binatang yang terpelihara, dan orang-orang tua yang ruku’
(sembahyang), niscaya telah dituangkan di atasmu siksa sekaligus.”
Perumpamaan dosa-dosa yang kecil bagaikan orang yang
mengumpulkan kayu-kayu kecil kemudian sesudah terkumpul menyalakan api
daripadanya.
Di dalam kitab Taurat tertulis, siapa yang menanam kebaikan
pasti mengetam keselamatan. Di dalam Injil juga tertulis, siapa yang menanam
kejahatan pasti mengetam penyesalan. Dan di dalam kitab suci Al-Quranulkarim
ada ayat: Man ya’mal suu’an yujza bihi (Siapa yang berbuat kejahatan akan
dibalas).
Allah SWT berfirman:
-
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari
Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu
sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada setiap manusia. Dan cukuplah
Allah menjadi saksi.” (QS An-Nisaa’ 79).
-
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara
mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah SWT ke padamu.
Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah SWT), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada
mereka disebab kan sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia
adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maaidah 49).
-
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada
manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu
musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka
sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (QS Ar-Ruum 36).
-
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka
adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaafkan
sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syuura 30).
Oleh karena itu …
-
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir,
dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.” (QS
Al-Furqaan 52).
-
“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah
kepada-Nya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan du nia dan mereka tidak
memperdulikan hari yang berat (hari
akherat).” (QS Al-Insaaan 26-27).
Karena perbuatan dosa itu akan merugikan pelakunya sendiri …
-
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka
sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudha ratan) dirinya sendiri. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisaa’ 111).
-
“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan
selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah
seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri;
dan orang yang berbuat dosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada
Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu
perselisihkan.” (QS Al-An’aam 164.
Maka itu, wahai saudaraku …
Tinggalkan dosa, karena ini perintah …
“Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi.
Sesungguhnya orang-orang yang menger jakan dosa, kelak akan diberi pembalasan
(pada hari kiamat), disebabkan apa yang telah mereka kerja kan.” (QS Al-An’aam
120).
Semua dosa dapat diampuni kecuali syirik …
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan
Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisaa’ 48).
Sungguh, Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dosa.
“Haa Miiim. Diturunkan Kitab ini (Al-Quran) dari Allah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi
keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan selain Dia. Hanya
kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (QS Al-Mu’min 1-3).
Wallahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar