Novelet
Senja di Kaki
Candi (3)
By Mas Amin
XI
TOOOOOS …
Taaaar …
Celeduk …
Celeduk …
Ban mobil pecah.
“Pinggirkan aja dulu Mas Abu,” kata Wati. Dia tengok kaca
spion.
“Sepi Mas …”
Abu Bakar turun dari mobil. Dia tengok ban mobil. Ke
belakang oke, balik ke depan, dia kernyitkan dahi. Ban depan sebelah kanan
pecah. Apa boleh buat, harus ditambal atau ditukar cepat.
“Betus Wat …”
“Ya udah. Gantiin aja dengan yang baru,” ujar Wati. Dia
Meminta Abu Bakar membuka pintu belakang. Ada ban serep, baru dibeli beberapa
minggu yang lalu.
“Bisa sendirian ya Mas?!”
“Bisa … bisa.”
Abu Bakar pasang gaya. Kedua lengan baju dia singsingkan.
Dia naik ke mobil dan mendorong keluar ban anyar itu.
Huuup …
Bergeser sedikit.
“Berat juga ini ban. Apa ya isinya sampai seberat ini?”
Tanyanya dalam hati.
Wati dan ibunya berteduh di depan sebuah warung nasi.
Keduanya berbincang-bincang dengan sesekali tertawa geli. Alhamdulillah, semua
yang dibeli sudah dibungkus rapi. Mulai dari pakaian, sepatu, celana dalam, bra
hingga handuk dan peralatan memasak dengan harga lumayan murah.
Sementara Abu Bakar masih terus berusaha mengeluarkan ban mobil. Meski lambat akhirnya bisa juga. Wati dan
ibunya serta beberapa pengunjung yang membeli dan makan nasi di warung pada
kaget men dengar suara benda jatuh.
Suara itu berasal dari belakang mobl Wati. Saat Abu Bakar mendorong keluar, tepat di
pinggir pintu, ban miring sebelum akhirnya jatuh terhempas.
“Wati … “
Wati menoleh.
“Sini dong sebentar.” Abu Bakar bilang, dia belum begitu
mahir dan cekatan mengganti ban mobil.
“Tolong ya say?”
“Ya udah. Wati bantuin …”
Ban lama dilepas. Tak mudah memang. Karena harus menggunakan
alat. Alat ada dan tersedia. Wati co ba mengutak-atiknya. Lama juga. Sampai berkeringat.
Abu Bakar, yang merasa kasihan melihat Wati bermandikan
keringat, mengambil alih pekerjaan mema sang ban baru, dibantu seorang warga.
Hanya perlu waktu lima belas menit, ban baru sudah terpasang. Mobil pun siap
melaju.
“Mas … udah kepalang basah nih.” Kata Wati sambil menyeka
peluh di seputaran lehernya.
“Bawa salinan kagak?”
Ha ha ha ha …
Sang ibu tertawa …
“Maksud Wati. Karena sudah ada warung, sekalianlah kita
makan …”
“Oooo begitu.” Abu Bakar baru mengerti. “Sudah. Minum aja
dulu. Makannya di rumah aja. Sebentar juga sampai. Nanti biar Mas yang beliin
ya?”
“Bu!”
“Boleh juga …”
Panas mulai terik. Jalanan macet dimana-mana. Perjalanan
yang semula hanya ditempuh setengah jam dari pasar ke rumah, kini bisa satu
sampai dua jam.
Abu Bakar baru tahu bensin mobil tersisa sedikit. Perjalanan
masih jauh. Dia pun berinisiatif membeli ‘ketengan’ di POM bensin.
Tapi bagaimana caranya?
“Udah. Nak Abu yang beli, biar Wati yang nyetir.” Nurbaya memberi jalan tengah.
“Tapi dirijennya enggak ada Mas. Gimana ya?”
“Udah … Biar Mas aja yang ngusahainnya.” Tanpa bertanya
lagi, Abu Bakar berlari mencari SPBU.
Kemana?
“Tahu enggak dia Wati?”
“Mudah-mudahan aja tahu, Bu …”
He he he he …
Berlari ke utara mencari SPBU sambil membawa dirijen yang
dia pinjam di rumah makan, Abu Bakar ha rus berjibaku dengan para pejalan kaki
yang mulai memadati trotoar jalan. Belum lagi pengendara mo tor, yang karena
harus menghindari macet, terpaksa ‘naik’ trotoar sebelum menemukan jalan pintas
agar tepat waktu sampai di kantor dan rumah.
Wati berharap bensin mobil tidak sampai habis sebelum Abu
Bakar pulang dari SPBU. Mau berhenti tak bisa, karena di pinggir jalan
dipenuhsesaki kendaraan roda dua dan empat.
“”Udah. Kalau habis, Mas mu itu belum juga datang, kita
dorong aja ini mobil,” saran ibunya.
“Ibu mau?”
“Harus maul ah. Masa enggak mau.”
“Sendirian?”
“Berdualah Wati.”
“Sama siapakah?”
“Sama kamu lah. Masa sama yang lain …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa?”
“Kalau Wati ikut dorong, Bu, yang nyetir mobil ini siapa
dong?”
“Biarin jalan sendiri aja lah …”
“Eeeeeem …”
“Gampang sayang. Kita dorong. Kalau ada mobil di depan, kita
tarik dan tahan. Mobil pasti berhenti. Beres kan?”
XII
TERUS mendorong, berhenti dan mendorong. Itulah yang dilakukan
Wati dan ibunya, Juwita. Sementa ra Abu
Bakar masih mengantri membeli bensin. Kepada Wati, dia minta bersabar karena banyaknya ora ng yang mengantri di
SPBU untuk mengisi bensin.
“Coba usahain cari tanah lapang. Kalau ada cepat-cepat
pinggirkan.” Kata Abu Bakar yang terpaksa berpanas-panas mengantri.
“Kamu masih lama enggak Mas?”
“Enggak jugalah …”
“Enggak jugalah gimana?”
“Lema benar sih enggak. Sebentar juga enggak. Mungkin
kira-kira 15-20 menit lah …Sabar ya ..!”
Tak jauh dari warung …
“Bu … Bu … sini!” Salah seorang juru parkir, setengah
berlari mendekati Wati dan Juwita. Dia menawar kan jasa parkir di depan warung
miliknya.
“Bu … Mau enggak?” Wati minta pendapat ibunya yang sudah
kecapekan.
Si ibu menyerahkan sepenuhnya pada Wati. Dia menurut saja.
“Oke Mas.”
Bersama teman-teman yang lain, mobil Wati didorong ke
pinggir, persis berhenti di depan warung lelaki tambun itu.
Suara klakson mobil bersahut-sahutan. Ada yang marah, memaki
namun juga tak sedikit yang menaruh rasa kasihan setelah melihat Juwita dan
Wati bemandikan keringat. Nafas turun naik
tak beraturan, muka pucat pasi.
Keduanya dipersilakan laki-laki empunya warung tadi
bersitirahat di dalam warungnya yang tak terlalu besar. Lantaran sepi, keduanya
menolak halus. Lebih enak dan nyaman duduk di depan warung. Tengok orang
belanja dan lalu-lalangnya kendaraan.
Kriiiing …
Kriiiing …
Kriiiing …
“Ya.”
“Udah belum?”
“Dua orang lagi Wat. Sabar ya!”
“Kami menunggu di depan warung,” kata Wati yang mulai
kelihatan tenang setelah tadinya berpacu dengan macet dan mendorong mobil yang
mogok karena kehabisan bensin.
“Sebelah mana …?”
“Eeeem … depan jembatan penyeberangan. Tahu kan Mas?”
“Jembatan penyeberangan ada berapa banyak Wat?”
“Berapa ya? Eeem … gini aja. Kalau kamu dari SPBU, gampang kok. Nanti kalau
ketemu dan udah dekat jembatan yang warnanya kuning dan biru, ya telepon
lagilah Wati, ya Mas?!”
“Okeee …”
Perut lapar. Kebetulan di dekat warung ada penjual gado-gado. Wati dan
Nurbaya memesan dua piring gado-gado. Sekadar pengganjal perut yang sudah minta
segera diisi.
Ditemani air putih hangat, perut yang semula keroncongan,
mulai terasa kenyang. Sambil makan, anak dan ibu ini cerita soal mobil yang
mereka dorong dan parkir di depan warung kelontonga di pinggir jalan raya besar.
“Apa enggak salah kita Wat?” Sang ibu kuatir. Pasalnya, tak
ada satu pun mobil yang parkir di sekitar tempat mereka duduk menyantap
gado-gado sekarang ini.
“Tenang ajalah Bu. Bilangin aja mobil Mas yang punya warung,
kalau ditanya petugas. Kan beres.”
“Oh iya ya …” Kata Sang Ibu sambil memasukkan sesendok
gado-gado sepiring yang ditaburi kempelang merah ke dalam mulutnya.
Bagaimana dengan Abu Bakar?
“Kembaliannya Mas,” kata petugas SPBU ketika Abu Bakar
buru-buru hendak pergi membawa dirijen pinjaman itu.
Tidak mudah menemukan Wati dan ibunya saat ini. Bukan karena
jauh, tapi mata sudah berkunang-kunang sementara perut sudah berbunyi sedari
tadi … ‘kerooook .. kerooook … kerooook
…’ Badan gemetar dan muka, tak pula sempat tengok di kaca, pucat atau tidak.
“Mas udah dimana?”
“Ini depan kamu …!” Abu Bakar tertawa lebar. Dia berdiri
sambil menenteng dirijen berisi bensin.
“Cukup apa Mas?”
“Mudah-mudahan cukup sampai di rumah ..” kata Abu Bakar. Dia
mengajak Wati bersama-sama mengisi bensin.
Wati menawari Abu Bakar makan gado-gado setelah mengisi
bensin dan mengembalikan dirijen pinja man itu kepada pemiliknya. Dia kuatir
nanti, terlalu lama menahan lapar, jatuh sakit. Dia tahu lelaki di sampingnya
ini pasti sudah sangat lapar.
Orangtua yang jauh dan hanya beberapa hari singgah di kota
ini, Wati memang merasa bertanggung jawab pada keselamatan, keamanan dan
kenyamanan, paling tidak selama Abu Bakar berada di dekat nya.
Bukankah dia telah menunjukkan I’tikad baik baik pada Wati
dan orangtuanya. Kenapa harus menaruh curiga dan melaku kan sesuatu yang
enggak-enggak. Tapi, seperti kata Pak
Refli, meminta bantuan Abu Bakar melakukan pekerjaan yang tidak terlalu berat,
boleh saja.
“Agar dia lebih dekat dengan kita dan terutama kau Wati.
Jadi dia tak gagap lagi sekiranya nanti, kalau diizinkan Allah SWT, kamu bisa
menikah dengannya.”
“Ah ayah, pikirannya sampai kesana. Lamaran aja belum, ”
kata Wati malu-malu tapi manja. Sudah lama dia tak dekat dengan ayahnya.
Bermanja-manja saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas du lunya.
XIII
DI kampus …
“Mas tunggu aja ya?!” Kata Abu Bakar saat membukakan pintu
mobil agar Wati bisa dengan mudah keluar sebelum memasuki gedung bertingkat
dimana dia mengajar sore hari ini.
“Enggak kelamaan Mas?” Beberapa mahasiswa sudah
mengerubunginya. Mereka menanyakan peruba han jadwal perkuliahan semester
genap.
“Mudah-mudahan enggak …”
Tak sempat Wati mendengarnya karena harus menjawab
pertanyaan mahasiswanya. Namun sebelum dia melangkah masuk ke pintu utama
gedung bercat putih dan kecoklatan muda itu, sempat melambai kan tangan yang
dibalas Abu Bakar dengan senyuman menawan.
Karena sepi, sebagian besar mahasiswa berbagai jurusan mulai
mengikuti perkuliahan, Abu Bakar mene pikan mobil ke pelataran parkir kantor
pusat. Beberapa mobil dari berbagai merek tampak terparkir rapi di sana. Serba baru
dan keluaran terbaru.
Abu Bakar turun dari mobil. Dia menoleh ke sekitar kantor
pusat. Ada tanah lapang rerumputan dengan bangku panjang berderet di sana. Dia duduk tak jauh dari
beberapa mahasiswa yang tengah asyik disku si, membaca buku dan tukar pikiran di tanah rerumputan.
Kriiiing …
Kriiiing …
Kriiiing …
Esti yang baru pulang dari mengantar anaknya les, belum tahu
kalau yang menelepon sekarang ini ada lah Abu Bakar. Karena kesibukannya, dia
sampai lupa menanyakan kabar teman karibnya Wati dan Abu Bakar.
“Apa kabar Mbak Esti?”
“Baik kabarnya. Maaf ya Mbak sampai lupa. Enggak
nelepon-nelepon kamu sama Wati.”
“Eggak apa-apa Mbak.”
Gimana-gimana, beres kan?”
“Beres. Besok saya
pulang. Karena besok sudah harus masuk kerja lagi,” kata Abu Bakar yang
tersenyum melihat seorang mahasiswa
rebahan di bangku sambil membaca buku.
“Ya ya … hubungan kalian itu lho. Mbak pengen tahu. Lancar
kagak?”
“Lancar aja Mbak.”
“Oke .. siiplah. Kamu sekarang dimana dik?”
“Di kampus Mbak. Mengantar Wati mengajar. Sekalian
menunggunya pulang.”
“Asyiiik.”
Esti lega mendengarnya.
“Dik Abu …!”
“Ya Mbak.”
“Benar nih lancar.”
“Benar. Saya dan Wati baik-baik saja komunikasinya.”
“Maksud Mbak. Tanggapan Watinya, gimana gitu?”
“Kalau itu saya enggak tahu Mbak.”
“Kok bisa enggak tahu? Katanya tadi lancar …”
“Ya namanya hati orang Mbak. Apa Wati suka sama saya, saya
belum tanya. Tetapi orangtuanya baik dan ramah sama saya, Mbak. Kayaknya mereka
open aja gitu.”
“Ya baguslah. Tapi ingat lho dik. Kamu itu dengan Watinya,
bukan orangtuanya.”
Ha ha ha ha …
“Mbak ini ada-ada saja. Ya tentulah. Cuma mereka kan
orangtuanya Wati. Suara mereka pasti masih didengar Wati …”
“Tapi kamu harus terus terang dong dik. Sebelum pulang kamu
harus minta kepastian gitu. Jadi enggak percuma kamu jauh-jauh datang, eee
pulangnya cuma bawa kaki doang …”
Ha ha ha ha …
“Bilang apa Mbak?”
“Bilang apalah. Masa udah segede ini masih harus diajarin.”
“Malas Mbak.”
“Kenapa? Kamu malu apa?”
“Bukan Mbak. Belum terbiasa aja ngomong yang gituan …”
“Harus dibiasakan dong dik. Gimana Wati tahu kamu suka kalau
kamu enggak bilang suka ke dianya.”
“Nantilah Mbak.”
“Jangan nanti-nanti dik. Sekaranglah saatnya. Kamu harus
berani. Kamu pasti bisa. Coba dululah …”
Abu Bakar berpikir sejenak.
“Dik …!”
“Boleh minta tolong enggak Mbak?”
“Tolong apa?”
“Mbak juga telepon Wati. Bilangin ke dia soal hubungan kami
berdua ini Mbak.”
“Oke. Nanti Mbak telepon. Tetapi kamu harus berani lho
bilangin ke Wati, kalau kamu suka sama dia. Kamu suka kan?”
Abu Bakar diam.
“Dik ..!”
“Ya Mbak. Sukalah sama dia.”
“Alhamdulillah … ya udah. Nanti Mbak ngomong ke Watinya …”
“Makasih Mbaaaaak …”
Wati yang baru keluar dari ruang kuliah, belum langsung
pulang. Dia masih harus merapikan ruang ker janya terlebih dulu . Kemudian menerima
beberapa mahasiswa yang melaporkan siap mengikuti ujian akhir fakultas dengan
melengkapi berbagai persyaratan yang diminta pihak perguruan tinggi.
XIV
“SUSAH amat sih nelepon elu, Wat?”
“Ini kan bisa. Dasar bawel,” kata Wati menjawab sindiran
Esti. Lama dia tak menelepon, sore ini tiba-tiba menelepon, ada apa gerangan.
“Kemana aja sih kamu?”
“Di kampuslah. Masa di dapur. Dasar bawel …”
“Bawel juga …”
Hi hi hi hi …
Keduanya pun tertawa. Sejak masih kuliah dulu, lepas
bercanda yang enggak ada ujung pangkalnya, ketawa juga akhirnya.
Berlanjut di rumah makan, di kamar tidur dan bahkan di
kampus, bersama teman kuliah satu jurusan. Dengan cara itulah, Esti dan Wati
tetap akur dan akrab sampai kini.
“Elu itu serius apa enggak sih sama Abu itu, Wat?”
“Menurut elu gimana?”
“Lho .. kok tanya ke gue. Kan elu yang punya gawean …”
“Elu kagak apa. Dasar pengangguran …”
“Bawel lu ah …”
Hi hi hi hi …
“Wati …”
“Apa dong?”
“Serius ah …”
“Lanjut aja tuan puteri …” Wati memilih berdiri di dekat
jendela ruang kerjanya. Melihat keluar, hampa ran rerumputan dan pepohonan nan
hijau.
“Gini .. elu itu naksir kagak sih sama si beliau itu?” Esti
hak berharap Wati tak menolak alias enggak nak sir Abu Bakar. Kasihan dia. Umur
bertambah, sudah tua belum juga nikah. Payah …
“Naksir sih enggak …”
“Ah yang benar Wat?”
“Cuma fall in love aja …”
“Ha …!”
Ha ha ha ha …
“Nah gitu dong.
Sekarang, apa rencana elu Wat?”
“Pulang,” jawab Wati sekenanya.
Sesaat diam. Wati melihat dari kejauhan Abu Bakar duduk
termenung seorang diri. Di dekatnya ada beberapa mahasiswi semester akhir
tengah mendiskusikan mata ujian akhir dan studi banding.
“Wati …!”
“Eeeem …”
“Apa eeem .. em tu bawel?”
“Gue tengok Mas Abu lagi …” Abu Bakar berdiri, lalu masuk
mobil setelah melihat jam tangannya. Kuatir terlambat menjemput Wati, padahal jarak antara dia dengan sang pujaan hati amatlah
dekat.
“Lagi ngapain?”
“Kayaknya mau jemput gue deh …”
“Baguslah,” ucap Esti. Dia minta Wati membuka pintu hatinya.
Sebab, Abu Bakar memang sudah siap maju, kini berdiri di depan pintu. Sayang,
pintunya masih tertutup rapat. Biar enggak lama menunggu, segeralah buka sayang
…
“Sssst .. ini rahasia kita berdua lho Wati.”
“Rahasia apaan sih …?”
“Tadi, Abu Bakar telepon gue. Curhatlah dia soal hubungan
kalian berdua. Dia bilang …”
“Bilang apa?”
“Bawel lu.”
“Cepetan bawel. Aku mau turun nih.” Wati sudah berkemas.
Siap menuruni anak tangga, keluar gedung menemui Abu Bakar.
“Bawel ah!”
“Tutup teleponnya ya!”
“Jangan … jangan bawel.” Esti bilang, Abu Bakar suka sama
anak perempuannya Pak Refli dan Bu Juwita Refli. Itu saja.
“Masa?!”
“Gue ini temen elu atau setan sih?”
“Ya dua-duanyalah. Kadang temen, lain waktu setan juga …”
He he he he …
Piiiin …
Sebelum mematikan telepon selulernya, Abu Bakar sudah turun
dari mobil. Membuka pintu dan menyi lakan Wati masuk.
“Sekarang Mas?” Wati melirik jam tangannya. Sudah pukul
setengah enam sore.
“Nanti juga boleh.”
“Pulang yuk!” Ajaknya. Kalau sudah malam, di sekitaran
kampus, sering macet di jalan. Sampai di
rumah bisa-bisa tengah malam. Apa kata orang.
Kampus masih ramai. Pedagang gerobak mulai memasang tenda,
kursi dan meja makan. Beberapa pe ngunjung mulai berdatangan. Memesan gorengan,
bakso dan aneka kudapan ringan. Langit cerah. Ja lanan tak macet. Kendaraan
roda dua dan empat berseliweran, lewat pertigaan dan simpang empat menuju pusat kota.
Esti dan Wati, keduanya belum juga saling bertutur kata.
Keduanya masih fokus dengan lamunan ma si ng-masing. Wati ingat pesan Esti
barusan yang memintanya tak berlama-lama membuk pintu gerbang cinta. Sementara
Abu Bakar berharap keinginannya untuk mengutarakan isi hati tak menemui
kendala.
Mereka berdua baru bicara setelah Wati meminta Abu Bakar
menepikan mobil. Singgah di Pondok Anu gerah,
sekadar untuk menikmati aneka kudapan
ringan dan teh manis penghangat perut dan kerongko ngan.
XV
“ENAAAK …!”
“Sebenarnya …”
Hi hi hi hi …
Wati tersipu malu, sementara Abu Bakar tertawa lucu. Dua
kali ‘ngucap’ barengan sambil menunggu pesanan.
Sayup-sayup terdengar tembang manis ‘Fall in Love’ dari
Prilly Latuconsina …
Baru kali ini
Kurasakan ada yang beda
Tadinya tak pernah
Menatapnya lebih lama
Awalnya biasa
Semakin hari semakin
berbeda
Getarannya tak lagi sama
Can you see the secret
of my eyes
Can you feel what I
feel here inside
I feel in love with
you
Haruskah
kukatakan cinta
Kuragu tuk
mengatakannya
I feel in love with you (with you)
Dan
waktu pun melambat
Saat aku
tak ada di dekatnya
Persahabatan ini mulai berubah
Can
you see the secret of my eyes
Can
you feel what I feel here inside
I feel in
love with you
Haruskah kukatakan cinta
Kuragu
tuk mengatakannya
I
fall in love with you (with you)
Dan aku tak bisa lagi menahan
Rasa ini di dada
Haruskah kukatakan padanya
Kujatuh cinta
Aaah …
Uuuuuh ….
Can
you see the secret of my eyes
Can you feel what I feel here inside
I fall in love with you
Haruskah kukatakan cinta
Kuragukan tuk menyatakannya
I fall in love (I fall
in love)
I fall in love (I fall in love)
I fall in love with you
“Wati … Bantu aku untuk mengatakannya ..” Abu Bakar berusaha
tetap tenang, walau hatinya galau, apa mungkin bisa tenang saat isi hati dibuka.
“Katakanlah Mas. Aku siap mendengarkannya,” ucap Wati. Sulit
beralih pandang. Sungguh sejuk mena tap mata itu.
“Wati, aku …” Mulut terasa berat untuk berucap, walau hanya
sepatah dua patah kata. Seakan orang ramai mengelilingi keduanya.
“Atur nafas Mas.”
Tarik … hembuskan. Tarik … hembuskan. Tarik … hembuskan.
Sampai tujuh kali Abu Bakar mengatur na fasnya.
“Gimana Mas?”
“Lumayanlah …” Kata Abu Bakar. Lidahnya tak kelu lagi.
Perasaannya kini lebih tenang.
Pesanan datang …
“Minumlah dulu, Mas.” Kata Wati, sesaat setelah pelayan
wanita kedai teh menyilakan keduanya untuk menyeruput teh dan mencicipi kudapan
ringan beda rasa.
Celeguk …
Celeguk …
Aaaah …
“Gimana sekarang Mas”
“Alhamdulillah, sudah fit
seratus persen kayaknya.”
“Mau ngomong atau terus minumnya?”
Abu Bakar jadi malu hati. Sebenarnya dia mau menyantap
martabak telur yang tersaji. Perut lapar, minta segera diisi. Tapi, belum lega
rasanya sebelum isi hati ini diutarakan dan didengar oleh si dia.
“Wati …”
“Ya udah. Cintanya Mas Abu, Wati terima …”
“Alhamdulillah …” Ucap Abu Bakar. Sesaat menunduk,
sebelum membalas tatapan sendu Wati yang lain dari biasanya.
“Udah kan?”
Abu Bakar mengangguk.
“Pulang yuk!”
“Sekarang?”
Gantian Wati yang mengangguk. Dia tersenyum puas.
Hal serupa juga dilakukan pasutri yang belum lama menikah
dari deretan kursi paling belakang.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar