Rabu, 12 April 2017

Cak Luy (2)





Novel ….

Cak Luy (2)
By  Wak Amin

12
KARENA sudah tengah malam, disepakati oleh empat orang suruhan Tuan Murdoch, mengakhiri penca rian terhadap Mr Clean dan Yulia pada hari ini. Pencarian dilanjutkan keesokan harinya sampai buruan mereka ini diketemukan dalam keadaan hidup atau mati.
Sementara Mr Clean dan Yulia bermalam di salah satu rumah warga. Beruntung pemilik rumah bersikap ramah dan mau menerima mereka, tanpa curiga dengan mempersilakan keduanya untuk beristirahat, makan dan minum seadanya.
Malam itu berlalu dengan aman dan lancar. Si mata sipit cs memilih bermalam di atas speed boat yang  ditambatkan di pinggiran sungai.  Mereka terpaksa tidur di speed boat, karena untuk kembali ke rumah empu nya ‘motor tempel’ ini, cukup jauh sementara mereka yakin tempat persembunyian Mr Clean dan Yulia sudah dekat.
“Kita  bertekad besok harus dapat,” kata si Gimbal, diiyakan bodiguard berkulit putih dan hitam.
“Kamu yakin betul bakal menemukan mereka Bal.” Mata sipit ragu. Bisa jadi Mr Clean sudah sangat jauh dari tempat mereka bermalam di speedboat saat ini.
“Harus Fit. Sebab kalau tidak yakin, buat apa kita berpayah-payah mencari dan mengejar mereka. Betul tidak kawan-kawan?”
“Betuuul,” jawab si putih dan si hitam serempak.
“Okelah … Kalau begitu tunggu apalagi. Yuk kita bobok sekarang.” Sipit memilih tidur di belakang, dekat mesin speed boat. Karena tak muat kalau berselonjor, terpaksa melipat kedua kaki saat tidur.
Malam terus bergerak. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan dengan gemerik air sungai dan riak ombak nya yang menggoyang lembut bodi speed boat.
Tidur pulas. Ketika bangun keesokan harinya badan terasa lebih segar dan bugar. Itulah yang dirasakan mata sipit dan ketiga rekannya.
Apa saja yang mereka temui saat pagi menjelang, mereka makan karena mereka tidak membawa bekal sebelumnya. Mulai dari ikan mentah yang mereka tangka rame-rame berempat, sampai harus memanjat pohon kelapa bergantian hanya untuk mengganjal perut agar tidak kelaparan.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepian sungai. Pemandangan sekitarnya masih alami dengan panorama hutan yang masih perawan, asri dan sangat indah meski terkesan lenga ng terkecuali sayup-sayup terdengar menggoda kepak suara burung.
Beberapa saat kemudian, Gimbal cs baru menemukan rumah penduduk. Beberapa warga tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang menjemur ikan dan kemplang ikan, mandi dan juga ada yang mencuci pakaian.
Ada beberapa buah perahu yang ditambatkan. Belum satu pun dinaiki sementara anak-anak bermain dan sebagian lagi bersiap berangkat ke sekolah.
Sepanjang mata memandang nyiur seolah melambai-lambai. Tanah putih kecoklatan dengan rumah tanpa tiang. Mereka kelihatan hidup rukun dan damai.
“Apa perlu kita mampir Bal?” Tanya si mata sipit.
“Bagaimana kawan-kawan?” Mata sipit  melempar tanya. Dia Melirik  si putih dan hitam tertawa senang melihat kelucuan anak-anak di tepian sungai. Berkejar-kejaran lalu terjun, berenang dan menyelam ke sana kemari.
“Mana baiknya saja, kami menurut.” Jawab keduanya. Singgah boleh, tak singgah juga tidak apa-apa. So alnya, yang penting saat ini adalah menemukan secepatnya Mr Clean dan Yulia. Tugas selesai dan bisa pulang lebih awal.
Demi efisiensi pengejaran, mereka urungkan untuk singgah walau hanya sebentar. Mereka terus melaju sampai ke ujung sungai yang sedikit melebar bentuk dan posisinya.
Ada dua jalan yang bisa ditempuh. Lurus ke depan atau belok kanan. Bedanya, jika menempuh jalur lu rus, kanan dan kiri hutan dan beberapa jam kemudian baru bertemu rumah penduduk.
Sedangkan jalur ke kanan, walau ada hutan, jaraknya dengan pemukiman warga, tak terlalu jauh. Jalur ini banyak digunakan pengguna transportasi laut karena lebih ramai dan bisa singgah sewaktu-waktu bila kepingin dan ada keperluan.

13
“ITU mereka Cuy …!” Teriak Gimbal. Dia menunjuk ke pemukiman warga. Ada jalan dua tapak yang menghubungkan antar kampung. Tampak dengan santainya Mr Clean membonceng Yulia.
Tak sedikit pun ia kuatir dengan Gimbal cs. Meski tak lagi menggunakan sepeda motor, cuma bersepeda kepunyaan warga, tembakan yang dilepaskan si mata sipit dijawab Mr Clean dengan meliuk-liukkan sepe da sementara Yulia yang dibonceng di belakang, tertawa terpingkal-pingkal sambil melambaikan tangan ketika speed boat mulai merapat ke pinggir sungai.
Jeredup …
Gedebug ….
Yulia makin terpingkal-pingkal melihat , karena terlalu cepat merapat,  mata sipit dan kawan-kawan terlempar dari speed boat dan berguling-gulingan di atas tanah berpasir.
Warga terheran-heran menyaksikan ulah empat lelaki asing di mata mereka itu. Kenapa dan mau apa mereka kemari, lantas mengapa sampai jungkir balik dari speed boat.
Gimbal sc cuek saja. Mereka mengejar ke mana arah Mr Clean mengayuh sepedanya. Mereka pun, dengan sedikit memaksa, akhirnya meminjam dua sepeda warga. Sepeda ontel orang kampung me nyebutnya.
“Cepat sedikit Mister. Mereka bersepeda juga,” kata Yulia. Dia sudah tidak tertawa lagi. Sama-sama bersepeda. Tinggal lagi siapa yang cepat mengayuh dan lihai bermanuver.
“Bisa ketangkep kita Mister.” Yulia mulai berkeringat dingin.
“Tenang saja Yulia,” bisik Mr Clean. Mempercepat laju sepeda, sampai di pertigaan mereka belok kanan. Lalu melewati  jembatan gantung sepanjang dua puluh lima meter.
Jembatan itu masih kokoh. Hasil swadaya warga kampung. Dari atas jembatan gantung itu kita leluasa melihat air sungai jernih mengalir di sela bebatuan. Sering digunakan warga untuk memancing dengan menggunakan sampan.
Keduanya turun dari sepeda. Berjalan lambat karena jembatan terus bergoyang bila ditapaki, apalagi ha rus menggandeng sepeda.
“Auuuu Mister!” Teriak Yulia. Badannya oleng karena jembatan gantung seolah miring ke kanan dan me laying-layang.
“Pegang stang sepeda Yul.”
Yulia malu-malu.
“Daaagh ah, jangan malu-malu. Cuma pegang stang sepeda saja malu,” ledek Mr Clean.
“Telunjuk Mister turunkan sedikitlah.”
“Oh sori ya.” Mr Clean buru-buru menurunkan jari telunjuknya yang sempat menunjuk ke atas karena menahan sepeda yang juga ikut oleng tadinya.
“Auuuw …!”
Yulia nyaris jatuh. Cepat ditarik Mr Clean. Berpegangan kembali di stang sepeda, keduanya memper cepat langkah agar lebih cepat sampai di kampung seberang.
Yulia tak henti-hentinya berteriak setelah melihat badan Mr Clean berkali-kali miring ke kiri menahan goyangan jembatan gantung berbahan seling dan tali besar itu.
“Naik sepeda saja Yulia, mau kan?”
“Tak usah Mister. Bertambah berat,” jawab Yulia.
“Atau pegang saja baju saya.”
“Biar begini sajalah Mister. Di samping Mister dan berpegangan di stang sepeda,” kata Yulia.
Di tengah rasa takut jatuh dari atas jembatan gantung , Yulia berharap mereka tak sampai tertangkap Gimbal Cs.  Dia masih kuat berjalan dan siap dibawa ke manapun oleh Mr Clean.
“Itu mereka!” Jerit si mata sipit. Dia melihat Yulia harus jatuh bangun untuk sampai ke seberang jemba tan.
Trot … tot … trot … tot …
Mata sipit melepaskan tembakan saat Mr Clean dan Yulia berhasil  tiba di seberang dengan melompat ke semak-semak.
“Aduuuh!” Ringis Yulia. Tangannya lecet karena tergores batu kala jungkir balik tadi.

14
DARI balik semak, Mr Clean masih menunggu apa gerangan yang bakal dilakukan Gimbal dan ketiga re kannya. Ternyata mereka berusaha untuk bersepeda di atas jembatan. Karena bergoyang, tentu saja sepeda oleng, terbalik . Hitam dan putih yang berada di atas sepeda jatuh tertimpa sepeda.
“Bodoh betul kalian berdua ini,” kata Gimbal meledeki dua rekannya yang tertimpa sepeda.
“Badan  saja yang gede, otak didengkul,” sahut si mata sipit.
Merasa tersinggung, si kulit putih mengangkat tinggi sepeda yang dia ambil paksa dari tangan Gimbal, lalu dilempar jauh ke sungai.
Gimbal tak terima. Dia pun, setelah mengambil paksa sepeda yang stangnya dipegang si hitam, dilempar juga ke sungai.
Kini mereka berempat tidak punya sepeda lagi.
Lalu?
Si Gimbal menodongkan senjata ke bodiguard putih dan hitam, menyuruh keduanya berjalan lebih dulu ke seberang.
“Cepat sana!” Sergah sipit. Walau badan kalah besar, di bawah todongan senjata, dua bodiguard kesa yangan Tuan Murdoch ini dibuat tak berkutik.
Berjalan  di atas jembatan gantung baru pertama kali ini mereka lakukan. Jadi wajar bila saat pertama kali kedua kaki menginjak tali, harus jatuh bangun. Tali sempat ngelendot karena beban terlalu berat menahan badan yang tinggi besar.
“Kenapa lihat-lihat?” Hardik sipit.
“Orang bukan itu?” Si putih balik bertanya.
Ketika Sipit dan Gimbal menoleh ke belakang, siputih berhasil merebut senjata di tangan Gimbal, ber balik menodongkan senjata ke dua rekannya yang jago tembak itu.
“Cepat sana bodoh!” Hardik si putih sambil menendang bokong si sipit sementara rekannya hitam melakukan hal yang sama pada si Gimbal.
“Jangan begitulah,” kata sipit dengan wajah memelas.
“Mentang-mentang pakai senjata,” omel si Gimbal dengan mata melotot. Dia berharap sikapnya ini membuat gentar si putih.
“Kenapa melotot-melotot. Melawan ya?” Tanya si putih seraya menempelkan muncung senjata ke perutnya Gimbal.
“Tembak kalau berani!” Tantang Gimbal gemetaran.
Guaaam …
Senjata meletus. Peluru yang mengenai perutnya, membuat  Gimbal sempoyongan sebelum akhirnya jatuh dari atas jembatan dengan kepala pecah menghantam batu, lalu disapu arus sungai, hanyut diba wa air mengalir deras.
Melihat temannya jatuh, si sipit naik pitam. Dia meninju mukanya hitam. Kena. Jatuh dengan kepala tersangkut di tali.
Guaaam …
Guaaam …
Si putih tak tinggal diam. Dia tembak kepalanya sipit. Tewas seketika. Mayatnya dia lemparkan bersama si hitam ke sungai.
Kini hanya berdua.  Hitam dan Putih. Sambil memegang pagar, tali kiri dan kanan jembatan, keduanya terus melangkah walau lambat.
Mr Celan belum juga beraksi. Dia masih menunggu hitam dan putih lebih mendekat ke seberang jem batan .
“Apa tidak lebih baik sekaranglah kita bertindak Mister,” kata Yulia. Bersama Mr Clean sudah menyiap kan betetan (ketapel) dan siap dibidikkan ke sasaran.
“Tunggulah sebentar Yulia,” kata Mr Clean.
Si hitam dan putih kian lama kian mendekat. Kini hanya berjarak kira-kira tiga meter dari tempat persem bunyian Mr Clean dan Yulia.
“Oke Yulia?”
“Oke Mister.”
Huuup …
Celetek
Daaag …
Beberapa batu kerikil mengenai kepala si hitam dan putih. Berdarah dan sempoyongan. Terlempar dan jatuh ke dalam air.

15
 TENGAH malam …
Grenteeeeng …
Cokleeeek …
“Tuan Sanders. Ada seseorang yang ingin bertemu anda di luar,” kata Pak Sipir tanpa senyum.
Tuan Sanders yang hampir seharian tak tidur mendekat ke pintu sel. Juga tanpa senyum tapi sedikit tegang.
“Dengar tidak Tuan?” Pak Sipir melotot dibalas Tuan Sanders dengan melotot pula.
Traaak …
“Aduh …!”
Tuan Sanders meringis kesakitan setelah tangannya ditarik Pak Sipir ke luar sel. Lalu dia pelintir dan tekuk ke besi sel.
“Mau saya patahkan tangannya Tuan Sanders?”
“Jangan, jangan Pak Sipir. Kalau tangan saya dipatahkan, bagaimana saya makan. Ini kan tangan kanan Pak Sipir,” jawab Tuan Sanders meminta maaf dan ampun.
Dia dorong tangan kanan Tuan Sanders masuk lewat lubang sel, lalu dia tarik tangan kiri lewat lubang di sebelahnya.
“Jangan juga Pak Sipir. Tangan ini buat saya becebok. Bagaimana becebok kalau tak ada tangan kiri. Enggak mungkinlah pakai tangan kanan saya becebok.”
Deruuuuk …
Jegeeer …
Setelah mendorong masuk tangan kiri Tuan Sanders, Pak Sipir membuka gembok kunci pintu sel. Aneh nya,  teman Rifshan ini belum mau keluar dari dalam sel.
“Bisa minta tolong enggak Pak Sipir?”
“Apa?”
“Suruh kemari saja beliau yang di luar itu Pak.”
Pak Sipir diam.
“Mau ketemu beliau atau tidak sama sekali malam ini Tuan Sanders.” Pak Sipir menarik kerah baju Tuan Sanders sebelum dilepaskan lagi setelah Tuan Sanders meminta maaf dan mengiyakan permintaan lelaki bertampang seram  itu.
“Baiklah, saya akan temui beliau,” kata Tuan Sanders dengan langkah gontai ke luar dari sel.
Dia sama sekali tidak tahu orang yang ingin bertemunya malamini adalah Tuan Murdoch. Sang Tuan memang sengaja datang berkunjung ke penjara luar kota. Dia sengaja menemui  dua koleganya yang masuk bui secara diam-diam.
Buat keperluan apa?
Treeeeng …
“Terus saja Tuan. Lurus .. Lalu belok kanan,” kata Pak Sipir. Dia tak ikut mengantar karena harus memeriksa tahanan lain pada tengah malam ini.
Tuan Murdoch melepas senyum dari kejauhan. Dia menyambut hangat kedatangan koleganya itu. Dia dikawal bebera pa anak buahnya yang jarang tersenyum, apalagi tertawa.
Kemudian memeluk hangat Tuan Sanders. Menanyakan kabarnya kini, lalu meminta maaf karena baru kali ini dia bisa menjenguk lantaran ada kesibukan mengelola bisinis baru. Bisnis ekspor impor.
“Rifshan mana Ders?”
“Kami dipisah ruangan Tuan.” Jawa Tuan Sanders. Ikut merokok setelah ditawati Tuan Murdoch rokok. Nikmat rasanya merokok. Sejak masuk sel dia tak pernah bersentuhan dengan yang namanya rokok.
“Tuan Sanders.”
“Ya Tuan Murdoch.”
“Anda mau saya bebaskan?”
“Maulah Tuan. Tak enaklah di penjara ini. Lainlah dengan di rumah sendiri. Betul kan kan Tuan Murdoch?”
Ha ha ha ha …
“Namanya juga penjara Tuan Sanders. Mana enaklah …”
Hua ha ha ha …
“Saya akan bantu kamu, tapi tolong bantu juga saya Tuan Sanders.”
“Apa yang bisa saya bantu Tuan?”
Tuan Murdoch membisikkan sesuatu di telinga Tuan Sanders.
Tuan Sanders terkejut.

16
SAAT makan siang …
Tuan Sanders sudah lima menit menunggu Rifshan di meja makan. Nafi lain yang lagi makan di dekat tempat duduknya serempak pada ngeledek …’Sanders nunggu pacar …pacarnya kesasar .. sudah tahu wakuncar .. taunya jalan-jalan ke pasar …’
Ha ha ha ha …
Karena ngeledeknya rame-rame, riuhlah suasana tempat makan. Salah seorang petugas mendekati Tuan Sanders sambil berkacak pinggang dengan kaki kanan menginjak kursi makan.
“Eeeeh .. bosan makan ya?”
“Ini sudah makan Pak,” jawab Tuan Sanders. Menyendok nasi dan potongan ayam, lalu dimakan.
“Kenapa nasi tuan masih banyak?” Tanya si petugas sambil  menurunkan kakinya. Soalnya, napi yang lain sudah pada dua kali tambah nasi dan lauk pauk.
“Menikmati Pak.”
“Ok oooo. Cepat ya. Jangan lama-lama menikmatinya. Sebentar lagi jam makan siang habis,” pesan si petugas, berlalu pergi memeriksa sekelompok napi paling ujung yang nyaris baku hantam gara-gara rebutan lauk.
 “Hei Bos!” Tegur Rifshan dari samping kanan.
Tuan Sanders menoleh ke kanan, yang negur tidak ada.
“Kemana dia?”
“Di kiri Bos ..”
Menoleh ke kiri, Tuan Sanders tak juga menemukan Rifshan.
“Kampret tuh orang,” maki Tuan Sanders dalam hati.
Bosan menoleh ke kiri dan kanan, dia berdiri agar bisa melihat secara jelas keberadaan Rifshan. Mana tahu dia bersembunyi di balik kerumunan napi yang berebutan lauk.
“Aku di depanmu Bos.” Kata Rifshan tersenyum menarik kursi makan.
“Ah kamu. Sompret lu.”
“Sabar. Yuk kita makan dulu,” ajaknya. Menyendok sop daging panas lengkap dengan potongan kentang dan wortel.
Sesaat diam.
Karena sama-sama makan.
Menikmati santap siang berdua.
“Semalam aku ketemu Tuan Murdoch, Shan.”
Rifshan kaget. Hampir saja nasi di mulut keluar lagi.
“Dimana, dimana?”
“Ya disinilah. Beliau sengaja datang untuk menemui aku Shan.”
“Aku enggak diajak?”
“Bukan enggak diajak. Tempatmu saja aku tak tahu. Jadi wajar kau tak kuajak, apalagi Tuan Murdoch tak lama.”
“Ya apa salahnya kasih tahulah Pak Sipir, Ders. Kan beres,” ucap Rifshan kecewa.
Kesal, Tuan Sanders menginjak kaki Rifshan. Meringis kesakitan.
Napi yang lain serempak menoleh. Heran bercampur lucu. Menurut mereka, Tuan Sanders dan Rifshan tak cocok disebut napi karena licin dan kelimis.
Ha ha ha ha …
“Mereka cocok jadi bencong,” komentar napi penuh tato. Dari betis hingga kepala ditato berbagai bentuk dan corak.
Mereka baru diam setelah dari pengeras suara, terdengar suara petugas yang mengingatkan para napi waktu makan siang tersisa lima menit lagi. 
“Mau dengar ceritaku Rifshan?”
“Maulah Ders.”
“Beliau menyuruhku membunuh kamu malam ini …”
Gredeg ..
Triiing …
Sendok dan garpu sampai jatuh ke bawah meja makan panjang. Sesak rasanya nafas Rifshan. Dia buru-buru minum dan dtenangkan Tuan Sanders.
Rifshan masih batuk-batuk. Mukanya sampai merah karena terus menerus batuk.
“Kamu serius Ders?” Rifshan menduga temannya ini bersenda gurau. Hanya ingin balas dendam karena merasa ‘dikadali’ barusan.
Ketika Tuan Sanders mengangguk, penglihatan Rifshan mulai berkunang-kunang.

17
ADA apa dengan Rifshan?
Dia hanya terlalu kaget. Badannya tiba-tiba merasa lemas. Dia sebenarnya ingin bicara lebih banyak lagi dengan Tuan Sanders. Karena jadwal makan siang sudah habis, mereka pun harus masuk sel  lagi.
Di dalam sel, keduanya asyik dengan lamunan masing-masing. Rifshan misalnya, dia kini merasa nasib nya ada di tangan sobatnya, Tuan Sanders. 
Sedangkan Tuan Sanders berat hati untuk membunuh teman sendiri hanya sekadar ingin menghirup udara bebas, keluar dari penjara ‘menakutkan’ ini.
“Apa iya bisa begitu?” Tanyanya dalam hati.
“Lantas dengan cara apa Tuan Murdoch membebaskan saya?”
“Ah …” Bisik Tuan Sanders. Dia mulai kuatir dan ragu. Keraguannya itu pada janji Tuan Murdoch untuk membebaskannya setelah menghabisi Rifshan.
“Jangan, jangan .. setelah aku bunuh Rifshan justru aku pula yang disangkakan kelak. Iya kalau dia realisa sikan janjinya, kalau tidak?”
Taruhlah, entah kenapa Tuan Sanders sampai berpikir sejauh itu, Rifshan berhasil dibunuh. Kalau ketahu an pasti gempar. 
“Pasti aku duluan yang ditanyai. Semua mata tertuju padaku. Mereka menyalahkanku karena selama di penjara ini memang tidak ada satu napi pun yang mengganggu  aku dan Rifshan. Jadi kalau bukan aku, siapa lagi.”
“Biarkan saya yang membereskannya Tuan Sanders,” kata Pak Sipir dari balik pintu sel. Sebelumnya pelit senyuman, malam ini dia tiba-tiba murah senyum dan ketawa tak lebar.
“Pak Sipir!”
“Saya sudah diberitahu Tuan Murdoch. Dia menawari saya bekerjasama dengan anda untuk menghabisi Rifshan. Saya jawab mau kerjasama asalkan tuan dilibatkan juga,” jelas Pak Sipir.
Tuan Sanders belum berkomentar.
“Oke kata Tuan Murdoch. Beliau setuju dengan syarat yang saya ajukan. Ya, saya oke. Nah, kini tinggal persetujuan dari Tuan Sanders lagi. Kalau oke, kita siap bergerak malam ini juga.”
“Caranya Pak Sipir?” Tak sengaja pertanyaan ini keluar dari mulut Tuan Sanders.
“Kalau perkara itu gampanglah. Serahkan sama aku …”
Tuan Sanders masih ragu. Tak tega rasanya dia membunuh teman sendiri. Tapi dia tak punya pilihan. Soalnya, Pak Sipir sudah tahu rencana dan pemufakatan jahat ini. Dia sudah diberi lampu hijau oleh Tuan Murdoch  untuk membantunya.
“Pak Sipir …”
“Tuan tak bisa menolaknya lagi. Jika tuan menolak maka saya tak bertanggung jawab soal keselamatan tuan selama ditahan di sel ini.” Terang Pak Sipir. Bukan mengancam, hanya menjelaskan kemungkinan Tuan Murdoch murka dan mengambil jalan pintas serta nekad.
“Maksud Pak Sipir?”
“Kalau tuan menolak, saya juga tak mungkin mengelak, atas suruhan Tuan Murdoch, menghabisi tuan dan sahabat tuan itu …”
Tuan Sanders terdiam.
“Kita tak punya banyak waktu lagi tuan. Jawab saja, ya atau tidak. Mau atau tidak mau … kan beres.”
Setelah Tuan Sanders mengatakan ya, bersama Pak Sipir, keduanya bergegas menuju ruang tahanan Rif shan. Suasana sel sepi mencekam.  Tak seorang napi pun yang berani mendekati pintu sel yang lazim me reka lakukan setiap penghuni baru memasuki sel.
Semua napi pada istirahat. Ada yang tidur, atau sekadar rebahan dad duduk bersemedi. Hanya sedikit yang melakukan sharing sesama teman satu sel.
Ketika sampai di depan pintu sel Rifshan,  Pak Sipir dan Tuan Sanders heran karena yang bersangkutan tidak ada di tempatnya.
 Kemana dia?

18
“SAYA disini Pak,” jawab Rifshan. Dia tidak kemana-mana. Dia berdiri di bailik tempat tidur. Tidak keliha tan karena memang rada gelap. Tidak menjawab panggilan barusan karena malas. Sebab, Rifshan tahu sebentar lagi nyawanya akan melayang.
“Masuklah Pak Sipir dan temanku Tuan Sanders.” Rifshan mempersilakan keduanya masuk. Namun Pak Sipir lebih senang berdiri di luar pintu sel bersama Tuan Sanders.
“Tidak keberatan ikut kami Tuan Rifshan. Hanya sebentar … Tidak lama.”
“Boleh. Tapi hendak kemana kita Pak?”
“Tidak kemana-mana. Santai sajalah. Kita hanya makan angin di luar. Sharinglah begitu …” Kata Pak Sipir, tersenyum lebar.
Tuan Sanders mengiyakan. Tapi Rifshan masih ragu dan curiga.
“Ayolah Tuan Sanders. Saya ada perlu sebentar sama kalian berdua.”  Pak Sipir ingin semua berjalan se suai rencana. Tidak ada pemaksaan yang berujung pada kekerasan dan keributan di dalam dan luar sel tahanan.
“Yuk Shan. Kita came on …” Ajak Tuan Sanders. Mereka pergi meninggalkan sel menuju pintu gerbang ketiga. Pintu ini kerap digunakan petugas penjara (lapas) untuk keluar masuk melakukan aktivitas kerja seharian.
Dari pintu ini ketiganya memutar ke kanan, lalu balik menuju jalan setapak tempat parkir khusus kenda raan. Disinilah Rifshan dihabisi dengan cara ditembak kepalanya oleh Pak Sipir.
Sebelumnya Pak Sipir meminta Tuan Sanders lah yang menembak. Karena tak tega, dia menolak keras  walau sempat diancam dengan bentakan dan dibawah todongan pistol  dikening.
Tuan Sanders hanya diam saat eksekusi berlangsung. Dia tak mampu berbuat apa-apa. Meski hanya se kadar meng gerakkan tangan untuk merebut pistol dari tangan Pak Sipir agar tak terjadi tembakan.
Hatinya luluh. Sanubarinya menjerit. Tapi semua itu tak ada gunanya jika tak mampu melakukan apa pun. Hanya terpana,  lalu ikut membantu Pak Sipir menggotong Rifshan yang kepalanya berlumuran darah segar dan sudah sekarat.
Saat digotong berdua menuju lautan lepas, Rifshan masih sempat menatap wajah Tuan Sanders. Tak lama. Senyum dikembangkan, dan setelah itu tak bernafas lagi.
“Rifshan,” ucapnya dalam hati. Ingin rasanya mencium dan memeluk Rifshan terakhir kalinya. Tapi tak ia lakukan karena harus bergegas melewati terowongan kecil menuju pintu belakang.
Sesampainya di dermaga, semacam pelabuhan kapal,  mayat Rifshan dilempar ke laut. Beberapa menit dibiarkan hanyut dibawa air lautan, lalu tenggelam dan tak kelihatan lagi.
“Beres kan Tuan?”
Tuan Sanders tak menjawab.
Tak lama kemudian terdengar letusan kecil. Sebuah peluru jarak dekat dilepaskan Pak Sipir dari mun cung pistolnya, tepat mengenai ulu hati. Seketika itu juga Tuan Sanders tewas.
Dengan satu kali dorongan ke depan, Tuan Sanders yang sudah sekarat itu jatuh ke dalam air dengan posisi terlentang. Sebelum tenggelam, Pak Sipir melepaskan tembakan beberapa kali sebelum pergi meninggalkan dermaga terbikin dari besi yang usianya sudah sangat tua itu.
Pak Sipir menghela nafas.
Dia menelepon seseorang.
Siapa dia?
“Tuan Murdoch. Semua sudah dibereskan …”
“Oke. Kapan kita bisa ketemu?” Tanya Tuan Murdoch yang merasa lega setelah mendengar kedua ko leganya sudah tewas.
“Saya sangat perlu uang sekarang Tuan Murdoch.”
“Oke. Nanti saya kirim anak buah saya secepatnya pagi nanti. Anda tunggu sajalah.”
“Baik Tuan Murdoch.”
“Oh ya Pak Sipir. Saya ucapkan terima kasih. Semoga kerjasama kita ini bisa dilanjutkan pada hari-hari berikutnya …”
“Sama-sama Tuan …”
19
TERJADI tembak menembak antara aparat kepolisian yang dipimpin Letnan Salam dengan anak buah Tuan Murdoch di pelabuhan laut pada tengah malam. Bongkar muat baru saja usai. Permata baru ditu runkan dari kapal, diangkut dan diletakkan di belakang truk tronton.
Ada sekitar 500 kotak yang berisi permata berkilau hasil kiriman dari negara luar. Permata ini sengaja di datangkan Tuan Murdoch karena yang bersangkutan selain mengelola beberapa klub malam, kafe dan bar juga jual beli permata.
Tak banyak yang tahu transaksi bisnis ratusan miliaran rupiah itu sudah berlangsung lama. Namun bebe rapa tahun  belakangan ini kiriman permata dari luar itu sudah dibarengi dengan pemasokan narkoba.
Tepung-tepung putih itu dimasukkan ke dalam bongkahan permata dan juga diletakkan di bawah  perma ta.  Jadi kalau diperiksa sekali lewat tak bakalan ketahuan.  Justru di bagian terbawah kotak itu juga di tempatkan sediktnya 30-40 bungkus barang haram tapi nikmat itu.
Tepung-tepung itu, sebelum dilempar ke distributornya, diperiksa terlebih dahulu oleh tim ahli yang di bentuk  Tuan Murdoch. Pemeriksaan dilakukan di sebuah laboratorium khusus narkoba. Setelah dinya takan asli dan berkualitas baik barulah dilempar ke pasaran.
Pihak kepolisian telah mencium gelagat ini  pasca tewasnya Samuel, terakhir Tuan Sanders dan Rifshan. Mr Clean sudah memberitahu rekan-rekannya untuk waspada dan terus meningkatkan pengintaian atas transaksi illegal dan terselubung yang dijalankan Tuan Murdoch.
Karena hasil serapan dari beberapa informan di lapangan, beberapa bulan terakhir transaksi gelap yang dijalankan Tuan Murdoch semakin meningkat. Di beberapa tempat sering ditemukan sekelompok orang dengan mudahnya membeli barang super lezat itu.
Tentu pihak kepolisian tidak serta merta mempercayai informasi yang masuk ke lingkungan tempat kerja mereka.  Merekamembentuk tim yang diketuai Letnan Salam. Mereka menyisir ke beb rapa tempat. Mu lai dari klub-klub malam, rumah sekolah, perkantoran hingga hotel dan penginapan dari kelas bawah, menengah hingga atas.
Penyisiran tahap pertama belum membuahkan hasil. Baru pada tahap kedua sudah ada titik terang. Ada beberapa orang menjadi penjual dan pemasok, bahkan pemakainya yang sebagian besar berusia muda.
Mereka yang tertangkap tangan menjual, menadah dan menggunakan narkoba sudah diamankan. Ada yang masuk bui, tak sedikit direhabilitas di tempat rehabilitasi narkoba. Disayangkan memang, mayori tas mereka yang terlibat narkoba adalah generasi emas bangsa.
Mereka adalah pelajar, mahasiswa, artis, musisi, karyawan swasta dan pemerintahan. Ironisnya, ada ju ga dari kalangan pejabat, orang-orang berpengaruh dan punya nama di masyarakat. Tokoh-tokoh terke nal dan cukup disegani.
Aparat kepolisian, pada tahap selanjutnya atau ketiga, tidak lagi memfokuskan penyisiran di tempat-tem pat tertentu  seperti yang dilakukan pada tahap satu dan dua. Kini mereka menyisir ke pelabuhan dan bandara.
Di pelabuhan, aparat kepolisian mencium adanya pengiriman dalam jumlah besar permata tepat tengah malam.  Mereka mulai beraksi dengan mengepung sebuah pelabuhan laut terbesar. Namun belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Sampai akhirnya ada dua unit mobil sedan besar berhenti di depan pintu gerbang pelabuhan. Letnan Sa lam belum memberi perintah pada Sersan James dan kawan-kawan untuk beraksi. Masih menunggu apa yang bakal dilakukan orang yang ada di dalam mobil produksi terbaru itu.
Lima menit menunggu, ternyata tak seorang pun yang keluar dari dalam mobil itu. Beberapa petugas pelabuhan tampak mondar-mandir keluar masuk pintu gerbang. Selebihnya lelaki lelaki berkacamata yang duduk di jok belakang menelepon seseorang.
“Letnan …”
“Sebentar Sersan James,” kata Letnan Salam. Jangan gegabah bertindak sebelum melihat secara jelas apa yang terjadi. Boleh jadi hanya suasana yang sepi, tapi dikelilingi orang-orang tertentu yang sengaja dipersiapkan bila transaksi dan pengiriman barang jadi terhambat.
“Letnan. Coba lihat!” Ucap Sersan Steven. Seorang laki-laki besar berkulit sawo matang keluar dari mobil sedan terdepan. Dia melihat ke sekitar pelabuhan. Lalu menelepon seseorang sebelum masuk lagi dan mobil pun melaju pergi.
Dua menit kemudian, satu truk tronton datang. Berhenti sebentar. Kemudian mundur dan maju lagi. Ber henti, mundur beberapa meter ke belakang. Peti-peti besar diturunkan menggunakan derek, dan saat itulah Letnan Salam beserta anak buahnya mulai bergerak.
Kehadiran aparat kepolisian yang semua tidak terdeksi, akhirnya diketahui oleh salah seorang anak buah Tuan Murdoch yang secara tak sengaja melihat Sersan Mc Cartney melompat dari balik pintun gerbang pelabuhan.
“Polisi .. polisi …!” Teriaknya sambil berlari. Teriakan lelaki bertubuh kecil ini menyentakkan teman-temannya yang lain.
Serempak mereka bersembunyi di balik belakang truk dan gudang pelabuhan. Saling melepaskan temba kan pun tak terhindarkan.  Sesekali terlihat desingan peluru melewati bagian kiri, kanan dan atas kepala Letnan Salam serta orang suruhan Tuan Murdoch. Selebihnya memilih  bersembunyi dan kedua belah pi hak belum mau menampakkan diri.
“Letnan …”
“Coba kau pancing mereka keluar menyerang,” kata Letnan Salam pada Sersan James.
“Siap Letnan.”
Sersan James bergeser ke kiri, di belakangnya Sersan Mc Cartney dan Sersan Steven. Sementara Letnan Salam berada di sebelah kanan.
Tarik nafas sebentar.
Ciyaaah …
Sersan James berlari mendekati truk. Saat berlari dia dikawal teman-temannya dengan tembakan bebe rapa kali ke arah truk dan gudang besar. Tak memberi kesempatan sedikit pun pada kawanan bertato itu  membalas tembakan.
“Giliran kamu Sersan Mc Cartney.”
“Siap Letnan.”

20
“ADUH …!” Teriak Sersan Mc Cartney. Letnan Salam dan Sersan Steven tak kuasa menyembunyikan rasa gelinya melihat teman mereka ini melompat-lompat seperti orang yang kedua kakinya menginjak bara api.
Bruuuk …
Dia terjatuh. Lalu ditarik Letnan Salam dan Sersan Steven kedua kakinya sehingga tembakan  yang dile paskan kawanan sindikat tidak mengenai sasaran.
Haaah …
Haaah …
Sersan Mc Cartney mengas-mengas.
“Sersan Steven.”
“ Siap Letnan.”
Kebetulan tak terdengar lagi suara tembakan. Sersan Steven pun berjalan melenggang. Sempat joget sebelum bersua Sersan James.
“Sersan.”
“Siap Letnan.” Jawab Sersan Mc Cartney dengan suara pelan. Tampak masih berat menarik nafas.
“Saya duluan sersan.”
“Baik Letnan. Biarkan saja saya sendiri di sini.” Kata Sersan Mc Cartney. “Mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa pada diri saya Letnan.” 
“Oke …”
Karena kawanan sindikat masih mengisi peluru yang habis dimuntahkan ke Sersan James dan Mc Cartney,  selamatlah Letnan Salam dari desingan peluru.
Kini tinggal Sersan Mc Cartney.
“Cepatlah sersan,” ucap Sersan James lewat telepon seluler.
“Masih mengas, sersan.”
“Nanti digaet hantu lho sersan. Di belakang sersan itu banyak hantunya,” ledek Sersan Steven.
Hi hi hi hi …
Tatkala ketiganya sama tertawa, ada orang melempar sesuatu di dekat mereka. Karena gelap, mereka tentu tak bisa melihatnya secara jelas.
Hanya dalam hitungan detik, terdengar ledakan ‘kecil’ di sekitar persembunyian Letnan Salam cs. Berun tung mereka tidak tewas. Hanya mengalami luka ringan di tangan dan kaki. Berhasil menghindar dan me lompat ke samping kanan gudang.
“Letnan … Letnan!” Bisik Sersan Mc Cartney melalui telepon seluler. Dia kuatir atasan dan kedua teman nya tewas akibat ledakan barusan.
“Letnan … Sersan!”
“Halo .. Sersan .. Letnan!”
“Letnan … Sersan!”
“Ya disini Sersan Steven.”
“Kalian terluka ganti.”
“Sedikit. Cepatlah kau kemari,” kata Sersan Steven. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Sersan Mc Cartney memberanikan diri keluar dari persembunyiannya.
Setengah perjalanan barulah terdengar suara tembakan. Sersan Mc Cartney menghindarinya dengan jungkir balik sambil meloncat kodok untuk sampai ke dekat gudang.
“Posisinya Letnan.”
“Di belakangmu sersan,” kata Sersan James. Jika saja tak terdengar suara tembakan pastilah mereka akan ketawa lebar.
“Ada-ada saja sersan ini,” sahut Sersan Steven. “Sudah sakit terluka, mau disuruh ketawa lagi.”
Sementara itu …
“Segera kirim pasukan sergap,” perintah Letnan Salam kepada  anak buahnya yang masih siaga di kantor pusat kepolisian. Sedangkan kepada Sersan James diperintahkan terus melepaskan tembakan.
“Paling tidak barang kiriman tidak jadi dibawa dengan truk tronton,” kata Letnan Salam.
Sambil menunggu kedatangan Tim Sergap, Letnan Salam yang mulai bergerak belakangan, menyusup ke bawah tronton.
Kemudian melompat dan menyelinap masuk ke bak belakang. Dia melihat sudah separo lebih peti  beri sikan permata indah berkilau berjejer rapi  dan siap diangkut.
“Kita ubah rencana Sersan James.”
“Siap Letnan.”
“Saya di belakang tronton. Kalian bertiga naiklah lewat pintu depan dan bawa moil  ini seceparnya dari pelabuhan.”
“Siap laksanakan Letnan.”
Kepada Tim Sergap, Letnan Salam melaporkan mereka akan membawa lari tronton. Jangan menghada ng, apalagi sampai melepaskan tembakan. Sergapan difokuskan pada sekelompok orang yang mencuriga kan  di kawasan pelabuhan dan sekitarnya.
Aksi nekat Letnan Salam ini membuat kaget kawanan penjahat. Mereka sama sekali tak menyangka truk tronton bermuatan permata itu dibawa kabur dengan sangat mudahnya. Padahal jarak mereka dengan tronton hanya beberapa meter.
Tentu saja mereka tak tinggal diam. Mereka mengejar tronton dengan menggunakan motor trail dan kendaraan roda empat. Aksi kejar-kejaran ini berlangsung seru dan mendebarkan.
Betapa tidak. Saat motor trail sudah mendekat ke pintu tronton, Sersan James melakuan zig-zug. Akibat nya, si pengendara trail yang berboncengan terpaksa mengerem dan tertinggal jauh di belakang.
“Kampret tuh orang. Hebat juga dia bawa tronton. Mungkin sebelum jadi polisi, tuh orang sopir truk,” ejek pembonceng, lelaki berambut keriting.
Reeen …
Reeen …
“Kenapa tertawa? Cepat kejar sana! Makan saja taunya.” Bentak pengendara trail di belakangnya.
Tak lain adalah bosnya.
TOBE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar