Rabu, 05 April 2017

Pusy Cat (6-TAMAT)



Cerita Berseri

Pusy Cat (6-TAMAT)
Edisi Keenam
Oleh Wak Amin

XVI
TANPA sengaja Pusy melihat sebuah mobil pick-up berhenti di sebuah rumah, tak jauh dari kediaman Mr Bram. Dua pria muda turun dari mobil itu. Anehnya, begitu mereka masuk, tak keluar lagi.
Sampai sepuluh menit Pusy menunggu. Dia penasaran. Dia nekat menghampiri rumah bertingkat dua itu. Pelan-pelan dia menyeberang jalan. Karena siang menjelang sore hari itu, kendaraan dan orang yang lalu-lalang lumayan ramai. Mulai dari kendaraan roda dua dan empat hingga para pejalan kaki.
Ngeooong …
Pusy berlari kencang mendekati  seberang jalan. Di depan pintu pagar rumah dia berhenti sebentar. Dia menoleh ke mobil pick-up yang diparkir di tepi jalan.
Dia melompat ke atas mobil bagian depan.Dia intip dari balik kaca. Tak ada orang. Namun dia sempat melihat ada kunci kontak tergantung di stir mobil. Dia mencoba masuk. Tapi tak ada jalan.
Bagaimana caranya?
Pusy melihat kaca depan mobil terbuka sedikit. Dia masukkan kepalanya, tapi tak bisa. Kesempitan. Lalu dia duduk lagi.
Ngeoooong …
“Betapa bodohnya aku,” ucap Pusy tersenyum sendiri.
Dia melompat turun dari kap mobil. Lalu ditariknya gagang pintu. Huuup .. sudah tentu terbuka. Tanpa membuang waktu lagi, dia ambil kunci mobil itu dengan mulutnya. Lalu keluar lagi setelah menutup pintu mobil sediakala dengan tangan dan kakinya.
Kunci mobil itu ia taruh dekat tanaman bunga mawar. Tanahnya dia gali pakai tangan dan kakinya. Lalu dia masukkanlah kunci mobil itu. Agar tak ketahuan, dia tutup lagi lubang itu dengan tanah yang ia kais-kais tadi.
Setelah itu ia berlari mendekati pintu. Tak terkunci rupanya. Dia memberanikan diri masuk. Tak ada orang di ruang tamu.
Lantas kemanakah dua orang asing tadi itu?
Dia cari hingga ke belakang.  Karena lupa menutup pintu depan, ia kembali lagi. Lepas itu ia nyelonong ke belakang. Mulai dari dapur, kamar mandi hingga ke teras belakang rumah.
Mata Pusy akhirnya tertuju pada pintu kamar belakang yang terbuka separo. Dia dekatkan telinganya di pintu. Ada suara orang berbicara, entah apa yang dibicarakan.
Ia nekat masuk. Tak ada orang. Dia nyelonong ke bawah ranjang. Matanya terbelalak ketika melihat dua pria yang turun dari mobil pick-up tadi itu memasukkan kepingan emas ke saku baju mereka.
“Bagaimana Bro, cukupkah? “Kata pria bermulut lebar sembari berdiri hendak menuju ke depan pintu. Keluar dari kamar.
Kretek …
Nyeeet …
Teman si mulut lebar terbelalak melihat kilauan berlian dalam kotak kecil persegi empat.
“Bro, sini cepat!” Si mulut lebar merasa malas untuk menghampiri rekanya itu. Tapi, setelah diperlihat kan puluhan kotak  berisi berlian yang ia temukan di dalam lemari, ia pun tertawa.
Ha ha ha ha ….   
Saat kedua penjahat itu terlena dengan kilauan berlian, Pusy  berhasil keluar. Kemudian dia cari ke seti ap sudut kamar. Tapi belum juga ia ketemukan si empunya rumah.
Kosongkah rumah ini?
“Pasti ada,” kata Pusy dalam hati.
Ia pun berlari ke lantai atas. Ada sebuah kamar. Lumayan besar. Kamar itu tidak terkunci. Tapi tertutup rapat.
Kreeeg …
Niiit …
Pintu terbuka sedikit. Pusy berhasil masuk. Ada seorang laki-laki sedang menulis sesuatu di depan kom puter. Usianya tidak muda lagi. Ganteng dan sama sekali tak tahu ada Pusy di dekatnya.
Ngeoooong …
Ngeoooong …
Ngeooong …
Si pemilik rumah menghentikan pekerjaannya sebentar. Menyelesaikan tugas kantor yang belum selesai. Dia pandangi Pusy. Dia tak tega mengusirnya.
Ngeooong …
Dia mengikuti ke mana arah Pusy berjalan. Turun tangga. Pusy berhenti, dia pun berhenti. Pusy duduk, dia juga duduk. Pusy berlari, karena takut jatuh dari tangga, si bapak ini cuma berjalan santai.
Ngeooong …
Ditarik-tariknya tangan lelaki berhidung mancung itu menuju pintu depan. Pusy membuka pintu itu. Mempersilakannya melihat dua penjahat yang tengah mempreteli barang-barang berharga miliknya.
“Astaghfirullah,” ucapnya setengah berbisik. Buru-buru keluar dari kamar bersama Pusy.
Ngeooong …
Pusy menahannya saat penyuka olah raga golf ini  hendak menelepon dari ruang tamu. Dia malah me ngajaknya kembali ke kamar. Di atas meja kerja  ada hape android dalam posisi hidup. Menyala.
Ngeooong …
Pusy menjilat-jilat bodi hape itu. Baru mengerti apa maksud Pusy, si empunya rumah ini bergegas mengambil hapenya, mengontak kantor polisi.
“Sore Pak. Benar ini kantor polisi?”
“Benar sekali Pak.  Apa yang bisa kami bantu buat bapak sekarang?” Tanya seorang polisi yang bertugas jaga di pos pengaduan warga kota.
“Rumah saya kemasukan pencuri. Mohon bantuannya Pak. Segera. Secepatnya …”
“Baik Pak. Boleh tahu nama dan alamat bapak dimana?”
“Nama saya, Rani. Alamat saya,  Jalan Kupu-kupu Rawa Lima Simpang Tugu.”
“Nomor telepon yang bisa dihubungi?”
Om Rani memberikan nomor telepon hapenya.
“Baik Pak. Terima kasih.  Bapak dimohon tenang dan sabar. Petugas kami segera meluncur ke lokasi.”
Ngeooong …
Pusy memperlambat jalannya. Dia memutar otak. Bagaimana caranya memperlambat dua pencuri itu keluar dari rumah membawa barang hasil curiannya.
Ngeooong …
Dia mengajak Om Rani berlari keluar rumah. Lalu mengunci pintu rumah dari luar. Sebelum keluar pagar, Pusy mengajaknya mengambil kunci mobil yang ia sembunyikan  di dalam tanah tempat bunga mawar tumbuh semerbak. Ia gali dengan tangannya. Om Rani mencegahnya.   
“Biar Om aja Pusy,” bisiknya. Dua kali kedukan menggunakan tangan, kunci ditemukan.
“Terima kasih Pusy,” ucapnya, bergegas menuju mobil pick up yang masih terparkir di depan pekarangan rumahnya.
Eeeeeet …. Eeeeet … Eeeeet
Reeen …
Reeen …
Nyaris tak kedengaran, Om Rani siap menjalankan mobil itu. Dia bawa mobil itu beberapa meter dari kediamannya. Dekat pos ronda.
Lepas itu, ia turun dari mobil. Mengendap-endap mendekati kediamannya dari luar. Sengaja ingin me ngintip gerangan apa yang bakal dilakukan dua pencuri setelah pintu terkunci dari luar dan mobil di tepikan.
“Bro … terkunci kayaknya,” kata si mulut lebar kecewa.
“Tadi rasanya tidak terkunci kan?” Temannya heran. Lantas siapa yang mengunci pintu dari luar.
“Enggak tahu. Karena kamu yang paling belakang tadinya,” jawab si mulut lebar.
“Dobrak saja gimana Bro?”
“Eeeem …”
“Sudah. Enggak apa-apa. Enggak bakalan ketahuan orang. Di luar sepi,” kata lelaki bermata sipit itu percaya diri.
“Coba kau tengok dulu di luar.”
Ketika melihat keluar, si mata sipit kaget bukan kepalang. Panik dan sepertinya ingin menangis.
Haaaa …
“Kemana mobilnya?”
Sambil menahan marah ia pecahkan jendela ruang tamu. Lalu keluar dan melompat ke dekat tanaman bonsai.
“Disana lebih aman,” kata si mulut lebar. Keduanya bersembunyi di bawah pohon nangka yang rimbun daun dan buahnya.
“Sejuk sekali,” ucap mata sipit. Dia merasa tak segerah saat berada di dalam rumah tadi.
Ngeooong …
“Kita tunggu saja Pusy,” kata Om Rani. Dia mengusap kepala Pusy agar tenang. Pasti tertangkap pencurinya.
Caranya?
Om Rani mengeluarkan remote control otomatis dari saku celananya.
“Kamu tahu apa ini Pusy?”
Ngeooong …
Pusy menirukan orang mengemudikan mobil.
Ha ha ha ha …
“Betul sekali Pusy,” kata Om Rani.
“Coba ya?!”
Pusy mengangguk.
Twiiit … twiiit …
Jag jug …
Tombol remote ditekan. Mobil pick up milik penjahat tadi tiba-tiba berjalan mundur. Persis berhenti di depan pekarangan luar kediaman Om Rani.
Ngeooong …
Pusy bertepuk tangan.
“Bro. Coba lihat!” Kata si mata sipit. “Barusan enggak ada, tiba-tiba sekarang ada. Gimana ceritanya?” Bingung sendiri.
“Sudah. Tak usah pikirin. Pasti ada yang pinjam, lalu dibalikin,” terang si mulut lebar.
Apa iya?
“Mungkin saja Bro.”
Tanpa pikir panjang lagi, keduanya mendekati mobil pick up, kepunyaan si mulut lebar.
Di depan pintu gerbang sudah turun beberapa petugas dari mobil patrol yang diparkir dekat sebuah rumah makan.
Mereka yang jumlahnya lebih dari tiga itu menyebar. Satu di antaranya  bertemu dengan Om Rani dan Pusy.
Belum ada tindakan lebih lanjut. Om Rani dan petugas sengaja membiarkan dua spesialis pembobol rumah itu masuk ke dalam mobil. Keduanya tampak senang. Karena mereka bisa melarikan diri membawa hasil curian tanpa sepengetahuan polisi.
Mobil melaju pelan. Lewat remote control yang dikendalikan dari jarak jauh, mobil pick up itu berhenti persis di depan mobil patroli.
Kletep …
Klotek …
Semua pintu mobil tertutup rapat. Baru terbuka setelah Pusy, Om Rani dan petugas datang menghampiri.


XVII
HARI libur. Pusy, Lola dan Mr Bram beserta isteri piknik ke luar kota. Juga ikut serta Mpok Surti.
Hendak ke mana mereka?
Ke taman rekreasi. Uniknya,  di taman ini tersedia bermacam-macam permainan menarik. Mulai dari taman bermain anak-anak, kolam renang, mobil balap, sepatu roda, hingga lapangan futsal.
Asyik bukan?
Selama dalam perjalanan, Mpok Surti dan Mrs Bram tak henti-hentinya bernyanyi. Mereka menghibur diri agar piknik kali ini sangat berkesan dan menyenangkan.
Tengoklah misalnya, bagaimana merdunya suara Mpok Surti ketika bernyanyi, yang syairnya kurang lebih begini …

“Jalan-jalan ke luar kota
Sungguh senang tiada terkira
Pusy dan Loka ikut serta
Kerjanya cuma tertawa saja

Naik delman mogok di jalan
Perut lapar langsung jajan
Enak nian jalan-jalan
Perut kenyang banyak teman

Buah apel dimakan berdua
Sama pacar cantik rupanya
Kalau hidup seia sekata
Bakal senang di hari tua

Alangkah indah kota Jakarta
Malam harinya indah memesona
Alangkah manisnya Pusy dan Lola
Kalau sepakat kawinlah saja ….”

Ha ha ha ha …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Setelah Mpok Surti, giliran Mrs Bram yang bernyanyi. Inilah dia syairnya …

“Naik kuda di pagi hari
Setelah ngopi dan makan roti
Duhai Lola yang baik hati
Kenapa tak disapa kakanda Pusy

Makan jeruk di kebun binatang
Sambil minum makan dirantang
Kalau dinda hatinya bimbang
Kepingin kanda hendak terbang

Sungguh elok rumah itu
Terbuat dari pohon bambu
Doakan kakak sehat selalu
Sampai mati kucinta kamu …”


Ha ha ha ha …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Terakhir, Mr Bram yang didaulat bernyanyi. Sambil menyetir dengan kecepatan  di bawah enam puluh, dia mengajak Pusy dan Lola berjoget, walau keduanya berada di jok belakang.

“Pusy Lola kita joget
Sambil joget makan ayam penyet
Ke pasar beli roket
Main bola kita berduet

Lemak nian mangga itu
Dimakan berdua pakai sagu
Kumpul-kumpul di malam minggu
Sambil nyanyi kita bedalu

Naik sampan keliling taman
Bawa bekal isinya kudapan
Perut lapar kita makan
Setelah makan kita berjalan

Burung nuri terbang tinggi
Ingin dikejar tak terkejar lagi
Kalau tuan baik hati
Aku bokek cepatlah diberi

Malam hari enak di rumah
Supaya kita tak kena marah
Pusy Lola memang ramah
Sudah baik badannya gagah …”

Ha ha ha ha …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Setelah semuanya mendapat giliran, kini tibalah saatnya nyanyi bersama-sama. Pusy dan Lola tetap bertiga dengan Mpok Surti di jok belakang.  Sementara Tuan dan Nyonya Bram duduk di depan. Berduaan.
Disepakati, Pusy dan Lola berjoget, Mpok Surti bertepuk tangan. Sedangkan Mr Bram mendapat tugas memetik gitar. Setir mobil diambil alih Mrs Bram.
“Oke?” Mr Bram memberi aba-aba.
“Oke,” jawab Mpok Surti.
Ngeooong …
Jreeeng .. jeeeng …
Ting .. triiing .. tiiing …
“Satu .. dua .. tiiiii ga.”

“Mari kawan kita bergembira
Lupakan segala duka lara
Biar kita awet muda
Tetap sehat di masa tua

Mari kawan kita bernyanyi
Lupakan segera saling membenci
Biar kita murah rezeki
Hati senang disayang Ilahi

Jangan malu kalau lapar
Cepatlah makan agar tak gemetar
Apalagi sampai berputar-putar
Akhirnya pingsan masuk kamar

Alangkah elok bunga itu
Tiap sore disiram selalu
Tambah subur senangnya hatiku
Bikin hidup lebih bermutu …”

Jreeeng .. jeng … jreeeng …
Gitar terus dipetik. Mpok Surti tak henti bertepuk tangan. Mr Bram ikut berdendang.
Pusy dan Lola?
Ha ha ha ha …
Keduanya justru asyik berjoget. Duduk dan berdiri di sebelah kiri Mpok Surti. Pusy lebih memilih berguling-gulingan di atas jok. Tak berani ia melompat ke tempat duduk Mrs Bram.
Syiiiit …
Syuuut …
Mrs Bram mendadak mengerem.
Jeleduk …
Duuug ..
Ngeooong …
Lola dan Pusy terdorong ke depan. Beradu badan dengan belakang jok Mr Bram dan isterinya. Mpok Sur ti mengelus-elus keduanya. Mr Bram menggendong Lola, lalu menciumnya. Sedangkan Pusy yang masih dielus Mpok Surti, melompat manja ke pelukan Sang Nyonya.
“Sakit ya?”
Ngeooong …
“Maafkan saya ya Pusy,” ucap Mrs Bram sedih.
Ngeooong …
Pusy semakin mempererat pelukannya. Dia ingin Sang Nyonya tidak memarahinya lagi  duduk di jok belakang.
Kenapa?
Ngeooong …
Pusy memandang Mpok Surti, lalu menggelayut manja ke sebelah kanan Mr Bram.
Ha ha ha ha …
“Mpok Surti mau ya?”  Kata Mr Bram sesaat setelah memberikan Lola pada Mpok Surti.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
“Kenapa kamu tiba-tiba enggak mau duduk dekat Mpok Surti, duhai Pusy. Jangan-jangan …” Mr Bram mengedipkan matanya pada sang istri. Yang dikedipin senyum-senyum saja.
“Enggak suka sama Mpok atau Lolanya sayang?” Pancing Mrs Bram.
Ngeoong …
Merasa malu disindir terus menerus oleh Tuan dan Nyonya, Pusy melompat ke belakang. Duduk dekat Lola.
Ha ha ha ha …
Jreeeng …
Jeng ..
Tiiing .. triiing .. tiiing …
“Ayo kita bernyanyi lagi. Setuju?”
“Setujuuu,” jawab Mpok Surti.
Ngeoong …
“Oke .. ayo kita mulai .. satu .. dua .. tiga …”

“Naik kapal kita berlima
Mau jalan ke kota Surabaya
Bawa kopi bawa gula
Makan kita bersama-sama

Banyak ikan berseliweran
Kita duduk berduaan
Ngajak kawan kita penesan
Badan capek kita guling-gulingan

Alangkah elok ibu tadi
Anaknya tujuh la hamil lagi
Bangun tidur setiap pagi
Ngurus anak tak suka mandi

Pusy bernyanyi setiap hari
Mengeong ia di kamar mandi
Lola datang menghampiri
Cepat berlari malu hati …”

Jreeng .. jeng .. jreeeng …
Plak .. pak .. plak .. pak …

“Ayolah kita pergi mandi
Sudah mandi gosok gigi
Kaki bersih tak berdaki
Badan sehat Tuan senang hati

Banyak anak pulang sekolah
Dilihat anak berbaju merah
Ibu di sebelahnya marah-marah
Duit sebal tinggal serupiah

Makan durian sama-sama
Dimakan pagi pucuk tangga
Tidak malu ditengok mertua
Melok makan habis lima

Maafkan kami Lola Pusy
Kami lupa membawa ciki
Ini roti sebagai pengganti
Jangan marah apalagi keki …”

Jreeeng …
Jeeeng …
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Terima kasih. Terima kasih,” kata Mr Bram, setelah mobil yang ia sopiri memasuki kawasan parkir yang luas taman rekreasi luar kota.
Pengunjung taman mulai ramai didatangi pengunjung. Mereka sengaja datang dari berbagai pelosok dae rah. Meraka berasal dari dalam dan luar kota. Tumpah ruah jadi satu …


XVIII
DI taman bermain …
“Terus ayun Pusy.  Ayun terus ..!” Teriak Mrs Bram dan Mpok Surti.
Pusy dibiarkan berayun dengan seutas tali besar. Mirip Tarzan saat berayun. Dia bergerak kesana kemari. Ke kanan dan kiri. Sambil mengeong, Lola berdiri di dekat sebuah tempat duduk yang lurus memanjang.
Mau apa dia?
Huuup
Pusy melompat dari ayunan.
“Buuuk ..”
Ngeong …
Ha ha ha ha …
Pengunjung anak-anak bertepuk tangan. Mereka memuji Pusy. Belum pernah mereka lihat seekor kucing pun yang bisa berayun dan melompat ke pelukan.
“Turun dong Pusy. Berat aku, “ bisik Lola kepayahan.
Belum sempat turun sudah keburu digendong Mrs Bram. Dielus-elusnya, lalu dimintanya  untuk menerima jabatan tangan anak-anak.
“Lucu ya,” kata anak berhidung mancung. Dia tak henti-hentinya berdecak kagum. Pusy tak marah saat dia dicium si anak.
“Aku juga oi,” sahut anak berbadan kurus tinggi. Dia tak ingin mencium. Tapi mengajak selfie dengan Pusy. Mrs Bram tidak keberatan, asalkan tertib dan bergantian.
“Kasihan dia. Nanti malah ngamuk dianya,” ucap Mpok Surti. Ikut nebeng bersama anak-anak  berselfie ria dengan Pusy.
Lola?
Lola tak dilirik orang. Pengunjung bukan tak sayang. Tapi tidak memperlihatkan kepada pengunjung kemampuan berayun. Jadi wajar bila mata pengunjung hanya tertuju pada Pusy seorang.
Ngeooong …
Lola berlari. Mendekati Mr Bram. Dia menarik-narik tangan tuannya. Menuju ke tempat Pusy berayun.
Ngeoong …
Mr Bram menuruti kemauan Lola. Setelah sampai di tempat berayun, dia baru mengerti, ternyata Lola ingin seperti Pusy. Berayun kesana kemari. Dia ingin membuktikan kepada pengunjung bahwa dia bisa berayun.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Pengunjung bertepuk tangan. Mereka menunggu harap-harap cemas. Apakah Loka bisa sehebat Pusy ketika berayun.
Huuup …
Sekreeet …
Sekreeet …
Ternyata Lola bisa. Dia berayun dengan indahnya ke kanan dan kiri. Ke depan dan belakang. Bahkan dia sempat memanjat tali, lalu menjepitkan kedua kakinya ke atas di sela tali dengan kepala di bawah.
Waaau ..
Cek .. cek .. cek …
Subhanallah …
Pengunjung tiada henti-hentinya berucap. Mereka tak habis pikir bagaimana mungkin bisa seekor kucing berayun bagaikan pemain sirkus berayun. Melenggok-lenggok dengan lincahnya.
“Suka Vid?” Tanya teman di sebelahnya sambil makan jagung bakar.
“Suka sih tapi …”David mengalihkan pandangannya ke Mpok Surti.
“Enggak dijual kan?”
“Iya,” kata David mengangguk lemah. Namun setelah itu dia bersemangat lagi melihat Lola beraksi kembali.
Kali ini Lola ditemani Pusy. Keduanya berayun di tali ayunan yang berbeda. Sama-sama berayun. Satu ke kanan, satunya lagi ke kiri.
Huuup …
Dengan cekatan Pusy dan Lola bertukar ayunan. Meski tidak terlalu cepat, pengunjung merasa puas kare na keduanya berayun sambil  mengeong. Sampai lima kali mereka berayun. Setelah itu Lola berhenti.
Uhuuuy …
Ngeooong …
Pusy mendorong tubuhnya sehingga ayunan bergerak kencang. Setelah lima kali berayun-ayun, Lola, tanpa sepengetahuan pengunjung, melompat ke kaki Pusy.
Wooow …
Cek .. cek .. cek …
Pengunjung bertepuk tangan. Mereka berteriak histeris melihat Lola dengan santainya bergelantungan di kaki Pusy. Puas bergelantungan, ia melompat lagi ke tali ayunannya semula.
Huuup …
Begitulah seterusnya silih berganti. Usai Lola, gantian Pusy yang bergantung di kaki Lola. Nyaris jatuh. Pengunjung sudah  bersiap mengamankannya dari bawah sekiranya sampai jatuh. Tapi ternyata tidak.
Pusy dengan beraninya menaiki badan Lola. Kini dia berada  di atas. Lepas itu giliran Lola yang naik ke badannya Pusy. Berganti posisi sampai lima kali. Dari ketinggian tali itulah mereka melompat bersama-sama sambil menangkap tali ayunan yang diayunkan Mr Bram.
Jepreeek ..
Ngeooong …
Tangan Pusy hanya sebelah memegang tali. Tangan satunya ke bawah. Pengunjung kuatir dia bakal ja tuh. Alhamdulillah tidak. Karena saat bersamaan Lola mendekat. Membantunya menaikkan tangan Pusy sehingga dua-duanya bergantung di tali ayunan.
“Hebat sekali,” puji seorang bapak berperawakan gemuk kepada temannya yang kurus. Keduanya baru tiba di taman bermain anak-anak. Keduanya penasaran, lalu mendekat …
Keduanya berbincang-bincang sejenak dengan Mr Bram dan isteri. Mereka takjub bagaimana cara mela tih Pusy dan Lola sehingga keduanya bisa sehebat saat ini …
Apa jawab Mrs Bram?
“Hanya disayangi saja tuan.”
Ha ha ha ha …
“Yang benar Nyonya?”
“Benar tuan.”
“Saya betul-betul mengagumi kucing Nyonya. Saya ingin suatu saat nanti bisa memiliki kucing sepintar kucing Nyonya sekarang ini …”
“Mudah-mudahan saja keinginan tuan bisa terkabul. Amin, “ kata Mrs Bram. Karena harus berpindah lokasi, dia pun pamit bersama Pusy dan Lola.
Kemana mereka?
Rupanya Pusy dan Lola tertarik bermain sepatu roda. Ketika Mr Bram mengatakan kucing mereka ingin bermain sepatu roda, petugas areal sepatu roda sempat bengong. Setahu dia belum ada seekor hewan pun, apalagi kucing yang bermain sepatu roda.
“Tapi kalau bapak mau coba, kami tidak berkeberatan. Silakan …” Kata perempuan muda berkulit hitam manis tinggi semampai itu dengan ramah.
Ngeooong ..
“Pusy, Lola!” Panggil Mrs Bram. Keduanya bergelayut manja, keenakan dipelukan Sang Nyonya.
Sebagian besar anak-anak yang menunggu giliran bermain sepatu roda berebutan ingin meminjamkan sepatu roda mereka. Mereka penasaran dan ingin melihat bagaimana Pusy dan Lola bermain sepatu roda.
Setelah dipilih-pilih, kedua kucing peliharaan Mr Bram ini memilih sepatu roda warna kuning dan merah. Kepunyaan dua kakak beradik yang sebenarnya sudah lama menunggu giliran bermain sepatu roda.
Plak … pak .. plak … pak …
Anak-anak bertepuk tangan. Kemudian suasana berubah hening. Hanya terdengar suara sepatu roda. Siap dijalankan.
“Oke Pusy .. Lola?” Mr Bram memberi aba-aba.
Ngeooong …
“Satu .. dua .. tiiiga.”
Keduanya meluncur tanpa bergerak. Hanya berdiri tanpa bergoyang ke kanan dan kiri. Untunglah, jalan yang dilalui lurus mendatar. Tidak berkelok-kelok.
Anak-anak berteriak histeris.
“Gandengan Pusy.” Teriak Mpok Surti dari pinggir lapangan arena permainan sepatu roda.
Pusy dan Lola pun bergandengan mesra. Pengunjung bertepuk tangan. Selesai bergandengan saat ke duanya memasuki kelokan. Karena agak kecil, kuatir saling bersenggolan dan jatuh, Pusy lebih memilih berada di belakang Lola.
Ternyata, meski tidak bergandengan, ada di depan dan ada di belakang, kaki kanan Lola diangkat sedikit, dipegang Pusy yang sedikit menunduk.
Huuup …
Persis keluar kelokan. Keduanya meluncur dengan cepat. Mengelilingi lingkaran sambil bergandengan tangan.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Ayo Pusy. Joget terus sampai tua,” teriak Mpok Surti dari sisi kanan arena bermain. Dia berjoget dengan harapan Pusy dan Lola ikut berjoget.
“Tarik …” Mrs Bram menyemangati Pusy dan Lola yang menirukan joget ala Mpok Surti.
Angkat kaki kanan, goyang tangan kiri. Angkat kaki kiri, goyang tangan kanan. Jalan sedikit, jungkir balik. Berdiri lagi.
Syuuuuur …
Syiiiit …
Jegar …
Pusy terpelanting setelah sepatu rodanya menyenggol sepatu roda Lola. Badannya melayang tinggi, seolah terbang. Akhirnya menyentuh dinding arena permainan.
Ngeooong …
Ngeooong …
Lola berhenti berjoget.
Mpok Surti, Mr Bram dan isteri menutup mulut mereka. Kuatir sekali. Jangan-jangan …
Huuup …
Pusy berdiri lagi.
Anak-anak bertepuk tangan lagi.
Lola menarik tangan Pusy. Dia menggandeng Pusy untuk memberi hormat pada anak-anak yang menyaksikan mereka berdua bermain sepatu roda.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Pusy dan Lola pun menyudahi permainan mereka. Disambut hangat oleh anak-anak, Mpok Surti, Mr Bram dan isteri.
Mereka mengerumuni  Pusy dan Lola. Mengucapkan selamat dengan cara memberikan ciuman, makanan dan bahkan uang dalam jumlah yang lumayan besar.
Ngeooong …
Anak-anak tersenyum geli melihat Pusy dan Lola jalan bergandengan. Mengikuti ke mana  kaki Tuan dan Nyonya mereka melangkah pergi setelah puas singgah di arena permainan sepatu roda ini. 

XIX
DI arena mobil balap …
Ngeooong …
“Ayo Lola. Kenapa enggak mau sayang?” Sapa Mrs Bram. Meski tidak menggendongnya. Lola meronta-ronta minta diturunkan. Dia tak mau naik mobil balap bersama Pusy.
Ngeooong …
Pusy melompat turun dari mobil balap. Dia membujuk Lola agar mau naik mobil balap, khusus anak-anak.
Ngeooong …
Lola tak bereaksi. Dia baru bereaksi setelah Mr Bram datang membawa roti dan es krim. Tapi bukan makanan itu yang ia inginkan. Dia hanya ingin naik mobil balap berdua bersama Sang Tuan.
Ngeooong …
He he he he …
“Itu maunya,” celoteh Mpok Surti. “Pantesan dari tadi diam saja. Tuannya hilang …”
Ngeooong …
Akhirnya disepakati menyewa dua unit mobil balap. Satu berwarna merah, satunya lagi berwarna biru. Mpok Surti, Pusy dan Mrs Bram menempati mobil warna biru. Sedangkan Mr Bram dan Lola memilih mobil merah.
Balapan memang belum berlangsung. Karena harus menunggu peserta yang lain. Balap tak resmi itubaru bisa digelar minimal diikuti sepuluh peserta. Kurang dari jumlah itu, pengelola arena balapan tak mau menggelarnya karena kuatir akan rugi besar.
“Sabar ya Lola,” bisik Mr Bram. Lola tampak sudah tak sabar memulai balapan, sedangkan Mr Bram asyik melahap es krim.
Pusy sendiri, bersama Mpok Surti menjilat-jilati es krim. Sungguh lezat, karena selain lebih terasa nikmat nya, es krim yang dikudap tidak cepat habis.
“Mas .. Mas Bram!” Mrs Bram memberikan jatah es krimnya yang tersisa separo. Perutnya tiba-tiba kenyang.
“Sama dong Ma. Udah kenyang nich,” kata sang suami. Dia menyarankan es krim itu diberikan saja kepada Pusy. Pusy menolak, Mpok Surti tidak.
Dia lahap es krim sekali dua. Supaya cepat habis, dia tak jilat. Tapi dimakan sama wadahnya.
Hua ha ha ha …
“Lucu ya ibu itu,” celoteh salah seorang wanita bertahi lalat di dagu melihat Mpok Surti meraba-raba perutnya seperti kekenyangan makan es krim.
“Bukan kenyang itu Mbak. Dingin di dalam perut. Kalau enggak sabaran bisa muntah-muntah lho Mbak,” kata teman wanita berambut gimbal.
“Perhatian .. perhatian!” Petugas arena balap meminta peserta segera memasuki arena balap karena se bentar lagi  balapan segera dimulai.
Priiit …
Mobil Mr Bram menempati posisi paling buncit dari sepuluh peserta. Sedangkan Mpok Surti berada di posisi keempat. Perbedaan posisi ini sesuai hasil undian tanpa melalui babak kualifikasi.
Memang lomba balap mobil ini lebih menekankan pada hiburan. Bukan perlombaan. Para peserta diberi kebebasan mengemudi sepanjang sesuai aturan yang ada. Pemenangnya mendapat hadiah. Tidak besar jumlah dan bentuk hadiahnya. Hanya sekadarnya saja.
Priiit …
Peluit kedua, mesin mobil peserta balap menyala. Bendera sudah berkibar. Seorang petugas berjalan be berapa langkah ke depan. Lalu berdiri di pinggir lapangan. Bendera diturunkan, lalu ditarik ke atas dan …
Mobil pun melaju kencang.
Di lap pertama tidak ada insiden. Setiap peserta berhasil mengemudikan mobilnya dengan baik dan sempurna.  Namun, memasuki lap kedua, dua peserta harus menepi karena mogok dan keluar asap.
Kini menyisakan delapan peserta. Pusy naik satu peringkat. Mendekati posisi tiga. Sedangkan Lola masih bercokol di urutan paling belakang.
Ngeooong …
“Payah Bos ini … lambat, “celetuk Lola dalam hati.
Dia hanya bisa memandang sedih pada Mr  Bram. Sedih bukan karena Sang Tuan lagi susah. Bukan itu. Tapi sedih karena sampai tiga putaran posisi mobil masih paling belakang.
Ngeoong …
“Tenang saja Lola … Tuan ingin kita santai. Menang bukanlah tujuan. Yang penting hati kita senang. Setuju kan?”
Ngeooong …
“Iya Bos. Tapi jangan buncitlah. Malu gue sama Pusy,” kata Lola.
Pada lap kelima, Mr Bram berhasil menyusul mobil di depannya yang melambat saat belok di tikungan.
Ngeooong …
“Ini baru tuan Lola. Hebat. Super sekali,”  puji Lola sambil tersenyum sendiri.
Mr Bram tertawa  geli menyaksikan Lola bergoyang. Kepala bergoyang, ekor pun ikut goyang, apa eng gak lucu. Kumisnya itu lho. Bergerak-gerak mengikuti kemana arah ekor bergoyang.
Ha ha ha ha …
“Tancaaap …”Teriak Mrs Bram bersemangat setelah naik satu peringkat.
Bagaimana dengan Pusy?
Pusy dan Mpok Surti lain lagi. Keduanya tidak sama sekali terpengaruh dengan riuhnya perlombaan. Kenapa?  Karena keduanya asyik bernyanyi lewat earphone. Begitu juga dengan Mrs Bram, yang ikut bernyanyi kemudian.
“Mudah-mudahan saja selamat,” ucap Mrs Bram. Kuatir juga. Keasyikan bernyanyi, slip sedikit bakalan menepi. Tidak bisa lagi melanjutkan balapan.
Guaaar …
Braaak …
Mobil di urutan satu dan dua saling bertabrakan. Pengemudi dan penumpangnya tidak mengalami cede ra.  Mobil memang tidak rusak berat. Masih bisa melanjutkan balapan. Tapi, karena mesinnya tak juga menyala, akhirnya menepi.
“Horeeee … kita urutan pertama,” teriak  Mpok Surti. Dia lepaskan earphone. Bersama Pusy, dia bernyanyi …

                 “Kami kini nomor Satu
                       Hadiah sudah menunggu
                          Ayo kita bersatu
                             Tetap bertahan di nomor satu

                                   Ayo Pusy kita menari
                                        Agar dapat banyak rezeki
                                             Banyak uang senang hati
                                                 Tidur nyenyak sampai pagi …”

Plak .. pak .. plak .. pak …
Jauh di belakang mereka, Lola dan Mr Bram. Tak sempat bicara sejak tadi. Mereka fokus menyalib lawan yang berada di depan. Tidak mudah memang. Pasalnya,  peserta di depan pantang menyerah. Sulit dike jar.
“Payah .. Bos loyo,” ucap Lola dalam hati.
Ngeooong …
“Pegangan kuat-kuat La,” kata Mr Bram. Mobil tiba-tiba melesat cepat, berhasil menyalib dua mobil di depan sekaligus.
Lola seolah tak percaya. Biasanya dia memuji. Kali ini cuma terdiam. Hanya sepatah kata yang meluncur dari mulutnya. Hebaaat …
Ngeoong …
Tersisa dua putaran. Pusy sulit terkejar. Peserta urutan kedua mencoba menyalib. Tapi berhasil dipatah kan saat di tikungan. Mrs Bram sukses mempersempit ruang gerak mobil di belakangnya, sehingga melebar.
“Yeeees,” kata Mpok Surti. Dia tidak menjerit kali ini. Justru melampiaskannya dengan memukul-mukul tutup kepala yang bersarung di kepala Pusy. Terdengar suara bergema.
Ngeooong …
Greeeg …
Speeet …
Reeen …
Reeen …
Mobil yang disopiri Mrs Bram ngadat. Mesin tidak mati, cuma jalannya melambat, padahal kecepatan rata-rata enam puluh lebih.
“Ke pinggir saja dulu Nya,” saran Mpok Surti.
Buat apa?
Andaikata rusak, rusaknya apa. Biar bisa diperbaiki. Oleh siapa? Ya, kalau kerusakannya kecil, masih bisa ditangani. Kalau parah? Apa boleh buatlah. Menepilah.
Gagal dong jadi juara.
Ngeooong …
Pusy melompat ke atas kap mobil. Lalu ia menghentak-hentakkan kaki dan tangannya. Semakin lama semakin cepat. Mobil yang melaju lambat, pada akhirnya normal kembali.
Reeen …
Reeen …
Reeen …
“Cepat masuk Sy.” Mpok Surti meraih tangan Pusy. Menggendongnya masuk ke dalam mobil.
Syiiit …
Reeen …
Mobil akhirnya melesat cepat kembali. Tapi kini mereka tertinggal setengah putaran, berada di urutan terbuncit. Sedangkan Lola berada di urutan kedua.
Lola kelihatan sangat senang. Mukanya ceria. Saking senangnya, dia tak hiraukan ngeongan Pusy dari balik kaca pintu mobil. Lola berharap tuannya sukses meraih kemenangan.
“Aku ingin nomor satu,” bisiknya sembari berdoa semoga bisa nomor satu. Sebab, tersisa satu putaran la gi, lawan di depan hanya berjarak satu meter. Mustahil tak terkejar mengingat kecepatan lawan sudah mulai berkurang.
“Ayo Nya. Sedikit lagi. Tanggung …” Kata Mpok Surti yang sudah tak tahan ingin sekali meraih nomor satu.
Ngeooong …
“Enak kan Sy nomor satu itu?” Tanya Mpok Surti yang dijawab dengan ngeongan sembari duduk manis di pangkuan  orang terdekatnya itu selain Sang Nyonya.
Tinggal selangkah lagi meraih gelar juara satu.
“Ayo Tuan. Sedikit lagi,” kata Lola, bukan dengan ucapan melainkan dengan ngeongan.
Dia terus menerus mengeong dengan selalu melompat-lompat dengan harapan Mr Bram semakin mem percepat lajunya mobil sehingga bisa menyalib lawan dan meraih gelar juara.
Dalam hati Lola berdoa agar keinginannya itu terkabul, sehingga Tuan dan Nyonya bahagia. Dengan demikian mereka juga turut senang dan berbahagia.
Seminggu kemudian …
Nama Pusy dan Lola dipanggil panitia pemberian penghargaan kepada mereka, baik per kelompok mau pun perorangan, yang berprestasi. Bersama Mr Bram dan isteri, Pusy dan Lola naik ke atas panggung. Menerima penghargaan atas jasa mereka membantu pihak keamanan mengatasi tindak kejahatan dan sekaligus menghibur masyarakat dari berbagai usia dan lapisan.

TAMAT
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar