Senin, 24 April 2017

Kumpulan Puisi (5)





KUMPULAN PUISI  (5)
By  Wak Amin


Puisi  I

Tubuh Rebah
Karya Fikar W. Eda

TUBUH rebah ke bumi
deru angin mematahkan dahan
bau busuk menguap dari kelopak daun
darah membuat kolam
di atasnya teratau kuncup
membalut tubuh tak lagi bernyawa

Hari ini ada seribu laki-laki
pergi tanpa meninggalkan alamat
mereka lenyap bagai embun
ditimpa cahaya pagi

di seberang kolam
serombongan serdadu
memainkan senapan
sambil tertawa-tawa
lalu membidik
dan dor!
tubuh rebah lagi ke bumi.

(Jakarta, 1998)


Puisi  II

Cerita Duka
Karya Samsul Hadi

MASIH kudengar cerita duka
cerita lara orang-orang desa
tentang anak dan suaminya
yang mati tanpa pusara

Setiap kali aku berjalan
hanya kudapati kesedihan
kepiluan
ketakutan
dari wajah-wajah tanpa darah.

(Banda Aceh, 3 Juni 1999)


Puisi III

Terima Kasih
Karya S Munfaizah

SEKEJAP kutengadah
mengalir darah
antara cinta dan kematian

Sulut aku tertipu
Gagal duniaku hampa
Lumpuh dalam nuansa irama, tumbang

Saat kau hadir
hembuskan bisik mesra kekasih
aliri kehangatan
kesejukan damai abadi

Duniaku lumpur berbisa
duniamu beraneka pelita
Namun tak pernah ada
perintang di antara kita

Damainya duniamu
Kau rengkuh rapuhku
dengan hangat senyummu
Simalah hampa, pudarlah punah

Bersinarlah mentari
Esok kini …
Bisikkan kepadanya
berjuta kata terima kasih
Karena dia!

(Cepu, November 1997)


Puisi  IV

Pemberontak yang Gagal
Karya Titit Pramiasih

SAAT kaki mungilku berlari-lari di kebun belakang rumah,
aku ingin berlari, tidak saja siang
saat gelap pun kuingin menghitung bintang
namun kerling di mata ayah,
Duh …!
Hatiku menggeliat,
Aku ingin jadi laki-laki!

Lalu satu demi satu umurku kutata di pagar bamboo
Gerai panjang rambutku,
lembut gaun sutera, membelai manja betisku (betis Ken Dedes?!)
semakin aku tahu
wanginya bau perempuan!

Ayah …
tergeletak di pojok rumahku
Lalu tangannya menggores dengan ujung pena cinta hitamnya
di atas dahiku
satu garis,
lurus
(padahal aku ingin belok di perempatan itu)
Oh … oh …!

Ketika cinta membelai wajahku, yang lalu jadi merah bak bunga dadu
Kubisikkan ke telinga ayah
-aku ingin menikah-
Kini, bukan keriling yang ada di matanya, tapi petir dan Guntur nan membara
aku mati disambar halilintar!

(Bondowoso, 1998)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar