Novel
Kobok Tay (1)
By Wak Amin
1
“MARI Tuan, ikut saya …” Kata salah seorang pengemudi taksi
yang biasa mangkal di bandara. Dia memperkenalkan diri, lalu mempersilakan Mr
Jones memasuki taksinya.
Tengah hari …
Bukan hanya Mr Jones yang baru tiba di kota ini dengan
menggunakan pesawat berbadan lebar. Banyak penumpang lain yang turun bergantian
dari pesawat dan kota yang berbeda pula.
Tak heran jika bandara penuh sesak, terutama di ruang
pengambilan bagasi. Sementara di luar pintu ma suk bandara, para penjemput
berjubel. Mereka khusus datang bersama keluarga, saudara dan handai tolan.
“Beginilah keadaannya Tuan kalau tengah hari. Penuh sesak,”
kata si pengemudi yang mengaku bernama Rahmat Kurniawan. Dia membelokkan mobil
sedan biru muda yang ia sopiri ke kanan menuju pintu gerbang utama bandara.
“Di tempat saya juga begitu Pak,” kata Mr Jones sembari
mengalihkan pandangan sejenak ke area persawahan nan luas serba menghijau di
kanan dan kiri jalan.
“Betul Tuan? Wah kalau begitu sama dong dengan bandara di
tempat saya ini.”
Syiiiiit …
Mobil berhenti di pos jaga.
Hanya sebentar. Lalu berjalan lagi.
Kini taksi bersiap memasuki kawasan perkotaan. Di kanan kiri
dinaungi aneka tanaman hias dan pepoho nan rindang. Beberapa kendaraan roda dua
dan empat tampak berseliweran silih berganti.
“Tuan kayaknya baru pertama kali datang ke kota ini ya ,”
kata Pak Rahmat menyambung obrolan yang sempat terhenti beberapa saat tadi. Dengan penumpang lain hal ini sering ia
lakukan, kenapa dengan Mr Jones tidak. Orangnya ramah, penampilan rapi dan
ganteng pula.
“Anda orang sini Pak?”
“Iya Tuan. Saya lahir dan dibesarkan di sini. Inilah tanah
kelahiran saya Tuan …”
“Sudah menikah Pak?”
“Sudah Tuan. Baru setahun yang lalu. Setelah menikah pikiran
ini rasanya plong. Tenang. Dulu, ketika masih bujang selalu merasa kurang Tuan.
Tapi sekarang, entah kenapa cukup dicukupkan. Enggak me rasa kekurangan.
Mungkin karena belum punya anak ya Tuan,” ujar Pak Rahmat sembari tertawa
lebar.
Tiba di lampu merah, Mr Jones membuka separo kaca jendela
taksi. Dia membeli koran edisi siang dari penjaja koran yang biasa mangkal di tepi jalan dan sebotol air
mineral dingin sekadar untuk membasahi kerongkongan.
“Tuan rupanya hobi baca koran juga ya?”
“Hobi juga sih enggak Pak. Bila saya perlu, ya saya belilah.
Enggak mahal juga kan Pak ya.”
Ha ha ha ha …
Telepon seluler berdering.
“Mr Jones. Ini Elizabeth. Sudah menunggu di Hotel Karimun.”
“Saya masih di perjalanan Nona Eli. Mungkin tak lama lagi
saya sampai ke hotel jika tidak macet.”
“Oke Mr Jones.”
“Oh ya Non Eli. Lokasi persisnya Karimun Hotel dimana ya?”
“Simpang Lima. Belok kanan, nomor dua.”
“Thank’s Non Eli. Cukup ya!”
Telepon ditutup.
Taksi kembali berbaris rapi dengan kendaraan lain di perempatan
lampu merah.
“Apa sudah dekat kita Pak Rahmat?”
“Satu lampu merah lagi Tuan. Belok kiri dan jalan sedikit,
sampailah kita.”
“Syukurlah kalau begitu. Pas betul Pak.”
“Pas betul kenapa Tuan?”
“Sampai di hotel saya makan Pak.”
Hua ha ha ha …
Dari pagi ketemu pagi dijamin tak bakal kelaparan. Beberapa
rumah makan tetap buka selama dua puluh empat jam. Mengenai harga sesuai dengan
jenis dan kualitas makanan yang dimakan.
“Kalau mau yang murah banget ada Tuan. Yang mahal selangit
juga ada. Banyak Tuan.”
Ha ha ha ha …
Tanpa terasa Hotel Karimun sudah di depan mata. Dari balik
pepohonan rindang, setelah turun dari taksi dan membayar ongkos, Mr Jones
bergegas menuju pintu hotel.
Pintu terbuka …
“Selamat datang Mr Jones. Kami senang anda datang,” ucap
Nona Elizabeth bersama rekannya sesama wanita. Satu persatu mereka menyalami Mr
Jones. Menemaninya hingga ke kamar tempat menginap yang telah dipesan seminggu sebelumnya.
2
TAK lama kemudian datanglah Mr Clean dan Letnan Salam.
Ditemani Nona Elizabeth, mereka melakukan pertemuan khusus di lobi hotel
Karimun sore hari. Hanya sebentar. Setelah itu mereka beranjak pergi ke luar
hotel. Berjalan kaki dan singgah di warung kopi.
Jelang Magrib, mereka kembali ke hotel. Lepas Magrib mereka
makan malam bersama di restoran Kari mun. Karena hampir semua tempat duduk
terisi, mereka akhirnya memilih duduk di
kursi paling ujung. Lebih sejuk karena dihiasi aneka bunga
berwarna-warni.
Tak lama. Setengah jam lebih sepuluh menit mereka kembali ke
lobi hotel. Lalu melanjutkan perjalanan ke gedung Graha Police. Mereka sudah
ditunggu beberapa perwira senior dari kepolisian. Mereka menyambut dengan ramah
kedatangan Mr Jones.
Meeting sudah dimulai lima menit lalu. Jadi tak ada waktu
lagi buat Mr Jones untuk bersantai dan saling curhat-curhatan. Meeting
berlangsung amat singkat.
Mr Jones diberi kesempatan memperkenalkan diri dan
menjelaskan maksud kedatangannya kepada pe serta meeting. Setelah itu meeting
disudahi.
Bersama Kolonel Agus, Mr Jones, Letnan Salam, Mr Clean dan
Nona Elizabeth menuju ruangan khusus pertemuan antar perwira.
“Mari Mr Jones. Disini kita lebih santai,” kata Kolonel Agus
memulai obrolan.
“Kopi, teh atau susu Mr Jones?” Nona Elizabeth menjawab Mr
Jones lebih suka kopi. “Saya susunya.” Disambut tawa yang lain.
Slide sudah terpasang. Kini, bersamaan terhidangnya beberapa
gelas air minum di meja panjang dekat slide, Kolonel Agus memulai pembicaraan.
“Jadi Mr Jones dan kawan-kawan. Mr President besok akan
hadir di tempat ini. Dia meresmikan beberapa proyek besar sekaligus bertatap
muka dan berdialog dengan masyarakat.”
Kolonel Agus menunjuk tiga titik. “Jadi inilah tiga titik
yang menjadi fokus pembicaraan kita hari ini,” jelasnya. Titik pertama di
panggung dan podium kehormatan. Titik kedua, di pabrik dan beberapa bangunan
yang diresmikan. Titik ketiga adalah tempat parkir kendaraan Mr President dan
rombongan.
“Ketiga titik ini kita akan tempatkan beberapa personil
khusus dan terlatih. Mereka bertugas mengamankan Mr President dan rombongan,”
jelas Kolonel Agus.
Tentu, kata Kolonel Agus, petugas yang ditempatkan di tiga
titik bukan cuma mengamankan dan melindungi keselamatan Mr President dan
rombongan. Tapi juga masyarakat dari berbagai lapisan yang hadir dalam acara
peresmian itu.
“Ini dulu dari saya. Silakan untuk memberi saran, ide dan
masukan,” ujar Kolonel Agus sembari menyeruput air kopi hangat kental manis.
“Mr Jones?”
“Thank’s Letnan.” Dari ketiga titik itu, dia bersama Mr
Clean dan Letnan Salam akan ditempatkan di mana.
“Di antara tiga titik inilah Mr Jones. Enggak kemana-mana,”
kata Kolonel Agus. Dia menggaris bawahi ketiga titik itu dengan penekanan
bahwasanya Mr Clean, Letnan Salam dan Mr Jones saling berbagi nantinya di tiga
titik itu.
“Pertanyaannya Kolonel. Bagaimana dengan Nona Elizabeth?”
Sindir Mr Jones. Yang disindir cuma senyum-senyum saja. Manis pula senyumnya.
“Kalau soal Nona Elizabeth, itu terserah kalianlah. Silakan
pilih mana yang dia suka,” terang Kolonel Agus.
Derai tawa pun tak terhindarkan.
“Saya siap dimana saja. Terserah tuan-tuan bertiga inilah,”
kata Nona Elizabeth. Di mana saja ditem patkan dia siap asalkan jelas dan
sesuai dengan peruntukannya.
Ha ha ha ha …
“Oke kalau begitu. Nantilah kita putuskan. Sekarang kita
lanjutan dengan langkah antisipasi,” ujar Kolonel Agus. “Saya cenderung di
masing-masing tiga titik ini ditempatkan juga beberapa orang untuk mengontrol
keadaan.”
Semua serius menyimak penjelasan.
“Tapi Kolonel,” kata Nona Elizabeth, apa kita justru tidak
kebanyakan petugas. Kan sudah ada kita-kita dan petugas khusus yang ditempatkan
di tiga titik itu. Saran saya, lebih baik kita tempatkan mereka, kalau memang
ada dan perlu tambahan personil, di luar arena peresmian.”
“Di luar arena peresmian biasanya akan lebih ramai dengan
suasana yang terkadang tidak terkendali. Siapa tahu, makin dekat peresmian
justru makin banyak yang datang ke lokasi peresmian, dan saat itulah pihak lain
memanfaatkannya buat kepentingan mereka tentunya,” jelas Nona Elizabeth
berapi-api.
“Khusus di luar arena peresmian akan kita tempatkan beberapa
personil bersenjatakan lengkap. Jadi Nona Elizabeth, hal itu sudah menjadi
perhatian kita bersama,” terang Kolonel Agus.
Namun, kata Kolonel Agus, masih ada kemungkinan pihak
kepolisian menempatkan beberapa personil bayangan yang bertugas mengawal
pergerakan massa yang hadir.
“Bila memungkinkan kita tempat salah seorang dari kalian di
luar arena peresmian,” tegas Kolonel Agus sembari memperhatikan satu persatu
peserta yang hadir dalam pertemuan yang sudah berlangsung hampir dua jam itu.
3
SUASANA penyambutan tampak ramai dan meriah sesaat sebelum
kedatangan orang nomor satu di negeri ini. Jarum jam baru menunjukkan ke angka
tujuh. Tapi sudah penuh sesak warga yang datang ingin menyaksikan peresmian
sekaligus melihat dari dekat Mr President dan isteri.
Mr Jones menempati titik nomor satu bersama anggota
kepolisian yang lain dan khusus ditempatkan di titik satu. Titik kedua
ditempati Mr Clean sedangkandi titik
ketiga ditempati Letnan Salam dan Nona Elizabeth.
Kolonel Agus sendiri ikut bersama tim yang menyambut
kedatangan Mr President dan rombongan. Ten tu dia tidak sendirian. Dia dikawal
beberapa petugas kepolisian. Kolonel Agus, sebelum menempatkan po sisi anak
buahnya, menginstruksikan Letnan Salam dan kawan-kawan terus menjaga kontak dan
fokus pada pekerjaan serta tugas utama masing-masing.
“Clean …”
“Titik dua aman Let. Roger.”
“Roger. Aman diterima. Lanjut .. Mr Jones.”
“Ya Let. Mr Jones di titik satu. Sampai detik ini aman
terkendali Let.”
“Okeee …”
“Saya Let,” kata Nona Elizabeth.
“Kan udah tadi.”
“Kapan Let?”
“Lho tadi bilang … Saya Let.”
Ha ha ha ha …
“Letnan bisa aja.”
Para undangan dan tamu kehormatan mulai berdatangan. Mereka
menempati tempat duduk yang telah disediakan di bawah tenda yang di depannya
sudah terpasang panggung khusus untuk Mr President me nekan tombol sirene
sebagai tanda telah diresmikannya beberapa proyek dan pabrik besar serta kecil
di kota ini.
Tak jauh dari panggung dan tempat duduk tamu kehormatan
dipasang batas pemisah bagi warga yang ikut menyaksikan. Batas pemisah itu
hanya berupa tapi beberapa lapis yang dijaga oleh beberapa petu gas keamanan. Diharapkan pada puncak acara warga tetap sopan
dengan tidak berdesak-desakan dan berusaha menerobos masuk mendekat ke podium
kehormaan.
Tak terkecuali para kuli tinta. Dengan mengenakan tanda
pengenal di dada, sambil menenteng tustel
dan hape android mereka hilir mudik mencari momen yang tepat untuk
memotret dan merekam kejadian yang saat ini sedang terjadi dan berlangsung di
arena peresmian.
Jumlah mereka tidak sedikit. Ditaksir melebihi angka lima
puluh. Sebagian besar dari mereka masih berusia muda. Mereka adalah jurnalis
dari berbagai media cetak, online dan elektronika.
Tentu saja kehadiran para kuli disket ini tidak sampai
mengganggu ketenangan dan kenyamanan tamu dan warga yang menyaksikan. Mereka hanya
fokus pada pengambilan gambar di tempat yang telah dise dikan dan diatur pihak
panitia. Mereka baru boleh mewawancarai Mr President setelah acara peresmi an.
Jelang lima menit Mr President dan rombongan datang, aparat
keamanan semakin memperketat penja gaan dan pengawasan. Setiap celah
diantisipasi dengan tidak memberikan keleluasaan kepada warga untu lebih mendekat.
Dan, ketika Mr President dan rombongan tiba di lokasi,
kesibukan petugas keamanan semakin bertam bah. Hanya saja di jalan yang harus
dilewati orang terhormat di negeri ini tampak streril dan lengang. Sementara di
kanan kirinya warga antri berjubel tapi teratur ingin melihat dari dekat Mr
President dan isteri tercinta.
Diawali dengan tarian selamat datang, Mr President dan
isteri turun dari mobil kepresidenan, diiiringi rombongan para menteri, duta
besar negara sahabat, sejumlah pengusaha kenamaan dan pejabat ter kait lainnya. Dua menit kemudian, Mr President berdiri,
menerima kalungan bunga dan menyaksikan lemah gemulainya para gadis belia
cantik jelita menarikan tarian.
“Halo Pak Presiden,” ucap salah seorang ibu dengan raut muka
senang sesaat setelah Mr President sele sai menyaksikan tarian.
Bukan cuma ibu berparas lumayan cantik dan masih muda itu
yang mendapat kesempatan bersalaman
dengan Mr President. Tapi juga para ibu yang lain, remaja, kaum bapak
dan anak-anak yang tampak sangat antusias bertemu dan melihat dari dekat orang
yang mereka cintai dan sayangi itu.
Dengan sabarnya Mr President menyalami dan menyapa satu
persatu warga yang telah menunggunya sedari pagi. Sayang, karena keterbatasan
waktu dan tempat, Mr President tak bisa memenuhi semua per mintaan sebagian
kecil rakyatnya yang mau berselfie ria. Hanya beberapa orang, itu pun tidak
lama kare na para pengawal berbadan tegap dan sigap sudah mendekat serta merapat.
“Sudah ya!”
“Lagi Pak Presiden,” teriak seorang remaja putri. Dia minta
Mr President berhenti sejenak dan mendekat ke dia.
Flaaaash …
“Terima kasih Pak Presiden,” ucapnya senang bukan main.
4
“MR Jones … Roger.”
“Sebentar Let. Ada anak mau pipis nich.”
Ha ha ha ha …
“Ada yang lucu Let?” Tanya Nona Elizabeth keheranan.
“Ada anak kebelet mau pipis.”
“Oooo … Eli kira apa … Tapi Let, hati-hati lho Let. Siapa
tahu …” Nona Elizabeth tak melanjutkan ucapan nya karena rombongan terakhir Mr
President dan isteri akan lewat menuju deretan kursi yang telah disediakan.
“Clean … Roger.”
“Aman Let.”
“Di mana kamu Clean?”
“Di tempat Let.”
“Maksud saya, lagi ngapain?”
“Tengok-tengok oranglah Let.”
“Oke .. Lanjutkan.”
“Siap Letnan.”
Dari tempat Letnan Salam dan Nona Elizabeth berdiri di titik
tiga, terlihat beberapa penari memasuki panggung. Cewek belia yang cantik
jelita dan berkulit putih membawakan tarian sekapur sirih khusus kepada tamu
kehormatan.
Mulanya dua dari delapan penari itu berlari-lari kecil sambil
merentangkan kedua tangan. Mengelilingi para penari lain yang duduk bersimpuh
menghadap ke tamu undangan.
Tak lama setelah itu, kedua penari ini kembali bergabung
dengan rekan-rekannya. Mereka duduk ber simpuh dengan kedua telapak tangan
didekatkan. Sebelum kemudian berdiri dan memencar sembari meliuk-liukkan badan
dan kedua tangan.
Kedua kaki silih berganti disilangkan, lalu ke depan, kanan,
kiri dan belakang. Para penari berpasang-pasangan dan saling berbisik,
tersenyum dan tertawa.
Beberapa detik kemudian, empat pasang penari ini saling
berpandang-pandangan. Lalu menepukkan kedua telapak tangan silih berganti dalam
posisi duduk bersimpuh, jongkok dan berdiri.
Kemudian berjalan ke depan sambil berpegangan tangan.
Masing-masing pasangan mencari pasangan lain, sehingga setiap penari menemukan
pasangan baru. Baru setelah itu mereka memberi hormat kepa da tamu undangan.
Tarian pun selesai …
“Mr Jones … Roger.”
“Siap Let.”
“Sudahkah si anak pipis?”
“Tak jadi Let.”
“Kenapa Mister?”
“Udah dipaksain enggak mau keluar juga itu air kencing. Ya
udah, enggak jadi kencingnya Let.”
“Ibunya Mister?”
“Justru ibunya minta ditemani Let. Soalnya, ramai dan dia
hanya berdua dengan anaknya. Baru pertama kali ke tempat ini. Takut
kenapa-kenapa Let.”
Ha ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Siaga penuh.”
“Siap Let.”
Mr Clean tampak melerai orang bertengkar. Walau tak sempat
adu jotos, jika Mr Clean terlambat bebe rapa detik saja untuk melerai, duel
antara laki-laki berambut keriting berombak dan lurus itu bakal terjadi dan
seru.
“Baru aman Let.”
“Ada yang …?”
“Iya Let. Dua orang hampir berkelahi cuma gara-gara rebutan
tempat. Tapi syukurlah sudah bisa diatasi Let.”
“Jempol Clean.”
“Makasih Let.”
“Sama-sama.”
“Oh ya Let. Nona Eli ada?”
“Ada. Lagi memeriksa lokasi parkir dan beberapa orang di
sekitar parkiran yang mulai ramai.”
Mr Clean mengarahkan pandangan ke lokasi pabrik terdekat.
Dia lega karena tim pasukan khusus menjaga ketat pabrik dan beberapa bangunan
di sekitarnya yang pembangunanya menelan dana triliunan rupiah.
“Clean.”
“Aman Let.”
“Oke, siaga penuh.”
“Siap Letnan.”
Setelah memeriksa keadaan di lokasi parkir kendaraan tamu
undangan, Nona Elizabeth menyapa bebe rapa lelaki yang duduk di bangku panjang
khusus tamu yang mau istirahah setelah memarkirkan kenda raan.
Sapaan itu kemudian berlanjut pada pembicaraan serius.
Diiringi tawa kecil sebelum kembali menemui Letnan Salam yang masih berdiri
sambil mengawasi keadaan sekitar dengan seksama.
Di beberapa kesempatan, Letnan Salam juga mengitari lokasi
parkir sebelah kiri tempat ia berdiri. Tak lama. Setelah itu dia bergeser
beberapa langkah ke depan sekadar untuk memastikan tak ada tamu un dangan dan
warga yang gerak-geriknya mencurigakan.
Sementara Mr Jones senyum-senyum menyaksikan lawakan
anak-anak di atas panggung. Begitu lepas diperankan, membuat para tamu seolah
tengah berada di tengah masyarakat pedesaan.
Kelucuan yang ditampilkan membuat yang hadir, termasuk Mr
President dan isteri, bertepuk tangan. Kri tik dan saran yang disampaikan
memang sangat mengena. Malah tak ada yang tahu kalau itu kritikan selain hampir
setiap menit perut ini seolah berguncang karena tak kuat menahan tawa.
5
“ASSALAMUALAIKUM warohamtullohi wabarokaaatuh.” Ucap Mr
President dengan suara lantang sem bari menyunggingkan senyuman manis kepada
para undangan dan masyarakat yang sengaja hadir untuk menyaksikan meriah tapi
sederhanya acara peresmian.
“Waalaikum salam,” jawab para hadirin serempak.
Bersamaan dengan itu, para juru foto mulai membidikkan
kameranya. Seketika lampu blitz bergantian terlihat. Ibarat kilat yang biasa
kita lihat, baru reda dan tidak terlihat lagi setelah Mr President bilang …
“Udah ya, teman-teman juru foto …”
Ha ha ha ha …
Para juru foto pun tahu diri. Mereka menghentikan sejenak
memfoto karena kuatir akan mengganggu
konsentrasi Mr President dalam membarikan kata sambutan.
Warga yang hadir memberikan aplus ketika Mr President
berkata .. “Saya senang berjumpa dengan rakyatku. Sebab, tanpa kalian saya ini
bukan apa-apa …”
Plak … pak .. plak .. pak …
“Mungkin apa tidak lebih baik saya berumah saja dengan
rakyatku. Rumah biasa. Sederhana yang saban sore para ibu ramai berkumpul,
mengendong sambil menyuapi anak-anaknya yang masih bayi, dan saling berbagi
cerita.”
Haaaa?
“Atau saya lebih baik seperti sekarang ini saja,” lanjut Mr
President yang disambut tawa hadirin.
Bukan cuma tamu dan warga yang ikut tertawa. Para penjual
makanan pun ikut tertawa. Mulai dari tu kang siomay, pempek segala rasa, bakso,
hingga es cendol dan es krim yang mulai diserbu anak-anak dan remaja.
“Di rumah saya saja, Pak President,” sahut salah seorang
remaja yang tengah asyik menikmati bakso daging bersama teman-temannya.
“Memangnya di rumah kamu muat ya Bro?” Tanya temannya yang
lagi menunggu giliran dibagikan semangkuk es cendol.
“Muatlah. Kan cuma Pak President seorang.”
Ha ha ha ha …
“Kenapa tertawa Bro, lucu ya?”
“Teranglah lucu Bro. Itu pengawalnya mau dikemanakan. Suruh
tidur di teras apa?”
“Ya disuruh baliklah ke rumah masing-masing. Gitu aja
repot.”
Hua ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Gimana?”
“Lucu Let.”
“Lucu kenapa?”
“Semua orang di dekat saya ketawa semua Let,” kata Mr Jones
seolah tak percaya. Lama ditahan, ikut ketawa juga dia akhirnya.
“Clean …”
“Ya Let.”
“Ketawakah?”
“Masih Letnan. Tapi saya dengan yang lain tetap siaga penuh
Let. Beres …”
“Oke.”
“Let.”
“Ya Clean.”
“Non Eli ketawa jugakah?”
“Iya Clean. Nich, sampai terduduk dia.”
“Bisa begitu Let?”
“Mungkin karena lamanya dia ketawa Clean. Tak kuat lagi
ketawa, ya duduk. Alhamdulillah, sekarang tidak ketawa lagi. Cuma …”
Letnan Salam mendekati Nona Elizabeth untuk memastikan
apakah koleganya itu masih ketawa atau tidak lagi.
“Let.”
“Enggak lagi Clean.”
“Maksudnya Let?”
“Enggak lagi ketawa Non Elinya. Sekarang tinggal senyum-senyum sendiri aja.”
“Wah gawat Let.”
“Maksud kamu Clean?”
“Kalau keterusan bisa-bisa …”
Ha ha ha ha …
Nona Elizabeth berdiri.
“Siapa Let?”
“Biasa …Clean.”
“Okk ooooo …”
Di podium Mr President masih bercerita tentang perjalanan
hidupnya semasa kecil. Gaya bercerita yang santai membuat yang hadir tak
beranjak sedikit pun dari tempat duduk mereka. Mereka sangat senang karena perjalanan itu
kurang lebih sama dengan yang dialami dan dilalui rakyat kebanyakan.
“Jadi bapak, ibu-ibu sekalian. Masa kecil itu indah. Menurut
saya, jangan dilupakan. Ambil yang positif nya, tinggalkanlah yang negatifnya.
Cuma jangan diingat terus. Kalau keterusan diingat kita bakalan mengecil lho.
Jadi boncel. Mau?”
Ha ha ha ha …
“Ibu-ibu ini yang sering ingat masa kecil. Benar enggak Bu?”
Para ibu enggan dan malu-malu untuk menjawabnya. Sesama
mereka saling pandang, berbisik dan setelah itu tersipu malu.
“Bagus itu ibu-ibu. Tapi ada juga yang enggak bagusnya dong
Bu.”
Hadirin, terutama kaum ibu terdiam.
“Apa yang enggak bagusnya ibu-ibu? Ayo dong ngomonglah. Sama
bapaknya mau, masa sama Pak President enggak mau.”
Ha ha ha ha …
“Selalu ingat terus Pak Presiden,” jawab seorang ibu yang
sudah berusia lanjut dengan suara serak tapi lantang.
“Betul sekali jawaban ibu kita ini. Satu lagi, coba apa?”
Ditantang Mr President, para ibu tak ada yang berani angkat
jari telunjuk.
“Selalu ingat kalau lagi susah. Betul kan?”
Para ibu masih diam.
“Lagi marah sama anak ingat masa kecil. Lagi berantem sama
suami ingat masa kecil. Lagi bokek ingat masa kecil. Kalau ibu-ibu enggak
percaya buktikan saja sendiri.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
6
“SAYA ingin anda-anda yang hadir disini ikut senang dengan
peresmian ini,” kata Mr President. Kembali tepuk tangan terdengar serempak.
Cukup lama dan baru berhenti bertepuk tangan setelah Mr President mengatakan
sudah cukup.
“Dengan diresmikannya pabrik ini kelak maka kalian dapat
bekerja dengan syarat …”
Hadirin dibuat penasaran dengan ucapan Mr President barusan.
Apalagi beliau diam sebentar, lalu ter senyum sambil menunggu reaksi semua yang
hadir. Banyak di antara mereka yang ingin bertanya. Tapi diurungkan karena
sesaat kemudian beliau berkata …
“Syaratnya apa? Ya kalian harus melamar. Harus mengikuti
serangkaian tes dan kalau hasil tes kalian nilainya bagus, luluslah kalian dan
bekerja …”
“Kalau tidak lulus bagaimana Pak Presiden?” Dua orang ibu
saling berbisik. Keduanya amat berharap Mr President mau menjawab kegundahan
hati mereka selama ini. Lantaran anak-anak mereka kelak juga akan bekerja
setelah menamatkan sekolahnya dan membina rumah tangga.
Jika sampai tua tidak dan belum juga bekerja alias
pengangguran seumur hidup, mau dikemanakan muka ini. Kedua wanita muda usia
tadi tak ingin buah hati mereka kelak jadi luntang-lantung. Tidak bekerja dan
mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
“Ibu-ibu. Ayo tunjuk tangan. Jangan bisik-bisiklah. Enggak
kedengaran saya ini ibu-ibu. Telinga saya ini kecil. Jadi daya dengarnya
terbatas. Tapi kalau ibu-ibu ngomong, baru bisa saya dengar.”
Salah seorang panitia memberikan mikropon agar kedua ibu
yang berbisik-bisik itu mau bicara. Anehnya, setelah mikropon di tangan,
keduanya justru saling tunjuk untuk bicara.
“Silakan Bu, siapa saja,” kata wanita berparas ayu yang juga
salah seorang panitia. Dia terus membujuk agar secepatnya bicara. Apa saja,
silakan utarakan, tentu yang berguna dan bermanfaat juga bagi yang lainnya.
“Terima kasih Pak Presiden.”
“Nah begitu …” Jawaban Mr President ini membuat para
undangan dan masyarakat yang antusias datang ke lokasi peresmian tertawa lega.
“Saya akan bertanya sedikit saja Pak Presiden,” ujar si ibu
berkacamata minus dan hidung teramat mancung itu.
“Banyak juga boleh Bu.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Silakan Bu …”
“Terima kasih Pak Presiden,” kata si ibu rada gemetaran. “Sekiranya
anak saya nich Pak Presiden, ikut tes, lalu tidak lulus, gimana Pak?”
Ha ha ha ha …
“Ikut tes lagi Bu …”
“Kalau tak lulus lagi Pak Presiden, gimana dong? Kasihan
saya Pak.”
Ha ha ha ha …
Mr President mengusap keningnya sebentar dengan saputangan.
Dia memandang satu persatu para menterinya. Setelah itu dia pegang mikropon.
“Ada yang bisa jawab enggak ya?” Tanya Mr President penuh
harap. Ia berharap ada salah seorang dari sekian banyak tamu yang hadir mau
angkat bicara, memberikan jalan keluarnya.
“Saya Pak,” ujar salah seorang bapak yang rambtnya penuh
uban tapi masih terlihat muda dan segar bugar.
Hadirin pun bertepuk tangan.
“Siapa namanya Pak?”
“Soleh …”
“Berapa umurnya Pak?”
“Waduh. Lupa Pak Presiden.”
Ha ha ha ha …
“Bisa sampai lupa kenapa ya Pak?”
“Enggak sempat ngitungnya Pak. “
Ha ha ha ha …
“Bapak kita ini pandai melucu juga,” kata Mr President yang
ikut tertawa bersama para menteri dan rombongan pengusaha serta pejabat terkait
lainnya.
Si bapak sudah tak sabar mau bicara.
“Silakan Pak …”
“Begini Pak President. Saya sejak kecil sudah terbiasa
kerja. Makanya saya jadi heran kenapa orang-orang sekarang ini justru rebutan
untuk mencari kerja.”
Ha ha ha ha …
“Bagus juga penjelasan bapak kita ini. Lanjut Pak.”
“Saya sampai setua ini masih kerja Pak Presiden.”
Haaaa …?
Waaaah …
Ya cacam ..
Muantaaap …
Cek … cek … cek …
“Kerja apa Pak?”
“Ngelem kantong Pak Presiden.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ha ha ha ha …
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar