Senin, 24 April 2017

Kobok Tay (1)



Novel

Kobok Tay (1)
By  Wak Amin

1
“MARI Tuan, ikut saya …” Kata salah seorang pengemudi taksi yang biasa mangkal di bandara. Dia memperkenalkan diri, lalu mempersilakan Mr Jones memasuki taksinya.
Tengah hari …
Bukan hanya Mr Jones yang baru tiba di kota ini dengan menggunakan pesawat berbadan lebar. Banyak penumpang lain yang turun bergantian dari pesawat dan kota yang berbeda pula.
Tak heran jika bandara penuh sesak, terutama di ruang pengambilan bagasi. Sementara di luar pintu ma suk bandara, para penjemput berjubel. Mereka khusus datang bersama keluarga, saudara dan handai tolan.
“Beginilah keadaannya Tuan kalau tengah hari. Penuh sesak,” kata si pengemudi yang mengaku bernama Rahmat Kurniawan. Dia membelokkan mobil sedan biru muda yang ia sopiri ke kanan menuju pintu gerbang utama bandara.
“Di tempat saya juga begitu Pak,” kata Mr Jones sembari mengalihkan pandangan sejenak ke area persawahan nan luas serba menghijau di kanan dan kiri jalan.
“Betul Tuan? Wah kalau begitu sama dong dengan bandara di tempat saya ini.”
Syiiiiit …
Mobil berhenti di pos jaga.
Hanya sebentar. Lalu berjalan lagi.
Kini taksi bersiap memasuki kawasan perkotaan. Di kanan kiri dinaungi aneka tanaman hias dan pepoho nan rindang. Beberapa kendaraan roda dua dan empat tampak berseliweran silih berganti.
“Tuan kayaknya baru pertama kali datang ke kota ini ya ,” kata Pak Rahmat menyambung obrolan yang sempat terhenti beberapa saat tadi.  Dengan penumpang lain hal ini sering ia lakukan, kenapa dengan Mr Jones tidak. Orangnya ramah, penampilan rapi dan ganteng pula.
“Anda orang sini Pak?”

“Iya Tuan. Saya lahir dan dibesarkan di sini. Inilah tanah kelahiran saya Tuan …”
“Sudah menikah Pak?”
“Sudah Tuan. Baru setahun yang lalu. Setelah menikah pikiran ini rasanya plong. Tenang. Dulu, ketika masih bujang selalu merasa kurang Tuan. Tapi sekarang, entah kenapa cukup dicukupkan. Enggak me rasa kekurangan. Mungkin karena belum punya anak ya Tuan,” ujar Pak Rahmat sembari tertawa lebar.
Tiba di lampu merah, Mr Jones membuka separo kaca jendela taksi. Dia membeli koran edisi siang dari penjaja koran yang  biasa mangkal di tepi jalan dan sebotol air mineral dingin sekadar untuk membasahi kerongkongan.
“Tuan rupanya hobi baca koran juga ya?”
“Hobi juga sih enggak Pak. Bila saya perlu, ya saya belilah. Enggak mahal juga kan Pak ya.”
Ha ha ha ha …
Telepon seluler berdering.
“Mr Jones. Ini Elizabeth. Sudah menunggu di Hotel Karimun.”
“Saya masih di perjalanan Nona Eli. Mungkin tak lama lagi saya sampai ke hotel jika tidak macet.”
“Oke Mr Jones.”
“Oh ya Non Eli. Lokasi persisnya Karimun Hotel dimana ya?”
“Simpang Lima. Belok kanan, nomor dua.”
“Thank’s Non Eli. Cukup ya!”
Telepon ditutup.
Taksi kembali berbaris rapi dengan kendaraan lain di perempatan lampu merah.
“Apa sudah dekat kita Pak Rahmat?”
“Satu lampu merah lagi Tuan. Belok kiri dan jalan sedikit, sampailah kita.”
“Syukurlah kalau begitu. Pas betul Pak.”
“Pas betul kenapa Tuan?”
“Sampai di hotel saya makan Pak.”
Hua ha ha ha …
Dari pagi ketemu pagi dijamin tak bakal kelaparan. Beberapa rumah makan tetap buka selama dua puluh empat jam. Mengenai harga sesuai dengan jenis dan kualitas makanan yang dimakan.
“Kalau mau yang murah banget ada Tuan. Yang mahal selangit juga ada. Banyak Tuan.”
Ha ha ha ha …
Tanpa terasa Hotel Karimun sudah di depan mata. Dari balik pepohonan rindang, setelah turun dari taksi dan membayar ongkos, Mr Jones bergegas menuju pintu hotel.
Pintu terbuka …
“Selamat datang Mr Jones. Kami senang anda datang,” ucap Nona Elizabeth bersama rekannya sesama wanita. Satu persatu mereka menyalami Mr Jones. Menemaninya hingga ke kamar tempat menginap yang telah dipesan seminggu sebelumnya.

2
TAK lama kemudian datanglah Mr Clean dan Letnan Salam. Ditemani Nona Elizabeth, mereka melakukan pertemuan khusus di lobi hotel Karimun sore hari. Hanya sebentar. Setelah itu mereka beranjak pergi ke luar hotel. Berjalan kaki dan singgah di warung kopi.
Jelang Magrib, mereka kembali ke hotel. Lepas Magrib mereka makan malam bersama di restoran Kari mun. Karena hampir semua tempat duduk terisi, mereka akhirnya memilih duduk di  kursi paling ujung. Lebih sejuk karena dihiasi aneka bunga berwarna-warni.
Tak lama. Setengah jam lebih sepuluh menit mereka kembali ke lobi hotel. Lalu melanjutkan perjalanan ke gedung Graha Police. Mereka sudah ditunggu beberapa perwira senior dari kepolisian. Mereka menyambut dengan ramah kedatangan Mr Jones.
Meeting sudah dimulai lima menit lalu. Jadi tak ada waktu lagi buat Mr Jones untuk bersantai dan saling curhat-curhatan. Meeting berlangsung amat singkat.
Mr Jones diberi kesempatan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya kepada pe serta meeting. Setelah itu meeting disudahi.
Bersama Kolonel Agus, Mr Jones, Letnan Salam, Mr Clean dan Nona Elizabeth menuju ruangan khusus pertemuan antar perwira.
“Mari Mr Jones. Disini kita lebih santai,” kata Kolonel Agus memulai obrolan.
“Kopi, teh atau susu Mr Jones?” Nona Elizabeth menjawab Mr Jones lebih suka kopi. “Saya susunya.” Disambut tawa yang lain.
Slide sudah terpasang. Kini, bersamaan terhidangnya beberapa gelas air minum di meja panjang dekat slide, Kolonel Agus memulai pembicaraan.
“Jadi Mr Jones dan kawan-kawan. Mr President besok akan hadir di tempat ini. Dia meresmikan beberapa proyek besar sekaligus bertatap muka dan berdialog dengan masyarakat.”
Kolonel Agus menunjuk tiga titik. “Jadi inilah tiga titik yang menjadi fokus pembicaraan kita hari ini,” jelasnya. Titik pertama di panggung dan podium kehormatan. Titik kedua, di pabrik dan beberapa bangunan yang diresmikan. Titik ketiga adalah tempat parkir kendaraan Mr President dan rombongan.
“Ketiga titik ini kita akan tempatkan beberapa personil khusus dan terlatih. Mereka bertugas mengamankan Mr President dan rombongan,” jelas Kolonel Agus.
Tentu, kata Kolonel Agus, petugas yang ditempatkan di tiga titik bukan cuma mengamankan dan melindungi keselamatan Mr President dan rombongan. Tapi juga masyarakat dari berbagai lapisan yang hadir dalam acara peresmian itu.
“Ini dulu dari saya. Silakan untuk memberi saran, ide dan masukan,” ujar Kolonel Agus sembari menyeruput air kopi hangat kental manis.
“Mr Jones?”
“Thank’s Letnan.” Dari ketiga titik itu, dia bersama Mr Clean dan Letnan Salam akan ditempatkan di mana.
“Di antara tiga titik inilah Mr Jones. Enggak kemana-mana,” kata Kolonel Agus. Dia menggaris bawahi ketiga titik itu dengan penekanan bahwasanya Mr Clean, Letnan Salam dan Mr Jones saling berbagi nantinya di tiga titik itu.
“Pertanyaannya Kolonel. Bagaimana dengan Nona Elizabeth?” Sindir Mr Jones. Yang disindir cuma senyum-senyum saja. Manis pula senyumnya.
“Kalau soal Nona Elizabeth, itu terserah kalianlah. Silakan pilih mana yang dia suka,” terang Kolonel Agus.
Derai tawa pun tak terhindarkan.
“Saya siap dimana saja. Terserah tuan-tuan bertiga inilah,” kata Nona Elizabeth. Di mana saja ditem patkan dia siap asalkan jelas dan sesuai dengan peruntukannya.
Ha ha ha ha …
“Oke kalau begitu. Nantilah kita putuskan. Sekarang kita lanjutan dengan langkah antisipasi,” ujar Kolonel Agus. “Saya cenderung di masing-masing tiga titik ini ditempatkan juga beberapa orang untuk mengontrol keadaan.”
Semua serius menyimak penjelasan.

“Tapi Kolonel,” kata Nona Elizabeth, apa kita justru tidak kebanyakan petugas. Kan sudah ada kita-kita dan petugas khusus yang ditempatkan di tiga titik itu. Saran saya, lebih baik kita tempatkan mereka, kalau memang ada dan perlu tambahan personil, di luar arena peresmian.”
“Di luar arena peresmian biasanya akan lebih ramai dengan suasana yang terkadang tidak terkendali. Siapa tahu, makin dekat peresmian justru makin banyak yang datang ke lokasi peresmian, dan saat itulah pihak lain memanfaatkannya buat kepentingan mereka tentunya,” jelas Nona Elizabeth berapi-api.
“Khusus di luar arena peresmian akan kita tempatkan beberapa personil bersenjatakan lengkap. Jadi Nona Elizabeth, hal itu sudah menjadi perhatian kita bersama,” terang Kolonel Agus.
Namun, kata Kolonel Agus, masih ada kemungkinan pihak kepolisian menempatkan beberapa personil bayangan yang bertugas mengawal pergerakan massa yang hadir.
“Bila memungkinkan kita tempat salah seorang dari kalian di luar arena peresmian,” tegas Kolonel Agus sembari memperhatikan satu persatu peserta yang hadir dalam pertemuan yang sudah berlangsung hampir dua jam itu.

3
SUASANA penyambutan tampak ramai dan meriah sesaat sebelum kedatangan orang nomor satu di negeri ini. Jarum jam baru menunjukkan ke angka tujuh. Tapi sudah penuh sesak warga yang datang ingin menyaksikan peresmian sekaligus melihat dari dekat Mr President dan isteri.
Mr Jones menempati titik nomor satu bersama anggota kepolisian yang lain dan khusus ditempatkan di titik satu. Titik kedua ditempati Mr Clean sedangkandi  titik ketiga ditempati Letnan Salam dan Nona Elizabeth.
Kolonel Agus sendiri ikut bersama tim yang menyambut kedatangan Mr President dan rombongan. Ten tu dia tidak sendirian. Dia dikawal beberapa petugas kepolisian. Kolonel Agus, sebelum menempatkan po sisi anak buahnya, menginstruksikan Letnan Salam dan kawan-kawan terus menjaga kontak dan fokus pada pekerjaan serta tugas utama masing-masing.
“Clean …”
“Titik dua aman Let. Roger.”
“Roger. Aman diterima. Lanjut .. Mr Jones.”
“Ya Let. Mr Jones di titik satu. Sampai detik ini aman terkendali Let.”
“Okeee …”
“Saya Let,” kata Nona Elizabeth.
“Kan udah tadi.”
“Kapan Let?”
“Lho tadi bilang … Saya Let.”
Ha ha ha ha …
“Letnan bisa aja.”
Para undangan dan tamu kehormatan mulai berdatangan. Mereka menempati tempat duduk yang telah disediakan di bawah tenda yang di depannya sudah terpasang panggung khusus untuk Mr President me nekan tombol sirene sebagai tanda telah diresmikannya beberapa proyek dan pabrik besar serta kecil di kota ini.
Tak jauh dari panggung dan tempat duduk tamu kehormatan dipasang batas pemisah bagi warga yang ikut menyaksikan. Batas pemisah itu hanya berupa tapi beberapa lapis yang dijaga oleh beberapa petu gas keamanan.  Diharapkan pada puncak acara warga tetap sopan dengan tidak berdesak-desakan dan berusaha menerobos masuk mendekat ke podium kehormaan.
Tak terkecuali para kuli tinta. Dengan mengenakan tanda pengenal di dada, sambil menenteng tustel  dan hape android mereka hilir mudik mencari momen yang tepat untuk memotret dan merekam kejadian yang saat ini sedang terjadi dan berlangsung di arena peresmian.
Jumlah mereka tidak sedikit. Ditaksir melebihi angka lima puluh. Sebagian besar dari mereka masih berusia muda. Mereka adalah jurnalis dari berbagai media cetak, online dan elektronika.
Tentu saja kehadiran para kuli disket ini tidak sampai mengganggu ketenangan dan kenyamanan tamu dan warga yang menyaksikan. Mereka hanya fokus pada pengambilan gambar di tempat yang telah dise dikan dan diatur pihak panitia. Mereka baru boleh mewawancarai Mr President setelah acara peresmi an.
Jelang lima menit Mr President dan rombongan datang, aparat keamanan semakin memperketat penja gaan dan pengawasan. Setiap celah diantisipasi dengan tidak memberikan keleluasaan kepada warga untu lebih mendekat.
Dan, ketika Mr President dan rombongan tiba di lokasi, kesibukan petugas keamanan semakin bertam bah. Hanya saja di jalan yang harus dilewati orang terhormat di negeri ini tampak streril dan lengang. Sementara di kanan kirinya warga antri berjubel tapi teratur ingin melihat dari dekat Mr President dan isteri tercinta.
Diawali dengan tarian selamat datang, Mr President dan isteri turun dari mobil kepresidenan, diiiringi rombongan para menteri, duta besar negara sahabat, sejumlah pengusaha kenamaan dan pejabat ter kait lainnya.  Dua menit kemudian, Mr President berdiri, menerima kalungan bunga dan menyaksikan lemah gemulainya para gadis belia cantik jelita menarikan tarian.
“Halo Pak Presiden,” ucap salah seorang ibu dengan raut muka senang sesaat setelah Mr President sele sai menyaksikan tarian.  
Bukan cuma ibu berparas lumayan cantik dan masih muda itu yang mendapat kesempatan bersalaman  dengan Mr President. Tapi juga para ibu yang lain, remaja, kaum bapak dan anak-anak yang tampak sangat antusias bertemu dan melihat dari dekat orang yang mereka cintai dan sayangi itu.
Dengan sabarnya Mr President menyalami dan menyapa satu persatu warga yang telah menunggunya sedari pagi. Sayang, karena keterbatasan waktu dan tempat, Mr President tak bisa memenuhi semua per mintaan sebagian kecil rakyatnya yang mau berselfie ria. Hanya beberapa orang, itu pun tidak lama kare na para pengawal berbadan tegap dan sigap sudah mendekat serta merapat.
“Sudah ya!”
“Lagi Pak Presiden,” teriak seorang remaja putri. Dia minta Mr President berhenti sejenak dan mendekat ke dia.
Flaaaash …
“Terima kasih Pak Presiden,” ucapnya senang bukan main.

4
“MR Jones … Roger.”
“Sebentar Let. Ada anak mau pipis nich.”
Ha ha ha ha …
“Ada yang lucu Let?” Tanya Nona Elizabeth keheranan.
“Ada anak kebelet mau pipis.”
“Oooo … Eli kira apa … Tapi Let, hati-hati lho Let. Siapa tahu …” Nona Elizabeth tak melanjutkan ucapan nya karena rombongan terakhir Mr President dan isteri akan lewat menuju deretan kursi yang telah disediakan.
“Clean … Roger.”
“Aman Let.”
“Di mana kamu Clean?”
“Di tempat Let.”
“Maksud saya, lagi ngapain?”
“Tengok-tengok oranglah Let.”
“Oke .. Lanjutkan.”
“Siap Letnan.”
Dari tempat Letnan Salam dan Nona Elizabeth berdiri di titik tiga, terlihat beberapa penari memasuki panggung. Cewek belia yang cantik jelita dan berkulit putih membawakan tarian sekapur sirih khusus kepada tamu kehormatan.
Mulanya dua dari delapan penari itu berlari-lari kecil sambil merentangkan kedua tangan. Mengelilingi para penari lain yang duduk bersimpuh menghadap ke tamu undangan.
Tak lama setelah itu, kedua penari ini kembali bergabung dengan rekan-rekannya. Mereka duduk ber simpuh dengan kedua telapak tangan didekatkan. Sebelum kemudian berdiri dan memencar sembari meliuk-liukkan badan dan kedua tangan.
Kedua kaki silih berganti disilangkan, lalu ke depan, kanan, kiri dan belakang. Para penari berpasang-pasangan dan saling berbisik, tersenyum dan tertawa.
Beberapa detik kemudian, empat pasang penari ini saling berpandang-pandangan. Lalu menepukkan kedua telapak tangan silih berganti dalam posisi duduk bersimpuh, jongkok dan berdiri.
Kemudian berjalan ke depan sambil berpegangan tangan. Masing-masing pasangan mencari pasangan lain, sehingga setiap penari menemukan pasangan baru. Baru setelah itu mereka memberi hormat kepa da tamu undangan.  
Tarian pun selesai …
“Mr Jones … Roger.”
“Siap Let.”
“Sudahkah si anak pipis?”
“Tak jadi Let.”
“Kenapa Mister?”
“Udah dipaksain enggak mau keluar juga itu air kencing. Ya udah, enggak jadi kencingnya Let.”
“Ibunya Mister?”
“Justru ibunya minta ditemani Let. Soalnya, ramai dan dia hanya berdua dengan anaknya. Baru pertama kali ke tempat ini. Takut kenapa-kenapa Let.”
Ha ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Siaga penuh.”
“Siap Let.”
Mr Clean tampak melerai orang bertengkar. Walau tak sempat adu jotos, jika Mr Clean terlambat bebe rapa detik saja untuk melerai, duel antara laki-laki berambut keriting berombak dan lurus itu bakal terjadi dan seru.
“Baru aman Let.”
“Ada yang …?”
“Iya Let. Dua orang hampir berkelahi cuma gara-gara rebutan tempat. Tapi syukurlah sudah bisa diatasi Let.”
“Jempol Clean.”
“Makasih Let.”
“Sama-sama.”
“Oh ya Let. Nona Eli ada?”
“Ada. Lagi memeriksa lokasi parkir dan beberapa orang di sekitar parkiran yang mulai ramai.”
Mr Clean mengarahkan pandangan ke lokasi pabrik terdekat. Dia lega karena tim pasukan khusus menjaga ketat pabrik dan beberapa bangunan di sekitarnya yang pembangunanya menelan dana triliunan rupiah.
“Clean.”
“Aman Let.”
“Oke, siaga penuh.”
“Siap Letnan.”
Setelah memeriksa keadaan di lokasi parkir kendaraan tamu undangan, Nona Elizabeth menyapa bebe rapa lelaki yang duduk di bangku panjang khusus tamu yang mau istirahah setelah memarkirkan kenda raan.
Sapaan itu kemudian berlanjut pada pembicaraan serius. Diiringi tawa kecil sebelum kembali menemui Letnan Salam yang masih berdiri sambil mengawasi keadaan sekitar dengan seksama.
Di beberapa kesempatan, Letnan Salam juga mengitari lokasi parkir sebelah kiri tempat ia berdiri. Tak lama. Setelah itu dia bergeser beberapa langkah ke depan sekadar untuk memastikan tak ada tamu un dangan dan warga yang gerak-geriknya mencurigakan.
Sementara Mr Jones senyum-senyum menyaksikan lawakan anak-anak di atas panggung. Begitu lepas diperankan, membuat para tamu seolah tengah berada di tengah masyarakat pedesaan.
Kelucuan yang ditampilkan membuat yang hadir, termasuk Mr President dan isteri, bertepuk tangan. Kri tik dan saran yang disampaikan memang sangat mengena. Malah tak ada yang tahu kalau itu kritikan selain hampir setiap menit perut ini seolah berguncang karena tak kuat menahan tawa.

5
“ASSALAMUALAIKUM warohamtullohi wabarokaaatuh.” Ucap Mr President dengan suara lantang sem bari menyunggingkan senyuman manis kepada para undangan dan masyarakat yang sengaja hadir untuk menyaksikan meriah tapi sederhanya acara peresmian.
“Waalaikum salam,” jawab para hadirin serempak.
Bersamaan dengan itu, para juru foto mulai membidikkan kameranya. Seketika lampu blitz bergantian terlihat. Ibarat kilat yang biasa kita lihat, baru reda dan tidak terlihat lagi setelah Mr President bilang …
“Udah ya, teman-teman juru foto …”
Ha ha ha ha …
Para juru foto pun tahu diri. Mereka menghentikan sejenak memfoto karena kuatir  akan mengganggu konsentrasi Mr President dalam membarikan kata sambutan.
Warga yang hadir memberikan aplus ketika Mr President berkata .. “Saya senang berjumpa dengan rakyatku. Sebab, tanpa kalian saya ini bukan apa-apa …”
Plak … pak .. plak .. pak …
“Mungkin apa tidak lebih baik saya berumah saja dengan rakyatku. Rumah biasa. Sederhana yang saban sore para ibu ramai berkumpul, mengendong sambil menyuapi anak-anaknya yang masih bayi, dan saling berbagi cerita.”
Haaaa?
“Atau saya lebih baik seperti sekarang ini saja,” lanjut Mr President yang disambut tawa hadirin.
Bukan cuma tamu dan warga yang ikut tertawa. Para penjual makanan pun ikut tertawa. Mulai dari tu kang siomay, pempek segala rasa, bakso, hingga es cendol dan es krim yang mulai diserbu anak-anak dan remaja.
“Di rumah saya saja, Pak President,” sahut salah seorang remaja yang tengah asyik menikmati bakso daging bersama teman-temannya.
“Memangnya di rumah kamu muat ya Bro?” Tanya temannya yang lagi menunggu giliran dibagikan semangkuk es cendol.
“Muatlah. Kan cuma Pak President seorang.”
Ha ha ha ha …
“Kenapa tertawa Bro, lucu ya?”
“Teranglah lucu Bro. Itu pengawalnya mau dikemanakan. Suruh tidur di teras apa?”
“Ya disuruh baliklah ke rumah masing-masing. Gitu aja repot.”
Hua ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Gimana?”
“Lucu Let.”
“Lucu kenapa?”
“Semua orang di dekat saya ketawa semua Let,” kata Mr Jones seolah tak percaya. Lama ditahan, ikut ketawa juga dia akhirnya.
“Clean …”
“Ya Let.”
“Ketawakah?”
“Masih Letnan. Tapi saya dengan yang lain tetap siaga penuh Let. Beres …”
“Oke.”
“Let.”
“Ya Clean.”
“Non Eli ketawa jugakah?”
“Iya Clean. Nich, sampai terduduk dia.”
“Bisa begitu Let?”
“Mungkin karena lamanya dia ketawa Clean. Tak kuat lagi ketawa, ya duduk. Alhamdulillah, sekarang tidak ketawa lagi. Cuma …”
Letnan Salam mendekati Nona Elizabeth untuk memastikan apakah koleganya itu masih ketawa atau tidak lagi.
“Let.”
“Enggak lagi Clean.”
“Maksudnya Let?”
“Enggak lagi ketawa Non Elinya. Sekarang tinggal  senyum-senyum sendiri aja.”
“Wah gawat Let.”
“Maksud kamu Clean?”
“Kalau keterusan bisa-bisa …”
Ha ha ha ha …
Nona Elizabeth berdiri.
“Siapa Let?”
“Biasa …Clean.”
“Okk ooooo …”
Di podium Mr President masih bercerita tentang perjalanan hidupnya semasa kecil. Gaya bercerita yang santai membuat yang hadir tak beranjak sedikit pun dari tempat duduk mereka.   Mereka sangat senang karena perjalanan itu kurang lebih sama dengan yang dialami dan dilalui rakyat kebanyakan.
“Jadi bapak, ibu-ibu sekalian. Masa kecil itu indah. Menurut saya, jangan dilupakan. Ambil yang positif nya, tinggalkanlah yang negatifnya. Cuma jangan diingat terus. Kalau keterusan diingat kita bakalan mengecil lho. Jadi boncel. Mau?”
Ha ha ha ha …
“Ibu-ibu ini yang sering ingat masa kecil. Benar enggak Bu?”
Para ibu enggan dan malu-malu untuk menjawabnya. Sesama mereka saling pandang, berbisik dan setelah itu tersipu malu.
“Bagus itu ibu-ibu. Tapi ada juga yang enggak bagusnya dong Bu.”
Hadirin, terutama kaum ibu terdiam.
“Apa yang enggak bagusnya ibu-ibu? Ayo dong ngomonglah. Sama bapaknya mau, masa sama Pak President enggak mau.”
Ha ha ha ha …
“Selalu ingat terus Pak Presiden,” jawab seorang ibu yang sudah berusia lanjut dengan suara serak tapi lantang.
“Betul sekali jawaban ibu kita ini. Satu lagi, coba apa?”
Ditantang Mr President, para ibu tak ada yang berani angkat jari telunjuk.
“Selalu ingat kalau lagi susah. Betul kan?”
Para ibu masih diam.
“Lagi marah sama anak ingat masa kecil. Lagi berantem sama suami ingat masa kecil. Lagi bokek ingat masa kecil. Kalau ibu-ibu enggak percaya buktikan saja sendiri.”
Plak .. pak .. plak .. pak …

6
“SAYA ingin anda-anda yang hadir disini ikut senang dengan peresmian ini,” kata Mr President. Kembali tepuk tangan terdengar serempak. Cukup lama dan baru berhenti bertepuk tangan setelah Mr President mengatakan sudah cukup.
“Dengan diresmikannya pabrik ini kelak maka kalian dapat bekerja dengan syarat …”
Hadirin dibuat penasaran dengan ucapan Mr President barusan. Apalagi beliau diam sebentar, lalu ter senyum sambil menunggu reaksi semua yang hadir. Banyak di antara mereka yang ingin bertanya. Tapi diurungkan karena sesaat kemudian beliau berkata …
“Syaratnya apa? Ya kalian harus melamar. Harus mengikuti serangkaian tes dan kalau hasil tes kalian nilainya bagus, luluslah kalian dan bekerja …”
“Kalau tidak lulus bagaimana Pak Presiden?” Dua orang ibu saling berbisik. Keduanya amat berharap Mr President mau menjawab kegundahan hati mereka selama ini. Lantaran anak-anak mereka kelak juga akan bekerja setelah menamatkan sekolahnya dan membina rumah tangga.
Jika sampai tua tidak dan belum juga bekerja alias pengangguran seumur hidup, mau dikemanakan muka ini. Kedua wanita muda usia tadi tak ingin buah hati mereka kelak jadi luntang-lantung. Tidak bekerja dan mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
“Ibu-ibu. Ayo tunjuk tangan. Jangan bisik-bisiklah. Enggak kedengaran saya ini ibu-ibu. Telinga saya ini kecil. Jadi daya dengarnya terbatas. Tapi kalau ibu-ibu ngomong, baru bisa saya dengar.”
Salah seorang panitia memberikan mikropon agar kedua ibu yang berbisik-bisik itu mau bicara. Anehnya, setelah mikropon di tangan, keduanya justru saling tunjuk untuk bicara.   
“Silakan Bu, siapa saja,” kata wanita berparas ayu yang juga salah seorang panitia. Dia terus membujuk agar secepatnya bicara. Apa saja, silakan utarakan, tentu yang berguna dan bermanfaat juga bagi yang lainnya.
“Terima kasih Pak Presiden.”
“Nah begitu …” Jawaban Mr President ini membuat para undangan dan masyarakat yang antusias datang ke lokasi peresmian tertawa lega.
“Saya akan bertanya sedikit saja Pak Presiden,” ujar si ibu berkacamata minus dan hidung teramat mancung itu.
“Banyak juga boleh Bu.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Silakan Bu …”
“Terima kasih Pak Presiden,” kata si ibu rada gemetaran. “Sekiranya anak saya nich Pak Presiden, ikut tes, lalu tidak lulus, gimana Pak?”
Ha ha ha ha …
“Ikut tes lagi Bu …”
“Kalau tak lulus lagi Pak Presiden, gimana dong? Kasihan saya Pak.”
Ha ha ha ha …
Mr President mengusap keningnya sebentar dengan saputangan. Dia memandang satu persatu para menterinya. Setelah itu dia pegang mikropon.
“Ada yang bisa jawab enggak ya?” Tanya Mr President penuh harap. Ia berharap ada salah seorang dari sekian banyak tamu yang hadir mau angkat bicara, memberikan jalan keluarnya.
“Saya Pak,” ujar salah seorang bapak yang rambtnya penuh uban tapi masih terlihat muda dan segar bugar.
Hadirin pun bertepuk tangan.
“Siapa namanya Pak?”
“Soleh …”
“Berapa umurnya Pak?”
“Waduh. Lupa Pak Presiden.”
Ha ha ha ha …
“Bisa sampai lupa kenapa ya Pak?”
“Enggak sempat ngitungnya Pak. “
Ha ha ha ha …
“Bapak kita ini pandai melucu juga,” kata Mr President yang ikut tertawa bersama para menteri dan rombongan pengusaha serta pejabat terkait lainnya.
Si bapak sudah tak sabar mau bicara.
“Silakan Pak …”
“Begini Pak President. Saya sejak kecil sudah terbiasa kerja. Makanya saya jadi heran kenapa orang-orang sekarang ini justru rebutan untuk mencari kerja.”
Ha ha ha ha …
“Bagus juga penjelasan bapak kita ini. Lanjut Pak.”
“Saya sampai setua ini masih kerja Pak Presiden.”
Haaaa …?
Waaaah …
Ya cacam ..
Muantaaap …
Cek … cek … cek …
“Kerja apa Pak?”
“Ngelem kantong Pak Presiden.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ha ha ha ha …

(Tobe Continued)
                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar