Serial Mafia
Mawar Mewangi (8)
Oleh Wak Amin
SUARA tembakan terdengar berulangkali mewarnai pemakaman Letnan Komar.
Sang isteri dan kedua anaknya tak kuasa menahan air mata saat peti mati
dimasukkan ke liang lahat.
Santi yang berdoa di dekat Yulia Komar juga ikut menangis. Sementara Rahman berjaga-jaga di sekitar areal pemakaman.
Prosesi pemakaman berjalan lancar dan khidmat serta diwarnai tetesan
air mata. Meski tidak terdengar jeri tan histeris, mata merah yang
terlihat di sebagian besar mata pelayat masih membekas setelah pemakaman
selesai dilakukan.
Yulia Komar dan dua anaknya yang berbusana serba hitam dikawal beberapa
petugas keamanan, masuk ke dalam mobil sedan berukuran besar. Meluncur
ke luar area pemakaman, mengikuti iring-iringan kendaraan lain yang
jumlahnya mendekati dua ratus lima puluh unit.
Sementara Rahman menghentikan mobilnya persis di pintu gerbang pemakaman sebelah kanan. Berdiri seorang perempuan cantik, tinggi semampai
berambut panjang sebatas bahu.
"Santi ... Ayo!"
Santi tak mau masuk. Masih berdiri sambil menundukkan wajahnya.
Rahman turun dari mobil. Dia dekati Santi yang masih berdiri mematung sebelum memeluknya sembari menangis sesunggukan.
Eeeek ... Eeeee ...
Eeeeek .. Eeee ...
Rahman membiarkan tangis itu memecah di dekapannya. Dia merasakan
dingin di sekitar dadanya. Bajunya basah terkena tumpahan air mata
Santi.
Rahman menenangkannya ...
"Aku takut Man." Ucapnya terisak.
Rahman sengaja belum menghidupkan mesin mobil. Dia masih penasaran kenapa koleganya itu bersikap sangat berbeda hari ini.
"Aku merasa bersalah, Man," kata Santi lagi.
"Bersalah kenapa?"
Santi berusaha tidak menangis lagi. Tapi belum bisa tenang. Nafasnya masih turun naik tak beraturan.
"Minum dulu ya!"
Beberapa teguk air mineral. Santi tampak lebih tenang setelah itu. Dia
mulai bisa mengingat beberapa adegan kejadian sebelum terjadinya ledakan
yang menewaskan Letnan Komar.
"Minumlah lagi. Biar lebih tenang .."
Kali ini Rahman yang memberinya minuman. Tak banyak. Hanya dua teguk sebelum mobil melaju lambat meninggalkan area pemakaman.
"Aku betul-betul capek saat itu, Man. Aku sempat untuk tetap pergi
menemani beliau. Tapi aku urungkan karena beliau sepertinya tahu dengan
kondisi aku," terang Santi.
Jujur Santi masih merasa menyesal. "Andai saja waktu itu aku teri ma
dan aku katakan tidak capek, tentulah beliau masih hidup Man."
Ha ha ha ha ...
"Aku gimana Santi?"
"Gimana apanya?"
"Misalnya kamu jadi pergi sama Letnan. Lalu kamu ikut mati juga. Lantas aku sendirian dong ..."
Buk ... Buk ... Buk ...
"Udah ah. Stop. Aku mau keluar."
Syiiiiuuuut ..
Mobil berhenti.
Rahman bergegas turun. Lalu menahan pintu mobil yang sudah terbuka separo itu.
"Ti. Lihat aku!"
Rahman mengangkat sedikit dagu Santi. Lurus berhadapan dengan wajahnya
yang penuh iba dan harap. Harapan untuk terus bertahan agar bisa tetap
bersama menguak secercah kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar