Selasa, 17 April 2018

Soleh (22)

Cerita untuk Anak

Soleh (22)
Oleh Wak Amin



HASAN dan kawan-kawan pentas bersama ...

Judulnya ... Mancing itu Enak.

Seeeet ...

Seeeet ...

"Sentakke San," teriak Rahman.

"Dak bisa aku. Berat nian ..."

"Ai dakken ado. Iwak kecik dak pacak disentakke ..."

"Cubola kalu dak cayo ..."

Rahman mendekati Hasan. Satang pancing dia yang pegang. Sedikit komat-kamit, dia tarik pelan.

Mulanya tak bisa ...

Beberapa detik kemudian ...

Hua ha ha ha ...

Penonton tertawa.

Bukan ikan yang didapat, tapi kutang alias beha.

"Lepaskan ..." Kata Rahman.

"Jangan Man."

"Buat apa?"

"Isterimu di rumah."

Ha ha ha ha ...

Di dapur ...

Agus, anaknya Mang Hasan, pulang  dari sekolah. Perut lapar, mana berkeringat lagi. Cari kesana kemari, ibunya lagi masak di dapur.

"Eeeem ... Sedapnyaaa."

Agus semakin bernafsu ingin makan siang. Sudah terbayang di benaknya, paling sedikit dua piring dia habiskan nasi pada siang hari ini.

"Masih lama Bu masaknya?"

"Setengah jam lagilah Nak. Sabar ya!" Jawab ibunya, membolak-balik gorengan di dalam kuali berminyak.

Agus masuk ke kamarnya. Bertukar pakaian, lalu keluar lagi. Karena capek, dia rebahan di kursi ruang tamu.

Seekor kucing mendekatinya ...

Ngeooong ...

Ngeooong ...

Ngeooong ...

Agus terjaga dari kantuk beratnya.

"Tunggu ya." Agus melihat jam dinding, pukul setengah dua.

"Tunggu lima menit lagi ya."

Ngeooong ..

Ngeooong ..

Ngeooong ...

Tujuh menit kemudian, Agus bergegas menuju dapur. Dia lihat ibunya sudah tidak ada lagi.

Kemana ya?"

"Ibu disini Nak," jawab ibunya dari garang dekat dapur.

Si ibu mencuci piring.

"Ibu sudah masak kan?"

"Sudah Nak. Makanlah. Buka songkoknya di meja makan."

" Baik Bu."

Ngeooong ...

Ngeooong ...

Sang kucing bergelayut manja di sela kaki Agus.

Songkok dibuka ...

Haaa?

"Cuma sambal saja Bu?"

"Iya Nak."

"Ikannya?"

"Enggak ada Gus. Ayahmu belum pulang dari memancing."

He he he he ...

Dalam perjalanan pulang dari memancing ...

"Kita harus bersyukur San," ucap Rahman menghibur sobatnya yang hanya dapat seekor ikan sepat.

"Bersyukur sih bersyukur Man, tapi apa kata isteriku nanti di rumah. Bisa-bisa aku dilarang mancing lagi."

Ha ha ha ha ...

"Masa San. Cuma gara-gara dapat seekor sepat, tidak diperbolehkan isteri memancing lagi."

"Ya iyalah. Soalnya, ikan yang kudapat ini sangat ditunggu isteri dan anakku buat makan siang tau ..."

Haaa?

Hu hu hu hu ...

Sampai di rumah, karena takut kena marah isteri tercinta, ikan sepat hasil memancing yang ditaruh di da lam kaleng berisi air, tidak dibawa masuk. Tapi diletakkan di meja garang.

Meja panjang segi empat.

Datanglah kucing kesayangan Agus.

Melihat ada ikan. Masih hidup, segar bugar. Dia sepak kaleng itu. Keluarlah ikan sepatnya.

Bleeep ...

Bleeep ...

Langsung disikat ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar