Kemiskinan (7)
Oleh aminuddin
MENURUT Dr Syekh Muhamad Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan amat membahayakan
aqidah aktornya. Terlebih lagi bila yang bersangkutan tidak menentu
mata pencahariannya sementara si kaya enggan mengulurkan bantuannya.
Rasulullah SAW juga pernah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari
ancaman kemelaratan yang disejajarkan dengan permohonan perlindungan
terhadap kekufuran, seperti yang dijelaskan oleh hadist riwayat Abu Daud
dan lainnya bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa: "Ya Tuhanku, aku
berlindung kepada-Mu dari bahaya kekufuran dan kemelaratan."
Dari hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Hakim dan Ibnu Majah, dari Abu
Hurairah ra, Rasulullah SAW juga pernah berdoa seperti ini:
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan dan aku berlindung dari menganiaya dan dianiaya."
Selain aqidah, tulis Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan juga membahayakan
etika dan moral. Kekecewaan dan keputusasaan mereka, terutama yang
hidup di tengah-tengah orang kaya, mendorong untuk bertindak dan
berprilaku yang tidak dapat dibenarkan oleh budi luhur dan akhlak mulia.
Hadist riwayat Abu Nu'aim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan
kepada para sahabatnya betapa besarnya bahaya kemiskinan dan
pengaruhnya terhadap nilai moral.
"Ambillah (terimalah) pemberian uang itu selama masih merupakan
pemberian yang wajar. Tetapi apabi la sudah merupakan suapan guna
mengharap suatu pinjaman (huta ng), maka janganlah kamu menerimanya.
Dan kamu tidak bisa menghindarinya selama kamu masih diliputi oleh
kebutuhan dan kemiskinan."
Kemiskinan juga akan mengganggu dan mempengaruhi pikiran seseo rang.
Mengapa? --- Seseorang yang tidak sanggup menutupi kebutuhan hidupnya,
keluarganya dan anak-anaknya, bagaimana ia dapat berpikir dengan
cermat? Terlebih lagi tetangga kanan kirinya mendemon strasikan
barang-barang serba luks di rumah-rumah mereka.
IOmam Abu Hanifah pernah berkata: "Janganlah kalian minta fatwa kepada
orang yang dalam rumah nya tidak ada gandum". Sebab orang tersebut
pikirannya tidak menentu, bingung dengan urusan dapurnya, sehingga
pendapatnya tidak lurus dan tidak tepat.
Hal ini terjadi karena tidak adanya konsentrasi dan ketenangan dalam
berpikir, karena terpengaruh oleh faktor kekurangan. Ilmu Jiwapun telah
mengakui kebenarannya.
Sebuah Hadits sahih, menyatakan: "Janganlah seorang hakim menjatuhkan vonis, padahal ia sedang marah."
Para Ahli Fiqih berpendapat keadaan "sangat lapar, sangat haus" dan sebagainya dapat dikategorikan dalam "keadaan marah."
Bahaya kemiskinan dalam mengancam kehidupan keluarga dan rumah tangga,
akan melanda beberapa segi, yaitu segi pembinaannya, kelangsungan dan
segi pemeliha raannya.
Dalam pembinaan rumah tangga kita akan menjumpai bahwa sesungguhnya
kemiskinanmerupakan pengha lang yang tidak kecil. Banyak jejaka
terhalang menikah dan takut memikul tanggung jawab sesudah terlak sananya
perkawinan, disebabkan faktor mas kawin, nafkah keluarga dan kemampuan
berekonomi secara Mandiri.
Oleh karena itu, Al-Quran memerintahkan supaya mereka mampu memelihara
kehormatan dan menahan ketabahannya sehingga dapat mencapai kemampuan
untuk mengelola ekonomi rumah tangga sendiri.
Dia berfirman dalam Al-Quran Surah An-Nuur ayat 33: "Dan hendak lah
orang-orang yang belum mam pu kawin menjaga kehormatan mereka, sehingga
Allah memberi kepadanya kekayaan dan karunia-Nya."
Terkait keberlangsungan berumah tangga, tekanan kemiskinan sering kali
mengalahkan dorongan-dorongan untuk berbuat baik, bahkan tidak jarang
memutuskan ikatan perkawinan antara suami dengan istri, karena ketidak
sukaan istri kepada suami atau sebaliknya.
Kasus semacam ini diakui oleh hukum Islam. Karenanya seorang hakim
boleh menceraikan seorang istri dari suaminya karena kesulitan dan
ketidakmampuan suami untuk memberi nafkah istrinya dengan alasan demi
menghilangkan kesusahan perempuan, sesuai dengan qaidah yang dijelaskan
oleh hadits riwayat Ibnu Majah dan Dazaquthnie: "Janganlah mengadakan
bahaya dan membalas bahaya."
Bagaimana dari segi pemeliharaannya? Sering kita jumpai kemiskinan
mengotori kejernihan udara rumah tangga bahkan terkadang merobek-robek
jalinan kasih sayang antara mereka.
Dalam konteks ini, Al-Quran menen tang adanya kekerasan dan mengutuk
kekejaman yang terjadi dalam rumah tangga, sebagaimana yang
difirmankan-Nya dalam Al-Quran Surah Al-Isra' ayat 31:
"Janganlah kamu sekalian membunuh anak-anak kamu karena takut miskin.
Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan kepada kamu sekalian.
Sesungguhnya membu nuh mereka adalah satu dosa yang besar."
Terakhir, kata Yusuf Qardhawy, kemiskinan merupakan bahaya vital terhadap keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.
Selama masih ada perbedaan sosi al yang menyolok; gubuk-gubuk kecil
berdampingan dengan gedung-ge dung mewah, lantai-lantai tanah berhadapan
dengan lantai-lantai permadani dan flat-flat yang menjulang tinggi,
rintihan dan ratapan si miskin merindukan sesuap nasi di tengah-tengah
kekayaan yang berlimpah ruah dan makanan yang serba lezat, kesemuanya
ini akan mengundang timbulnya gejolak dada yang penuh dengki dan benci,
yang akan meluas membakar semua jiwa, melanda golongan yang lemah dan
papa.
Selain itu, kemiskinan juga mengancam kejayaan umat, kemerdekaan
bangsa dan negara. Seorang yang se nantiasa dicekam kelaparan tidak
mungkin terlintas dalam hatinya gairah untuk berjuang membela tanah
airnya, mengusir penjajah yang menjadi musuh negaranya, dan
mempertahankan kehormatan bangsanya.
Karena ia merasa masyarakat dan negaranya tidak menaruh perhatian
kepadanya, di saat lapar tidak diberi makan, di saat takut tidak di
beri perlindungan, bahkan bangsanya tidak pernah mengulurkan
pertolongan untuk melepaskan beban penderitaan hidup yang menimpanya.
Jadi tidak mengherankan bila ia enggan mengorbankan darah dan jiwanya
untuk membela tanah air nya. Ba gaimana ia mau berjuang sedang yang
mengenyam kenikmatannya adalah orang lain? Dan mungkinkah ia mau ikut
menanggung kerugian-kerugian negaranya padahal di saat pembagian
rampasan perang ia justru dilupakan?
___________
- Dr Syekh Muhammad Yusuf Al-Qardhawy, Problema Kemiskinan, Apa Konsep Islam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar