Serial Mafia
Mawar Mewangi (3)
Oleh Wak Amin
HUUUP ...
Santi dan Rahman keluar dari persembunyian. Sambil mengendap-endap, mereka bergegas menuju mobil hitam di sebelah kanan.
"Cepat San ...!"
Tanpa suara, pintu mobil dibuka, lalu keduanya masuk. Tak ada lampu menyala.
Rahman memutuskan untuk 'memancing' Taici cs mengejar.
Caranya?
Sryuuut ...
Lesatan mobil yang dikemudikan Rahman terdengar Taici, Tauco dan Taisek.
Sedangkan Tainen masih asyik buang air kecil di bawah pohon besar dan
rindang.
"Oi tunggu oi." Teriak Tainen. Berlari sambil menutup reiusliting celananya mengejar mobil yang masih berjalan lambat.
"Buka saja pintunya, Co." Kata Taici. "Biarkan dia masuk sendiri ..."
Meski lambat, Tainen harus bersusah payah untuk bisa masuk mobil karena
pintu yang dia pegang justru bergoyang-goyang keras. Kadang terbuka
lebar, kadang tertutup tapi tidak mengunci.
Syuuuut ..
Dreeep ...
Taici terpaksa ngerem mendadak. Akibatnya, kepala Tainen membentur
pintu mobil. Meski tak terluka, bikin puyeng kepala. Sementara mobil
Rahman dan Santi sudah jauh di depan.
"Cepat goblok ..."
Taici marah. Dia kuatir incaran mereka bakal lepas dan resikonya kena damprat Bos Siao Lung.
"Itu mereka Ci!" Teriak Tauco. Melihat ke kanan, sebuah mobil hitam melaju pelan, berputar-putar di kawasan pemakaman.
"Apa tidak sebaiknya kita keluar saja dari area pemakaman ini Man?"
"Kita bermain dulu San," jawab Rahman dengan tenang sembari melirik ke belakang mobil dari kaca spion.
"Saya kuatir mereka bakal kurang ajar pada kita Rahman."
"Enggak. Tenang aja."
Ssssst ...
"Kamu siap kan San. Mereka ada di belakang kita sekarang ..."
Syuuut ...
Mulanya cepat, di tengah perjalanan, Rahman justru memperlambat laju mobilnya.
Dooor ...
Doooor ...
Cuma kena ban mobil, Rahman melakukan zig-zug. Taici cs makin bernafsu
mengejar. Berusaha mengejar dan memepet mobil di depannya.
"Menunduk Man." Jerit Santi. Bersigap membuka pintu mobil, bermaksud melepaskan tembakan.
"Tahan dulu San!" Kata Rahman.
Santi menutup kembali pintu mobil. Rahman memutar arah ke sebelah kanan.
Di pinggir jalan pemakaman ada lubang. Tanah menurun yang lembek dan berbecek serta tergenang air jika hujan turun lebat.
Sreeet ...
Dreeeg ...
Mobil ngerem mendadak ...
Santi menggeser kaca pintu mobil, mengacungkan senjatanya dan ...
Dooor ..
Door ...
Dua kali tembakan. Satu mengenai ban depan, satunya lagi tepat menyasar ke samping kanan Taici.
Tak kena memang, tapi karena terkejut dan di luar perkiraan, Taici panik.
Dalam keadaan panik itulah mobil seolah berzig-zug beberapa meter, sebelum terguling masuk tanah yang menurun tadi.
Ha ha ha ha ...
Hu hu hu hu ...
Beberapa peziarah tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang menimpa Taicu cs barusan.
Mereka iba sebenarnya. Namun, saat hendak ditolong, justru Taici marah besar.
Dengan setengah membentak, dia mengusir paksa peziarah yang hendak
mendekat dan membantu Tauco serta Taisek yang masih terhimpit di bawah
mobil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar