Serial Mafia
Mawar Mewangi (2)
Oleh Wak Amin
DOOOR ....
Dooor ...
Doooor ...
Sebuah batu nisan hancur terpental jauh ke udara terkena peluru yang
dilesakkan salah seorang pria ber kacamata gelap dari balik kaca mobil.
Tak lama setelah itu, mobil melaju lambat, pria di sebelahnya menembak
secara membabi buta ke posisi di mana Rahman dan Santi bersembunyi.
Keduanya bersembunyi di balik gerbang pemakaman pada saat tembakan
pertama dilepaskan. Saat itu, Rahman dan Santi hendak menuju mobil
mereka yang diparkir di dekat pintu gerbang.
Teriakan histeris terdengar dari beberapa peziarah wanita saat Rahman
dan Santi harus jungkir balik meng hindari tembakan beruntun. Ada sebuah
lubang bekas pembuangan sampah.
Di sanalah mereka sembunyi ...
Para penembak bermaksud mendekati pintu gerbang pemakaman un tuk
memastikan apakah sasaran mere ka berhasil dilumpuhkan atau tidak. Mereka
sangat kecewa setelah tahu Rahman dan Santi tidak ada di sana.
"Kemana mereka Bro?" Tanya Taici pada rekannya Tauco. Sudah berapa
peluru mereka habiskan, tak sa tu pun yang berhasil mengenai sasaran.
"Buktinya mereka tak ada. Kalau kena pasti ada tanda-tandanya. Darah misalnya. Betul kan?" Taici menduga-duga.
"Apa tak sebaiknya kita lapor Bos saja," saran Tainen.
"Betul Bro. Aku setuju. Biar Bos tahu kita memang kerja dan orang yang
kita hadapi ini bukan anak ingusan kemarin sore," sahut Taisek.
"Kamu Bro?"
"Kamu sajalah Ci. Kamu kan yang lebih dekat dengan Bos," kata Tauco.
"Oke."
Kriiiing ...
Kriiing ...
"Telepon siapa ini. Orang lagi indehoyan, telepon-telepon pula." Sang
Bos, Siao Lung yang baru selesai main dengan perempuan-perempuan
cantik, entah siapa. Dengan sedikit marah mengangkat telepon.
"Ya, siapa?"
"Maaf, saya Taici Bos. Mau lapor."
"Lapor apa? Cepaat!"
"Mereka hilang entah kemana Bos."
"Siapa yang hilang?"
"Tuan ... Maksud saya, polisi itu Bos. Sesuai perintah Bos semalam."
"Rahman dan Santi maksudmu?"
"Iya. Betul sekali Bos."
"Kenapa bisa hilang?"
"Panjang ceritanya Bos," jelas Taici.
"Pendek kan sajalah."
"Oke ... Kami sempat tembak. Terus mereka sembunyi. Kami ke persem bunyiannya. Mereka sudah tidak ada ..."
Siao Lung, karena dipeluk mesra seorang perempuan dari belakang, sambil mencium, sempat ketawa karena menahan geli tapi enak.
"Udah Yang. Tutup saja teleponnya. Kita main lagi yuk!" Ajak si perempuan dengan manja dan genitnya.
"Sebentar say ... Aku mau ngomong sebentar aja."
"Eeeekh. Yang, aku kepingin lagi." Sambil menarik genit lengan Siao Lung ke atas tempat tidur.
"Sebentar ya Yang."
"Eeekh. Ayolah say. Lum puas nich. Eeeeekh ..."
Si perempuan sudah tak tahan lagi dicumbui kali ketiga dengan hanya
mengenakan celana dalam tanpa bra. Birahi Siao Lung akhirnya ikut naik.
Telepon dilepas. Siao Lung meladeni ajakan 'main' wanita simpanannya itu.
Berguling-guling di atas tempat tidur. Saling tindih, cekikikan tanpa
busana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar