Entar Ya (21)
Oleh Wak Amin
CEKREEEK ...
Ki Gondrong melepaskan ajian 'usir habis pengganggu'. Namun, sebe lum itu terlaksana, para hantu gen tayangan itu sudah menghilang dari penglihatan ...
Hi hi hi hi ...
Hu hu hu hu ...
"Kampret. Kutu busuk," umpat Ki Go drong kesal.
"Kemana mereka ya Ki?" Tanya Pak Bendo keheranan.
"Entahlah ..."
"Coba Ki. Lakukan sesuatu lagi," pin ta Pak Bendo. Dia penasaran. Masa sama hantu saja manusia kalah.
Tak mungkinlah ...
Ki Gondrong mendehem .. Kemu dian dia berteriak memanggil para hantu penunggu hutan keluar dan hadapi dirinya sekarang.
Hi hi hi hi ...
Tanpa diduga sebelumnya, gerom bolan hantu itu menyerang Ki Gon drong secara membabi-buta dari segala arah.
Ki Gondrong kewalahan ...
Dia terdesak. Sementara Pak Bendo dan Sopan justru melarikan diri. Sa yangnya, baru beberapa meter dari lokasi mereka semula, sudah diha dang puluhan hantu berkepala gundul.
Hi hi hi hi ...
"Mau kemana Bos?" Tanya hantu Pak Jaya sambil tak henti-hentinya ketawa ngakak tapi menyeramkan.
"Kami mau pulang Bro," jawab So pan. Berharap, meski berwujud han tu, Pak Jaya mau membiarkan mereka pergi.
"Tidak bisa," kata Pak Jaya. Beru bah marah.
Sangar ...
"Kenapa Bro?"
"Karena kalian berdua sudah mem biarkanku dibawa mereka. Betul kan kawan- kawan?"
"Betul sekali. Dasar manusia te ngik. Teman sendiri saja tak mau ditolong," kata hantu bertelinga lebar.
Hua ha ha ha ...
Saat para hantu tertawa, saat itulah Pak Bendo kabur. Salah seorang hantu berteriak memberitahu te man-temannya.
"Mereka lari ...!"
"Mereka lari ...!"
"Serbuuuu ..!" Teriak hantu Pak Ja ya mengomandoi rekan-rekannya.
Mereka marah ...
Mereka geram ...
Kali ini mereka tak memberi ampun lagi. Mereka cabik-cabik badan Pak Bendo dan Sopan.
Disisakan kepala ...
Kepala itu digantung di atas po h on. Begitu juga halnya dengan Ki Gondrong.
Usai melumat habis isi badan se perti hati dan jantung serta menghi sap darah, para hantu menaruh ke pala Ki Gondrong di bawah pohon besar.
Mereka puas ...
Mereka tertawa ..
Berpesta pora ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar