Oleh aminuddin
Mengapa Yahudi Digdaya?
ATAS pencapaian dan pengaruh me reka, banyak orang yang bertanya-tanya : mengapa Yahudi bisa begitu digdaya?
Seperti halnya bangsa lain di selu ruh dunia, kemajuan suatu kaum di tentukan oleh kegigihan mereka dalam mengarungi kehidupan.
Jika kita menengok pola hidup bangsa Yahudi, maka ada beberapa sifat mereka yang patut dikedepankan.
Pertama, bangsa Yahudi merupakan sedikit dari kelompok masyarakat yang menyukai pendidikan.
Di Amerika, selain orang-orang keturunan India, mereka merupakan etnis terbesar yang mengenyam pendidikan tinggi.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pew Forum on Religion & Public Life, sebanyak 59% orang Yahudi mengenyam pendidikan tinggi.
Mereka juga merupakan kelompok terbesar peraih Piala Nobel. Dima na sekitar 37% warga Amerika yang memenangkan piala tersebut adalah keturunan Yahudi.
Berikutnya yang menjadi sumber kemajuan bangsa ini ialah penghar gaan terhadap kreativitas dan peker jaan. Mereka merupakan kelompok etnis yang tak mau berdiam diri.
Selalu ingin menciptakan dan me nemukan hal-hal baru. Dengan begitu, maka sedikit sekali orang Yahudi yang hidup menganggur.
Kegemaran dalam menciptakan sesuatu inilah yang menyebabkan mereka menjadi kelompok masya rakat dengan pendapatan per kapi ta tertinggi di Amerika.
Dimana sekitar 46% orang Yahudi (19% rata-rata nasional), memiliki pendapatan minimal sebesar USD 100.000 per tahunnya.
Hidup hemat dan suka mengambil risiko, juga merupakan sifat Yahudi yang utama. Kelak dengan pola hidup inilah mereka bisa menjadi pengusaha-pengusaha sukses.
Orang-orang Yahudi, juga dikenal sebagai kelompok yang taat beribadah. Mereka gemar menelaah isi Taurat dan Talmud. Dari kedua kitab inilah kemudian mereka menggali filosofi-filosofi kehidupan.
Dibandingkan dengan gereja — ya ng banyak kosong daripada terisi, sinagog di Amerika lebih banyak dikunjungi para jemaahnya. Hal ini menandakan besarnya minat mereka terhadap agama dan nilai-nilai ketuhanan.
Di samping hal positif di atas, banyak pula pendapat miring yang ditujukan kepada mereka.
William G. Carr, salah seorang mantan intelijen Inggris mengungkapkan, dominannya Yahudi dalam dunia perdagangan dan keuangan, disebabkan oleh praktek curang yang mereka lakukan.
Menurutnya, para pebisnis Yahudi kerap melakukan kartel terhadap industri yang mereka kuasai. Selain itu, mereka juga sering menjual barang dan menawarkan jasa dengan harga sangat murah.
Aksi ini mereka lakukan dengan tujuan untuk merusak harga pasar yang berlaku.
Diskriminasi terhadap masyarakat non-Yahudi, juga merupakan faktor yang membuat mereka semakin dominan. Dalam hal pemberian kre dit misalnya, sudah menjadi raha sia umum bahwa perusahaan keua ngan Yahudi hanya mau mengucur kan pinjaman dalam jumlah besar kepada kolega-kolega mereka.
Kalaupun ada masyarakat non-Yahudi yang dapat, maka akan dikenakan biaya bunga cukup tinggi.
Yahudi dan Anti-Yahudi
Setelah sekian lama masyarakat Eropa mengubur dalam-dalam pera saan anti-Semit, dewasa ini gelom bang anti-Yahudi mulai menggema kembali.
Penyebabnya adalah dominasi Yahudi di berbagai sektor kehidu pan masyarakat Amerika. Perhatian terbesar tentunya mengenai kontrol Yahudi terhadap media dan hiburan di negara tersebut.
William Pierce dalam salah satu artikelnya yang berjudul The Destructive Media, menceritakan tentang kebobrokan perusahaan media dan hiburan milik Yahudi.
Pierce mengatakan, sebagian besar media-media Amerika yang dikua sai Yahudi memiliki agenda tersem bunyi. Mereka misalnya sering memainkan isu-isu rasial dengan (pura-pura) berempati terhadap komunitas Afro-Amerika, Hispanik, atau Asia.
Padahal menurut Pierce, lewat media-media mereka, Yahudi ingin menghancurkan “supremasi kulit putih” di negara multi-rasial itu.
Dengan cara ini maka mereka bisa menguasai lembaga-lembaga, yang saat ini masih dikuasai oleh kulit putih.
Untuk isu luar negeri, terutama yang berkaitan dengan gerakan Zionis, media Yahudi sering men diskreditkan tokoh-tokoh pemerin tah yang tidak berpihak kepada gerakan tersebut.
Tak hanya itu, media mereka bah kan juga menyerang dan mencemar kan pemerintahan negara lain yang dianggapnya sebagai “musuh” Israel.
Pierce mengkritik buruknya kualitas film yang dihasilkan studio-studio Yahudi, yang dianggapnya vulgar dan tak senonoh.
Ia khawatir, film-film rekaan Yahudi itu akan memicu kerusakan moral anak-anak muda Amerika.
Pierce menambahkan, ketika tahun 1920-an, Walt Disney seorang non-Yahudi, banyak memberikan pencerahan lewat film-filmnya.
Namun sejak Disney diambil alih oleh Yahudi — dengan didudukkannya Michael Eisner sebagai CEO perusahaan tersebut, mulailah mereka membuat film propaganda yang dirancang untuk mendorong degenerasi bangsa Amerika.
Salah satu karya Miramax Disney yang cukup merusak adalah : The Crying Game. Film yang menceritakan tentang kehidupan homoseksual itu, malah mendapat pujian dan penghargaan dari media-media Yahudi.
Terakhir dan yang paling menakut kan bagi sebagian besar rakyat Amerika adalah kendali Yahudi atas keuangan Amerika.
Penguasaan kaum Yahudi atas US Federal Reserve (Bank Sentral Amerika) bukanlah isapan jempol belaka. Setidaknya hal ini pernah diungkapkan oleh James “Bo” Gritz, salah seorang kandidat Presiden Amerika pada tahun 1992. Ia me ngatakan, delapan keluarga Yahudi menguasai The Fed.
Agaknya Gritz mengutip sebuah bu letin yang diterbitkan pada tahun 1983 oleh The National Association of Retired Federal Employees (NARFE), yang menyebutkan pemi lik The Fed adalah Rothschild Banks, Lazard Brothers Bank, Israel Moses Seif Banks, Warburg Bank, Lehman Bros Bank, Chase Manhat tan Bank, Kuhn Loeb Bank, dan Goldman Sachs Bank.
_____
Afanriadya.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar