Ya (7)
Oleh Wak Amin
MALAM harinya ...
"Mana ya anak Mama," kata Bu Sufyan. Dia tengok jam dinding, berdentang tujuh kali.
"Baru pukul tujuh Ma," jawab Pak Sufyan dari belakang. Dia bermak sud mengejutkan isterinya. Setelah terkejut dipeluk erat.
"Papa. Ngagetin aja. Mama kira siapa." Bu Sufyan memberikan gagang telepon ke suaminya.
"Kamu aja Pa," kata Bu Sufyan. "Tadi Mama telepon enggak diangkat-angkat."
"Kalau begitu kita tutup dulu tele ponnya ya Ma. Mudah-mudahan Rani telepon kita."
Kletek ...
Lima detik kemudian ...
Kriiiing ...
Kriiing...
"Naaah betul kan Ma. Sekarang please Mama yang angkat."
"Baik Pa."
Benar. Rani yang telepon. Suaranya yang serak-serak basah membuat Bu Sufyan makin kangen dan ingin bersua anak perempuannya.
Satu bulan berpisah seakan seta hun. "Mama jadi kangen setelah mendengar suara kamu Nak," kata Bu Sufyan serasa ingin meneteskan air mata.
"Lho Mama. Kok jadi cengeng gitu. Apa Rani pulang aja ya sebentar ke kota?"
"Jangan. Enggak usah Nak. Mama cuma menyampaikan pesan kalau dokter Handoko malam ini ingin bi cara sama kamu. Katanya kangen
Udah lama enggak ngobrol-ngobrol sama kamu ..."
"Aduh Mas Handoko gimana sih. Pa ke' ijin segala sama Mama." Kesal tapi cinta pada dasarnya.
Pak Sufyan ketawa ...
"Papa nguping ya Ma?"
"Iya say. Maafkan Mama ya. Eng gak beritahu sebelumnya ..."
"Iya Ma. Enggak apa-apa kok."
"Gimana. Boleh enggak telepon nanti yang tersayangnya?"
"Ich Mama. Ngomong apaan sih.'
"Boleh ya?"
"Boleh dong Ma. Jam berapa ya Ma?"
"Enggak malem enggak. Tunggulah sebentar. Mama yakin, paling lama setengah jam setelah ini, yang dok ter akan menelepon kamu."
"Oke Ma."
Bu Sufyan berharap suaminya gan tian menelepon. Tapi menolak ka rena malam ini dia hanya ingin ber mesraan di ruang tamu sambil me nonton pemutaran film kartun di televisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar