Minggu, 28 Juli 2019

Langit tak Berbintang (23)

Langit tak Berbintang (23)
Oleh Wak Amin


TAK lama kemudian Maria meng hampiri dengan cara melintangkan sepeda motornya di tengah jalan.

Mobil ngerem, Maria turun dari motornya ...

"Halo Bos!" Sapa Maria. Berbeda de ngan sebelumnya, Maria kali ini pe lit bicara.

Usai membalas sapaan Maria, yang disapa menodongkan pistol ke ke pala Bos Malik.

Tak terdengar letusan. Tapi dari ke pala Bos Malik keluar darah segar.

Tewas seketika dengan mata terbe lalak dan mulut menganga.

Klakson berbunyi karena tertindih kepala Bos Malik.

Maria berhasil kabur sebelum Sa naf dan Arman datang. Keduanya amat terkejut melihat Bos mereka tewas ditembak tanpa terdengar suara letusan senjata api sama sekali.

Keduanya bingung, sebelum akhir nya mayat Sang Bos dipindahkan ke kursi belakang sementara kemu di diambil alih Arman kembali.

Tentu saja, setelah mengetahui Ma lik tewas, Jenderal Daud selaku Pa nglima Besar Jasina marah besar.

Dia mengutuk keras pembunuhan terhadap Malik ...

Dia mengirim dua anak buahnya  untuk membantu Arman dan Sanaf menangkap Maria dan membunuh Presiden Bais atas perintah Raja Jasina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar