Oleh Wak Amin
DI dekat anak sungai ...
"KITA harus tetap lawan Jenderal Komar, apapun alasannya," kata Jenderal Fatoni.
"Tapi saya ragu Jenderal."
"Kenapa, dan apa yang sebenarnya telah terjadi pada anda Jenderal Komar?"
"Tidak ada Jenderal Fatoni. Saya baik-baik saja. Kenapa saya ragu, karena pasukan kita sekarang su dah kurang dari separo jumlahnya. Kekuatan kita sudah berkurang. Di tambah lagi setengah dari mereka sudah tidak bersenjata lagi seka rang," jelas Jenderal Komar.
"Kenapa bisa begitu Jenderal?"
"Mereka sengaja membuang senja ta sebagai isyarat sudah tak mau berperang lagi. Sudah kalah, tapi tidak mau menyerah."
Jenderal Fatoni marah besar. Dia panggil Letnan Bagus untuk meng hadap dan menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan sebagian pasukan pemberontak dan pasukan srigala.
Menurut Letnan Bagus, tindakan membuang senjata merupakan be ntuk dan cara lain untuk mengek presikan diri bahwa sebagian dari pasukan kita sudah tidak punya mo tivasi lagi untuk melanjutkan pera ng ini.
"Ibaratnya mengaku kalah tapi tau mau menyerah. Lebih baik melari kan diri dari pada menyerahkan diri. Karena itu namanya berani babi," te rang Letnan Bagus.
"Kenapa anda tidak berusaha men cegahnya Letnan?"
"Sudah Jenderal. Tapi saya tidak bi sa berbuat banyak karena situa sa at itu tengah berkecamuk perang dan pasukan kita terus terdesak dan lebih memilih menghindari kontak senjata."
Merasa belum puas dengan jawab an yang diberikan, Jenderal Fatoni memerintahkan untuk memanggil beberapa orang anggota pasukan srigala untuk dimintai keterangan.
"Suruh mereka menghadap saya sekarang Letnan."
"Siap Jenderal."
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar