Selasa, 30 Juli 2019

Mana Tahan (1)

Novel Islami ..

Sambungan dari serial 'Langit tak Berbintang ...'

Mana Tahan (1)
Oleh Wak Amin



TIGA hari kemudian ...

"Anda punya otak enggak Jenderal Daud?"

Pertanyaan ini tak dijawab Sang Pa nglima. Dia hanya menjelaskan se cara singkat berdasarkan hasil la poran pihak berwenang Yauman kro nologis penangkapan Mayor Hanafi dan Letnan Subekti dan dimana ke duanya kini diamankan dan diinte rogasi.

"Saya tak mau soal itu Panglima. Sekarang anda dipersilakan keluar dari ruangan saya," kata Raja Jasi na sambil menahan amarah.

"Siap Jenderal ..."

Tak seorang anggota pasukan pe ngawal Raja Jasina pun yang me ngantar Jenderal Daud keluar dari ruangan kerja Raja Jasina.

Dia baru disambut dengan sinis ol eh beberapa perwira yang selama ini dibawah komando tugasnya se bagai Panglima Besar Negeri Jasi na.

Pria berbadan tegap itu kemudian memaksa masuk Sang Panglima ke sebuah mobil di dekat pintu ger bang istana raja.

Mobil pun melaju cepat ...

Tak seorang pun yang tahu kemana Sang Panglima akan dibawa. Yang cuma tahu keesokan harinya Jen deral Daud diketemukan tewas di kamarnya.

Beberapa saat setelah kematian nya, Sang Raja mengumumkan per gantian Pangsar dari almarhum Je nderal Daud kepada pengggantinya Jenderal Amir.

Pergantian Pangsar ini tak bagitu mendapat sambutan yang hangat dari seluruh rakyat Jasina. Info dari mulut ke mulut justru terfokus pads kematian Jenderal Daud yang terke san mendadak itu.

Apa benar Sang Jenderal bunuh di ri?  Rasanya mustahil. Karena yang rakyat tahu lelaki sulit senyum itu amat membenci mereka yang mela kukan aksi bunuh diri karena dinilai sebagai tindakan pengecut,  pena kut, banci dan lari dari tanggung jawab.

Tapi kalau dia memang dibunuh, si apa yang membunuhnya? Kenapa dia harus dibunuh? Bukankah Sang Jenderal sangat disegani di Negeri Jasina ini, salah satu orang keper cayaan Raja Jasina di kemiliteran?

"Semua mungkin saja terjadi Bro," kata lelaki berkacamata pada te mannya yang kutu buku saat ke duanya menyeruput kopi di salah satu kedai kopi pinggiran kota, pagi hari.

"Maksud kamu?" Tanya sang tem an sambil menuangkan susu ka lengan ke gelas kopi miliknya.

"Bisa bunuh diri, bisa juga dibunuh," jawab si kacamata, gantian menu angkan susu kalengan ke dalam ge las air kopi hitam yang tersisa sepa ro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar