Mana Tahan (2)
Oleh Wak Amin
"TAPI kalau menurut bapak, kalau pun dia dibunuh, sulit juga mena ngkap pelakunya," kata lelaki beru ban, pemilik kedai.
"Alasannya Pak?" Tanya si kacama ta sambil mengunyah kerupuk iwak kesukaannya.
"Kalau ternyata si pembunuhnya nanti bukan orang penting apa mau pihak berwajib menangkapnya?"
"Bukan lagi mau Pak. Tapi harus, malah wajib," kata teman si kaca mata, terbatuk-batuk setelah menye ruput kopi susu.
"Betul kata teman saya Pak," kata su kacamata, "Kita selaku pendu duk Jasina seharusnya sama-sama mendorong pemerintah untuk sece patnya membawa pelakunya jika diketemukan ke pengadilan."
"Bagaimana caranya?"
"Gampang Pak. Kita kasih tau saja unek-unek kita ke lembaga terkait dengan alasan-alasan yang masuk akal tentunya. Mudah-mudahan direspon .."
Pemilik kedai tertawa ..
"Tapi menurut bapak tidak segam pang itulah Nak. Direspons ya di respons. Tapi tindak lanjut dari res pons itu yang dipertanyakan. Bapak kuatir apa yang kita sampaikan itu pada akhirnya masuk tong sampah."
"Tapi kita harus optimis Pak," kata si kacamata.
"Ya optimis boleh Nak. Tapi pesi mis juga tidak dilarang kan?"
Ha ha ha ha ...
"Pak kopinya satu. Yang kental dan pahit ya Pak," kata salah seorang pengunjung yang baru saja datang dari jauh.
Lelaki tampan, berkacamata hitam. Ramah dia menyapa ..
Sengaja dia mampir ke kedai kopi langgananannya. Saban minggu, pulang dari luar kota, dia mampir sekadar untuk minum kopi.
"Enak kopinya Mas," ujarnya saat di tanya si kacamata dan temannya ketika mencicipi 'gorengan' di atas meja panjang kedai berbahan kayu dengan atap sirep itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar