Minggu, 14 Juli 2019

Langit tak Berbintang (9)

Langit tak Berbintang (9)
Oleh Wak Amin





PENGEJARAN dimulai ...

Kolonel Topan berboncengan de ng an Maria, sedangkan Letnan Subki, Kapten Andre dan Sersan Urip me nyusul kemudian menggunakan mo bil jip terbuka.

Sementara kepanikan warga di pu sat kota berangsur-angsur bisa di kendalikan mayat-mayat beberapa anggota paspampres 'diamankan' menggunakan mobil ambulance.

Tampak petugas kepolisian masih berjaga-jaga di beberapa tempat di pusat kota. Beberapa lajur jalan su dah mulai dibuka.

Namun angkutan umum belum di perbolehkan beroperasi kecuali di beberapa tempat di luar pusat kota tempat terjadinya ledakan dan per cobaan pembunuhan terhadap Presiden Bais.

Syiiiiits ...

Sepeda motor berhenti di pertigaan atas permintaan Maria.

Setelah itu ...

Dooor ...

Dooor ...

Dua peluru bersarang di dada dan kepala Kolonel Topan. Jatuh ter sungkur ke trotoar.

Tewas seketika ...

"Elang Satu .. Elang Satu ... Roger."

"Elang Satu disini. Merpati silakan masuk ..."

"Lapor. Kolonel Topan tewas di tembak .."

Kaget namun tetap tenang.

"Posisi di pertigaan, trotoar jalan."

"Kami meluncur kesana. Harap di tunggu. Roger."

"Siap Letnan Subki. "

"Terima kasih."

Pengejaran terpaksa dihentikan se jenak. Sambil menunggu kedatan gan Letnan Subki cs, Maria mene lentangkan tubuh Kolonel Topan.

Dipandanginya wajah tampan yang sudah mulai pucat pasi itu.

Kemudian muncung pistol kecil itu dia masukkan ke mulut Sang Kolo nel ..

"Maafkan saya Kolonel ..."

Doooor ..

Dooor ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar