Minggu, 19 Desember 2021

Senja di Kaki Candi (2)

Novelet Senja di Kaki Candi (2) Oleh Aminuddin (Wak Amin) ID Pub : 8800179315466420 VI “ASSALAMUALAIKUM … Selamat sore Pak.” Ucap Abu Bakar, setelah turun dari taksi, mendekati pintu pagar kediaman Pak Refli yang sore itu tengah merapikan aneka bunga di halaman rumah. “Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Sore Nak. Ada apa ya?” “Kenalkan dulu Pak. Nama saya Abu Bakar.” “Pak Refli.” Mobil taksi melaju … Kletek … Pintu pagar dibuka. “Ini Pak. Numpang bertanya. Apa betul ini rumahnya ibu Wati?” Abu Bakar mencium tangan Pak Refli, setelah diberitahu yang dia singgahi saat ini adalah kediaman Wati. “Silakan Nak. Masuk dulu. Sambil menunggu Bu Wati pulang mengajar, kita ngobrol dululah ..” Kata Pak Refli menyilakan Abu Bakar masuk ke dalam rumah. “Tak usah Pak. Disini saja …” “Baiklah kalau begitu … Tunggu sebentar ya.” “Iya Pak.” Sampai di ruang tengah, Pak Refli menelepon Esti. Menanyakan apa betul Abu Bakar sengaja datang ke rumahnya sore hari ini, berikut ciri-ciri yang bersangkutan. Mendapat jawaban Esti, Pak Refli lega. Dia bergegas menemui isterinya di kamar yang lagi menunaikan salat Ashar. Kepada isterinya, Pak Refli mengatakan mereka kedatangan tamu dari jauh. Abu Bakar, bakal calon me nantu. Juwita tampak senang. Sepeninggal suaminya menemui Abu Bakar di teras, dia menyiapkan minuman dan kue ala kadarnya. “Inilah kediaman bapak. Maaf Nak Abu Bakar. Tempatnya kecil ..” “Tak mengapa Pak. Memang kalau orangnya banyak terasa kecil. Sempit. Coba kalau sendiri atau berdua saja, pasti terasa luas …” Ha ha ha ha … “Betul kata Nak Abu Bakar barusan. Oh ya, kamu di sini nginap dimana?” “Di rumahnya teman Pak.” “Jauhkah dari sini?” “Lumayan Pak kalau jalan kaki.” Ha ha ha ha … “Tadinya mau minta ditemani. Cuma karena si teman ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan, saya co ba sendiri. Supaya gampang, kata si teman, menumpang taksi. Kasih alamat dulu. Kalau katanya oke dan siap antar ke alamat, baru naik dan siap berangkat …” Ha ha ha ha … “Eeee … rupanya benar juga saran si teman Pak. Saya akhirnya tiba juga di kediaman Wati. Sepertinya saya tak asing lagi di kota ini,” terang Abu Bakar. Piiiin … Piiiiin … “Nah itu dia Watinya. Pulang mengajar. Tunggu ya Nak Abu Bakar …” “Iya Pak.” Pak Refli, sesaat setelah membukakan pintu pagar, membisikkan sesuatu di telinga Wati, yang tampak percaya Abu Bakar sudah menunggunya di teras rumah sedari tadi. “Cepat. Temui dia ya Nak …!” “Baik Pak.” Abu Bakar buru-buru minum teh hangat setelah ditawati ibundanya Wati. Sudah lama ia tidak minum teh. Makanya, perasaannya lebih tenang setelah minum teh bikinan wanita berkulit hitam manis itu. Dia tak sungkan menerima jabat perkenalan dari Wati. Walaupun baru kali pertama bertemu dan kena lan, tak ada rasa canggung karena merasa yakin kedatangannya sore ini bermaksud baik. “Masuk aja Mas,” ajak Wati. Di luar memang enak, apalagi sore hari. Tapi banyak nyamuknya. Mending di dalam, tak ada nyamuk, lebih aman dan nyaman. Bisa ngobrol panjang lebar. Ketika berada di kamarnya, wati ketawa geli. Membuat ibunya yang menyusul dari belakang jadi tak mengerti. “Wati …?” “Ibu tengok tidak celananya?” “Tidak,” jawab ibunya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ibu tengok kakinya enggak?” “Enggak sempat.” “Bajunya?” “Apalagi Nak. Ibu enggak sempat.” “Ya udah …” Penasaran, Sang Bunda menanyakan hal barusan, seusai Wati mandi sore. Mulanya Wati tak mau, kuatir Sang Ibu jadi salah mengerti. Tapi akhirnya mau juga berbagi cerita dengan syarat hanya mereka berdua saja yang tahu. Ada yang aneh? “Kakinya itu Bu. Kok pakai sandal jepit. Celananya kecil dan sempit lagi bagian bawahnya. Lalu bajunya kebalik Bu. Bagian dalam di luar, yang di luar ke bagian dalam …” He he he he … “Bu?” Ha ha ha ha … “Ibu?” Hi hi hi hi … Sang Ibu sampai sakit perut mendengarnya. Dia tak membayangkan, apa jadinya jika kejadian barusan justru terjadi di tengah orang ramai. Pesta perkawinan misalnya. “Apa enggak tahu dia ya?” Ssssst … Pak Refli membuka pintu kamar. “Wati …!” “Siap Yah. Bu, temeni Wati ya ke ruang tengah sekarang …” “Ai ai son …” VII “BU … Bolehkah saya membaca pantun?” Tanya Abu Bakar. Dia merasa dengan membaca pantun isi hatinya mudah dicerna oleh Wati dan ibundanya. Tak ada yang disembunyikan, apalagi dan dipura-purakan. “Boleh … Silakan Nak Abu Bakar,” jawab Bu Juwita setelah mendapat anggukan kepala dari Wati. “Kalau mau dijawab, boleh Bu, dik Wati. Tapi jika tidak, didiamkan saja misalnya, taka pa-apa,” kata Abu Bakar percaya diri. Bismillahirrohmanirrohim Waktu kecil bermain ekar Sudah besar bermain tali Nama saya Abu Bakar Mohon saya perkenalkan diri … “Tadi udah kan Mas,” jawab Wati. Sang Ibu yang duduk di dekatnya hanya tersenyum geli. Lanjut … Saya suka makan roti Dimakan berdua sama si dia Selamat sore adikku Wati Kedatangan saya tolong diterima … “Tadi udah juga kan Mas …” Lanjut … Makan siang di Prambanan Jangan lupa memakai topi Ayo adik kita jalan-jalan Mas ingin utarakan isi hati … “Capek Mas. Baru aja pulang dari mengajar,” kata Wati. Pak Refli yang duduk membaca Koran edisi sore di depan pesawat televsi batuk-batuk. Dia batuk karena terlalu lama menahan tawa. Begitu juga dengan isterinya. Sesekali menunduk supaya tawanya tak lepas, kedengaran Abu Bakar. Lanjut lagi … Naik delman cuma berdua Berhenti dekat pabrik roti Izinkan saya ayah dan bunda Menginap semalam di tempat ini … “Maaf Mas, enggak ada kamar …” Ha ha ha ha … Lanjut … Alangkah enak makan mangga Di teras rumah sama air kopi Boleh adik Mas bertanya Berapa kali boleh kesini … “Terserah Mas lah …” Lanjut … Burung pipit main di kali Airnya tenang enak berenang Bolehkah Mas Abu mandi disini Agar segar waktu sembahyang … “Enggak ada salinan Mas …” Hi hi hi hi … Lanjut … Perut lapar badan gemetar Mau makan takut dimarahi Mas Abu pingin tidur sebentar Sebelum pulang malam nanti … “Enggak ada kasur Mas …” Lanjut … Perut lapar makan gorengan Setelah kenyang tidur lagi Bolehkah ibu kami pacaran Sebelum tiba hari pernikahan nanti … “Boleh,” kata Bu Juwita. Lanjut … Buah manggis buah durian Dijual orang di tengah kota Kalau suka tolong katakan Biar Mas lega mendengarnya … “Oke …” Gantian Wati yang membaca pantun. Abu Bakar, Pak Refli dan isterinya menjadi pendengar yang baik. Pantun apa gerangan yang dibacakan Wati? Inilah dia … Selamat datang Mas Abu Bakar Di kediaman kami tak besar ini Tak usah takut apalagi gemetar Kami senang Mas Abu Bakar kunjungi “Alhamdulillah, ya Allah.” Ucap Abu Bakar sambil menengadahkan kedua tangannya, lalu mengusap lembut mukanya. Dia meminta Wati melanjutkan bacaan pantunnya. Jalan-jalan ke Pekalongan Singgah sebentar ke rumah si dia Wati siap diajak berjalan-jalan Asal seizin ayah dan bunda … “Subhanallah … Terima kasih Tuhan.” Berkali-kali Abu Bakar mengusap mukanya dengan telapak tangan. Dia kini sudah bisa tersenyum senang. Tinggal selangkah lagi … “Giliran ibu Nak Abu Bakar,” kata Nyonya Juwita. Dia menggantikan suaminya yang menolak membaca pantun. Bukan tak mau, tapi tak bisa ia berpantun. Indah nian kota ini Banyak pendatang yang berdatangan Habis Magrib Nak Abu mengaji Agar selamat sampai ke pelaminan … VIII “MAS Abu … Surat Ali Imran ayat 70,” kata Wati. Membetulkan letak liharnya yang belum terbuka lebar. Karena belum terbiasa membuka Al-Quran, Abu Bakar harus membolak-balik membuka lembaran kitab suci itu. Karena bertuliskan huruf Arab, biasa membaca dalam bahasa Indonesia, kalang kabutlah ia. “Wati …!” “Apa Mas?” “Enggak ketemu suratnya, “ kata Abu Bakar, mulai berkeringat dingin. Dibantu Sang Ibu, Wati membantu Abu Bakar menemukan halaman yang dicari. Hanya beberapa lembar ia buka, ketemulah surat dan ayat yang dicari. “Ini Mas. Jadi nanti kita baca mulai dari ayat ini …” ujar Wati. “Kita ngaji sama-sama. Kapan berhentinya kita ikuti saja kapan bapak menyudahi membaca ayat suci,” jelas Bu Juwita. “Paham ya Mas?” “Paham dik Wati.” Bismilillahirrohmanirrohim … “Mari kita sama-sama membaca ayat suci. Pelan tapi jelas, Nak Abu.” “Siap Pak Refli,” jawab Abu Bakar. Dalam hatinya apa yang mesti dia baca. Huruf-huruf hijaiyah dia tahu sedikit-sedikit. Tapi menyambungnya itu yang belum dia tahu. Dia sudah lupa. Pernah waktu masih kecil, Abu Bakar mengaji bersama teman-teman sebayanya di surau. Tak lama me mang. Setelah pindah rumah, kebiasaan mengaji sehabis magrib tidak diteruskan lagi. Agar tak membuat malu, walaupun cuma dihadapan bakal calon isteri, mertua perempuan dan laki-laki, Abu Bakar bertekad semampunya. Mulut saja digerakkan, kayak orang komat-kamit begitu, bacaannya dipelankan agar sampai tak kedengaran. “Saya harus coba,” bisik Abu Bakar di dalam hati. Audzubiilahi inasysyaithaanir rojim. Bismillahirrohmanirrohim … Yaa ahlal kitaabi lima takfuruuna biayaatillaahi waantum tasyhaduuun (70) Yaa ahlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (71) Waqaalath thaa-ifatum min ahlil kitaabi aaminuu bil ladzii unzila ‘alal ladziina aamanuu wajhan nahaari Wakfuruu aakhirahu la’allahum yarji’uun (72) Walaa tu-‘minuu illa liman tabi’a diinakum. Qul innal hudaa hudallaahi ayyu-‘taa ahadum Mitsl maa uutiitum au yuhaajjuukum ‘inda rabbikum. Qul innal fadhla biyadillaahi yu-‘tiihi Mayyasyaa’. Wallaahu waa si’un ‘aliim (73) Yakhtashshu birahmtihi mayyasyaa-‘u wallahu dzul fadhlil ‘adhiiim (74) Wamin ahlil kitaabi man in ta-’manhu bi qinthaariy yu-addihi ilaika wamin hum man In ta-‘manhu bidiinaarin layu-iaddihi ilaika illa ma damta ‘alaihi qaa-iman dzaalika Biannahum qaaluu laysa ‘alaika fil ummiyyiina sabiila. Wa yaquuluuuna ‘alal Laahil kadziba wa hum ya’lamuun (75) Balaa man aufa bi’ahdihii wattaqaa fainnallaaha yuhibbul muttaqiin (76) Innal ladziina yasy taruuna bi’ahdillaahi wa aimaanihim tsamanan qaliila. Ulaa’ika la khalaqa lahum fil aakhiraati walaa yukallimuhuml laahu walaa yandzuru ilai him yaumal qiyaamati walaa yuzakkiihim wa lahum ‘dazzbun aliim (77) wa inna minhum lafariiqay yal-’uuna al sina tahum bil kitaabi litahsabuuhu minal kitaabi wamaa huwa minal kitaabi wa yaquuluuna huwa min ‘indillaahi wa maa huwa min ‘indillaahi wayaquuluuna ‘alal laahil kadziba wahum ya’lamuun (78) Shadaqallaahul adhiiim …. IX “BAGAIMANA Wati?” Tanya sang ayah saat ketiganya secara bersamaan menyiapkan makan malam di dapur. Sedangkan Abu Bakar asyik membaca koran di ruang tamu. Hi hi hi hi … Ssssst … “Jangan terlalu kenceng ketawanya Wati,” nasehat ibunya. Kalau sampai kedengaran Abu Bakar, kan berabe. “Bisa-bisa salah mengerti nantinya …” “Wati. Sini sebentar. Ayah mau tanya sesuatu pada kamu …” Pak Refli meminta Wati duduk sebentar di kursi makan. “ Biar ibu yang nyiapin semuanya …” Kata Juwita sambil mengaduk-aduk pindang patin agar rasa sedap [i]kuwahnya lebih merata dan maknyus saat dinikmati. “Waktu baca tadi Yah, enggak jelas apa yang dibaca. Misalnya … ‘Ya ahlal kitaabi lima takfuruuna” dan seterusnya. Kalau ibu jelas, kedengaran. Kalau Mas Abu kayaknya …” “Kenapa Wati. Ada yang janggalkah?” “Ada. Cuma enggak sempat perhatikan betul. Karena namanya juga membaca ayat suci Al-Quran, harus konsentrasi. Tak boleh main-main …” “Ya ayah tahu itu …” “Cuma perasaan Wati kayaknya enggak bisa deh …” “Enggak bisa baca Al-Quran begitu?” “Ya Yah …” “Enggak mungkinlah. Tapi … apa kamu punya bukti?” “Tadi waktu minta carikan surat dan ayat berapa gitu, Mas Abu nya tampak bingung. Enggak percaya, tanya saja sama ibu Yah.” Sang isteri yang lagi menaruh mangkok besar kuwah pindang patin di atas meja makan cuma tersenyum saja. “Ibu saja sempat enggak percaya Yah …” Ha ha ha ha … Abu Bakar yang serius membaca lembaran koran berita kriminal sama sekali tak mengetahui kalau di sampingnya sudah berdiri Wati. Disapa tiga kali tak ada sahutan. Kali keempat … Praaaak … “Mas Abu …!” Wati terpaksa memukul pundak lelaki di dekatnya itu dengan lembaran koran yang terge letak di kursi tamu. Abu Bakar terperanjat. Tak menduga Wati yang memukulnya barusan. “Maafkan Mas ya Wati. Serius soalnya,” jawab Abu Bakar. Dia tadi baca berita kriminal tentang wanita yang dihipnotis sampai harus kehilangan uang dan barang berharga lainnya. “Dapat pelakunya Mas?” “Belum sih kayaknya. Kan masih dalam laporan. Korban mengadu ke polisi. Setelah itu baru ditindaklan juti …” “Mas Abu suka ya yang serba hipnotis?” “Enggak juga ah. Cuma pingin tahu saja. Terus kasihan gitu. Lagi sial perempuan itu barangkali …” “Kok barangkali?” “Lum sempat nanya dik Wati …” He he he he … Abu Bakar merasa tersanjung diajak makan malam bersam oleh orang tua Wati. Padahal dia belum lama kenal. Dia sudah merasa seperti di rumah sendiri. Sangat akrab dan bukan orang asing lagi di rumah ya ng sangat enak didiami ini. Makanya, selepas makan malam, ketika diajak ngobrol berdua oleh Pak Refli, dia tampak bersemangat dan sangat senang. Inilah ke sempatan buat dia untuk promosi dan mengambil hati bakal calon mertua. Jangan disia-siakan. Kesem patan tak pernah datang dua kali. Bahan oborolan tak serius amat. Hanya selingan menikmati perut yang kenyang sehabis makan. Cuma berkisar soal perempuan. Bagi laki-laki yang sudah berumah tangga tentu punya pandangan yang berbe da ter hadap perempuan dibandingkan mereka yang masih lajang. Karena mungkin yang lajang belum mengalami suka dukanya hidup bersama dengan seorang wanita dalam ikatan resmi pernikahan. “Menurut Nak Abu, perempuan yang baik itu, yang seperti apa?” “Yang sayang sama keluarga. Sabar dan taat menjalankan perintah agama.” “Sayang yang dimaksud Nak Abu yang bagaimana. Bapak pingin tahu …” “Perhatian yang sungguh-sungguh, tanpa diminta sekalipun. Selalu ada saat diperlukan. Tak sungkan-sungkan menolong dalam bentuk materi dan non materi …” “Maaf Nak Abu, bukan bapak menyinggung. Biasanya waktu pacaran adem ayem. Sebulan setelah be rumah tangga, berantem. Gimana itu Nak ya?” “Mungkin belum saling kenal lebih mendalam, Pak. Sebab, kalau sudah tahu kelakuan dan sifat baik dan buruk kedua belah pihak, disertai sabar, insya Allah enggak bakalan berantem.” “Kamu sendiri pilih yang mana Nak. Maksud bapak yang adem ayem atau suka berantem?” “Dua-duanya Pak.” “Bisa dua ya. Enggak satu saja Nak?” Ha ha ha ha … “Maksud saya Pak. Kita juga terkadang tak bisa menghindari masing-masing pihak, yang karena stres misal nya, sering marah-marah, kalau tidak secepatnya diantisipasi, bisa barentem dan tak seteguran sampai seminggu lamanya. Menghadapi ini tidak mudah. Tapi kalau kedua belah pihak tidak menurut kan rasa egonya, mudah-mudahan bisa diatasi.” Pak Refi menyeruput kopi. Wati dan ibunya masih di belakang. Keduanya mencuci peralatan makan danmerapikan meja makan. “Tapi sekali lagi Pak Refli. Saya lebih suka rumah tangga itu adem ayem. Berjalan rukun dan damai,” terang Abu Bakar. X BELANJA di pasar … “Jadilah Bu, 50 …” Kata Wati. Ditemani sang ibu, dia bermaksud membelikan satu kemeja batik buat ayahnya. “Enggak bisa Bu. Ngambilnya aja 60. Berarti saya rugi 10 kalau ibu tetap beli 50,” jelas ibu muda penjual kemeja batik dengan ramah. Abu Bakar yang berdiri tak jauh dari belakang keduanya, tampak harus joget-joget. Bukan joget lagu dangdut. Tapi menghindar ke kiri dan kanan, belakang dan depan. Maklum, di depan toko kemeja ada jalan kecil tempat lalu-lalangnya pembeli, penjual dan pembawa barang. “Permisi Pak,” ucap seorang bapak ketika hendak melewati Abu Bakar yang berdiri agak ke tengah jalan karena di belakangnya ada ibu-ibu sedang berbelanja pakaian wanita. “Silakan …” “Jadilah Bu. Kalau 50 saya ambil dua,” tawar Wati. “Sudahlah Bu. Habis di 55 lah. Saya kasih. Ikhlas,” kata si ibu, berharap Wati jadi membeli kemeja batik dagangannya. Wati berpikir sejenak. “Jadilah Bu 50. Kalau ibu kasih 50, saya ambil dual ah,” ujar Wati. Ia dan ibunya sepakat, 50 oke, di atas 50, cari ke toko yang lain. Abu Bakar yang tampak berhimpit-himpitan, sama sekali belum tahu Wati dan ibunya sudah pergi ke toko pakaian yang lain. Baru sebentar dia ditinggal pergi. Setelah melihat di depan toko, tak ada lagi keduanya. “Bu .. Bu … dua orang ibu yang belanja disini tadi mana ya?” “Udah pergi Pak.” “Kemana ya kalau boleh tahu?” “Kesana …!” Jelas si ibu sambil menyuap bayinya yang baru bangun dari tidur di kain gendongan yang tergantung di tengah toko. Ke kanan sedikit, tanya sini situ, akhirnya ketemu juga. Abu Bakar lega. Sebab, jika sampai tidak ketemu, bisa berabe. Malunya itu yang enggak ketulungan. “Mas Abu. Haus kagak?” Tanya Wati. Dia melihat mukanya Abu mulai berkeringat, pasti haus. “Enggak dik.” “Bener enggak?” “Bener …” “Ya udah. Kami minum dulu ya,” sahut sang ibu. Mengajak singgah sejenak ke restoran mini di tengah pasar. Keduanya memesan air es kelapa muda dua gelas. Sementara Abu Bakar, karena tak merasa haus saat ditawari tadi, hanya berdiri di dekat kasir. Kursi tempat duduk sudah terisi penuh, diduduki pengunjung yang sebagian besar memesan es kelapa muda. Sambil menunggu Wati dan ibunya minum es, Abu Bakar menyalakan Hape androidnya. Main ga me. Beberapa orang anak yang duduk di dekatnya berdiri ketawa geli melihat ulah Abu Bakar yang senyum-senyum sendiri. Ada apa gerangan ya? “Ma .. Lihat Om itu Ma!” Colek seorang anak. Si ibu yang tangannya dicolek, hanya senyum-senyum saja. “Ada yang lucu sayang barangkali …” “Apa ya Ma?” “Tanya aja sama Om itu …” “Boleh ya Ma?” “Boleh. Masa enggak boleh. Coba aja sana …” Berdirilah si anak. Memberanikan diri bertanya. “Om, kenapa Ok Om senyum-senyum sendiri?” “Nih …” Tanpa sengaja Abu Bakar memperlihatkan game sepak bola kepada si anak dengan harapan tahu penyebab dia senyum-senyum sendiri. Sialnya, si anak bukannya mau main, malah ketawa lucu sambil berteriak ‘Ok Om main game … Ok Om main game …’ Sementara ibu-ibu yang lain, termasuk Wati dan Bu Juwita, menoleh serentak kea rah si anak. Abu Bakar masih berdiri. Tapi malu banget karena semua mata tertuju ke dia. “Mas Abu …!” “Mas Abu …!” “Mas Abu …!” “Sini dong …!” Panggilan ketiga baru menoleh. “Sudah minumnya?” Tanya Abu Bakar. Dia bertanya karena dua gelas air es kelapa muda di atas meja masih menyisakan separo. “Mas ngapain?” “Enggak kenapa-kenapa.” “”Lho. Coba lihat mereka Mas Abu …!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk Hape yang ada di gengga man Abu Bakar. Hape itu masih menyala. Terlihat di layar beberapa pemain sepakbola berusaha mema sukkan bola ke gawang lawan. “Coba tengok Hape nya Mas Abu …” Wati penasaran. Kenapa anak-anak yang lagi menunggu pesanan es kelapa muda pada serentak melihat Hape nya Abu Bakar. “Ok … oooo … pantesan.” “Kenapa Nak?” Tanya si ibu yang sempat batuk-batuk kecil karena kebanyakan minum air es kelapa muda. Juwiita hanya ketawa setelah diperlihatkan game sepakbola di Hape miliknya Abu Bakar. “Duduk Mas.” Kursi cuma dua, terisi semuanya. “Dimana?” “Sebelahan dengan Wati aja Nak Abu …” Kata Bu Juwita sembari tersenyum melihat anak-anak yang masih curi pandang ke Abu Bakar. https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420

Tidak ada komentar:

Posting Komentar