Senin, 07 Mei 2018

Kemiskinan (16)

Kemiskinan (16)
Oleh aminuddin

KETIGA, fungsi pemberdayaan (empowering) berhubungan dengan upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat (commited).

Seorang pemimpin harus mema hami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya. Ia juga harus mengerti dan mendelegasikan seberapa besar tanggung jawab dan otoritas yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang dipimpinnya.

Siapa mengerjakan apa. Untuk alasan apa mereka mengerjakan pe kerjaan tersebut. Bagaimana caranya. Dukungan sumber daya apa saja yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan bagaimana akuntabilitasnya.

Sejarah kenabian menceritakan ke cakapan Muhammad SAW dalam mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki oleh para pengikutnya dalam mencapai suatu tujuan.

Sebagai contoh, ketika mengatur strategi dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri Muslim.

Beliau juga dengan bijak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar ketika mulai membangun masyarakat Madinah.

Beliau mengangkat para pejabat sebagai amir (kepala daerah) atau hakim berdasarkan kompetensi dan good track record yang mereka miliki.

Tak heran, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (sekitar 10 tahun), beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan sosial masyarakat modern. Pimpinan dunia lainnya mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai hal semacam ini.

Keempat, fungsi panutan (modeling) mengungkapkan bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi para karyawannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku dan keputusan-keputu san yang diambilnya. Sejauhmana dia melakukan apa yang dikatakannya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga memiliki kriteria sebagai entrepreneurial leadership, yakni yang senan tiasa concern pada penciptaan bisnisnya.

1. Strong achievement drive and sensible risk taking, yakni berani membuat keputusan dan menghadapi risiko yang telah diperhitungkan sebelumnya.

2. High degree of enthusiasm and creativity. Maknanya memiliki antusiasme tinggi dengan didukung kreativitas sehingga banyak melahirkan ide-ide brilian yang kreatif dan inovatif yang membangun roda organisasi menjadi lebih hebat dan lebih baik.

3. Tend to act quickly and opportu nistically, bermakna cepat tanggap dan mampu menangkap peluang-peluang yang muncul. Karena jika tak mampu merespon sebuah situasi dan kesempatan yang tersedia, tidak akan mampu memenangi persaingan.

4. Visionary perspective. Memiliki pandangan yang berorientasi ke depan (vision).

5. Dislike of hierarchy and bureauc racy. Memiliki sikap serba cepat dalam bergerak, dan tidak terbe lenggu oleh hierarki dan birokrasi yang bertele-tele serta cenderung menghambat optimalisasi kerja.

6. Preference for dealing with external customer. Maknanya adalah senantiasa berorientasi pada hasil, ti dak sibuk di belakang meja, dan senantiasa senang membuat relasi yang baik dengan external customer. Dia sadar bahwa customer adalah objek penting bagi sebuah organisasi/perusahaan.

________

- Ikatan Bankir Indonesia, 2015, Strategi Bank Indonesia, Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.

- Dr H Fakhry Zamzam, MM, MH dan Havis Aravik, SHI,  MSI, Manaje men SDM Berbasis Syariah, 2017, CV RWTC Success, Cetakan II.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar