Kamis, 03 Mei 2018

Kemiskinan (13)

Kemiskinan (13)
Oleh aminuddin


TENTU saja ilmu pengetahuan yang  kita miliki itu akan sangat berguna bila diamalkan. Ia adalah amal per buatan yang sangat disenangi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Amal yang utama di atas bumi ini ada tiga: penuntut ilmu, jihad dan usaha kasab. Penuntut ilmu itu kekasih Allah, pejuang jihad waliyullah dan usaha kasab itu adalah shiddiqullah (orang yang sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah SWT)."

Atau seperti yang dikatakan M. Tho lib ... "Dengan ilmu manusia dapat mencapai tingkat yang terpuji dan baik, dengan ilmu ia akan taat  beribadah, bahkan dengan ilmu itu pula ia akan menghubungkan rasa tali per saudaraan. Ilmu juga akan membawa ke arah kebahagiaan dan mencegah jatuhnya seseorang ke dalam lem bah kesengsaraan."

Dalam mengamalkan ilmu kita harus memperhatikan hal-hal beri kut diantaranya :

- Jangan melihat tempat dan waktu dalam mengamalkan ilmu.

- Meskipun sedikit amalkan ilmumu. Dikisahkan ... "Sesungguh nya Al–Junaid, setelah meninggal dunia ada seorang yang bermimpi bertemu dia, lalu ia bertanya kepa da Al–Junaid :

“Wahai Abu Qasim (Imam Junaid), bagaimana keadaanmu setelah meninggal?"

Al–Junaid menjawab :" Aduh … kebaikan yang aku lakukan hilang semuanya dan seluruh isyarah amal-amal itu juga hilang tidak ada manfaatnya sedikitpun kecuali beberapa rakaat yang aku laku kan di tengah malam”.

Keterangan Al-Junaid membuktikan bahwa derajat seseorang di sisi Allah SWT itu tidak dilihat dari ba nyaknya  ilmu yang dipelajari dan dikuasai melainkan dilihat dari pengamalannya.

Jadi, meskipun ilmunya sedikit, lalu diamalkan itu lebih baik dan berarti daripada memiliki ilmu yang banyak tetapi tidak diamalkan.

- Janganlah menunggu masa tua dalam mengamalkan ilmu.

- Jangan beranggapan ilmu itu bisa mengangkat derajatmu bila tanpa diamalkan.

Ali karramallahu wajhah berkata : “Barangsiapa menyangka bahwa tanpa jerih payah beribadah dirinya bisa mencapai derajat yang tinggi, itu berarti dia mengharapkan perkara yang sulit datangnya. Barang siapa me nyangka dengan menyepelekan ibadah dirinya bisa mencapai derajat tinggi, itu menunjukkan kesombongan dirinya (ia sudah merasa cukup amal ibadahnya)."

Al Hasan berkata : “Mencari surga tanpa beramal adalah suatu dosa, dari jenis dosa-dosa yang lain."

Nabi Isa bersabda: “Orang yang mempelajari suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, bagaikan seo rang wanita yang berbuat zina di tempat tersembunyi, lalu ia hamil dan perut wanita itu semakin besar yang akhirnya ketahuan dia hamil. Begitu juga dengan orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya, pada hari kiiamat nanti Allah akan memperlihatkan dia dihadapan semua makhluk yang hadir di Makhsyar."

Dari sini kita dapat mengambil faedah:

1. Anjuran agar kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu syar'i sehingga semoga setiap ilmu yang kita dapatkan, kita berusaha untuk dapat kita amalkan.

2. Maka seharusnya ini dapat kita jadikan sebagai tujuan utama kita dalam menuntut ilmu, yaitu kita mencari ilmu agar kita dapat mengamalkannya; bukan hanya sekedar “koleksi” ilmu saja. namun tercermin dalam amal-amal kita, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan.

3. Dengan mengamalkan ilmu (secara  ikhlash), maka pasti Allah SWT akan menunjuki kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui.

4. Dengan mengamalkan ilmu (dengan ikhlash) pula, maka akan memperkuat keimanan dalam hati kita.

5. Dengan mengamalkan ilmu (secara ikhlash) pula, maka akan membantu kita istiqamah di atas jalan yang haq.

6. Allah menyebut mengamalkan ilmu sebagai salah satu bentuk jihad. Ini merupakan.jawaban kepada kaum TAKFIRIY yang hanya mengkhususkan jihad kepada jihad qital (perang) saja. Padahal makna  jihad itu sangat luas.

7. Sebagaimana mengamalkan il mu itu adalah jihad, maka menuntut ilmu pun merupakan jihad.

Berkata Abud Darda radhiyallahu ‘anhu:

“Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal dan pikiranya telah berkurang.”

(Atsar diriwayatkan ad Darimiy, dalam sunannya)

_______
- M. Tholib, op.cit

- Abullaits Assamarqandi, Tanbihul Ghafilin, Alihbahasa H. Salim Bahre isy, Surabaya, Bina Ilmu, 1978, II.

- https://tenri02blogspot.com

- https://abuzuhriy.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar